The Studies of Social Science Volume 08. Issue 01. April 2026 01 Ae 11 DOI: https://doi. org/10. 35801/ts. p-ISSN : 2686-3111 e-ISSN : 2686-3103 Persepsi dan Pengetahuan Masyarakat Mengenai Perbedaan Obat Tradisonal dan Obat Modern di Sulawesi Utara: Studi Antropologi Kesehatan Weny Indayany Wiyono*. Widya Astuti Lolo dan Paulina VY Yamlean Prodi Farmasi. Fakultas Matematika dan Ilmu Penegtahuan Alam. Universitas Sam Ratulangi. Manado *Email: wenyindayany@unsrat. Abstrak Pengetahuan dan persepsi masyarakat terhadap obat tradisional dan obat modern berperan penting dalam menentukan pilihan pengobatan. Sebagian besar masyarakat memandang obat tradisional sebagai bagian dari warisan budaya yang identik dengan bahan alami dan keamanan empiris, sedangkan obat modern dianggap lebih ilmiah, efektif, dan telah teruji secara klinis. Namun, masih terdapat kesenjangan pengetahuan terkait pengujian klinis, standar dosis, penggunaan teknologi, serta efektivitas pengobatan antara kedua jenis obat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan dan persepsi masyarakat mengenai perbedaan antara obat tradisional dan obat modern di Sulawesi Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap beberapa informan masyarakat yang menggunakan kedua jenis obat. Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola pandangan dan pemahaman masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat menilai obat tradisional belum teruji secara klinis, belum tersentuh teknologi modern, serta belum memiliki standar dosis yang pasti, dan efektivitasnya sering kali dikaitkan dengan istilah AukecocokanAy dan faktor sugesti. Sebaliknya, obat modern dianggap memiliki kepastian efektivitas karena telah melalui uji ilmiah dan didukung teknologi serta pengawasan mutu. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara pengetahuan tradisional dan ilmiah, namun hal ini membuka peluang untuk integrasi antara pengobatan tradisional dan modern. Pemerintah memiliki peran penting dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui edukasi, standardisasi, serta dukungan penelitian dan kebijakan kesehatan berbasis bukti. Integrasi tersebut diharapkan dapat menciptakan sistem pengobatan yang holistik, rasional, dan berakar pada kearifan lokal. Kata kunci: persepsi masyarakat. obat tradisional. obat modern. integrasi pengobatan Abstract Public knowledge and perception of traditional and modern medicine play an important role in determining treatment choices. Most people perceive traditional medicine as part of their cultural heritage, characterized by natural ingredients and empirically based safety. , while modern medicine is considered more scientific, effective, and clinically tested. However, there remains a gap in understanding related to clinical testing, dosage standardization, technological application, and treatment effectiveness between the two types of medicine. This study aims to describe the publicAos knowledge and perception of the differences between traditional and modern medicine in North Sulawesi. The research employed a qualitative method using in-depth interviews with several community informants who use both types of medicine. Thematic analysis was applied to identify patterns of understanding and perception. The findings reveal that people perceive traditional medicine as untested clinically, lacking technological involvement, and without standardized dosages, with its effectiveness often associated with individual AucompatibilityAy and suggestion . lacebo effec. In contrast, modern medicine is viewed as more reliable in its effectiveness, supported by scientific research, technology, and quality control. The study concludes that there remains a knowledge gap between traditional beliefs and scientific understanding, yet this presents an opportunity for integrating traditional and modern medicine. The government plays a crucial role in enhancing public knowledge through education, standardization, research support, and evidence-based health policies. Such integration is expected to foster a holistic, rational, and culturally rooted healthcare system. Keywords: public perception. traditional medicine. modern medicine. integration of medicine The Studies of Social Science Volume 08. Issue 01. April 2026 01Ae11 Wiyono et al. | Persepsi dan PengetahuanA. PENDAHULUAN Pemanfaatan obat tradisional tetap menjadi salah satu pilar penting dalam praktik pengobatan masyarakat Indonesia karena keterjangkauan dan akar budayanya. Fenomena ini berakar kuat pada nilai budaya, kebiasaan turun-temurun, serta keterjangkauan bahan Data dari survei nasional memperlihatkan bahwa penggunaan obat tradisional di berbagai daerah tetap tinggi, dipengaruhi oleh persepsi masyarakat terhadap keamanan dan keefektifan bahan alami (Badan Pusat Statistik, 2. Di Provinsi Sulawesi Utara, pemanfaatan tumbuhan obat sudah lama menjadi praktik keseharian masyarakat dari berbagai subetnis, seperti Minahasa. Bolaang Mongondow, dan Sangihe. Pengetahuan tentang tanaman obat diwariskan secara lisan dan membentuk sistem pengetahuan lokal (Kinho et al. , 2011. Lingkubi, 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan daun, akar, atau kulit batang tanaman untuk mengatasi keluhan kesehatan ringan, sementara pengobatan medis modern digunakan untuk penyakit yang lebih serius (Pelokang, 2. Perbedaan dalam tingkat pendidikan, pengalaman terhadap efek obat, serta rekomendasi tenaga kesehatan turut memengaruhi persepsi dalam pengobatan (Adiyasa. Selain itu, kebijakan pemerintah terkait integrasi pengobatan tradisional dan modern juga memengaruhi pola pemakaian obat di masyarakat. Masih terbatasnya literasi mengenai penggunaan obat yang tepat dapat menimbulkan risiko, terutama jika obat tradisional digunakan bersamaan dengan obat kimia modern tanpa pengawasan tenaga Dengan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menggali persepsi dan pengetahuan masyarakat Sulawesi Utara mengenai perbedaan antara obat tradisional dan obat modern. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengembangan kebijakan kesehatan yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan prinsip-prinsip ilmiah serta meningkatkan literasi masyarakat dalam penggunaan obat yang aman dan rasional METODE PELAKSANAAN Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam . n-depth intervie. untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai persepsi dan pengetahuan masyarakat terhadap obat tradisional dan modern (Creswell, 2. Penelitian dilaksanakan di Kota Manado dan Kota Bitung dengan informan yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Kriteria informan adalah masyarakat berusia 18 tahun ke atas yang memiliki pengalaman menggunakan kedua jenis obat tersebut. Sebanyak 20 informan diwawancarai menggunakan panduan semi-terstruktur yang mencakup aspek pengetahuan, persepsi efektivitas, dan keamanan obat. Proses wawancara dilakukan secara tatap muka dan direkam dengan izin peserta. Data hasil wawancara kemudian ditranskripsi dan dianalisis menggunakan analisis tematik sesuai panduan Braun & Clarke . Keabsahan data dijaga melalui triangulasi dan pengecekan hasil oleh rekan sejawat, serta mengacu pada prinsip validitas kualitatif dari Lincoln dan Guba . Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian dari Poltekes Manado. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan pengetahuan masyarakat mengenai perbedaan obat tradisional dan modern bervariasi. Pengertian dan persepsi masyarakat mengenai Obat tradisonal dan modern serta perbedaannya dijelaskan sebagai berikut: The Studies of Social Science Volume 08. Issue 01. April 2026 01Ae11 Wiyono et al. | Persepsi dan PengetahuanA. Alam versus Kimia Au Obat tradisional itu dari bahan bahan alami. Kalau obat modern itu dari bahan bahan mengandung kimiaAy Ibu R, 50 tahun. AuObat tradisional berasal dari alam kalau obat modern ada campuran bahan kimia sedikitAy Ibu C, 37 tahun Au Obat tradisional itu ramuan baik dari tumbuhan maupun hewanAy Bapak M, 47 Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki persepsi menganggap bahwa obat tradisional lebih alami berupa ramuan berasal dari bahan alam baik tumbuhan maupun hewan yang lebih aman, sedangkan obat modern dipandang sebagai hasil rekayasa kimia yang bersifat sintetis dan berpotensi menimbulkan efek samping. Pandangan ini menggambarkan pengetahuan yang telah lama berkembang di masyarakat, di mana AualamiAy sering dikaitkan dengan AuamanAy, dan AukimiawiAy identik dengan AuberbahayaAy. Menurut penelitian Randu et al. , persepsi masyarakat terhadap obat tradisional cenderung positif karena dianggap memiliki hubungan erat dengan warisan budaya dan kepercayaan turun-temurun. Penggunaan tanaman obat dalam keluarga sering diajarkan secara oral, sehingga membentuk keyakinan bahwa segala sesuatu yang berasal dari alam memiliki manfaat penyembuhan yang lebih AumurniAy dibandingkan obat pabrikan. Hal ini sejalan dengan konsep etnofarmakologi, di mana pengalaman empiris masyarakat menjadi dasar dalam memilih terapi (Qamariah et al. , 2. Sebaliknya, obat modern yang dihasilkan melalui proses industri kimia sering kali dipandang dengan kecurigaan karena dianggap Autidak alamiAy dan AukerasAy. Menurut Kumontoy et al. masyarakat pedesaan masih mengaitkan istilah Auobat kimiaAy dengan risiko ketergantungan dan efek samping jangka panjang. Meskipun demikian, masyarakat tetap menggunakan obat modern ketika gejala penyakit dirasakan berat atau membutuhkan penyembuhan cepat. Hal ini menunjukkan adanya dualitas pengetahuan, yaitu kepercayaan terhadap keamanan obat tradisional tetapi juga pengakuan terhadap efektivitas obat modern. Dari perspektif antropologi kesehatan, pandangan tersebut mencerminkan cara masyarakat memahami penyakit dan penyembuhan berdasarkan nilai budaya dan pengalaman sosialnya. Konsep AualamiAy di sini tidak hanya bermakna biologis, tetapi juga simbolikAimewakili keseimbangan antara manusia dan alam. Sebaliknya, obat modern dilihat sebagai produk AuluarAy yang bersifat teknologis dan rasional, sehingga belum sepenuhnya diterima secara emosional maupun budaya (Helman, 2. Namun, secara ilmiah, tidak semua obat tradisional benar-benar bebas bahan Setiap bahan alam mengandung senyawa kimia aktif yang dapat berkhasiat maupun menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan dan farmasi masyarakat menjadi penting untuk menjembatani pemahaman tradisional dan modern, agar penggunaan obatAibaik herbal maupun sintetisAidapat dilakukan secara rasional, aman, dan berbasis bukti. Belum Teruji Klinis Versus Teruji Klinis Au Kalau Obat Tradisional itu belum teruji klinis sedangkan kalau Obat modern sudah teruji klinisAy Bapak M, 47 tahun. The Studies of Social Science Volume 08. Issue 01. April 2026 01Ae11 Wiyono et al. | Persepsi dan PengetahuanA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki pemahaman bahwa obat tradisional belum melalui proses uji klinis, sedangkan obat modern dianggap sudah melewati tahapan pengujian ilmiah dan memiliki jaminan keamanan serta efektivitas. Persepsi ini menunjukkan adanya perbedaan cara pandang masyarakat terhadap dasar ilmiah dari kedua jenis obat tersebut. Sebagian informan menyatakan bahwa obat tradisional Aubelum terbukti secara medisAy karena tidak memiliki bukti tertulis atau sertifikat dari lembaga resmi. Menurut Kumontoy et al. yang menemukan bahwa masyarakat masih menganggap obat tradisional hanya didasarkan pada pengalaman turun-temurun, bukan hasil penelitian ilmiah. Sementara itu, obat modern dipersepsikan lebih terpercaya karena melalui tahapan uji laboratorium dan uji klinis sebelum beredar di pasaran. Dari sudut pandang farmasi klinik dan regulasi kesehatan, anggapan ini memiliki dasar yang benar. Obat modern memang diwajibkan melalui serangkaian uji pra-klinis . n vitro dan in viv. serta uji klinis pada manusia untuk menilai keamanan, dosis efektif, dan efek sampingnya sebelum mendapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sementara itu, sebagian besar obat tradisional atau jamu hanya diuji secara empiris dan baru sebagian kecil yang telah mencapai tingkat fitofarmaka, yaitu kategori obat herbal yang telah melalui uji klinis sesuai standar medis (BPOM, 2. Namun, pemahaman masyarakat yang menganggap semua obat tradisional Aubelum teruji klinisAy juga menunjukkan adanya keterbatasan pengetahuan mengenai perkembangan penelitian herbal di Indonesia. Beberapa produk herbal modern sebenarnya telah menjalani uji pra-klinis dan klinis, terutama dalam bentuk fitofarmaka seperti ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiz. dan sambiloto (Andrographis paniculat. yang terbukti memiliki efek hepatoprotektor dan imunomodulator (Hasan et al. , 2. Hal ini menandakan bahwa batas antara AutradisionalAy dan AumodernAy mulai kabur seiring dengan kemajuan penelitian ilmiah di bidang herbal. Dari perspektif antropologi kesehatan, pandangan masyarakat tersebut mencerminkan ketegangan antara pengetahuan empiris tradisional dan pengetahuan biomedis modern. Masyarakat cenderung mengaitkan Auteruji klinisAy dengan legitimasi ilmiah dan status modernitas, sementara pengobatan tradisional diposisikan sebagai bentuk kearifan lokal yang belum sepenuhnya diakui oleh ilmu kedokteran barat (Helman, 2. Hal ini menegaskan perlunya pendekatan komunikasi kesehatan yang lebih inklusif, agar masyarakat memahami bahwa uji klinis bukan sekadar prosedur formal, melainkan bagian dari upaya menjamin keamanan dan efektivitas obat, baik yang berasal dari bahan alam maupun sintetis. Dengan demikian, peningkatan literasi kesehatan dan farmasi masyarakat sangat diperlukan agar mereka tidak hanya membedakan obat berdasarkan asalnya . lami atau kimiaw. , tetapi juga berdasarkan bukti ilmiah yang mendukung Pendidikan ini dapat mendorong pemanfaatan obat tradisional secara rasional dan sekaligus mendukung pengembangan fitofarmaka nasional yang berbasis pada penelitian ilmiah. Belum tersentuh teknologi Versus yang sudah tersentuh teknologi AuObat tradisional itu obat yang belum kena dengan teknologi yang ada sekarang Kalau obat obat modern sekarang sudah kena teknologi contohnya ada The Studies of Social Science Volume 08. Issue 01. April 2026 01Ae11 Wiyono et al. | Persepsi dan PengetahuanA. mengandung pengawet. Kalau dulu obat tradisional tidak mengandung pengawetAy Bapak N, 52 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki pemahaman bahwa obat tradisional merupakan produk alami yang diolah secara sederhana tanpa campur tangan teknologi modern, sedangkan obat modern dianggap sebagai hasil dari proses teknologi tinggi, seperti penggunaan mesin, bahan tambahan, dan zat pengawet untuk menjaga stabilitas produk. Pandangan ini menggambarkan persepsi masyarakat tentang perbedaan antara AualamiAy dan AuteknologisAy dalam konteks pengobatan. Sebagian besar informan mengaitkan obat tradisional dengan proses pembuatan yang sederhana, seperti merebus daun, rimpang, atau akar tanaman obat tanpa bahan tambahan lain. Hal ini dianggap lebih AumurniAy dan AuamanAy karena tidak melalui proses industri. Sebaliknya, obat modern dianggap Ausudah tersentuh teknologiAy karena diproduksi di pabrik menggunakan mesin dan bahan kimia tambahan, termasuk zat pengawet seperti paraben, natrium benzoat, atau formaldehid, yang berfungsi untuk memperpanjang masa simpan obat. Masyarakat cenderung memandang teknologi dalam obat sebagai sesuatu yang Aubuatan manusiaAy dan Autidak alamiAy, sehingga timbul persepsi bahwa obat modern lebih berisiko terhadap kesehatan jangka panjang. Meskipun demikian, sebagian masyarakat juga menyadari bahwa teknologi berperan penting dalam memastikan dosis yang tepat, kebersihan, dan stabilitas obat, yang tidak selalu dapat dijamin pada obat tradisional yang dibuat secara manual. Dari perspektif farmasi modern, keberadaan teknologi dalam pembuatan obat memang menjadi faktor utama dalam menjamin kualitas, keamanan, dan efektivitas produk. Proses teknologi memungkinkan dilakukan standarisasi kadar zat aktif, uji stabilitas, dan kontrol mutu yang sulit dicapai pada obat tradisional buatan rumah. Zat tambahan seperti pengawet, pengikat, atau pelarut bukan sekadar bahan kimia berbahaya, melainkan bagian dari rekayasa farmasetik untuk mempertahankan mutu obat selama penyimpanan dan distribusi (Departemen Kesehatan RI, 2. Namun, dari sudut pandang antropologi kesehatan, pandangan masyarakat yang menilai obat tradisional sebagai Aubelum tersentuh teknologiAy mencerminkan kerinduan terhadap kesederhanaan dan kemurnian pengobatan alami. Teknologi dalam obat modern sering diasosiasikan dengan industrialisasi dan komersialisasi, sehingga menimbulkan jarak emosional antara pasien dan proses penyembuhan. Sebaliknya, pengobatan tradisional dianggap lebih AumanusiawiAy karena dilakukan dengan tangan sendiri atau dengan bantuan orang yang dikenal, bukan mesin atau pabrik besar (Helman, 2. Meski demikian, persepsi bahwa obat tradisional sama sekali belum tersentuh teknologi tidak sepenuhnya tepat. Saat ini, banyak produk herbal modern yang telah melalui proses ekstraksi, standarisasi, dan formulasi dengan bantuan teknologi farmasi, meskipun masih berbasis bahan alam. Produk obat herbal terstandar dan fitofarmaka adalah contoh nyata integrasi antara kearifan lokal dan kemajuan teknologi modern (BPOM, 2. Dengan demikian, pemahaman masyarakat perlu diarahkan bahwa teknologi dalam obat bukan semata-mata untuk komersialisasi, tetapi untuk meningkatkan keamanan, kebersihan, dan efektivitas pengobatan. Edukasi kesehatan yang menekankan keseimbangan antara kearifan tradisional dan inovasi teknologi The Studies of Social Science Volume 08. Issue 01. April 2026 01Ae11 Wiyono et al. | Persepsi dan PengetahuanA. sangat diperlukan agar masyarakat dapat memanfaatkan kedua jenis obat secara bijak dan rasional. Belum ada standar pemakaian/dosis . erdasarkan pengalama. versus adanya standar pemakaian/dosis AuObat tradisional itu berdasarkan pengalaman tidak ada dipatenkan contohnya mau minum berapa ujung. Obat dokter ada dosis jadi sudah pasti minum berapak kali sehari atau bagaimanaAy Ibu E, 47 tahun Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki pandangan bahwa obat tradisional belum memiliki standar atau aturan pemakaian yang pasti, baik dalam hal dosis, frekuensi, maupun cara penggunaan, sedangkan obat modern dianggap lebih terukur karena memiliki petunjuk dosis yang jelas berdasarkan umur, berat badan, dan kondisi penyakit. Pandangan ini mencerminkan perbedaan persepsi masyarakat terhadap konsep standarisasi dan evidensi ilmiah antara pengobatan tradisional dan modern. Sebagian informan menjelaskan bahwa dalam penggunaan obat tradisional, takaran biasanya ditentukan secara perkiraan atau kebiasaan turun-temurun, misalnya Audirebus tiga gelas air hingga tersisa satu gelasAy atau Audiminum dua kali sehariAy. Takaran tersebut dianggap cukup karena mengikuti pengalaman orang tua atau tetua adat. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Handayani dan Yusuf . yang menunjukkan bahwa masyarakat pedesaan di Indonesia cenderung menggunakan takaran tradisional seperti Ausegenggam daunAy atau Ausecubit rimpangAy, tanpa memperhatikan kadar zat aktif atau batas aman penggunaannya. Sebaliknya, obat modern dipersepsikan lebih ilmiah dan terpercaya karena telah melalui penelitian farmakologis yang menentukan dosis efektif dan batas Pengemasan obat modern juga mencantumkan aturan pakai, dosis per tablet, serta indikasi dan kontraindikasi, yang membantu masyarakat merasa lebih aman dalam penggunaannya. Hal ini sesuai dengan hasil studi Rahardjo et al. yang menjelaskan bahwa keberadaan label dosis dan izin edar dari BPOM memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap obat modern. Dari perspektif farmasi klinik, standarisasi dosis merupakan aspek penting dalam menjamin efektivitas terapi dan mencegah efek samping atau toksisitas obat. Obat modern melalui serangkaian uji pra-klinis dan klinis untuk menentukan dosis aman dan efektif, sedangkan sebagian besar obat tradisional masih didasarkan pada bukti empiris. Hanya sebagian kecil obat herbal yang telah melalui tahapan standarisasi ekstrak dan uji klinis, sehingga dapat dikategorikan sebagai obat herbal terstandar atau fitofarmaka (BPOM, 2. Dari sisi antropologi kesehatan, pandangan bahwa obat tradisional Autidak memiliki aturan dosisAy mencerminkan cara masyarakat memahami pengobatan sebagai bagian dari praktik budaya, bukan sekadar tindakan medis. Masyarakat lebih menekankan pada keseimbangan tubuh dan keyakinan spiritual dibandingkan ukuran kuantitatif. Sementara itu, obat modern dipandang sebagai hasil logika sains yang menuntut kepastian angka dan bukti ilmiah (Helman, 2. Namun demikian, ketiadaan standar dosis pada obat tradisional berpotensi menimbulkan risiko, seperti penggunaan berlebihan, interaksi antar-herbal, atau efek toksik yang tidak disadari. Oleh karena itu, diperlukan edukasi kesehatan yang menekankan pentingnya standarisasi dan konsultasi dengan tenaga kesehatan, agar The Studies of Social Science Volume 08. Issue 01. April 2026 01Ae11 Wiyono et al. | Persepsi dan PengetahuanA. masyarakat dapat memanfaatkan obat tradisional secara rasional dan aman, tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal. AuKetidakcocokanAy versus kepastian efektifitas . AuMasing masing individu lain jadi kalau obat tradisional cocok yang sembuh kalau obat modern/obat dokter kan sudah pastiAy Ibu E, 47 Tahun Aukalau obat tradisional cocok ya pasti sembuhAy Bapak N, 52 Tahun Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa obat tradisional bersifat Autergantung kecocokanAy, sedangkan obat modern memiliki Aukepastian efektivitasAy. Istilah AucocokAy atau Autidak cocokAy sering digunakan masyarakat untuk menjelaskan keberhasilan atau kegagalan penggunaan obat tradisional. Mereka meyakini bahwa khasiat obat tradisional tidak sama bagi setiap orang, tergantung pada kondisi tubuh, keyakinan, dan penerimaan individu terhadap obat tersebut. Pandangan ini menggambarkan bahwa efektivitas obat tradisional sering kali dipengaruhi oleh sugesti atau keyakinan psikologis pengguna. Masyarakat yang percaya pada suatu ramuan biasanya akan merasa lebih cepat sembuh, sementara yang tidak percaya menganggap obat tersebut tidak cocok. Fenomena ini sesuai dengan konsep efek plasebo, yaitu kondisi ketika keyakinan terhadap pengobatan berkontribusi terhadap perasaan sembuh, meskipun efek farmakologisnya belum terukur secara pasti (Helman, 2. Dalam konteks antropologi kesehatan, kepercayaan dan sugesti berperan besar dalam praktik pengobatan tradisional, karena proses penyembuhan tidak hanya dipahami sebagai aspek biologis, tetapi juga sosial dan spiritual. Sebaliknya, obat modern dianggap memiliki kepastian efektivitas karena didukung oleh bukti ilmiah, uji klinis, serta pengawasan mutu. Penggunaannya tidak bergantung pada keyakinan individu, melainkan pada hasil penelitian yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Menurut Iqbal et al. , persepsi masyarakat terhadap efektivitas obat modern meningkat karena adanya jaminan ilmiah dari lembaga resmi seperti BPOM dan rekomendasi tenaga medis. Namun demikian, unsur sugesti juga tidak sepenuhnya hilang dalam penggunaan obat modern. Kepercayaan pasien terhadap dokter, merek obat, atau rumah sakit dapat meningkatkan kepatuhan dan mempercepat pemulihan, sebagaimana dijelaskan oleh teori psikoneuroimunologi bahwa faktor psikologis dapat memengaruhi respon imun tubuh (Sarafino & Smith, 2. Dengan demikian, baik obat tradisional maupun modern sebenarnya memiliki dimensi sugestif yang berperan dalam hasil pengobatan. Keseluruhan temuan ini menunjukkan bahwa kepercayaan dan sugesti masih menjadi bagian penting dalam pengalaman masyarakat terhadap pengobatan. Oleh karena itu, pendekatan edukatif yang menggabungkan aspek ilmiah dan psikososial perlu dikembangkan agar masyarakat dapat menggunakan obat secara rasional, namun tetap menghargai peran keyakinan dalam proses penyembuhan. Hasil penelitian menunjukkan adanya beberapa fenomena menarik terkait pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap obat tradisional dan obat modern. Fenomena ini mencerminkan masih terbatasnya literasi kesehatan serta pengaruh kuat budaya dan kepercayaan dalam menentukan pilihan pengobatan. Fenomena yang terjadi di masyarakat terkait pengetahuan dan pemahaman mengenai obat tradisional dan modern yaitu: The Studies of Social Science Volume 08. Issue 01. April 2026 01Ae11 Wiyono et al. | Persepsi dan PengetahuanA. Masyarakat tidak cukup mengenal mengenai obat tradisional dan obat modern Sebagian besar masyarakat belum memiliki pemahaman yang jelas mengenai perbedaan antara obat tradisional dan obat modern, baik dari segi bahan, cara kerja, maupun proses pengujian dan regulasinya. Banyak yang hanya memahami obat tradisional sebagai Auobat alamiAy dan obat modern sebagai Auobat pabrikAy, tanpa mengetahui bahwa keduanya memiliki dasar ilmiah dan aturan penggunaan yang Minimnya informasi ilmiah menyebabkan masyarakat sering memilih obat berdasarkan pengalaman pribadi atau pengaruh lingkungan sosial Masyarakat tidak mengenal obat herbal terstandar (OHT) dan Fitofarmaka Sebagian besar masyarakat masih belum memahami adanya tingkatan atau klasifikasi dalam obat tradisional, yaitu jamu. Obat Herbal Terstandar (OHT), dan Fitofarmaka. Pengetahuan masyarakat umumnya hanya terbatas pada AujamuAy sebagai bentuk obat tradisional, tanpa menyadari bahwa terdapat jenis obat herbal yang telah melalui proses standarisasi mutu, keamanan, dan uji klinis. OHT merupakan obat herbal yang telah terstandarisasi melalui uji praklinik dan standarisasi bahan baku serta produk jadinya, sedangkan Fitofarmaka adalah obat herbal yang telah melewati tahap paling tinggi karena telah terbukti secara ilmiah melalui uji klinik pada manusia (BPOM RI, 2. Fitofarmaka memiliki status yang sejajar dengan obat modern dalam hal bukti ilmiah, meskipun bahan dasarnya berasal dari alam. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai OHT dan Fitofarmaka disebabkan oleh minimnya sosialisasi dan edukasi dari pemerintah, tenaga kesehatan, serta media informasi. Akibatnya, masyarakat masih beranggapan bahwa seluruh obat tradisional belum teruji klinis dan tidak memiliki standar yang Hal ini berdampak pada rendahnya kepercayaan terhadap obat herbal terstandarisasi, padahal OHT dan Fitofarmaka berpotensi besar menjadi jembatan integrasi antara pengobatan tradisional dan modern di Indonesia. Peningkatan literasi kesehatan masyarakat tentang OHT dan Fitofarmaka perlu dilakukan melalui edukasi berkelanjutan dan kolaborasi antara pemerintah, apoteker, akademisi, serta industri farmasi herbal, agar masyarakat memahami bahwa tidak semua obat tradisional bersifat empiris Ai ada yang telah memenuhi kriteria ilmiah setara obat modern. Sumber informasi masyarakat mengenai obat tradisional masih terbatas Sumber informasi masyarakat tentang obat tradisional umumnya diperoleh dari keluarga, teman, pengobat tradisional, atau media sosial, bukan dari tenaga Hal ini menyebabkan munculnya kesalahpahaman seperti anggapan bahwa semua bahan alami pasti aman atau bahwa obat tradisional tidak memiliki efek samping. Keterbatasan akses terhadap informasi ilmiah dan rendahnya komunikasi antara tenaga kesehatan dengan masyarakat memperkuat kesenjangan pengetahuan ini. Adanya efek sugesti dalam pengetahuan mengenai pengobatan obat tradisional dan Faktor sugesti atau keyakinan pribadi masih memiliki peran besar dalam persepsi masyarakat terhadap efektivitas pengobatan. Banyak masyarakat percaya bahwa kesembuhan tidak hanya bergantung pada kandungan obat, tetapi juga pada kecocokan dan keyakinan dalam penggunaannya. Efek sugesti ini dapat The Studies of Social Science Volume 08. Issue 01. April 2026 01Ae11 Wiyono et al. | Persepsi dan PengetahuanA. memperkuat kepercayaan terhadap pengobatan tradisional maupun modern, tetapi juga bisa menimbulkan bias dalam menilai efektivitas obat secara objektif. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan masyarakat mengenai obat tradisional dan obat modern masih dipengaruhi oleh pemahaman budaya, pengalaman empiris, serta kepercayaan pribadi. Masyarakat cenderung menganggap obat tradisional sebagai pengobatan yang alami, aman, dan diwariskan secara turun-temurun, namun belum teruji klinis, belum tersentuh teknologi modern, belum memiliki standar dosis, serta efektivitasnya sangat tergantung pada AukecocokanAy dan sugesti individu. Sebaliknya, obat modern dipandang lebih ilmiah dan memiliki kepastian efektivitas, karena telah melalui proses pengujian klinis, standarisasi dosis, serta pengawasan mutu dengan dukungan teknologi farmasi. Persepsi ini menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan antara tradisi dan sains, tetapi sekaligus membuka peluang untuk integrasi antara pengobatan tradisional dan modern melalui pendekatan berbasis bukti ilmiah dan kearifan lokal. Upaya integrasi dapat dilakukan melalui pengembangan obat herbal terstandar dan fitofarmaka, kolaborasi antara tenaga medis dan pengobat tradisional, serta peningkatan literasi kesehatan masyarakat agar masyarakat dapat menggunakan obat secara rasional dan Dalam hal ini, peran pemerintah menjadi sangat penting dalam mendorong peningkatan pengetahuan dan kepercayaan masyarakat terhadap obat tradisional melalui: Regulasi dan standardisasi produk obat tradisional agar mutu dan keamanannya Program edukasi dan sosialisasi di tingkat masyarakat, sekolah, dan fasilitas kesehatan mengenai penggunaan obat tradisional berbasis ilmiah. Dukungan penelitian dan inovasi terhadap pengembangan obat herbal lokal. Kerja sama lintas sektor antara Kementerian Kesehatan, akademisi, dan industri farmasi untuk memperkuat posisi obat tradisional Indonesia dalam sistem kesehatan nasional. Dengan demikian, integrasi pengobatan tradisional dan modern yang didukung oleh edukasi masyarakat dan kebijakan pemerintah yang kuat akan menciptakan sistem kesehatan yang holistik, rasional, dan berakar pada budaya bangsa, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) yang memberikan dana melalui Skim Riset Dasar/Terapan Umum Unggulan UNSRAT dengan DIPA Unsrat anggaran 2025 dan pihak-pihak yang membantu pelakanaan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA