Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 ANTARA KESEMPATAN DAN KETERBATASAN: STATUS SOSIAL EKONOMI KELUARGA DAN CAPAIAN PENDIDIKAN ANAK Sifa Alfadila 1. Nadya Fatika 2. Eka Syifa Andrini 3. Yusran Rabbani Fandika 4. Syifa Almanda 5. Arif Saefudin 6 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Email: arifsae@uinjkt. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara status sosial ekonomi keluarga dan capaian pendidikan anak pada masyarakat berpenghasilan rendah. Latar belakang penelitian ini berangkat dari masih tingginya kesenjangan pendidikan di Indonesia yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus di Kelurahan Sudimara Barat. Tangerang, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi berdampak pada akses pendidikan, fasilitas belajar, serta peluang melanjutkan studi. Namun, dukungan sosial dari orang tua, guru, dan teman sebaya mampu menjaga motivasi belajar dan menjadi penyeimbang di tengah keterbatasan finansial. Penelitian ini menegaskan bahwa ketimpangan pendidikan tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi, tetapi juga keterbatasan modal sosial dan budaya keluarga. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya kajian sosiologi pendidikan tentang interaksi antara modal ekonomi, sosial, dan budaya, sedangkan secara praktis, hasilnya merekomendasikan kebijakan pendidikan yang lebih inklusif dan informatif bagi keluarga berpenghasilan rendah. Kata kunci: status ekonomi, capaian pendidikan, keterbatasan ekonomi, akses pendidikan, motivasi Abstract This study examines the relationship between family socioeconomic status and children's educational attainment in low-income communities. The research stems from the persistent educational inequality in Indonesia, largely influenced by family economic conditions. Using a qualitative case study design conducted in Sudimara Barat. Tangerang, data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation, then analyzed thematically. The results show that economic limitations affect access to education, learning facilities, and opportunities for higher However, social support from parents, teachers, and peers helps sustain studentsAo learning motivation and serves as a balancing factor amid financial constraints. The study reveals that educational inequality is shaped not only by economic factors but also by the lack of social and cultural capital within families. Theoretically, it contributes to the sociology of education by exploring the interaction between economic, social, and cultural capital. Practically, it recommends more inclusive and information-based educational policies to improve access and equity for lowincome families. Keywords: socioeconomic status, educational attainment, educational inequality, social support, low-income families Melalui masyarakat memperoleh kemampuan untuk berkembang secara intelektual, emosional, dan moral, sehingga dapat berkontribusi pada pembangunan bangsa. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu hak dasar setiap warga negara dan menjadi instrumen penting dalam menciptakan kehidupan sosial yang adil serta Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 Dalam konteks Indonesia, pendidikan tidak hanya dilihat sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai alat mobilitas sosial yang memungkinkan seseorang memperbaiki taraf hidupnya (Seknun, 2. Namun, realitas sosial menunjukkan bahwa tidak semua warga negara memperoleh kesempatan yang sama dalam mengakses pendidikan Faktor sosial ekonomi keluarga masih menjadi salah satu determinan utama yang memengaruhi capaian pendidikan anak, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (Astuti, 2. Kesenjangan Indonesia berkaitan erat dengan kondisi sosial ekonomi keluarga. Anak-anak yang berasal dari keluarga dengan penghasilan rendah cenderung menghadapi berbagai hambatan dalam proses belajar, mulai dari keterbatasan biaya sekolah, fasilitas belajar yang tidak memadai, hingga kurangnya dukungan lingkungan sosial yang kondusif (Zulriyawan & Pierewan. Faktor ekonomi ini berpengaruh terhadap kemampuan anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Meskipun pemerintah telah meluncurkan berbagai program seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP), implementasinya di lapangan sering kali belum optimal. Tidak semua siswa dari keluarga miskin dapat mengakses bantuan tersebut secara merata dan berkelanjutan (Sufni, 2. Akibatnya, masih terdapat ketimpangan yang signifikan antara kelompok ekonomi bawah dan atas dalam hal kesempatan dan capaian pendidikan. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa faktor ekonomi bukan satu-satunya pendidikan, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan dukungan keluarga. Anak-anak yang memperoleh dukungan moral dan sosial dari orang tua, guru, serta teman sebaya cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi, meskipun kondisi ekonomi mereka terbatas (Nurhijriah & Irmansah, 2. Dalam konteks ini, dukungan sosial dapat berperan sebagai modal non-ekonomi yang memperkuat daya juang anak dalam menghadapi keterbatasan finansial. Selain itu, pendidikan orang tua dan pandangan mereka terhadap pentingnya pendidikan juga berpengaruh terhadap aspirasi belajar Orang tua yang memiliki kesadaran tinggi tentang pentingnya pendidikan umumnya mendorong anak untuk terus bersekolah, walau harus menghadapi kendala ekonomi (Makalalag et al. , 2. Namun demikian, masih terdapat kesenjangan dalam memahami secara mendalam bagaimana anak-anak dari keluarga ekonomi rendah menavigasi keterbatasan yang mereka alami dalam dunia pendidikan. Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada pendekatan kuantitatif yang menyoroti hubungan antara pendapatan keluarga dan capaian akademik, sementara aspek kualitatif seperti pengalaman subjektif, strategi adaptif, dan peran dukungan sosial belum banyak dikaji (Reka Wirawan & PGRI Madiun, 2. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk menggali secara lebih mendalam hubungan antara status sosial ekonomi keluarga dan capaian pendidikan anak, dengan menyoroti pengalaman, pandangan, serta strategi keluarga dalam menghadapi keterbatasan ekonomi. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian tentang ketimpangan pendidikan melalui khususnya dalam memahami hubungan antara faktor ekonomi, sosial, dan budaya terhadap pencapaian akademik anak. Sementara secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan merumuskan kebijakan dan program bantuan pendidikan yang lebih inklusif, efektif, dan berkelanjutan. Dengan memahami dinamika sosial ekonomi dan pengalaman keluarga penerima manfaat. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 kebijakan pendidikan diharapkan dapat diarahkan untuk mendorong kesetaraan kesempatan belajar bagi seluruh anak Indonesia (Nurlaily et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Pengalaman Anak dari Keluarga dengan Status Sosial Ekonomi Berbeda Berdasarkan hasil wawancara, pengalaman anak-anak dalam menempuh pendidikan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarganya. Narasumber dari keluarga berpenghasilan rendah mengaku bahwa proses sekolah berjalan cukup baik, meskipun mereka sering menghadapi kendala biaya. Aktivitas belajar di sekolah dirasa kesempatan untuk bertemu teman, berinteraksi, dan saling menyemangati. Namun, sebagian anak juga merasakan dibandingkan teman-temannya yang berasal dari keluarga mampu, terutama dalam hal ketersediaan fasilitas belajar, kemampuan mengikuti les tambahan, atau kesiapan masa depan yang lebih terarah karena dukungan finansial keluarga. Dalam konteks sosial, dukungan dari guru dan teman menjadi faktor penting dalam mempertahankan motivasi Guru dianggap sebagai figur yang memberikan semangat, bimbingan, serta perhatian khusus kepada siswa yang menghadapi kesulitan ekonomi. Selain itu, lingkungan sosial di sekolah turut memengaruhi semangat belajar anak. Ketika berada dalam kelompok teman yang rajin, anak merasa lebih termotivasi untuk belajar. sebaliknya, lingkungan yang kurang positif dapat menurunkan semangat mereka. Salah satu narasumber yang telah menyelesaikan pendidikan menengah atas menuturkan bahwa meskipun masa sekolahnya berjalan lancar, ia tidak dapat melanjutkan kuliah karena keterbatasan Ia menyampaikan. AuSaya sempat daftar kuliah, tapi tidak bisa lanjut karena uang pangkalnya besar. Ay Pernyataan ini memperlihatkan bagaimana kesenjangan ekonomi menjadi faktor penentu dalam keberlanjutan pendidikan, bahkan ketika motivasi untuk belajar masih tinggi. METODE Penelitian pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus (Aprina et al. , 2. untuk memahami secara mendalam bagaimana memengaruhi jalur pendidikan anak. Lokasi penelitian ditetapkan di Kelurahan Sudimara Barat. Kecamatan Ciledug. Tangerang. Banten, yang dipilih karena mencerminkan keragaman kondisi sosial Narasumber ditentukan dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu, yang relevan dengan tujuan penelitian (Astini et al. , 2. Kriteria narasumber dalam penelitian ini adalah anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi rendah yang mengalami keterbatasan biaya Kriteria ini ditetapkan agar benar-benar menggambarkan realitas sosial dari kelompok yang menjadi fokus penelitian. Jumlah informan disesuaikan hingga mencapai titik saturasi data. Data partisipatif, dan dokumentasi (Amaliyah & Rahmat, 2. Seluruh data dianalisis menggunakan analisis tematik, dengan tahapan mulai dari transkripsi, reduksi data, proses koding, hingga penarikan tema-tema utama yang menjelaskan hubungan antara status sosial ekonomi keluarga dan jalur pendidikan anak. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menerapkan strategi triangulasi sumber, triangulasi metode, serta member check dengan para Aspek etika penelitian dijaga melalui persetujuan partisipan . nformed consen. , kerahasiaan identitas, serta kebebasan informan untuk menarik diri dari penelitian kapan pun diperlukan. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 Secara teoritis, pengalaman ini dapat dijelaskan melalui perspektif memandang pendidikan sebagai sarana mobilitas sosial dan alat untuk mempertahankan keteraturan sosial (Niko & Yulasteriyani, 2020. Nugroho, 2. Namun, fungsinya hanya berjalan efektif apabila akses terhadap pendidikan bersifat Realitas yang ditemukan ekonomi masih menjadi penghambat utama mobilitas pendidikan. Hal ini juga sejalan dengan penelitian (Arti Febriyani Hutasuhut, 2. yang menegaskan bahwa status sosial ekonomi memiliki pengaruh signifikan terhadap kesempatan dan keberlanjutan pendidikan anak. Dalam kerangka modal sosial, dukungan guru dan teman dapat dianggap sebagai modal sosial yang berperan ekonomi (Wijana & Suhardi, 2. Anak-anak dengan lingkungan sosial yang semangat belajar meski tidak memiliki fasilitas yang memadai. Dengan demikian, lingkungan sosial yang inklusif dan penuh dukungan memiliki potensi besar untuk menjadi jembatan pemerataan kesempatan pendidikan di tengah keterbatasan Kendala memengaruhi masa sekolah, tetapi juga menentukan apakah seseorang bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Salah satu narasumber menyebut bahwa bantuan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) sangat membantu, tetapi tidak semua siswa mendapatkannya secara Ada pula yang mengalami penghentian bantuan karena kurangnya informasi untuk tahap selanjutnya. Ketidakpastian ini membuat keluarga sulit merencanakan kebutuhan pendidikan jangka panjang. Dalam situasi tertentu, orang tua bahkan harus mencari pinjaman atau menunda pembayaran ke sekolah demi kelangsungan pendidikan anak. Temuan ini memperkuat hasil penelitian Hikmah et al. , . yang menyatakan bahwa hambatan ekonomi menjadi penghalang utama keberlanjutan pendidikan anak dari keluarga miskin. Namun, penelitian ini juga menambahkan dimensi baru, yaitu ketimpangan Banyak keluarga tidak mengetahui prosedur pengajuan bantuan atau beasiswa, sehingga mereka gagal mendapatkan dukungan yang sebenarnya Keterbatasan akses informasi juga menjadi salah satu penyebab rendahnya keberlanjutan pendidikan pada kelompok masyarakat miskin. Penelitian Yusup et . menunjukkan bahwa kemiskinan di pedesaan tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan ekonomi, tetapi juga oleh rendahnya kemampuan dan kesempatan dalam mengakses sumber Kondisi serupa dapat ditemukan dalam konteks pendidikan, di mana keluarga miskin sering kali tertinggal dalam memperoleh informasi mengenai peluang beasiswa, jalur pendidikan, atau dukungan pembelajaran, pendidikan antara kelompok kaya dan 2 Bentuk Keterbatasan Pendidikan Anak dari Keluarga Ekonomi Rendah Hasil wawancara menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi menjadi hambatan paling nyata dalam proses anak-anak Beberapa narasumber mengaku kesulitan membayar perlengkapan, kegiatan ekstrakurikuler, hingga biaya transportasi. Banyak dari mereka tidak memiliki ruang belajar khusus di rumah karena kondisi tempat tinggal yang sempit. Selain itu, perangkat belajar seperti laptop tidak dimiliki, sehingga siswa hanya mengandalkan ponsel untuk mengakses bahan ajar. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 Keterbatasan yang dialami anakanak dari keluarga ekonomi rendah bukan sekadar masalah finansial, tetapi juga merupakan bentuk hambatan sistemik yang melekat dalam struktur sosial Kurangnya memperparah kondisi ini. Oleh karena itu, diperlukan intervensi kebijakan yang tidak hanya berfokus pada bantuan material, tetapi juga pada peningkatan literasi pendidikan di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. Secara pendidikan tidak dapat dicapai hanya Kesetaraan sejati menuntut keterlibatan aktif sekolah dan pemerintah dalam membangun sistem pendukung yang informatif, transparan, dan berkelanjutan agar siswa dari keluarga miskin benarbenar memiliki peluang yang sama untuk semangat, pengawasan terhadap kegiatan belajar, dan pujian atas prestasi anak. Meskipun sederhana, bentuk dukungan ini memberikan dampak signifikan terhadap motivasi anak untuk tetap bersekolah. Seorang narasumber menuturkan bahwa orang tuanya selalu mengingatkan pentingnya pendidikan dan meyakinkan bahwa belajar adalah jalan untuk mengubah nasib. Keterlibatan orang tua terbukti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pencapaian akademik anak. Temuan ini didukung oleh penelitian Rantari et al. , . , yang menunjukkan bahwa dukungan moral dan sosial dari orang tua melalui komunikasi aktif, pendampingan belajar, serta motivasi emosional mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Hasil serupa juga ditemukan oleh Rahmawati & Mufidah . yang menegaskan bahwa partisipasi orang tua dalam kegiatan sekolah dan pemberian dukungan emosional di rumah dapat memperkuat rasa percaya diri dan minat Dengan kolaborasi antara keluarga dan sekolah menjadi faktor penting dalam membangun keberhasilan akademik peserta didik. Refleksi menunjukkan bahwa pendidikan keluarga merupakan pilar penting dalam proses pendidikan formal. Meskipun ekonomi rendah, nilai-nilai kerja keras dan tekad yang diajarkan oleh orang tua menjadi fondasi karakter anak untuk terus Dukungan ini tidak hanya membentuk motivasi, tetapi juga membangun ketahanan psikologis anak dalam menghadapi tekanan ekonomi. 3 Pandangan dan Strategi Orang Tua dalam Mendukung Pendidikan Anak Pandangan orang tua terhadap pentingnya pendidikan umumnya positif. Mereka memandang pendidikan sebagai cara untuk memperbaiki kehidupan keluarga dan menjamin masa depan anak yang lebih baik. Namun, semangat tersebut sering kali berbenturan dengan keterbatasan ekonomi. Orang tua harus berhemat, bekerja lebih keras, bahkan pendidikan anak tetap terpenuhi. Dalam banyak kasus, mereka menyesuaikan memprioritaskan biaya sekolah meskipun harus mengorbankan kebutuhan lain. Salah satu narasumber yang tidak menjelaskan bahwa orang tuanya sangat mendukung pendidikan, tetapi realistis dengan keadaan ekonomi yang dimiliki. Selain dukungan moral menjadi aspek penting. Para orang tua memberikan dorongan Faktor yang Memengaruhi Perbedaan Capaian Pendidikan Anak Perbedaan capaian pendidikan antara anak dari keluarga mampu dan kurang mampu sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, dan kultural. Anak dari keluarga berpenghasilan tinggi memiliki akses yang lebih luas terhadap fasilitas pendidikan seperti bimbingan Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 belajar, perangkat digital, dan lingkungan belajar yang nyaman. Sebaliknya, anakanak dari keluarga miskin harus berjuang lebih keras dengan keterbatasan fasilitas dan waktu belajar. Namun, motivasi intrinsik dan dukungan sosial terbukti menjadi faktor penyeimbang yang Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sosial, terutama teman sebaya, guru, dan masyarakat berperan penting dalam membentuk semangat Dukungan dari guru yang mengerti keadaan, teman yang rajin, dan masyarakat yang menghargai pendidikan dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi untuk berprestasi. Sebaliknya, lingkungan yang tidak mendukung akan memperlemah semangat belajar dan memperparah ketimpangan pendidikan. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Nurhijriah & Irmansah . yang menegaskan bahwa dukungan moral dan finansial orang tua berhubungan positif dengan motivasi belajar siswa. Dalam pandangan Bourdieu, hal ini merupakan arena reproduksi sosial di mana modal ekonomi, sosial, dan budaya saling berinteraksi (Agus Siswadi, 2. Namun, dengan adanya dukungan sosial yang kuat, reproduksi ketimpangan tersebut dapat diminimalkan. Secara reflektif, temuan ini pendidikan anak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan finansial, tetapi juga oleh kualitas hubungan sosial di sekitar Pendidikan akan lebih efektif jika seluruh elemen yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat, bersinergi menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan Penelitian ini memiliki beberapa Pertama, jumlah narasumber yang terbatas membuat hasil penelitian ini belum dapat digeneralisasikan secara luas untuk seluruh kelompok sosial ekonomi di Indonesia. Penelitian ini berfokus pada konteks siswa sekolah menengah dan lulusan SMA yang tidak melanjutkan menggambarkan pengalaman kelompok Kedua, keterbatasan waktu dan ruang observasi menyebabkan peneliti belum dapat menggali secara mendalam dinamika keluarga atau kebijakan yang berperan dalam membentuk kesenjangan pendidikan. Selain itu, data yang diperoleh melalui wawancara bersifat subjektif dan sangat bergantung pada pengalaman Meskipun triangulasi dilakukan untuk menjaga keabsahan data, tetap diperlukan penelitian lanjutan dengan pendekatan yang lebih luas, misalnya melalui wawancara dengan pihak sekolah, orang tua, serta pembuat kebijakan agar Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar peneliti menelusuri peran kebijakan publik dan program bantuan pendidikan dalam menekan kesenjangan akses antar kelompok sosial. Penelitian masa depan juga dapat memperdalam kajian mengenai modal sosial dan budaya yang dimiliki keluarga berpenghasilan rendah, serta bagaimana faktor-faktor tersebut membantu mereka bertahan dalam sistem pendidikan. Selain itu, penting untuk meneliti secara longitudinal bagaimana kondisi ekonomi keluarga berpengaruh terhadap keberlanjutan pendidikan anak hingga tingkat perguruan Dengan demikian, penelitian menggambarkan realitas sosial yang ada, tetapi juga menawarkan solusi konkret dan model intervensi pendidikan yang lebih berkeadilan bagi seluruh peserta KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa status sosial ekonomi keluarga memiliki pengaruh yang kuat terhadap capaian pendidikan anak di Indonesia. Anak-anak Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 dari keluarga berpenghasilan rendah menghadapi hambatan kompleks berupa keterbatasan biaya, fasilitas belajar yang tidak memadai, serta rendahnya akses terhadap informasi pendidikan. Namun demikian, dukungan moral dari orang tua, guru, dan lingkungan sosial terbukti mampu menjadi faktor penyeimbang yang penting dalam menjaga motivasi belajar dan keberlanjutan pendidikan anak. Secara ilmiah, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap kajian sosiologi pendidikan dengan memperkaya pemahaman tentang interaksi antara modal ekonomi, sosial, dan budaya dalam menentukan capaian pendidikan. Temuan ini menegaskan bahwa ketimpangan pendidikan tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi semata, melainkan juga oleh keterbatasan modal sosial dan informasi, serta struktur sosial yang belum sepenuhnya inklusif. Secara praktis, hasil penelitian ini pendidikan yang lebih adaptif terhadap kondisi sosial ekonomi keluarga miskin. Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu memperkuat program bantuan pendidikan dengan sistem distribusi yang transparan, peningkatan literasi pendidikan bagi keluarga berpenghasilan rendah, serta kolaborasi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga untuk membangun dukungan sosial yang berkelanjutan. Dengan demikian, pemerataan kesempatan belajar dapat lebih terwujud, dan pendidikan benar-benar menjadi sarana mobilitas sosial yang adil bagi seluruh anak bangsa. Attadib: Journal Of Elementary Education, 5. Https://Doi. Org/10. 32507/Attadib. Aprina. Irmayanti. Herliani. Hatimah. Ayu Pratiwi. , & Aslamiah. Ketimpangan Dukungan Dalam Pendidikan: Keterbatasan Ekonomi. Teknologi Dan Kesiapan Siswa Di Sdn Sungai Miai 8 Banjarmasin. Didaktik : Jurnal Ilmiah Pgsd Stkip Subang, 10. Http://Scioteca. Caf. Com/Bitstream/ Handle/123456789/1091/Red2017Eng8ene. Pdf?Sequence=12&Isallowed= Yhttp://Dx. Doi. Org/10. 1016/J. 005https:// w. Researchgate. Net/Publication/ 305320484_Sistem_Pembetungan_T erpusat_Strategi_Melestari Arti Febriyani Hutasuhut. 2428-8034-1-Pb. Jurnal Psikologi Malahayati, 2. , 60Ae75. Astini. Safarina. , & Suzanna. Jurnal Penelitian Psikologi. Penelitian Psikologi, 13. , 25Ae30. Astuti. Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Minat Melanjutkan Pendidikan Anak Di Desa Wunse Jaya Kecamatan Wawonii Tenggara Kabupaten Konawe Kepulauan. Jurnal AlTaAodib, 10. , 163Ae180. Hikmah. Quraisy. , & Arifin. Kemiskinan Dan Putus Sekolah. Jurnal Equilibrium Pendidikan Sosiologi, 4. , 1Ae10. Https://Media. Neliti. Com/Media/Pub lications/70308-Id-FenomenaPlagiarisme-Mahasiswa. Pdf Makalalag. Arham. Saleh. & Sudirman. Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga Dan Motivasi Belajar Terhadap Minat Melanjutkan Studi Mahasiswa Angkatan 2022. , 211Ae224. Niko. -, & Yulasteriyani. Pembangunan Masyarakat Miskin Di Pedesaan Perspektif Fungsionalisme DAFTAR PUSTAKA