Perbedaan klasifikasi kalimah . menurut linguis arab klasik dan modern serta konsep jumlah . dalam pembelajaran tata bahasa arab Ali Ulhaq. Dedy Wahyudin Universitas Islam Negeri Mataram email: 1. aliulhaq555@gmail. dewasa2018@uinmataram. ABSTRACT The purpose of this study is to analyze the difference in Arabic word classification according to classical and modern Arabic linguists and how the concept of sentences in learning Arabic grammar. This study uses a qualitative approach by conducting library research. Based on the results of the discussion, the classification of words according to classical Arabic linguists is divided into three types, namely. isim, fi'il, and letters. Meanwhile, the classification of words according to modern Arabic linguists . ee: tamam hasa. is divided into seven types, namely. isim, nature, fi'il, damr, khalfah, zarf and adAh. Then the concept of deep sentences in learning Arabic grammar is divided into two sentence patterns which are referred to as the Jumlah Ismiyyah and the Jumlah Fi'liyyah. The Jumlah Ismiyyah is a type of sentence whose structure begins with the word isim and usually consists of mubtada' and khabar even though in certain conditions the khabar comes first. While the Jumlah fi'liyyah is a sentence pattern whose structure consists of fi'il and fa'il or fi'il and na'ibul fa'il, while Al-mafaa'iil (Maf'ul bih, maf'ul fiih, maf'ul ma'ah, maf'ul muthlaq, maf'ul liajli. and Al-afaa'iil . al, tamyiz, and istitsna') come as a complement then Jar Majrur and Zaraf mazruf as information about time or place. Keywords: Word (Kalima. Sentence (Jumla. Arabic Grammar PENDAHULUAN / INTRODUCTION Bahasa Arab adalah salah satu bahasa yang sangat unik dan memiliki karakter Di antara kelebihan bahasa arab dibanding bahasa yang lain yaitu bahasa Arab memiliki struktur yang kuat, pengucapan huruf yang jelas tegas, keindahan gaya bahasa yang sangat tinggi serta memiliki tingkat makna yang luas dan mendalam . ywandi & sarwiji, 2. Ada tiga alasan mengapa bahasa Arab dianggap memiliki kedudukan dan peran yang amat vital. Pertama, bahasa Arab merupakan bahasa dunia, yang sampai saat ini masih Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 37 mempertahankan statusnya tersebut, sejajar dengan bahasa Inggris dan bahasa Prancis. Di antara ciri keinternasionalan bahasa Arab adalah bahwa ia dituturkan oleh tidak kurang dari 200 juta orang di berbagai belahan dunia. Terutama di negara-negara Arab di Timur Tengah dan Afrika Utara. Bahkan dalam perkembangan terbaru jumlah tersebut menjadi 280 juta orang penutur bahasa asli dan 250 juta orang bukan penutur Ia juga merupakan bahasa resmi sekitar 25 negara. Negara-negara yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa resmi yaitu: Aljazair. Bahrain. Comoros. Djibouti. Mesir. Irak. Jordania. Kuwait. Libanon. Libya. Mauritania. Maroko, oman. Palestina. Qatar. Saudi Arabia. Somalia. Sudan. Syria. Tunisia. Uni Emirat Arab. Yaman. Sahara Barat. Chad. Eriteria. termasuk juga bahasa resmi di Israel. Uni Afrika. Liga Arab. OKI, dan PBB. Bahasa Arab juga merupakan bahasa orang India Utara, sebagian orang Turki. Iran. Portugal, dan Spanyol (Fachrudin aziz anwar, 2. Kedua, bahasa Arab merupakan bahasa al-QurAoan, kitab suci umat Islam yang berjumlah lebih dari satu miliar jiwa. sekalipun dalam keyakinan muslim, al-QurAoan bukan hanya penuntun bagi mereka, melainkan juga petunjuk bagi seluruh umat manusia, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Jasyiyah, 45: 20 : Au(Al-QurAoa. ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakiniAy. Ketiga, bahasa Arab telah menjadi bahasa yang cukup besar peminatnya di Barat terutama dalam dasawarsa terakhir ini. Di Amerika, misalnya, tidak satupun perguruan tinggi yang tidak menjadikan bahasa Arab sebagai salah satu mata kuliah, termasuk perguruan tinggi Katolik dan Kristen. Harvard University, sebuah perguruan tinggi swasta yang paling terpandang di dunia yang didirikan oleh para pendeta Protestan, dan Georgetown University, sebuah universitas swasta Katholik, mempunyai pusat studi Arab yang bernama Center of Contemporary Arab Studies. Di Indonesia sendiri, bahasa Arab merupakan bahasa asing kedua yang diajarkan pada lembaga-lembaga pendidikan setelah bahasa Inggris. Bahkan di lembaga-lembaga pendidikan bercirikan Islam seperti pesantren, bahasa tersebut merupakan bahasa asing pertama. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bahasa Arab memiliki pengaruh yang amat besar, bukan saja bagi ratusan juta umat muslim Arab dan muslim nonArab, melainkan juga bagi siapa pun yang memiliki kepentingan menjalin komunikasi efektif dengan dunia Arab khususnya dan dunia Islam umumnya. Sebagai akibat langsung dari kedudukan yang amat penting itu, bahasa Arab telah menjadi objek penelitian linguistik dan metodologi pembelajaran Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 38 bahasa asing terpenting dalam berbagai tataran . onologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmati. Pada penelitian ini akan dibahas lebih lanjut tentang konstruksi kata dan kalimat dalam bahasa arab serta bagaimana proses konstruksi tersebut menghasilkan makna yang jelas (Fachrudin aziz anwar, 2. Konstruksi kata lebih kepada bagaimana proses pembentukan kata dalam bahasa arab . lmu shar. , sedangkan konstruksi kalimat adalah proses penyusunan kalimat . yang terdiri dari beberapa kata sesuai dengan tuntunan kaedah bahasa arab . lmu Adapaun makna ini mengikuti konstruksi kata dan kalimat, sesuai dengan bentuk kata dan kalimat yang dibuat. METODE PENELITIAN / RESEARCH METHOD Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian putaka . iteratur revie. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data dari sumber-sumber tertulis yang relevan dengan judul penelitian yaitu Perbedaan klasifikasi kalimah . menurut linguis arab klasik dan modern serta konsep jumlah . dalam pembelajaran tata bahasa arab. Metode ini dilakukan dengan membaca dan meninjau semua artikel ilmiah, buku, jurnal, dan literatur-teori yang relevan dengan topik yang sudah ditentukan oleh peneliti. HASIL DAN PEMBAHASAN / FINDING AND DISCUSSION Klasifikasi kata dalam bahasa arab menurut linguis arab klasik Menurut linguis Arab klasik, kata-kata yang menjadi penyusun kalimat ada tiga, yaitu isim, fi'il dan harf. Tidak ada yang keempat. Para linguis Arab klasik telah bersepakat bahwa klasifikasi kata itu ada tiga sebagaimana di atas, kecuali pendapat lain yang itu tidak diperhitungkan. Misalnya, pendapat Ab Ja'far ibn Sabir yang menjadikan isim fiAoil sebagai klasifikasi tersendiri dengan sebutan mukhAlifah, meski sebenarnya ia termasuk dalam kategori isim (Al-MurAdi. Ibnu Ummu QAsim, 2. Tentang isim. Sibawaih tidak memberikan definisi yang jelas, tetapi ia hanya memberikan contoh. Hal ini sebagaimana ucapannya. Aea Oe OaUCA "Isim adalah semisal kata A A. AeAdan AaUCA. " (Sibawaih. Ab Bisyr Amr ibn UsmAn ibn Qunbur, 2. Para linguis Arab setelahnya berusaha memberikan definisi dengan berbagai macamnya, sehingga al-Anbari mengatakan bahwa definisi itu mencapai tujuh puluhan Di antaranya adalah definisi Ibnu al-SirAj dalam al-Uslnya. A a E U U i Oo U uI a U Oa A:AA "Isim adalah kata yang menunjukkan sebuah makna tunggal baik terkait dengan person maupun tidak. Ay( Al-BaghdAdiy, 1. Adapun fiAoil. Sibawaih memberikan definisi sebagai berikut. A Oa uaU oEOAUAO oOA. A Oa uIAUA Ocn a AAUAOa iU eaiui i iI i iaA Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 39 "FiAoil adalah beberapa model yang terambil dari kata isim yang menunjukkan aktivitas . dan dibentuk untuk menunjukkan sesuatu yang telah lampau, yang belum dan akan terjadi serta yang senantiasa ada dan tidak terputus. "(Sibawaih. Ab Bisyr Amr ibn UsmAn ibn Qunbur, 2. Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa Sibawaih mendefinisikan fiAoil dengan tiga hal, yaitu: bersumber . dari masdar, mempunyai bentuk-bentuk . tertentu dan bentuk tersebut menunjukkan sebuah waktu. Beberapa linguis Arab berusaha memberikan definisi yang lain, tetapi kebanyakan dari mereka memfokuskan definisi itu pada keterkaitan antara sebuah aktivitas dengan waktu. Hal ini dapat dilihat pada definisi Ibnu al-SirAj. AiU a E U U OaI Oo aI a a Oia a Oa ooeA "FiAoil adalah kata yang menunjukkan sebuah makna dan waktu. Waktu itu dapat berupa waktu yang telah lampau, sekarang maupun akan datang. Adapun harf. Sibawaih mendefinisikannya sebagai sebuah kata tidak bermakna isim maupun fiAoil. Kemudian, beliau memberi contoh dengan kata AucA, dan semacamnya. AIA AOO oA. A( i iaeiASibawaih. Ab Bisyr Amr ibn UsmAn ibn Qunbur, 2. Isim antara lain dapat ditandai dengan jarr yang mencakup jarr dengan hurf, idAfah dan taba'iyyah tanwin, nidA' dan alif lam . FiAoil antara lain dapat ditandai dengan tA' fA'il baik yang berharakat dammah untuk fA'il mutakallim, fathah untuk fA'il mukhAttab, dan kasrah untuk fA'il mukhAttabah ta' ta'ns sAkinah, yA'fA'il yang terdapat pada fiAoil mudAri' dan fiAoil amr serta nn taukd baik khaffah maupun tsaqlah. Adapun harf, ia merupakan katakata yang tidak dapat menerima tanda pada isim maupun fiAoil. (Ibnu malik, 2. Alasan pengklasifikasian kata menjadi tiga sebagaimana di atas antara lain didasarkan pada ucapan Sayyidina Ali Krw. kepada Ab al-Aswad al-Du`ali, penunjukan dan tidaknya pada sebuah makna, kelayakan dan tidaknya untuk menjadi musnad atau musnad ilahi, dan ada yang berpendapat bahwa tiga klasifikasi kata tersebut memang sudah menjadi hasil penelitian . stiqra') ulama nahwu terhadap katakata dalam bahasa Arab. (Al-tantawi, 2. Sementara itu. Ahmad berpendapat bahwa dasar pengklasifikasian semua jenis kata yang dikategorikan isim dan mungkin untuk kategori kata yang lain oleh Sibawaih didasarkan pada lima dasar atau prinsip . yaitu: asAs tauz'iy, asAs istibdAliy, asas wazfiy nahwiy, asAs sarfiy dan asAs dalAliy. AsAs tauz'iy adalah penentuan jenis kata isim berdasarkan awalan dan akhiran khusus yang masuk padanya, seperti huruf jarr, tanwin dan yA' nisbah. AsAs IstibdAliy adalah penempatan sebuah kata pada posisi isim jins dalam konteks bahasa yang benar. AsAs wazfiy adalah penempatan kata untuk menempati kedudukan sebagai mubtada', fA'il, maf'l atau kedudukan-kedudukan lain yang khusus untuk isim. AsAs sarfiy adalah pen-tasniyah-an kata, pen-jamak-annya baik jamak yang sahh maupun taksir, pen-tasghran maupun pen-ta'nis-annya. AsAs dalAliy adalah penunjukan kata pada sebuah makna pada dirinya sendiri tanpa disertai dengan ( Ali. Husein ibn Ahmad ibn AbdullAh, 2. Selain kelima prinsip di atas. JamAluddn menambahkan satu prinsip . lagi, yaitu asAs isnAdiy. Maksudnya adalah bahwa pengklasifikasian kata tersebut berdasarkan pada kelayakan sebuah kata untuk menempati posisi musnad dan musnad ilaih. Kata yang layak untuk menempati posisi keduanya adalah isim, yang hanya layak menempati Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 40 posisi musnad disebut fiAoil dan yang tidak layak untuk menempati kedua-duanya adalah Hal ini senada dengan definisi yang diungkapkan Abdul QAhir sebagaimana dikutip oleh al-'Akbari, yang menyatakan bahwa batasan isim adalah kata yang dapat diinformasikan, sedangkan fiAoil tidak, begitu juga dengan harf. Klasifikasi kata dalam bahasa arab menurut linguis arab Modern Seorang linguis Arab modern Tammam HassAn membagi kata dalam bahasa Arab menjadi tujuh, yaitu: isim, sifat, fiAoil, damr, khalfah, zarf dan adAh. Isim Tammam HassAn tidak memberikan definisi yang jelas tentang isim ini. Dia langsung membaginya menjadi lima bagian sebagaimana uraian di bawah ini. (Tammam Hassan. Al-Isim al-mu'ayyan, yang mencakup nama diri . sim 'ala. , benda dan hal-hal yang insidental, termasuk di dalamnya adalah isim jussah, yaitu kata yang menunjukkan benda-benda yang dapat dilihat dengan mata atau indera yang lain seperti matahari, bulan, pohon, pena dan yang lain. Isim al-hadas yang mencakup masdar, isim masdar, isim marrah dan isim hai'ah. Semua kata-kata ini direpresentasikan oleh masdar yang dapat menunjukkan suatu aktivitas tanpa disertai keterangan waktu, frekuensi atau jenis aktivitas yang dilakukan. Isim-isim dalam kelompok ini juga disebut isim ma'na. Isim al-jins, isim ini dibedakan menjadi dua: yaitu: . isim jins jamak adalah isim yang antara bentuk mufrad dan jamaknya dibedakan dengan tA' atau yA'. Contoh: baqarun-baqaratun, syajarun-syajaratun dan 'arabun-'arabiyyun dan . isim jins ifrAdiy adalah satu kata yang dapat menunjukkan baik banyak maupun sedikit dari jenisnya. Contoh: AAoAairAo. AAoNAemasAo. AomaduAo. Al-MmiyyAt, yaitu isim-isim yang bentuk katanya diawali dengan huruf mim seperti isim zamAn, isim makAn dan isim alAt. Meski demikian, masdar mim tidak termasuk dalam kelompok ini karena secara makna ia lebih dekat dengan masdar. Al-Isim al-mubham yaitu kelompok kata yang tidak menunjukkan makna tertentu karena biasanya ia menunjukkan arah, waktu, timbangan, takaran, ukuran dan Untuk menentukan maksudnya, kata-kata ini harus diberi sifah, dirangkai dengan kata yang lain . dAfa. , diberi tamyz maupun yang lain, seperti kata UA nAUA eCAU AeA. AAdan A OAUA iiaIAUAcUA Sifah Menurut Tammam HassAn, kategori ini mencakup lima bentuk yaitu sifah al-fA'il, sifah al-mubAlagah, sifah al-tafdl, sifah almaf'l dan al-sifah al-musyabbahah. (Tammam Hassan, 2. FiAoil Ulama nahwu mendefinisikan fiAoil sebagai sebuah kata yang menunjukkan aktivitas yang disertai dengan waktu. Penunjukan fiAoil pada sebuah aktivitas menyerupai masdar yang juga menunjukkan hal yang sama. Oleh karena itu, mesti ada satu hal yang menjadi keterkaitan aktivitas tersebut, semisal keterkaitannya dengan waktu aktivitas tersebut dilakukan. Menurut HassAn, waktu . di sini adalah waktu secara morfologis . l-zamAn al-sarfi. dan waktu secara konteks . l-zamAn al-nahwi. Yang pertama adalah penunjukan waktu yang ditunjukkan oleh bentuk kata . fiAoil Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 41 tersebut. Sedangkan yang kedua adalah penunjukan waktu yang ditunjukkan oleh konteks fiAoil itu berada. Demikian itu karena tidak setiap kata yang mengikuti wazan AeaUa dan semacamnya menunjukkan waktu yang telah usai . Adi. , begitu juga tidak setiap kata yang mengikuti wazan AaeiUamenunjukkan waktu yang sedang berlangsung . maupun yang akan terjadi . , sebagaimana akan dijelaskan pada analisis. (Tammam Hassan, 2. Dhamr Penunjukan damr adalah pada makna morfologis secara umum . l-mA'ani al-sarfiyyah al-'Amma. baik yang hadir . rang pertama maupun kedu. maupun yang gaib . rang Yang dimaksud hadir di sini adalah kata ganti orang pertama, seperti A iaAdan AA, kata ganti orang kedua seperti AinAmaupun hadir dalam artian penunjukan . sim isyAra. seperti AA. Sementara itu, gaib dapat berupa kata ganti orang ketiga, seperti AA maupun isim mausul seperti AOAdan semacamnya. Dengan demikian, yang dimaksud damir dalam bahasa Arab Fush a mencakup tiga kategori, yaitu: kata ganti orang . amir al-syakh. , kata ganti penunjuk . amr al-isyAra. dan kata ganti penghubung . amir almaus. (Tammam Hassan, 2. Khalfah Khalfah adalah kata-kata yang digunakan untuk mengekspresikan hal-hal yang terkait dengan emosi atau exlamation dalam bahasa Inggris. Khalfah terbagi menjadi empat yaitu: khalfah al-ikhAlah, khalfah al-saut, khalfah al-ta'ajjub, dan khalfah al-madh. Khalfah al-ikhAlah atau menurut ulama nahwu isim fiAoil, baik isim fiAoil mAdy, seperti a, isim fiAoil mudAri' seperti AiAAmaupun isim fiAoil amr seperti AA. Menurut HassAn, pembagian ketiga macam isim fiAoil ini merupakan sesuatu yang arbitrer karena tidak mempunyai dasar yang jelas tentang pembagian tersebut. Khalfah al-saut atau menurut ulama nahwu, isim saut. Tidak jelas mengapa kata-kata dalam jenis ini dikategorikan sebagai isim padahal ia juga tidak dapat menerima tandatanda isim. Hal ini semacam kata AAuntuk menghela kuda. AUaNAuntuk onta. AAuntuk kambing. AAuntuk keledai dan lainnya. Khalfah al-ta'ajjub atau menurut ulama nahwu, sigah ta'ajjub. Tidak ada petunjuk yang menunjukkan bahwa sigah ta'ajjub ini termasuk dalam kategori fiAoil bahkan ada indikasi yang mengarahkan bahwa sigah ini pada dasarnya adalah sigah af'Al tafdl yang dibuat menjadi struktur baru untuk menunjukkan hal yang baru pula. Khalfah al-madh wa al-zamm atau menurut ulama nahwu, fiAoilay al-madh wa al-zamm meskipun mereka berbeda pendapat tentang jenis kedua khalfah ini, apakah isim atau fiAoil. (Tammam Hassan, 2. Zarf Menurut HassAn, kata-kata yang termasuk kategori zarf hanyalah kata-kata mabni yang tidak dapat ditasrf. Karenanya, ia hanya memasukkan sembilan kata yang termasuk dalam kategori ini yaitu: A oAUA iaIAUA aAUA iUAUA iAUAiAuntuk kategori zarf zamAn dan A oAUA iAUAiAuntuk kategori zarf makAn. Hal ini berbeda dengan pendapat ulama nahwu klasik yang menjadikan zarf dari berbagi jenis kata seperti masdar, sigah isim zamAn dan isim makan, beberapa Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 42 hurf jarr, beberapa isim isyArah, beberapa isim mubham dan beberapa kata yang menunjukkan penamaan waktu secara tertentu dengan menganut prinsip berbilangnya fungsi untuk satu bentuk kata . a'addud al-ma'nA al-wazfiy li al-mabnA al-wAhi. (Tammam Hassan, 2. AdAt AdAt ini digunakan untuk menghubungkan satu kalimat . dengan kalimat yang AdAt ini terbagi menjadi dua, yaitu adAt asliyyah dan adAt muhawwalah. AdAt asliyyah adalah huruf-huruf yang mengandung makna seperti hurf jarr, nawAsikh, dan hurf ataf, sedangkan adAt muhawwalah adakalanya zarfiyyah, isimiyyah, fiAoiliyyah maupun damriyyah. AdAt zarfiyyah adalah beberapa zarf yang digunakan sebagai adAt istifhAm dan adAt syart. AdAt isimiyyah adalah penggunaan beberapa isim mubham untuk istifhAm, taksir . enunjukkan banya. dan syart . seperti kata AuA dan AueA. AdAt fiAoiliyyah adalah pengalihan beberapa fiAoil tamm menjadi fiAoil nAqis . iAoil yang sebelumnya tidak memerlukan khabar untuk menyempurnakan maksudny. seperti A uaAUAuaIAdan saudara-saudaranya. AdAt damriyyah adalah seperti pengalihan kata AOA i A AUA aAUAaeAmenjadi bermakna syart, istifhAm, masdariyyah, zarfiyyah, ta'ajjub dan (Tammam Hassan, 2. Dari paparan di atas, dapat dilihat bahwa faktor utama yang menjadi pendorong utama para linguis modern meninjau ulang terhadap klasifikasi kata dalam bahasa Arab adalah adanya keinginan yang kuat dari mereka untuk memelihara kesesuaian dan kecocokan antara masing-masing kata dalam sebuah klasifikasi dengan tanda-tanda yang telah ditetapkan padanya, sehingga tidak ada satu kata pun dari klasifikasi tertentu keluar dari tanda-tandanya. Akan tetapi, itupun seharusnya tidak melupakan prinsip-prinsip yang digunakan yaitu untuk mengklasifikasikan kata, sehingga yang dibahas bukan kalimat atau ungkapan. Sementara itu. AbdullAh al-Dayil melihat bahwa klasifikasi kata yang ditawarkan oleh linguis Arab klasik lebih teliti dan detail daripada klasifikasi yang ditawarkan oleh beberapa linguis Arab modern (AbdullAh ibn Hamd Al-Dayil, 2. Demikian terjadi karena klasifikasi linguis Arab modern itu tidak bersumber dari bahasa Arab sendiri, tetapi merupakan hasil analog terhadap bahasa-bahasa lain seperti bahasa Yunani dan Latin. Di samping itu, pandangan para linguis tersebut berbeda antara satu dengan yang Misalnya, meski sama-sama membuat empat klasifikasi kata dalam bahasa Arab. IbrAhm Ans dan Mahdi al-Makhzmi berbeda pendapat tentang dhamir. Bagi Ans, damr sudah mencakup isim damr, isim isyArah, isim mausl dan isim adad. Adapun alMakhzmi membuat istilah isim kinayah sebagai tandingan damr yang mencakup isim damr, isim isyArah, isim mausl, isim istifhAm, dan isim syart. Sebagian cabang atau sub isim yang dijadikan bagian tersendiri, terkadang masuk ke dalam bagian isim yang Sementara itu, para linguis Arab klasik tidak begitu memperhatikan perbedaan yang sangat mendetail antara jenis isim tersebut, seperti isim sifah, isim damr, isim isyArah, isim maushl dan semacamnya. Meski terdapat perbedaan antara isim-isim tersebut, hal ini tidak menjadikan para ulama klasik tersebut untuk menjadikannya sebagai bagian tersendiri dari sebuah kata karena keumuman definisi isim dan tandatandanya. Dan, dari sinilah letak kehati-hatian Imam Sibawaih, sehingga beliau tidak Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 43 memberikan definisi secara jelas tentang isim, tetapi beliau langsung memberikan Beliau sadar bahwa sulit untuk memberikan definisi yang jAmi' dan mAni' untuknya, dan terbukti definisi-definisi yang dilontarkan oleh linguis Arab setelahnya mendapatkan serangan dari kalangan linguis Arab modern. Dari tabel tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa al-lawAhiq yang berkedudukan sebagai penanda kata ganti . berlaku untuk semua fiAoil mAsi baik ulA dan rubAAo mujarrad maupun ulA dan rubAAo mazd kecuali untuk samr ayang merupakan kata dasarnya dan tidak mengalami penambahan apapun di belakang huruf baAo. Konstruksi kalimat dalam bahasa arab Menurut aliran struktural sintaksis diartikan sebagai subdisiplin linguistik yang mengkaji tata susun kalimat. Sedangkan definisi kalimat adalah suatu konstruksi gramatikal yang secara potensial terdiri atas tiga kata atau lebih, yang merupakan unsur dari suatu klausa, frasa dan proposisi (Soeparno, 2. Atau kalimat adalah gabungan tiga kata atau lebih yang menduduki satu fungsi dalam Contoh: rumah bambu, jalan aspal, handai taulan, guru matematika kami, dan Jadi, kalimat merupakan satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam susunan kalimat (M. Ramlan, 1. Istilah kalimat yang dalam bahasa arab yang biasa disebut AujumlahAy atau apapun terjemahannya dalam bahasa Arab, terbilang populer dikalangan pengkaji bahasa Arab di Indonesia ataupun di dunia Arab sendiri. Disebut demikian, karena buku-buku nahwu . intaksis Ara. pada umumnya banyak yang mengemukakan definisi tentang kalimat. Selain itu banyak bab atau sub bab yang menggunakan istilah jumlah sebagai pokok Dengan demikian, ini berarti dalam bahasa Arab konsep tentang kalimat sangat familiar. Dalam buku-buku nahwu banyak dibahas berbagai konstruksi yang pada dasarnya merupakan konstruksi kalimat, misalnya istilah AL-jumlah Al-isimiyyah. Al-Jumlah Al-FiAoiliyyah (Imam Asrori, 2. Definisi Jumlah dalam bahasa Arab adalah seperti yang dikemukakan oleh Hasanain yang menggunakan istilah tarkib, yaitu gabungan unsur yang saling terkait dan menempati fungsi tertentu dalam kalimat, atau suatu bentuk yang secara sintaksis sama dengan satu kata tunggal, dalam arti bahwa gabungan kata tersebut dapat diganti dengan satu kata saja. Atau menurut Badri yang menggunakan istilah AoIbaaroh, yaitu konstruksi kebahasaan yang terdiri atas tiga kata atau lebih, hubungan antar kata dalam konstruksi itu predikatif, dan dapat diganti dengan satu kata saja (Hasanain, 1. Jadi, kalimat merupakan satuan gramatik yang terdiri atas tiga kata dan hubungan antar unsur pembentuknya tidak melebihi batas fungsi unsur kalimat. Maksudnya, kalimat tersebut selalu berada dalam satu fungsi unsur yang semestinya. AaUe aiA (Tugas dan fungsi kata dalam kalimat bahasa arab ) AOIA a O eooA A iA/ AOA A a uA. A iUE cA. AeA A eoA. Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 44 ,A A,A aA,A O cA I )A. ,A I A,A uIA,a (AI aiA AUEeA A iUE eA. A eA. A iaUA. A iUE A. A aUa iaUA. A iUE EnA. A iUE UA. A uaI O aA. A aEA. A e uI OaA. A oA. 7 A Aa O A. A ouaA. Aa O IA A e u a I O aA. A uI OaA. A Aa O eooA. ,A uA,A uIA,A A,Aa )IA (A I oUA,AoA : AocO e O O OA AUnA AUEeA AouA AeEA Al-Jumlah Al-FiAoiliyyah Al-Jumlah Al-FiAoiliyyah ialah Jumlah yang terdiri dari fungsi fiAoil dan faAoil, atau fiAoil dan NaAoibul FaAoil (Dedi, tohri. Busyairi, 2. Perhatikan diagram berikut : a AOO OA AA OA AOOAA A iaUA AOeaUA AeaU O aUeA AeU O iUA Susunan Kalimat di atas memiliki syarat bahwa antara fiAoil dan faAoil atau fiAoil dan naAoibul faAoil harus memiliki kesamaan dari segi jenis. Dan fiAoil tidak akan berubah AAodad nya Karena perbedaan Aoadad pada faAoil atau naAoibul faAoil baik pada mufrod, mutsanna maupun jamaAo. (Dedi, tohri. Busyairi, 2. Perhatikan rumus kalimat dan contohnya berikut : Aa A AEaaeaaI U eA a Aa EaA a a A auoA,Aa U eA a a A auoA: A uA,(A )eaUA AeU \iUA A uoa caaIA,AA a Aa eA a A uaoA: A uA,(A )iUE aUa a iaUA AeU \iUA Al-Jumlah Al-Isimiyyah Jumlah Isimiyyah adalah Jumlah yang terdiri dari fungsi mubtadaAo dan khobar. Adapun mubtadaAo harus dari isim maAorifah atau isim nakiroh tertentu. Dan adapun khobar dia terdiri dari jaar dan majrur, isi, shifat, ataupun jumlah isimiiyah dan jumlah fiAoiliyyah (Dedi, tohri. Busyairi, 2. Copyright A 2024 An Nazhair Journal Available online at https://pascauinmtrm. id/index. php/nazhair/index 45 Jumlah ini memiliki syarat bahwa hendaknya mubtadaAo dan khobar memiliki kesesuaian dalam jenis dan jumlah isimnya kecuali pada kondisi tertentu. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembehasan dapat kita simpulkan bahwasanya klasifikasi kata menurut linguis arab klasik terbagi menjadi tiga macam yaitu. isim, fiAoil, dan huruf. Sementara klasifikasi kata menurut linguis arab modern . ihat : tamam hasa. terbagi menadi tujuh macam yaitu. isim, sifat, fiAoil, damr, khalfah, zarf dan adAh. Kemudian konsep kalimat dalam dalam pembelajaran tata bahasa arab terbagi menjadi dua pola kalimat yang disebut sebagai Jumlah Ismiyyah dan Jumlah FiAoliyyah. Jumlah Ismiyyah adalah jenis kalimat yang strukturnya diawali dengan kata isim dan biasanya terdiri dari mubtadaAo dan khabar walaupun dalam kondisi tertentu khabarnya didahulukan. Sementara jumlah fiAoliyyah adalah pola kalimat yang struktrurnya terdiri dari fiAoil dan faAoil atau fiAoil dan naAoibul faAoil, sementara Al-mafaoiil (MafAoul bih, mafAoul fiih, mafAoul maAoah, mafAoul muthlaq, mafAoul liajli. dan Al-afaoiil . al, tamyiz, dan istitsnaA. datang sebagai pelengkap kemudian Jar Majrur dan Zaraf mazruf sebagai keterangan waktu atau tempat. DAFTAR PUSTAKA / REFERENCES