Jayapangus Press Metta: Jurnal Ilmu Multidisiplin Volume 3 Nomor 4 . ISSN : 2798-7329 (Media Onlin. Cerita Pedanda Baka Sebagai Media Pendidikan Karakter Sejak Anak Usia Dini Ayuningtyas Novitasari1. Anak Agung Gede Bagus Antara Putra2 Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Indonesia SMP Negeri 2 Tampaksiring. Bali. Indonesia ayuningtyasnovitasari99@gmail. Abstract Various media outlets have reported about children's bad behavior lately. Some of the violence committed by against their own friends, lack of respect for parents and teachers, show the bad character of children. teachers, show the bad character of This inspired the author to explore the cultures that were used as a medium for shaping children's character by their parents. children's character by their parents. Balinese society has a variety of cultures that can be used as a medium for character education, such as the culture of storytelling for children. Character education throught the Pedande Baka story for early childhood is a religious character. The religious character is belief in Ida Sang Hyang Widhi Wasa. In Hinduism, the religious character is explained in the Panca Sradha, including belief in Karma Phala or belief in the result of every human action. Breath, hearbeat and dreams are karma. If we do good, we will get good result, and vice versa. The religious character that can be found in the Pedande Baka story by the crab is a result of Pedande Baka bad behavior. Pedande Baka lied and killed all the fish in the lake. This shows that Pedande Baka receives Prarabdha Karma Phala, which means that actions in this life will also be accepted in this life. Parents can teach religious character by telling them that Pedande Baka bad behavior was paid for by being killed by a crab. Throught this story parents can teach children to do good things such as: being honest, not killing, beleiving in god and Karma Phala. for children, stories are believed to contain character education values for children from an early age. children from an early age. The purpose of this paperis to explore the character values values that can be transferred through the story of Pedanda Baka and how this story can be used as a medium for character education to children from anearly age. education to children from an early age. This article is a literaturereview literature After the review, it was found that the character values that can be educated through the Pedanda Baka story are can be educated through the Pedanda Baka story is religious character. Character education through the Pedanda Baka story is carried out by storytelling to children by parents at home and by teachers at school because the cognitive development of early childhood. at home and by teachers at school because early childhood cognitive development is symbolic behavior, and stories are symbolic in is symbolic behavior, and stories are symbolic. Stories help abstract and intangible concepts become concrete and real. Stories can be used as a medium for character education from an early age, because it helps children imitate the character values contained in the story. Keywords: Pedanda Baka Story. Character Education. Early Childhood Abstrak Berbagai media memberitakan tentang perilaku buruk anak belakangan ini. Beberapa kekerasan yang dilakukan anak terhadap temannya sendiri, kurangnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, menunjukkan karakter buruk anak. Hal tersebut menginspirasi penulis untuk menggali kembali budaya-budaya yang dulu digunakan https://jayapanguspress. org/index. php/metta sebagai media pembentukan karakter anak oleh orang tuanya. Masyarakat Bali memiliki beragam budaya yang dapat dijadikan sebagai media pendidikan karakter, seperti budaya mendongeng bagi anak-anak, cerita diyakini mengandung nilai-nilai pendidikan karakter bagi anak sejak dini. Pendidikan karakter melalui cerita Pedanda Baka untuk anak usia dini adalah karakter religius. Karakter religius adalah kepercayaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam agama Hindu, karakter religius di jelaskan dalam Panca Sradha, termasuk percaya pada Karma Phala atau percaya pada hasil dari setiap tindakan Nafas, detak jantung dan mimpi adalah karma. Jika kita melakukan yang baik, kita akan mendapatkan hasil yang baik, dan sebaliknya. Karakter religius yang dapat ditemukan dalam cerita Pedande Baka oleh kepiting sebagai akibat dari perilaku buruk Pedande Baka. Pedande Baka berbohong dan membunuh semua ikan di danau. Hal ini menunjukan bahwa Pedande Baka menerima Prarabdha Karma Phala, yang artinya perbuatan dalam hidup ini akan diterima juga dalam hidup ini. Orang tua dapat mengajarkan karakter religius dengan menceritakan bahwa perilaku buruk Pedande Baka di bayar dengan dibunuh oleh kepiting. Melalui cerita ini orang tua dapat mengajari anakanak untuk melakukan hal-hal baik seperti : jujur, tidak membunuh, percaya pada Tuhan dan Karma Phala. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali nilai-nilai karakter yang dapat ditransfer melalui cerita Pedanda Baka dan bagaimana cerita ini dapat digunakan sebagai media pendidikan karakter kepada anak-anak sejak dini. Penelitian ini merupakan tinjauan literatur. Setelah dilakukan pengkajian, ditemukan bahwa karakter yang dapat dididik melalui cerita Pedanda Baka adalah karakter religius. Pendidikan karakter melalui cerita Pedanda Baka dilakukan dengan mendongeng kepada anak oleh orang tua di rumah dan oleh guru di sekolah karena perkembangan kognitif anak usia dini merupakan perilaku simbolik, dan cerita bersifat simbolis. Cerita membantu konsep abstrak dan tidak berwujud menjadi konkret dan nyata. Cerita dapat dijadikan sebagai media pendidikan karakter sejak usia dini, karena membantu anak-anak meniru nilai-nilai karakter yang terdapat dalam cerita. Kata Kunci: Cerita Pedanda Baka. Pendidikan Karakter. Anak Usia Dini Pendahuluan Salah satu fokus utama dalam upaya pembangunan nasional sebagaimana yang diuraikan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 20052025 (UU No. 17 Tahun 2. adalah untuk menciptakan masyarakat yang memiliki nilai-nilai mulia, moralitas tinggi, etika yang baik, keberagaman budaya yang dihargai, dan perilaku yang terpuji sesuai dengan falsafah Pancasila. Salah satu strategi untuk mencapai hal ini adalah dengan memperkuat identitas dan karakter bangsa melalui sistem Tujuan dari upaya ini adalah untuk membentuk individu Indonesia yang beragama, taat hukum, memelihara perdamaian internal dan antar kelompok agama, berinteraksi secara harmonis antar budaya, membangun modal sosial, menghormati nilainilai budaya yang luhur, serta memiliki rasa bangga sebagai warga negara Indonesia untuk memperkuat fondasi spiritual, moral, dan etika dalam proses pembangunan Pendidikan nasional memiliki peran vital dalam mengembangkan potensi individu dan membentuk karakter serta peradaban yang berharga bagi bangsa, dengan tujuan mencerahkan kehidupan masyarakat dan memastikan peserta didik berkembang menjadi individu yang beriman, bermoral, sehat, berpengetahuan, terampil, kreatif, mandiri, serta warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Pendidikan dianggap sebagai elemen krusial dalam kehidupan manusia yang tak dapat diabaikan. Pentingnya pendidikan karakter dalam membentuk kepribadian sangat besar. Hal ini tidakhanya sebatas mengajarkan perbedaan antara benar dan salah, melainkan juga https://jayapanguspress. org/index. php/metta membimbing individu dalam memilih yang baik dan buruk serta mengenali serta mengaplikasikan nilai- nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cara untuk mengatasi masalah karakter bangsa adalah melalui pendidikan, yang sebaiknya terintegrasi dengan budaya lokal. Hubungan antara budaya dan pendidikan bersifat saling mempengaruhi, di mana kebudayaan dapat terus berkembang dan dilestarikan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui proses pendidikan. Dalam beberapa tahun terakhir, media sering memberitakan perilaku buruk anak, seperti: berkelahi, melakukan kekerasan kepada teman, meminta sesuatu dengan memaksa orang tua, tidak sopan kepada orang tua dan guru. Buruknya karakter anak saat ini disebabkan kurangnya pendidikan karakter oleh orang tuanya, karena orang tua saat ini cenderung sibuk sehingga kurang memiliki waktu untuk mendidik karakter pada anaknya sejak dini. Pada zaman dahulu, berdasarkan budaya yang dilestarikan oleh masyarakat, masyarakat Bali mendidik karakter kepada anaknya melalui cerita-cerita yang dituturkan oleh orang tua menjelang tidur. Mendongeng merupakan budaya yang hidup dan tumbuh subur di masyarakat saat itu. Folklor memiliki peran yang sangat besar dalam mendidik karakter sejak usia dini karena perilaku tokoh dalam cerita dapat menjadi panutan. Anak usia dini membutuhkan sosok sebagai panutannya. Anak usia dini cenderung meniru perilaku panutannya, tetapi jika karakter dalam cerita tidak baik, anak tidak akan meniru karakter Oleh karena itu, orang tua dapat menggunakan cerita sebagai media untuk memberikan nasehat kepada anaknya, dampaknya akan jauh lebih terlihat dibandingkan tanpa menggunakan cerita. Namunsaat ini, sebagian besar orang tua telah meninggalkan kebiasaan mendongeng, khususnya cerita rakyat kepada anaknya. Anak usia dini saat ini jarang mengenal berbagai cerita rakyat, sehingga mereka tidak dapat meniru perilaku karakter dari cerita tersebut. Pentingnya cerita bagi anak-anak juga dikatakan dalam Jurnal Internasional yang ditulis oleh Julio E. Correa. Olga B. Gonzylez dan Martha S. Weber . dengan judul AuBercerita dalam keluarga dengan anak-anak: Pendekatan terapeutik untuk masalah belajarAy dikatakan bahwa bercerita dapat digunakan sebagai metode orisinal untuk merestrukturisasi keluarga dengan anak-anak. Makalah ini menggambarkan bagaimana cerita dapat digunakan dalam interaksi keluarga untuk menangani masalah asal usul Tiga kasus keluarga di mana bercerita berguna dalam memecahkan kecacatan anak-anak melalui mempromosikan perubahan dalam struktur keluarga dan menciptakan atau mencerahkan fungsi orientasi dan bimbingan orang tua dianalisis. Selanjutnya Pilar Lacasa . mengatakan bahwa dengan memberikan cerita kepada anak-anak akan membuat mereka bahagia dan bisa tidur nyenyak. Penelitian E. Gal. juga menyebutkan hal yang sama dimana instruksi disederhanakan agar memungkinkan anakanak dengan ketidakmampuan komunikasi untuk belajar dan mengoperasikan tabel cerita. Hasil uji coba pertama sangat menggembirakan. Anak-anak antusias berkomunikasi melalui Story Telling dan tampak dapat belajar mengoperasikannya dengan sedikit Metode Kajian ini menggunakan pendekatan metode penelitian kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah cerita Pedanda Baka, serta sumber data sekunder mencakup penelitian sebelumnya, jurnal, buku, dan literatur yang relevan dengan topik penelitian. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama dalam merancang dan melaksanakan seluruh proses penelitian dari awal hingga akhir. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan, kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif untuk mengeksplorasi dan menggambarkan data yang terkumpul dalam bentuk kata dan gambar. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Hasil dan Pembahasan Cerita Pedanda Baka Mendongeng adalah bentuk seni kuno, sebelum buku dicetak. itu adalah cara utama agar sejarah dan budaya dilestarikan dan diteruskan ke generasi berikutnya (Koster, 2. Halyang sama juga disebutkan oleh Bruce bahwa cerita kuno diceritakan secara lisan, jauh sebelum orang menulis (Bruce 2. Saat ini, mendongeng tetap menjadi praktik penting di beberapa budaya, tetapi telah digantikan dengan buku. Mendongeng juga merupakan cara terbaik untuk mengajar anak berkebutuhan khusus. Bagi anak-anak yang baru mulai berbicara, pengalaman mendongeng akan menumbuhkan kecintaan pada cerita. Mendongeng adalah bagian dari aktivitas anak yang tidak ada habisnya. Menceritakan kembali adalah model mendongeng dengan menceritakan kembali cerita yang akrab dari ingatan. Menggunakan alat peraga, gerakan jari, dan tindakan, berbicara dengan intensitas, atau menggunakan suara yang sesuai dengan karakter akan membantu mengingat cerita dan membuat anak tetap fokus pada cerita (Koster, 2. Kata-kata dalam sebuah cerita dapat dengan mudah disesuaikan untuk audiens tertentu, dan anak-anak senang ketika kita bercerita, terutama saat bepergian, itu juga membebaskan anak-anak dari merasa tidak dapat membaca dengan lancar (Bruce, 2. Penting untuk berbicara di lingkungan anak-anak, dan penelitian terbaru menunjukkan konsentrasi pidato dan bercerita dalam kurikulum anak usia dini (Nutbrown & Clough. Komite Penasihat Bangsa untuk Pendidikan Kreatif dan Budaya menyarankan ketentuan seni dalam pendidikan formal dan informal untuk anak-anak hingga 16 tahun. Comenius. Rousseau. Froebel. Pestalozzi, dan Owen menyarankan bahwa mendongeng penting untuk perkembangan anak. Estetika merupakan bagian penting dari kemanusiaan anak (Nutbrown, 2. Beckley juga berpendapat bahwa cerita dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran dan pengembangan (Beckley, 2. Ada banyak cerita yang bisa diceritakan kepada anak-anak di Bali, setiap cerita memiliki pesan tersendiri. Biasanya pesan-pesan tentang cinta, kebenaran, kejujuran, dan keberanian, yang merupakan bagian dari pendidikan karakter. Cerita merupakan media pendidikan karakter yang efektif bagi anak usia dini, karena mereka senang mendengar cerita dan masih mencari suri tauladan bagi perilakunya. Orang tua didorong untuk memberikan teladan yang baik bagi anaknya. Salah satu contoh cerita rakyat yang dapat digunakan sebagai media pendidikan karakter adalah cerita Pedanda Baka. Gambar 1. Ketika Ikan-Ikan Dipindahkan Oleh Pedanda Baka Sumber: Cuplikan Layar Film Animasi Pendeta Bangau. TC:06:. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Pedanda Baka adalah burung bangau serakah yang ingin memangsa semua ikan di danau. Dengan akal licik Pedanda Baka menunggu waktu yang tepat untuk memangsa semua ikan yang ada di danau. Setiap hari bangau berada di tepi danau dengan wajah sedih yang ditunjukkan kepada semua ikan di danau. Bangau itu diam dan tidak memangsa ikan-ikan yang berenang di sekitar danau, karena biasanya bangau akan menangkap ikan-ikan yang lewat di dekatnya. Namun bangau dengan sabar menahan keinginannya untuk memangsa ikan-ikan tersebut, sehingga semua ikan akan percaya dengan niat baiknya. Menunjukkan kesedihan di wajah bangau, semua ikan percaya dan bertanya tentang apa yang menyebabkan kesedihannya, akhirnya bangau itu berkata air kolam akan mengering dan semua ikan akan segera mati, jadi dia ingin membantu memindahkan semua ikan ke danau lain. Semua ikan percaya padanya dan mereka rela bergerak satu per satu terbang dengan bangau. Kelicikan Pedanda Baka akhirnya membuahkan hasil, semua ikan di danau berhasil dimakan, kecuali kepiting yang tidak berhasil ditipu dan telah mengetahui kekejaman Pedanda Baka. Akhirnya Pedanda Baka dibunuh oleh kepiting. Bangau disebut dengan nama Pedanda Baka karena dia sangat pandai berpura-pura, dia terlihat baik, tetapi sebaliknya dia memiliki niat buruk. Gambar 2. Kepiting Tidak Berhasil Ditipu Dan Mengetahui Kekejaman Pedanda Baka Sumber: Cuplikan layar film animasi Pendeta Bangau. TC: 09:10 Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa cerita adalah penggambaran suatu peristiwa dengan menggunakan tokoh-tokoh dalam cerita sebagai peran dari suatu perilaku yang bertujuan untuk menyampaikan pesan yang bermanfaat bagi pembacanya. Pendidikan Karakter Tilaar . 9:) mengatakan bahwa pendidikan merupakan bagian dari struktur kehidupan masyarakat, pematangan, dan proses pemberdayaan. Pendidikan IPA merupakan terjemahan dari Pedagogy. Pedagogy yang berasal dari kata Yunani paidagygey, yang terdiri dari pais, genitive, paidos artinya anak-anak dan Ago artinya memimpin, sehingga secara harfiah pedagogi artinya memimpin anak (Danim, 2. Pendidikan menurut Ki HajarDewantara adalah memperkembangkan karakter . ekuatan batin, moralita. , kecerdasan . , dan fisik anak dilakukan di tiga lingkungan, yaitu: keluarga, lingkungan pendidikan, dan lingkungan aktivitas pemuda, yang terakhir disebut Sistem Trisentra (Dewantara, 2. Pendidikan karakter adalah cara langsung untuk mengembangkan moralitas dalam pendidikan (Santrock, 2. Sebuah pernyataan menyatakan bahwa moralitas tanpa kecerdasan adalah kelemahan. sementara kecerdasan tanpa moralitas adalah bencana https://jayapanguspress. org/index. php/metta (Gotama, 2. Menurut Lickona . , pendidikan memiliki dua tujuan utama: meningkatkan kecerdasan siswa dan dapat membantu menjadi individu yang baik, sehingga perhatian dalam pendidikan ditujukan pada standar akademis dan pengembangan karakter (Lapsley dan F. Clark Power, 2. Bung Karno, salah satu tokoh pendiri Negara Indonesia, menekankan pentingnya membangun karakter bangsa sebagai prioritas dalam pembangunan, karena hal ini dianggap sebagai kunci untuk mengangkat Indonesia menjadi negara yang besar, maju, sejahtera, dan berwibawa (Saman dan Hariyanto, 2. Pendidikan karakter dapat diberikan di berbagai waktu dan tempat, termasuk di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, atau saat beraktivitas rekreasi, baik melalui kurikulum resmi, upaya informal, maupun melalui norma-norma yang ada (Lapsley & F. Clark Power 2. Berkwits menyatakan bahwa karakter dapat disederhanakan sebagai serangkaian ciri yangmembimbing individu untuk bertindak sesuai atau tidak sesuai dengan nilai-nilai yang benar (Damon, 2. Booker T. Washington mengemukakan bahwa karakter adalah kekuatan (McElmeel, 2. , sementara Sri Swami Sivananda menggambarkan karakter sebagai kecenderungan batin yang memungkinkan terwujudnya keinginan (Sivananda, 2. Thomas Lickona menjelaskan karakter sebagai integrasi yang utuh antara pengetahuan moral, emosi moral, dan tindakan moral yang saling terkait. Dia juga menekankan bahwa karakter yang baik meliputi pemahaman akan kebaikan, keinginan untuk melakukan kebaikan, dan tindakan yang mendukung kebaikan (Lickona, 2. Bali, karakter masyarakat umumnya dibentuk oleh tiga prinsip: berpikir benar, berbicara jujur, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang benar, dengan tiga aspek tersebut saling terkait dan membentuk satu kesatuan. Mahatma Gandhi menyebut tujuh dosa utama manusia modern, termasuk ilmu tanpamoralitas (Atmaja, 2. Karakter terbentuk sejak lahir dan terus berkembang seiring dengan bertambahnya usia, dipengaruhi oleh faktor keturunan dan lingkungan tempat seseorang tumbuh dan berkembang (Santoso, 2. Menurut Dewey, karakter merupakan bagian esensial dari sifat individu (Kontopendis, 2. Pendidikan karakter di Indonesia didasarkan pada beberapa prinsipdasar, yaitu agama. Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional (Samani & Hariyanto, 2. Dari berbagai pandangan mengenai pendidikan karakter tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah upaya untuk membantu perkembangan pikiran, perasaan, dan tindakan peserta didik sehingga mereka menjadi satu kesatuan yang utuh. Ini menjadi pedoman dalam setiap tindakan. Anak Usia Dini Menurut penelitian ilmiah, anak usia dini mencakup rentang usia dari lahir hingga delapan tahun (Roopnarinen, 2. Pendidikan pada tahap ini dijelaskan oleh beberapa sumber, dimulai dari taman kanak-kanak hingga kelas tiga sekolah dasar (Morrison, 2. , atau dalam konsep Ki Hadjar Dewantara, mencakup masa kanak-kanak hingga usia tujuh tahun (Dewantara, 2. Tahapan ini sering dianggap sebagai masa keemasan . olden perio. , di mana John Amos Comenius mengungkapkan keyakinannya bahwa pendidikan sebaiknya dimulai sejak dini, dengan analogi bahwa Autanaman muda dapat disesuaikan, dipangkas, dan dibentuk, tetapi tidak mungkin dilakukan begitu menjadi pohonAy (Morrison, 2. Anak usia dini tumbuh dan berkembang melalui perkembangan, seperti perkembangan psikomotorik, kognitif, bahasa, sosial, emosional, dan moral (Astawa, & Made, 2. Ciri perkembangan kognitifanak menurut Piaget, pada masa sensor motorik merupakan bagian dari perkembangan awal, terjadi sejak lahir sampai usia dua Pada saat ini, bayi membangun pemahaman tentang dunia dengan membuat pengalaman sensor koordinat, seperti proses melihat dan mendengarkan, melalui sistem https://jayapanguspress. org/index. php/metta motorik yang di kembangkan untuk menyentuh dan mencapai sesuatu (Santrock, 2. Tahap selanjutnya adalah praoperasional pada usia 2 sampai 7 tahun berdasarkan teori Piaget yang dibagi menjadi dua bagian, pertama adalah bagian fungsi simbolik pada usia 2 sampai 4 tahun dan kedua adalah bagian dari pemikiran intuitif pada tahap awal. sampai 7 tahun. Ketika mereka semakin tua, pemikiransimbolik beralih ke pemikiran intuitif (Worth, 1. Perkembangan moral. Kohlberg mengatakan Auorang melewati enam rangkaian pemahaman moral yang terdiri dari tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan setelah konvensional. Sebagian besar anak melewati tahap prakonvensional pada usia 9 tahun, (Slavin, 2. Pada masa pra- konvensional ini anakanak belum menunjukkan nilai moral. Pemahaman moralitas dikendalikan oleh apresiasi dan hukuman eksternal (Santrock, 2. Dewasa ini perhatian penuh terhadap kepribadian moral, seperti: . identitas moral, seseorang memiliki identitas moral ketika gagasan dan komitmen moral merupakan hal yang penting dalamkehidupan seseorang. Jika perilaku anak melanggar komitmen moral, dan akan membahayakan integritas anak itu sendiri. karakter moral, jika anak tidak memiliki karakter moral, anak akan selalu merasa tidak nyaman karena depresi, gagal mengikuti perkembangan lingkungan, menyimpang, tidak percaya diri dan gagal berperilaku moral. Pendekatan moral menempatkan pentingnya memiliki kebaikan moral seperti: jujur. moral peran, seseorang yang telah mengalami moral kehidupan yang dapat dijadikan panutan (Santrock, 2. Sebaliknya, perkembangan emosional dan sosial pada masa pra-sekolah tergantung pada kualitas interaksi anak dengan lingkungannya, termasuk interaksi dengan keluarga dan teman sebaya saat bermain (Sujatindriasih. Wati & Jiwa, 2. Cara orang tua merawat anak pada masa awal perkembangannya akan memengaruhi kepribadian anak di masa depan. Seorang ibu yang memiliki kesehatan emosional yang baik dapat menjalin hubungan yang positif dengan anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan pendapat Hendrick yang menyatakan bahwa hubungan emosional antara ibu dan anak memiliki pengaruh penting dalam proses sosialisasi. Berbagai metode pendidikan untuk anak usia dini, seperti yang diajarkan oleh John Comenius. Pestalozzi. Froebel. Vygotsky, dan Montessori, memiliki peran penting dalam membentuk perkembangan mereka. Dengan demikian, anak usia dini, yang berusia dari lahir hingga sembilan tahun, memiliki karakteristik unik dan mengalami pertumbuhan serta perkembangan mental yang optimal. Pendidikan Karakter yang Dapat Dididik Melalui Cerita Pedanda Baka Sejak Usia Dini Pendidikan karakter melalui cerita Pedanda Baka untuk anak usia dini adalah karakter religius. Karakter religius adalah kepercayaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam agama Hindu, karakter religius dijelaskan dalam Panca Sraddha, termasuk percaya pada Karma Phala atau percaya pada hasil dari setiap tindakan manusia. Nafas, detak jantung dan mimpi adalah karma (Cudamani, 1. Jika kita melakukannya dengan baik, kita mendapatkan hasil yang baik, dan sebaliknya. Karakter religius yang dapat ditemukan dalam cerita Pedanda Baka adalah terbunuhnya Pedanda Baka oleh kepiting sebagai akibat dari perilaku buruk Pedanda Bakas. Pedanda Baka berbohong dan membunuh semua ikan di danau. Hal ini menunjukkan bahwa Pedanda Baka menerima Prarabda Karma Phala, yang artinya perbuatan dalam hidup ini akan diterima juga dalam hidup ini. Swami Sivananda mengatakan bahwa Karma adalah serangkaian tindakan dalam kehidupan ini atau dalam kelahiran sebelumnya (Sivananda, 2. Berdasarkan pemikiran tersebut, umat Hindu Bali selalu berusaha untuk berbuat baik. Orang tua dapat mengajarkan karakter religius dengan menceritakan bahwa perilaku buruk Pedanda Baka dibayar dengan dibunuh oleh kepiting. Melalui cerita ini, orang tua https://jayapanguspress. org/index. php/metta dapat mengajari anak-anak untuk melakukan hal-hal baik seperti: jujur, tidak membunuh, percaya pada Ida Sang Hyang Widi Wasa dan Karma Phala. Cerita Pedanda Baka adalah media yang tepat untuk mengajarkan karakter religius. ajaran agama bersifat abstrak, sulit dipahami oleh anak-anak. Kisah ini dapat membantu kita untuk anak-anak mengajar untuk memahami ajaran agama dan bertindak sesuai dengan itu. Dalam narasi Pedanda Baka, para ikan di Telaga Kumudasara dengan tulus mengungkapkan ketakutannya pada petani yang mungkin mengeringkan telaga tersebut kepada Bangau. Mereka dengan jujur mempercayai Bangau dan bersedia dipindahkan ke Telaga Andawana atas perintahnya. Sebaliknya. Pendeta Bangau terlihat tidak jujur karena berbohong kepada para penghuni telaga. Kepiting menunjukkan nilai jujur dalam karakternya dengan mengakui keinginannya untuk dipindahkan ke Telaga Andawana meskipun menyadaribahwa tubuhnya yang besar, keras, dan berat akan menjadi beban bagi Bangau. Dia juga dengan jujur mengungkapkan bahwa dia tidak akan bisa hidup sendiri jika teman-temannya tidak lagi menghuni Telaga Kumudasara. Nilai pendidikan karakter berikutnya adalah kewaspadaan dan kritis berpikir. Kepiting dalam cerita ini adalah contoh dari seseorang yang kritis berpikir dan waspada terhadap niat sebenarnya Pedanda Baka. Ini mengajarkan anak-anak untuk tidak mudah percaya pada oranglain dan untuk selalu mempertimbangkan niat dan tindakan orang lain dengan hati-hati. Karakter yang dapat diambil sebagai pelajaran adalah nilai kesabaran dan kemandirian. Bangau dalam cerita ini menunjukkan kesabaran dan kemandirian dengan menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan rencananya. Ini adalah pelajaran yang baik untuk anak-anak bahwa kesabaran dan kerja keras dapat membuahkan hasil, bahkan dalam situasi sulit sekalipun. Nilai karakter empati dan keikhlasan juga tercermin pada reaksi ikan-ikan di danau yang merasa empati terhadap kesedihan Pedanda Baka adalah contoh dari keikhlasan dan empati. Meskipun pada akhirnya empati ini dimanfaatkan oleh Pedanda Baka, pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya memiliki empati terhadap perasaan orang lain, tetapi juga bijaksana dalam menilai niat mereka. Nilai karakter ketegasan dan kepemimpinan juga tercermin pada cerita kepiting yang menunjukkan ketegasan dan kepemimpinan dengan mengambil tindakan untuk menghentikan kejahatan Pedanda Baka. Ini adalah contoh yang baik tentang bagaimana anak-anak harus berani dan tegas ketika berhadapan dengan situasi yang salah atau ketidakadilan. Selain itu, dalam cerita Pedanda Baka menggambarkan sikap toleransi yang ditunjukkan oleh ikan-ikan yang tinggal di Telaga Kumudasara. Meskipun bervariasi dalam jenis, warna, dan ukuran, ikan-ikan tersebut tetap menghormati keragaman yang ada di antara mereka. Mereka hidup dengan rukun dan berbahagia dalam satu habitat, yaitu Telaga Kumudasara, sehingga dengan sikap toleransi, kerukunan dapat tercipta meski dengan perbedaan yang ada. Dengan menggunakan cerita Pedanda Baka sebagai media pendidikan karakter, anak-anak dapat belajar nilai-nilai moral penting seperti kejujuran, kewaspadaan, kesabaran, empati, ketegasan, dan toleransi. Melalui diskusi dan aktivitas berbasis cerita, anak-anak dapat memahami nilai-nilai ini dengan lebih baik dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari- hari mereka. Menurut Spencer, agama adalah Aupercaya pada sesuatu yang abadi yang keluar dari pikiranAy. Max Muller melihat agama sebagai usaha untuk memahami yang tak terpahami, mengungkapkan yang tak terungkapkan, dan merindukan yang tak terbatas. Reville mengatakan bahwa agama adalah kekuatan penentu dalam kehidupan manusia, menghubungkan pikiran manusia dengan kekuatan misterius yang mengendalikan dunia dan dirinya sendiri, serta menjadi sumber perdamaian saat kita terikat dengannya (Durkheim, 2. Menurut Gollnick AuKeyakinan agama tentang peristiwa manusia seperti kelahiran dan kematian dan tujuan hidup semua mempengaruhi https://jayapanguspress. org/index. php/metta apa yang anak-anak pikirkan, katakan, dan lakukanAy. (Eliason dan Loa Jenkins, 2. Agama merupakan teknik spiritualitas (Hull, 2. , tetapi agama bukanlah sesuatu yang dapat dilihat oleh manusia. Hal ini perlu didekati oleh kehidupan batin melalui media eksternal (Engebretson, 2. , dan Piaget mengatakan bahwa pada tahap kedua . erjadi dari usia 7 atau 8 sampai 13 tahu. operasional konkrit di mana pemikiran keagamaan anak terfokus pada detail-detail tertentu. gambar dan cerita (Santrock, 2. Karena itulah karakter religius sangat cocok jika diajarkan melalui cerita Pendanda Baka. Cerita Pedanda Baka sebagai Media Pendidikan Karakter Sejak Anak Usia Dini Menurut Shichida Auotak kanan belajar dari suaraAy (Shichida, 2. , dan Aamodt dalam Welcome to Your Child's Brain menyatakan bahwa. Auanak kecil fokus pada suara manusiaAy (Aamodt, 2. Berdasarkan teori tersebut, cerita Pedanda Baka cocok dijadikan media pendidikan karakter bagi anak usia dini. Anak usia dini selalu membutuhkan model dalam bertindak, dan dalam sebuah cerita terdapat model sebagai gambaran perilaku manusia. Ahli teori kognitif sosial menyarankan bahwa sebagian besar pembelajaran kita berasal dari mengamati dan mencontoh apa yang dilakukan orang lain. Bagaimana Pemodelan Mempengaruhi Perilaku? Teori kognitif sosial telah mengusulkan bahwa pemodelan memiliki beberapa efek: . Pemodelan mengajarkan perilaku baru. Orang dapat mempelajari perilaku yang sama sekali baru dengan mengamati orang lain melakukannya, . Pemodelan mempengaruhi frekuensi perilaku yang dipelajari Seperti dicatat sebelumnya, orang lebih mungkin untuk menunjukkan perilaku yang telah mereka pelajari sebelumnya jikamereka melihat orang lain diperkuat untuk perilaku seperti itu, . Pemodelan dapat mendorong perilaku yang sebelumnya dilarang, dan . Pemodelan meningkatkan frekuensi perilaku serupa (Ormrod, 2. Pendidikan karakter untuk anak usia dini melalui cerita Pedanda Baka dapat disampaikan dengan cara: Orang Tua Menceritakan Kisah Pedanda Baka Kepada Anaknya Mendongeng akan meningkatkan keterikatan antara orang tua dan anaknya. Menurut Sandra Aamodt Aupada anak usia dini, pola asuh yang hangat oleh ibu dikaitkan dengan kemampuan pengendalian diriAy, jika anak dapat mengendalikan diri, mereka akan memiliki karakter yang baik. Pendidikan karakter dapat disampaikan melalui cerita. Jane Brook menyatakan bahwa Aujika pola asuh yang hangat telah terbentuk, orang tua dapat mengajarkan kebiasaan yang diinginkan (Brook, 2. Orang tua dapat menjalin bonding dengan anaknya melalui cerita Pedanda Baka dan mentransfer pendidikan karakter sesuai cerita. Sandra Aamodt mengatakan bahwa pengaturan perilaku terjadi pada struktur garis tengah otak, yaitu hipotalamus, amigdala, dan hipokampus, juga terjadi di otak depan . obus fronta. , lobus frontal bertanggung jawab untuk memilih perilaku yang sesuai berdasarkan tujuan dan lokal. lingkungan (Aamodt, 2. Cerita Pedanda Baka akan memicu perkembangan otak, sehingga dapat dibangun karakter Untuk mengajarkan karakter, orang tua dan anak harus memiliki ikatan Menurut Carter. Auemosi adalah bagian dari interaksi antara ibu dan anakAy, dan orang tua dapat membangun emosi saat bercerita. Sandra Aamodt menyatakan bahwa. AuSaat lahir, otak bayi belum sepenuhnya berkembang, tetapi beberapa bagian otak relatif berkembang termasuk indera pendengaran dan peraba, oleh karena itu indra pendengaran dan peraba adalah cara terbaik untuk berhubungan dengan anak kecilAy (Aamodt, 2. Melalui cerita Pedanda Baka, orang tua dapat mengajarkan karakter religius kepada anak kecilnya. Bruce mengatakan bahwa anak-anak lebih mudah diajarkan melalui cerita (Bruce 2. https://jayapanguspress. org/index. php/metta b. Guru Menceritakan Kisah Pedanda Baka Di Sekolah Pendidikan karakter dapat diajarkan tidak hanya di rumah, tetapi juga dapat diajarkan di sekolah. Menurut Garcia Coll dan Szalacha. Ausekolah adalah pengaruh sosial yang paling penting selain keluargaAy (Brooks, 2. , sekolah adalah dunia ketiga bagi anak-anak setelah rumah dan masyarakat, setelah mereka memasuki usia sekolah, anak usia dini tidak hanya tinggal di rumah tetapi berinteraksi dengan masyarakat di lingkungannya dan di sekolah, oleh karena itu untuk membangun karakter yang baik, guru memiliki tanggung jawabuntuk memberikan pendidikan karakter kepada anak usia dini di sekolah. Untuk mendidik karakter religius anak usia dini di sekolah secara efektif, guru dapat menggunakan cerita, karena menurut Bruce, anak-anak lebih mudah memahami ide-ide sulit jika disampaikan melalui cerita, itu adalah mekanisme belajar yang kuat, pada usia muda perilaku simbolik dikembangkan, dan cerita bersifat simbolis. Cerita membantu membuat konsep abstrak dan tidak berwujud, menjadi konkret dan nyata (Bruce 2. Berdasarkan pernyataan Bruce, cerita Pedada Baka harus digunakan sebagai media pendidikan karakter sejak anak usia dini, dan guru sekolah harus selalu menceritakan kisah Pedanda Baka kepada anak-anak sejak usia dini. Kesimpulan Mendongeng adalah budaya tradisional Bali kuno. cerita dapat dijadikan sebagai media untuk menyampaikan pendidikan karakter sejak anak usia dini. Bercerita dapat membangun hubungan yang hangat antara orang tua dan anak usia dini, sehingga pendidikan karakter dapat ditransfer dengan mudah. Cerita Pedanda Baka mengandung nilai karakter religius. itu mengatakan bahwa perilaku buruk akan mendapatkan Karena telah berbuat jahat membunuh semua ikan yang ditemukan di danau maka Pedanda Baka mendapatkan hukuman dibunuh dengan kepiting. Pendidikan karakter melalui cerita Pedanda Baka dapat disampaikan di rumah oleh orang tua kepada anak sejak usia dini dan di sekolah oleh guru kepada siswa. Pendidikan karakter dapat diberikan tidak hanya di rumah tetapi juga di sekolahkarena pada usia sekolah sekolah adalah dunianya anak. Melalui cerita Pedanda Baka pendidikan karakter agama kepada anak sejak usia dini dapat dengan mudah dilakukan, karena di dalam cerita tersebut ditemukan sosok-sosok yang dapat menjadi panutan bagi anak sejak usia dini dalam Daftar Pustaka