WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Penerapan Media Pembelajaran Storybird untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks Cerita Fantasi Siswa Kelas VII C SMPN 2 Kendit Malika Shinta Maulana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jember shintamaulana19@gmail. Arief Rijadi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jember fkip@unej. Ahmad Syukron Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jember ahmadsyukron@unej. Abstrak- Keterampilan menulis melibatkan pemahaman tentang bahasa, struktur teks, dan kemampuan menyampaikan gagasan. Salah satu materi bahasa Indonesia di kelas VII C adalah teks cerita fantasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan . proses penerapan media pembelajaran Storybird untuk meningkatkan keterampilan menulis teks cerita fantasi siswa kelas VII C di SMPN 2 Kendit. peningkatan keterampilan menulis teks cerita fantasi setelah diterapkannya media pembelajaran Storybird pada siswa kelas VII C di SMPN 2 Kendit. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas dengan model Kemmis dan Mc Taggart. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru bahasa Indonesia dikatakan bahwa keterampilan menulis teks cerita fantasi pada siswa kelas VII C masih tergolong Temuan tersebut dibuktikan dari kegiatan prasiklus, yakni sebanyak 13 siswa . ,93%) yang tuntas dan 18 siswa . ,06%) dinyatakan belum tuntas secara klasikal. Maka dari itu, siklus 1 dilakukan sebagai tindakan solusi dengan menerapkan media pembelajaran Storybird dalam menulis. Pada siklus 1, diketahui sebanyak 18 siswa . ,06%) yang tuntas dan 13 siswa . ,93%) yang belum tuntas secara klasikal. Siklus 2 dilakukan untuk memperbaiki hasil refleksi siklus 1 yang masih terdapat permasalahan dalam menulis. Pada siklus 2, diketahui nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan yaitu sebanyak 29 siswa . ,54%) mencapai ketuntasan belajar klasikal dengan nilai Ou75. Temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan media pembelajaran Storybird untuk meningkatkan keterampilan menulis teks cerita fantasi siswa kelas VII C mengalami peningkatan dan dikatakan berhasil. Kata Kunci: media pembelajaran Storybird, keterampilan menulis, teks cerita fantasi, penelitian tindakan PENDAHULUAN Keterampilan pemahaman yang mendalam tentang bahasa, struktur teks, dan kemampuan menyampaikan Menulis merupakan suatu kemampuan dalam menyampaikan ide dan pikiran ke dalam bentuk tulisan, baik untuk memberikan informasi maupun menggambarkan suatu pengalaman (Sihotang, dkk, 2. Salah satu materi Bahasa Indonesia dalam Kurikulum Merdeka di kelas VII C adalah teks cerita Teks cerita fantasi merupakan teks WIDYA ACCARYA 2026 naratif yang menggambarkan alur dari peristiwa tidak nyata atau khayalan (Maraya, dkk, 2. Capaian pembelajarannya adalah . siswa dapat menuangkan ide, pemikiran, serta pesan tertulis untuk mencapai tujuan yang logis, kritis, dan . siswa dapat menyajikan tulisan yang menarik sesuai fakta, pengalaman, dan imajinasi, serta menggunakan kosa kata yang kreatif. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru Bahasa Indonesia kelas VII C, diketahui keterampilan menulis teks cerita fantasi siswa masih tergolong rendah. Sebanyak 13 siswa P a g e 60 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index . ,93%) tuntas dan 18 siswa . ,06%) dinyatakan belum tuntas secara klasikal. Hasil permasalahan, yakni siswa kesulitan dalam menyusun struktur cerita, menyesuaikan tema, unsur kebahasaan, ejaan, dan tanda baca yang Siswa tidak memahami cara menyusun struktur cerita yang baik dan kesulitan dalam menyesuaikan isi cerita dengan tema sehingga cerita mereka menjadi tidak teratur dan Siswa memperhatikan penggunaan unsur kebahasaan, ejaan, dan tanda baca dalam membuat cerita. Permasalahan tersebut membutuhkan solusi berupa tindakan penyelesaian. Tindakan yang dilakukan dengan melibatkan media pembelajaran digital. Media digital dapat mendukung proses belajar yang menarik (Islami, dkk, 2. Media pembelajaran yang menarik dapat berperan sebagai rangsangan bagi siswa untuk lebih aktif dan terlibat dalam proses belajar (Ramadani, dkk, 2. Media pembelajaran yang digunakan adalah Storybird. Storybird merupakan platform digital yang melibatkan siswa untuk membuat cerita dengan kreatif dan interaktif (Putri, dkk, 2. Media tersebut dapat mengasah keterampilan menulis siswa dalam mendesain sesuai kreativitas dan imajinasi dengan adanya ilustrasi, judul, dan konten yang menarik melalui fitur yang tersedia. Implementasi Storybird dalam menulis teks cerita fantasi pada siswa kelas VII C dilakukan dengan mengadaptasi lima langkah proses menulis menurut Tompkins . alam Trihono, 2. , yang dimulai dari tahap pramenulis melalui perencanaan pengenalan cerita dan penentuan judul bertema AuDunia SihirAy. Selanjutnya, pada tahap pembuatan draf, siswa mengembangkan cerita berdasarkan struktur dan unsur kebahasaan yang dituangkan ke dalam template Storybird, yang kemudian dilanjutkan ke tahap Siswa saling berkolaborasi memberikan umpan balik untuk memperbaiki isi cerita. Tahap melakukan perbaikan teknis berdasarkan evaluasi dan penilaian dari guru guna memastikan kualitas tulisan, hingga akhirnya mencapai tahap penerbitan saat siswa mengunduh hasil karya mereka dalam format PDF dan mengubahnya menjadi storybook WIDYA ACCARYA 2026 digital yang siap dipublikasikan. Penerapan media pembelajaran Storybird dapat dilakukan dengan cara siswa menganalisis dan mengevaluasi karangan cerita yang mereka Media tersebut memudahkan siswa untuk menyusun alur cerita, mengidentifikasi tokoh dan latar, serta menganalisis tema dalam cerita. Ilustrasi berupa gambar yang tersedia membuat siswa dapat mengekspresikan ide-ide kreatif mereka secara visual. Hal tersebut diperkuat oleh penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa Storybird menyediakan gambar untuk menulis teks sehingga bisa mengekspresikan ide yang kreatif (Janattaka, dkk, 2. Siswa juga memiliki kesempatan untuk berkolaborasi dengan teman sebaya saat menyusun cerita. Mereka dapat saling berdiskusi dan memberikan umpan balik yang konstruktif, serta melakukan revisi bersama di kelas. Kegiatan tersebut dapat membantu proses pembelajaran menjadi lebih dinamis dan menyenangkan sehingga siswa lebih termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran menulis. Temuan tersebut didukung oleh penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa Storybird dapat dimanfaatkan untuk melatih dan mengembangkan potensi siswa dalam menyusun cerita melalui berbagai fitur menarik sehingga kegiatan tersebut dapat membantu proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan mereka lebih aktif berpartisipasi dalam pembelajaran menulis (Dewi, dkk, 2. Storybird menyediakan berbagai fitur yang menarik bagi siswa untuk menulis teks cerita Siswa dapat mengekspresikan imajinasi mereka melalui ilustrasi yang tersedia di Storybird dan menginspirasi mereka untuk menciptakan narasi yang unik. Storybird memiliki perpustakaan gambar yang kaya, meliputi berbagai genre, gaya, dan tema. Siswa juga dapat menyusun gambargambar tersebut menjadi sebuah alur cerita yang Fitur tersebut melatih pengguna untuk mengatur tata letak gambar, menambahkan teks, dan menyusun urutan gambar untuk membentuk narasi yang menarik. Media Storybird juga memiliki fitur-fitur tambahan, seperti pengaturan ukuran gambar dan tata letak yang memudahkan siswa untuk menyusun cerita. Berdasarkan tindakan solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran menulis, maka diperlukan bukti dengan melakukan penelitian yang berjudul P a g e 61 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index AuPenerapan Media Pembelajaran Storybird untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks Cerita Fantasi Siswa Kelas VII C SMPN 2 KenditAy. Berdasarkan temuan tersebut, dapat . mendeskripsikan proses penerapan media pembelajaran Storybird untuk meningkatkan keterampilan menulis teks cerita fantasi siswa kelas VII C SMPN 2 Kendit. mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis teks cerita fantasi setelah penerapan media pembelajaran Storybird pada siswa kelas VII C SMPN 2 Kendit. II. METODE Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Siklus PTK yang diterapkan mengikuti model Kemmis dan Mc Taggart yang terdiri dari empat langkah, yakni perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi (Rustiyarso, 2. Penelitian ini melibatkan kolaborasi antara guru Bahasa Indonesia dengan peneliti. Peneliti memiliki peran dalam menyediakan dan merancang media pembelajaran, serta terlibat dalam perencanaan hingga evaluasi. Guru Bahasa Indonesia memiliki peran dalam melaksanakan proses pembelajaran . Data yang digunakan, yakni kualitatif dan kuantiatif. Data kualitatif diperoleh melalui . hasil observasi kegiatan pembelajaran menulis, . hasil wawancara tentang masalah yang dialami oleh siswa dalam menulis teks cerita fantasi, . dokumentasi mencakup daftar nama dan hasil tulisan siswa pada prasiklus. Sementara, data kuantitatif diperoleh dari hasil tulisan siswa kelas VII C. Sumber data pada temuan ini antara lain, . siswa kelas VII C sebagai responden dan guru bahasa Indonesia sebagai informan yang termasuk dalam sumber data primer, . dokumen sebagai sumber data Teknik pengumpulan data berfokus pada berbagai teknik untuk mengumpulkan informasi dalam penelitian, seperti observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Data diperoleh dari pelaksanaan yang dimulai dari siklus awal hingga akhir. Data observasi dilakukan untuk melihat keberhasilan dalam menerapkan media Storybird selama pembelajaran menulis teks WIDYA ACCARYA 2026 cerita fantasi. Data wawancara melibatkan interaksi langsung dengan guru Bahasa Indonesia dan siswa kelas VII C di SMPN 2 Kendit. Data tes digunakan untuk mengukur keterampilan menulis Studi dokumentasi juga dilakukan untuk mengambil data dari dokumen yang sudah ada. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif. Milles dan Huberman berpendapat bahwa data kualitatif mencakup reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan (Rustiyarso, 2. Penelitian ini juga menggunakan analisis data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes menulis Hasil tes tersebut disesuaikan dengan kriteria keberhasilan dan persentase ketuntasan Berikut kriteria hasil belajar siswa dalam RataRata Tabel 2. 1 Kriteria Hasil Belajar Huruf Kriteria Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang (Dwiyanti, 2. Kriteria hasil belajar dalam penelitian ini digunakan sebagai acuan untuk mengukur tingkat pencapaian siswa dalam menulis teks cerita fantasi menggunakan media Storybird. Klasifikasi nilai dibagi ke dalam lima kategori predikat yang merepresentasikan kualitas tulisan siswa. Kategori Sangat Baik (A) menunjukkan siswa telah mampu menguasai seluruh struktur teks dan unsur kebahasaan secara kreatif serta orisinal, sementara kategori Baik (B) menandakan kemampuan menyusun cerita dengan struktur lengkap meski terdapat kekurangan kecil pada aspek kebahasaan. Selanjutnya, kategori Cukup (C) mengindikasikan siswa telah mencapai batas ketuntasan minimal namun masih memerlukan peningkatan dalam pengembangan imajinasi dan keterpaduan kalimat. Kategori Kurang (D) dan Sangat Kurang (E) menunjukkan bahwa siswa belum mampu mencapai indikator kompetensi dasar, baik dari segi pemahaman struktur maupun penerapan kaidah bahasa sehingga memerlukan bimbingan khusus atau remedial. P a g e 62 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Tindakan dinyatakan berhasil jika siswa mencapai nilai menulis teks cerita fantasi sebesar Ou75. Apabila ada peningkatan nilai rata-rata yang signifikan, maka media Storybird yang diterapkan dapat dikatakan efektif dan berhasil. Berikut kriteria persentase ketuntasan belajar siswa. Nilai Huruf Tabel 2. 2 Ketuntasan Belajar Tingkat Predikat Persentase Ketuntasan 84-100% Sangat Tinggi 75-83% Tinggi 65-74% Cukup 52-64% Kurang < 51% Gagal (Dwiyanti, 2. Kriteria persentase ketuntasan belajar siswa digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana siswa berhasil mencapai standar yang ditetapkan dalam pembelajaran. Tindakan dinyatakan berhasil apabila siswa dapat mencapai nilai tes menulis sesuai target, yakni Ou75. Sejalan dengan pendapat Arikunto bahwa tindakan dinyatakan berhasil apabila minimal 75% siswa mencapai ketuntasan belajar secara klasikal dengan nilai Ou75 (Dwiyanti, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan yang dilaksanakan pada prasiklus adalah melakukan observasi di kelas terhadap kegiatan pembelajaran. Observasi tersebut dibantu oleh guru Bahasa Indonesia kelas VII C di SMPN 2 Kendit. Tahap ini juga melibatkan wawancara dengan guru Bahasa Indonesia dan siswa kelas VII C. Observasi dan wawancara pada prasiklus digunakan untuk mengamati dan menganalisis kemampuan awal siswa sebelum melakukan tindakan siklus. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru Bahasa Indonesia kelas VII C pada prasiklus, diketahui keterampilan menulis teks cerita fantasi siswa masih tergolong rendah. Guru tersebut mengatakan bahwa masih banyak siswa yang belum mencapai KKTP yang ditetapkan sebesar 75. Jumlah keseluruhan siswa di kelas VII C adalah 31 orang. Sebanyak 13 WIDYA ACCARYA 2026 ,93%) tuntas dan 18 siswa . ,06%) dinyatakan belum tuntas. Hasil belajar tersebut menunjukkan bahwa keterampilan menulis teks cerita fantasi siswa kelas VII C masuk ke dalam kategori gagal. Kegagalan tersebut terjadi karena siswa kesulitan dalam menyusun struktur cerita, kebahasaan, ejaan, dan tanda baca yang tepat. Kesulitan yang dialami siswa pada prasiklus juga disebabkan oleh guru kelas VII C yang masih berfokus pada teks dan penggunaan media pembelajaran yang terbatas. Banyak siswa yang merasa jenuh dan kurang terlibat aktif. Permasalahan tersebut menyebabkan rendahnya motivasi dan partisipasi siswa dalam proses belajar menulis. Guru juga mengandalkan teks sebagai sumber utama dan belum memanfaatkan media digital dalam pembelajaran. Siswa tidak memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi ide-ide mereka secara bebas dengan menggunakan media digital dalam menulis teks cerita fantasi yang lebih menarik. Maka dari itu, permasalahan tersebut harus dipertimbangkan dan mencoba untuk menerapkan media Storybird dalam pembelajaran menulis pada siklus 1. Siklus 1 dilaksanakan dengan 3 pertemuan. Siklus 1 terdiri dari empat langkah, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Perencanaan yang dilakukan dengan menyusun modul ajar pada materi teks cerita fantasi kelas VII, menyiapkan lembar kerja menulis, membuat template cerita di Storybird, serta membuat dan mengatur jadwal tindakan pada setiap pertemuan. Perencanaan ini melibatkan kerja sama antara peneliti dengan guru Bahasa Indonesia kelas VII Setelah perencanaan, dilakukan langkah pelaksaan pada siklus 1. Pelaksanaan dilakukan sesuai dengan modul ajar yang meliputi kegiatan awal, inti, dan penutup. Aktivitas yang dilakukan pada siklus 1 melalui delapan tahapan. Pertama, merencanakan dan melakukan pengenalan cerita. Kedua, mengajak siswa untuk membuat judul sesuai tema AuDunia SihirAy. Ketiga, siswa mulai mengembangkan cerita dengan memperhatikan struktur dan unsur kebahasaan. Keempat, siswa mulai menggunakan media Storybird untuk menulis cerita fantasi sesuai template yang telah Kelima, siswa diajak untuk berkolaborasi dan memberikan umpan balik terhadap cerita mereka. Keenam, siswa saling P a g e 63 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index merevisi cerita mereka berdasarkan umpan Ketujuh, siswa menerima evaluasi dan penilaian dari guru. Kedelapan, siswa mengunduh hasil karya yang telah dibuat dalam bentuk pdf dan diubah menjadi storybook. Langkah selanjutnya adalah observasi. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada pertemuan pertama, diketahui aktivitas guru dalam mengajar di kelas masih belum maksimal. Aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran masih terdapat permasalahan, yakni waktu pada kegiatan diskusi melampaui batas yang sudah Permasalahan tersebut menyebabkan guru memberikan evaluasi terhadap materi yang diajarkan dalam waktu singkat dan terbatas. Selain masalah tersebut, juga terdapat permasalahan yang terjadi pada siswa, yakni . mereka masih banyak yang mengobrol ketika pembelajaran dan . kurangnya kerja sama Berdasarkan observasi yang dilakukan pada pertemuan kedua, diketahui aktivitas guru di kelas mulai berlangsung dengan cukup baik. Aktivitas pembelajaran pada pertemuan kedua ada peningkatan dibandingkan pertemuan sebelumnya, seperti banyak siswa yang sudah bekerja sama dengan baik dalam kelompok. Aktivitas pembelajaran ini juga terdapat permasalahan yang terjadi di kelas, yakni . ada 2 siswa yang mengobrol ketika pembelajaran, . ada 3 siswa yang masih ragu untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi kelas, . ada 2 siswa kurang percaya diri ketika presentasi di depan kelas, . siswa masih belum berhasil dalam menyelesaikan storybook. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada pertemuan ketiga, diketahui aktivitas guru di kelas berlangsung dengan lancar. Aktivitas guru dalam pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu pada modul ajar. Aktivitas siswa pada pertemuan ketiga juga berlangsung dengan baik. Namun, terdapat permasalahan yang terjadi, yakni . terdapat dua kelompok yang belum menyelesaikan tugas menulis teks cerita fantasi dengan tepat waktu, . 13 siswa perlu memperbaiki hasil tulisan yang mereka buat di Storybird, kebahasaan, maupun ejaan dan tanda baca. Dilihat dari hasil tulisan siswa, diketahui terdapat struktur teks cerita fantasi yang masih kurang lengkap. Mereka tidak mencantumkan WIDYA ACCARYA 2026 bagian resolusi dalam teks cerita fantasi yang telah Selain struktur, tulisan siswa juga terdapat ketidaksesuaian isi cerita dengan tema yang telah Berikut salah satu contoh kesalahan penggunaan unsur kebahasaan pada tulisan siswa. Gambar 3. 1 Kesalahan Unsur Kebahasaan Berdasarkan gambar 3. 1, diketahui terdapat kesalahan dalam penggunaan unsur kebahasaan, tepatnya pada kata ganti. Kata ganti AuiaAy pada kalimat AuAwalnya ia berteman, tetapi akhirnya saling mencintaiAy seharunya diubah menjadi AumerekaAy untuk menjaga konsistensi cerita. Penggunaan kata ganti yang kurang tepat dapat menimbulkan kebingungan bagi pembaca. Oleh karena itu, siswa perlu memperbaiki dan memastikan bahwa kata ganti tersebut sesuai dengan karakter yang dimaksud agar mudah dipahami oleh pembaca. Gambar 3. 2 Kesalahan Ejaan dan Tanda Baca Berdasarkan gambar 3. 2, diketahui terdapat kesalahan ejaan dan tanda baca pada salah satu hasil tulisan siswa. Kesalahan ejaan ditunjukkan pada kata AuKaelpunAy yang seharusnya dipisah menjadi AuKael punAy. Kesalahan tanda baca P a g e 64 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index ditunjukkan sebelum kata AuKaelAy yang seharunya ditambahkan tanda koma. Kesalahan ejaan dan tanda baca tersebut dapat mengurangi kualitas isi cerita dan memengaruhi pemahaman pembaca pada alur cerita. Maka dari itu, siswa perlu memperbaiki penulisan tersebut dengan Wawancara siklus 1 juga dilakukan kepada guru Bahasa Indonesia kelas VII C setelah observasi. Hasil wawancara guru pembelajaran Storybird untuk pembelajaran menulis teks cerita fantasi memberikan dampak positif bagi siswa. Guru tersebut mengatakan bahwa media tersebut dapat memudahkan siswa untuk berkreasi dan berkolaborasi. Siswa dapat membuat tulisan yang menarik dan kreatif sesuai imajinasi mereka. Meskipun ada permasalahan yang terjadi selama pembelajaran di kelas, guru tersebut berpendapat bahwa media tersebut juga mampu meningkatkan keterampilan menulis teks cerita fantasi pada siswa. Peningkatan tersebut dapat ditunjukkan pada hasil analisis siklus 1 yang cukup meningkat dibandingkan prasiklus. Sebelum melihat hasil, berikut rubrik penilaian yang digunakan pada penelitian ini. Tabel 3. 1 Rubrik Penilaian Indikator Kriteria yang Dinilai Dinilai Struktur . Menyertakan teks cerita dengan lengkap . Menyertakan 3 struktur, namun salah satu kurang . Menyertakan hanya 2 struktur . Menyertakan hanya 1 struktur Kesesuaia . Isi tulisan sesuai n dengan dengan tema . Isi tulisan sesuai dengan tema tetapi tidak . Isi tulisan tidak WIDYA ACCARYA 2026 Pengguna an unsur n teks Pengguna an ejaan dan tanda Skor sesuai dengan . Menggunakan unsur kebahasaan dengan lengkap dan tepat . Menggunakan 3 namun ada yang tidak tepat. Menggunakan 2 unsur kebahasaan . Menggunakan 2 namun tidak tepat . Penggunaan ejaan dan tanda baca sangat tepat . Ada 1-2 kesalahan ejaan dan tanda baca . Ada 3-4 kesalahan ejaan dan tanda baca . Ada 5-7 kesalahan ejaan dan tanda baca . Ada >7 kesalahan ejaan dan tanda Berdasarkan hasil analisis dengan melihat rubrik penilaian tersebut, diketahui skor siswa dibandingkan prasiklus. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. 2 Skor Siswa pada Siklus 1 Indikator Dinilai Struktur teks cerita Kesesuaian Unsur Skor Siswa Skor Maksimal RataRata P a g e 65 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index teks cerita Penggunaan ejaan dan tanda baca Total Skor Siswa Siswa tidak 18 orang . ,06%) 13 orang . ,93%) Penentuan skor maksimal pada tabel 3. diperoleh dari hasil perkalian antara bobot nilai tertinggi pada setiap indikator penilaian dengan jumlah total siswa yang mengikuti tes, yaitu sebanyak 31 orang. Sebagai contoh, skor maksimal 930 pada indikator struktur teks berasal dari bobot tertinggi sebesar 30 poin dikalikan 31 siswa sehingga akumulasi seluruh indikator menghasilkan skor maksimal total Berdasarkan proses skoring tersebut, hasil belajar siswa pada siklus 1 menunjukkan nilai rata-rata kelas sebesar 74 dengan tingkat ketuntasan klasikal 58,06%, yang berarti kemampuan siswa dalam menulis teks cerita fantasi masih berada pada kategori cukup dan belum mencapai kriteria keberhasilan tindakan yang ditetapkan. Hasil refleksi pada setiap pertemuan siklus 1 menunjukkan lima kelemahan, meliputi . siswa perlu memperbaiki struktur teks cerita fantasi yang tidak lengkap dan jelas. siswa perlu memperbaiki isi cerita sesuai tema yang telah ditentukan. siswa perlu memperhatikan kesesuaian penggunaan kata sambung dan kata . beberapa siswa pada kegiatan diskusi pembelajaran menulis. terdapat 2 kelompok selama mengerjakan tugas menulis teks cerita fantasi yang melebihi batas waktu yang sudah Berdasarkan hasil refleksi tersebut, perlu adanya perbaikan dalam pembelajaran menulis teks cerita fantasi siswa kelas VII C. Menurut Arikunto . alam Dwiyanti, 2. , tindakan dinyatakan tuntas apabila minimal 75% memperoleh nilai Ou75. Maka dari itu, siklus 2 perlu dilakukan sebagai tindakan solusi untuk kelemahan pada siklus 1 yang dialami oleh Siklus WIDYA ACCARYA 2026 memperbaiki hasil refleksi siklus 1. Siklus 2 terdiri dari empat langkah, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Perencanaan yang dilakukan untuk memperbaiki kekurangan siklus 1, meliputi menyusun dan merevisi modul ajar pada materi teks cerita fantasi kelas VII, menyiapkan lembar kerja menulis, membuat template cerita di Storybird, mengatur jadwal tindakan pada setiap pertemuan, guru melakukan pembimbingan kepada siswa, serta menyiapkan lembar observasi. Perencanaan ini melibatkan kerja sama antara peneliti dengan guru Bahasa Indonesia kelas VII C. Langkah selanjutnya adalah pelaksanaan pada siklus 2 yang meliputi kegiatan awal, inti, dan penutup. Aktivitas yang dilakukan pada siklus 2 melalui delapan tahapan. Pertama, siswa langsung mendiskusikan karakter dan latar cerita sesuai gambar-gambar yang tersedia. Kedua, siswa mulai memperbaiki dan mengembangkan cerita dengan memperhatikan struktur, tema, serta unsur kebahasaan cerita fantasi. Ketiga, siswa menggunakan media Storybird untuk menulis cerita fantasi sesuai template yang telah Keempat, siswa diajak untuk berkolaborasi dan memberikan umpan balik terhadap cerita mereka. Kelima, siswa saling merevisi cerita mereka berdasarkan umpan balik. Keenam, siswa menerima evaluasi dan penilaian dari guru. Ketujuh, siswa mengunduh hasil karya yang telah dibuat dalam bentuk pdf, kemudian diubah menjadi storybook. Kegiatan pada siklus 2 ini lebih memaksimalkan pada teknik penulisan yang tepat, seperti struktur, kesesuaian tema, unsur kebahasaan, serta penggunaan ejaan dan tanda baca. Kegiatan tersebut mengajak siswa untuk memperbaiki indikator-indikator yang digunakan dalam menulis teks cerita fantasi. Langkah selanjutnya adalah observasi. Berdasarkan observasi pada pertemuan pertama, diketahui aktivitas guru dan siswa di kelas berlangsung dengan lancar. Aktivitas tersebut pengetahuan siswa tentang indikator-indikator dalam menulis teks cerita fantasi dengan menggunakan media pembelajaran Storybird. Guru menjelaskan tujuan penggunaan media tersebut dan menunjukkan contoh teks cerita fantasi yang menarik dan relevan. Guru juga menyediakan template cerita yang berisi gambargambar menarik sehingga siswa dapat berpikir P a g e 66 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Guru permasalahan yang terjadi pada siklus 1 dan mengajak siswa untuk memperbaiki penulisan Melalui penjelasan yang jelas dan interaktif tersebut, siswa mulai menunjukkan minat dan antusiasme untuk belajar lebih jauh dengan menggunakan media Storybird dalam Guru juga memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Obervasi difokuskan pada praktik menulis teks narasi dengan menggunakan media pembelajaran Storybird. Pada kegiatan ini, siswa diberikan kesempatan oleh guru untuk memperbaiki penulisan dengan menggunakan media tersebut, baik bagian struktur, tema, unsur kebahasaan, maupun ejaan dan tanda baca. Siswa mulai mengaplikasikan pengetahuan yang sudah mereka dapatkan. Guru berkeliling untuk memberikan dukungan, bimbingan, dan umpan balik langsung, serta membantu siswa mengatasi tantangan yang dihadapi selama proses Aktivitas ini berlangsung dengan lancar dan menyenangkan, serta menciptakan suasana belajar yang kolaboratif dan kondusif. Pengalokasian waktu dari aktivitas yang dilakukan oleh guru dan siswa sudah sesuai dengan modul ajar. Berdasarkan observasi pada pertemuan ketiga, diketahui aktivitas pembelajaran berjalan dengan lancar. Pertemuan ketiga ini siswa melakukan presentasi hasil tulisan mereka di depan kelas. Siswa mempresentasikan teks cerita fantasi yang telah mereka buat menggunakan Storybird. Setelah presentasi, terdapat sesi diskusi dan umpan balik dari guru dan teman-teman sekelas. Diskusi ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk saling belajar dan memperbaiki karya mereka. Kegiatan tersebut dapat membuat siswa semakin berpartisipasi aktif dan mengasah keterampilan menulis mereka. Siswa juga menyelesaikan tugas menulis teks cerita fantasi dengan tepat Keseluruhan proses pada pertemuan ini menunjukkan keberhasilan dalam penerapan media pembelajaran Storybird yang telah berhasil meningkatkan keterampilan menulis teks cerita fantasi siswa. Peningkatan tersebut WIDYA ACCARYA 2026 dibuktikan dari hasil tulisan siswa yang telah memperhatikan dan memperbaiki struktur, tema, unsur kebahasaan, serta ejaan dan tanda baca yang Berikut salah satu contoh hasil tulisan siswa yang telah memperbaiki penggunaan kata ganti untuk menjaga konsistensi cerita pada gambar 3. Gambar 3. 3 Perbaikan Hasil Tulisan Siswa Wawancara siklus 2 juga dilakukan kepada guru Bahasa Indonesia kelas VII C setelah Hasil wawancara guru menunjukkan bahwa penerapan media pembelajaran Storybird untuk pembelajaran menulis teks cerita fantasi telah memberikan hasil yang positif bagi siswa. Guru mengatakan bahwa media tersebut dapat membuat siswa termotivasi untuk menulis teks. Beliau mencatat bahwa platform ini membantu siswa untuk berkolaborasi dengan teman sekelas sehingga menciptakan kelas yang lebih interaktif. Guru tersebut juga melihat bahwa siswa yang sebelumnya kurang percaya diri dalam menulis, sekarang menunjukkan perkembangan, khususnya pada kemampuan menyusun teks cerita fantasi dengan terstruktur. Siswa juga semakin didorong untuk memperbaiki dan menyempurnakan karya sehingga dapat membantu keterampilan menulis Kegiatan tersebut mendorong kreativitas mereka dalam mengeksplorasi ide-ide baru dan meningkatkan kemampuan bercerita secara Perkembangan tersebut dapat dilihat dari hasil analisis siklus 2 yang mengalami Berdasarkan hasil analisis dengan melihat rubrik penilaian tabel 3. 1, diketahui skor siswa dibandingkan siklus 1. Skor tersebut dapat dilihat pada tabel 3. P a g e 67 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Tabel 3. 3 Skor Siswa pada Siklus 2 Indikator Dinilai Struktur teks cerita Kesesuaian Unsur teks cerita Penggunaa n ejaan dan tanda baca Total Skor Siswa Siswa tidak Skor Menulis Skor Maksimal RataRata 29 orang . ,54%) ditetapkan karena siswa kelas VII C . ,54%) pada siklus 2 sudah tuntas secara klasikal dengan memperoleh nilai Ou75. Ketuntasan tersebut masuk ke dalam kategori sangat tinggi dengan nilai huruf (A). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, keterampilan menulis siswa kelas VII C mengalami peningkatan. Pada prasiklus, diketahui sebanyak 13 siswa . ,93%) tuntas dan 18 siswa . ,06%) belum tuntas dengan nilai rata-rata 64. Pada siklus 1, diketahui sebanyak 18 siswa . ,06%) tuntas dan 13 siswa . ,93%) belum tuntas dengan nilai rata-rata 74. Pada siklus 2, diketahui sebanyak 29 siswa . ,54%) tuntas secara klasikal dengan nilai rata-rata 84. Hasil tersebut dapat dilihat pada diagram perbandingan 2 orang . ,45 %) Penentuan skor maksimal pada tabel 3. dihitung melalui perkalian bobot tertinggi indikator dengan jumlah 31 siswa sehingga diperoleh skor maksimal kumulatif sebesar Pada Siklus 2, terlihat peningkatan signifikan pada nilai rata-rata kelas menjadi 84, yang masuk dalam kategori Sangat Baik. Selain itu, tercatat sebanyak 29 siswa . ,54%) telah berhasil mencapai nilai Ou75 sementara masih terdapat 2 orang siswa . ,45%) yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal tersebut. Meskipun belum mencapai ketuntasan 100% secara individu, namun hasil tersebut telah melampaui indikator keberhasilan klasikal yang Storybird pada siklus 2 ini dinyatakan berhasil meningkatkan kemampuan menulis teks cerita fantasi secara efektif. Hasil refleksi siklus 2 pada setiap pertemuan menunjukkan . selama kegiatan pembelajaran, guru telah melaksanakan dengan baik sesuai modul ajar. keterampilan menulis teks cerita fantasi siswa sudah baik. pengalokasian waktu pada siklus 2 sudah baik dibandingkan siklus 1. Berdasarkan hasil tersebut, tindakan perbaikan tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya. Keputusan tersebut WIDYA ACCARYA 2026 Gambar 3. 4 Diagram Perbandingan Hasil Tulisan Siswa Penerapan media pembelajaran Storybird dapat memudahkan siswa untuk menyusun struktur cerita dan menyesuaikan tema dalam Storybird merupakan platform digital yang melibatkan siswa untuk membuat cerita dengan kreatif dan interaktif (Putri, dkk, 2. Ilustrasi yang ada di Storybird membuat siswa dapat mengekspresikan ide-ide kreatif mereka secara visual dengan tetap memperhatikan struktur, kesesuaian tema, unsur kebahasaan, serta penggunaan ejaan dan tanda baca. Hasil penelitian tersebut diperkuat dengan penelitian terdahulu oleh Janattaka, dkk . yang mengungkapkan bahwa Storybird menyediakan gambar untuk menulis teks sehingga membantu siswa mengekspresikan ide-ide kreatif. Siswa semakin percaya diri dalam mengembangkan cerita fantasi melalui media Storybird. Mereka mulai mampu mengekspresikan P a g e 68 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index ide dan perasaan melalui tulisan dengan baik. Latihan dan bimbingan yang dilakukan oleh guru bisa membuat siswa nyaman dan percaya diri dalam menyampaikan pemikiran mereka sehingga kualitas tulisan semakin meningkat. Perubahan siswa terlihat dari antusiasme mereka dalam kegiatan menulis dengan menggunakan media tersebut. Penjelasan tersebut diperkuat dengan argumen Sihotang, dkk . bahwa siswa semakin percaya diri dan bersemangat dalam menulis melalui penggunaan media visual, seperti Storybird IV. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian, disimpulkan bahwa penerapan media Storybird mendeskripsikan proses pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan keterampilan menulis teks cerita fantasi siswa kelas VII di SMPN 2 Kendit, serta menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menulis siswa setelah penggunaan media tersebut. Kegiatan tersebut terbukti dari prasiklus, siklus 1, hingga peningkatan di siklus 2. Pada prasiklus, diketahui sebanyak 13 siswa . ,93%) tuntas dan 18 siswa . ,06%) dinyatakan belum tuntas. Pada siklus 1, diketahui sebanyak 18 siswa . ,06%) tuntas dan 13 siswa . ,93%) belum tuntas secara klasikal. Pada siklus 2, diketahui sebanyak 29 siswa . ,54%) yang tuntas secara klasikal dengan nilai Ou75. Penerapan Storybird meningkatkan kreativitas siswa dalam menulis teks cerita fantasi. Ilustrasi yang tersedia di media tersebut dapat mengekspresikan ide-ide kreatif siswa secara visual dengan tetap memperhatikan struktur, kesesuaian tema, unsur kebahasaan, serta penggunaan ejaan dan tanda Hasil penelitian tersebut diperkuat dengan penelitian terdahulu oleh Janattaka, dkk . Storybird menyediakan gambar untuk menulis teks sehingga membantu siswa mengekspresikan ideide kreatif. Latihan dan bimbingan yang dilakukan oleh guru membuat siswa merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam menyampaikan pemikiran mereka sehingga kualitas tulisan semakin meningkat. Perubahan siswa terlihat dari antusiasme dan motivasi mereka dalam kegiatan menulis dengan WIDYA ACCARYA 2026 menggunakan media Storybird. Penjelasan tersebut diperkuat dengan argumen Sihotang, dkk . bahwa siswa semakin percaya diri dan bersemangat dalam menulis melalui penggunaan media visual, seperti Storybird. Berdasarkan temuan ini terdapat saransaran, meliputi . guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Kendit disarankan untuk menggunakan media pembelajaran Storybird untuk menulis pada waktu ke depan. siswa kelas VII C SMPN 2 Kendit meningkatkan aktivitas pembelajaran pada pertemuan berikutnya. peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian dengan memanfaatkan media pembelajaran Storybird yang memiliki perbedaan sesuai kebutuhan. DAFTAR PUSTAKA