PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP KELOMPOK BELAJAR DAN MOTIVASI MENYEKOLAHKAN ANAK SEBAGAI DASAR PEMILIHAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Hanifa Rumaisha1. Dwi Undayasari2. Yunus Abidin3. Hizbul Wathoni4 1,2,3 Universitas Pendidikan Indonesia, 4Institut Agama Islam Al-Manan NU Lombok Timur e-mail: 1hanifarumaisha4@upi. edu, 2dwiundayasari@upi. edu, 3yunusabidin@upi. hizbulwathoni177@gmail. Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengkaji persepsi dan motivasi orang tua dalam memilih kelompok belajar sebagai dasar pendidikan anak usia dini. Fokus penelitian diarahkan pada pandangan orang tua terhadap peran kelompok belajar serta alasan utama mereka memilih lembaga Latar belakang penelitian ini adalah pentingnya keterlibatan orang tua dalam keputusan pendidikan sejak dini, sementara kajian terkait masih terbatas. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara dengan orang tua di Kelompok Belajar Yayasan Muhajirin Bojongsoang. Hasil menunjukkan bahwa orang tua menilai positif kelompok belajar, terutama dari sisi program pembelajaran, kualitas pengasuhan, dan lingkungan yang mendukung. Motivasi mereka dipengaruhi faktor internal, seperti kebutuhan perkembangan anak dan nilai keluarga, serta faktor eksternal, seperti rekomendasi sosial dan citra lembaga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa persepsi dan motivasi orang tua berperan penting dalam menentukan pilihan pendidikan anak usia Temuan ini dapat menjadi acuan bagi pengelola lembaga untuk merancang program yang sesuai harapan orang tua, memperkuat citra positif, dan mendorong partisipasi orang tua dalam pendidikan sejak dini. Kata kunci: Persepsi Orang tua. Kelompok Belajar. Strategi Pemilihan PAUD. Abstract. This study aims to examine parents' perceptions and motivations in choosing study groups as a basis for early childhood education. The focus of the study is directed at parents' views on the role of study groups and their primary reasons for choosing a particular institution. The background of this study is the importance of parental involvement in early education decisions, while related studies are still limited. The method used is descriptive qualitative through interviews with parents at the Muhajirin Bojongsoang Foundation Study Group. The results show that parents positively assess the study group, especially in terms of the learning program, quality of care, and supportive Their motivation is influenced by internal factors, such as children's developmental needs and family values, as well as external factors, such as social recommendations and the institution's image. This study concludes that parents' perceptions and motivations play a significant role in determining early childhood education choices. These findings can serve as a reference for institution managers to design programs that meet parents' expectations, strengthen a positive image, and encourage parental participation in early childhood education. Keywords: ParentsAo Perceptions. Learning Groups. Early Childhood Educaation selection Hanifa Rumaisha, dkk. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan faktor fundamental dalam membentuk kualitas sumber daya manusia. Salah satu tahapan pendidikan yang sangat penting adalah pendidikan anak usia dini (PAUD), yang bertujuan untuk mengoptimalkan perkembangan anak pada usia emas . olden ag. Pada masa ini, perkembangan anak, baik dari aspek fisik, kognitif, bahasa, sosial emosional, maupun moral spiritual, terjadi sangat pesat dan menjadi dasar bagi perkembangan anak selanjutnya (Suryana, 2. Kelompok Bermain (KB) sebagai salah satu bentuk satuan pendidikan nonformal PAUD hadir untuk memenuhi kebutuhan stimulasi anak usia 2-4 tahun secara optimal. KB berperan memberikan layanan pendidikan awal yang terstruktur, kreatif, dan menyenangkan dengan tujuan mengembangkan seluruh potensi anak secara menyeluruh (Permendikbud, 2. Menurut Wiyani, . , pendidikan pada usia dini tidak hanya mempersiapkan anak untuk memasuki pendidikan dasar, melainkan membentuk fondasi karakter, sikap sosial, dan keterampilan hidup. Dalam beberapa tahun terakhir, minat masyarakat terhadap pendidikan usia dini, khususnya layanan KB, semakin meningkat. Berdasarkan data dari (Kementeriaan Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Teknologi . , tingkat partisipasi kasar PAUD di Indonesia telah mencapai lebih dari 76%, dengan pertumbuhan yang signifikan di daerah perkotaan maupun pedesaan. Fenomena ini menunjukkan bahwa kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan usia dini, termasuk memilih KB, semakin tinggi. Tingginya angka partisipasi tersebut tidak terlepas dari peran aktif pemerintah melalui program paudisasi desa, yang diluncurkan sejak 2012, serta dukungan masyarakat dalam membangun dan mengembangkan satuan PAUD seperti TK. RA, dan KB (Alimni, 2. Adanya dukungan regulasi serta peningkatan kampanye tentang pentingnya pendidikan sejak dini turut mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif masyarakat. Namun menyekolahkan anak di KB tidak hanya dipengaruhi oleh kesadaran akan pentingnya pendidikan, melainkan juga oleh persepsi dan motivasi mereka. Hanifa Rumaisha, dkk. Persepsi orang tua tentang KB dapat mencakup pandangan mereka terhadap kualitas layanan, kompetensi pendidik, lingkungan belajar, serta kesiapan anak untuk belajar bersama teman sebaya (Cahyanengdian et al. , 2. Sementara dalam Afni & Lestari, . Persepsi seseorang terhadap suatu objek, termasuk lembaga pendidikan, dipengaruhi oleh pengalaman, kebutuhan, nilai, dan keyakinan yang dimiliki. Selain persepsi, motivasi orang tua juga menjadi faktor penting dalam keputusan menyekolahkan anak di KB. Motivasi dapat berupa dorongan untuk memberikan pendidikan terbaik, keinginan mengembangkan potensi anak sejak dini, serta persiapan menuju jenjang pendidikan dasar (Samsiyah, 2. Hasil penelitian oleh Zahrawanny & Fitria, . menunjukkan bahwa motivasi orang tua dalam menyekolahkan anak ke PAUD, termasuk KB, dipengaruhi oleh faktor internal seperti kesadaran pendidikan dan faktor eksternal seperti rekomendasi lingkungan sosial. Kemajuan teknologi informasi juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan akses informasi mengenai pentingnya pendidikan usia dini. Orang Tua dengan pemahaman dan Penggunaan Teknologi Digital dapa memberikan dampak positif bagi anak ketika peran an orang tua tepat sasaran sesuai era perkembangan zaman(Asmawati, 2. Pengetahuan yang lebih baik ini mendorong mereka untuk lebih selektif dan aktif dalam memilih satuan PAUD yang sesuai untuk anak Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat 14. PAUD adalah upaya pembinaan anak sejak lahir hingga usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Magfiroh & Suryana, 2. KB sebagai bagian dari PAUD non-formal berfokus pada memberikan pengalaman belajar yang mendukung pertumbuhan optimal anak dengan prinsip belajar sambil Meskipun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua orang tua memiliki persepsi dan motivasi yang sama terhadap pentingnya KB. Ada sebagian orang tua yang masih menganggap pendidikan usia dini tidak terlalu Hanifa Rumaisha, dkk. penting, atau hanya sebagai sarana penitipan anak. Penelitian Trisnaningsih et al. menemukan bahwa persepsi dan motivasi orang tua terhadap PAUD sangat bervariasi tergantung pada tingkat pendidikan, pengetahuan, dan kondisi sosial ekonomi keluarga, secara spesifik mengurai keterkaitan antara persepsi dan motivasi orang tua dalam pemilihan KB . sia 2Ae4 tahu. masih terbatas. Akibatnya, dimensi unik layanan KB . okus stimulasi awal, pola pengasuhan, kesiapan sosioemosional prasekola. belum tergambar utuh dalam keputusan orang tua Oleh karena itu, untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana persepsi dan motivasi orang tua dalam memilih menyekolahkan anak mereka di KB, perlu dilakukan penelitian. Pentingnya kajian ini dilakukan sebagai gambaran tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan orang tua, sehingga dapat menjadi dasar dalam meningkatkan kualitas layanan KB dan mengoptimalkan program-program pemberdayaan orang tua di lingkungan pendidikan anak usia Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis persepsi serta motivasi orang tua dalam memilih menyekolahkan anak baik yang bersumber dari internal maupun eksternal. Adapun Penelitian ini menawarkan pendekatan baru dengan mengaitkan persepsi dan motivasi orang tua terhadap kelompok belajar dalam konteks perkembangan informasi digital dan program paudisasi desa yang terus berkembang sesuai dengan kebijakan pemerintah. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pemahaman masyarakat dalam bidang pendidikan anak usia dini, terkhusus dalam pengembangan dan pengelolaan Kelompok Bermain yang lebih efektif, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. METODE Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Belajar Yayasan Muhajirin, yang berlokasi di Kecamatan Bojongsoang. Kabupaten Bandung. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa lembaga ini merupakan salah satu kelompok belajar yang aktif dan memiliki partisipasi orang tua yang cukup tinggi, sehingga relevan untuk dikaji dalam konteks persepsi dan motivasi orang tua terhadap pemilihan pendidikan anak usia dini. Menurut Turner, . Hanifa Rumaisha, dkk. purposive sampling merupakan Teknik pengambilan sampel yang dapat digunakan saat peneliti memiliki target karakteristik yang relevan dengan penelitian. Jenis penelitian ini adalah studi kualitatif deskriptif. Berdasarkan tujuannya, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam persepsi dan motivasi orang tua dalam memilih kelompok belajar Yayasan Muhajirin sebagai Lembaga pendidikan anak usia dini. Penelitian ini tidak menguji hipotesis, melainkan menggali makna dan pengalaman informan secara langsung melalui Subjek penelitian adalah orang tua yang memiliki anak yang sedang bersekolah di Kelompok Belajar Yayasan Muhajirin. Penentuan informan dilakukan secara purposive dengan kriteria orang tua yang bersedia diwawancarai, aktif dalam kegiatan sekolah, serta memiliki latar belakang pendidikan dan sosial ekonomi yang bervariasi agar data yang diperoleh bersifat kaya dan beragam. Data primer dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan pedoman wawancara yang telah disusun sebelumnya berdasarkan kajian literatur mengenai persepsi, motivasi, dan pengambilan keputusan dalam pendidikan anak usia dini. Metode pengumpulan data menggunakan Dokumentasi dan observasi dengan 6 informan sebagai sampel penelitian. Selain itu peneliti hadir langsung saat proses observasi lapangan untuk mendapatkan gambaran konteks secara Keabsahan data diuji melalui teknik triangulasi sumber dan member Triangulasi dilakukan dengan membandingkan data dari beberapa informan, sementara member checking dilakukan dengan mengonfirmasi hasil wawancara kepada informan untuk memastikan bahwa interpretasi peneliti sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh informan. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Miles & Huberman, . mengemukakan bahwa aktifitas pada analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus pada setiap tingkatan atau tahapan penelitian hingga data yang didapat bersifat jenuh. Seluruh data wawancara ditranskripsi, dikoding, dan dianalisis untuk menemukan pola-pola makna yang Hanifa Rumaisha, dkk. berkaitan dengan persepsi dan motivasi orang tua dalam memilih kelompok belajar sebagai lembaga pendidikan anak usia dini. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi orang tua terhadap kelompok belajar serta motivasi mereka dalam menyekolahkan anak sebagai dasar pemilihan pendidikan anak usia dini. Berdasarkan hasil wawancara dengan enam responden yang merupakan orang tua dari anak usia dini di kelompok belajar, diperoleh data sebagai berikut: M . M memandang pendidikan anak usia dini sebagai hal yang sangat penting karena pada masa ini anak sedang berada dalam tahap perkembangan pesat. Menurutnya, pendidikan di KB bukan hanya tentang belajar membaca atau berhitung, tetapi juga tentang pembentukan karakter, kemampuan bersosialisasi, dan belajar mengelola emosi. Ia menyekolahkan anaknya agar terbiasa dengan lingkungan luar rumah dan memiliki keteraturan rutinitas. M memilih KB tersebut karena lokasinya strategis, fasilitasnya memadai, dan guru-gurunya dikenal ramah serta peduli pada anak. Informasi tentang lembaga ini diperoleh dari rekomendasi teman dan tetangga. Ia mengharapkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, mampu berinteraksi dengan baik, dan memiliki kesiapan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Ia menilai kurikulum dan metode pembelajaran sudah sesuai dengan perkembangan anak usia dini, dan berharap guru-guru dapat terus meningkatkan profesionalisme dalam mendampingi anak-anak. S . S menilai bahwa KB berperan penting dalam proses sosialisasi anak. melihat bahwa setelah anaknya masuk KB, terjadi perubahan positif dalam hal kemandirian dan kemampuan berkomunikasi. Anak juga lebih semangat dan antusias saat pergi ke Sekolah. Ia memilih KB ini karena rekomendasi dari lingkungan sekitar dan merasa cocok dengan suasananya. Selain itu, biaya yang terjangkau menjadi pertimbangan penting. Ia menilai fasilitas cukup lengkap dan guru-gurunya sabar dalam menghadapi berbagai karakter anak. Harapan S Hanifa Rumaisha, dkk. adalah agar pendidikan di KB mampu membentuk dasar-dasar sikap positif pada anak seperti disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan berbagi. Ia merasa lembaga ini sudah cukup baik, dan ia sangat mendukung jika dilakukan pengembangan metode pembelajaran yang lebih inovatif dan menyenangkan. H . H menyatakan bahwa masa usia dini merupakan periode emas bagi perkembangan anak. Ia melihat bahwa stimulasi yang tepat sangat penting untuk mendukung potensi anak secara maksimal. Ia memilih KB ini karena merasa anaknya nyaman setelah mengikuti masa percobaan. Menurut H, suasana di rumah kurang kondusif untuk belajar karena banyak gangguan, sedangkan di Sekolah anak bisa lebih fokus. Ia menyadari bahwa anaknya sangat aktif dan membutuhkan ruang untuk menyalurkan energi secara positif. Ia merasa puas karena fasilitas KB ini lengkap dan anak menunjukkan perkembangan signifikan, khususnya dalam aspek sosial dan kognitif. H berharap KB dapat terus memberikan laporan perkembangan anak secara rutin kepada orang tua agar bisa bersama-sama memantau dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. T . T sangat bersyukur anaknya dapat mengikuti pendidikan di KB ini. menceritakan bahwa anaknya sebelumnya mengalami keterlambatan berbicara dan menunjukkan emosi yang tidak stabil. Namun, setelah mengikuti kegiatan belajar di KB, anaknya menunjukkan perubahan yang sangat baik. Ia merasa sangat terbantu karena guru-guru di KB ini sabar dan mampu memahami kebutuhan khusus anak. Alasan utama T memilih KB ini adalah karena anaknya merasa nyaman dan mendapatkan rekomendasi dari teman. Ia menilai kurikulum dan pendekatan pembelajaran sudah sesuai, terutama dalam memperhatikan perkembangan individual anak. Ia berharap lembaga ini terus mempertahankan kualitas pengajaran dan memberikan ruang yang inklusif bagi semua anak. D . D menganggap usia dini sebagai masa yang sangat berharga dalam pembentukan karakter dan minat belajar anak. Ia merasakan bahwa anaknya lebih mudah diarahkan oleh guru daripada oleh orang tua sendiri di rumah. Oleh Hanifa Rumaisha, dkk. karena itu, ia memilih KB sebagai tempat anak belajar disiplin, bersosialisasi, dan mengenal rutinitas. D memilih lembaga ini karena memiliki jenjang kelompok bermain yang cocok untuk usia anaknya. Ia juga mengetahui tentang KB ini melalui rekomendasi teman. Menurutnya, fasilitas dan metode pembelajaran yang digunakan cukup baik dan membuat anak merasa senang Ia berharap ke depannya, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, disiplin, dan memiliki kesiapan yang matang untuk menempuh jenjang pendidikan berikutnya. N . N menganggap pendidikan KB sangat penting karena orang tua memiliki keterbatasan dalam memberikan pendidikan yang terstruktur di rumah. menyekolahkan anaknya karena ingin anak belajar mandiri dan terbiasa dengan lingkungan sosial. N memilih KB ini karena lokasinya dekat dan banyak mendapat rekomendasi dari lingkungan sekitar. Ia melihat bahwa anaknya sangat antusias belajar dan merasa senang mengikuti kegiatan di Sekolah. Ia juga menilai adanya tambahan materi keagamaan sebagai nilai plus. Fasilitas KB dinilai sudah baik dan terus mengalami perbaikan. Harapannya. KB ini bisa terus berkembang dan memberikan pengajaran yang merata bagi seluruh anak, tanpa mengesampingkan perhatian pada kebutuhan masing-masing individu. Persepsi Orang Tua terhadap Kelompok Belajar Berdasarkan hasil wawancara dengan enam orang tua yang menyekolahkan anaknya di Kelompok Belajar, diketahui bahwa sebagian besar dari mereka memiliki persepsi yang positif terhadap keberadaan kelompok belajar. Kelompok belajar dipahami bukan hanya sebagai sarana pendidikan formal untuk anak usia dini, melainkan juga sebagai lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Orang tua melihat kelompok belajar sebagai tempat di mana anak tidak hanya memperoleh kemampuan kognitif seperti membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mengembangkan aspek sosial, emosional, moral, dan spiritualnya (Depdiknas, 2. Responden M . dan D . , misalnya, menyatakan bahwa mereka menyekolahkan anaknya di KB dengan harapan anak bisa lebih cepat bersosialisasi dan membangun karakter sejak dini. Menurut mereka, kelompok Hanifa Rumaisha, dkk. belajar menjadi media yang efektif bagi anak untuk belajar berinteraksi dengan teman sebaya, menghormati guru, serta mengenal struktur dan rutinitas harian yang Mereka menilai bahwa kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dalam satu kelompok mendorong anak untuk menjadi lebih disiplin, karena anak belajar mengikuti aturan dan giliran, serta mengenal tanggung jawab atas tugas kecil yang diberikan dalam kelompok. Senada dengan itu, responden S . juga menyampaikan bahwa kelompok belajar memiliki peran penting dalam mendorong kemandirian anak. mengamati perubahan perilaku anaknya setelah mengikuti kegiatan kelompok belajar selama beberapa bulan. Anak yang sebelumnya cenderung pemalu dan bergantung pada orang tua, mulai menunjukkan inisiatif dalam melakukan aktivitas sendiri, lebih berani berbicara di depan umum, serta mulai memahami konsep kerjasama dan berbagi. Menurutnya, hal ini tidak bisa diperoleh jika anak hanya belajar di rumah atau hanya berinteraksi dengan anggota keluarga. Sementara itu, responden H . memberikan perhatian lebih terhadap kenyamanan anak dalam kelompok belajar. Ia menilai bahwa aspek emosional anak sangat penting dalam proses pembelajaran. Jika anak merasa nyaman, senang, dan dihargai dalam kelompoknya, maka proses belajar akan terjadi secara alami tanpa paksaan. Ia memilih KB yang memiliki pendekatan ramah anak, di mana guru mampu menciptakan suasana kelompok yang menyenangkan, terbuka, dan hangat. Menurutnya, suasana seperti ini membuat anak lebih aktif dan berani dalam mengeksplorasi kemampuannya tanpa takut dimarahi atau dikritik secara keras. Berbeda dengan itu, responden T . dan N . menyoroti pentingnya prinsip inklusivitas dalam kelompok belajar. Mereka meyakini bahwa setiap anak, termasuk anak dengan kebutuhan khusus atau perkembangan yang berbeda dari teman sebayanya, berhak mendapatkan pengalaman belajar yang setara dan dukungan yang sesuai. Menurut mereka, kelompok belajar yang baik adalah kelompok yang menghargai perbedaan dan mampu menyesuaikan metode pembelajarannya agar dapat mengakomodasi semua anak. Mereka juga mengapresiasi keberadaan guru yang sabar, penuh kasih sayang, dan memiliki keterampilan dalam membina kelompok yang heterogen. Hal ini mencerminkan Hanifa Rumaisha, dkk. kesadaran orang tua bahwa pendidikan anak usia dini tidak hanya berfokus pada hasil akademik, tetapi lebih pada proses membangun karakter dan nilai-nilai sosial dalam lingkungan yang beragam. Secara umum, persepsi orang tua terhadap kelompok belajar menunjukkan bahwa mereka tidak lagi memandang PAUD secara sempit sebagai tempat anak bermain semata, tetapi sebagai institusi awal yang membentuk landasan penting bagi pertumbuhan anak. Orang tua menyadari bahwa kelompok belajar menyediakan kesempatan yang luas bagi anak untuk belajar menjadi bagian dari masyarakat kecil, belajar memahami peran dan tanggung jawabnya, serta mengenal konsep toleransi dan empati. Hal ini juga menunjukkan bahwa para orang tua telah memiliki pemahaman yang cukup baik terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini, sejalan dengan teori perkembangan sosial Vygotsky yang menekankan pentingnya interaksi sosial dalam pembentukan fungsi mental anak (Vygotsky. Motivasi Orang Tua terhadap Menyekolahkan Anak Motivasi orang tua dalam menyekolahkan anak ke lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan hasil dari serangkaian pertimbangan yang kompleks dan menyeluruh, yang tidak hanya mencakup kebutuhan pendidikan anak, tetapi juga berkaitan erat dengan nilai-nilai yang dianut keluarga, harapan terhadap masa depan anak, serta realitas kondisi sosial-ekonomi dan psikologis yang dihadapi masing-masing keluarga. Dari hasil wawancara mendalam dengan enam orang tua yang berasal dari latar belakang berbeda, terungkap bahwa keputusan untuk memasukkan anak ke KB umumnya didasarkan pada kesadaran akan pentingnya stimulasi dini yang holistik dan sistematis bagi tumbuh kembang Salah satu alasan utama yang mendorong orang tua menyekolahkan anak mereka adalah kebutuhan untuk memperluas pengalaman sosial dan emosional anak di luar lingkungan keluarga. Dalam hal ini, orang tua menyadari bahwa anakanak usia dini berada pada tahap perkembangan yang sangat dinamis, di mana interaksi sosial menjadi kunci dalam membentuk karakter, keterampilan komunikasi, dan empati anak terhadap orang lain. Mereka meyakini bahwa anakanak tidak cukup hanya dibesarkan di rumah bersama keluarga inti, karena dalam Hanifa Rumaisha, dkk. interaksi terbatas tersebut anak kurang mendapatkan tantangan dan dinamika sosial yang diperlukan untuk mengembangkan kecerdasan emosionalnya. Beberapa orang tua, seperti yang disampaikan oleh responden M . , melihat bahwa dengan menyekolahkan anak ke KB, anaknya mulai terbiasa dengan lingkungan sosial yang lebih luas, belajar berbagi, menunggu giliran, serta memahami perbedaanperbedaan individu. Proses ini dinilai sangat penting untuk membekali anak menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya maupun kehidupan bermasyarakat Selain aspek sosial-emosional, orang tua juga memandang KB sebagai tempat yang tepat untuk mulai membentuk karakter dan kemandirian anak. Mereka menyadari bahwa nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kemampuan mengikuti aturan, serta kepercayaan diri tidak serta-merta muncul tanpa latihan yang berulang dan terpola. Di rumah, tidak semua orang tua mampu secara konsisten mengajarkan dan menerapkan nilai-nilai tersebut, terutama ketika mereka harus membagi waktu antara pekerjaan rumah tangga dan urusan pekerjaan di luar Oleh karena itu, keberadaan KB dengan sistem kegiatan yang terstruktur dan didampingi oleh pendidik profesional menjadi sangat membantu. Responden D . , misalnya, menyatakan bahwa sejak anaknya mulai Sekolah, ia melihat perubahan signifikan dalam hal kemandirian anakAiyang semula selalu bergantung pada ibunya, kini mulai mampu membereskan barang sendiri dan mengikuti rutinitas harian tanpa harus diingatkan secara terus-menerus. Hal ini menunjukkan bahwa KB dipersepsikan sebagai lembaga yang tidak hanya memberikan pendidikan akademik dasar, tetapi juga membentuk pola perilaku anak yang lebih tertib dan bertanggung jawab. Dalam realitasnya, tidak semua orang tua merasa mampu memberikan pendidikan yang sistematis di Rumah. Beberapa dari mereka mengakui keterbatasan dalam aspek pengetahuan, metode, maupun waktu yang dimiliki untuk mendampingi tumbuh kembang anak secara optimal. Responden N . dan T . termasuk yang menyuarakan hal ini. Mereka menyadari bahwa pendidikan anak usia dini memerlukan pendekatan yang tepat sesuai tahap perkembangan, yang tidak selalu bisa mereka sediakan sendiri. Alih-alih menjadi pendidik utama di Rumah, mereka merasa lebih nyaman menyerahkan proses Hanifa Rumaisha, dkk. pembelajaran anak kepada Kelompok Belajar yang telah memiliki kurikulum, program, dan tenaga pengajar yang memahami karakteristik anak usia dini. Dalam pandangan mereka, pendidikan bukan sekadar memberikan pengetahuan, tetapi juga membimbing anak dengan metode yang menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan psikologis anak. Maka dari itu, menyekolahkan anak ke KB dipilih sebagai jalan tengah antara keterbatasan yang ada di rumah dan kebutuhan perkembangan anak yang harus tetap terpenuhi. Kenyamanan dan minat anak juga menjadi faktor penting yang sangat dipertimbangkan oleh para orang tua. Mereka tidak sekadar memilih KB berdasarkan nama atau fasilitas yang ditawarkan, tetapi lebih kepada bagaimana menyenangkan, dan tidak menekan. Responden H . , misalnya, menyampaikan bahwa dirinya sangat peka terhadap reaksi anak setelah mengikuti kegiatan dikelompok belajar. Jika anak menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman, cemas, atau tertekan, maka ia akan mempertimbangkan kembali untuk mencari lembaga lain yang lebih sesuai. Baginya, pendidikan anak usia dini haruslah berpusat pada kebahagiaan anak, karena suasana belajar yang menyenangkan akan memberikan dampak positif terhadap semangat dan kesiapan anak dalam menerima Kenyamanan anak di lingkungan Sekolah dianggap sebagai fondasi penting yang menentukan keberhasilan proses pendidikan di tahap-tahap Dari berbagai motivasi tersebut, tampak bahwa para orang tua memiliki orientasi yang cukup maju dalam memandang pentingnya pendidikan anak usia Mereka tidak lagi melihat KB hanya sebagai tempat penitipan anak atau persiapan masuk SD semata, tetapi sebagai lembaga pendidikan yang strategis dalam membentuk fondasi kepribadian dan keterampilan hidup anak secara Kesadaran ini mencerminkan adanya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya investasi jangka panjang dalam pendidikan anak sejak usia Orang tua melihat bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang sangat menentukan, dan karena itulah, pilihan menyekolahkan anak ke KB menjadi bagian dari strategi pengasuhan yang terencana dan bertanggung jawab. Hanifa Rumaisha, dkk. Dasar Pemilihan PAUD oleh Orang Tua Pemilihan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) oleh orang tua bukanlah keputusan yang diambil secara sembarangan atau tergesa-gesa. Dalam proses ini, orang tua mempertimbangkan berbagai faktor yang mereka anggap paling relevan dengan kebutuhan anak dan situasi keluarga. Keputusan tersebut lahir dari perpaduan antara pengalaman pribadi, rekomendasi sosial, keterbatasan ekonomi, serta pertimbangan terhadap kualitas layanan pendidikan yang ditawarkan oleh lembaga PAUD. Salah satu faktor yang paling dominan dalam pemilihan PAUD adalah adanya rekomendasi dari lingkungan sekitar. Banyak orang tua pertama kali mengetahui informasi tentang sebuah lembaga PAUD melalui jaringan sosial terdekat mereka, seperti tetangga, kerabat, atau teman yang telah lebih dahulu menyekolahkan anak di sana. Dalam konteks masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai komunal, testimoni dari sesama orang tua dianggap lebih kredibel dan meyakinkan dibandingkan informasi formal seperti iklan atau promosi dari pihak lembaga itu sendiri. Orang tua cenderung lebih mempercayai pengalaman langsung orang lain, terutama jika pengalaman tersebut berkaitan dengan kenyamanan anak, perkembangan selama belajar, serta kualitas layanan yang Selain itu, kualitas fasilitas dan tenaga pendidik juga menjadi pertimbangan penting yang memengaruhi keputusan orang tua. Mereka menyadari bahwa suasana fisik yang mendukung, seperti ruang kelas yang bersih, area bermain yang aman, dan perlengkapan belajar yang lengkap, dapat menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak (Sujiono, 2. Namun lebih dari itu, sosok pendidik menjadi titik fokus utama dalam proses pemilihan PAUD. Orang tua sangat memperhatikan bagaimana karakter guru yang akan mendampingi anak-anak Guru yang sabar, ramah, penuh kasih sayang, dan memiliki kompetensi profesional dianggap sebagai elemen penting dalam membentuk hubungan yang hangat dan aman antara anak dan lingkungan sekolah. Responden H . , misalnya, mengungkapkan bahwa ia merasa tenang meninggalkan anaknya di PAUD karena melihat langsung bagaimana guru di lembaga tersebut memperlakukan anak-anak dengan penuh perhatian dan empati. Ia menilai bahwa Hanifa Rumaisha, dkk. aspek emosional ini jauh lebih penting dibandingkan sekadar capaian akademik, karena anak-anak usia dini lebih memerlukan rasa aman dan dihargai sebagai Faktor geografis juga turut menjadi penentu dalam proses pemilihan. Letak lembaga PAUD yang strategis, dalam arti dekat dengan tempat tinggal orang tua atau mudah diakses dari jalur transportasi utama, dianggap memudahkan orang tua dalam mengantar dan menjemput anak setiap hari. Hal ini menjadi pertimbangan praktis yang sangat penting, terutama bagi keluarga yang tidak memiliki kendaraan pribadi atau bagi orang tua yang memiliki kesibukan lain di luar rumah. Jarak yang terlalu jauh bukan hanya menyulitkan dari segi logistik, tetapi juga dapat mengurangi waktu istirahat anak, meningkatkan risiko kelelahan, serta menimbulkan kekhawatiran jika terjadi keadaan darurat. Pertimbangan lain yang tidak kalah penting adalah faktor ekonomi. Biaya pendidikan yang harus dikeluarkan untuk menyekolahkan anak di PAUD menjadi bahan pertimbangan yang realistis, terutama bagi keluarga dengan penghasilan menengah ke bawah. Orang tua cenderung mencari lembaga PAUD yang mampu memberikan layanan berkualitas dengan biaya yang tetap terjangkau. Dalam kondisi seperti ini, mereka tidak selalu mencari yang AuterbaikAy secara materi, tetapi yang Aupaling sesuai" dengan kemampuan keuangan keluarga. Beberapa responden mengungkapkan bahwa mereka sangat berhati-hati dalam memilih lembaga yang menetapkan biaya masuk. SPP bulanan, dan kebutuhan lainnya agar tidak memberatkan pengeluaran rumah tangga secara keseluruhan. Meski demikian, keterbatasan biaya tidak selalu diartikan sebagai hambatan dalam mencari kualitas, karena banyak orang tua yang tetap berusaha mencarikan PAUD yang memiliki reputasi baik dan tenaga pendidik yang tulus, walaupun fasilitas fisiknya tidak terlalu mewah. Keseluruhan hasil ini menunjukkan bahwa dasar pemilihan PAUD oleh orang tua merupakan proses yang mempertimbangkan aspek sosial, emosional, praktis, dan ekonomi secara bersamaan. Orang tua sebagai pengambil keputusan menunjukkan upaya untuk menyeimbangkan antara kebutuhan anak dan kondisi keluarga, sehingga anak dapat memperoleh pengalaman pendidikan dini yang menyenangkan, aman, dan bermakna. Mereka tidak hanya melihat PAUD sebagai Hanifa Rumaisha, dkk. tempat menitipkan anak, tetapi sebagai lingkungan penting yang akan memengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertindak anak dalam jangka panjang. Oleh karena itu, keputusan memilih lembaga PAUD dilakukan secara sadar dan penuh tanggung jawab, sebagai bagian dari peran mereka dalam mendampingi masa awal kehidupan anak yang sangat krusial. Alasan Orang Tua Memilih Kelompok Belajar di Yayasan Muhajirin Pemilihan kelompok belajar di Yayasan Muhajirin oleh para orang tua tidak terjadi secara kebetulan, melainkan melalui proses pertimbangan yang mendalam dan mencerminkan harapan besar terhadap masa depan pendidikan anak-anak Para orang tua memandang bahwa keputusan menyekolahkan anak di lembaga ini merupakan langkah awal yang sangat penting dalam membentuk dasar perkembangan anak usia dini, baik dari segi intelektual maupun karakter. Oleh karena itu, mereka tidak hanya mempertimbangkan satu aspek, tetapi melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai dimensi yang ada di Yayasan Muhajirin. Salah satu alasan utama orang tua memilih kelompok belajar di Yayasan Muhajirin adalah reputasi positif yang telah dibangun oleh lembaga ini di tengah Sebagian besar orang tua mengetahui keberadaan dan keunggulan lembaga ini dari cerita-cerita dan pengalaman orang tua lain yang telah lebih dahulu menyekolahkan anaknya di sana. Rekomendasi dari kerabat, tetangga, atau teman menjadi sumber informasi yang sangat dipercaya karena berdasarkan pengalaman Para orang tua tersebut biasanya membagikan cerita tentang bagaimana anak mereka mengalami perubahan positif dalam hal perilaku, kemampuan bersosialisasi, serta meningkatnya kemandirian setelah bergabung dengan kelompok belajar di Yayasan Muhajirin. Reputasi ini menjadi salah satu faktor kuat yang mendorong orang tua baru untuk turut menyekolahkan anak mereka di tempat yang sama. Selain itu, suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan juga menjadi alasan penting yang diungkapkan oleh para orang tua. Mereka menilai bahwa kelompok belajar di Yayasan Muhajirin mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak-anak usia dini. Dalam usia yang masih sangat muda, anak membutuhkan suasana yang tidak menekan, tidak menakutkan, dan jauh dari pendekatan yang terlalu akademik. Yayasan Muhajirin dipandang berhasil Hanifa Rumaisha, dkk. menghadirkan ruang yang hangat, penuh kasih sayang, dan sarat nilai-nilai positif, sehingga anak-anak merasa betah dan senang mengikuti kegiatan belajar. Kehangatan dari para guru yang menyapa anak-anak dengan ramah dan memperlakukan mereka layaknya keluarga, memberikan rasa aman yang sangat dibutuhkan oleh anak-anak untuk dapat berkembang dengan optimal. Tenaga pendidik yang kompeten dan sabar menjadi aspek krusial lainnya dalam pemilihan ini. Para orang tua melihat bahwa guru-guru di Yayasan Muhajirin memiliki pemahaman mendalam mengenai karakteristik anak usia dini. Guru-guru tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing anak dengan pendekatan yang penuh empati dan sabar. Mereka tidak memaksakan capaian kognitif semata, melainkan mendorong perkembangan holistik, termasuk kemampuan sosial, emosional, dan moral anak. Kualitas interaksi antara guru dan murid menjadi indikator penting bagi orang tua dalam menilai apakah lembaga tersebut layak Di Yayasan Muhajirin, orang tua merasa yakin bahwa anak-anak mereka berada dalam asuhan pendidik yang mampu menjadi teladan dan pembimbing yang Nilai-nilai keagamaan yang diintegrasikan dalam kegiatan kelompok belajar juga menjadi daya tarik tersendiri bagi orang tua. Mereka menilai bahwa Yayasan Muhajirin tidak hanya fokus pada aspek akademik atau keterampilan dasar anak usia dini, tetapi juga menanamkan nilai-nilai spiritual dan moral sejak dini. Pengajaran doa-doa harian, kebiasaan salat, serta pemahaman sederhana tentang akhlak mulia dianggap sebagai bekal penting dalam membentuk karakter anak yang beriman dan berakhlak baik. Bagi sebagian besar orang tua, nilai-nilai religius ini menjadi pertimbangan utama karena mereka menginginkan pendidikan yang seimbang antara duniawi dan ukhrawi. Kemudahan akses dan lokasi lembaga yang strategis juga turut menjadi faktor penentu. Banyak orang tua memilih Yayasan Muhajirin karena letaknya yang dekat dengan tempat tinggal mereka, sehingga memudahkan dalam kegiatan antar Selain itu, lembaga ini juga dinilai fleksibel dalam menyesuaikan dengan kondisi orang tua yang bekerja, baik dari segi jam operasional maupun bentuk komunikasi dengan wali murid. Komunikasi yang terbuka dan aktif antara pihak sekolah dan orang tua menambah kepercayaan orang tua terhadap profesionalisme Hanifa Rumaisha, dkk. Lebih dari itu. Yayasan Muhajirin juga dianggap sebagai lembaga yang memberikan pelayanan pendidikan dengan biaya yang relatif terjangkau, namun tidak mengorbankan kualitas. Bagi sebagian orang tua dari kalangan menengah ke bawah, aspek ini sangat penting karena mereka ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak tanpa harus terbebani oleh biaya tinggi. Keseimbangan antara biaya dan kualitas layanan yang diberikan membuat Yayasan Muhajirin menjadi pilihan yang realistis sekaligus ideal. DISKUSI Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa persepsi dan motivasi orang tua terhadap kelompok belajar dipenuhi dengan makna yang mendalam dan kompleks berdasarkan observasi serta pemahaman didalam kajian dilingkungan setempat. Bagi sebagian besar orang tua, kelompok belajar tidak hanya dipahami sebagai ruang formal tempat anak-anak belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi lebih luas dari itu, yaitu sebagai lingkungan sosial pertama yang membentuk kepribadian, karakter, dan kesiapan anak dalam menghadapi dunia luar. Mereka melihat kelompok belajar sebagai fondasi awal dalam proses pendidikan anak yang harus dibangun secara positif, menyenangkan, dan terarah. Beberapa orang tua seperti responden M . dan D . mengemukakan bahwa kelompok belajar penting dalam membantu anak mengembangkan kemampuan sosial, seperti bersosialisasi, mengenal aturan, dan membentuk kebiasaan baik seperti disiplin serta tanggung jawab. Mereka mengamati perubahan perilaku anak mereka setelah mengikuti kelompok belajar, terutama dalam hal kemandirian dan keaktifan berkomunikasi. Responden S . turut menguatkan pandangan tersebut dengan menyebut bahwa anaknya menjadi lebih terbuka, ekspresif, dan mulai mampu mengambil inisiatif dalam berinteraksi, yang sebelumnya sulit dilakukan di rumah. Selain aspek sosial dan perilaku, kenyamanan dan suasana emosional anak juga menjadi bagian penting dalam persepsi orang tua terhadap kelompok belajar. Responden H . menjelaskan bahwa kelompok belajar yang kondusif, hangat, dan ramah mampu meningkatkan semangat anak untuk datang ke sekolah tanpa paksaan. Baginya, kenyamanan anak merupakan indikator utama bahwa Hanifa Rumaisha, dkk. metode pengajaran dan pendekatan guru sesuai dengan karakter anak usia dini. Tidak kalah penting, responden T . dan N . menyoroti pentingnya nilai inklusivitas dalam kelompok belajar. Mereka mengapresiasi ketika lembaga PAUD memberi ruang yang adil bagi seluruh anak, termasuk anak dengan kebutuhan khusus, sehingga tidak ada diskriminasi dan semua anak mendapatkan kesempatan belajar yang setara. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua tidak hanya memperhatikan manfaat langsung bagi anak mereka, tetapi juga nilai-nilai sosial dan kemanusiaan yang ditanamkan oleh lembaga tersebut. Motivasi orang tua dalam menyekolahkan anak di PAUD juga sangat beragam dan tidak dapat disederhanakan. Motivasi tersebut bukan hanya didasari oleh keinginan agar anak pandai secara akademis, melainkan lebih mengarah pada kebutuhan perkembangan holistik anak. Banyak orang tua menyadari bahwa anak usia dini membutuhkan lingkungan yang dapat merangsang perkembangan sosial, emosional, dan spiritual secara seimbang. Oleh karena itu, mereka memilih untuk menyekolahkan anak ke lembaga yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Sebagian orang tua, seperti N . dan T . , mengakui keterbatasan mereka dalam memberikan pendidikan yang sistematis di rumah. Mereka menyatakan bahwa sebagai orang tua yang juga memiliki tanggung jawab pekerjaan dan rumah tangga, mereka membutuhkan bantuan dari tenaga profesional yang memahami tahap perkembangan anak. Mereka menyadari bahwa pendidikan anak usia dini bukan hanya soal mengajari membaca dan berhitung, melainkan pembentukan karakter sejak dini. Tidak sedikit pula orang tua yang menjadikan kenyamanan dan minat anak sebagai indikator utama dalam memilih lembaga PAUD. Mereka percaya bahwa anak akan belajar secara optimal ketika berada dalam kondisi yang menyenangkan dan bebas dari tekanan. Bagi mereka. PAUD bukan tempat anak Audipaksa belajarAy, tetapi tempat di mana anak dapat bermain sambil belajar secara alami dan Pilihan orang tua terhadap lembaga PAUD juga tidak lepas dari berbagai pertimbangan rasional dan emosional lainnya. Rekomendasi dari lingkungan sekitar seperti tetangga, teman, dan kerabat menjadi sumber informasi utama yang Hanifa Rumaisha, dkk. mereka percaya. Orang tua cenderung mempertimbangkan pengalaman orang lain sebelum menetapkan pilihan, apalagi jika pengalaman tersebut sesuai dengan harapan mereka. Selain itu, kualitas tenaga pendidik menjadi salah satu aspek yang sangat diperhatikan. Guru yang sabar, ramah, dan memahami karakter anak usia dini menjadi nilai lebih yang membuat orang tua yakin untuk mempercayakan anaknya kepada lembaga tersebut. Lokasi lembaga yang dekat dari rumah dan kemudahan akses juga menjadi faktor praktis yang cukup menentukan. Banyak orang tua menyebut bahwa keberadaan PAUD di lingkungan sekitar sangat membantu mereka dalam hal logistik dan pengawasan. Di samping itu, faktor ekonomi tetap menjadi bagian dari Meskipun beberapa orang tua bersedia mengeluarkan biaya lebih demi kualitas pendidikan anak, mereka tetap mencari lembaga yang sesuai dengan kemampuan finansial keluarga. Khusus dalam konteks Yayasan Muhajirin, para responden mengungkapkan alasan-alasan yang sangat konkret dan mendalam dalam memilih kelompok belajar Responden M menyampaikan bahwa anaknya merasa nyaman dan senang bersekolah di lembaga tersebut, yang menurutnya menjadi bukti bahwa lingkungan dan metode belajar di Yayasan Muhajirin sesuai dengan kebutuhan anak. Responden menyebut bahwa aspek keagamaan yang diterapkan dalam pengajaran merupakan salah satu alasan utama ia memilih lembaga ini, karena ia ingin anaknya tumbuh dengan nilai-nilai spiritual yang kuat sejak usia dini. Responden S menggarisbawahi pentingnya peran guru yang sabar dan penuh perhatian, yang ia temukan di Yayasan Muhajirin, sehingga anaknya yang semula pemalu kini menjadi lebih berani. Responden H bahkan menyatakan bahwa Yayasan Muhajirin memberikan keleluasaan bagi anak untuk berkembang sesuai dengan iramanya sendiri, tanpa tekanan berlebih. Ia menganggap bahwa pendekatan seperti ini jarang ditemukan di lembaga lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa persepsi dan motivasi orang tua terhadap kelompok belajar, dalam memilih lembaga PAUD menunjukkan bahwa orang tua kini memiliki kesadaran yang semakin tinggi terhadap pentingnya pendidikan usia dini. Mereka tidak lagi memandang PAUD sebagai tempat penitipan semata, tetapi sebagai bagian penting dari proses tumbuh kembang anak Hanifa Rumaisha, dkk. yang memerlukan perhatian, pemikiran, dan pertimbangan matang. Dalam proses pengambilan keputusan tersebut, pengalaman anak, nilai-nilai yang dianut lembaga, kenyamanan emosional, serta kualitas interaksi antara guru dan anak menjadi pertimbangan kebijakan strategis yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab oleh setiap orang tua. KESIMPULAN keterampilan hidup dasar melalui interaksi dan kegiatan yang sesuai Secara umum, orang tua memandang kelompok belajar sebagai fondasi penting bagi perkembangan sosial dan emosional anak. Mereka mengakui bahwa melalui kelompok belajar, anak belajar mengenali lingkungan di luar rumah, menjalin hubungan dengan teman sebaya, berinteraksi dengan orang dewasa lain seperti guru, serta mulai memahami nilai-nilai dasar seperti disiplin, tanggung jawab, dan Pengalaman belajar di kelompok ini juga membantu anak menjadi lebih mandiri dan percaya diri, yang pada gilirannya mempengaruhi kesiapan mereka untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu, kenyamanan anak dalam mengikuti kegiatan belajar di PAUD menjadi indikator keberhasilan lembaga dalam menciptakan suasana yang mendukung perkembangan anak secara optimal. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi orang tua terhadap kelompok belajar tidak hanya didasarkan pada harapan pendidikan formal, tetapi juga pada kenyataan emosional dan psikologis anak di lingkungan belajar tersebut. Motivasi orang tua dalam menyekolahkan anak di lembaga PAUD didorong oleh berbagai faktor yang berkaitan erat dengan kebutuhan anak dan kondisi Beberapa orang tua menyatakan bahwa mereka memiliki keterbatasan dalam memberikan pendidikan secara struktural di rumah, sehingga mereka PAUD perkembangan secara lebih komprehensif. Sementara itu, orang tua lainnya menganggap PAUD sebagai tempat untuk menanamkan nilai-nilai moral, membentuk karakter, serta mengembangkan kebiasaan hidup positif pada anak sejak dini. Motivasi ini juga mencerminkan adanya orientasi jangka panjang dari orang tua dalam membekali anak dengan kemampuan sosial dan emosional yang diperlukan di masa depan. Selain itu, keinginan untuk melihat anak merasa senang. Hanifa Rumaisha, dkk. nyaman, dan bersemangat dalam belajar menjadi dasar emosional yang turut memperkuat keputusan orang tua dalam memilih lembaga PAUD. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemilihan lembaga PAUD oleh orang tua merupakan hasil dari proses pertimbangan yang matang, yang melibatkan aspek rekomendasi dari lingkungan sekitar, kualitas tenaga pendidik, ketersediaan fasilitas, kedekatan lokasi, dan kemampuan ekonomi keluarga. Pemilihan Yayasan Muhajirin sebagai tempat anak belajar oleh beberapa responden dalam penelitian ini mencerminkan bagaimana persepsi, motivasi, dan pertimbangan praktis tersebut berpadu dalam sebuah keputusan yang strategis. Orang tua menilai Yayasan Muhajirin memiliki lingkungan yang religius, ramah anak, inklusif, serta ditunjang oleh tenaga pendidik yang sabar dan memahami karakteristik anak usia dini. Hal ini memperkuat kesimpulan bahwa dalam memilih PAUD, orang tua tidak hanya mempertimbangkan aspek teknis dan logistik, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai yang sejalan dengan harapan keluarga terhadap pendidikan anak. Dengan demikian, kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi positif dan motivasi orang tua dalam menyekolahkan anak ke PAUD didasarkan pada pemahaman yang utuh mengenai pentingnya pendidikan anak usia dini sebagai dasar bagi seluruh aspek perkembangan anak. Proses pemilihan PAUD menjadi bentuk tanggung jawab orang tua dalam memberikan pendidikan terbaik bagi anak, yang disesuaikan dengan nilai keluarga, kondisi emosional anak, serta harapan masa depan. Penelitian ini menunjukkan pentingnya lembaga PAUD untuk terus mengembangkan pendekatan pembelajaran yang holistik, menyenangkan, dan Pendekatan ini diperlukan agar dapat menjawab kebutuhan perkembangan anak sekaligus memenuhi ekspektasi orang tua secara berkelanjutan. Sebagai gagasan lanjutan, penelitian ini dapat dikembangkan lebih jauh dengan mengkaji persepsi dan motivasi orang tua pada populasi yang lebih besar utamanya dilingkungan demografis wilayah setiap informan, ataupun lembaga pendidikan termasuk latar belakang budaya, ekonomi, serta pola pengasuhan yang beragam, sehingga hasilnya dapat menjadi dasar pengembangan kebijakan pendidikan anak usia dini yang lebih kontekstual dan responsif. Hanifa Rumaisha, dkk. UCAPAN TERIMAKASIH Terselesaikannya penelitian ini merupakan Upaya atas kerja keras dan bantuan semua pihak, terutama ucapan terimakasih disampaikan kepada Yayasan Muhajirin yang telah memberikan waktu dan kebijakan dalam seluruh proses penyelesaian penelitian. Kepada seluruh orangtua wali murid yang berkenan meninggalkan kesibukannya sejenak dalam membantu dan memberikan ide dan gagasan mendalam selama penelitian dihaturkan terimakasih. DAFTAR PUSTAKA