ARUMBAE: JURNAL ILMIAH TEOLOGI DAN STUDI AGAMA Available online at: http://ojs. id/index. php/arumbae E-ISSN: 2715-775X Vol. No. 1 (Juni, 2. : 66-83 DOI: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Hubungan antara Orang Hidup dan Meninggal: Kajian Etika Kristen terhadap Ritual Mambere Mangan Nadob Matei Riski Bartimeus Mart Purba,1* Fredi Ardo Purba 2 Gereja Methodist Indonesia. Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta *Corresponding Author Email: riskipurba129@gmail. Submitted: 14-05-2024 Accepted: 11-06-2024 Published: 27-06-2024 Abstract The understanding of the relationship between the living and the dead is a problematic issue in Christianity, which generally separates the living and the dead. In contrast, traditional Simalungun beliefs recognize the existence of such a relationship, as seen in the ritual of mambere mangan na dob matei. This practice involves the provision of food for deceased ancestors, based on a deep respect for the ancestors as Naibata Nataridah . isible Go. , who are believed to bless the lives of their descendants. This study uses the literature study research method by conducting a literature review to analyze the Christian ethics of the ritual. The results show that through the Mambere Mangan Nadob Matei ritual. Simalungun Christians believe in the existence of a relationship between the living and the dead, which is based on respect for parents . as Naibata Nataridah . isible Go. who can bless the lives of their children. Keywords: Mambere Mangan Nadob Matei. Ancestors. Naibata Nataridah. Christian Ethic. Abstrak Pemahaman tentang hubungan antara orang hidup dengan orang yang telah meninggal menjadi isu problematik dalam pengajaran kristianitas, yang umumnya memisahkan dunia hidup dan mati secara Sebaliknya, keyakinan tradisional Simalungun mengakui adanya hubungan tersebut, terlihat dalam ritual mambere mangan na dob matei. Praktik ini melibatkan penyediaan makanan bagi leluhur yang telah meninggal, didasarkan pada penghormatan yang mendalam kepada leluhur sebagai Naibata Nataridah (Allah yang kelihata. , yang diyakini dapat memberkati kehidupan keturunan mereka. Studi ini menggunakan pendekatan studi pustaka dengan melakukan tinjauan literatur untuk menganalisis etika Kristen terhadap ritual tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui ritual Mambere Mangan Nadob Matei, orang Simalungun Kristen meyakini adanya hubungan antara orang hidup dan orang yang sudah meninggal, yang didasarkan pada penghormatan terhadap orang tua . sebagai Naibata Nataridah (Allah yang kelihata. yang dapat memberkati kehidupan anak-anaknya. Kata-kata Kunci: Mambere Mangan Nadob Matei. Leluhur. Naibata Nataridah. Etika Kristen @ Copyright: Authors 2024 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 Generic License Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. PENDAHULUAN Kematian merupakan realitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Pemahaman tentang kematian dan misteri dibaliknya seringkali mempengaruhi sikap, tindakan, dan sistem kepercayaan manusia yang masih hidup. Tantangannya terletak pada konflik antara pemahaman dan penghayatan kepercayaan lama dengan kepercayaan baru yang muncul. 1 Suku Simalungun, sebagai bagian dari suku Batak, memiliki keyakinan bahwa roh orang yang meninggal tidak benar-benar mati, tetapi berpindah ke suatu keadaan yang disebut tonduy . Roh ini dipercaya dapat dipanggil kembali kapan pun melalui ritual khusus. Tonduy diyakini membawa berkat jika diberi perhatian, namun akan menyebabkan marah dan membawa malapetaka jika diabaikan. 2 Ritual khusus yang dilakukan oleh orang Simalungun untuk berkomunikasi dan memberikan perhatian kepada roh tonduy dilakukan melalui ritual Mambere Mangan Nadob Matei . elanjutnya disingkat MMNM). MMNM adalah suatu ritual yang terdapat dalam budaya Suku Simalungun, yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai memberi makan kepada leluhur yang sudah Ritual MMNM adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk menghormati dan mengenang orang tua atau leluhur yang telah meninggal dunia. MMNM merupakan bentuk penghormatan yang menunjukkan bahwa kita masih mengingat orang tua atau leluhur tersebut. Salah satu bentuk penghormatan yang dilakukan dalam mengenang leluhur adalah dengan memberikan makanan . sesuai dengan kesukaan leluhur. Konsep ini dilakukan karena dipahami bahwa orang tua adalah Naibata Nataridah (Allah yang kelihata. dan tetap harus dihormati meskipun mereka sudah meninggal. Penelitian tentang relasi orang yang hidup dengan orang yang sudah meninggal sebelumnya dilakukan oleh Lastri Simatupang dan Pardomuan Munthe. Simatupang dan Munthe menjelaskan bahwa ketika ajaran kristianitas diperkenalkan ke tanah Simalungun. Tuhoni Telaumbanua. AuDunia Orang Mati Menurut Kepercayaan Masyarakat Nias,Ay Sundermann: Jurnal Ilmiah Teologi. Pendidikan. Sains. Humaniora Dan Kebudayaan 14. No. : 49, https://doi. org/https://doi. org/10. 36588/sundermann. Jan J. Damanik. Dari ILAH Menuju ALLAH: Sejarah Kekristenan Di Simalungun Dalam Aras Perjumpaan Injil Dengan Kebudayaan (Yogyakarta: Andi, 2. , 62. Sipayung, (Bendahara Partuha Maujana Simalungun Silau Kahea. Wawancara. Negeri Dolok. Tanggal 10 September 2023 Fredi Ardo Purba. AuTradisi Mambere Namalum Pakon Mambere Tukot Sebagai Bentuk Menghormati Orang Tua Sebagai Naibata Na Taridah (Allah Yang Kelihata. : Sebuah Kajian Etis Teologis,Ay Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik Dan Agama No. https://doi. org/https://dx. org/10. 36972/jvow. Hubungan antara Orang Hidup dan Meninggal: Kajian Etika Kristen terhadap Ritual Mambere Mangan Nadob Matei Riski Bartimeus Mart Purba. Fredi Ardo Purba perbedaan dalam pandangan terhadap roh orang yang sudah meninggal menjadi jelas. Pengajaran kristianitas yang dibawa oleh misionaris Barat dan dipahami oleh orang Kristen saat ini mengajarkan bahwa arwah orang yang telah meninggal tidak dapat berhubungan atau mengunjungi orang yang masih hidup. 5 Pandangan ini menjadi pandangan umum di masyarakat, sehingga ritual MMNM dianggap bertentangan dengan ajaran-ajaran kristianitas karena tidak ada lagi pemahaman tentang hubungan antara orang yang hidup dengan yang sudah meninggal. Berbeda dengan pandangan Lastri Simatupang dan Pardomuan Munthe. Bruce Gordon dan Peter Marshall sebagaimana yang dikutip Eunice Abigail Sitanggang, menggarisbawahi konsep bahwa orang yang telah meninggal sebenarnya masih hadir dalam kehidupan kita yang masih hidup. Namun, sayangnya, sering kali keberadaan mereka diabaikan atau dilupakan. Hal ini dapat dipahami sebagai dampak dari kurangnya percakapan atau perhatian terhadap mereka yang telah meninggal. Mereka menyoroti bahwa kurangnya perhatian terhadap orang yang telah meninggal juga dapat disebabkan oleh fokus yang lebih besar pada pemberitaan firman dalam sejarah pemikiran dan praktik keagamaan, terutama yang dipengaruhi oleh gerakan Reformasi. Kedua penelitian tersebut belum sama sekali membahas hubungan antara orang yang hidup dengan yang sudah meninggal melalui kajian etika Kristen yang dikaitkan dengan budaya, secara khusus budaya Simalungun. Kajian etika Kristen terhadap ritual MMNM memiliki relevansi yang penting dalam dalam membangun sebuah pemahaman tentang hubungan antara orang hidup dan yang telah meninggal dalam konteks budaya Simalungun. Dengan memahami pandangan etika Kristen terhadap ritual ini, dapat membantu orang Simalungun Kristen dalam merumuskan pemahaman yang seimbang dan sesuai dengan keyakinan mereka. Selain itu, hasil kajian ini juga dapat menjadi dasar bagi pelaksanaan ritual MMNM yang lebih bermakna dan sesuai dengan ajaran agama Kristen. Dengan demikian, kajian ini akan bermanfaat untuk memperdalam pemahaman terhadap praktik keagamaan, serta memperkuat identitas keagamaan dan budaya orang Simalungun Kristen. METODE PENELITIAN Lastri Simatupang and Pardomuan Munthe. AuSuatu Tinjauan Dogmatis Tentang Memimpikan Orang Yang Sudah Meninggal Dan Implikasinya Bagi Pemahaman Warga Gereja Jemaat GKPA Binjai,Ay Jurnal Sabda Akademika 2. No. : 15, http://jurnal. id/index. php/JSAK/article/view/122/119. Eunice Abigai Sitanggang. AuGereja Transtemporal: Melihat Kembali Kesatuan Orang Mati. Hidup. Dan Belum Lahir Sebagai Communio Sanctorum,Ay Veritas: Jurnal Teologi Dan Pelayanan 22. No. 163, https://doi. org/https://doi. org/10. 36421/veritas. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan melakukan pengumpulan teori dan informasi yang bersumber dari bahan kepustakaan yang menyangkut dengan topik penelitian yang sedang dilakukan. Pengumpulan informasi tersebut bersumber dari sumber ilmiah seperti buku, jurnal, laporan penelitian, ensiklopedia, dan bahan-bahan lainnya yang memiliki kredibilitas yang bersumber dari internet . erbasis onlin. 7 Penelitian ini akan meninjau bagaimana pemahaman yang dimiliki orang Simalungun terhadap hubungan antara orang hidup dengan orang yang sudah meninggal dengan mengaitkannya terhadap pandangan kristianitas. Penulis mendasarkan tulisan ini pada pandangan Stephen B. Bevans, dengan menggunakan model teologi yang kelima yang bersifat antropologis. Model ini menggunakan wawasan dari ilmu-ilmu sosial, terutama antropologi, untuk memahami lebih dalam jaringan relasi manusia serta nilai-nilai yang membentuk kebudayaan manusia, dan bagaimana dalam konteks tersebut Allah hadir, menawarkan kehidupan, penyembuhan, dan Pendekatan ini menekankan pada kebudayaan sebagai fokus utama dalam studi teologi kontekstual. Bagi model ini, dalam mempelajari dan menginternalisasi kebudayaan suatu bangsa sambil mempertahankan keautentikan, kita menemukan berbagai simbol dan gagasan yang membentuk bahasa yang sesuai dengan iman umat. Perhatian khusus dari model ini adalah pada identitas budaya yang autentik, yang membentuk landasan bagi pemahaman teologis dalam konteks sosial dan budaya tertentu. Model antropologis menekankan bahwa dalam kebudayaan manusia, kita menemukan pewahyuan Allah bukan sebagai suatu pewartaan adi-budaya yang terpisah, tetapi justru dalam kedalaman keberadaan budaya itu sendiri. Allah hadir di dalam dinamika kehidupan budaya, dalam interaksi dan relasi antar manusia, dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari eksistensi kultural. Dalam pandangan ini, kebudayaan menjadi media di mana pewahyuan Allah termanifestasi, bukan sebagai sesuatu yang terpisah dari konteks budaya, melainkan sebagai unsur integral yang membentuk keberadaan kultural. 9 Selain itu. Penulis juga akan mendasarkan kajian atas teks 1 Samuel 28:1-28 sebagai dasar kajian etika Kristen yang akan dibangun. Sonny Eli Zaluchu. AuMetode Penelitian Di Dalam Manuskrip Jurnal Ilmiah Keagamaan,Ay Jurnal Teologi Berita Hidup 3, no. 2 (March 25, 2. : 255Ae56, https://doi. org/10. 38189/jtbh. Stephen B. Bevans. Model-Model Teologi Kontekstual (Maumere: Ledalero, 2. , 98. Bevans, 100. Hubungan antara Orang Hidup dan Meninggal: Kajian Etika Kristen terhadap Ritual Mambere Mangan Nadob Matei Riski Bartimeus Mart Purba. Fredi Ardo Purba HASIL DAN PEMBAHASAN Ritual Mambere Mangan Nadob Matei sebagai World View Ritual MMNM dalam kepercayaan Simalungun memiliki makna dan nilai yang mendalam dalam world view kepercayaan terhadap tonduy. World view, seperti yang dijelaskan oleh Walsh dan Middleton yang dikutip oleh Sahat Lumbantobing, merupakan cara pandang yang melibatkan cara kita melihat dunia serta bagaimana kita memahami cara pandang orang lain terhadap dunia. 10 Ritual MMNM bukan hanya merupakan serangkaian tindakan keagamaan, tetapi juga mencerminkan pandangan komunal masyarakat Simalungun terhadap kehidupan dan kematian. Melalui ritual MMNM, masyarakat Simalungun meyakini bahwa mereka dapat menjalin hubungan dengan tonduy atau roh Ritual ini menjadi sarana untuk menghormati, berkomunikasi, dan memperkuat ikatan dengan leluhur, yang dipercayai memiliki peran penting dalam melindungi, memberkati, dan memastikan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Dalam world view yang dimiliki orang Simalungun, ritual MMNM membantu masyarakat Simalungun untuk memahami dan menginterpretasikan peran serta kehadiran roh leluhur dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ritual MMNM bukan hanya sekadar rangkaian upacara keagamaan, tetapi juga mencerminkan pandangan komunal dan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh masyarakat Simalungun terhadap kehidupan, kematian, dan kehidupan setelah Menurut penjelasan Sortaman Saragih, ritual penyembahan roh leluhur ini disebut Martogas. Dalam Martogas, semua anggota satu rumpun keluarga, mulai dari anak hingga cicit, berkumpul untuk mengadakan ritual memanggil roh leluhur mereka dengan melakukan makan bersama. Dalam acara ini, hidangan yang disiapkan adalah hidangan kesukaan moyang leluhur tersebut. Ini merupakan bagian dari upacara tradisional di masyarakat Simalungun untuk menjaga hubungan spiritual dengan leluhur dan melestarikan nilai-nilai budaya keluarga. Orang Simalungun percaya bahwa kuasa nenek moyang mereka dapat hadir dalam bentuk simagot, yang dapat dipanggil melalui ritual yang disebut pahutahon atau pasiarhon dengan menggunakan alat musik tradisional Simalungun seperti gonrang. Simagot dapat diundang dalam berbagai upacara, termasuk upacara pengobatan tradisional dan Sahat Maratua Lumbantobing. Model Kepeminpinan Episkopal (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Sortaman Saragih. Orang Simalungun (Depok: CV. Vitama Vigora, 2. , 85Ae86. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. pembersihan rumah, melalui seorang medium yang disebut paniaran, baik laki-laki maupun Sebelum upacara dilaksanakan, persiapan khusus diperlukan, termasuk kebersihan batin dan tubuh. Sebagai bagian dari persiapan, dilakukanlah upacara pembersihan yang disebut maranggir, di mana orang mandi dengan ramuan jeruk purut. Setelah penyembahan dilaksanakan, seringkali salah satu dari anak cucu . eturunan leluhu. akan mengalami kesurupan karena dihuni oleh roh leluhur yang dipanggil tadi. Melalui individu yang tengah kesurupan, yang dianggap sebagai perantara dengan Naibata melalui roh simagot, pesan, nasehat, teguran, atau peringatan akan disampaikan kepada Orang Simalungun sangat takut dan taat terhadap petunjuk yang diberikan oleh orang yang sedang kesurupan tersebut, menganggapnya sebagai pesan langsung dari roh leluhur. Melalui world view tersebut, orang Simalungun memahami bahwa setelah meninggal, tonduy atau simagot leluhur dapat hadir dan memberikan kuasa. Dalam ritual MMNM, mereka percaya bahwa tonduy atau simagot leluhur tersebut hadir. Simagot diyakini akan memasuki tubuh salah seorang anggota keluarga melalui perantara medium laki-laki, dan dari situlah simagot memberikan nasihat kepada keturunannya, dianggap sebagai pesan dari Naibata. Pelaksanaan ritual MMNM juga dipercaya karena simagot leluhur hadir dan melindungi keturunannya. Selain itu, dalam praktik pengobatan tradisional, ucapan syukur . arsirni uhu. , dan pembangunan rumah . amokot ruma. , orang Simalungun juga melaksanakan ritual MMNM. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa orang Simalungun pada masa lalu memiliki pemahaman world view yang berbeda sebelum dipengaruhi oleh budaya luar dan agama-agama lainnya. Nilai-nilai Ritual Mambere Mangan Nadob Matei Penghormatan Kepada Leluhur Penghormatan terhadap leluhur yang telah meninggal menegaskan keyakinan akan hubungan yang masih ada antara orang hidup dan yang telah meninggal. Orang Simalungun melakukan penghormatan ini sebagai cara untuk mengenang dan menghargai jasa-jasa serta kebaikan yang telah diberikan oleh leluhur yang telah tiada. Ketika leluhur masih hidup, penghormatan biasanya ditujukan kepada bentuk fisik mereka, namun dalam ritual penghormatan terhadap leluhur, eksistensi tonduy atau roh leluhur itulah yang dihormati Budi Agustono. Sejarah Etnis Simalungun (Pematang Siantar: Hutarih Jaya, 2. , 240. Saragih. Orang Simalungun, 86. Hubungan antara Orang Hidup dan Meninggal: Kajian Etika Kristen terhadap Ritual Mambere Mangan Nadob Matei Riski Bartimeus Mart Purba. Fredi Ardo Purba sebagai wujud kehadiran dalam ritual tersebut, yang menunjukkan kelanjutan hubungan antara orang hidup dan yang telah meninggal. Eksistensi tonduy ini menjadi bukti bahwa hubungan antara orang hidup dan yang telah meninggal tidak terputus. 14 Dalam bukunya. Hendry James Silalahi menjelaskan bahwa ritual pemberian sesajen kepada leluhur yang telah meninggal juga dipercayai sebagai salah satu cara untuk mematuhi hukum Taurat kelima yang mengajarkan tentang pentingnya menghormati orang tua. 15 Dalam keyakinan tersebut, memberikan sesajen kepada leluhur merupakan bentuk penghormatan yang diperintahkan oleh ajaran agama, sebagaimana yang tercantum dalam Taurat. Ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap leluhur dalam budaya Simalungun juga memiliki akar religius yang kuat, serta dipandang sebagai kewajiban yang harus dipatuhi sebagai bagian dari keyakinan agama. Permohonan Berkat dan Perlindungan Orang Simalungun meyakini bahwa roh leluhur yang telah meninggal berada dalam kedekatan yang lebih dekat dengan Naibata, entitas yang dianggap sebagai pencipta atau kekuatan yang lebih tinggi. Sortaman menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk berhubungan langsung dengan Naibata adalah melalui roh orang yang telah meninggal . dan roh keramat . Ada keyakinan bahwa roh orang yang sudah meninggal tidak terikat oleh batasan ruang dan waktu sehingga mampu mencapai alam Dewata (Nagori Ata. , dimana Naibata bersemayam. Ini menunjukkan bahwa dalam kepercayaan Simalungun, roh leluhur memiliki peran penting dalam menjembatani hubungan antara manusia dan kekuatan spiritual yang lebih tinggi. 16 Dengan bantuan simagot, tonduy dari leluhur yang masih diyakini memiliki hubungan dengan orang yang masih hidup, dilakukan permohonan berkat dan perlindungan. Ritual MMNM merupakan bentuk dari permohonan tersebut, yang melibatkan pemberian makanan . kepada leluhur yang telah meninggal. Makanan yang disiapkan adalah makanan kesukaan orang tua atau leluhur tersebut, dengan harapan agar leluhur tersebut berkenan terhadap sesajen yang diberikan dan memberkati keluarganya. Ini adalah cara bagi orang Simalungun untuk Dinan Purba Tambak, (Ketua Partuha Maujana Simalungun Silau Kahea. Wawancara. Negeri Dolok. Tanggal 10 September 2023 Hendri James Silalahi. Pandangan Injil Terhadap Upacara Adat Batak (Medan: Kawanan Misi Kristus, 2. , 145. Saragih. Orang Simalungun, 85. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. menjaga dan memperkuat hubungan spiritual dengan leluhur mereka serta memohon berkat dan perlindungan dari mereka. Mengenang Orang Tua atau Leluhur Sipayung menjelaskan bahwa ritual MMNM dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan pengenangan terhadap leluhur yang telah meninggal. Dalam ritual ini, penting bagi keturunan untuk mengingat segala kebaikan dan nasehat yang diberikan oleh leluhur selama hidupnya. Sebagai pemimpin spiritual dalam komunitas, leluhur telah meninggalkan warisan berharga dalam bentuk perilaku baik dan nasihat yang bermanfaat bagi keturunan mereka. Oleh karena itu, menjalankan amanah dan mengikuti jejak leluhur merupakan tantangan yang penting bagi keturunan. Ritual MMNM menjadi momen untuk merayakan warisan dan mengenang leluhur, sehingga kebaikan dan nasehat dari mereka tetap hidup dan dijunjung tinggi oleh generasi berikutnya. Konsep Roh Orang yang Meninggal dalam Budaya Simalungun Menurut J. Tideman, orang Simalungun dipercaya dijaga oleh tonduy, yang bertindak sebagai penuntun dan pengendali dalam kehidupan mereka. 19 Dalam kepercayaan tradisional Simalungun, seluruh roh orang yang telah meninggal berada di dunia roh. Mereka hidup dalam bentuk sebuah komunitas masyarakat roh yang terorganisir berdasarkan struktur kekerabatan marga dan prinsip Dalihan Na Tolu, yaitu pola relasi yang menciptakan keharmonisan dalam satu kesatuan. 20 Kepercayaan ini tidak mengakui adanya konsep surga seperti dalam kristianitas. Dalam pandangan ini, manusia yang masih hidup di dunia dapat berkomunikasi dengan roh-roh leluhur mereka yang telah meninggal, dan sebaliknya, roh orang yang telah meninggal juga masih dapat berinteraksi dengan anggota keluarga atau keturunannya yang masih hidup di dunia. Hubungan ini dijalin melalui berbagai ritual yang berkaitan dengan orang mati. Menurut Sudiaman Sipayung orang Simalungun percaya bahwa tonduy leluhur hanya sejengkal jaraknya dari orang hidup sehingga dapat melindungi. Sipayung, (Bendahara Partuha Maujana Simalungun Silau Kahea. Wawancara. Negeri Dolok. Tanggal 10 September 2023 Saragih. Orang Simalungun, 143. Taripar Aripin Samosir and Sivamurugan Pandian. AuPhilosophy of Dalihan Na Tolu as Social Capital in Creating Dynamic Religious Harmony,Ay Migration Letters 20, no. : 151, https://doi. org/https://doi. org/10. 59670/ml. Silalahi. Pandangan Injil Terhadap Upacara Adat Batak, 139. Hubungan antara Orang Hidup dan Meninggal: Kajian Etika Kristen terhadap Ritual Mambere Mangan Nadob Matei Riski Bartimeus Mart Purba. Fredi Ardo Purba Dalam kepercayaan leluhur, manusia diyakini memiliki dua aspek penting: tubuh fisik yang terdiri dari daging, tulang, dan darah, serta roh . Kondisi kehidupan seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi rohnya. Kematian dipercaya terjadi ketika roh seseorang meninggalkan tubuhnya secara permanen. Oleh karena itu, urusan pemeliharaan kondisi roh menjadi sangat penting bagi para leluhur. 22 Dalam keyakinan tersebut, kematian tidaklah menjadi akhir dari segalanya. Sebaliknya, kematian dipandang sebagai peristiwa di mana roh seseorang meninggalkan tubuhnya secara permanen. Ini merupakan titik perpindahan dari kehidupan dalam dunia fisik . unia in. menuju kehidupan di dunia orang mati. Dengan demikian, kematian dianggap sebagai pintu gerbang menuju kehidupan dalam dimensi roh. Orang Simalungun memiliki keyakinan pada arwah leluhur yang diyakini dapat menyebabkan berbagai penyakit atau malapetaka kepada manusia. Penghormatan dan penyembahan kepada arwah leluhur dianggap akan membawa keselamatan dan kesejahteraan bagi individu tersebut serta keturunannya. Kuasa-kuasa ini merupakan entitas yang sangat ditakuti dalam kehidupan orang Batak di dunia ini, dan diyakini memiliki keterlibatan yang dekat dengan aktivitas manusia. Dalam agama suku, hubungan antara roh orang yang telah meninggal dengan orang yang masih hidup adalah hal yang sangat nyata dan mencolok. Kematian tidak dianggap sebagai akhir dari hubungan antara dunia orang hidup dan dunia roh. Sebaliknya, hubungan tersebut tetap ada dan bahkan semakin erat. Orang yang telah meninggal diharapkan dapat memberkati orang yang masih hidup, serta menjadi sumber kemakmuran yang memberikan keturunan, perlindungan dari bahaya, kerugian, penyakit, dan merusaknya hasil pertanian. Hubungan Antara Orang Hidup dan Meninggal dalam Kekristenan Berkaca pada sejarah, praktik pemberian sesajen dan ajakan untuk makan bersama dengan para roh leluhur dipahami sebagai tindakan yang menunjukkan keyakinan bahwa roh leluhur masih membutuhkan makanan. Hal ini sebenarnya tidak sepenuhnya baru dalam konteks kristianitas. Dirgos Charles Lumbantobing, dalam bukunya, dengan jelas menjelaskan bahwa praktik semacam ini didasarkan pada pemahaman yang umum diterima Silalahi, 138. Silalahi, 138. Ricky Supriyanto. AuKepercayaan Asli Orang Batak,Ay https://sudutpandangbatak. com/2017/03/kepercayaan-asli-orang-batak. html?m=1. Rudolf Pasaribu. Agama Suku Dan Batakologi (Medan: Pieter, 1. , 60. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. oleh masyarakat di sekitar Israel kuno, termasuk Mesir. Mesopotamia. Siria. Palestina. Ugarit. Fenesia, dan bangsa-bangsa di sekitar Mediterania. Menurut penelitian Ester Pudjo Widiasih yang dikutip oleh Dirgos, pada masa gereja awal hingga Abad Pertengahan, praktik makan bersama dengan roh orang yang telah meninggal sering kali dilakukan oleh gereja. Tradisi ini dikenal dengan istilah refrigerium meal atau makanan penyegar. Orang Kristen pada masa tersebut biasanya pergi ke kuburan pada hari ulang tahun kematian seorang martir atau Kristen lainnya, membawa makanan dan minuman untuk disantap sebagai refrigerium sebagai bentuk penghormatan kepada yang telah meninggal. Mereka percaya bahwa orang yang telah meninggal ikut serta dalam upacara makan bersama tersebut sebagai tuan rumah, dan mereka akan diberkahi di akhirat oleh makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Logika sederhana menjelaskan kebenaran berikut: Tidak mungkin ada praktik penghormatan kepada leluhur jika orang tidak percaya akan eksistensi jiwa manusia dan keyakinan bahwa jiwa manusia ini terus hidup setelah kematian fisik. Alex Jebadu mengutip karya Herbert Spencer yang menguraikan teori mereka tentang praktik penghormatan kepada leluhur. Spencer menyatakan hal-hal berikut: Melalui pengamatan populasi manusia yang beragam suku, masyarakat, dan bangsa, hampir semua manusia diyakini memiliki keyakinan yang kuat akan kebangkitan dari "Aku" yang lain setelah kematian seseorang. Dalam kelompok-kelompok ini, mayoritas masyarakat manusia diyakini percaya akan keberadaan "Aku" yang lain dari seseorang yang telah meninggal, dan yakin bahwa "Aku" yang lain itu hidup untuk jangka waktu yang lama setelah kematian. Sebagian dari masyarakat melaksanakan ritus perdamaian tidak hanya saat penguburan orang yang telah meninggal, tetapi juga pada waktu tertentu setelah Beberapa kelompok masyarakat modern telah mengembangkan bentuk-bentuk kultus kepada para leluhur. Terdapat kategori orang yang menghormati leluhur yang lebih penting secara lebih istimewa dibandingkan dengan yang kurang penting. Dirgos Charles Lumbantobing. Penghormatan Kepada Leluhur Dan Perananya Dalam Identitas Umat Percaya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 98Ae99. Lumbantobing, 99. Hubungan antara Orang Hidup dan Meninggal: Kajian Etika Kristen terhadap Ritual Mambere Mangan Nadob Matei Riski Bartimeus Mart Purba. Fredi Ardo Purba Ada juga kelompok orang yang menghormati leluhur sebagai perantara atau penghubung mereka. Hubungan Orang Hidup dan Meninggal dalam Kepercayaan Orang Simalungun Pada Masa Sebelum Masuk Agama Kristen Dalam kepercayaan leluhur, terdapat keyakinan akan adanya hubungan antara orang hidup dengan roh orang yang telah meninggal. Hubungan ini tercermin dalam berbagai upacara adat yang dilakukan terhadap orang-orang yang akan dan telah meninggal, seperti ritual MMNM. Contoh lainnya adalah Mangokal Holi . enggali tulang belulan. , pesta pendirian tugu, dan pesta tahunan di tugu-tugu marga. Kegiatan semacam ini dilaksanakan melalui upacara adat yang memiliki makna dan simbolisme tersendiri. Di kalangan Simalungun, terdapat stratifikasi dalam penyembahan terhadap tonduy atau roh leluhur. Penyembahan kepada simagot ditujukan kepada tonduy dari suatu rumpunan marga, sementara penyembahan kepada tonduy jabu ditujukan kepada roh nenek moyang dari suatu keluarga tertentu. Selain itu, terdapat juga penyembahan kepada sinumbah, yaitu roh-roh orang sakti yang tinggal di suatu tempat tertentu yang disebut parsinumbahan, tempat yang dianggap keramat. 30 Kekuatan-kekuatan tenaga ini memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menentukan kehidupan manusia. Bahkan, baik atau buruknya kehidupan manusia dapat ditentukan oleh bagaimana manusia merespons keberadaan kekuatan-kekuatan ini. Menurut Martin Lukito Sinaga, simagot memiliki makna sebagai roh yang memiliki karakter pribadi, dan hal ini menjadi pusat dari kepercayaan agama yang populer di kalangan masyarakat Simalungun. Simagot dianggap sebagai roh yang berasal dari Naibata (Alla. Dalam kepercayaan awal masyarakat Simalungun, simagot memiliki kedekatan emosional yang lebih kuat daripada Naibata, karena memberikan kepastian yang lebih praktis dalam menghadapi ancaman dari lingkungan dan alam. Alex Jebadu. Bukan Berhala! Penghormatan Kepada Para Leluhur (Maumere: Ledalero, 2. , 10Ae Silalahi. Pandangan Injil Terhadap Upacara Adat Batak, 138. Damanik. Dari ILAH Menuju ALLAH: Sejarah Kristianitas Di Simalungun Dalam Aras Perjumpaan Injil Dengan Kebudayaan, 66Ae67. Pasaribu. Agama Suku Dan Batakologi, 125. Martin Lukito Sinaga. Identitas Poskolonial Gereja Suku Dalam Masyarakat Sipil: Studi Tentang Jaulung Wismar Saragih Dan Komunitas Kristen Simalungn (Yogyakarta: LKiS, 2. , 40. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Pada Masa Setelah Masuk Agama Kristen Pada awal penyebaran agama Kristen di kalangan masyarakat Simalungun, para pengkhotbah agama Kristen tidak secara tegas menyebut kepercayaan tradisional Simalungun sebagai sesuatu yang kafir, karena fokus utama mereka adalah mengajak sejumlah orang Simalungun untuk menjadi Kristen. Namun, seiring dengan berkembangnya komunitas Kristen di kalangan mereka, istilah "kafir" semakin sering digunakan. Sebagian dari mereka mulai mempertimbangkan alternatif lain, yaitu dengan mengkategorikan kebudayaan Simalungun ke dalam tiga kategori: positif, netral, dan negatif. Lambat laun, masyarakat Simalungun terpengaruh oleh cara pandang dan klasifikasi kebudayaan yang dilakukan oleh para misionaris Batak. Selain itu, para misionaris juga berhasil menyebarkan kebudayaan Barat modern di kalangan mereka, sementara kepercayaan kepada roh-roh yang mereka sembah sebelumnya tidak mampu memberikan solusi untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dalam berbagai aspek kehidupan. 33 Zending juga menekankan konsep dosa dalam konteks partisipasi dalam upacara keagamaan tradisional Simalungun, dengan merujuk pada hukum kedua dari Sepuluh Perintah Allah dalam ajaran Kristen. 34 Zending juga menekankan konsep dosa dalam konteks partisipasi dalam upacara keagamaan tradisional Simalungun, dengan merujuk pada hukum kedua dari Sepuluh Perintah Allah dalam ajaran Kristen. 35 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masuknya kristianitas telah berhasil menghilangkan kepercayaan tradisional Simalungun, termasuk ritual MMNM. Padahal, setiap ritual kebudayaan mengandung aspek religius yang disebut Aubudaya spiritualAy. 36 Selain itu, ritual dapat menjadi sebuah sarana bagi pengajaran teologi bagi masyarakat yang memilikinya. Kajian Etika Kristen terhadap Ritual Mambere Mangan Nadob Matei Penilaian atas suatu budaya, umumnya diperhadapkan dengan narasi atau teks Alkitab sebagai patokan kehidupan orang Kristen. Penggalian makna teks Alkitab yang ada dapat dilakukan dengan menggunakan hermeneutik kontekstual ketika diperhadapkan dengan kebudayaan yang ada. Hermeneutik kontekstual Alkitab adalah pendekatan dalam membaca Damanik. Dari ILAH Menuju ALLAH: Sejarah Kekristenan Di Simalungun Dalam Aras Perjumpaan Injil Dengan Kebudayaan, 432. Damanik, 366. Damanik, 366. Emanuel Gerrit Singgih. Berteologi Dalam Konteks: Pemikiran-Pemikiran Mengenai Kontekstualisasi Teologi Indonesia (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 85. Hubungan antara Orang Hidup dan Meninggal: Kajian Etika Kristen terhadap Ritual Mambere Mangan Nadob Matei Riski Bartimeus Mart Purba. Fredi Ardo Purba dan menafsirkan teks-teks Alkitab dengan mempertimbangkan konteks kehidupan yang spesifik dari para pembacanya. Dalam mengembangkan hermeneutik kontekstual di Indonesia, penting untuk memperhatikan konteks sosio-kultural religius Asia dan keragaman agama serta tradisi keagamaan sebagai aspek yang sangat relevan. Hal ini membantu dalam memahami bagaimana teks-teks Alkitab dapat diinterpretasikan dan diaplikasikan secara relevan dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam, sehingga ditemukan relevansi dan makna yang lebih dalam bagi para pembaca di Indonesia. Hal ini memungkinkan teks-teks Alkitab untuk berbicara secara langsung dengan realitas kehidupan masyarakat lokal, menggali nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya, dan memberikan petunjuk serta arahan yang sesuai dengan tantangan dan situasi yang dihadapi oleh masyarakat tersebut. Untuk itu, kita dapat menciptakan pendekatan yang lebih inklusif dan relevan dalam memahami dan menginterpretasikan teks-teks Alkitab, serta mengaplikasikan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Narasi 1Samuel 28:1-25 mengisahkan tentang saat raja Saul merasa gentar menghadapi ancaman serangan dari bangsa Filistin, sementara nabi Samuel telah meninggal. Dalam keputusasaannya. Saul mencoba mencari jawaban dari Tuhan melalui mimpi atau perantara seorang nabi, tetapi Tuhan tidak memberikan jawaban. Maka. Saul meminta para pengawalnya mencarikan seorang perempuan yang bisa memanggil arwah. Setelah ditemukan. Saul pergi ke En-Dor di malam hari dengan menyamar bersama dua pengawalnya untuk menemui seorang dukun wanita. Menurut Kenneth Chafin, alasan Saul pergi di malam hari adalah untuk menghindari pengawasan orang Filistin, dan juga diyakini bahwa pada malam hari lebih mudah bagi perantara untuk menghubungi arwah di dalam Sheol. Saul berharap untuk memperoleh petunjuk dan solusi atas masalah yang dihadapinya, sehingga ia meminta dukun perempuan tersebut untuk memanggil roh Samuel kepadanya. Namun, menurut Bill T. Arnold, kejadian ini sangat ironis karena Saul sebelumnya telah mengusir para pemanggil arwah, tetapi sekarang justru meminta bantuan kepada mereka. Hal ini menciptakan kontradiksi dalam perilaku Saul. Daniel K. Listijabudi. Bergulat Di Tepian: Pembacaan Lintas Tekstual Dua Kisah Mistik (Dewa Ruci Dan Yakub Di Yabo. Untuk Membangun Perdamaian (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 33. Kenneth Chafin. II Samuel (Dallas: Thomas Nelson Publisher, 2. , 219. Bill T. Arnold. Au1 and 2 Samuel,Ay in NIV Application Commentary, ed. Muck Terry (Grand Rapids: Zondervan, 2. , 373. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Pada ayat 12, dukun perempuan itu sangat terkejut dan ketakutan ketika Samuel benarbenar muncul, dan dia baru menyadari bahwa orang yang meminta tolong kepadanya adalah raja Saul, yang sebelumnya telah membunuh para dukun. Perempuan itu menjelaskan kepada Saul bahwa dia melihat sesuatu yang seperti dewa muncul dari dalam bumi, menyerupai seorang tua dengan jubah. Mendengar penjelasan itu. Saul menyimpulkan bahwa roh itu adalah Samuel. Setelah pemunculan "Samuel," dialog antara Saul dan Samuel Samuel menyampaikan bahwa karena ketidaktaatan Saul, dia dan keluarganya akan mengalami kekalahan dalam perang dan akan berakhir dengan kematian, sementara tentara Israel akan diserahkan oleh Tuhan kepada orang Filistin. Mendengar informasi itu. Saul menjadi sangat takut dan kehilangan kekuatannya sehingga ia tidak makan apa pun sepanjang hari itu. Akhirnya, ia dibujuk oleh dukun perempuan untuk mau makan. Setelah kejadian tersebut. Saul pulang pada malam hari itu juga. Pada ayat 13 perempuan itu melihat sesuatu yang ilahi muncul. kata ilahi . ini berarti AuAllahAy, atau AuIlahiAy. Maka kata ini merujuk kepada kuasa Allah sendiri yang hadir, maka hanya nabi Samuel yang memiliki kuasa itu. Penulis melihat kehadiran Samuel dalam narasi 1 Samuel 28 sebagai pertanda kehadiran Allah kepada Saul. Saul telah menanti jawaban dari Tuhan sebelum berperang melawan bangsa Filistin, tetapi Tuhan tidak lagi menjawab Saul. Inilah alasan Saul memanggil roh Samuel untuk meminta petunjuk dalam menghadapi bangsa Filistin. Penulis melihat bahwa wujud Tuhan yang dinantikan Saul muncul melalui roh Samuel tersebut. Seperti yang telah dijelaskan. Samuel muncul sebagai "yang ilahi" . , menunjukkan bahwa Samuel adalah utusan Tuhan dan leluhur dari bangsa Israel yang telah menuntun dan memberkati Saul menjadi raja. Meskipun Samuel telah meninggal, dia masih dapat menuntun dan menjadi wakil Allah bagi Saul, meskipun dalam narasi ini Samuel hadir dalam bentuk arwah yang dipanggil oleh perempuan Mambere Mangan Nadob Matei dalam Upaya Berteologi Kontekstual Melalui teks 1 Samuel 28, terlihat jelas bahwa setelah Samuel meninggal, keberadaannya tidak berakhir sepenuhnya. Dia masih dapat memberikan petunjuk kepada Saul melalui mediator perempuan yang diyakini sanggup memanggil arwah. Arwah Samuel hadir untuk memperingatkan Saul tentang apa yang akan terjadi kepadanya. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara Saul dan Samuel tidak terputus begitu saja oleh Hubungan antara Orang Hidup dan Meninggal: Kajian Etika Kristen terhadap Ritual Mambere Mangan Nadob Matei Riski Bartimeus Mart Purba. Fredi Ardo Purba Sebagaimana disampaikan oleh Hendri, relasi antara keduanya terus berlangsung meskipun dalam konteks yang berbeda setelah kematian Samuel. Verne H. Fletcher menjelaskan bahwa tolak ukur pokok etika Kristen adalah pribadi dan karya Yesus Kristus itu sendiri. 40 Etika dalam Alkitab adalah kontekstual, yang berarti etika tersebut merupakan implementasi konkret dari ajaran yang bersumber dari kata-kata Alkitab. Meskipun etika tersebut disesuaikan dengan konteks waktu dan budaya, asal muasalnya tetaplah dari tabiat dan kehendak Allah yang tidak berubah. 41 Tentu, sangat penting untuk memahami bahwa ketika kita berbicara tentang etika Kristen di Indonesia, kita harus mempertimbangkan sistem nilai yang ada dalam budaya Indonesia yang menjadi Etika yang berlaku di suatu masyarakat tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai, norma-norma, dan kepercayaan yang ada dalam budaya tersebut. Etika yang berfungsi dengan baik haruslah tidak hanya bersifat universal, artinya dapat diterapkan di berbagai konteks budaya, tetapi juga haruslah kontekstual, yaitu mampu disesuaikan dengan nilainilai dan praktik-praktik yang ada dalam budaya setempat. Pendekatan Bevans dalam kontekstualisasi kristianitas bagi orang Simalungun dengan mempertimbangkan sistem dan nilai budaya mereka sangatlah relevan. Dengan memahami dan menghormati nilai-nilai serta praktik-praktik budaya orang Simalungun, gereja dapat membangun hubungan yang lebih kuat dan relevan dengan komunitas tersebut. Terutama dalam hal konsep kehidupan setelah kematian, penting bagi gereja untuk mengakomodasi keyakinan dan praktik lokal, seperti yang tercermin dalam ritual MMNM, di mana keberadaan tonduy masih dianggap berhubungan dengan orang hidup. Dengan demikian, gereja dapat memberikan pencerahan teologis yang lebih baik yang sesuai dengan konteks budaya setempat, sambil tetap mempertahankan esensi iman Kristen. Dalam konteks ritual MMNM, peran orang tua sebagai Naibata nataridah43 sangat penting karena mereka dianggap sebagai representasi Allah di dunia ini bagi orang Simalungun. Meskipun orang tua sudah meninggal, konsep Naibata nataridah tetap dapat dirasakan melalui kehadiran tonduy. Orang Simalungun melihat bagaimana wujud asli Naibata nataridah dapat dirasakan melalui orang tua, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah mereka meninggal. Konsep ini membuat orang Simalungun menghormati Verne H. Fletcher. Lihatlah Sang Manusia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 1Ae2. Bernard T. Adeney. Etika Sosial Lintas Budaya (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 120. Eka Darmaputera. Etika Sederhana Untuk Semua: Perkenalan Pertama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 95. Purba. AuTradisi Mambere Namalum Pakon Mambere Tukot Sebagai Bentuk Menghormati Orang Tua Sebagai Naibata Na Taridah (Allah Yang Kelihata. : Sebuah Kajian Etis Teologis,Ay 8. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. dan memuja orang tua mereka, percaya bahwa simagot dari leluhur akan memberkati keturunan mereka. Dalam hermeneutik terhadap 1 Samuel 28, kita melihat bahwa Allah tidak memberikan petunjuk langsung kepada Saul. Sebagai gantinya. Saul meminta petunjuk kepada arwah Samuel melalui perantaraan seorang perempuan penenung karena ia akan menghadapi bangsa Filistin. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara Saul dan Samuel tetap berlanjut meskipun Samuel sudah meninggal, dan Samuel berperan sebagai abdi Allah yang memberikan petunjuk kepada Saul. Pentingnya meyakini adanya hubungan antara orang hidup dengan orang yang sudah meninggal memang menjadi bagian integral dari kehidupan dan kepercayaan orang Simalungun. Melalui keyakinan ini, yang diekspresikan melalui ritual MMNM, mereka senantiasa menghormati, mengenang, dan menghargai orang tua dan leluhur mereka. Ritual ini menjadi sarana bagi mereka untuk menjaga ingatan akan kesatuan keluarga, terutama saat orang tua atau leluhur mereka masih hidup di dunia ini dan menerima makanan sebagai bentuk penghormatan. Dengan demikian, ritual MMNM bukan hanya sekadar praktik keagamaan, tetapi juga memperkuat ikatan keluarga dan menjaga kontinuitas budaya serta nilai-nilai tradisional mereka. KESIMPULAN Analisis etika Kristen terhadap ritual Mambere Mangan Naddob Matei membuka pemahaman tentang kompleksitas hubungan antara orang hidup dan yang telah meninggal dalam konteks keagamaan dan budaya. Ritual ini, dengan nilai-nilai dan keyakinan yang terkait dengannya, menghadirkan tantangan etis yang perlu dipertimbangkan dalam kerangka pemahaman etika Kristen. Dalam perspektif etika Kristen, prinsip-prinsip seperti kasih, penghargaan terhadap martabat manusia, penghindaran terhadap penyembahan rohroh, dan pertimbangan terhadap pengaruh sosial dan komunitas menjadi krusial dalam mengevaluasi ritual Mambere Mangan Nadob Matei. Pentingnya memastikan bahwa praktik-praktik ritual tersebut tidak melanggar prinsip-prinsip etika Kristen yang mendasar. Namun, terdapat peluang untuk integrasi dan dialog antara tradisi lokal dan nilai-nilai Kristen. Melalui pemahaman yang lebih dalam dan dialog antarbudaya yang terbuka, masyarakat dapat mencapai kesepakatan yang menghormati kedua belah pihak tanpa mengorbankan integritas teologis atau moral. Dengan demikian, kajian etika Kristen terhadap ritual mambere mangan na dob matei dapat menjadi pijakan bagi pemahaman yang Hubungan antara Orang Hidup dan Meninggal: Kajian Etika Kristen terhadap Ritual Mambere Mangan Nadob Matei Riski Bartimeus Mart Purba. Fredi Ardo Purba lebih inklusif tentang spiritualitas dan praktik keagamaan dalam masyarakat yang beragam budaya dan kepercayaan. DAFTAR PUSTAKA