BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM PEMBELAJARAN BIPA BERBASIS PLURIKULTURAL DI UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA Aurora Zaen Afrani1. Suhartono2. Yuniseffendri3 1,2,3 Universitas Negeri Surabaya, aurora. 23007@mhs. id1, suhartono@unesa. yuniseffendri@unesa. ABSTRAK Peran bahasa sebagai media komunikasi dalam pembelajaran menjadi bagian penting yang perlu dikuasai oleh pemelajar dan pengajar. Melalui hal tersebut, tujuan komunikasi akan lebih mudah tercapai karena saling memahami maksud masing-masing, termasuk memahami makna implikatur. Keberadaan implikatur dalam situasi pembelajaran sering kali digunakan baik secara sadar maupun Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menginterpretasikan makna implikatur percakapan dalam pembelajaran BIPA berbasis plurikultural di Universitas Negeri Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni kualitatif bersifat deskriptif dengan sumber data berupa rekaman tuturan serta hasil pengamatan langsung dalam pembelajaran BIPA level 3. Data penelitian ini merupakan tuturan pemelajar dan pengajar BIPA level 3 yang mengandung implikatur Data dikumpulkan melalui kegiatan observasi partisipan dan wawancara dengan melibatkan teknik rekam, simak, dan catat. Data yang dihasilkan kemudian dianalisis melalui lima tahap analisis penelitian kualitatif meliputi penguraian, penafsiran, perangkuman, penyimpulan, dan Analisis data juga mengacu pada metode agih guna menemukan bentuk kebahasaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implikatur percakapan dalam pembelajaran BIPA berbasis plurikultural di Universitas Negeri Surabaya teridentifikasi memuat implikatur percakapan umum, implikatur percakapan khusus, serta implikatur percakapan berskala. Kata Kunci: implikatur percakapan, pembelajaran BIPA, plurikultural How to Cite: Afrani. Suhartono, & Yuniseffendri. IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM PEMBELAJARAN BIPA BERBASIS PLURIKULTURAL DI UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA. Bahtera Indonesia. Jurnal Penelitian Bahasa Dan Sastra Indonesia, 10. , 52Ae59. https://doi. org/10. 31943/bi. DOI: https://doi. org/10. 31943/bi. PENDAHULUAN Penetapan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa resmi dalam sidang UNESCO pembelajaran BIPA meningkat. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Herlina dan Alfitriyani . bahwa mobilitas masyarakat dunia yang pesat membuat seseorang harus mempelajari bahasa dari negara lain atau bahasa asing. Di sisi lain, pernyataan tersebut juga relevan dengan fenomena kebutuhan warga asing yang memerlukan pemahaman serta pengetahuan berbahasa Indonesia untuk media interaksikomunikasi. Oleh karena itu, saat ini sedang digalakkan pengadaan pembelajaran BIPA guna memfasilitasi kebutuhan pembelajaran Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia bahasa Indonesia bagi penutur asing, salah satunya di Universitas Negeri Surabaya. Pembelajaran BIPA di Universitas Negeri Surabaya terintegrasi dengan budaya Indonesia, khususnya kearifan lokal Jawa Timur. Hal tersebut juga ditegaskan oleh Asteria dan Afni . yang menyatakan bahwa pembelajaran BIPA di Universitas Negeri Surabaya juga berkecimpung dengan budaya Jawa, khususnya Jawa Timur. Adanya pengintegrasian pembelajaran bahasa dengan budaya ini dapat memicu interaksi antara penutur dan mitra tutur yang kaya akan konteks. Oleh karena itu, pemahaman tentang budaya juga perlu menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif dan bermakna. Pelaksanaan pembelajaran BIPA memerlukan persiapan komponen meliputi manajemen kelembagaan, tenaga pengajar, sistem pengajaran, bahan ajar, media, dan lain sebagainya (Asteria & Afni, 2. Pada aspek bahan ajar dan media tidak jarang ditemukan hal-hal yang berkaitan dengan implikatur terutama saat berbentuk penyampaian dari pengajar. Oleh karena itu, pemelajar juga perlu memahami makna implikatur yang disampaikan oleh pengajar dengan cara mempelajari makna dan maksud tuturan dengan latar belakang budaya Indonesia. Hal ini sejalan dengan fungsi pembelajaran BIPA dimana pelajar akan belajar tentang aspek linguistik yang ada pada bahasa Indonesia. Pada dasarnya, implikatur memiliki keterkaitan dengan aspek linguistik karena hal tersebut merupakan bagian dari kajian Implikatur dapat dimaknai sebagai tuturan yang memiliki makna berbeda dengan yang sebanrnya (Rahmah & Pujiati, 2. Dalam hal ini, antara penutur dan lawan tutur harus sama-sama memahami tuturan yang disampaikan sesuai dengan konteks tuturan (Erawan, 2. Dalam konteks pembelajaran BIPA, pemelajar dan pengajar dapat berperan sebagai penutur dan mitra tutur. Oleh karena itu, peluang kemunculan implikatur percakapan juga terbuka lebar. Dengan demikian, pemahaman akan makna implikatur percakapan perlu diketahui, khususnya bagi pemelajar BIPA yang belum terbiasa dengan budaya komunikasi masyarakat Indonesia. Budaya komunikasi masyarakat Indonesia sering ditemukan penggunaan implikatur percakapan. Hal tersebut juga pembelajaran, termasuk pada pembelajaran BIPA karena baik secara sadar atau tidak penutur asli Indonesia yang berperan sebagai pengajar dapat mengujarkan tuturan mengandung implikatur percakapan. Kajian implikatur percakapan dapat diidentifikasi melalui analisis cara-tujuan serta heuristis dalam tuturan yang bermaksud implisit serta didasrkan pada konteks percakapan (Suhartono, 2. Lebih lanjut. Suhartono . juga menjelaskan bahwa terdapat dua percakapan, yakni penutur berpresuposisi implikatur serta petutur melakukan inferensi pragmatik terhadap maksud tersebut berdasarkan konteks percakapan. Dalam hal ini, konteks percakapan berkaitan dengan latar belakang suatu percakapan yang menjadi komponen situasi ujaran (Hidayati et al. , 2. Implikatur percakapan menjadi salah satu kajian utama dalam studi pragmatik (Saifudin, 2. Hal tersebut didasarkan atas fenomena komunikasi antar penutur dalam percakapan sehari-hari yang sering memuat maksud secara tidak langsung. Oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia karena itu, diperlukan suatu kajian yang dapat mengungkapkan maksud dari suatu tuturan secara mendalam, lebih dari apa yang dikatakan secara langsung. Menurut Zumaro dan Utomo . implikatur percakapan dapat dimaknai sebagai pernyataan yang mengandung maksud lain dari apa yang sesungguhnya dituturkan. Dalam pemaknaan lain, implikatur percakapan juga dapat memberikan penjelasan secara eksplisit dan membentuk dugaan dari implikasi sebuah tuturan (Septiani et al. , 2. Beberapa implikatur percakapan dalam konteks pembelajaran telah dilakukan, di antaranya oleh (Erawan, 2. , (Ambarawati et al. , (Nurita Hasmalani et al. , 2. (Putri et al. , 2. , serta (Azizah et al. Pada penelitian yang dilakukan oleh Erawan . ditemukan hasil bahwa terdapat faktor penyebab munculnya implikatur percakapan dalam pembelajaran Indonesia keakraban, kepekaan, budaya, kepedulian, dan kasih sayang. Kemudian, penelitian yang dilakukan Ambarawati et al . ditemukan hasil berupa implikasi implikatur percakapan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP Tawakkal Denpasar. Implikasi yang dimaksud meliputi praktis, teoretis, dan pedagogis. Hasil penelitian yang dilakukan Nurita Hasmalani et al . menunjukkan implikatur percakapan antara guru dan siswa kelas Vi SMPN Negeri 18 Kota Jambi cukup bervariatif karena memuat larangan, perintah, penegasan, dan lain sebagainya. Hasil serupa juga ditemukan oleh Putri et al yang menyatakan bahwa implikatur percakapan siswa dan guru di SLB Negeri Tamanagung ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. penginformasi, pelaporan, dan perintah. Selain itu, penelitian terbaru yang dilakukan Azizah et al . turut meyakinkan bahwa implikatur percakapan dalam konteks pembelajaran di MTS Darul Ulum Petiyin memuat fungsi ekspresif dan komisif. Pada implikatur percakapan yang digunakan merujuk pada pandangan Yule . Pada konsep yang digagas, dijelaskan bahwa diklasifikasikan menjadi dua jenis, yakni implikatur percakapan khusus. Perbedaan dari keduanya terletak pada keberadaan Pada jenis implikatur percakapan umum, pemahaman akan makna implisit dapat dimaknai tanpa melihat konteks Sedangkan pada implikatur percakapan khusus, makna implisit dapat dipahami apabila antara penutur dan mitra tutur mengetahui konteks percakapan. Dalam implikatur percakapan umum terdapat sub jenis yang disebut sebagai implikatur berskala. Implikatur berskala memiliki ciri khas khusus yang dapat memudahkan penandaan keberadaanya. Adapun penandaan yang dimaksud yakni terdapat kata atau istilah menunjukkan kuantitas, contohnya AoselaluAo. AobanyakAo. AoseringAo. AosebagianAo. Aokadang-kadangAo dan lain sebagainya (Rahmah & Pujiati, 2. Berdasarkan hasil penelitian yang relevan serta kajian teori tersebut, peneliti percakapan dalam konteks pembelajaran, khususnya pada pembelajaran BIPA berbasis plurikultural di Universitas Negeri Surabaya. Kajian ini menarik dilakukan karena pemelajar BIPA berasal dari berbagai negara dengan kebudayaan komunikasi yang berbeda-beda. Dengan keragaman tersebut maka pemahaman akan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia makna implisit juga berpeluang beragam karena didasarkan pada konteks tertentu. sisi lain, hal tersebut juga berpeluang menimbulkan pemahaman berbeda terkait makna implisit. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menginterpretasikan makna implikatur percakapan dalam pembelajaran BIPA berbasis plurikultural di Universitas Negeri Surabaya. Guna mencapai tujuan tersebut maka dibutuhkan suatu penelitian yang terencana, terstruktur, dan tersistemis dengan melibatkan teori sekaligus metode yang tepat. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif karena data yang . mengandung implikatur percakapan dalam pembelajaran BIPA di Universitas Negeri Surabaya. Pemilihan metode tersebut relevan karena sesuai dengan karakteristik data penelitian. Sumber data penelitian ini berupa rekaman suara saat proses pembelajaran BIPA berbasis plurikultural di Universitas Negeri Surabaya dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 2024 di dua kelas, yakni kelas BIPA darmasiswa . dan kelas BIPA KNB . Pemilihan dua kelas tersebut bertujuan untuk mendapatkan data penelitian yang lebih komprehensif sehingga data yang Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yakni observasi partisipan dan Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa lembar observasi, lembar wawancara, dan gawai sebagai alat perekam. Analisis data yang dilakukan mengacu pada metode agih dengan proseduur analisis kualitatif bahasa menurut Sudaryanto . meliputi tahap penguraian, penafsiran, perangkuman, penyimpulan, dan perekomendasian . Selain itu, penelitian ini juga menggunakan triangulasi guna mencapai hasil dan pembahasan yang lebih objektif dan valid. HASIL PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa dalam pembelajaran BIPA berbasis Plurikultural di Universitas Negeri Surabaya memuat tuturan bermakna implisit yang dilakukan oleh pengajar dan pemelajar BIPA, baik di kelas darmasiswa . maupun di kelas KNB . Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga data implikatur percakapan umum di kelas percakapan umum di kelas KNB, dua data implikatur percakapan berskala di kelas darmasiswa, tiga data implikatur berskala di kelas KNB, dua data implikatur percakapan khusus di kelas darmasiswa, dan satu data imlikatur percakapan khusus di kelas KNB. Rincian data hasil tersebut menunjukkan bahwa jenis implikatur percakapan umum sering digunakan dalam pembelajaran BIPA berbasis plurikultural di Universitas Negeri Surabaya. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui temuan data implikatur percakapan umum mencapai delapan bentuk tuturan. Adapun penjabaran lebih lanjut terkait masing-masing jenis data tersebut sebagai Implikatur Percakapan Umum Sejalan dengan konsep yang dikemukakan Yule . bahwa implikatur percakapan umum dapat dipahami tanpa melihat atau mengetahui konteks situasi Meskipun kehadiran konteks situasi di sini tidak terlalu dipertimbangkan akan tetapi kandungan makna di dalamnya memuat makna implisit. Data IPUD1 Menit: 02. 19Ai03. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Penutur: Bu Prima Mitra Tutur: Putri Konteks: Bu Prima sebagai pengajar keterampilan berbicara menyampaikan tujuan pembelajaran di kelas darmasiswa. Suasana kelas tampak tenang dan pemelajar BIPA fokus mendengarkan arahan Bu Prima. Dialog Bu Prima: AuHari ini kita akan melakukan praktik wawancara dengan orang asli Indonesia. Indonesian, ya. Sebelum itu, silakan memilih topik yang akan dibicarakan ketika wawancara nanti. Kalian ada buku BIPA 3 dan 4 kan? membawa semua?Ay Putri: AuohA saya hanya bawa buku 3Ay > Putri tidak membawa buku BIPA 4 Berdasarkan data IPUD1 dapat melibatkan antara Bu Prima dan Putri . ama panggilan di Indonesi. mengandung Implikasi yang dimaksud merujuk pada tuturan Putri. Adapun implikasi yang hendak disampaikan oleh Putri yakni tidak membawa buku BIPA 4. Data tersebut teridentifikasi sebagai implikatur percakapan umum karena pada tuturan tidak memuat konteks pengetahuan khusus dengan tujuan memperjelas makna tambahan yang disampaikan oleh Putri. Jka dituturkan maka perlu mengetahui konteks situasi untuk mengungkapkan makna implisit di dalamnya. Hal tersebut sekaligus merujuk pada jenis implikatur percakapan Data IPUK1 Menit: 20. 10Ai20. Penutur: Bu Prima Mitra tutur: Saeed Konteks: Bu Prima mencontohkan deskripsi mengenai tempat yang pernah dikunjungi di ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. Surabaya. Kemudian. Bu Prima bertanya tentang tempat apa yang pernah dikunjungi pemelajar di Surabaya. Saeed menjawab sekaligus menceritakan pengalamannya berkunjung ke Fore. Setelah itu. Bu Prima dan Saeed berdialog lebih intens. Dialog Bu Prima: AuBerarti tadi malam kamu mengajak Antsa dan Ali ke Fore?Ay Saeed: AuAntsa sajaAy > Saeed tidak mengajak Ali ke Fore Implikatur Percakapan Berskala Implikatur percakapan berskala yang ditemukan dalam pembelajaran BIPA berbasis plurikultural di Universitas Negeri Surabaya juga memuat istilah yang menunjukkan kuantitas. Temuan ini sekaligus mendukung pemikiran Yule . bahwa implikatur percakapan berskala ditandai dengan kata-kata yang mengungkapkan kuantitas tertentu. Adapun data yang memuat implikatur percakapan berskala tersajikan sebagai berikut. Data IPBD1 Menit: 20. 14Ai20. Penutur: Bu Prima Mitra Tutur: Antsa Konteks: Sebelum meulai kegiatan wawancara. Bu Prima menanyakan perihal UAS. Bu Prima menanyakan hal tersebut karena hendak mengatur ulang jadwal UAS keterampilan berbicara pekan depan. Kemudian. Antsa menjawab pertanyaan Dialog Bu Prima: AuSemua bisa UAS Rabu pagi? Nanti kita UAS berbicara lewat zoom saja. Ay Antsa: AuKalau pagi hanya beberapa anak yang bisaAy > Tidak semua mahasiswa BIPA bisa mengikuti UAS pada Rabu pagi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Berdasarkan data IPBD1 dapat diketahui bahwa terdapat istilah yang menandakan salah satu ciri implikatur percakapan berskala. Adapun istilah yang dimaksud yakni berupa kata AosemuaAo dan AobeberapaAo. Istilah tersebut merupakan kosakata yang menunjukkan skala atau Implikasi yang teridentifikasi dalam tuturan ini yakni tidak semua mahasiswa BIPA bisa mengikuti UAS pada Rabu pagi. Tuturan Antsa secara tidak langsung juga mewakili jawaban pemelajar BIPA kelas darmasiswa sehingga tuturan Antsa memberikan informasi. Data IPBK1 Menit: 23. 07Ai24. Penutur: Bu Prima Mitra Tutur: Saeed Konteks: Bu Prima menanggapi cerita Saed yang sering berkunjung ke Fore sekaligus memesan kopi kesukaannya. Dialog Bu Prima: AuBerarti kamu sering ke cafy, ya? Minum kopi setiap hari?Ay Saeed: AuSepertinya 2 atau 3 kali dalam satu minggu, tapi kadang-kadang juga lebih karena saya suka minum kopi. Di negara saya kopi jarang, yang banyak teh dan Ay > Saeed tidak setiap hari pergi ke cafy untuk minum kopi Berdasarkan data IPBK1 dapat diketahui bahwa penutur dan mitra tutur menggunakan istilah yang menandakan skala atau kuantitas. Adapun istilah yang dimaksud berupa kata AoseringAo. AokadangkadangAo. AojarangAo. AobanyakAo. Penggunaan istilah tersebut baik dalam tuturan penutur maupun mitra tutur menunjukkan bahwa keduanya memiliki pemahaman implisit akan percakapan Ketika pemelajar menanyakan sesuatu dengan memuat istilah berskala, tampak pemelajar juga merespon hal sama dengan menjawab tuturan yang memuat istilah skala. Selain itu, implikasi yang teridentifikasi dalam tuturan ini yakni Saeed tidak setiap hari pergi ke cafy untuk minum kopi sebagai bentuk pernyataan lain. Implikatur Percakapan Khusus Implikatur percakapan khusus yang ditemukan dalam penelitian ini juga sejalan dengan konsep yang dikemukakan Yule . bahwa perlu mengetahui konteks situasi percakapan untuk memahami makna implisit dalam tuturan. Adapun data yang memuat implikatur percakapan khusus tersajikan sebagai berikut. Data IPKD1 Menit: 01. 14Ai01. Penutur: Bu Prima Mitra Tutur: Antsa Konteks: Bu Prima baru memasuki ruangan sekaligus memantau kondisi Kemudian. Bu Prima bertanya kepada Antsa karena Ia pindah tempat duduk. Biasanya Antsa duduk di kursi depan, tepatnya pada baris kedua yang juga dekat dengan AC. Akan tetapi, hari itu Antsa berpindah tempat karena merasa kedinginan. Dialog Bu Prima: AuAntsa! Biasanya kamu di sini, kenapa duduk di situ?Ay Antsa: AuDekat ACAy Bu Prima: AuoA Dekat Ac? Kamu kedinginan?Ay Antsa: tersenyum dan tangannya bersila > Antsa pindah tempat duduk karena merasa kedinginan saat itu Berdasarkan data IPKD1 dapat diktehaui bahwa tuturan yang diujarkan Antsa mengandung pemahaman khusus. Tuturan Audekat dengan ACAy yang diujarkan Antsa memiliki makna implisit yang Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia bermaksud menginformasikan bahwa Ia kedinginan saat itu sehingga memilih pindah tempat duduk, tidak di kursi biasanya. Pengajar memahami makna implisit yang diujarkan Antsa karena pengajar telah mengetahui situasi dalam kelas selama pembelajaran BIPA berlangsung mulai pertemuan awal hingga akhir. Hal tersebut sekaligus membuktikan bahwa untuk memahami makna implisit dalam implikatur percakapan khusus maka dibutuhkan pengetahuan akan konteks situasi maupun latar belakang mitra tutur. Data IPKK1 Menit: 05. 03Ai05. Penutur: Bu Prima Mitra Tutur: Laksmi Konteks: Bu Prima mengamati kondisi pemelajar dan fokus pada penampilan Laksmi yang memakai topi di dalam kelas. Kemudian. Bu Prima menanyakan alasan Laksmi memakai topi itu. Laksmi dan Sukma merupakan pemelajar asal Korea Selatan. Di negaranya, kebiasaan mandi pagi jarang dilakukan, sama halnya di China dan Jepang. Dialog Bu Prima: AuLaksmi kenapa pakai topi? Kan sekarang tidak di luar ruangan. Ay Laksmi: Auhehehe. Sukma jugaAy Bu Prima: AuOh, ya, kalian tidak terbiasa mandi pagi, yaAy > Laksmi dan Sukma memakai topi di dalam kelas karena belum mandi Berdasarkan data IPKK1 dapat Laksmi mengandung pengetahuan khusus yang perlu dipahami dengan meninjau konteks situasi dan latar belakang mitra tutur. Tuturan AuheheheASukma jugaAy memiliki implikasi bahwa Laksmi dan Sukma belum mandi pagi meskipun harus mengikuti pembelajaran di kampus. Implikasi tersebut ISSN 2541-3252 Vol. No. Mar. dapat dipahami karena terdapat pengetahuan akan konteks dan latar belakang mitra tutur yang diketahui oleh penutur. Penutur juga tampak langsung merespon jawaban Laksmi guna memastikan bahwa penggunaan topi tersebut sebagai salah satu upaya untuk menutupi wajah yang tidak mandi. Dengan pengetahuan konteks dan latar belakang sangat berpengaruh pada pemahaman percakapan, khususnya percakapan yang memuat makna implisit. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis penelitian dapat disimpulkan bahwa percakapan dalam pembelajaran BIPA berbasis plurikultural di Universitas Negeri Surabaya memuat implikasi tuturan. Implikasi tersebut dapat percakapan umum, implikatur percakapan berskala, dan implikatur percakapan khusus. Secara garis besar, implikatur tersebut ditemukan dalam interaksi-komunikasi antara pengajar dan pemelajar di kelas yang Adapun kelas yang dimaksud yakni kelas BIPA Darmasiswa . dan kelas BIPA KNB . Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bukti bahwa pada proses pembelajaran yang terkesan formal juga sering menggunakan implikatur percakapan pada konteks tertentu. Di sisi lain, penelitian ini turut memberikan kontribusi pada pembelajaran bahasa, khususnya yang dilaksanakan dalam program BIPA. Kontribusi yang dimaksud yakni mengungkap makna implisit dalam percakapan yang digunakan selama pembelajaran berlangsung. DAFTAR PUSTAKA