POLINOMIAL Jurnal Pendidikan Matematika Volume 5 Issue 1 . , pp. Online: https://ejournal. org/index. php/jp e-ISSN: 2830-0378 Analisis Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita: Studi Kasus pada Materi Pertidaksamaan Linear Satu Variabel Eldad Yabes Nenohai1*. Daniel Lulu Riwu 2. Agapitus Hendrikus Kaluge 3 1,3 Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Indonesia 2 UPTD SMP Negeri 1 Kota Kupang. Indonesia *Corresponding Author: eldadnenohai02@gmail. Submitted: 26 November 2025 | Revised: 19 December 2025 | Accepted: 20 December 2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi pertidaksamaan linear satu variabel. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, tiga siswa kelas Vi SMP Negeri 1 Kupang dipilih sebagai subjek berdasarkan kesalahan jawaban pada tes uraian. Data diperoleh melalui tes tertulis dan wawancara. Analisis data dilakukan secara deskriptif analisis berdasarkan jawaban siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesalahan dalam memahami konteks, memisalkan dan memaknai variabel, menyusun model matematika, serta melakukan prosedur Siswa juga keliru menafsirkan hasil akhir sehingga jawaban tidak sesuai dengan konteks nyata. Temuan ini menunjukkan bahwa penguasaan konsep aljabar dan kemampuan pemodelan matematika siswa masih rendah. Diperlukan strategi pembelajaran yang menekankan pemahaman konsep dan pengaitan materi dengan situasi kontekstual untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah Kata Kunci: kesalahan siswa, soal cerita, pertidaksamaan linear satu variabel, analisis kesalahan, pemodelan matematika. Abstract This study aims to analyze students' mistakes in solving story problems in one-variable linear inequality Using a qualitative descriptive method, three grade Vi students of SMP Negeri 1 Kupang were selected as subjects based on the wrong answers in the description test. Data was obtained through written tests and interviews. The results of the study showed errors in understanding the context, estimating and interpreting variables, compiling mathematical models, and performing algebraic procedures. Students also misinterpret the final result so that the answers do not fit the real These findings show that students' mastery of algebraic concepts and mathematical modeling abilities is still low. A learning strategy that emphasizes understanding concepts and relating the material to contextual situations is needed to improve students' problem-solving skills. Keywords: Student error, story problems, one-variable linear inequality, error analysis, mathematical PENDAHULUAN Pendidikan merupakan aktivitas pembelajaran yang merupakan peranan utama dalam memajukan taraf hidup juga derajat sumber daya manusia (SDM). Pendidikan benar benar diutamakan. Karena pendidikan merupakan kewajiban yang dapat berlangsung selama seseorang masih hidup dan memiliki akal sehat. Oleh karena itu, pendidikan dapat menciptakan manusia yang menguasai pengetahuan dan ketrampilan dasar, memiliki ketrampilan berpikir logis, kritis, berinisiatif, unggul dan berdaya saing (Syahda et al. , 2. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2025 by Author | 61 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 61-68, Eldad Yabes Nenohai. Daniel Lulu Riwu. Agapitus Hendrikus Kaluge Matematika merupakan salah satu bidang ilmu yang memegang kontribusi utama dalam kehidupan dan keberadaannya begitu erat dengan dunia pendidikan. Keadaan tersebut menjelaskan alangkah pentingnya kedudukan matematika bagi manusia dan pendidikan. Dalam mata pelajaran matematika, rata-rata suatu persoalan ditemukan dalam bentuk pertanyaan maupun soal matematika yang mesti diselesaikan oleh siswa. Suatu soal matematika bisa menjadi masalah matematika apabila siswa tidak mampu mendapatkan soslusi dalam menyelesaikan persoalan tersebut namun memiliki ambisi untuk menyelesaikannya (Katon & Arigiyati, 2. Dalam proses pembelajaran matematika, siswa sering mengalami kesulitan dalam penguasaan materi sehingga membuat siswa melakukan kesalahan. Persoalan merupakan tantangan pribadi, untuk memecahkan perosalan ini diperlukan penalaran berpikir yang mendalam dari yang telah diketahui. Terkait dengan pelajaran matematika, kebanyakan siswa melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita. Soal cerita yang dimaksud disini yaitu persoalan yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari yang disajikan dalam bentuk sebuah soal cerita dan didalamnya ditemukan persoalan yang pengerjaannya menggunakan keahlian berhitung (Syahda et al. , 2. Matematika juga banyak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yaitu untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi yang sangat pesat kemajuannya saat ini. Sehingga dari sejak dini sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi, matematika sangatlah penting untuk dipelajari. Tercapai atau tidaknya hasil dari belajar matematika tersebut dapat dilihat dengan cara bagaimana siswa dalam memahami dan mengerjakan sebuah soal matematika, terutama dengan soal cerita. Biasanya banyak dijumpai pada suatu masalah bentuk pertanyaan atau soal adalah bentuk persoalan dari soal cerita tersebut. Hal itu terjadi dikarenakan siswa tidak mampu menemukan suatu solusi untuk menyelesaikan soal cerita tersebut akan tetapi siswa tersebut mempunyai keinginan untuk menyelesaikannya. Terkait dengan pelajaran matematika, masih banyak peserta didik yang melakukan kesalahankesalahan dalam menyelesaikan soal cerita matematika(Jumiati & Zanthy, 2. Materi pertidaksamaan linear yang menggunakan satu variabel cukup penting diajarkan kepada siswa, materi ini sendiri merupakan materi yang harus dikuasai oleh siswa sehingga siswa tidak kebingungan ketika mempelajari materi ini pada tingkat lanjut dengan dua variabel Pada materi ini siswa harus terbiasa dengan memisalkan suatu subjek menjadi variabel misalnya x, sehingga mendapatkan hasil akhir. Kebanyakan siswa dapat memahami materi yang disajikan ketika berbentuk angka secara langsung. Namun soal yang disajikan dapat berbentuk soal cerita, dan biasanya siswa lebih kesulitan mengerjakan soal berbentuk Siswa tidak mengerti makna dari suatu variabel yang terdapat pada soal cerita (Zanthy. Soal cerita merupakan adalah persoalan yang diambil berdasarkan kehidupan di lingkungan kehidupan kita. Bahkan ketika seseorang ingin membangun rumah maka tak luput dari matematika karena harus memperhitungkan bahan yang dipakai agar rumah tersebut Contoh hal sederhana lainnya yaitu tanpa disadari matematika selalu ada pada kehidupan sehari-hari misalnya saat kita menghitung harga dari berbagai macam barang yang telah kita beli. Kenyataan di lapangan soal cerita sendiri kerap kali dianggap sulit dikerjakan oleh siswa karena siswa tidak terbiasa dengan hal-hal yang berbau kontekstual atau Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 62 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 61-68, Eldad Yabes Nenohai. Daniel Lulu Riwu. Agapitus Hendrikus Kaluge berhubungan dengan kehidupan sehari hari. Masih banyak sekali siswa melakukan kekeliruan pada saat mengerjakan soal cerita, kebanyakan siswa kesulitan dalam menghubungkan matematika dan situasi sehari-hari yang dapat ditemui siswa (Idris & Silalahi, 2. Kebanyakan siswa tetap merasa kesulitan dalam pemecahan masalah bentuk cerita yang diambil dari permasalahan yang ada di dunia nyata, salah satunya disebabkan karena siswa belum menguasai atau memahami materi sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai dengan baik atau bahkan tidak tersampaikan. Selain itu, dari letak kesalahan jawaban siswa dapat digunakan sebagai evaluasi bagi pendidik atau guru dalam rangka mengetahui dimana kesalahan dan kendala yang dialami siswa sehingga siswa tidak menguasai materi tersebut. Setelah mengetahui letak kendala yang dialami siswa, maka pengajar dapat mencari penyelesaian untuk mengatasi permasalahan baik itu perbaikan mengenai pendekatan atau model yang dipakai, media dan lain sebagainya (Zanthy, 2. Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya serta pendapat para ahli yang menyatakan bahwa kesalahan yang sering dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal cerita meliputi kesulitan dalam memahami konteks masalah, mengonversi kalimat verbal ke dalam model matematika, serta menerapkan konsep matematika pada situasi kehidupan nyata, maka penelitian ini perlu dilakukan. Oleh karena itu, peneliti melakukan kajian dengan menganalisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita dengan tujuan untuk menggambarkan kesalahan yang telah dilakukan siswa dalam penyelesaian soal cerita yang berkaitan dengan materi pertidaksamaan linear satu variabel yang muncul selama proses Hasil identifikasi kesalahan tersebut diharapkan dapat menjadi acuan dalam menentukan faktor penyebab kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa penguasaan konsep siswa terhadap materi yang diberikan masih belum optimal sehingga diperlukan upaya tindak lanjut untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan pemecahan soal cerita. METODE Penelititan ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif tujuannya untuk menggambarkan kesalahan yang telah dilakukan siswa dalam penyelesaian soal cerita yang berkaitan dengan materi pertidaksamaan linear satu variabel. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah tes berupa soal cerita untuk mengetahui kesalahan dan kekeliruan yang telah dilakukan oleh subjek, dan wawancara yang disusun untuk mengklarifikasi mengenai jawaban dari tes yang diberikan, dan untuk mengidentifikasi kesulitan yang tidak diketahui dalam hasil tes tertulis yang telah diberikan pada subjek. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Kupang. Subjek dari penelitian adalah siswa kelas Vi semester ganjil tahun 2025/2026. Waktu penelitian ini pada jam pertama pelajaran, hari rabu tanggal 22 Oktober 2025. Subjek terpilih dari penelitian ini adalah tiga orang siswa dari beberapa siswa yang melakukan kesalahan dalam menjawab. Instrumen penelitian ini berupa tes uraian berbentuk soal cerita. Penelitian dilakukan menggunakan butir soal essay yang berhubungan dengan materi pertidaksamaan linear satu variabel. Butir soal diambil dari soal yang sudah valid. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 63 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 61-68, Eldad Yabes Nenohai. Daniel Lulu Riwu. Agapitus Hendrikus Kaluge HASIL PENELITIAN Untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, peneliti memberikan satu soal cerita kepada subjek yang berhubungan dengan materi pertidaksamaan linear satu Soal tersebut berbunyi: AuMartha adalah seorang sales motor di sebuah dealer. memperoleh gaji pokok sebesar Rp2. 000 setiap bulannya. Apabila ia berhasil menjual sebuah unit motor, ia akan memperoleh bonus sebesar Rp450. Bulan depan ia memasang target untuk memperoleh penghasilan dari gaji dan bonus minimal sebesar Rp8. Buatlah model matematika untuk menentukan minimal penjualan unit motor agar Martha mencapai targetnya, lalu tentukan jumlah minimal unit motor yang terjual agar ia mencapai target!Ay Soal ini menuntut kemampuan siswa dalam memahami informasi kontekstual, memisalkan variabel, menyusun model matematika dalam bentuk pertidaksamaan, serta menentukan solusi dari pertidaksamaan tersebut. Berdasarkan hasil pekerjaan siswa yang diperoleh, ditemukan tiga bentuk jawaban yang menunjukkan variasi kemampuan dalam memahami dan menyelesaikan soal. Jawaban subjek pertama yang terpilih dalam penelitian adalah: Gambar 1. Hasil Jawaban Subjek Pertama Gambar 1 menunjukkan bahwa siswa terlihat telah memulai dengan benar dengan memisalkan ycu sebagai jumlah motor yang terjual dan membentuk model matematika 000 450. 000ycu O 8. Namun, pada tanda pertidaksamaannya masih keliru dan proses penyelesaian muncul beberapa kesalahan penting. Siswa melakukan operasi aljabar secara mekanis tanpa memahami makna variabel, sehingga menghasilkan ycu Ou 6. 000 yang jelas tidak realistis dalam konteks penjualan motor. Kesalahan ini menunjukkan bahwa siswa belum memahami bahwa hasil bagi 6. 000: 450. 000 harus di interpretasikan sebagai jumlah unit motor, bukan angka absolut tanpa konteks. Secara matematis, langkah yang benar adalah 000ycu Ou 6. 000, sehingga ycu Ou 14. Dengan demikian, analisis terhadap jawaban siswa mengungkap adanya kesalahan konseptual dalam memaknai variabel, kekeliruan dalam prosedur aljabar, serta ketidakmampuan menghubungkan hasil hitungan dengan konteks nyata dari soal cerita. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 64 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 61-68, Eldad Yabes Nenohai. Daniel Lulu Riwu. Agapitus Hendrikus Kaluge Jawaban subjek kedua yang terpilih dalam penelitian adalah: Gambar 2. Hasil Jawaban Subjek kedua Berbeda dengan jawaban pertama, jawaban pada Gambar 2 menunjukkan bahwa siswa telah mampu menuliskan model matematika yang benar, yaitu 2. 000ycu O Namun, siswa masih keliru dengan tanda pertidaksamaan dan melakukan kesalahan pada tahapan penyelesaian operasi hitung, terutama saat melakukan pengurangan antara nilai total target penghasilan dan gaji pokok. Kesalahan ini kemudian berlanjut hingga hasil akhir yang diperoleh tidak tepat. Dalam kategori kesalahan pembelajaran matematika, jawaban ini termasuk process skill error, karena siswa memahami konteks dan model tetapi mengalami kesalahan dalam manipulasi aljabar. Kesalahan lanjutan terjadi pada tahap penyimpulan . ncoding erro. , karena jawaban akhir tidak sesuai dengan konteks soal akibat operasi hitung yang keliru. Jawaban subjek ketiga yang terpilih dalam penelitian adalah: Gambar 3. Hasil Jawaban Subjek ketiga Berdasarkan hasil pekerjaan siswa yang terlihat pada Gambar 3, tampak bahwa siswa melakukan kesalahan konseptual dan prosedural dalam memahami dan menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan pertidaksamaan linear satu variabel. Pada langkah awal, siswa sebenarnya sudah mampu mengidentifikasi informasi penting dari permasalahan, yaitu gaji pokok Martha sebesar Rp 2. 000 dan bonus penjualan sebesar Rp 450. 000 per unit motor, kemudian menuangkannya ke dalam model matematika yang tepat, yaitu 2. 000 = 8. Namun pada tahap berikutnya siswa melakukan kesalahan serius, yakni menuliskan bentuk 2. 000ycu = 8. 000, yang menunjukkan bahwa ia menjumlahkan konstanta gaji pokok . dan nilai bonus per unit . menjadi satu kesatuan Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 65 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 61-68, Eldad Yabes Nenohai. Daniel Lulu Riwu. Agapitus Hendrikus Kaluge koefisien variabel ycu. Kesalahan ini menunjukkan bahwa siswa belum memahami perbedaan mendasar antara konstanta dan koefisien variabel, serta tidak mampu melihat bahwa gaji tetap tidak ikut dikalikan oleh jumlah unit motor yang terjual. Kekeliruan tersebut sekaligus menggambarkan ketidakmampuan siswa dalam memodelkan hubungan fungsional antara jumlah motor yang terjual dengan total pendapatan, sehingga memberikan gambaran bahwa siswa belum menguasai struktur aljabar dan interpretasi matematis dari situasi kontekstual. Temuan ini memperlihatkan bahwa siswa tidak hanya salah dalam operasi aljabar, tetapi juga gagal memahami makna variabel ycusebagai representasi jumlah unit yang harus dijual untuk mencapai target pendapatan, sehingga penyelesaian yang dihasilkan menjadi tidak logis dan tidak sesuai dengan konteks kehidupan nyata. Secara keseluruhan, analisis terhadap tiga bentuk jawaban siswa menunjukan bahwa kesalahan yang muncul dalam menyelesaikan soal cerita terkait pertidaksamaan linear satu variabel terutama disebabkan oleh lemahnya kemampuan siswa dalam memodelkan informasi kontekstual ke dalam bentuk matematika, ketidakpahaman terhadap makna variabel dan koefisien, serta rendahnya ketelitian dalam prosedur manipulasi aljabar. Siswa cenderung melakukan kekeliruan pada tahap pemilihan tanda pertidaksamaan, pengoperasian konstanta dan variabel, hingga menafsirkan hasil akhir sehingga solusi yang diperoleh tidak sesuai konteks kehidupan nyata. Temuan ini menunjukkan bahwa penguasaan konsep dasar aljabar dan kemampuan menghubungkan masalah nyata dengan representasi matematis masih belum optimal, sehingga diperlukan penguatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman konsep, pemodelan matematika, dan keterampilan prosedural secara terpadu. PEMBAHASAN Pembahasan hasil penelitian ini difokuskan pada analisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita pertidaksamaan linear satu variabel berdasarkan tiga jawaban siswa yang menjadi sampel penelitian. Ketiga jawaban tersebut mencerminkan variasi kemampuan siswa dalam memahami konteks masalah, mengonstruksi model matematika, serta melakukan prosedur aljabar secara tepat. Berdasarkan analisis terhadap pekerjaan siswa, tampak bahwa kesalahan yang muncul bukan hanya bersifat prosedural, tetapi juga konseptual dan representasional. Hal ini sejalan dengan pandangan (Idris & Silalahi, 2. yang menyatakan bahwa kesulitan siswa dalam soal cerita terutama muncul pada proses mengonversi informasi verbal ke dalam bentuk simbolik dan matematis. Pada jawaban subjek pertama, terlihat bahwa siswa telah mampu mengidentifikasi informasi penting dari soal dan memisalkan variabel dengan benar. Namun, siswa melakukan kesalahan dalam menentukan tanda pertidaksamaan dan gagal menafsirkan hasil perhitungan dalam konteks realistis. Kesalahan ini menunjukkan lemahnya kemampuan siswa dalam mengaitkan model matematika dengan situasi nyata, sebuah aspek penting dalam literasi matematika yang ditekankan oleh (Syahda et al. , 2. Selain itu, siswa melakukan kekeliruan aljabar ketika menuliskan hasil akhir ycu Ou 6000, suatu nilai yang tidak masuk akal dalam konteks penjualan motor. Artinya, siswa belum memahami konsep bahwa variabel dalam soal cerita merepresentasikan jumlah unit motor yang terjual, bukan angka sembarang. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 66 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 61-68, Eldad Yabes Nenohai. Daniel Lulu Riwu. Agapitus Hendrikus Kaluge Pada jawaban subjek kedua, siswa telah menyusun model matematika dengan benar, 000 450. 000ycu O 8. 000, tetapi masih melakukan kesalahan dalam menentukan tanda pertidaksamaan dan manipulasi aljabar, terutama pada operasi pengurangan dan pembagian. Kesalahan seperti ini dikategorikan sebagai process skill error, karena siswa memahami konteks tetapi tidak mampu melakukan prosedur perhitungan secara Lebih lanjut, kesalahan dalam menyimpulkan hasil . ncoding erro. menunjukkan bahwa siswa tidak mengevaluasi kembali kesesuaian hasil hitungan dengan konteks masalah, sehingga solusi akhir menjadi tidak tepat. Pada jawaban subjek ketiga, siswa justru melakukan kesalahan fundamental ketika menggabungkan gaji pokok . ebagai konstant. dengan bonus per unit . ebagai koefisien variabe. dan menuliskannya menjadi koefisien tunggal 2. Kesalahan ini menunjukkan bahwa siswa belum memahami struktur ekspresi aljabar dan tidak mampu membedakan antara komponen tetap dan komponen yang bergantung pada variabel. Kekeliruan tersebut merupakan indikator lemahnya penguasaan konsep dasar aljabar, yang merupakan fondasi utama dalam menyelesaikan pertidaksamaan linear satu variabel(Zanthy. Kesalahan ini juga memperlihatkan ketidakmampuan siswa dalam memodelkan hubungan fungsional antara jumlah motor yang terjual dengan total pendapatan, sehingga penyelesaian yang diberikan menjadi tidak logis. Secara keseluruhan, ketiga jawaban siswa menunjukkan bahwa kesalahan tidak hanya terjadi pada satu aspek, melainkan mencakup berbagai dimensi, yakni: . kesalahan pemahaman konteks, . kesalahan pemodelan matematika, . kesalahan manipulasi aljabar, serta . kesalahan interpretasi hasil. Temuan ini konsisten dengan literatur sebelumnya yang menegaskan bahwa kemampuan pemodelan matematika dan pemahaman konsep merupakan komponen penting dalam penyelesaian soal cerita (Jumiati & Zanthy, 2. Oleh karena itu, pembelajaran pertidaksamaan linear satu variabel perlu menekankan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada prosedur hitung, tetapi juga kemampuan memahami konteks, memaknai variabel, dan menghubungkan proses matematis dengan realitas kehidupan siswa. Pendekatan pembelajaran berbasis masalah dan diskusi reflektif dapat menjadi strategi yang relevan untuk meningkatkan kemampuan representasi matematis dan akurasi prosedural SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil Penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas Vi masih mengalami berbagai kesalahan mendasar dalam menyelesaikan soal cerita pada materi pertidaksamaan linear satu variabel. Kesalahan tersebut muncul dalam bentuk ketidakmampuan memahami konteks cerita, kekeliruan dalam memisalkan variabel, serta ketidaktepatan dalam menyusun model matematika yang merepresentasikan situasi nyata. Selain itu, siswa juga banyak melakukan kesalahan prosedural ketika melakukan operasi aljabar, seperti kesalahan dalam menentukan tanda pertidaksamaan, pengurangan, hingga pembagian, yang pada akhirnya menghasilkan jawaban yang tidak sesuai dengan realitas konteks soal. Temuan ini mengindikasikan bahwa penguasaan konsep dasar aljabar, kemampuan pemodelan matematika, serta kemampuan menghubungkan informasi verbal ke dalam bentuk simbolik masih jauh dari optimal. Kesalahan-kesalahan yang teridentifikasi memperlihatkan bahwa proses pembelajaran perlu lebih menekankan pemahaman konseptual, bukan sekadar Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 67 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 61-68, Eldad Yabes Nenohai. Daniel Lulu Riwu. Agapitus Hendrikus Kaluge keterampilan mekanis dalam berhitung. Dengan demikian, diperlukan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual, reflektif, dan berfokus pada penguatan kemampuan representasi matematika agar siswa mampu memahami, memodelkan, dan menyelesaikan persoalan matematika berbentuk cerita secara lebih tepat dan bermakna. DAFTAR PUSTAKA