Volume 10. Nomor 1, 2026 . e-ISSN: 2579-5929 Keanekaragaman Burung pada Berbagai Tipe Vegetasi di Resort Aikmel. Taman Nasional Gunung Rinjani. Nusa Tenggara Barat (Bird DiversityAcross Vegetation Types in Aikmel Resort. Mount Rinjani National Park. Nusa Tenggara Bara. Anesha Allasselcida1*. Dinda Tri Agustina1. Niskan Walid Masruri1. Viny Volcherina Darlis1. Lefdi Agung Nugraha1. Hanifah Ikhsani1 & Nurul Qomar1 Article History: Received: Jun 2, 2026 Reviewed: Jun 9, 2026 Accepted: Jun 23, 2026 Published: Jun 30, 2026 Keywords: Bird community, habitat assessment, secondary succession, species richness, tropical Jurusan Kehutanan. Fakultas Pertanian. Universitas Riau. Pekanbaru, 28293 *Email: anesha. allasselcida@lecturer. Abstract Bird diversity is closely associated with habitat characteristics and is widely used as an indicator of ecosystem condition. This study analyzed bird diversity across four vegetation types in Aikmel Resort. Mount Rinjani National Park, namely primary dryland forest, secondary dryland forest, savanna, and post-encroachment areas (PKTI). Bird surveys were conducted using the point count method at 20 observation points, with five points established in each vegetation type and repeated during morning and afternoon observation periods. Species composition, diversity index, species richness, dominance, and species similarity were analyzed to compare bird communities among habitats. A total of 503 individuals representing 22 species from 16 families were recorded, including three endemic species. The PKTI area supported the highest number of individuals and species . 13 specie. , whereas the savanna had the lowest . 8 specie. Primary dryland forest exhibited the highest diversity index . aAo = 2,. , while secondary dryland forest showed the highest species richness index . cI = 2,. The highest species similarity was observed between primary and secondary dryland forests . One-way ANOVA revealed significant differences in both species richness and bird abundance among vegetation types . cy < 0,. Differences in bird community structure among habitats were associated with variation in vegetation characteristics and habitat These findings highlight the importance of maintaining habitat heterogeneity to support bird conservation in Mount Rinjani National Park. Pendahuluan Burung merupakan salah satu komponen penting dalam ekosistem hutan karena berperan sebagai penyerbuk, penyebar biji, pengendali populasi serangga, serta bioindikator perubahan Komposisi keanekaragaman komunitas burung sangat dipengaruhi oleh karakteristik habitat yang meliputi struktur vegetasi, ketersediaan sumber pakan, serta tingkat gangguan lingkungan. Perubahan kondisi habitat, baik yang terjadi secara alami maupun akibat aktivitas manusia, dapat memengaruhi keberadaan, kelimpahan, dan distribusi berbagai jenis burung (Aida Fithri et al. Tamnge et al. , 2. Oleh karena itu, kajian mengenai hubungan antara tipe vegetasi dan komunitas burung penting dilakukan untuk mendukung upaya konservasi keanekaragaman Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman burung tertinggi di dunia. Dalam satu dekade terakhir, jumlah jenis burung di Indonesia terus mengalami peningkatan seiring berkembangnya penelitian taksonomi, penemuan jenis baru, dan pembaruan data distribusi burung (Lamba et al. , 2022. Oktaviani et al. , 2. Tingginya keanekaragaman tersebut didukung oleh variasi tipe habitat yang sangat luas, mulai dari hutan pegunungan, hutan hujan tropis, savana, lahan basah, hingga kawasan Setiap tipe habitat memiliki karakteristik vegetasi dan sumber daya yang berbeda sehingga memengaruhi keberadaan dan distribusi jenis Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kompleksitas struktur vegetasi dan ketersediaan sumber pakan merupakan faktor utama yang menentukan tingkat keanekaragaman burung pada suatu habitat (Supartono et al. , 2. Taman Nasional Gunung Rinjani merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Indonesia yang memiliki keragaman ekosistem dan tipe vegetasi yang tinggi. Salah satu wilayah pengelolaannya, yaitu Resort Aikmel, memiliki Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan Volume 10. Nomor 1, 2026 . mosaik habitat yang terdiri atas hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, savana, serta area bekas Pemanfaatan Kawasan Tanpa Izin (PKTI). Keberadaan berbagai tipe vegetasi tersebut berpotensi membentuk komunitas burung yang berbeda karena masing-masing habitat memiliki struktur vegetasi, tingkat tutupan tajuk, dan ketersediaan sumber daya yang berbeda. Variasi kondisi habitat dalam satu lanskap konservasi memberikan peluang untuk mengkaji bagaimana komunitas burung merespons perbedaan karakteristik vegetasi pada skala lokal (Subagio, 2. Area PKTI di Resort Aikmel menjadi habitat yang menarik untuk dikaji karena mengalami perubahan kondisi habitat akibat aktivitas perambahan pada tahun 2019. Aktivitas tersebut menyebabkan terbukanya tutupan hutan dan mengubah kawasan menjadi lahan terbuka. Setelah kegiatan perambahan dihentikan, kawasan mulai mengalami proses suksesi alami yang ditandai dengan berkembangnya semak belukar, tumbuhan bawah, serta beberapa tanaman budidaya masyarakat yang masih tersisa. Habitat pada tahap suksesi awal umumnya lebih banyak dimanfaatkan oleh jenis burung generalis dan burung penyuka area terbuka, sedangkan habitat dengan struktur vegetasi kompleks cenderung mendukung lebih banyak jenis burung spesialis hutan (Tamnge & Nurdin, 2. Keberadaan area PKTI menjadi menarik untuk dikaji karena dapat memberikan gambaran awal mengenai respons komunitas burung terhadap habitat yang sedang mengalami pemulihan pascagangguan. Kajian mengenai keanekaragaman burung pada berbagai tipe vegetasi di Resort Aikmel penting dilakukan sebagai dasar pengelolaan kawasan konservasi dan pemantauan kondisi Informasi mengenai komposisi jenis burung, tingkat keanekaragaman, dominansi spesies, kekayaan jenis, dan kesamaan komunitas menggambarkan kualitas habitat dan tingkat gangguan lingkungan. Selain itu, data komunitas burung juga dapat menjadi indikator awal dalam menilai keberhasilan proses pemulihan habitat pada area bekas gangguan seperti area PKTI. Meskipun berbagai penelitian mengenai keanekaragaman burung telah dilakukan pada beragam tipe habitat di Indonesia, sebagian besar penelitian masih berfokus pada satu tipe habitat atau perbandingan habitat yang terbatas. Informasi mengenai respons komunitas burung terhadap variasi tipe vegetasi dalam satu lanskap konservasi, khususnya yang mencakup habitat e-ISSN: 2579-5929 alami dan habitat yang mengalami gangguan antropogenik, masih relatif terbatas. Hingga saat ini belum tersedia informasi yang secara khusus membandingkan komunitas burung pada hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, savana, dan area PKTI di Resort Aikmel TNGR. Keberadaan mosaik habitat dengan tingkat kompleksitas vegetasi dan kondisi suksesi yang berbeda pada kawasan ini memberikan peluang untuk memahami bagaimana perubahan struktur keanekaragaman burung. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya memberikan data inventarisasi jenis burung, tetapi juga menyajikan perbandingan komunitas burung pada berbagai tipe vegetasi dalam satu kawasan konservasi yang memiliki karakteristik habitat yang beragam. Penelitian menginventarisasi jenis-jenis burung pada beberapa tipe vegetasi di Resort Aikmel, menganalisis indeks keanekaragaman, kekayaan jenis, dominansi spesies, dan kesamaan jenis burung antarhabitat, serta mengetahui hubungan antara tipe vegetasi dengan keanekaragaman Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang mendukung upaya konservasi burung dan pengelolaan habitat di Taman Nasional Gunung Rinjani. Bahan dan Metode Penelitian ini dilaksanakan di Resort Aikmel Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pada bulan Juni tahun 2022. Lokasi ini secara administrasi termasuk Kabupaten Lombok Timur. Pulau Lombok. Nusa Tenggara Barat. Resort Aikmel merupakan resort dengan wilayah terluas di Taman Nasional Gunung Rinjani yaitu sebesar 485,068 Ha. Resort ini berbatasan langsung dengan 6 desa penyangga dan saat ini sudah memiliki 15 kelompok pendampingan. Hutan lahan kering primer adalah tipe vegetasi yang mendominasi Resort Aikmel. Selain itu, terdapat kawasan savana yang cukup luas dan terkenal akan keindahan alamnya. Hutan Aikmel menjadi lokasi pelestarian bagi flora dan fauna seperti burung-burung endemik, anggrek Vanda lombokensis dan Paradoxurus hermaphroditus rindjanicus . usang rinjan. Destinasi wisata non-pendakian di resort Aikmel terbilang lengkap mulai dari air terjun, pemandian air panas, hingga Di resort ini terdapat interaksi yang tinggi antara masyarakat dengan kawasan berupa pemanfaatan HHBK rumput, rotan, pakis dan madu hutan. Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan Volume 10. Nomor 1, 2026 . Penelitian dilakukan pada 4 tipe vegetasi berbeda di Resort Aikmel yaitu hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, savana dan area PKTI (Gambar . Hutan lahan kering primer yang dipilih adalah hutan di sekitar objek wisata Bukit Gedong dan Pemandian Air Panas Sebau. Pengambilan data burung hutan lahan kering sekunder dilakukan di sekitar jalan utama. e-ISSN: 2579-5929 Pengamatan burung pada vegetasi savana dilakukan di savana sekitar objek wisata Pusuk Sembalun. Selain itu, dilakukan pengambilan data burung di area PKTI yang sebelumnya merupakan area bekas perambahan. Lokasi-lokasi tersebut dipilih karena berada pada kawasan yang mudah Gambar 1. Tutupan lahan Resort Aikmel. Taman Nasional Gunung Rinjani Sumber: Diolah dari data tutupan lahan Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2022 (Balai Taman Nasional Gunung Rinjan. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah binokuler, kamera, stopwatch. Avenza Maps, kompas, software ArcGIS. Microsoft Excel dan buku catatan. Selain itu, digunakan juga buku panduan burung untuk membantu identifikasi spesies yang teramati yaitu buku AuPanduan Lapangan Burung-Burung di Kawasan Wallacea Sulawesi. Maluku dan Nusa TenggaraAy (Coates & Bishop, 2. AuBirdwatching di Taman Wisata Alam KerandanganAy (Suana et al. , 2. AuBurung Jalur Pendakian Taman Nasional Gunung RinjaniAy (Supriyanto et al. , 2. Pengamatan burung dilaksanakan selama A20 hari menggunakan metode Point Count (Gambar . pada empat tipe vegetasi, yaitu hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, savana, dan area PKTI. Sebanyak 20 titik pengamatan digunakan dalam penelitian ini dengan distribusi yang sama pada setiap tipe vegetasi, yaitu masing-masing lima titik. Titik pengamatan ditentukan secara purposive untuk mewakili kondisi vegetasi dominan pada setiap Jarak antar titik ditetapkan minimal 200 m untuk mengurangi kemungkinan pencatatan individu yang sama pada titik yang berbeda. Pengamatan dilakukan dalam radius 50 m dari titik pengamatan. Setiap titik diamati dua kali dalam satu hari, yaitu pada pagi hari . 00Ae09. WITA) dan sore hari . 00Ae18. 00 WITA), dengan lama pengamatan 20 menit pada setiap Gambar 2. Metode pengamatan burung di Resort Aikmel. Taman Nasional Gunung Rinjani Jenis dan jumlah individu burung diketahui melalui identifikasi berdasarkan pengamatan visual maupun suara. Setiap perjumpaan burung dicatat, didokumentasikan melalui foto dan rekaman suara, kemudian diidentifikasi lebih lanjut menggunakan literatur yang relevan. Koordinat titik perjumpaan diperoleh dengan mengukur sudut antara objek dan pengamat serta Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan Volume 10. Nomor 1, 2026 . memperkirakan jarak keduanya. Data yang didapat selanjutnya diolah dengan menggunakan Indeks Keanekaraman Jenis . aA). Indeks Kekayaan Jenis . cI). Dominansi Spesies . dan Indeks Kesamaan Jenis. Seluruh kegiatan penelitian dilakukan dengan metode observasi non-invasif tanpa penangkapan, penandaan, maupun perlakuan yang berpotensi mengganggu satwa. Pengamatan dilaksanakan dengan tetap memperhatikan prinsip kesejahteraan satwa liar dan meminimalkan gangguan terhadap aktivitas burung maupun Penelitian dilaksanakan setelah memperoleh izin penelitian dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani. Indeks Keanekaragaman . Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener . merupakan indeks yang digunakan untuk menentukan keanekaragaman jenis dalam suatu Nilai yaAo > 3 berarti indeks keanekaragaman tinggi, yaAo = 2-3 indeks keanekaragaman sedang dan yaAo < 2 indeks keanekaragaman rendah (Bando et al. , 2016. Odum, 1. Indeks ini dihitung menggunakan ycuycn ycuycn yaA = Oe Oc ( ) ln ( ) ycA ycA Keterangan: yaAo = indeks keanekaragaman Shannon-Wiener ycuycn = jumlah individu setiap jenis i ycA = jumlah individu seluruh jenis Indeks Kekayaan Spesies . Indeks Kekayaan Jenis . pecies richnes. berfungsi untuk mengetahui kekayaan jenis pada setiap tipe vegetasi yang diamati. Indeks kekayaan jenis dihitung menggunakan indeks Margalef yang diperoleh berdasarkan jumlah jenis . cI) dan jumlah total individu seluruh jenis . cA) (Margalef. Morris et al. , 2. Indeks ini diperoleh menggunakan rumus berikut: ycI= . cI Oe . cA) Keterangan: ycI = indeks kekayaan jenis ycI = jumlah jenis ycA = total individu seluruh spesies Dominansi Spesies . Nilai dominansi spesies digunakan untuk mengetahui spesies yang paling dominan dalam suatu vegetasi (Odum, 1. Dominansi dihitung dengan menggunakan rumus: e-ISSN: 2579-5929 ya= ycuycn ycu 100% ycA Keterangan: ya = Indeks dominansi suatu jenis burung ycuycn = Jumlah individu suatu jenis burung ycA = Jumlah individu dari seluruh jenis burung Indeks Kesamaan Jenis Indeks kesamaan jenis (Similiarity Inde. digunakan untuk mengetahui kesamaan jenis yang ditemukan pada vegetasi berbeda (Magurran. Syrensen, 1. Indeks ini dihitung dengan menggunakan rumus: yca yaycuyccyceycoyc ycoyceycycaycoycaycaycu ycyceycuycnyc = yca yca yca Keterangan: yca = Jumlah jenis/spesies yang ditemukan di kedua vegetasi yca = Jumlah jenis/spesies yang hanya ditemukan pada vegetasi A yca = Jumlah jenis/spesies yang hanya ditemukan pada vegetasi B Analisis Statistik Untuk menguji perbedaan komunitas burung antar tipe vegetasi, dilakukan analisis statistik menggunakan One-Way Analysis of Variance (ANOVA) melalui Microsoft Excel. Analisis dilakukan terhadap jumlah spesies dan jumlah individu burung pada setiap titik pengamatan dengan tipe vegetasi sebagai faktor Sebelum analisis dilakukan, data diperiksa secara deskriptif untuk memastikan ANOVA. Pengujian dilakukan pada taraf kepercayaan 95% . u = 0,. Perbedaan dianggap signifikan apabila nilai ycy < 0,05. Hasil dan Pembahasan Perjumpaan Burung Pengamatan pada empat tipe vegetasi di Resort Aikmel menghasilkan 503 individu burung yang terdiri atas 22 spesies dan 16 famili. Seluruh spesies yang dijumpai termasuk dalam kategori Least Concern (LC) menurut IUCN, yang menunjukkan bahwa spesies-spesies tersebut belum menghadapi risiko kepunahan yang tinggi pada tingkat global. Meskipun demikian, keberadaan spesies dengan status konservasi rendah tetap penting untuk dipantau karena perubahan kondisi habitat dapat memengaruhi kelimpahan dan distribusinya pada tingkat lokal. Daftar spesies, status konservasi, dan status endemisitas burung yang dijumpai selama penelitian disajikan pada Tabel 1. Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan Volume 10. Nomor 1, 2026 . e-ISSN: 2579-5929 Tabel 1. Daftar jenis burung di Resort Aikmel. Taman Nasional Gunung Rinjani Spesies Brachypteryx leucophrys Famili Muscicapidae Status IUCN Least Concern (LC) Keendemikan Non Endemik Individu Cacomantis variolosus Cuculidae Least Concern (LC) Non Endemik Collocalia linchi Apodidae Least Concern (LC) Non Endemik Cuculus saturatus Cuculidae Least Concern (LC) Non Endemik Dendrocopos moluccensis Picidae Least Concern (LC) Non Endemik Dicrurus leucophaeus Dicruridae Least Concern (LC) Non Endemik Ficedula hyperythra Muscicapidae Least Concern (LC) Non Endemik Gallus gallus Phasianidae Least Concern (LC) Non Endemik Gallus varius Phasianidae Least Concern (LC) Endemik Jawa & Sunda Kecil Geoffroyus geoffroyi Psittacidae Least Concern (LC) Non Endemik Haliastur indus Accipitridae Least Concern (LC) Non Endemik Lichmera lombokia Meliphagidae Least Concern (LC) Endemik Wallacea Orthotomus ruficeps Cisticolidae Least Concern (LC) Non Endemik Orthotomus sepium Cisticolidae Least Concern (LC) Endemik Jawa & Sunda Kecil Pericrocotus flammeus Campephagidae Least Concern (LC) Non Endemik Philemon buceroides neglectus Meliphagidae Least Concern (LC) Non Endemik Phylloscopus trivirgatus Sylviidae Least Concern (LC) Non Endemik Pomatorhinus montanus Timaliidae Least Concern (LC) Non Endemik Pycnonotus goiavier Pycnonotidae Least Concern (LC) Non Endemik Cisticola juncidis Cisticolidae Least Concern (LC) Non Endemik Todiramphus chloris Alcedinidae Least Concern (LC) Non Endemik Zosterops montanus Zosteropidae Least Concern (LC) Non Endemik Total Sebanyak tiga spesies endemik berhasil dijumpai selama penelitian, yaitu Gallus varius. Orthotomus sepium, dan Lichmera lombokia. Kehadiran ketiga spesies tersebut menunjukkan bahwa Resort Aikmel masih berperan sebagai habitat bagi avifauna khas kawasan Wallacea dan Sunda Kecil. Gallus varius hanya dijumpai pada area PKTI yang didominasi semak belukar dan vegetasi terbuka, sedangkan Orthotomus sepium ditemukan pada beberapa tipe vegetasi yang memiliki tutupan vegetasi cukup rapat. Sementara itu. Lichmera lombokia dijumpai pada habitat yang menyediakan sumber pakan berupa bunga dan nektar. Temuan ini menunjukkan bahwa variasi tipe vegetasi di Resort Aikmel memungkinkan keberadaan spesies dengan kebutuhan habitat yang berbeda. Komposisi spesies yang berbeda pada masing-masing tipe vegetasi mengindikasikan adanya pengaruh karakteristik habitat terhadap keberadaan burung. Beberapa spesies hanya ditemukan pada tipe vegetasi tertentu, sedangkan spesies lain seperti Brachypteryx leucophrys dan Cacomantis variolosus dijumpai pada lebih dari satu tipe vegetasi. Pola persebaran spesies pada masing-masing tipe vegetasi dapat dilihat pada Gambar 3. Keberadaan spesies yang terbatas pada habitat tertentu menunjukkan adanya preferensi terhadap kondisi lingkungan yang spesifik, sedangkan spesies yang dijumpai pada beberapa tipe vegetasi menunjukkan kemampuan adaptasi yang lebih tinggi terhadap variasi habitat. Hutan lahan kering primer memiliki jumlah individu yang lebih tinggi dibandingkan hutan sekunder dan savana. Selain itu, beberapa spesies seperti Pericrocotus flammeus dan Geoffroyus geoffroyi hanya ditemukan pada habitat ini (Gambar . Kehadiran spesies-spesies tersebut mengindikasikan bahwa hutan primer masih menyediakan kondisi habitat yang sesuai bagi burung yang memanfaatkan vegetasi dengan tutupan tajuk yang lebih rapat. Struktur vegetasi yang lebih kompleks memungkinkan tersedianya berbagai relung ekologis yang dapat dimanfaatkan oleh spesies dengan kebutuhan habitat yang Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan Volume 10. Nomor 1, 2026 . e-ISSN: 2579-5929 Hutan Primer Spesies Hutan Sekunder Savana Area PKTI Brachypteryx leucophrys Cacomantis variolosus Cisticola juncidis Collocalia linchi Cuculus saturatus Jumlah individu Dendrocopos moluccensis Dicrurus leucophaeus Ficedula hyperythra Gallus gallus Gallus varius Geoffroyus geoffroyi Haliastur indus Lichmera lombokia Orthotomus ruficeps Orthotomus sepium Pericrocotus flammeus Philemon buceroides neglectus Phylloscopus trivirgatus Pomatorhinus montanus Pycnonotus goiavier Todiramphus chloris Zosterops montanus Gambar 3. Heatmap sebaran jenis burung pada berbagai tipe vegetasi di Resort Aikmel. Taman Nasional Gunung Rinjani . Gambar 4. Jenis burung pada tipe vegetasi hutan primer di Resort Aikmel. Taman Nasional Gunung Rinjani: Pericrocotus flammeus dan . Geoffroyus geoffroyi Hutan lahan kering sekunder memiliki jumlah spesies yang sedikit lebih tinggi dibandingkan hutan primer, meskipun jumlah individunya lebih rendah. Pada habitat ini dijumpai Gallus gallus dan Pomatorhinus montanus yang tidak ditemukan pada tipe vegetasi Kehadiran kedua spesies tersebut diduga berkaitan dengan kondisi habitat yang lebih terbuka dibandingkan hutan primer sehingga menyediakan sumber daya yang sesuai bagi spesies yang mampu beradaptasi terhadap gangguan habitat. Selain itu, keberadaan vegetasi pionir dan pohon-pohon penghasil buah pada hutan sekunder dapat mendukung keberadaan berbagai kelompok burung melalui penyediaan sumber pakan dan lokasi bertengger. Vegetasi savana memiliki jumlah spesies dan individu terendah dibandingkan tipe vegetasi Kondisi ini diduga berkaitan dengan dominasi vegetasi rumput dan rendahnya tutupan pohon yang menyebabkan ketersediaan tempat berlindung, lokasi bersarang, dan sumber pakan menjadi lebih terbatas. Namun, beberapa spesies yang mampu memanfaatkan habitat terbuka tetap dapat dijumpai pada vegetasi ini, salah satunya adalah Zosterops montanus (Gambar . Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan Volume 10. Nomor 1, 2026 . e-ISSN: 2579-5929 Gambar 5. Jenis burung Zosterops montanus pada tipe vegetasi savana di Resort Aikmel. Taman Nasional Gunung Rinjani Area PKTI memiliki jumlah spesies dan individu tertinggi dibandingkan tipe vegetasi Tingginya perjumpaan burung pada area ini diduga tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi vegetasinya, tetapi juga oleh letaknya yang berbatasan langsung dengan hutan sekunder dan lahan perkebunan. Posisi tersebut memungkinkan area PKTI dimanfaatkan oleh spesies yang berasal dari berbagai habitat di sekitarnya. Selain itu, keberadaan semak belukar dan vegetasi pionir menciptakan habitat yang sesuai bagi beberapa spesies penyuka area terbuka seperti Cisticola juncidis. Pycnonotus goiavier, dan Haliastur indus (Suana et al. , 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa habitat yang sedang mengalami suksesi dapat menyediakan sumber daya bagi kombinasi spesies yang memanfaatkan area terbuka maupun tepi hutan (Supriyanto et al. , 2. Keanekaragaman. Kekayaan Jenis. Dominansi Spesies dan Kesamaan Jenis Salah satu tujuan utama pengelolaan taman keanekaragaman hayati, termasuk komunitas burung yang berperan penting dalam menjaga fungsi ekosistem. Kondisi komunitas burung pada suatu habitat dapat digambarkan melalui beberapa parameter, antara lain indeks keanekaragaman, kekayaan jenis, dominansi spesies, dan kesamaan Nilai masing-masing parameter pada empat tipe vegetasi di Resort Aikmel disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Indeks keanekaragaman . , indeks kekayaan jenis . cI) dan dominansi spesies . burung di Resort Aikmel. Taman Nasional Gunung Rinjani Tipe Vegetasi Parameter Hutan Primer Hutan Sekunder Savana Area PKTI Indeks keanekaragaman . aA) 2,14 1,67 1,22 1,46 Indeks kekayaan jenis . cI) 2,09 2,43 1,87 2,17 25,21% 35,89% 66,67% 41,60% Dominansi spesies . (Brachypteryx (Brachypteryx (Collocalia (Cisticola Orthotomus sepiu. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan komunitas burung antar tipe vegetasi, dilakukan analisis ANOVA satu arah terhadap jumlah spesies dan jumlah individu pada setiap titik pengamatan. Hasil analisis pada Tabel 3 menunjukkan bahwa tipe vegetasi berpengaruh nyata terhadap jumlah spesies . a = 7,36. ycy = 0,0. maupun jumlah individu burung . a = 7,74. ycy = 0,0. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa komunitas burung pada setiap tipe vegetasi berbeda secara signifikan. Perbedaan komunitas burung antar habitat diduga berkaitan dengan variasi kondisi habitat dan sumber daya yang tersedia, sebagaimana dilaporkan oleh Nasihin et . bahwa perbedaan karakteristik habitat berpengaruh terhadap keanekaragaman dan komposisi jenis burung yang dijumpai. Tabel 3. Hasil analisis ANOVA satu arah terhadap jumlah spesies dan jumlah individu burung pada berbagai tipe vegetasi di Resort Aikmel. Taman Nasional Gunung Rinjani Parameter Keterangan yc hitung yec-value Jumlah spesies per titik 7,36 0,0026 Berbeda nyata . cy < 0,. Jumlah individu per titik 7,74 0,0020 Berbeda nyata . cy < 0,. Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan Volume 10. Nomor 1, 2026 . Berdasarkan nilai indeks keanekaragaman . , hutan lahan kering primer memiliki nilai tertinggi . , diikuti oleh hutan lahan kering sekunder . , area PKTI . , dan savana . Menurut Odum . , nilai yaAo antara 2Ae3 termasuk kategori sedang, sedangkan nilai di bawah 2 termasuk kategori rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa komunitas burung pada hutan primer relatif lebih beragam dibandingkan Tingginya keanekaragaman pada hutan primer diduga berkaitan dengan kondisi habitat yang masih memiliki tutupan vegetasi lebih rapat dan struktur tajuk yang lebih kompleks. Hutan dengan struktur vegetasi yang rapat menyediakan tempat berlindung, bersarang, dan mencari pakan bagi burung karena kompleksitas tajuk mendukung berbagai aktivitas kehidupan avifauna (Hutapea et , 2. Kondisi tersebut memungkinkan lebih banyak jenis burung memanfaatkan habitat yang sama sehingga keanekaragaman yang terbentuk cenderung lebih tinggi. Indeks kekayaan jenis tertinggi ditemukan pada hutan lahan kering sekunder . , sedangkan nilai terendah terdapat pada vegetasi savana . Tingginya kekayaan jenis pada hutan sekunder menunjukkan bahwa habitat ini mampu mendukung keberadaan berbagai spesies meskipun jumlah individunya relatif lebih rendah dibandingkan area PKTI. Heterogenitas struktur vegetasi pada hutan sekunder, yang terdiri atas area tepi, interior hutan, dan bukaan tajuk, memungkinkan tersedianya berbagai relung ekologis yang dapat dimanfaatkan oleh jenis burung dengan preferensi habitat yang berbeda (Sukarna et al. , 2. Sebaliknya, vegetasi savana yang didominasi oleh rerumputan dan memiliki tutupan pohon yang terbatas cenderung hanya dapat dimanfaatkan oleh sejumlah spesies yang mampu beradaptasi pada habitat terbuka. e-ISSN: 2579-5929 Setiap tipe vegetasi memiliki spesies dominan yang berbeda. Brachypteryx leucophrys merupakan spesies dominan pada hutan lahan kering primer dan bersama Orthotomus sepium mendominasi hutan lahan kering sekunder. Menurut Suana et al. Brachypteryx leucophrys umum dijumpai pada kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 900Ae2. mdpl, sehingga keberadaannya pada beberapa tipe vegetasi di Resort Aikmel masih sesuai dengan karakteristik habitat alaminya. Pada vegetasi savana, dominansi tertinggi ditunjukkan oleh Collocalia linchi, sedangkan area PKTI didominasi oleh Cisticola juncidis. Tingginya dominansi kedua spesies tersebut kemungkinan berkaitan dengan kesesuaian habitat terbuka yang tersedia pada masing-masing lokasi. Menurut Supriyanto et al. Cisticola juncidis merupakan jenis yang umum dijumpai pada kawasan terbuka yang didominasi semak dan Untuk melihat tingkat kemiripan komunitas burung antar tipe vegetasi, dilakukan analisis indeks kesamaan jenis yang hasilnya disajikan pada Tabel 4. Nilai indeks kesamaan jenis tertinggi ditemukan antara hutan lahan kering primer dan hutan lahan kering sekunder . Meskipun merupakan nilai tertinggi dibandingkan pasangan habitat lainnya, tingkat kesamaan tersebut masih tergolong rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa kedua tipe vegetasi memiliki beberapa spesies yang sama, tetapi secara keseluruhan komposisi komunitas burung yang terbentuk masih berbeda. Oleh karena itu, nilai indeks kesamaan jenis dalam penelitian ini lebih tepat digunakan untuk menggambarkan tingkat kemiripan komposisi spesies antar habitat daripada menunjukkan kesetaraan fungsi konservasi antar tipe vegetasi. Tabel 4. Indeks kesamaan jenis burung pada beberapa tipe habitat di Resort Aikmel. Taman Nasional Gunung Rinjani Indeks Kesamaan Jenis Tipe Vegetasi Hutan Sekunder Area PKTI Savana Hutan Primer 0,35 0,21 0,32 Hutan Sekunder 0,28 0,25 Area PKTI 0,19 Nilai indeks kesamaan antara hutan sekunder dan area PKTI sebesar 0,28. Kemiripan tersebut diduga berkaitan dengan keberadaan vegetasi semak dan pohon-pohon pionir yang masih dijumpai pada kedua habitat. Area PKTI yang saat ini didominasi semak belukar merupakan habitat yang sedang mengalami proses suksesi sekunder setelah mengalami gangguan. Menurut Mueller-Dombois & Ellenberg . , suksesi pada lahan terganggu diawali oleh Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan Volume 10. Nomor 1, 2026 . munculnya vegetasi pionir yang secara bertahap akan digantikan oleh komunitas tumbuhan yang lebih kompleks. Indriyanto . juga menjelaskan bahwa semak dan herba merupakan komponen utama pada tahap awal suksesi sebelum berkembang menjadi komunitas hutan yang lebih Selain itu, area PKTI berbatasan langsung dengan hutan sekunder sehingga memungkinkan beberapa spesies memanfaatkan kedua tipe habitat tersebut secara bersamaan. Vegetasi savana memiliki nilai indeks kesamaan sebesar 0,32 dengan hutan lahan kering Salah satu faktor yang diduga kedekatan lokasi pengamatan antara kedua tipe vegetasi sehingga beberapa spesies dapat dijumpai pada keduanya. Namun demikian, rendahnya nilai indeks kesamaan secara umum menunjukkan bahwa setiap tipe vegetasi di Resort Aikmel mendukung komunitas burung yang berbeda sesuai dengan karakteristik habitatnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa variasi kondisi vegetasi berkontribusi terhadap terbentuknya komposisi komunitas burung yang berbeda pada masing-masing habitat. Hubungan Keanekaragaman Burung dengan Tipe Vegetasi Komunitas burung umumnya dipengaruhi oleh kondisi habitat yang tersedia, termasuk struktur vegetasi, ketersediaan sumber pakan, dan tingkat keterbukaan habitat. Heterogenitas habitat seperti variasi tajuk, keberadaan area terbuka, dan tepi hutan diketahui dapat meningkatkan jumlah relung ekologis yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai jenis burung (Putra et al. , 2. Pada penelitian ini, perbedaan nilai keanekaragaman, kekayaan jenis, dan komposisi spesies antar tipe vegetasi menunjukkan adanya keterkaitan antara karakteristik habitat dengan komunitas burung yang dijumpai di Resort Aikmel. Hutan lahan kering primer memiliki nilai keanekaragaman tertinggi dibandingkan tipe vegetasi lainnya. Berdasarkan pengamatan lapangan, habitat ini didominasi oleh pohon Platea excelsa dan Syzygium claviflora yang membentuk tutupan tajuk relatif rapat. Kedua jenis pohon tersebut diketahui mampu tumbuh hingga lebih dari 30 m dan menjadi komponen penting penyusun tegakan hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (Indriyanto. Kondisi vegetasi yang relatif tertutup diduga menyediakan lebih banyak ruang untuk berlindung, bertengger, maupun mencari makan bagi berbagai jenis burung. Selain itu, lingkungan e-ISSN: 2579-5929 hutan yang lebih teduh berpotensi mendukung keberadaan serangga yang menjadi sumber pakan bagi kelompok burung insektivora. Tingginya keanekaragaman pada hutan primer juga terlihat dari keberadaan beberapa spesies yang tidak dijumpai pada tipe vegetasi lain, seperti Pericrocotus flammeus dan Geoffroyus geoffroyi. Kehadiran spesies tersebut mengindikasikan bahwa sebagian burung memiliki preferensi terhadap habitat dengan tingkat gangguan yang relatif rendah. Meskipun penelitian ini tidak mengukur parameter vegetasi secara kuantitatif, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa hutan primer masih berperan penting dalam mempertahankan komunitas burung di Resort Aikmel. Hutan lahan kering sekunder memiliki nilai kekayaan jenis tertinggi meskipun indeks keanekaragamannya lebih rendah dibandingkan hutan primer. Berdasarkan pengamatan di lapangan, vegetasi ini didominasi oleh Ficus Jenis Ficus diketahui memiliki peran penting bagi berbagai kelompok burung karena menyediakan sumber pakan berupa buah sepanjang tahun serta lokasi bertengger dan bersarang (MacKinnon et al. , 2. Keberadaan pohon-pohon penghasil buah tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang mendukung tingginya jumlah spesies pada habitat ini. Selain itu, kondisi hutan sekunder yang memiliki bukaan tajuk lebih besar dibandingkan hutan primer memungkinkan keberadaan spesies yang memanfaatkan habitat tepi maupun area yang lebih terbuka. Pada penelitian ini. Gallus gallus dan Pomatorhinus montanus hanya dijumpai pada hutan sekunder. Temuan tersebut menunjukkan bahwa hutan sekunder tidak hanya berfungsi sebagai habitat transisi, tetapi juga menyediakan kondisi yang sesuai bagi beberapa spesies tertentu. Meskipun demikian, tidak ditemukannya Pericrocotus flammeus pada habitat ini mengindikasikan bahwa beberapa spesies hutan kemungkinan lebih sensitif terhadap perubahan struktur habitat (Tamnge et al. , 2. Area PKTI menunjukkan jumlah individu dan spesies yang relatif tinggi dibandingkan tipe vegetasi lainnya. Habitat ini didominasi oleh semak belukar dengan beberapa pohon seperti Persea americana. Dalbergia latifolia, dan Ficus yang tersebar di lokasi pengamatan. Selain itu, dijumpai pula berbagai tumbuhan berbunga seperti Ageratum conyzoides. Crassocephalum crepidioides, dan Tithonia diversifolia yang berpotensi menjadi sumber pakan bagi kelompok burung pemakan nektar. Keberadaan vegetasi Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan Volume 10. Nomor 1, 2026 . dengan karakteristik tersebut memungkinkan area PKTI dimanfaatkan oleh spesies penyuka habitat terbuka maupun spesies yang berasal dari habitat di sekitarnya. Tingginya jumlah individu pada area PKTI didominasi oleh beberapa spesies tertentu, terutama Cisticola juncidis. Oleh karena itu, tingginya jumlah individu tidak selalu Selain kondisi vegetasi, lokasi area PKTI yang berbatasan langsung dengan hutan sekunder dan lahan perkebunan kemungkinan turut memengaruhi komposisi spesies yang Kondisi peralihan antar habitat tersebut sering kali dimanfaatkan oleh spesies yang memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan Vegetasi keanekaragaman dan kekayaan jenis terendah dibandingkan tipe vegetasi lainnya. Lokasi pengamatan didominasi oleh rerumputan dengan keberadaan pohon yang relatif jarang, terutama cemara dan Anaphalis longifolia. Karakteristik habitat yang lebih terbuka tersebut diduga membatasi ketersediaan tempat berlindung, lokasi bersarang, dan sumber pakan bagi sebagian besar spesies burung. Akibatnya, hanya jenis-jenis tertentu yang mampu memanfaatkan habitat tersebut secara optimal. Meskipun demikian, beberapa spesies seperti Collocalia linchi tetap ditemukan dalam jumlah tinggi pada vegetasi savana. Spesies ini dikenal mampu memanfaatkan ruang udara terbuka untuk mencari makan sehingga kondisi habitat savana masih sesuai dengan kebutuhan e-ISSN: 2579-5929 ekologinya (Supriyanto et al. , 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap tipe vegetasi di Resort Aikmel mendukung komunitas burung yang berbeda, sehingga keberadaan berbagai tipe habitat dalam satu kawasan keanekaragaman burung secara keseluruhan. Kesimpulan Penelitian di Resort Aikmel Taman Nasional Gunung Rinjani mencatat 503 individu burung yang terdiri atas 22 spesies dari 16 famili, termasuk tiga spesies endemik, yaitu Gallus varius. Orthotomus sepium, dan Lichmera Area PKTI memiliki jumlah individu dan spesies tertinggi, sedangkan savana memiliki jumlah individu dan spesies terendah. Hutan lahan kering primer menunjukkan nilai keanekaragaman tertinggi . aAo = 2,. , sementara hutan lahan kering sekunder memiliki nilai kekayaan jenis tertinggi . cI = 2,. Setiap tipe vegetasi memiliki spesies dominan yang berbeda, mencerminkan perbedaan karakteristik habitat yang tersedia. Hasil analisis menunjukkan bahwa tipe vegetasi berpengaruh terhadap komunitas burung yang dijumpai di Resort Aikmel. Perbedaan jumlah spesies dan jumlah individu antar tipe vegetasi terbukti berbeda nyata berdasarkan analisis ANOVA. Selain itu, nilai kesamaan jenis yang relatif rendah antar habitat menunjukkan bahwa masing-masing tipe vegetasi mendukung komposisi komunitas burung yang berbeda. Oleh karena itu, keberadaan mozaik habitat berupa hutan primer, hutan sekunder, savana, dan area PKTI berkontribusi dalam mempertahankan keanekaragaman burung di Resort Aikmel. Daftar Pustaka