Perilaku Bulliying Ditinjau Dari Konsep Diri Pada Siswa/siswi SMP Parulian 3 Medan PERILAKU BULLYING DITINJAU DARI KONSEP DIRI PADA SISWA/SISWI SMP PARULIAN 3 MEDAN Yulinda Manurung1. Gusli Riyanti2. Bella Silalahi3. Irvan AS4. Ribkha Esther5 Fakultas Psikologi. Universitas Prima Indonesia. Jl. Sekip Simpang Sikambing. Kampus II Unpri. Medan. Indonesia 20111 lindayu109@hotmail. ABSTRAK Penelitianinibertujuanuntukmengetahuihubunganantara konsep diri dengan perilaku bullying pada Hipotesis yang diajukandalampenelitianiniadalahadahubungan negatif antara konsep diri dengan perilaku bullying dengan asumsi bahwa semakin tinggi konsep diri, maka semakin rendah perilaku bullying dan begitu pula sebaliknya, semakin rendah konsep diri, maka semakin tinggi perilaku Subjekpenelitian yang digunakandalampenelitianiniadalahsiswa/siswi SMP Parulian 3 Medan berjumlah 200 orang, dan diambil sampelnya berdasarkan tabel Issac dan Michael sebanyak 127 Data diperolehdariskalauntukmengukurkonsep diri dan perilaku bullying Analisis data yang digunakanadalahmenggunakankorelasiProduct Moment (Pearson Correlatio. denganbantuan SPSS 18 for Windows. Hasilanalisis data menunjukkankoefisienkorelasisebesar -0,529 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 . < 0,. Hasil analisis data tersebutmenunjukkan adanya hubungan negatif antara konsep diri dengan perilaku bullying. Hasilpenelitianinimenunjukkanbahwasumbangan yang diberikanvariabel konsep diri terhadap perilaku bullyingsebesar 28,0persen, selebihnya 72,0 persendipengaruhiolehfaktor lain yang tidakditeliti. Berdasarkan darihasilpenelitianinidapatditarikkesimpulanbahwahipotesis penelitian ini dapat diterima, yaitu terdapat hubungan yang negatif antara konsep diri dengan perilaku Kata kunci:perilaku bullying. konsep diri. siswa/siswi SMP. kelas VII-IX. ABSTRACT This study aims to determine the relationship between self concept and bullying behavior of adolescent. The hypothesis proposed in this research is there any negative correlation between self concept and bullying behavior of senior high school student in SMP Parulian 3 Medan, assuming that the higher self concept, the lower the bullying behavior, and vice versa. The population of this research are 200 senior high school students that sampled as many as 127 students according to Issac and MichaelAos theory of This research used self concept and bullying behavior scale. Product Moment (Pearson Correlatio. was used to analyze the correlation between two variable using SPSS 18 for windows. The results of the data analysis showed that the correlation coefficient was -0,529 with a significance value of 000 . <0. It shows that there is a negative correlation between self concept and bullying behavior. The results of this study indicate that the contributions made by the variable of self concept on bullying behavior was 28,0 percent, while the remaining 72,0 percent was influenced by other factors that were From these results, it is concluded that the hypothesis, which stated that there is a negative relationship between the self concept and bullying behavior, is acceptable. Keywords:bullyingbehavior. student from seventh to ninth grade. SMP. Jurnal Psychomutiara Vol. 2 No. 1 Agustus 2018, 1-16 Perilaku Bulliying Ditinjau Dari Konsep Diri Pada Siswa/siswi SMP Parulian 3 Medan PENDAHULUAN Pendidikan adalah suatu tuntunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak, dan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan upaya/perbuatan yang diarahkan pada masyarakat sudah berlangsung sejak dahulu dan tidak diragukan lagi Pendidikan telah mulai dilaksanakan sejak manusia hadir di muka bumi ini dalam bentuk pemberian warisan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dari para orangtua dalam anak-anaknya menghadapi kehidupan dan masa depannya yang mampu mengatasi berbagai permasalahan dalam hidupnya (Sagala, 2. Pendidikan ada jenisnya, baik nonformal dan formal. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan masyarakat yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal, seperti: agama, budi pekerti, etika, sopan santun, moral. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Jenis pendidikan kesetaraan, meliputi: paket A, paket B, paket C, serta pendidikan lain ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan sekolah yang terstruktur yang berjenjang yang terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan formal terdiri dari pendidikan formal berstatus negeri dan pendidikan formal berstatus swasta. Satuan pendidikan penyelenggara. Taman Kanak-kanak (TK). Raudatul Athfal (RA). Sekolah Dasar (SD). Madrasah Ibtidaiyah (MI). Sekolah Menengah Pertama (SMP). Madrasah Tsanawiyah (MTS). Sekolah Menengah Atas (SMA). Madrasah Aliyah (MA). Sekolah Menengah Jurusan (SMK). Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Perguruan Tinggi. Akademi. Politeknik. Sekolah Tinggi. Institut dan Universitas (Neolaka & Neolaka, 2. Anak-anak membutuhkan adanya pendidikan awal seperti TK. Sekolah Dasar, hingga memasuki Sekolah Menengah Pertama. Pada masa sekolah menengah pertama siswa berusia 12-15 tahun (SaAoid, 2. Masa di SMP merupakan awal bagi seseorang untuk mulai berpikir lebih mandiri. Bisa dibilang masa SMP adalah masa dimana seseorang dipenuhi dengan keraguankeraguan. Dimasa inilah sebagian besar anak mulai dihadapkan dengan berbagai Salah satu pilihan yang harus ditentukan yaitu mengenai kelanjutan Beberapa anak mungkin dihadapkan dengan pilihan akan melanjutkan ke SMA atau berhenti sekolah karena alasan keuangan (PMat USD dkk, 2. Remaja adalah masa diantara koridor 12 hingga 18 tahun, biasanya usia di antara siswa/siswi SMP kelas 1 hingga masuk pada usia mahasiswa Pada masa remaja inilah yang sangat sulit untuk menebak perilaku, kemauan, serta identitas dirinya. Dimana pada masa inilah setiap remaja akan memunculkan identitas mereka masingmasing, yang kesemuanya itu kita tidak biasa menebaknya secara manusia Para remaja tidak mau dianggap dirinya sebagai anak kecil, namun terkadang selaku orangtua melihat mereka layaknya seperti anak kecil. Para Jurnal Psychomutiara Vol. 2 No. 1 Agustus 2018, 1-16 Perilaku Bulliying Ditinjau Dari Konsep Diri Pada Siswa/siswi SMP Parulian 3 Medan remaja juga selalu menganggap dirinya sudah dewasa, tetapi terkadang tingkah laku mereka juga tidak mencerminkan manusia dewasa (Kristo, 2. Dimasa inilah sebagian besar anak mulai dihadapkan dengan berbagai pilihan dan berbagai situasi. dalam membentuk sikap dan perilakunya. Perilaku hakekatnya adalah proses interaksi individu dengan lingkungannya sebagai manifestasi hayati bahwa dia adalah makhluk hidup. Perilaku manusia adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan respons serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung (Sunaryo, 2. Dalam pergaulan sehari-hari kita dapat menemukan dua sikap atau perilaku yaitu perilaku positif dan perilaku negatif. Orang yang memiliki sikap positif pada umumnya menyenangkan dan orang merasa lebih nyaman bersamanya. Kehadirannya cenderung menguntungkan berbagai pihak dan sikap positif mendukung hidup bersama. Sedangkan orang yang memiliki sikap negatif umumnya perilakunya tidak menyenangkan dan membuat orang lain merasa kurang nyaman bersamanya dan cenderung merugikan orang lain (Habsari, 2. Perilaku tersebut juga terjadi pada masa remaja, dan perilaku tersebut dapat berupa perilaku positif maupun perilaku Surya bahwa remaja dapat memperlihatkan perilaku yang tampil sebagai pelarianpelarian dari ketidakmampuan remaja dalam menghadapi kesulitan atau memenuhi tuntutan orangtua yang Sehingga ketidakmampuan remaja untuk mengontrol emosi dalam setiap menghadapi tekanan atau masalah. Jika remaja mendapat tekanan atau masalah menjadi cenderung agresif atau meluap-luap emosinya dalam bentuk ucapan atau perbuatan, seperti memaki, merusak, memukul dan mengurung diri serta menangis. Hal ini sebagai luapan rasa marah, kesal, jengkel, iri hati, kecewa, takut, benci, di remehkan, tidak di hargai, di tolak dan sebagainya. Menurut Weiner . alam Kriyantono, 2. , perilaku positif akan muncul jika seseorang dinilai tidak harus bertanggung jawab dan memiliki rasa Sebaliknya, jika menilai seseorang harus bertanggung jawab dan marah, maka perilaku yang muncul bersifat negatif. Perilaku positif maupun negatif sering terjadi di kehidupan sehari-hari terutama untuk anak-anak remaja karena dalam fase perkembangan fase remaja ini sering disebut dengan masa transisi. Menurut Habsari . , sikap positif artinya perilaku baik yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma Sebaliknya sikap negatif ialah sikap yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan yang berlaku dalam masyarakat atau bahkan bertentangan, sikap ini sangat merugikan hidup bersama. Individu cenderung ingin mengetahui penyebab sesuatu situasi terjadi, khususnya bila situasi itu bersifat positif dan negatif ataupun tidak terduga. Data statistik bullying Indonesia pada tahun 2015. LSM Plan International dan International Center for Research on Women (IRCW) melakukan riset terkait bullying. Hasilnya, terdapat 84 persen anak di Indonesia yang mengalami bullying di Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan Negara-negara lain di kawasan asia. Riset ini dilakukan di beberapa Negara di asia, mencakup Vietnam. Kamboja. Nepal. Pakistan, dan Indonesia. Sembilan ribu . anakanak sekolah yang terlibat dalam riset ini berusia 12-17 tahun. Menurut beberapa Jurnal Psychomutiara Vol. 2 No. 1 Agustus 2018, 1-16 Perilaku Bulliying Ditinjau Dari Konsep Diri Pada Siswa/siswi SMP Parulian 3 Medan ahli, tayangan kekerasan di televisi dan media sosial juga berperan serta. Selain itu, kesadaran di masyarakat, baik pihak sekolah dan keluarga, masih kurang mengenai bullying. Seringkali anak takut melaporkan karena hanya akan dijadikan bahan bulan-bulanan oleh temantemannya di sekolah . Menurut Hana . , bullying penekanan terhadap seseorang, baik fisik maupun mental yang dilakukan secara berulang-ulang dengan sengaja untuk mencapai maksud tertentu. Perilaku ini biasanya dilakukan melalui tindakan berupa kontak fisik, verbal, sosial ataupun belakangan yang kerap terjadi Menurut Kamus bebas online Wikipedia . alam Astuti Resminingsih, 2. , bullying adalah menyebabkan orang lain terganggu, baik melalui kekerasan verbal, serangan secara fisik, maupun pemaksaan dengan cara-cara halus seperti manipulasi. Menurut Papalia . alam Astuti & Resminingsih, 2. , mendefinisikan bullying sebagai perilaku agresif yang disengaja dan berulang untuk menyerang target atau korban, yang secara khusus adalah seseorang yang lemah, mudah diejek dan tidak bisa membela diri. Salah Purnaningtyas dan Masykur . , adalah konsep diri. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsep diri merupakan salah satu faktor yang menentukan apakah seseorang akan berperilaku negatif atau tidak. Artinya, ketika individu mengenal dirinya dengan baik, evaluasi terhadap dirinya menjadi positif, dapat menerima keberadaan orang lain dan mampu merancang tujuan-tujuan sesuai dengan realitas, tidak menimbulkan keinginan untuk menyakiti orang lain yang lebih lemah. Menurut Brooks . alam Rakhmat, 2. , mendefinisikan konsep diri sebagai pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologis, sosial, dan Menurut Mcgraw dan Phillip . , konsep diri adalah sekumpulan keyakinan, fakta, opini, dan persepsi tentang diri sendiri bagaimana anda menjalani kehidupan, setiap saat dari setiap hari. Menurut Solihudin . , konsep diri yang mengatakan bahwa sistem operasi yang menjalankan mempengaruhi kemampuan berpikir Konsep diri . elf concep. adalah belief tentang diri kita. Selain itu. Gunawan . , menjelaskan konsep diri adalah belief yang menjadi landasan hidup kita karena membentuk gambaran mental mengenai diri kita . itra diri/selfimag. , potret kelemahan dan kekuatan, kecakapan, perasaan diri berharga, dan bagaimana kita berinteraksi dengan dunia di dalam dan di luar diri kita. Terdapat penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa perilaku bullying dan konsep diri memiliki Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Saraswati dan Sawitri . , melalui penelitiannya terhadap 84 siswa dari 3 kelas, kelas XI SMK Negeri 11 semarang menemukan bahwa konsep diri berhubungan negatif Kecenderungan bullying yang rendah pada siswa selain karena konsep diri yang dimiliki sebagian besar siswa adalah positif, peraturan dan peran guru yang cukup baik dengan siswa menjadi salah satu faktor yang mendorong rendahnya kecenderungan bullying. Peraturan melakukan drop out bagi siswa ketika melakukan kekerasan membuat siswa menghindari untuk melakukan tindakan Jurnal Psychomutiara Vol. 2 No. 1 Agustus 2018, 1-16 Perilaku Bulliying Ditinjau Dari Konsep Diri Pada Siswa/siswi SMP Parulian 3 Medan Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara perilaku bullying dengan konsep diri dengan asumsi, semakin tinggi konsep diri pada remaja, maka semakin rendahlah perilaku bullyingnya, dan sebaliknya, semakin rendah konsep diri pada remaja, maka semakin tinggilah perilaku bullyingnya. METODE PENELITIAN Populasi dalam penelitian ini adalah siswa/siswi SMP Parulian 3 Medan. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan karakteristik sebagai berikut: Siswa/Siswi Kelas VII-IX SMP Parulian 3 Medan. Siswa/Siswi yang merupakan Sehingga jumlah sampel pada penelitian ini berjumlah 127 siswa/siswi SMP Parulian 3 Medan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pembagian skala, yaitu untuk skala Perilaku Bullying dan skala Konsep Diri. Jenis skala yang digunakan adalah skala Likert. Skala perilaku bullying yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan skala perilaku bullying yang disusun berdasarkan aspek yang diungkap oleh Rigby . , yaitu aspek fisik, aspek verbal, dan aspek gestur . on-verba. Skala Konsep Diri digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan skala Konsep Diri yang disusun berdasarkan dimensi yang diungkap oleh Calhoun dan Acocella . alam Desmita, pengetahuan, harapan, dan penilaian. Metode menggunakan korelasi Product Moment (Pearson Correlatio. dengan bantuan SPSS 18for windows untuk mengetahui bagaimana hubungan antara variabel perilaku bullying dan konsep diri. HASIL DAN PEMBAHASAN Skala perilaku bullying terdiri dari 35 aitem dengan skor aitemnya yang bergerak dari empat pilihan jawaban dengan skor satu sampai empat. Rentang maksimum dan minimumnya adalah 35 x 1 sampai 35 x 4. Dengan nilai 35 sampai 140 dengan mean hipotetiknya . : 2 = 87,5. Standar deviasi hipotetik dalam penelitian ini adalah . : 6 = 17,5. Dari skala perilaku bullying yang diisi subjek, diperoleh mean empirik sebesar 69,31 dengan standar deviasi 9,742. Berikut adalah perbandingan data empirik dan hipotetik yang dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1 Perbandingan Data Empirik dan Hipotetik Perilaku Bullying Variabel Perilaku Empirik Min Max Mean Jurnal Psychomutiara Vol. 2 No. 1 Agustus 2018, 1-16 Hipotetik Min Max Mean Perilaku Bulliying Ditinjau Dari Konsep Diri Pada Siswa/siswi SMP Parulian 3 Medan Keterangan : Min : Nilai terendah Max : Nilai tertinggi Mean : Nilai rata-rata : Standar Deviasi Apabila mean empirik >mean hipotetikmaka hasil penelitian yang 69,31<87,5, disimpulkan bahwa perilaku bullying subjek penelitian lebih rendah daripada populasi pada umumnya. Selanjutnya subjek akan dibagi ke dalam tiga kategori perilaku bullying yaitu perilaku bullying rendah, sedang dan tinggi. Pengkategorian perilaku bullying dapat dikategorisasikan dengan membagi distribusi normal ke dalam enam bagian standar deviasi. diperoleh akan dinyatakan tinggi, dan sebaliknya jika mean empirik mean hipotetik maka hasil penelitian yang diperoleh akan dinyatakan tinggi, dan sebaliknya jika mean empirik mean 92,48>75maka dapat disimpulkan bahwa konsep diri subjek penelitian lebih tinggi daripada populasi pada umumnya. Selanjutnya subjek akan dibagi ke dalam tiga kategori konsep diri yaitu konsep diri rendah, sedang dan tinggi. Pengkategorian konsep diri dapat dikategorisasikan dengan membagi distribusi normal ke dalam enam bagian standar deviasi. x < (AA- 1. 0 E) kategori rendah (AA- 1. 0 E) O x < (AA 1. 0 E) kategori x Ou (AA 1. 0 E) kategori tinggi Standar deviasi hipotetik dalam penelitian ini adalah E = . : 6 = 15 dan mean hipotetiknya adalah AA = . : 2 = 75. Dari perhitungan di atas dapat dibuat perhitungannya berdasarkan rumus diuraikan di atas, maka diperoleh x < . Ae . = 60, . Ae . Ox < . = 60 O x < 90, dan x Ou . = x Ou Dari perhitungan di atas, dapat dibuat kategori pada tabel 4 berikut ini. Tabel 4 Kategorisasi Data Konsep Diri Variabel Konsep Diri Rentang Nilai x <60 60 O x <90 Kategori Rendah Sedang Jumlah . Persentase 41,9% x Ou 90 Jumlah Tinggi 58,1% Jurnal Psychomutiara Vol. 2 No. 1 Agustus 2018, 1-16 Perilaku Bulliying Ditinjau Dari Konsep Diri Pada Siswa/siswi SMP Parulian 3 Medan Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa subjek yang memiliki konsep diriyang 41,9persen dan subjek yang memiliki kategori konsep diri yang tinggi ada sebanyak 74 orang atau 58,1 persen dan tidak ada subjek yang memiliki konsep diri rendah. Data dikatakan berdistribusi normal jika p > 0,05 (Priyatno. Uji dilakukan terhadap variabel perilaku bullying diperoleh koefisien KS-Z = 0,558 dengan Sig sebesar 0,914 untuk uji 2 . ekor dan Sig sebesar 0,457 untuk uji 1 . > 0,. , yang berarti bahwa data pada variabel perilaku bullying memiliki sebaran Uji normalitas pada variabel konsep diri diperoleh koefisien KS-Z = 0,668 dengan Sig sebesar 0,763 untuk uji 2 . ekor dan Sig sebesar 0,3815 untuk uji 1 . > 0,. Berdasarkan hasil tersebut data variabel konsep diri memiliki sebaran atau berdistribusi normal karena p > 0,05. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini: Hasil Uji Asumsi Penelitian Sebelum melakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi penyimpangan data yang diperoleh dari alat pengumpul data. Uji asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas dan uji linieritas. Uji Normalitas Sebaran Uji normalitas dilakukan agar dapat mengetahui apakah setiap variabel penelitian telah menyebar secara normal atau tidak. Uji normalitas sebaran menggunakan uji Kolmogorov Smirnov Test. Tabel 5 Hasil Uji Normalitas Sig Variabel K-SZ Perilaku Bullying 0,558 0,457 p > 0,05 Konsep Diri 0,668 0,3815 p > 0,05 Uji Linearitas Hubungan Uji linearitas digunakan untuk mengetahui apakah distribusi data penelitian yaitu variabel konsep diri dan perilaku bullying memiliki hubungan linear Uji F (Anov. Variabel konsep diri dan perilaku hubungan linear jika p < 0,05. Hasil uji linieritas dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini: Keterangan Sebaran normal Sebaran normal Tabel 6 Hasil Uji Linieritas Variabel Sig P Keterangan Perilaku Bullying 730 0,000 Linear Konsep 0,05 Diri Berdasarkan tabel 6 di atas dapat dikatakan bahwa variabel konsep diri hubungan linear. Hal ini terlihat dari nilai p yang diperoleh yaitu 0,000 maka p < 0,05 maka dapat disimpulkan adalah Jurnal Psychomutiara Vol. 2 No. 1 Agustus 2018, 1-16 Perilaku Bulliying Ditinjau Dari Konsep Diri Pada Siswa/siswi SMP Parulian 3 Medan kedua variabel memiliki hubungan linear dan telah memenuhi syarat untuk dilakukan analisa korelasi Product Moment (PearsonCorrelatio. Tabel 7 Korelasi Antara Perilaku Bullying dengan Konsep Diri Analis Pearson Signifikan Correlation si . Korel Berdasarkan korelasi antara perilaku bullying dengan diperolehkoefisienkorelasiProduct Moment (PearsonCorrelatio. sebesar 0,529 dengan p sebesar 0,000 . < 0,. Hal ini menunjukkan adanya korelasi negatif antara p konsep diri dengan perilaku bullying. Dari hasil perhitungan tersebut, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini menunjukkan adahubungan negatif antara konsep diri dengan perilaku bullying dinyatakan dapat diterima. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi konsep diri, maka semakin rendah perilaku bullyingdan begitu pula sebaliknya, semakin rendahkonsep diri. Tabel 8 Sumbangan Efektif Hasil Uji Hipotesis Setelah uji asumsi di terima selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang negatif antara konsep diri dengan perilaku bullying, dengan asumsi bahwa semakin tinggi konsep diri,maka semakin rendah perilaku bullying, dan sebaliknya. Berdasarkan tujuan penelitian maka dilakukan uji Product Moment (PearsonCorrelatio. Hasil uji statistik dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini : Model R Adjusted Std. Square R Error Square of the 8,297 Berdasarkan tabel 8, dapat dilihat bahwa dalam penelitian ini, diperoleh koefisien determinasi sebesar 0,280. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa 28,0 persen konsep diri mempengaruhi perilaku bullying, dan selebihnya 72,0 persen dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti, seperti kepribadian big five, kelompok teman sebaya . eer grou. , pola asuh orangtua, pola asuh otoriter orangtua, perilaku over protective orangtua, regulasi emosi, kontrol diri dan iklim sekolah, regulasi emosi dan religiusitas, harga diri dan konformitas. Hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 127 siswa-siswi SMP Parulian 3 Medan yang menjadi subjek penelitian, diperoleh bahwa terdapat hubungan negatif antara konsep diri koefisien korelasi Product Moment (PearsonCorrelatio. sebesar r = -0,529 dan nilai signifikansi p = 0,000 . < 0,. , artinya semakin tinggi konsep diri, bullyingdan begitu pula sebaliknya, semakin rendahkonsep diri, maka semakin tinggi perilaku bullyingnya. Hasil memiliki hubungan yang negatif sejalan Saifullah . , pada 123 siswakelas VII SMP Negeri 16 Samarinda yang Jurnal Psychomutiara Vol. 2 No. 1 Agustus 2018, 1-16 Perilaku Bulliying Ditinjau Dari Konsep Diri Pada Siswa/siswi SMP Parulian 3 Medan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatifantara konsep diri dengan perilaku bullying. Adapun nilai korelasi sebesar . = -0,322 dengan signifikansi p = 0,000 . < 0,. Semakin tinggi konsep diri siswa, maka akan semakin rendah perilaku bullying, dan sebaliknya semakin rendah konsep diri siswa, maka akan semakin tinggi perilaku bullying Koefisien determinan (R. yang didapatkan dari penelitian ini adalah sebesar 0,280. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa28,0 persen konsep diri mempengaruhi perilaku bullying, dan selebihnya72,0 persen dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti, seperti kepribadian big five, kelompok teman sebaya . eer grou. , pola asuh orangtua, pola asuh otoriter orangtua, perilaku over protective orangtua, regulasi emosi, kontrol diri dan iklim sekolah, regulasi emosi dan religiusitas, harga diri dan konformitas. Berdasarkan hasil penelitian terhadap beberapa siswa dan siswi SMP Parulian 3 Medan, tidak ditemukan siswa dengan perilaku bullying yang tinggi, melainkan rata-rata menunjukkan perilaku bullying yang rendah ke Sebanyak 64 . nam puluh empa. siswa dengan presentase 50,5 persen bullying dan sebanyak 63 . nam puluh tig. siswa dengan persentase 49,5 persen menunjukkan perilaku bullying yang sedang. Sebanyak 64 . nam puluh empa. siswa dengan persentase 50,5 persen menunjukkan rendahnya perilaku Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi dan wawancara dari beberapa subjek dengan perilaku bullying yang Banyaknya aspek verbal yang dilakukan oleh siswanya, seperti memberikan panggilan-panggilan yang lucu dan aneh bahkan yang tidak sepantasnya seperti Ausi tuken . ukang kentu. Ay atau Ausi lemot . emah ota. Ay kepada teman sekelasnya. Siswa dalam kategori ini mengaku tidak ingin mencari permasalahan dengan orang lain, sehingga tidak mengikuti perbuatan jahil yang terkadang dilakukan oleh teman Observasi dan penelitian di atas didukung oleh data penelitian, dimana pada aspek perilaku bullying yaitu aspek fisik, verbal, dan gestur. Sebanyak 63 . nam puluh tig. siswa dengan persentase 49,5 persen menunjukkan perilaku bullying yang Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi dan wawancara dari beberapa subjek dengan perilaku bullying yang sedang siswa sering memberikan tatapan sinis kepada teman sekelasnya atau siswa kelas lain yang tidak mereka suka. Sesekali mereka juga akan tertawa melihat teman yang diejek atau diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Siswa pada ketegori sedang juga menolak untuk membela teman yang sedang ditindas, dengan alasan mereka tidak ingin menjadi seperti mereka yang Serta beberapa siswa mengaku sering menggosip pada saat jam istirahat biasanya di dalam kelas atau di kantin dan pernah mempermalukan seorang teman di depan kelas. Selain mengejek dan menggosip, siswa tersebut mengaku senang mencubit atau menyenggolkan bahu saat berpapasan dengan teman Perilaku bullying sedang pada siswa dapat diungkap melalui aspek fisik, verbal, dan gestur. Pada SMP Parulian 3 Medan tidak ditemukan siswa dengan konsep diri yang rendah, melainkan rata-rata siswanya memiliki tingkat konsep diri yang sedang ke tinggi. Sebanyak 53 . ima puluh tig. siswa dengan persentase 41,9 persen menunjukkan konsep diri yang sedang dan sebanyak 74 . ujuh puluh empa. siswa dengan menunjukkan konsep diri yang tinggi. Sebanyak 74 siswa dengan persentase Jurnal Psychomutiara Vol. 2 No. 1 Agustus 2018, 1-16 Perilaku Bulliying Ditinjau Dari Konsep Diri Pada Siswa/siswi SMP Parulian 3 Medan sebesar 58,1 persen menunjukan konsep diri yang tinggi. Hal ini dapat diungkapkan melalui dimensi konsep diri yakni pengetahuan, harapan, dan Salah satu siswa mengaku depannya lebih sukses seperti menjadi seorang pengusaha yang terkenal. Siswa juga memiliki tekad yang kuat untuk melakukan hal-hal yang baru karena dengan cara ini siswa dapat terus belajar dan berusaha untuk keinginan yang akan Siswa mengatakan dirinya sangat senang berada di sekolah dengan teman-teman dan bersaing dengan adil untuk mendapatkan peringkat teratas, agar dirinya dapat dipuji oleh guru, dapat dikenal banyak teman, dan bisa membanggakan orangtua. Observasi dan wawancara dalam penelitian tersebut didukung oleh data penelitian. Sebanyak 53 . ima puluh tig. siswa dengan persentase 41,9 persen menunjukkan konsep diri yang sedang diungkap melalui dimensi konsep diri yakni pengetahuan, harapan, dan Berdasarkan hasil observasi dan penelitian dengan beberapa siswa, siswa dalam kategori ini mengaku memiliki pandangan yang positif dalam beberapa hal seperti tugas mereka sebagai seorang pelajar atau siswa di sekolah, salah satunya Aumenjadi murid yang teladan dan tau tata tertib di sekolahAy. Beberapa menyatakan bahwa dirinya memiliki kepribadian yang baik dan penuh Sesekali dimilikinya dengan percaya diri, agar mendapat perhatian dan disayangi banyak teman. Selain itu, siswa dapat mengerjakan tugas sekolah tanpa mencontek punya teman, siswa merasa memuaskan daripada mencontek tugas milik teman. Observasi dan wawancara dalam penelitian tersebut didukung oleh data penelitian. Penguraian di atas memiliki keselarasan dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Saad . Konsep diri remaja akan dapat menentukan sikap dan perilaku remaja. Oleh karena itu, dapat mengendalikan sikap dan perilaku remaja ke arah yang diharapkan oleh lingkungan, ada hal yang tidak boleh diabaikan yakni proses internalisasi nilai-nilai yang dapat membentuk konsep diri remaja yang positif dan ke arah yang dapat mendewasakan dirinya. Dalam pengetahuan tentang titik lemah dan titik unggul. Dengan mengetahui titik lemah, maka remaja dapat berkembang menjadi hambatan yang akan memosisikan dirinya pada sikap dan perilaku yang menyimpang atau secara sosiologis perilaku anomali. Dalam dimensi harapan pada diri sendiri, muncul keinginan untuk menjadikan diri sebagai diri yang ideal, yang dapat memenuhi kepuasan pada dirinya menempatkan diri pada situasi dan kondisi yang diciptakannya. Menurut Cronbach . alam Saad, 2. , konsep diri seseorang diperoleh pengalaman-pengalaman didalam kelompok, sekolah, atau Konsep diri positif apabila seseorang dapat mengatakan hal-hal yang positif mengenai dirinya, seperti harapanharapannya, dan konsep diri negatif jika seseorang hanya mengenal kelemahankelemahan yang ada pada dirinya. Konsep diri siswa dapat dikembangkan ke arah yang positif apabila siswa mencapai keberhasilan di dalam tugastugas yang diberikan. Untuk itu pertamatama siswa harus sudah mempunyai harapan-harapan atau aspirasi yang cukup tinggi, tugas-tugas perlu diatur secara khusus, disamping guru harus Jurnal Psychomutiara Vol. 2 No. 1 Agustus 2018, 1-16 Perilaku Bulliying Ditinjau Dari Konsep Diri Pada Siswa/siswi SMP Parulian 3 Medan menentukan indikator keberhasilan dengan jelas. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa remaja yang mampu mengatakan hal-hal yang positif tentang dirinya, maka remaja dapat mengarah ke perilaku yang positif, dan sebaliknya, jika remaja hanya mengenal kelemahan atau hanya mengatakan halhal yang negatif pada dirinya, maka remaja dapat mengarah ke perilaku yang KESIMPULAN Berdasarkan hasil-hasil yang telah diperoleh dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Terdapat hubungan yang negatif antara konsep diri dengan perilaku Hal ini dibuktikan dengan dengan nilai koefisien korelasi Product Moment (Pearson Correlatio. sebesar - 0,529, dengan signifikansi . sebesar 0,000 . < 0,. , yang berarti bahwa semakin tinggi konsep diri, maka semakin rendah perilaku bullyingdan sebaliknya, jika konsep dirirendah, maka semakin tinggi perilaku Mean dari perilaku bullying pada subjek penelitian siswa/siswi SMP Parulian 3 Medan menunjukkan bahwa perilaku bullying subjek lebih rendah daripada populasi pada Hal ini dapat dilihat melalui nilai mean empirik sebesar 69,31 yang lebih rendah dari mean hipotetik yakni 87,5. Berdasarkan kategorisasi, subjek yang memiliki perilaku bullying yang rendah sebanyak 64 orang atau 50,5 persen, subjek yang memiliki perilaku bullying sedang sebanyak 63 orang atau 49,5 persen dan tidak ada subjek yang memiliki perilaku bullying yang tinggi. Mean dari konsep diri pada subjek siswa-siswi SMP Parulian 3 Medan menunjukkan bahwa konsep diri subjek penelitian lebih tinggi daripadapopulasi pada umumnya. Hal ini dapat dilihat melalui nilai mean empirik sebesar 92,48 lebih besar daripada mean hipotetik yakni Berdasarkan kategorisasi, subjek yang memiliki konsep diri yang sedang sebanyak 53 orang atau 41,9 persen dan subjek yang memiliki regulasi emosi yang tinggi sebanyak 74 orang atau 58,1 persen, dan tidak ada subjek yang memiliki konsep diri yang rendah. Hasil penelitian ini menunjukkan sumbangan efektif yang diberikan variabel konsep diri terhadap perilaku bullying adalah sebesar 28,0 persen, selebihnya 72,0 persen dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti, seperti kepribadian big five, kelompok teman sebaya . eer grou. , pola asuh orangtua, pola asuh otoriter orangtua, perilaku over protective orangtua, regulasi emosi, kontrol diri dan iklim sekolah, regulasi emosi dan religiusitas, harga diri dan konformitas. SARAN Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan, peneliti ingin memberikan beberapa saran yang diharapkan dapat berguna untuk kelanjutan studi korelasional ini. Saran bagi siswa/siswi Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, peneliti berharap siswa mampu mengurangi perilaku bullying di sekolah, khususnya bagi siswa/siswi yang memiliki perilaku bullying yang rendah ke sedang. Peneliti berharap siswa/siswi dapat menyalurkan energi yang mengisi waktu luang dengan melakukan kegiatan yang lebih positif. Jurnal Psychomutiara Vol. 2 No. 1 Agustus 2018, 1-16 Perilaku Bulliying Ditinjau Dari Konsep Diri Pada Siswa/siswi SMP Parulian 3 Medan seperti kegiatan ekstrakurikuler yang membangun rasa kepercayaan diri, inisiatif, keberanian untuk melaporkan jika siswa/siswi melakukan tindakan bullying, hendaknya melaporkan kepada pihak sekolah terutama untuk pelaku Saran bagi orantua Bagi kedua orantua siswa/siswi lebih memperhatikan terhadap apa yang dilakukan oleh anak, baik itu di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan sekitar. Dengan cara meningkatkan rasa percaya diri anak, menananmkan konsep diri anak yang baik, dan tanamkan pada anak sikap untuk menerima diri sendiri. Serta agar dapat bekerjasama dengan pihak sekolah dengan cara mengadakan pertemuan dalam kegiatan konseling memperhatikan peningkatan maupun penurunan siswa/siswi dalam hal tingkah laku maupun pelajaran baik dibidang akademik maupun nonakademik. Saran bagi sekolah Bagi pihak sekolah diharapkan dapat melakukan pengawasan yang lebih seksama dan memiliki kepedulian terhadap siswa/siswinya. Pihak sekolah juga diharapkan memberikan sanksi yang tegas kepada siswa/siswi yang kedapatan melakukan tindakan-tindakan yang dinilai mengancam atau menyakiti siswa/siswi lain. Saran bagi Guru Bimbingan Konseling Bagi guru bimbingan konseling sebaiknya kegiatan BK atau bimbingan konseling lebih diefektifkan untuk lebih mengetahui apa saja yang terjadi di lingkungan sekolah misalnya, interaksi antar siswa/siswi maupun interaksi antar Diharapkan mampu membimbing siswa/siswi yang kedapatan melakukan tindakan bullyagar dapat menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan bersahabat. Saran bagi peneliti selanjutnya Bagi diharapkan dapat meneliti faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku bullying sepertikepribadian big five, kelompok teman sebaya . eer grou. , pola asuh orangtua, pola asuh otoriter orangtua, perilaku over protective orangtua, regulasi emosi, kontrol diri dan iklim sekolah, regulasi emosi dan religiusitas, harga diri dan konformitas. DAFTAR PUSTAKA