Jurnal Nasional Holistic Science Vol. No. Desember 2025, pp. ISSN: 2721-3838. DOI: 10. 30596/jcositte. Analysis of Students' Difficulties in Listening to German Audio Level B1 Immanuel Chioke1. Josua Parma Hasibuan2. Ridho Abrar Soufyan3. Risnovita Sari4 1,2,3,4Universitas Negeri Medan. Indonesia Email: immanuel. 2243132001@mhs. 2243132005@mhs. 2243132009@mhs. risnovitasari@unimed. ABSTRAK Kemampuan memahami audio percakapan merupakan salah satu kompetensi esensial dalam pembelajaran Bahasa Jerman tingkat B1. Namun, banyak mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam memahami percakapan autentik yang disampaikan melalui media audio. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab kesulitan tersebut dan mengidentifikasi implikasinya terhadap proses pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan ialah pendekatan kualitatif dengan teknik analisis isi, melalui pemberian tes mendengarkan serta pemanfaatan sumber audio dari platform Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama mahasiswa terletak pada kecepatan tuturan native speaker, keterbatasan kosakata, perbedaan dialek, serta minimnya media pembelajaran yang memadai seperti headset. Selain itu, kurangnya latihan mandiri dan akses konten audio berbahasa Jerman juga memperparah ketidakmampuan mahasiswa dalam menangkap konteks percakapan secara utuh. Kondisi ini menyebabkan rendahnya kepercayaan diri mahasiswa dan munculnya kesenjangan antara kemampuan di kelas dengan kebutuhan komunikasi nyata. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan penyediaan media audio yang relevan, pelatihan guru dalam strategi pembelajaran Hyrverstehen, serta pembiasaan latihan intensif berbasis konteks autentik. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan strategi pembelajaran yang lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan mendengarkan Bahasa Jerman tingkat B1. Kata kunci: Audio. Mendengar. Mahasiswa. Kendala. Media ABSTRACT The ability to understand audio conversations is an essential competency in learning German at the B1 level. However, many students still experience difficulties in understanding authentic conversations delivered through audio media. This study aims to analyze the factors causing these difficulties and identify their implications for the learning process. The research method used was a qualitative approach with content analysis techniques, through the administration of listening tests and the use of audio sources from digital platforms. The results showed that the main obstacles for students were the speed of native speakers' speech, limited vocabulary, dialect differences, and the lack of adequate learning media such as headsets. Furthermore, the lack of independent practice and access to German audio content also exacerbated students' inability to grasp the full context of conversations. This condition led to low student confidence and the emergence of a gap between classroom abilities and real-life communication needs. This study recommends increasing the provision of relevant audio media, teacher training in Hyrverstehen learning strategies, and the habituation of intensive practice based on authentic contexts. Thus, the results of this study can serve as a basis for developing more effective learning strategies to improve German listening skills at the B1 level. Keyword: Audio. Listening. Students. Obstacles. Media Corresponding Author: Immanuel Chioke. Universitas Negeri Medan. Jl. William Iskandar Ps. Kenangan Baru. Sumatera Utara 20221. Indonesia Email: immanuel. 2243132001@mhs. Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/HS Jurnal Nasional Holistic Science A INTRODUCTION Belajar Bahasa Jerman di perguruan tinggi merupakan tahapan pembelajaran yang menuntut mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi bahasa yang lebih kompleks, terutama ketika memasuki level B1. Pada level ini, materi pembelajaran berbeda secara signifikan dengan level A1 yang hanya berfokus pada pengenalan kosakata dasar dan percakapan sederhana. Mahasiswa dituntut untuk mampu memahami percakapan autentik yang berlangsung secara cepat, natural, serta sarat dengan struktur linguistik yang lebih Salah satu bentuk tantangan tersebut tampak ketika mahasiswa diminta mendengarkan percakapan penutur asli melalui podcast, dialog digital, ataupun media audio lain yang membahas kehidupan sehari-hari masyarakat Jerman. Namun, dalam praktik pembelajaran Hyrverstehen, banyak mahasiswa mengalami kesulitan dalam memahami audio percakapan level B1. Kesulitan tersebut terutama disebabkan oleh kecepatan berbicara penutur asli, pelafalan kata yang terdengar bersambung, serta variasi dialek yang membuat mahasiswa kehilangan alur percakapan. Kondisi ini menimbulkan frustrasi, menurunkan minat belajar, bahkan menghambat mahasiswa menikmati proses pembelajaran secara menyeluruh. Tidak jarang, mahasiswa merasa tertinggal dan kesulitan menafsirkan makna percakapan meskipun mereka telah mengenali sebagian kosakata yang muncul dalam audio. Untuk mampu memahami percakapan secara utuh, mahasiswa tidak hanya dituntut sekadar mendengar, tetapi juga menyimak, menafsirkan makna, serta menghubungkan konteks percakapan melalui kemampuan linguistik yang memadai. Hal ini membutuhkan latihan intensif, penguasaan kosakata yang luas, konsentrasi tinggi, serta dukungan media pembelajaran yang relevan. Sayangnya, berbagai penelitian dan pengalaman lapangan menunjukkan bahwa masih banyak perguruan tinggi yang belum secara optimal menyediakan media audio, strategi pembelajaran, serta pendampingan yang sesuai kebutuhan mahasiswa dalam menghadapi keterampilan mendengar pada level B1. Permasalahan ini memiliki implikasi penting bagi pengembangan pembelajaran Bahasa Jerman. Peningkatan kompetensi Hyrverstehen tidak hanya berdampak pada kelancaran proses akademik, tetapi juga berperan besar dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi komunikasi nyata di konteks kehidupan sosial berbahasa Jerman. Oleh karena itu, diperlukan analisis komprehensif mengenai faktor penyebab kesulitan mahasiswa dalam memahami audio level B1 serta strategi pembelajaran yang dapat mengatasinya. Hasil penelitian mengenai persoalan ini tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tetapi juga bagi pendidik dan Bagi dosen, penelitian ini dapat menjadi acuan dalam merancang metode dan media pembelajaran menyimak yang lebih efektif. Bagi mahasiswa, penelitian ini dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya latihan terstruktur dalam memahami percakapan autentik. Sementara bagi institusi pendidikan, penelitian ini menjadi dasar dalam pengembangan kurikulum serta penyediaan fasilitas pendukung pembelajaran Bahasa Jerman yang lebih berkualitas. Dengan demikian, urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan untuk menemukan solusi praktis dan teoritis yang mampu meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memahami audio percakapan Bahasa Jerman tingkat B1, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif dan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. RESEARCH METHOD Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan memahami secara mendalam berbagai bentuk kesulitan yang dialami mahasiswa dalam mendengarkan audio percakapan Bahasa Jerman pada level B1. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini tidak hanya berupaya mengidentifikasi kendala secara umum, tetapi juga mengeksplorasi pengalaman subjektif mahasiswa selama proses pembelajaran Hyrverstehen. Data penelitian dikumpulkan melalui pemberian tes mendengarkan berupa audio percakapan penutur asli Jerman dan pengamatan terhadap respons mahasiswa ketika memproses informasi yang disampaikan dalam audio tersebut. Selain itu, peneliti juga memanfaatkan media digital seperti platform audio daring untuk memperoleh contoh percakapan autentik yang relevan dengan standar level B1. Melalui proses ini, peneliti menganalisis kemampuan mahasiswa dalam mengenali kosakata, memahami kecepatan tuturan, serta menafsirkan konteks Teknik analisis isi kemudian digunakan untuk mengidentifikasi pola-pola kendala yang muncul, termasuk keterbatasan media belajar, kurangnya latihan menyimak, dan hambatan linguistik lainnya. Dengan metode ini, penelitian tidak hanya menghasilkan data deskriptif, tetapi juga memberikan pemahaman komprehensif mengenai faktor-faktor yang menyebabkan mahasiswa mengalami kesulitan dalam keterampilan Hyrverstehen pada level B1. RESULTS AND DISCUSSION Dalam pembelajaran Bahasa Jerman pada level B1, keterampilan mendengar (Hyrverstehe. menjadi kompetensi utama yang harus dikuasai mahasiswa selain berbicara dan menulis. Pada tahap ini, mahasiswa (Immanuel Chiok. A Jurnal Nasional Holistic Science dituntut tidak hanya memahami kosakata dasar, tetapi juga mampu menangkap inti percakapan autentik yang disampaikan oleh penutur asli dengan kecepatan dan pelafalan yang natural. Namun, hasil analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami kesulitan signifikan saat menyimak audio percakapan Bahasa Jerman, terutama ketika materi tersebut berasal dari sumber asli seperti podcast, dialog daring, ataupun rekaman percakapan sehari-hari. Kesulitan pertama muncul dari aspek Aussprache atau cara pengucapan penutur asli yang cenderung cepat dan bersambung, sehingga mahasiswa merasa tertinggal dalam menangkap informasi yang disampaikan. Tempo bicara yang tinggi membuat mahasiswa kesulitan memecah kalimat menjadi unit makna yang dapat dipahami, menyebabkan mereka kehilangan konteks percakapan sejak awal. Selain itu, variasi dialek yang terdengar dalam beberapa audio membuat mahasiswa sulit membedakan Bahasa Jerman standar dengan ragam bahasa lainnya. Kondisi ini semakin memperkuat persepsi bahwa audio tersebut berada pada tingkat kesulitan yang lebih tinggi, bahkan menyerupai materi level C1. Faktor kedua berkaitan dengan keterbatasan kosakata mahasiswa. Meskipun beberapa kata telah dikenali melalui pembelajaran di kelas, banyak frasa, ungkapan, dan struktur kalimat dalam audio yang tidak familiar, sehingga mahasiswa sering salah menafsirkan maksud ujaran. Ketika kosakata yang belum pernah dipelajari muncul secara beruntun, mahasiswa tidak mampu mempertahankan pemahaman terhadap konteks percakapan secara utuh. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan kosakata mahasiswa belum mencapai tingkat yang dibutuhkan untuk menghadapi materi autentik B1. Faktor ketiga yang turut memengaruhi kemampuan menyimak adalah minimnya frekuensi latihan Hyrverstehen secara mandiri. Berbeda dengan bahasa Inggris yang memiliki sumber audio berlimpah dan mudah diakses melalui musik, film, dan media populer lainnya, materi audio Bahasa Jerman dianggap kurang menarik dan membutuhkan usaha lebih besar untuk ditemukan. Akibatnya, mahasiswa jarang berlatih menggunakan media digital seperti situs pembelajaran, podcast bertema spesifik, atau platform audio lainnya. Kondisi ini menyebabkan telinga dan kognisi mahasiswa tidak terbiasa terhadap ritme, artikulasi, dan intonasi Bahasa Jerman yang autentik. Keterpaduan ketiga faktor tersebut menimbulkan konsekuensi yang serius dalam proses pembelajaran. Mahasiswa merasa kemampuan mendengar mereka tidak akan pernah cukup untuk memahami percakapan nyata, sehingga muncul hambatan psikologis berupa rasa cemas, ragu, dan rendah diri dalam menghadapi materi Hyrverstehen. Di sisi lain, terdapat kesenjangan yang semakin melebar antara kemampuan yang dikembangkan di kelas dengan tuntutan komunikasi di situasi nyata. Hal ini memperkuat temuan bahwa pembelajaran menyimak Bahasa Jerman pada tingkat B1 tidak dapat dicapai hanya melalui penjelasan materi, tetapi membutuhkan paparan intensif terhadap audio asli, strategi latihan bertahap, serta dukungan media pembelajaran yang memadai. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesulitan mahasiswa dalam memahami audio Bahasa Jerman level B1 bukan semata-mata disebabkan oleh keterbatasan linguistik, tetapi merupakan akumulasi dari faktor fonologis, kognitif, paparan media, dan kesiapan belajar mandiri. Temuan ini menegaskan perlunya inovasi pembelajaran Hyrverstehen yang lebih terstruktur, kontekstual, dan berbasis pengalaman autentik agar mahasiswa mampu beradaptasi dengan karakteristik bahasa Jerman yang CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kemampuan menyimak (Hyrverstehe. mahasiswa pada level B1 Bahasa Jerman masih menghadapi berbagai kendala yang kompleks. Kesulitan utama muncul akibat kecepatan tuturan penutur asli, pelafalan yang terdengar bersambung, serta variasi dialek yang membuat mahasiswa kesulitan membedakan bentuk standar bahasa dengan ragam bahasa Selain itu, keterbatasan kosakata dan rendahnya frekuensi latihan mandiri menyebabkan mahasiswa tidak mampu mempertahankan pemahaman terhadap konteks percakapan secara utuh. Kondisi ini berdampak pada munculnya rasa frustrasi, rendahnya kepercayaan diri, serta kesenjangan antara kemampuan yang dilatih di kelas dengan tuntutan komunikasi autentik dalam konteks nyata. Temuan ini menunjukkan bahwa penguasaan keterampilan menyimak tidak dapat dicapai hanya melalui pemberian materi di kelas, tetapi membutuhkan strategi pembelajaran yang lebih terpadu dan Oleh karena itu, tenaga pendidik perlu meningkatkan penyediaan media pendukung seperti audio dan video berlevel B1 yang relevan, autentik, dan mudah diakses mahasiswa. Paparan terhadap sumber audio asli secara konsisten, dikombinasikan dengan latihan memahami percakapan bertahap, sangat diperlukan untuk membantu mahasiswa beradaptasi dengan karakteristik bahasa Jerman yang sesungguhnya. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya pembenahan pendekatan pembelajaran Hyrverstehen agar proses belajar Bahasa Jerman dapat berlangsung lebih efektif, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan kompetensi komunikasi modern. Jurnal Nasional Holistic Science Vol. No. Desember 2025: 310 Ae 313 Jurnal Nasional Holistic Science A REFERENCES