Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 8 Nomor 4. April 2025 ISSN: 27342488 MODERASI BERAGAMA DALAM MENINGKATKAN TOLERANSI ANTARUMAT BERAGAMA DISEKOLAH MENENGAH ATAS Ali Iskandar Zulkarnain1. Maisarah2. Fauzan Reza Fahlevi3. Serli Ariska4 Email: ali. zulkarnain@iain-palangkaraya. id1, maisarah. iain@gmail. faujanreza9@gmail. com3, serlisa20@gmail. Institut Agama Islam Negeri Palangkaraya ABSTRAK Moderasi beragama merupakan suatu konsep dalam memahami dan mempraktikkan agama dengan cara yang seimbang, tidak dilebih -lebihkan ke arah ekstrem kanan ataupun kiri. Landasan moderasi beragama adalah menghormati perbedaan, mempertahankan toleransi, tetapi tetap berpegang teguh pada keyakinan masing-masing. Jika nilai-nilai ini diterapkan, maka kerukunan antar umat beragama akan semakin kuat, serta dapat mencegah paham radikal yang bisa mengganggu keharmonisan Moderasi beragama memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis, terutama ditingkat SMA (Sekolah Menengah Ata. , di mana siswa berasal dari berbagai latar belakang agama. Konsep ini menekankan keseimbangan dalam beragama, menghindari paham ekstrem, serta menanamkan sikap toleransi dan saling menghormati. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana moderasi beragama dapat meningkatkan toleransi antarumat beragama di SMA. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah berbagai referensi terkait moderasi beragama dan implementasinya dalam dunia pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan moderasi beragama dapat menumbuhkan sikap saling menghargai, mencegah konflik yang berakar pada perbedaan keyakinan, serta menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan kondusif. Oleh karena itu, upaya penguatan moderasi beragama perlu didukung melalui pendidikan karakter, penyusunan kurikulum yang relevan, serta peran aktif guru dalam membimbing siswa agar memiliki sikap yang lebih terbuka dan toleran terhadap keberagaman. Kata Kunci: Moderasi Beragama. Toleransi. Pendidikan. SMA. ABSTRACT Religious Moderation is a concept of understanding and practicing religion in a balanced way, without exaggeration towards the far right or far left. The foundation of religion moderation is to respect differences, uphold tolerance, while still holding firmly to oneAos own beliefs. If these values are applied, interreligious harmony will be strengthened and radical ideologies that can disrupt social harmony can be prevented. Religious moderation plays an important role in creating a harmonious school environment, especially at senior high school level, where students come from diverse religious backgrounds. This concept emphasizes balance in religious practice, avoidance of extreme views, and the cultivation of tolerance and mutual respect. This article aims to examine how religious moderation can enchance interreligious tolerance in senior high school. The method used is a literature review by analyzing various references related to religious moderation and its implementation in the field of education. The results of the study show that the application of religious moderation can foster mutual respect, prevent conflics rooted in differences of belief, and create an inclusive and conducive learning environment. Therefore, efforts to strengthen religoud moderation need to be supported trough caracter education, the development of relevant curricula, and the active role of teachers in guiding students to be more open-minded and tolerant towards diversity. Keywords: Religious Moderation. Tolerance. Education. Senior High Schools. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara dengan keberagaman agama yang sangat luas. lingkungan pendidikan, sekolah menjadi wadah bagi siswa dengan latar belakang keyakinan yang berbeda-beda untuk berinteraksi. Oleh karena itu, menanamkan nilai-nilai toleransi sangat penting guna menciptakan suasana belajar yang damai dan harmonis. Meski demikian, menjaga hubungan antarumat beragama di sekolah masih menghadapi berbagai tantangan, seperti munculnya stereotip, prasangka, serta potensi konflik akibat perbedaan keyakinan. Dalam menghadapi keberagaman tersebut, moderasi beragama menjadi salah satu pendekatan yang dapat diterapkan. Konsep ini menekankan pentingnya sikap beragama yang seimbang, menghindari paham ekstrem baik dalam bentuk radikalisme maupun liberalisme. Dengan demikian, setiap individu tetap dapat menjalankan keyakinannya tanpa mengabaikan sikap saling menghormati terhadap pemeluk agama lain. Selain sebagai tempat belajar, sekolah memiliki peran penting terutama dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik. Penerapan moderasi beagama di lingkungan sekolah menengah atas menjadi salah satu langkah yang tepat untuk memberikan kesadaran bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekayaan yang harus dijaga Moderasi beragama tidak hanya mengajarkan siswa untuk mengormati perbedaan, tapi juga mendorong siswa untuk menciptakan lingkungan yang damai. Artikel ini akan mengulas bagaimana penerapan moderasi beragama dapat mendorong peningkatan toleransi antarumat beragama di SMA, serta strategi yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. ME TODE PE NE LITIA N Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka . ibrary researc. , yaitu berupa pengumpulan, hasil telaah dan analisis dari berbagai referensi serta sumber-sumber yang relevan, baik berupa buku, jurnal, maupun dokumen yang membahas tentang moderasi beragama dan toleransi antarumat beragama dilingkungan sekolah menengah atas. Pengumpulan data dilakuan secara sistematis,bertujuan memperoleh pemahaman yang mendalam tentang konsep moderasi beragama, praktik-praktik yang telah diterapkan disekolah, serta tantangan dan peluang yang muncul dalam upaya meningkatkan toleransi dikalangan pelajar. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Dan Prinsip Moderasi Beragama Konsep moderasi beragama berakar dari kata "moderat," yang berarti tidak berlebihan, seimbang, dan berada di tengah-tengah. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini diserap menjadi "moderasi," yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai pengurangan kekerasan atau penghindaran dari sikap ekstrem. Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa Latin moderatlio, yang bermakna keseimbangan-tidak berlebihan tetapi juga tidak kekurangan. Ketika dipadukan dengan konsep keberagamaan, istilah moderasi beragama merujuk pada praktik keagamaan yang menekankan sikap toleran, menghindari kekerasan, serta menjauhi paham yang ekstrem dalam bentuk apa pun. Sebagai negara demokratis. Indonesia memiliki masyarakat yang beragam dalam hal keyakinan dan pandangan hidup. Keberagaman ini sering kali melahirkan perbedaan cara pandang yang, apabila tidak dikelola dengan baik, berpotensi menimbulkan gesekan sosial. Oleh karena itu, negara memiliki peran krusial dalam menjamin hak setiap individu untuk memeluk dan menjalankan agamanya sesuai dengan kepercayaan yang dianut, tanpa merasa terancam atau Dalam konteks ini, moderasi beragama menjadi penting sebagai pedoman bagi masyarakat dalam menjalankan ajaran agama dengan tetap menghormati hak-hak orang lain, sehingga harmoni dalam kehidupan berbangsa dapat terus terjaga. Dari perspektif Islam, keyakinan akan ketahanan ajaran agama ini terhadap berbagai tantangan zaman adalah hal yang wajar bagi pemeluknya. Islam dipandang memiliki sifat universal dan komprehensif, sehingga mampu memberikan pedoman bagi kehidupan di berbagai konteks sosial dan budaya. Namun, dalam semangat moderasi beragama, keyakinan tersebut hendaknya tidak menjadi dasar untuk menegasikan keberadaan agama lain. Dalam syariah Islamiyah tidak mengenal pembenaran terhadap pola pikir dan sikap ekstrem, menolak kekerasan dalam beragama dan tidak pula pemahaman, sikap menyepelekan aturan, kaidah dan syariat Islam. Moderasi beragama justru menekankan sikap saling menghormati antarumat beragama, di mana setiap individu diberikan ruang untuk menjalankan keyakinannya tanpa tekanan dan tanpa merasa lebih unggul dari pemeluk agama lain. Dengan demikian, moderasi beragama tidak hanya memperkuat keyakinan seseorang terhadap agamanya sendiri, tetapi juga membangun kesadaran untuk hidup berdampingan dalam keberagaman dengan penuh toleransi dan sikap saling menghargai. Hal senada juga diungkapkan oleh Omar Fathurrahman dkk menyebutkan indikator sebagai berikut. komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, akomodasi terhadap budaya lokal, terbuka, dialog, toleransi tujuan setuju indikator ini dapat digunakan untuk mengenali seberapa kuat moderasi beragama yang di praktikkan seseorang di Indonesia dan seberapa kerentanan yang dimiliki. kerentanan itu diperlukan agar menemukenali dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk melakukan penguatan moderasi beragama (Rahmi dan Nasution 2. Moderasi Beragama Sebagai Sarana Meningkatkan Toleransi Di Sekolah Moderasi beragama adalah suatu konsep dalam memahami serta mempraktikkan agama dengan cara yang seimbang. Landasan moderasi beragama adalah menghormati perbedaan, mempertahankan toleransi, tetapi tetap berpegang teguh pada keyakinan masing-masing. Apabila nilai-nilai ini diterapkan, maka kerukunan antar umat beragama akan semakin kuat, juga mencegah paham radikal yang bisa mengganggu keharmonisan masyarakat. Moderasi beragama bertujuan sebagai solusi atau jalan tengah dari suatu perbedaan antara satu dengan yang lainnya untuk menuju tujuan yang sama. Moderasi beragama bersandar pada esensi ajaran agama, yaitu Aumemanusiakan manusiaAy. Adapun maksud dari memanusiakan manusia dalam konteks ini adalah bahwa moderasi beragama mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan seperti toleransi, keadilan, kasih sayang, dan saling menghormati dalam kehidupan beragama. Moderasi beragama tidak muncul secara alamiah. Sikap ini hanya bisa tumbuh melalui kerja keras yang menyeluruh dan hal itu bisa dimulai dari usia dini sampai dengan dewasa. Keluarga sering dimaknai dengan AuPendidikan pertamaAy seseorang, dan dalam hal ini, keluarga di anggap sebagai tempat terbaik untuk menanamkan nilai-nilai moderasi beragama. Tidak hanya keluarga, dalam dunia pendidikan mempelajari moderasi beragama juga penting. Sekolah adalah salah satu tempat yang tepat untuk mempelajari moderasi beragama. Moderasi beragama merupakan suatu pendekatan yang sangat penting, terutama dalam dunia pendidikan. Sekolah berperan sebagai lingkungan yang mendukung penanaman nilainiai moderasi beragama. Hal ini bertujuan agar setiap siswa maupun siswi bisa menjalankan ajaran agama dengan setara. Dengan adanya kesetaraan, tidak ada perbedaan dalam memperoleh pemahaman serta menjalankan ajaran agama di lingkungan sekolah. Hal ini juga diharapkan dapat menciptakan keadaan sekolah yang harmonis, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, sehingga setiap siswa ataupun siswi dapat beribadah dan menerapkan nilai-nilai keagamaan dengan rasa aman tanpa takut adanya diskriminasi. Moderasi beragama penting dilakukan oleh seorang pelajar karena merupakan penerus Langkah yang paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai moderasi beragama kepada generasi muda adalah dengan memberikan pendidikan agama. Mempelajari dan memahami moderasi beagama dalam materi pendidikan sangat penting untuk menumbuhkan pemahaman tentang nilai agama, sosial, dan budaya yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Membangun Sikap Moderasi Beragama Disekolah Dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 2 yang berbunyi Aupendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggapan terhadap tuntutan perubahan zamanAy. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki harapan besar untuk menciptakan generasi yang cerdas juga berkarakter. Konteks cerdas yang dimaksud adalah tidak hanya dari segi kemampuan, tetapi bagaimana memahami potensi dalam dirinya dan dapat memahami keadaan sekitar, mampu menerima, menghormati, serta beradaptasi dengan perbedaan yang beragam. Sedangkan karakter yang dimaksud adalah tidak hanya memiliki kecerdasan secara intelektual tetapi juga memiliki nilai-nilai moral serta etika atau perilaku yang baik. Generasi yang berkarakter memiki kepribadian yang kuat, menjunjung tinggi nilai kejujuran, tanggung jawab, toleransi, disiplin, dan saling menghormati. Konsep generasi yang cerdas dan berkarakter inilah yang memiliki keterkaitan erat dengan moderasi beragama karena keduanya menekankan tentang pentingya keseimbangan antara kecerdasan secara intelektual dan nilai-nilai moral dalam kehidupan Menurut Quraish Shihab, salah satu tantangan utama dalam kehidupan beragama adalah dinamika perbedaan. Jika seseorang tidak memiliki pola pikir yang tepat, mereka cenderung menjadi ekstrem atau tidak toleran. Oleh karena itu, siswa perlu dilatih untuk memiliki cara berpikir yang fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku, bukan hanya sekadar mengikuti keinginan pribadi. Dalam konteks pendidikan, moderasi beragama, sekolah dapat menggunakan pendekatan "kebiasaan berpikir" (The Habits of Min. guna membentuk pola pikir siswa agar lebih moderat dan seimbang dalam beragama. Dalam upaya ini, terdapat 9 kebiasaan berpikir yang dapat diterapkan untuk memperkuat moderasi beragama di sekolah, yang diadaptasi dari 16 kebiasaan berpikir yang dirumuskan oleh Costa dan Kallick. Beberapa kebiasaan berpikir utama yang mendukung moderasi beragama meliputi berpikir luwes, mengatur kata hati, pantang menyerah dan sabar, mendengarkan dengan perasaan empati, berpikir metakognitif, menerapkan pengetahuan lama untuk situasi baru, mencipta dan berinovasi, berpikir saling bergantung, serta belajar berkelanjutan. Berikut 9 kebiasaan berpikir yang dapat diterapkan untuk memperkuat moderasi beragama di sekolah, yang diadaptasi dari 16 kebiasaan berpikir yang dirumuskan oleh Costa dan Kallick diantaranya sebagai berikut: Berpikir luwes memungkinkan seseorang untuk tetap terbuka terhadap pendapat lain dan tidak kaku dalam mempertahankan pandangan jika ada informasi baru yang lebih valid. Kemampuan mengatur kata hati membantu individu dalam mengambil keputusan dengan matang dan tidak bertindak gegabah. Sikap pantang menyerah dan sabar membuat seseorang lebih gigih dalam memahami masalah serta mencari solusi tanpa mudah menyerah. Kebiasaan mendengarkan dengan perasaan empati mendorong seseorang untuk memahami sudut pandang orang lain tanpa harus selalu setuju dengannya. Berpikir metakognitif memungkinkan seseorang untuk mengevaluasi dan mengawasi cara berpikir serta perilaku mereka sendiri, sehingga dapat melakukan perbaikan jika . Kebiasaan menerapkan pengetahuan lama ke dalam situasi baru membantu individu dalam pemecahan masalah secara lebih efektif dengan menghubungkan pengalaman sebelumnya dengan kondisi saat ini. Kebiasaan berpikir kreatif dan inovatif mendorong seseorang untuk mencari solusi yang unik dalam menghadapi berbagai tantangan. Pola pikir saling bergantung menekankan pentingnya kerja sama dan keterhubungan antarindividu dalam kehidupan sosial. Kebiasaan belajar berkelanjutan menanamkan nilai bahwa pembelajaran tidak berhenti pada satu titik, tetapi harus terus berkembang sepanjang hidup. Pembentukan budaya sekolah yang mendukung moderasi beragama juga merupakan aspek krusial dalam upaya ini. Budaya sekolah mencakup nilai-nilai, keyakinan, hubungan sosial, sikap, serta aturan tertulis maupun tidak tertulis yang membentuk lingkungan Beberapa aspek penting dalam budaya sekolah yang dapat mendukung moderasi beragama meliputi keamanan fisik dan emosional siswa, kedisiplinan dalam kelas maupun ruang publik, serta keberagaman budaya, bahasa, dan adat istiadat yang dihormati dalam lingkungan sekolah. Dengan menciptakan budaya yang inklusif, sekolah dapat menjadi tempat yang kondusif bagi siswa untuk belajar tentang toleransi, keterbukaan, serta sikap saling menghormati melalui kombinasi antara moderasi beragama dan kebiasaan berpikir yang positif. Hal ini diharapkan dapat membantu siswa tumbuh menjadi individu yang menghargai perbedaan serta mampu menjaga keseimbangan dalam kehidupan beragama. Adapun menurut Islam, ada 6 konsep dalam moderasi beragama diantaranya adalah sebagai . Tasawuth Tasawuth merupakan suatu perilaku atau perbuatan yang tidak terlalu keras . tidak terlalu lemah . artinya sikap yang dapat menerima sesuatu namun tidak berlebihan dalam memandangnya . Tasawuth juga bisa diartikan sebagai sikap tengah, tidak condong ke kanan ataupun kiri, atau bisa disebut sebagai sikap adil. Contoh sikap dari Tasawuth, seperti di dalam diskusi kelas, siswa diajarkan untuk menyampaikan pendapat dengan menghargai sudut pandang yang berbeda dan tidak merasa paling benar. Tawazun Tawazun merupakan sikap adil dan juga seimbang. Tawazun miliki persamaan dengan tasawuth yaitu sama-sama bersikap adil, namun tawazun tidak harus berada ditengahtengah seperti tawasuth. Tawazun bisa diartikan sebagai pemberian hak kepada seseorang tanpa penambahan juga pengurangan. dengan orang yang berbeda agama dengannya, tanpa melupakan kewajibannya, itulah yang disebut dengan tawazun. Contoh sikap tawazun misalnya, sekolah dapat menyediakan waktu khusus bagi siswa untuk beribadah tanpa mengganggu jadwal belajar, serta mendorong mereka untuk tetap aktif dalam kegiatan sosial tanpa melupakan tanggung jawab agamanya. IAotidal IAotidal bisa diartikan sebagai sikap proposional, yaitu sikap yang lurus tidak ada kata memihak antara satu dengan yang lainnya. IAotidal merupakan suatu sikap adil, bijak dan seimbang dalam mengambil keputusan atau menilai sesuatu. Contoh dari sika IAotidal yaitu bisa berupa seorang guru yang menggunakan metode debat untuk mengajarkan siswa agar melihat suatu permasalahan dari berbagai perspektif sebelum mengambil keputusan yang bijak. Tasamuh Tasamuh adalah sikap Autenggang rasaAy atau toleransi. Tasamuh mengutamakan prinsip saling menghormati dan menghargai tanpa berlebihan, dan masih sesuai dengan ajaran Sikap tasamuh adalah memperlihatkan toleransi dan penerimaan terhadap perbedaan yang beragama. Tasamuh dapat diterapkan dengan menumbuhkan sikap toleransi di antara siswa, misalnya melalui kerja kelompok yang melibatkan siswa dari berbagai latar belakang agama dan budaya, sehingga mereka bisa belajar untuk saling . Musawah Menurut etimologi, musawah adalah persamaan. Musawah juga bisa diartikan sebagai kesetaraan atau kebersamaan. Musawah adalah sikap saling menghargai, dan juga saling menghormati pada setiap komunitas yang berbeda tanpa membedakan, yang artinya setiap manusia memiliki nilai atau kedudukan yang sama terlepas dari latar belakang etnis, ras, status, dan lain sebagainya. Musawah adalah sikap memperlakukan seseorang secara adil tanpa memandang ras, jenis kelamin, ataupun keyakinan. Musawah dapat diterapkan dalam kehidupan sekolah dengan memperlakukan semua siswa secara setara tanpa diskriminasi. Misalnya, dalam kegiatan ekstrakurikuler, setiap siswa diberi kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan berkembang tanpa membedakan latar belakang agama, suku, atau status ekonomi. Syura Syura memiliki makna kesepatan. Syura merupakan suatu tindakan dalam menghadapi suatu permasalahan dengan mengutamakan mufakat melalui musyawarah, seperti bertukar pendapat. Dalam moderasi beragama, syura bertujuan meminimalisir konflik atau kesalahpahaman antar individu maupun kelompok. Syura dapat diterapkan melalui penerapan musyawarah dalam pengambilan keputusan di sekolah. Misalnya, dalam pemilihan ketua OSIS atau dalam menyelesaikan konflik antarsiswa, sekolah bisa menerapkan metode diskusi terbuka untuk mencari solusi yang disepakati bersama. Peran Guru Dalam Mengembangkan Moderasi Beragama Disekolah Guru merupakan suri teladan yang setiap tindakan, perkataan, hingga perbuatan memiliki dampak yang besar pada peserta didik. Suri teladan merupakan frasa yang menunjukkan sosok yang patut dicontoh. Guru tidak hanya sekedar menyampaikan, tetapi juga harus mempraktikan. Dalam mengembangkan moderasi beragama, khususnya di lingkungan sekolah, guru memiliki peran yang sangat penting di dalam proses tersebut. Seorang guru diharapankan dapat memberikan variasi ketika penyampaian kepada peserta didik pada saat materi diajarkan, contohnya mengajarkan tentang pentingnya bersikap moderat dalam perbedaan terutama dalam konteks beragama, dengan berbagai media serta sumber yang bervariasi juga. Guru diharapkan mampu memberikan penjelasan secara fleksibel agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik. Guru wajib memberikan contoh serta mempraktikan apa yang ia sampaikan. Hal ini bertujuan agar peserta didik lebih mudah memahami materi pembelajaran yang disampaikan, adanya kepercayaan dan sikap mengormati yang muncul karena melihat konsisten antara ucapan juga tindakan, serta terbentuknya karakter yang baik, tidak hanya terpaku pada pendidikan akademik. Karena menjadi guru tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan tetapi juga diharapkan dapat membentuk karakter maupun pibadi yang unggul yang dapat mempraktikkan ilmu pengetahuannya secara baik dan benar serta seimbang. Tantangan Moderasi Beragama Pada Peserta Didik Khususnya Tingkat Sekolah Menengah Atas Penerapan moderasi beragama di kalangan siswa SMA menghadapi berbagai tantangan yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal. Salah satu tantangan utama adalah pengaruh lingkungan keluarga. Tidak semua keluarga memiliki pemahaman yang sama tentang moderasi beragama. Beberapa siswa mungkin dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang memiliki pandangan eksklusif terhadap agama tertentu, sehingga mereka sulit menerima perbedaan dan cenderung mempertahankan keyakinan yang sempit. Selain itu, lingkungan pergaulan dan media sosial juga berperan besar dalam membentuk pandangan siswa terhadap keberagaman. Di era digital, informasi tentang agama tersebar luas, tetapi tidak semua informasi bersumber dari pemahaman yang benar dan Banyak siswa yang terpapar narasi ekstrem atau eksklusif di media sosial, yang bisa memengaruhi cara mereka melihat perbedaan agama. Di sekolah, tantangan lainnya adalah bagaimana guru dan tenaga pendidik mampu menyampaikan konsep moderasi beragama dengan cara yang efektif. Tidak semua siswa memiliki minat yang sama terhadap materi ini, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih interaktif dan aplikatif agar mereka dapat memahami dan mengamalkan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu tantangan lain adalah kesadaran moderasi beragama di kalangan generasi Penelitian terbaru menunjukkan bahwa meskipun pemahaman agama generasi Z di kota-kota besar seperti Bandung. Depok, dan Bogor tergolong baik, kesadaran mereka terhadap moderasi beragama masih rendah. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemahaman agama yang baik tidak selalu berbanding lurus dengan kesadaran akan moderasi beragama. Oleh karena itu, pendekatan dalam mengajarkan moderasi beragama perlu lebih memperhatikan bagaimana masyarakatAi terutama generasi mudaAimemahami konsep ini dalam kehidupan sehari-hari. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Toleransi Beragama Dikalangan Siswa Sma. Faktor-Faktor yang mempengaruhi dikalangan SMA ada dua Internal dan Eksternal FAKTOR INTERNAL Tipe Kepribadian: Tipe kepribadian ini adalah tipe ekstrovert Ciri-cirinya terbuka, santai, aktif dan umumnya optimis dan tipe introvert dengan ciri-ciri tertutup. dan cenderung pesimistis Lebih merupakan tipe introvert menjadi tidak toleran daripada baik hati . Pengendalian diri : Pengendalian diri sebagai salah satu dari berbagai ciri kepribadian dari satu orang dan Kedua. Pengendalian diri tingkat tinggi tercipta mampu mengubah keadaan dan menjadi alat kontrol dan mengatur perilaku. Etnosentrisme: kecenderungan seseorang untuk dijadikan panutan nilai dan standar secara terpisah kelompok budaya terbaik dan bekas standar penilaian dan tindakan terhadap budaya lain. FAKTOR EKSTERNAL Lingkungan pendidikan: toleransi diwariskan dari generasi ke generasi dari generasi ke generasi melalui proses sosial. Lingkungan pendidikan digunakan dalam proses sosial ada lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan sekitar hadirin . Identitas sosial: keadaan di mana orang menggunakan proses ini kognitif dan motivasi untuk memasukkan sesuatu kelompok . Fundamentalisme Agama: Agama ada sesuatu yang paradoks karena agama bisa menyebabkan toleransi, tetapi juga mungkin menyebabkan intoleransi. KESIMPULAN Menghindari sikap ekstrem, serta mengedepankan toleransi dan saling menghormati antarumat beragama. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, moderasi beragama menjadi pedoman penting dalam menjaga harmoni sosial dan keberagaman. Islam, sebagai salah satu agama di Indonesia, menolak ekstremisme serta mengajarkan prinsip keseimbangan dalam menjalankan ajaran agama. Di lingkungan sekolah, pendidikan moderasi beragama berperan dalam membentuk karakter siswa agar lebih toleran dan terbuka terhadap perbedaan. Namun, penerapan konsep ini menghadapi berbagai tantangan, seperti pengaruh lingkungan keluarga, pergaulan, serta paparan informasi yang kurang moderat di media sosial. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif guru dalam menyampaikan nilai-nilai moderasi dengan pendekatan yang efektif dan DAFTAR PUSTAKA