Raqib: Jurnal Studi Islam Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 ISSN: x-x | E-ISSN: x-x URGENSI SIKAP SYAJAAoAH DALAM KEPEMIMPINAN: MEMBANGUN PEMIMPIN YANG BERANI DAN BERINTEGRITAS (The Urgency of SyajaAoah Attitude in Leadership: Building Brave and Integrity Leader. Syalima Azura Fitrah Universitas PTIQ Jakarta email: syalimaazura29@gmail. Abstract The attitude of syaja'ah, which signifies courage in action and facing challenges, is a crucial quality for effective leadership. This article explores the urgency of syaja'ah in modern leadership, highlighting how this trait can build leaders who are both brave and possess Through a comprehensive literature review and case study analysis, it is found that leaders who embody syaja'ah are better equipped to handle uncertainties, make difficult decisions, and maintain integrity under pressure. These findings indicate that integrating syaja'ah into leadership education and training programs is essential. Courageous leaders not only inspire trust and confidence among their followers but also drive innovation and uphold ethical standards, even when facing significant challenges. In an era marked by rapid change and complex challenges, the need for leaders with syaja'ah is more urgent than ever. Moreover, the presence of syaja'ah in leadership is associated with increased organizational resilience and Leaders whodisplay courage can effectively navigate crises and promote a culture of transparency and accountability. This article aims to provide a deeper understanding of the critical role of syaja'ah in leadership and offers practical recommendations for fostering this essential quality in current and future leaders. By integrating syaja'ah into leadership development initiatives, organizations can establish a foundation for more resilient, ethical, and effective leadership that can navigate the complexities of the modern world. Keywords: SyajaAoah. Leadership. Courage. Integrity. Leadership Education. Abstrak Sikap syaja'ah, yang berarti keberanian dalam bertindak dan menghadapi tantangan, adalah kualitas penting dalam kepemimpinan yang efektif. Artikel ini mengeksplorasi urgensi sikap syaja'ah dalam kepemimpinan modern, dengan menyoroti bagaimana sikap ini dapat membangun pemimpin yang berani dan berintegritas. Melalui tinjauan literatur yang komprehensif dan analisis studi kasus, ditemukan bahwa pemimpin yang memiliki sikap syaja'ah lebih mampu menghadapi ketidakpastian, membuat keputusan sulit, dan mempertahankan integritas di bawah tekanan. Temuan ini menunjukkan bahwa mengintegrasikan sikap syaja'ah dalam program pendidikan dan pelatihan kepemimpinan sangat penting. Pemimpin yang berani tidak hanya menginspirasi kepercayaan dan keyakinan di antara pengikut mereka, tetapi juga mendorong inovasi dan menjaga standar etika, bahkan ketika menghadapi kesulitan yang Dalam era yang ditandai dengan perubahan cepat dan tantangan kompleks, kebutuhan akan pemimpin dengan sikap syaja'ah menjadi lebih mendesak dari sebelumnya. Selain itu, keberadaan sikap syaja'ah dalam kepemimpinan terkait dengan peningkatan ketahanan dan adaptabilitas organisasi. Pemimpin yang menunjukkan keberanian dapat secara efektif menavigasi krisis, serta mendorong budaya transparansi dan akuntabilitas. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran penting sikap syaja'ah dalam kepemimpinan dan menawarkan rekomendasi praktis untuk mengembangkan kualitas esensial ini dalam diri pemimpin saat ini dan masa depan. Dengan mengintegrasikan sikap syaja'ah dalam inisiatif pengembangan kepemimpinan, organisasi dapat membangun fondasi untuk kepemimpinan yang lebih tangguh, etis, dan efektif yang mampu menghadapi kompleksitas dunia modern. Kata kunci: SyajaAoah. Kepemimpinan. Keberanian. Integritas. Pendidikan Kepemimpinan. PENDAHULUAN Suatu bangsa dikatakan makmur apabila terdapat pemimpin yang adil. akan diminta tanggung jawab kelak diakhirat dari hasil ke pemimpinan nya selama di Bangsa dapat dikatakan makmur dan sejahtera apabila terdapat pemimpin yang adil dan jujur. Kemajuan suatu bangsa tidak lepas dari campur tangan seorang pemimpin, dimana segala sesuatu yang akan dilakukan melalui persetujuan pemimpin terlebih dahulu. Pemimpin adalah seseorang yang sangat penting dalam suatu bangsa dan Negara guna tercipta bangsa yang makmur dan harmonis. 1 Kepemimpinan yang efektif tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis dan pengetahuan, tetapi juga oleh kualitas pribadi yang mendalam, salah satunya adalah sikap syaja'ah. Syaja'ah, yang berarti keberanian, adalah kemampuan untuk bertindak dengan tegas dalam menghadapi tantangan dan ketidakpastian. Dalam konteks kepemimpinan, sikap ini menjadi semakin penting karena pemimpin sering kali dihadapkan pada situasi yang memerlukan keputusan sulit dan cepat, serta harus mampu mempertahankan integritas di bawah tekanan yang tinggi. Di Indonesia banyak penyimpangan terjadi, diantaranya seperti korupsi, penyuapan, penggelapan uang, dan penyimpangan lainnya. Oleh karena itu, dibutuhkan seorang pemimpin yang memiliki sikap syajaAoah untuk membrantas kemungkaran dan menegakkan kebenaran. Perubahan cepat dan kompleksitas yang meningkat dalam dunia modern menuntut pemimpin untuk memiliki ketahanan dan fleksibilitas yang luar Sikap syaja'ah memungkinkan pemimpin untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dalam menghadapi berbagai tantangan ini. Pemimpin yang memiliki keberanian cenderung lebih inovatif, mampu menginspirasi tim mereka, dan mematuhi prinsip- prinsip etika meskipun dalam situasi yang penuh tekanan. Mempelajari kepemimpinan sangat-lah penting, khususnya bagi generasi muda, sebagai calon pemimpin, agen perubahan, penentu maju mundurnya sebuah bangsa. Pendidikan pada hakikatnya mem-berikan kontribusi pada pengembangan intelektual anak bangsa, namun hal tersebut tidaklah cukup jika tidak dibarengi dengan upaya maksimal memberikan nilai-nilai pendidikan karakter dan menanam-kan akhlak pada generasi muda. 2 Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi urgensi sikap syaja'ah dalam kepemimpinan kontemporer. Melalui tinjauan literatur yang komprehensif dan analisis studi kasus, penelitian ini berupaya untuk mengidentifikasi karakteristik utama dari sikap syaja'ah dan dampaknya terhadap efektivitas kepemimpinan. Selain itu, artikel ini juga memberikan rekomendasi praktis tentang cara mengintegrasikan sikap syaja'ah dalam program pendidikan dan pelatihan kepemimpinan. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran penting sikap syaja'ah dalam kepemimpinan, diharapkan bahwa organisasi dapat membangun fondasi untuk kepemimpinan yang lebih tangguh, etis, dan efektif. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan kemampuan kepemimpinan individu, tetapi juga berkontribusi pada keberhasilan dan keberlanjutan organisasi secara keseluruhan. METODE Metode dan jenis pengumpulan data dalam penyusunan karya ini adalah menggunakan metode studi pustaka. Diantara langkah-langkah yang dilakukan yaitu Hesti Ningrum. Safrudin Yusuf Albaihaqi, dan Muhammad Dewa Maulan. AuDasar Kepemimpinan Islam: Urgensi Kepemimpinan Ideal Untuk Mencapai Kemakmuran BangsaAy. Jurnal Kajian Keislaman 10,no 2 (Mei-Agustus 2. : 120-126. Ilma Ila dan Siti Maisaroh. AuImplementasi Kepemimpinan Tokoh Hakim Agung Dalam Novel Sogok Akan Kutangkap Karya Haidar Musyafa. Ay Jurnal Pendidikan Bangsa dan Sastra Indonesia 7, no 1 . : 39-52. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . mengumpulkan buku, jurnal, artikel dari hasil pengkajian terdahulu yang memiliki keterpaduan dengan tema yang dikaji. Teknik analisis data dalam penulisan karya ini adalah dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis. Diawali dengan mereduksi data dari sumber kepustakaan, dialnjutkan dengan mengorganisai dan menyajikan data, kemudian menverifikasi data, selanjutnya tahapan terakhir adalah memberikan HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Kepemimpinan dan Pemimpin Istilah kepemimpinan tidak bisa dipisahkan dengan kata pemimpin, karena merupakan satu kesatuan. Dalam bahasa Inggris, pemimpin disebut leader, sedangkan kegiatannya disebut leadership. Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi. Kepemimpinan adalah perilaku individu yang mengarahkan aktivitas kelompok untuk mencapai sasaran bersama. Kepemimpinan adalah cara mengartikulasikan visi dan misi, mewujudkan nilai, dan menciptakan lingkungan kondusif. Kualitas pemimpin diukur dari kepuasan hati rakyat yang sudah dipimpin. Kualitas pemimpin tidak diukur dari citra yang dibuat. Seorang pemimpin adalah panutan bagi setiap yang dipimpin. Seorang pemimpin harus bertindak positif, berbudi pekerti luhur, dan beretika baik. Hal ini disebut dengan kualitas diri seorang pemimpin yang bermoral dan ideal. Kriteria sosok pemimpin ideal memiliki perilaku yang sesuai dengan cita-cita luhur Pancasila. Hal tersebut menampakkan perbuatan baik sesama manusia, sifat terpuji, pemikiran dan etika tidak dipengaruhi lingkungan. Hal ini nampak pada kemampuan menilai sikap sosial, memiliki kepekaan terhadap norma masyarakat, dan mentaati hukum dan konstitusi Negara. Kepemimpinan Rasulullah, selaku seorang pemimpin dimulai dari bawah sampai atas dan segala penjuru dari berbagai budaya menjadi satu masyarakat atau umamatan wahidah yang beriman dan bertakwa. Sebagai sebuah kekuatan, ini nampak pada perang badar di mana kaum Muslimin mampu mengalahkan pasukan Quraisy Jahili, sehingga memperoleh kemenangan, bukan karena suatu mukjizat Nabi, namun lebih banyak karena kepemimpinan Rasulullah yang berhasil menanamkan keimanan, ketakwaan, kesetiaan, dan semangat juang untuk membela kebenaran dan mempertahankan hak selain memperoleh bantuan Allah SWT. Model kepemimpinan Rasulullah tersebut mencerminkan tingkat keimanannya kepada Allah Swt. Hal itu dinyatakan oleh Hadari Nawawi bahwa pemimpin setiap manusia dalam masyarakat berbeda tingkatannya menurut tingkatan keimanannya. Konsep khalifah yaitu mengikuti jejak Allah SWT menurut kemampuan manusia yang dilandasai potensi dasar dalam perbuatan ketuhanan atau akhlak dengan melaksanakan makarim al-syariAoa hingga memiliki kepribadian Islami dalam mendidik manusia di muka bumi sebagai tanggung jawab dirinya kepada Allah SWT. 4 Para pemimpin dituntut kepemimpinanya di bawah ridha Allah serta bertanggung jawab dalam mewujudkan kesejahteraan, ketentraman, kedamaian, ketertiban dan kesejahteraan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 5 Seperti halnya. Implementasi kepemimpinan tokoh Artidjo Alkostar yang dapat diteladani yaitu ia senantiasa berjuang menegakkan kebenaran. Perjuangan Artidjo dalam me-negakkan kebenaran, dapat dilihat dari kontribusinya dalam menangani kasus penembakan misterius . di St. Rodliyah. AuUrgensi Pendidikan dalam Menyiapkan Pemimpin Bangsa Berkualitas dan BermoralAy. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 4, no 1 (Mei 2. : 169-182. Syahraini Tambak dan Desi Sukenti. AuPengembangan Profesionalisme Guru Madrasah denganPenguatan Konsep KhalifahAy. Jurnal Multidisiplin Pelajar Islam 4, no 1 (Januari 2. : 41-66. Rt. Bai Rohimah. Putri Yasmin Atqiyya. Deswita Maharani. AuPeran Masyarakat Dalam Membentuk Karakter Kepemimpinan IslamAy. Jurnal Pendidikan Matematika 7, no 1 (Juni 2. : 1-12. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . Yogyakarta. Data (IKS/Bmk/. menunjukkan perjuangan Artidjo mengusut kasus Sebagai pegiat Lembaga Bantuan Hukum yang sudah banyak menangani kasus-kasus kriminal dan pelang-garan Hak Asasi Manusia, maka ia merasa memiliki kewajiban untuk mengungkap kebenaran. Hampir seluruh korban penembakan misterius . adalah pria bertato, dan belakangan diketahui mereka adalah yang dikenal sebagai preman, begal, dan bromocorah yang meresahkan masyarakat. Para korban sebagian besar tewas karena ditembak, sebagian yang lain mati tercekik, atau terjerat lehernya. Banyak mayat para korban seakan-akan sengaja diletakkan di tempat ramai, seolah menjadi pesan kepada para penjahat untuk tidak macam-macam lagi. Kondisi tersebut membuat cemas orang-orang yang ditubuhnya terdapat tato. Mereka takut akan menjadi korban petrus selanjutnya. Artidjo berpandangan, meski-pun pembunuhan yang dilakukan secara misterius itu bertujuan untuk memberantas berbagai macam kejahatan, namun ia tetap tidak setuju dengan cara seperti itu. Meski target pembunuhan itu memang benar-benar penjahat, tapi tetap saja memberi pengadilan dengan cara langsung dieksekusi seperti itu merupakan tindakan yang melanggar Hak Asasi Manusia. Juga melanggar ketentuan hukum pidana yang dianut di negara Republik Indonesia ini. Masa depan sebenarnya penuh ketidakpastian dan sulit diprediksi, seperti dikemukakan oleh Roy Amara bahwa Authe future is largely unknowableAy, atau seperti ungkapan Shane bahwa Ausemakin jauh seseorang melihat ke depan, makin kabur kelihatannya hari esok ituAy. Demikian pula Peat dan Briggs menggambarkan masa depan tersebut bersifat chaos . eos atau kaca. Dengan kondisi masa depan tersebut, maka kepemimpinan menjadi faktor kunci untuk mengarungi perkembangan dunia yang cepat berubah. Oleh karena itu diperlukan kepemimpinan yang berorientasi pada SyajaAoah dalam Konteks Kepemimpinan SyajaAoah dalam kamus bahasa Arab artinya keberanian atau keperwiraan, sikap keberanian dan ketangguhan dalam membela kebenaran. Secara etimologi, kata syaja'ah artinya berani. Secara istilah, pengertian syajaah adalah keteguhan hati kekuatan pendirian untuk membela dan mempertahankan kebenaran secara bijaksanca dan terpuji. Maka dari itu, pengertian syajaah adalah keberanian yang berlandaskan kebenaran dan dilakukan dengan penuh pertimbangan. Selain itu Syajaah . bukanlah semata-mata berani berkelahi di medan laga, melainkan suatu sikap mental seseorang, dapat menguasai jiwanya dan berbuat menurut semestinya. Tujuan bersikap syajaAoah dalam islam harus tetap dalam koridor mencari ridho Allah swt. Oleh karena itu, dalam menyampaikan kebenaran tersebut harus dilakukan dengan sikap terpuji, sehingga terkesan tidak negatif. SyajaAoah dikemas sedimikian rupa, dengan niat membela dan memperjuangkan kebenaran, membrantas kemungkaran dengan akhlak Tidaklah dibenarkan dalam Islam keberanian yang dilakukan untuk perbuatanperbuatan yang buruk. Syajaah terbagi menjadi dua jenis yakni Syajaah harbiyah dan Syajaah Nafsiyyah. Pengertian Syajaah Harbiyah adalah model keberanian yang muncul secara sendirinya, berani maju ke medan perang demi membela agama dan negara, contohnya seperti keberanian Umar bin Khattab r. a dalam mengumumkan keislamannya padahal saat itu umat islam sangat di benci oleh para pemuka Quraisy. Syajaah Nafsiyyah adalah keberanian secara mental yang ada dari diri seseorang, orang tersebut akan menjadi berani daklam menghadapi mara bahaya bahkan penderitaan sekalipun jika perkara tersebut untuk menegakkan keadilan. Demikian juga dalam konteks kebangsaan, setiap Siti Habibah Kumalia dan Masduki Asbari. AuUrgensi Pemimpin Adil dan Berpengetahuan Luas: Perspektif Anies BaswedanAy. Journal Of Information System And Management 2, no 6 (Desember, 2. :22-27. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . warga negara memiliki tanggung jawab serta kewajiban membela negara yang sama, walaupun agamanya berbeda-beda. Sosok Umar merupakan orang yang pemberani dimana setelah beribadah, beliau langsung menantang siapapun dari kaum kafir Qurois untuk berduel atau one by one jika ingin menghalangi jalan hijrahnya ataupun jika ingin mengganggu hijrahnya kaum Abdurrahman juga mengatakan bahwa Umar sudah terkenal kuat sejak sebelum masuk Islam, dia gemar memanah, memacu kuda, cerdas berargumentasi hingga bergulat. Hal itu pula yang membuat dia menjadi orang yang paling keras dalam menentang Islam. Namun setelah masuk Islamnya, beliau menjadi seorang yang paling gagah dalam membela, bahkan kerajaan Persia dan Romawi yang begitu megah bisa takluk dimasa kepemimpinan nya dan hal itulah yang menjadi angin segar bagi kaum Allah SWT sudah memerintahkan hambanya untuk berani melakukan sesuatu karena kebenaran. Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran, yang mana artinya: AuJanganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah . kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi . , jika kamu orang-orang yang Ay (Q. Ali Imran/3: . Syaja'ah artinya berani, tapi bukan berani dalam arti siap menantang siapa saja tanpa mempedulikan apakah dia berada di pihak yang benar atau salah, dan bukan pula berani memperturutkan hawa nafsu. Tapi berani yang berlandaskan kebenaran dan dilakukan dengan penuh pertimbangan. Keberanian tidaklah ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi ditentukan oleh kekuatan hati dan kebersihan jiwa. Betapa banyak orangyang fisiknya besar dan kuat, tapi hatinya lemah. Betapa banyak yang fisiknya lemah, tapi hatinya seperti hati singa. Rasulullah saw menyatakan bahwa: "Bukanlah yang dinamakan pemberani itu orang yang kuat bergulat Sesungguhnya pemberani itu ialah orang yang sanggupmenguasai dirinya di waktu marah. Ay (Muttafaqun 'Alaih. Islam tidak menyukai orang yang lemah dan penakut. Orang yang lemah dan penakut biasanya tidak berani untuk mempertahankan hidup sehingga praktis putus asa. Ketakutan itu diantaranya alas an takut dikucilkan dari lingkungannya. Takut alasannya berlainan perilaku dengan banyak orang atau takut untuk membela sebuah kebenaran dan keadilan. Koprikornus syajaAoah diartikan sebagai keberanian yang berlandasan kebenaran, dilakukan dengan penuh perberat sebelahan dan perhitungan untuk mengharapkan keridhaan Allah Swt. Kemampuan pengendalian diri waktu marah, sekalipun dia melampiaskannya, adalah contoh keberanian yang lahir dari hati yang kuat dan jiwa yang bersih. Kemampuan pengendalian diri waktu marah, sekalipun dia melampiaskannya, adalah contoh keberanian yang lahir dari hati yang kuat dan jiwa yang bersih. Kebenaran memang harus disampaikan sekalipun mengandung resiko. Resikonya akan lebih besar lagi kalau yang dihadapi adalah penguasa yang otoriter, yang menganggap semua kritik adalah pembangkangan. Menghadapi penguasa seperti itu diperlu kan keberanian. Ciri seseorang dengan sifat syajaah adalah pasti akan lebih cepat dan tanggap. Seseorang dengan sifat syajaah adalah akan lebih mudah memaafkan, pandai mengendalikan amarah, dan mampu menyayangi orang di sekitarnya. Syaja'ah dalam konteks kepemimpinan adalah sikap keberanian dan ketegasan yang dimiliki seorang pemimpin untuk menghadapi tantangan dan membuat keputusan sulit dengan integritas. Sikap ini tidak hanya berarti keberanian fisik, tetapi juga keberanian moral untuk Julia Inayah. Lenkka Annisa Nurseptiani. Marwal Blantara Susetyo. Muhammad Dura. AuPenerapan Sikap SyajaAoah Terhadap Perilaku Siswa Yayasan Pendidikan Luar Biasa di MajalengkaAy. Gunung Djati Conference Series 22, . : 131-145. Abid Nurhuda. AuPesan Moral dalam Kisah Umar Bin Khattab Pada Kitab Arrobiyyah Lin Nasyiin4Ay. Jurnal Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan 2, no 4 (Desember 2. : 38-46. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . melakukan yang benar meskipun sulit. Pemimpin yang memiliki sikap syaja'ah cenderung lebih dihormati dan mampu memotivasi tim mereka untuk mencapai tujuan bersama dengan integritas dan dedikasi. Ada empat induk utama dari akhlak: kebajikan, keberanian, keadilan, dan keluhuran budi pekerti. Induk dan pondasi akhlak terdapat empat pokok yaitu Al-hikmah, yaitu kondisi jiwa, batin, nafs yang tercerahkan sehingga mampu memahami baik atau buruknya suatu perbuatan dan yang hak dan yang bathil. Al-adlu, yaitu kondidi jiwa, batin, dan nafs sebagai pemimpin dan pembawa amarah serta syahwat menuju dalam naungan al-hikmah. Al-syajaAoah, adalah kekuatan amarah yang diiringi oleh akal. Al-Aoiffah, yaitu kekuatan syahwat yang terdidik dengan pendidikan akal syariAoah. SyajaAoah menurut pandangan Al-Ghazali mencakup makna kekuatan akal sehat dapat mengendalikan hawa nafsu agar tidak berbuat sekehendaknya. Berani Membela Kebenaran dan Keadilan Dasar bersikap syajaAoah yang dianjurkan dalam islam, yaitu keberanian yang memiliki visi dan misi yang jelas dengan cara terpuji serta mengacu kepada dasar-dasar yang di dalam Al-QurAoan dan hadits. Keberanian sebagai suatu hal yang penting dimiliki oleh seseorang, tidak terkecuali anak usia dini. Sikap pemberani tidak berarti berani melawan orang dewasa untuk dikatakan jagoan. Hal tersebut mengarah pada sikap tidak Pemberani saat anak dengan gagah berani melewati berbagai rintangan, tantangan maupun membela kebenaran. Anak yang pemberani adalah anak yang tetap memperjuangkan sesuatu yang penting untuk kemaslahatan dirinya maupun orang lain, sehingga anak mampu menghadapi persoalan tersebut karena tahu kebenarannya. Sikap pemberani memunculkan suatu tekad yang berani dan tidak takut atas rintangan yang ada di depannya. Pemimpin yang berani yaitu pemimpin yang berpikir matang atas segala tindakan yang akan dilakukan. Pemberani adalah suatu perilaku yang berani menyuarakan kebenaran, membela ajaran dan aqidah Islam walaupun harus menghadapi konskuen yang sangat berat. Hal ini berarti dalam bekerja harus berani membela mana yang benar dan membela segala aturan yang telah ditetapkan oleh organisasi walaupun harus menghadapi segala rintangan atau konskuen yang berat. Dalam Al-QurAoan surah at-Taubah: 41 dijelaskan tentang berani membela kebenaran yaitu: AuBerangkatlah kamu dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahuiAy. Akidah yang wajib diimani merupakan sisi pengetahuan, sedangkan syariat merupakan sisi pengamalan. atas dasar ini, para ulama memahami alladziina amanu dalam arti orang-orang yang memiliki pengetahuan menyangkut kebenaran. Puncak kebenaran adalah pengetahuan tentang ajaran agama yang bersumber dari Allah swt adalah lebih baik bagimujika kamu mengetahuiAy. Integritas lahir dari keteladanan, bila tidak ada keteladanan maka integritas juga tidak bisa tumbuh dalam sebuah komunitas. Integritas seorang muslim dapat diukur dengan sejauh mana dirinya bermanfaat bagi sesama manusia, bukan hanya kepada sesama penganut Islam tetapi juga kepada umat di luar Islam. semakin bermanfaat Novi Puspitasari. Linda Relistian. Reonaldi Yusuf. AuPeran Pendidikan Agama Islam Terhadap Pembentukan Karakter Religius Peserta DidikAy. Jurnal Pendidikan Agama Islam 3, no 1 (Juni 2. : 5768. Al-Ghazali. Neraca Beramal, terjemahan H. Musthofa, 1995, hlm 90 Marwany. Heru Kurniawan. Imroatun, dan Yuyun Ayu Lestari. AuNilai Kepemimpinan Bagi AnakUsia Dini Dalam Buku Umar Bin Khattab JagoankuAy. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 8, no 1 (Juni 2. : 1-12. Wahidah Abdullah. AuDisiplin Kerja Dalam IslamAy. Jurnal Ekonomi: 164 Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . seorang muslim kepada sesama manusia maka hal itu menjadi penanda dia memiliki integritas yang kuat, sebaliknya semakin banyak mendatangkan kerugian bagi sesama manusia maka hal tersebut juga menjadi penanda bahwa orang tersebut memiliki integritas yang rendah, bahkan boleh jadi tidak memiliki integritas sama sekali. Seorang pribadi yang taat kepada aturan-aturan, kaidah-kaidah dan norma yang berlaku dalam masyarakatnya, dianggap sesuai dan bertindak benar secara moral. Jika sebaliknya yang terjadi, maka pribadi itu dianggap tidak bermoral. Moral dalam perwujudannya dapat berupa peraturan, prinsip-prinsip yang benar, baik, terpuji, dan Moral dapat berupa kesetiaan, kepatuhan terhadap nilai dan norma yang mengikat kehidupan masyarakat, negara, dan bangsa. Sebagaimana nilai dan norma, moral pun dapat dibedakan seperti moral ketuhanan atau agama, moral filsafat, moral etika, moral hukum, moral ilmu, dan sebagainya. Nilai, norma, dan moral secara bersama mengatur kehidupan masyarakat dalam berbagai aspeknya. Nilai-nilai sila kedua, berani membela kebenaran dan keadilan. Setiap manusia punya sisi baik dan sisi buruk, selalu ada dimanapun juga, saat kebenaran tidak bisa, manusia yang berperasaan peka, tidak tega atau tahu bahwa itu salah, orang akan diam memikirkan, apalagi bila tidak bisa membela, kepedihan nyata akan melahirkan masalah suatu saat nanti, saat tidak tahan terhadap sesuatu yang tidak inginkan. Maka dari itu sebenarnya untuk membela kebenaran dan keadilan diperlukan sisi pengambil alih resiko yang manusia lakukan dalam membelanya. Kadang awan gelap, serta hujan lebat menyertai mereka ditambah faktor sisi gelap, membuat manusia jadi terhenti. Sebenarnya membela kebenaran dan keadilan bukan hanya untuk mengungkap perbuatan jahat saja, melainkan untuk setiap warga negara yang tinggal didalamnya, hak manusia, persamaan derajat. Berani membela kebenaran . yajaAoa. berarti keteguhan dalam menghadapi bahaya atau sesuatu yang membahayakan dalam rangka menegakkan kebenaran berdasarkn ketentuan Allah SWT, berani membela kebenaran juga dapat diartikan merasa takut pada beberapa hal yang memang harus ditakuti yaitu hal-hal yang jahat dan jelek seperti kejahatan, kriminal dan kejelekan seperti aib,dan kemiskinan. Mengapa kita umat Islam harus berani membela kebenaran? Banyak kejadian dalam kehidupan sosial yang mulai jauh dari sikap berani membela kebenaran. Sebagai contoh terhadap tindakan kejahatan seperti perampokan, pembunuhan, pencurian, korupsi dan lain-lain, semakin sedikit orang yang membela. Orang seperti cuek dan takut untuk membela korban, dan kebanyakan hanya melihat hanya takut, atau membiarkan urusan menjadi tanggung jawab kepolisian. Sedangkan kejelekan pada saat ini juga sudah menjadi kebanggan seperti kaya karena korupsi, dan membuka aib orang lain. KESIMPULAN Kepemimpinan merupakan suatu proses yang tidak bisa dilepaskan dari figur pemimpin, yang dalam bahasa Inggris disebut "leader" dan aktivitasnya disebut "leadership". Kepemimpinan melibatkan upaya mempengaruhi orang lain untuk Zaenal Abidin Riam. AuPeran Pendidikan Islam dalam Mendorong Kebijakan Anti KorupsiAy. JurnalPendidikan Agama Islam 1, no 1 (Juli 2. : 95-96 Asti Yunita Benu. Agnes Maria Diana Rafael. Imanuel Baok. Intan Yunita Tungga. Maria Nina Niron. Niski Astria Ndolu. Vebiyanto P Leo. AuPenerapan Nilai Moral Pancasila dalam Mewujudkan Generasi Anti Korupsi Di SD Negeri OSILOA Kupang TengahAy. Jurnal Pemimpin 2, no 1 . : 13-17. Hadi Riyanto. AuImplementasi Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab di Lingkungan Sekolah. Jurnal Pendidikan Sosial 3, no 1 (Juni 2. : 80-91. Abdul Aziz. AuKesalehan Sosial dalam Bermasyarakat Islam ModernAy. Jurnal Mathlaul Fatah. 11,no. 1 (Juni 2. : 59-77. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 02 Desember 2024 . mencapai tujuan bersama dalam sebuah organisasi. Seorang pemimpin yang efektif tidak hanya mampu mengarahkan kelompok, tetapi juga memiliki kualitas moral dan etika yang tinggi, sehingga menjadi panutan yang baik bagi yang dipimpinnya. Kualitas pemimpin ideal mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila, menunjukkan kepekaan terhadap norma masyarakat, serta mematuhi hukum dan konstitusi negara. Kepemimpinan yang baik terlihat dalam sejarah Islam, di mana Nabi Muhammad SAW berhasil mempersatukan berbagai budaya dalam masyarakat yang beriman dan Contoh keberhasilan kepemimpinan beliau adalah dalam Perang Badar, di mana kemenangan diperoleh melalui penanaman keimanan, ketakwaan, kesetiaan, dan semangat juang yang kuat, bukan semata-mata karena mukjizat. Masa depan yang penuh ketidakpastian menuntut adanya kepemimpinan yang mampu mengarungi perubahan. Syaja'ah, yang berarti keberanian atau keperwiraan, adalah sikap penting yang harus dimiliki seorang pemimpin. Keberanian dalam konteks ini bukan hanya keberanian fisik, tetapi juga keberanian moral untuk melakukan yang benar meskipun sulit. Syaja'ah dalam kepemimpinan berarti keberanian yang berdasarkan kebenaran dan dilakukan dengan pertimbangan bijaksana. Hal ini mencakup keberanian untuk mengambil risiko, memimpin dengan integritas, dan memberikan teladan yang baik. DAFTAR PUSTAKA