Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 330-343 ANALISIS PENENTUAN USAHA BIMBINGAN BELAJAR (BIMBEL): WARALABA vs NIRWARALABA di KABUPATEN BEKASI Oleh: Mima Nizma Al Kahf1 Abdurahman2 Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Indraprasta PGRI Jakarta Email: nizmaalkaff83@gmail. abdjur97@gmail. ABSTRACT This study aims to determine feasible model of learning tuition center (Bimbingan Belaja. in Bekasi. West Java. Attempt to compare the advantages and disadvantages of franchising which is one of the most known business model instead of Non-Franchising . ndependence busines. The method used is qualitative descriptive to answer the problems been found by researchers and conducted analysis of phenomena that occur in tutoring institute by SWOT analysis to review the strengths and opportunities then utilized as much as possible to reduce the weaknesses and threat. After the SWOT analysis and the formulation of new strategies, it turns out that tuition center still gets strategy constraints from various Further more, tuition center needs well-executed business strategy in choosing Franchising instead of Non-Franchising . ndependence busines. This study explored the data by employed 6 Bimbel consisted of 3 of Franchising and another three was Non franchising which all of those was operated in Bekasi. Keywords: Business Strategic. SWOT Analysis. Tuition Center M. Kahf. Abdurahman / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model lembaga Bimbingan Belajar (Bimbe. yang layak di Bekasi. Jawa Barat. Coba bandingkan kelebihan dan kekurangan waralaba yang merupakan salah satu model bisnis yang paling dikenal daripada Non-Waralaba . saha mandir. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif untuk menjawab permasalahan yang ditemukan peneliti dan melakukan analisis terhadap fenomena yang terjadi di lembaga bimbingan belajar dengan analisis SWOT untuk mengkaji kekuatan dan peluang kemudian dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengurangi kelemahan dan ancaman. Setelah dilakukan analisis SWOT dan perumusan strategi baru, ternyata Bimbel masih mendapatkan kendala strategi dari berbagai sektor. Lebih jauh lagi. Bimbel membutuhkan strategi bisnis yang dijalankan dengan baik dalam memilih Franchising daripada Non-Franchising . saha mandir. Penelitian ini menggali data dengan menggunakan 6 Bimbel yang terdiri dari 3 Waralaba dan 3 Bimbel lainnya Non Waralaba yang kesemuanya dioperasikan di Bekasi. Kata Kunci: Analisis SWOT. Lembaga Bimbingan Belajar. Strategi Bisnis PENDAHULUAN Salah satu faktor penentu kualitas manusia adalah pendidikan. (Wulandari & Suastika, 2. Dengan pendidikan, menjadi tolok ukur atas kompetensi yang dimiliki individu. Untuk itu, pendidikan wajib ditanamkan sejak dini untuk membentuk karakter dan pola fikir individu yang baik. Saat ini, tuntutan atas pemenuhan kebutuhan terhadap pendidikan sangatlah tinggi. Yang pada akhirnya membuat banyak orang tua mencari berbagai cara dan alternatif agar sang anak memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas karena dirasa pendidikan formal . tidak cukup mengakomodir kebutuhan tersebut. Salah satu alternatifnya adalah mendaftarkan sang anak ke lembaga pendidikan non formal . imbingan belaja. yang diharapkan dapat meningkatkan nilai dan motovasi sang anak (Gideon, 2. Di sisi lain, dinamika dan perubahan pola pendidikan yang begitu cepat dalam bisns pendidikan dan pertumbuhan keinginan para orang tua untuk meningkatkan prestasi akademik anaknya (Hariatama, 2. , menjadi stimulus bagi pertumbuhan bisnis Bimbingan Belajar secara pesat yang ditandai dengan tingginya minat masyarakat untuk membeli sistem bisnis pendidikan ini dengan metode waralaba . (Wulandari & Suastika, 2. Meskipun di satu sisi hal ini memberikan dampak positif sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap pendidikan, namun di sisi lain telah memunculkan persaingan bisnis yang ketat pada bisnis pendidikan non formal seperti bimbingan belajar (Bimbe. dan sejenisnya. Lembaga-lembaga pendidikan non formal . imbingan belaja. ini kemudian dituntut untuk selalu siap dengan perubahan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan (Herita et al. , 2. Sehingga, lembaga pendidikan non formal kerap kali dituntut untuk selalu siap untuk menyesuaikan diri dan orientasi bisnisnya terhadap perubahan tersebut. (Rizal & Paujiah, 2. menjelaskan sistem pendidikan menurut UUD 1945 pasal 31 dan UU No. 2 tahun 1989, penyelenggaraan pendidikan menjadi tanggung Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 330-343 jawab antara pemerintah dan masyarakat. Hal tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan pendidikan tidak hanya di sekolah formal saja, tetapi juga dapat diselenggarakan oleh lembaga luar sekolah semacam Bimbingan Belajar/Bimbel Oleh karena itu, lembaga bimbingan belajar mempunyai dasar yang kuat sebagai wujud partisipasi masyarakat dalam mewujudkan cita-cita pendidikan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kondisi yang sedang berkembang saat ini sesuai dengan hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya (Bray & Lykins, 2. Mori and Baker . menjelaskan bahwa sejak awal periode abad 20 telah terlihat ekspansi yang cukup besar pada sistem pendidikan, yakni dengan munculnya pendidikan bayangan . hadow educatio. seperti les tambahan yang dilakukan pihak swasta. Fenomena yang menggelobal paling terlihat di Asia Timur. Berbagai bentuk pendidikan swasta elah berkembang di Indonesia. Makalah ini mengeksplorasi satu contoh dari perubahan les privat. Data dari Bekasi menunjukkan bahwa industri yang berkembang pesat ini memperluas jangkauannya, seperti yang ditunjukkan oleh evolusi dari penyediaan "pendidikan bayangan" menjadi waralaba "pusat pembelajaran". Menurut (Aurini & Davies, 2. , pendidikan bayangan tradisional dengan cermat mengikuti kurikulum sekolah, menawarkan bantuan pekerjaan rumah jangka pendek dan persiapan ujian. Pusat pembelajaran mengembangkan alat kurikuler dan penilaian mereka sendiri, menawarkan menu layanan yang komprehensif, dan bertujuan untuk memelihara keterampilan jangka panjang. Dengan demikian, bisnis ini menjadi makin "seperti sekolah", bergerak dari pendidikan tambahan menuju alternatif yang lebih lengkap dari sekolah umum. Kami menghubungkan evolusi ini dengan keharusan dari bentuk waralaba. Perubahan pola pendidikan yang begitu cepat, silih berganti di segala bidang, termasuk bidang pendidikan, memunculkan persaingan yang ketat di bidang bisnis jasa pendidikan. Lembaga non formal seperti bimbingan belajar harus selalu siap dengan perubahan-perubahan yang dilakukan pemerintah di bidang pendidikan, salah satu komponen pendidikan yang penting, karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan. Segenap kegiatan pendidikan diarahkan guna mencapai tujuan pembelajaran. Selain belajar di sekolah, anak perlu mengulang pelajarannya di luar sekolah. Pada kenyataannya, tidak sedikit orang tua yang mengalami kesulitan dalam mendampingi anaknya belajar di rumah karena aktivitasnya yang sibuk, atau pelajaran anaknya belum tentu dipahami orang tuanya. Dalam pengembangan potensi proses pembelajaran, banyak bermunculan lembaga-lembaga pendidikan yang menyediakan jasa kursus bimbingan belajar (Bimbe. Keberadaan industri jasa kursus Bimbel mendapat tempat tersendiri dikalangan masyarakat terutama orang tua yang memiliki anak pelajar. Mereka mempunyai harapan bahwa setiap mengikuti bimbingan belajar, prestasi akademis mereka akan meningkat dan dapat memiliki bekal yang lebih baik untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun demikian, penentuan model usaha Bimbel (Franchaising vs Non Franchisin. merupakan keputusan stragis unruk keberlanjutan usahan Bimbel. Sebgai lembaga usaha . rofit oriente. , strategi merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan untuk mencapai tujuan. Hal ini sesuai dengan Menurut (Tjiptono, 2014, p. , strategi adalah kunci keberhasilan dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis. Demikian pula bagi para pelaku M. Kahf. Abdurahman / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 315-328 shadow education di Bekasi, dalam menentukan jenis usaha, dibutuhkan pendekatan analisis untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman dalam perusahaan agar mampu menghadapi perubahan lingkungan internal maupun eksternal pada industry pendidikan di Indonesia. KAJIAN PUSTAKA Bimbingan Belajar Bimbingan belajar merupakan proses pemberian bantuand ari guru/guru pembimbing kepada siswa dengan cara mengembangkan suasana belajar yang kondusif dan menumbuhkan kemampuan agar siswa terhindar dari dan atau dapat mengatasi kesulitan belajar yang mungkin dihadapinya sehingga mencapai hasil belajar yang optimal. Manfaat dari keberadaan bimbingan belajar bagi siswa adalah tersedianya kondisi belajar yang nyaman dan kondusif sehingga memungkinkan siswa dapat mengeksplorasi dan mengembangkan potensinya dengan optimal, melalui bimbingan belajar dapat mengidentifikasi secara spesifik probadi siswa untuk dapat menempatkan dirinya pada posisi yang tepat, dan dapat mereduksi dan mengatasi kemungkinan terjadinya kesulitan belajar. Sementara bagi guru, dapat membantu dlaam hal penyesuaian materi belajar dan program pembelajaran dalam rangka memahami karakter siswa secara spesifik (Suherman, 2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Davies & Aurini, 2. menjelaskan bahwa ada dua model Bimbel dalam yang relatif baru bagi dunia usaha pendidikan. Pertama, adalah bentuk bimbingan belajar yang paling umum dikenal dengan "pendidikan bayangan . hadow educatio. yang mengikuti kurikulum sistem sekolah umum, mencakup dukungan pekerjaan rumah dan persiapan ujian. Kedua, adalah bisnis pendidikan baru yang menggabungkan berbagai layanan yang kemudian dikenal dengan "pusat pembelajaran . earning Cente. Pusat pendidikan dan pembelajaran bayangan berbeda dalam beberapa hal. Seperti tujuan jangka pendek versus jangka panjang. Pendidikan bayangan cenderung spesifik pada tujuan dan berorientasi pada tugas, biasanya ditujukan untuk membantu siswa lulus ujian yang akan datang atau meningkatkan nilai mata pelajaran. Waktu dan materi ditentukan oleh tenggat waktu sekolah. Tutor menggunakan jadwal sekolah untuk membahas materi yang diperlukan sebelum ujian, melakukan tinjauan, atau mengerjakan topik yang akan datang. Sebaliknya, pusat pembelajaran mengejar tujuan Aumembangun keterampilanAy yang lebih luas dan bukan sekadar "bimbingan belajar untuk ujian". Penelitian sebelumnya tentang les privat seperti AubayanganAy, yang berubah dan beradaptasi dengan program nasional dan regional yang berbeda. Selanjutnya, melengkapi pemahaman tentang Bimbel, (Bray & Lykins, 2. dan (Christensen et al. , 2. ) menegaskan bahwa Bimbel merupakan peroses belajar mengajar dalam hal menemukan cara-cara belajar yang tepat, memilih program studi yang sesuai dan mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan belajar institusi pendidikan. Kebijakan Pemerintah mengenai Bimbingan Belajar (Bimbe. Dalam (Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2. di pasal 26 ayat 5, menyebutkan bahwa kursus dan Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 330-343 pelatihan adalah bentuk pendidikan berkelanjutan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan, standar kompetensi, pengembangan sikap kewirausahaan serta pengembangan kepribadian professional. Bimbingan belajar untuk selanjutnya disingkat menjadi Bimbel, termasuk salah satu dari berbagai jenis LKP sebagaimana disebutkan dalam (Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2. Penyelenggaraan Bimbel bertujuan memberikan bekal pengetahuan dan minat untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi kepada masyarakat yang membutuhkan, seperti siswa Sekolah Dasar (SD). Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekeloh Menegah Atas (SMA). Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Bimbel adalah sebuah lembaga Pendidikan formal yang keberannya telah diakui oleh Pemerintah. Uraian tersebut di atas sejalan dengan para peneliti terdahulu (Miller. Willis. Susanto, 2. dalam (Ramadhayanti, 2. yang menyimpulkan bahwa panduan dalam belajar merupakan suatu tahap pemberian dukungan kepada perseorangan dengan tujuan memperoleh ilmu pengetahuan serta kemampuan pribadi yang diperlukan untuk beradaptasi secara maksimal di manapun berada. Franchising (Waralab. vs Non Franchising (Non Waralab. Merujuk dari sistem usaha. Hardjiwidagdo . menjelaskan bahwa waralaba merupakan perdagangan atau jasa yang memiliki ciri khas yang berupa jenis produk dan bentuk yang diusahakan, identitas perusahaan . ogo, desain dan mer. bahkan termasuk dalam pakaian dan penampilan karyawan perusahaan, rencana pemasaran dan bantuan operasional (Rivai, 2. Waralaba (Franchisin. merupakan bagian penting dari sistem perekonomian yang fenomenal dalam kewirausahaan. Secara praktis waralaba sebagai metode yang dapat digunakan pengusaha untuk mengumpulkan sumber daya untuk membangun rantai usaha yang besar dengan cepat (Michael. C, 2003. Combs et al 2. dalam (Salar & Salar, 2. Di samping itu Waralaba juga merupakan bentuk perjanjian yang memberikan seseorang atau sekelompok individu . enerima waralab. hak untuk memasarkan produk atau layanan menggunakan nama merek dan metode operasi bisnis . emberi waralab. dengan imbalan biaya . iasanya biaya di muk. Ditambah royalti secara berulang atas penjualan. Selain itu. Waralaba telah benar-benar membentuk kembali lanskap ritel sejak awal di tahun 1950-an. (Knott. AM. Corredoira. Kimberly. , 2. dalam (Salar & Salar. Sementara dari sisi peluang bisnis non-waralaba biasanya mendapat hambatan dalam memulai usaha, terutama harga. Namun, mereka lebih bebas untuk mennentukan cara dan tata kelola bisnis yang dikelola daripada pewaralaba. Pebisnis nonwaralaba tidak perlu mengikuti aturan operasional dan pedoman sistem lainnya yang ketat, seperti yang harus dilakukan oleh operator waralaba. Keunggulan dan Kekurangan Bisnis Franchise Sebagai sebuah sistem bisnis, maka Franchise mempunyai sejumlah keunggulan sekaligus kekurangan. Sebagai bentuk bisnis retail, franchising menawarkan kepada Penerima Franchise sebuah keunggulan system bisnis baru M. Kahf. Abdurahman / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 315-328 yang dapat berkembang cepat dengan merek dan formula bisnis yang sudah teruji daripada membangun bisnis dan merek baru yang berisiko. Keunggulan (Advantage. Waralaba (Franchisin. (Salar & Salar, 2. , menguraikan keuntungan yang paling dirasakan dalam Waralaba adalah. Pengakuan Merek (Brand Recognitio. Branding adalah komponen yang sangat kuat dalam bisnis. Menurut kamus online, pengenalan merek adalah konsep pemasaran yang menunjukkan pengetahuan pelanggan tentang keberadaan merek. Membuka waralaba menawarkan merek yang sudah mapan dan dikenal orang. Sebuah konsultan waralaba dan perusahaan pemasaran nasional, bekerja dengan pewaralaba untuk membantu mereka menjual kepada calon pewaralaba dan untuk memperbaiki mereka (Salar & Salar, 2. Risiko Lebih Rendah (Lower Risk. Dalam menjalankan usaha, para wirausahawan berusaha memperkecil risiko kegagalan serendah mungkin. Pengaturan yang Mudah (Easy Setu. Suatu hal yang paling menantang bagi pengusaha yang baru dalam mengendalikan usaha adalah bagaimana cara membangun usaha untuk menjadi lebih berkembang. Waralaba menghilangkan masalah ini karena mereka sering memberikan tata kelola . yang mudah bagi pemilik waralaba. Pelanggan yang sudah siap (Ready Custome. Kenyamanan pelanggan adalah hal yang paling penting dalam Waralaba agar pelanggan menemukan kualitas dan layanan yang sama. Sebagian besar pelanggan bisnis waralaba dikenal sebagai pelanggan setia. Pelanggan setia adalah modal paling berharga bagi bisnis. Menurut Robert Bosch. AuSaya lebih suka kehilangan uang daripada kehilangan kepercayaan pelangganAy (Salar & Salar, 2. Mudah memperoleh dukungan finansial (Easy to Find Financial Suppor. Bank dan lembaga sejenis memberikan kemudahan kepada franchisee dalam mendapatkan pendanaan dan pembiayaan karena diketahui tingkat risiko kegagalan franchise yang rendah. Bank akan lebih memilih untuk membiayai model bisnis yang sudah dikenal daripada bisnis baru. Senada dengan Salar, (Hasanah, 2. menjelaskan keunggulan sistem Franchising bagi Penerima Franchise, adalah: Expansion. Pihak Pemilik Franchise memiliki akses permodalan untuk berbagi biaya dengan Penerima Franchise dengan risiko yang relatif lebih rendah. Quick start. Pihak Penerima Franchise memperoleh kesempatan untuk memasuki sebuah bisnis baru dengan cara cepat, biaya lebih rendah dengan produk atau jasa yang telah teruji. Training. Selama menjalankan bisnis Franchise. Penerima Franchise akan menerima bantuan manajerial secara berkala dalam hal pemilihan lokasi bisnis, desain fasilitas, prosedur operasi, pembelian, dan pemasaran dari Pemilik Franchise. Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 330-343 Kekurangan (Disadvantag. Waralaba (Franchisin. Meskipun waralaba memiliki beberapa keuntungan, disisi lain transaksi usaha dalam waralaba memiliki beberapa kelemahan utama yang dihadapi oleh pemilik waralaba, yakni: Biaya Biaya tinggi yang terbebankan terdiri dari biaya awal, utilitas, sewa, biaya waralaba, karyawan dan pajak. Biaya ini dibagi menjadi biaya awal dan biaya Biaya Awal. Merupakan biaya yang tidak dapat dikembalikan. Franchisee membayar kepada franchisor untuk satu kali pembayaran setelah bergabung dengan sistem dan kemudian membayar persentase dari penjualan kotor sebagai royalti. Biaya Berkelanjutan. Franchisee harus mengeluarkan beberapa biaya sdiluar pembayaran awal seperti royalti sewa, biaya iklan, pemeliharaan peralatan, karyawan, asuransi dan persediaan, persentase dari penjualan kotor kepada Persentase penjualan kotor umumnya antara 3 sampai 10 persen dari penjualan kotor dan pembayaran ini seperti sewa yang berarti tetap dan dilakukan setiap bulan. Ketergantungan Pemberi Waralaba memperoleh uang dari penerima waralaba, beberapa di antaranya diterjemahkan menjadi keuntungan dari kegiatan waralaba itu sendiri, dan juga secara tidak langsung memperoleh modal ekspansi yang merupakan tanggung jawab tunggal penerima waralabaAy Franchisor selalu memantau franchisee yang ingin investasi mereka memperoleh keuntungan dan franchisor menginginkan keuntungan. Aturan Ketat Masalah lain yang berkaitan dengan disadvantage waralaba adalah aturan ketat, di mana franchisee mengikuti aturan ada dalam daftar panjang pedoman kepada franchisee Waralaba harus melayani layanan yang sama kepada pelanggan dan menggunakan bahan dan peralatan yang sama. Kelebihan . dibanding Kekurangan . (Salar & Salar, 2. menjelaskan bahwa dalam memulai bisnis baru hal yang umum dihadapi dalam operasionalnya adalah kesulitan dan kemudahan. Namun, yang paling penting adalah memilih cara yang paling menguntungkan. Pertamatama, waralaba menawarkan nama merek terkenal agar meyakinkan pelanggan yang menjadi sangat penting bagi pelanggan dan pembeli untuk menghindari risiko Waralaba juga membuat tata niaga yang wajar memulai bisnis. Pengusaha yang tidak memiliki modal yang cukup untuk membeli waralaba, diberikan kemudahan berupa keuangan untuk membeli waralaba dengan mengubah faktor-faktor tantangan menjadi peluang. Bukan berarti tidak memiliki kekurangan. Kerugian yang diketahui adalah biaya tinggi di mana orang dapat dengan mudah M. Kahf. Abdurahman / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 315-328 menemukan dukungan keuangan, ketergantungan yang tidak boleh disebut buruk karena ketika orang bergantung pada seseorang atau sesuatu, itu berarti mereka tidak menanggung risiko sendirian. Kerugian lainnya adalah aturan yang ketat. Orang terkadang merasa gugup tentang aturan tetapi tanpa aturan tidak ada tata kelola yang baik dan perusahaan, tidak boleh tumbuh seperti hari ini Menurut (Hasanah, 2. , kekurangan sistem Franchise bagi Penerima Franchise adalah: Control. Sistem Franchise tidak memberikan kebebasan penuh kepada Penerima Franchise karena Penerima Franchise terikat perjanjian harus mengikuti sistem dan metode yang telah dibuat oleh Pemilik Franchise. Price. Membeli bisnis Franchise memerlukan investasi relatif besar, bahkan Penerima Franchise sering kali tidak punya pilihan untuk mengurangi biaya. Conflict Adanya risiko Pemilik Franchise melanggar perjanjian yang telah disepakati dengan suatu alasan. Pengertian Analisis SWOT Menurut (Rangkuti, 2. , analisis SWOT diartikan sebagai analisa yang didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan . dan peluang . Namun, secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan . dan ancaman . Pendekatan SWOT melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut. Analisis SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya, kemudian menerapkannya dalam gambar matrik SWOT, di mana aplikasinya adalah bagaimana kekuatan . mampu mengambil keuntungan dari peluang . yang ada, bagaimana cara mengatasi kelemahan . yang mencegah keuntungan dari peluang . , selanjutnya bagaimana kekuatan . mampu menghadapi ancaman . yang ada, dan terakhir adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan . yang mampu membuat ancaman . menjadi nyata atau menciptakan sebuah ancaman baru (Wiswasta et al. , 2. Penerapan Analisis SWOT Analisis SWOT adalah evaluasi dari kekuatan dan kelemahan internal suatu perusahaan yang dilakukan secara teliti dan juga evaluasi terhadap peluang dan ancaman dari lingkungan. Dalam analisis SWOT, strategi terbaik untuk mencapai misi suatu perusahaan adalah dengan: . mengeksploitasi peluang dan kekuatan suatu perusahaan, dan pada saat yang sama, . menetralisasikan ancamannya, dan . menghindari atau memperbaiki kelemahannya (Rangkuti, 2. Berdasarkan kajian (Salar & Salar, 2. , faktor-saktor yang terkandung dalam komponen SWOT dalam pengembangan usaha Bimbel, adalah: Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 330-343 Strengths, terdiri dari Brand Recognition. Lower Risks for Failure. Easy Setup. Ready Customer Portfolio. Easy to Find Financial Support Weaknesses terdiri dari High Cost-Initial Cost-Ongoing Costs. Dependency. Strict Rules Opportunities terdiri dari Entrepreneurs have chance to become their own boss. It offers some market opportunities like discovery and exploitation Threats terdiri dari Continuing growth of existing franchised competitors. Other new franchise competitors entering market place. The decline of branding in market. The publication of New Business Models METODE PENELITIAN Penelitian dengan metode kualitatif deskriptif ini dilakukan pada 5 bimbingan belajar sebagai berikut: Nama Bimbingan Belajar GamaAo88 Jatisari Bimba AIUEO MGC Southlake Uncle Tom English Center Kumon Asia Tropis-Harapan Indah Nurul Fikri Graha Prima Alamat (URL) https://g. co/kgs/q3o552o https://g. co/kgs/7pUqjsE https://maps. gl/hKxMi2wzm4GN4eLF6 https://g. co/kgs/v8vpY7V https://g. co/kgs/9bmhA3x Data kualitatif dari kelima bimbel tersebut kemudian dikumpulkan, dikelompokkan, dianalisa dan diinterpretasikan untuk memunculkan alternatif solusi terbaik melalui survey dan wawancara kepada pihak manajemen setiap bimbingan belajar tersebut. Analisis data dilakukan dengan beberapa tahapan. Pertama meduksi data, dengan memilih data yang berkaitan dengan masalah dan merangkum data penting yang ditemukan dilapangan sesuai dengan kajian teoritik pokok untuk mempermudah peneliti menentukan strategi yang tepat dalam pengumpulan data Kedua, menentukan strategi terbaik menggunakan model SWOT (Strength. Weakness. Opportunity. Threa. yang dilakukan melalui tiga tahap analisis yaitu tahap pengumpulan data . ksternal dan interna. , tahap analisis (Matriks SWOT. Matriks internal eksterna. dan tahap pengambilan keputusan (Rahman, 2. Pendekatan case study pada penelitian ini sesuai dengan pandangan (Yin, 2. , yaitu memungkinkan penyelidikan alasan, harapan, dan faktor penting lainnya yang mendorong pemangku kepentingan potensial untuk mengembangkan mitra bisnis tertentu . nabling investigation of the rationales, expectations, and other important factors prompting potential stakeholders to develop particular business partner. HASIL PENELITIAN DAN PEBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa key factor yang merupakan kelemahan, kekuatan, peluang dan ancaman dalam pengembangan bisnis Bimbel di Bekasi. Tabel berikut menunjukkan keyfactor dari keempat aspek M. Kahf. Abdurahman / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 315-328 Tabel 1. Pemetaan key factor (Faktor Kunc. Faktor Kunci Kekuatan Bimbel Waralaba Brand yang kuat Biaya promosi yang terlalu tingg Pengenalan Merek Kelemahan Birokrasi yang rumit Profit harus berbagi SDM yang tidak seragam Peluang Telah dikenal masyrakat Besarnya pasar Bimbel Bekasi Persaingan yang tinggi - Persaingan yang tinggi Les yang diadakan di sekolah - Les yang diadakan di sekolah Sumber: Data diolah, 2018 Ancaman Bimbel Non Waralaba Dapat mengembangakan manajemen Model yang cukup tinggi Modul tidak seragam Besarnya pasar Bimbel di Bekasi Berdasarkan hasil penelitian yang disajikan pada Tabel 1, terlihat bahwa terdapat beberapa kesamaan key factor dalam pengembangan Bimbel di Bekasi antara Bimbel waralaba dan non waralaba yaitu. besarnya pasar Bimbel di Bekasi, persaingan yang tinggi dan les yang diadakan di sekolah. Berikutnya key factor tersebut akan diinput dalam matrik EFAS/IFAS untuk kemudian diberi score dan rangking dan kemudian dipetakan dalam Grand Matriks sebagaimana yang disajikan pada Tabel 2. Tabel 3 dan Tabel 4. Tabel 2. EFAS/IFAS Bimbel Waralaba (WL) Aspek Score Kekuatan (S) - Brand yang kuat 0,31 - Biaya promosi yang tidak terlalu tinggi 0,27 Jumlah Skor W Kelemahan (W) - Birokrasi yang rumit 0,12 - Profit harus berbagi 0,09 - SDM yang tidak seragam 0,21 Jumlah Skor Score IFAS WL (S W) = 2,05 1,56 = 3,61 Peluang (O) - Telah dikenal masyrakat 0,24 - Besarnya pasar Bimbel di Bekasi Jumlah Skor Ancaman (T) - Persaingan yang tingg 0,29 - Les yang diadakan di sekolah 0,17 Jumlah Skor Score EFAS WL (O T) = 1,62 1,67 = 3,29. Sumber: Data diolah, 2018 Rank Total Score 1,24 0,81 2,05 0,36 0,36 0,84 1,56 3,61 0,72 1,62 1,16 0,51 1,67 3,29 Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 330-343 Tabel 3. EFAS/IFAS Bimbel Non Waralaba (NWL) Aspek Kekuatan (S) - Dapat mengembangakan manajemen sendiri Score 0,29 Jumlah Skor Kelemahan (W) - Model yang cukup tinggi 0,36 - Modul tidak seragam 0,35 Jumlah Skor Score IFAS NWL (S W) = 1,16 2,49 = 3,65 Peluang (O) - Besarnya pasar Bimbel di Bekasi 0,42 Jumlah Skor Ancaman (T) - Persaingan yang tingg 0,29 - Les yang diadakan di sekolah 0,29 Jumlah Skor Score EFAS NWL (O T) = 1,26 2,03= 3,29 Sumber: Data diolah, 2018 Rank Total Score 1,16 1,16 1,44 1,05 2,49 3,65 1,26 1,26 1,16 0,87 2,03 3,29 Tabel 4. Matrix SWOT pada Bimbel WL vs NWL IFAS EFAS IFAS EFAS Komponen SWOT Skor Skor NWL SWOT Qdr Strategi SWOT NWL 2,05 1,16 1,56 2,49 1,62 1,26 i 1,67 2,03 Sumber: Diolah oleh Peneliti . Agresif Komperatif Konservatif Defensif 3,67 3,72 3,18 3,23 2,42 3,19 3,75 4,52 QDR Dari Matrix SWOT pada Tabel 4 di atas terlihat perbandingan antara Franchaising (WL) dan Non Franchising (NWL) menunjukkan bahwa WL memiliki score yang lebih tinggi dari NWL, seperti faktor S pada WL lebih kuat dari NWL . ,05 > 1,. , faktor W pada WL lebih rendah dari NWL . ,56 < 2,. , faktor O pada WL lebih besar dari NWL . ,62 > 1,. sera faktor T pada WL lebih lemah dari NWL . ,67 < 2,. Sedangkan dari analisa Strategi SWOT diperoleh hasil di mana WL memiliki skor tinggi pada QDR I (SO), yakni Strategi Agresif, dengan skor 3,67 > 2,42 dan QDR II (ST), yakni Strategi Komperatif dengan skor 3,72 > 3,19. Di sisi lain NWL memiliki skor tinggi pada QDR i (WO), yakni Strategi Konservatif dengan skor 3,75 > 3,18 dan QDR IV (WT ), yakni Strategi Defansif dengan skor 4,52 > 3,23. Dengan demikian Strategi SWOT Bimbel. WL lebih menguntungkan . dari NWL Agar dapat diketahui dengan jelas posisi kuadran dari masing-masing strategi SWOT, hasil perhitungan dalam matrix SWOT seperti pada Tabel 4, dikonversikan kedalam Kuadran Strategi SWOT pada Bimbel, dimunculkan seperti tergambarkan pada Gambar1 Kuadran SWOT berikut. Kahf. Abdurahman / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 315-328 Dari uraian matrix SWOT seperti pada Tabel 4 di atas, kemudian di konversikan kedalam Kuadran Strategi SWOT Bimbel seperti pada Gambar 1 Keterangan: WL = Waralaba. NWL = Non Waralaba Sumber: Data diolah Peneliti . Gambar 1. Kuadran SWOT Gabungan (WL dan NWL) Berdasar pemetaan Grand Matriks di atas, terlihat bahwa Bimbel Waralaba (WL) memiliki indeks yang tinggi pada Quadran 1 (SO pada strategi Agresi. dan Quadran II (ST pada Strategi Komperatif/Diversifikas. Disisi lain NWL memiiki indeks yang lebih tinggi berada di Quadran i (WO pada strategi Konservatif/Turn aroun. Quadran IV (WT pada Strategi Devensi. Berdasarkan hal tersebut maka alternatif stategi yang dapat dilakukan adalah: Integrasi horisontal dan SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Bimbingan Belajar dalam bentuk waralaba menawarkan pengenalan merek, tingkat risiko kegagalan yang lebih rendah, dukungan keuangan yang mudah. Brand yang kuat. Biaya promosi yang tidak terlalu tinggi, dan pengaturan bisnis yang mudah. Di sisi lain, waralaba juga memiliki beberapa kesulitan yaitu biaya tinggi, aturan ketat dan Ketika ini dipertimbangkan. Bimbingan Belajar dalam bentuk Waralaba menjadi lebih menguntungkan. Strategi pengembangan Bimbingan Belajar dalam Waralaba yang akan diterapkan adalah dengan memilih brand Bimbel yang kuat secara nasional, dengan menggembangkan diversifikasi materi Bimbel yang beragam untuk mengatasi para pesaing yang ada di sekitar wilayah Kabupaten Bekasi. Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. DAFTAR PUSTAKA Aurini. , & Davies. The transformation of private tutoring: Education in a franchise form. Canadian Journal of Sociology, 29. , 419Ae438. https://doi. org/10. 2307/3654674 Bray. , & Lykins. Shadow Education: Private Supplementary Tutoring and Its Implications for Policy Makers in Asia. Asian Development Bank. https://w. org/publications/shadow-education-privatesupplementary-tutoring-and-its-implications-policy-makers-asia Christensen. Grynbek. , & Bykdahl. The Private Tutoring Industry in Denmark: Market Making and Modes of Moral Justification. ECNU Review Education, 4. , 520Ae545. https://doi. org/10. 1177/2096531120960742/ASSET/IMAGES/LARGE/10. 77_2096531120960742-FIG5. JPEG Davies. , & Aurini. The franchising of private tutoring: A view from Canada. Phi Delta Kappan, 88. , 123Ae128. https://doi. org/10. 1177/003172170608800209/ASSET/003172170608800209 FP. PNG_V03 Gideon. PERAN MEDIA BIMBINGAN BELAJAR ONLINE AuRUANGGURUAy DALAM PEMBELAJARAN IPA BAGI SISWA SMP DAN SMA MASA KINI: SEBUAH PENGANTAR. Jurnal Dinamika Pendidikan, 11. , 167Ae182. https://doi. org/10. 51212/JDP. V11I2. Hariatama. Analisis SWOT Terhadap Pelaksanaan Bauran Pemasaran (Marketing Mi. Pada Lembaga Pendidikan Prima Mandiri Utama Palangka Raya. Edunomics Journal, 2. , 1Ae12. https://doi. org/10. 37304/EJ. V2I1. Hasanah. Franchise di Kota Tembilahan. Selodang Mayang: Jurnal Ilmiah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Indragiri Hilir, 3. , 100Ae107. https://doi. org/10. 47521/SELODANGMAYANG. V3I2. Herita. Bakkareng, & Yulistia. Analisa Strategi Pemasaran Guna Meningkatkan Jumlah Konsumen Pada Lembaga Lendidikan Ganesha Operation di Kota Solok. Matua Jurnal: Jurnal Pengembangan Manajemen Bisnis, 3. , 523Ae538. https://ejurnalunespadang. id/index. php/MJ/article/view/382 Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pub. No. 78, 1 . https://peraturan. id/Details/43920/uu-no-20tahun-2003 Rahman. Analisis Strategi Pemasaran Pada Lembaga Kursus dan Bimbingan Belajar Education Zone. Ekonomi. Keuangan. Investasi Dan Syariah (EKUITAS), 158Ae163. https://doi. org/10. 47065/EKUITAS. V2I2. Ramadhayanti. Analisis Strategi Belajar dengan Metode Bimbbel Online M. Kahf. Abdurahman / Journal of Applied Business and Economic (JABE) Vol. 10 No. 3 (Maret 2. 315-328 terhadap Kemampuan Pemahaman Kosa Kata Bahasa Inggris dan Pronounciation (Pengucapan/Pelafala. Berbahasa Remaja Saat Ini. KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa Dan Sastra, 2. , 39Ae52. https://doi. org/10. 24176/KREDO. V2I1. Rangkuti. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis: Reorientasi Konsep Perencanaan Strategis untuk Menghadapi Abad 21 . th ed. Gramedia Pustaka