Abdi Wisata. Volume 2. No 1. Halaman 22-31. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 Wisata Sepeda Terintegrasi Transportasi Massal Dalam Pengembangan Wisata Warisan Budaya Semarang Raya Kunkun Kurniawan1*. Dani Fauzi2. Zakia Ayu Lestari3. Mersiana Setiarini4. Iga Safa Marwani5 1,2,3,5 Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung AKPAR BSI Bandung *Email korespondensi: dani. fauzi@unmuhbabel. Sejarah artikel Diajukan Diterima Dipublikasikan : 15 Maret 2024 : 03 Mei 2025 : 31 Mei 2025 Abstrak Wisata sepeda sejalan dalam mendukung konsep pariwisata Sepeda sebagai bagian dari sistem transportasi merupakan komponen utama dalam mendorong kegiatan pariwisata berkelanjutan yang ramah terhadap lingkungan, berdampak positif untuk ekonomi, dan sosial budaya. Persoalan mendasar yang muncul adalah transportasi massal belum sepenuhnya terintegrasi dengan pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi moda transportasi di sekitar Semarang Raya dan rute tematik wisata sepeda yang menarik untuk dikembangkan dalam wisata warisan budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moda transportasi massal belum terintegrasi dengan baik. Jalur kereta api sebagai moda transportasi massal di sekitar Semarang Raya perlu diaktifkan kembali untuk mendukung wisata warisan budaya. Pengaktifan kembali jalur lama di sekitar Semarang Raya akan mendorong penggunaan rute tematik wisata sepeda lebih optimal dalam pengembangan wisata warisan budaya yang berdampak pada pelestarian dan pengalaman Kata kunci: Transportasi Terintegrasi. Pariwisata Berkelanjutan. Transportasi Massal. Wisata Sepeda. Warisan Budaya Abstract Cycling tourism is in line with supporting the concept of sustainable tourism. Bicycles as part of the transportation system are a major component in encouraging sustainable tourism activities that are environmentally friendly, have a positive impact on the economy and socio-culture. The basic problem that arises is that mass transportation has not been fully integrated with tourism. This study aims to find out how the conditions of transportation modes around Semarang Raya and the thematic routes of bicycle tourism are interesting to be developed in cultural heritage tourism. This study uses qualitative methods with data collection techniques through observation, interviews, and literature studies. The results of the study indicate that mass transportation modes have not been well integrated. The railway line as a mode of mass transportation around Semarang Raya needs to be reactivated to support cultural heritage tourism. The re-activation of the old route around Semarang Raya will encourage the use of thematic bicycle tourism routes to be more optimal in the development of cultural heritage tourism which has an impact on the preservation and tourist experience. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 2. No 1. Halaman 22-31. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 Keywords: Cycling Tourism. Cultural Heritage. Mass Transportation. Sustainable Tourism. Transport Integration Pendahuluan Kegiatan wisata bagi masyarakat modern sudah menjadi kebutuhan yang utama. Selain untuk relaksasi dan beristirahat, kegiatan wisata juga bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru. Perkembangan minat rekreasi masyarakat saat ini mengarah kepada pola konsumsi wisata yang beragam. Fenomena ini ditandai oleh munculnya perluasan pariwisata yang mengarah kepada minat khusus (Hall. & Weiler, 1. Identifikasi jenis wisata minat khusus ini terbagi atas kegiatan atau minat di berbagai bidang seperti seni, budaya, kuliner, olahraga atau petualangan. Karakteristik wisata minat khusus ini mengambarkan keinginan berwisata yang tidak saja menikmati produk destinasi yang ditawarkan tetapi juga melibatkan rangsangan emosional untuk memperoleh pengalaman yang lebih mendalam dan penuh tantangan. Salah satu kegiatan wisata minat khusus yang banyak diminati saat ini adalah wisata Wisata sepeda selaras dalam mendukung konsep pariwisata berkelanjutan. Sepeda menjadi salah satu moda transportasi yang dapat dijadikan solusi untuk mereduksi dampak kegiatan pariwisata terhadap lingkungan. Sekaligus juga untuk mempromosikan perilaku pada kehidupan berkelanjutan. Penggunaan sepeda dapat mempercepat pergerakan wisatawan di destinasi wisata, mengurangi kemacetan, menurunkan polusi udara, dan kebisingan. Wisata bersepeda telah menjadi populer karena manfaat kesehatan, hubungan sosial, hiburan dan keberlanjutan, dan akan mengalami transisi yang signifikan dalam 75 tahun ke depan karena teknologi baru, perkembangan kota, dan masalah lingkungan (Han et al. , 2. Transportasi dalam pariwisata secara langsung maupun tidak langsung memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan. Wisata bersepeda dapat mendorong pembangunan lokal yang berkelanjutan serta akses terhadap sumber daya lingkungan dan budaya, namun pasokan saat ini dan di masa depan perlu ditingkatkan (Maggi et al. , 2. Aktifitas wisata sepeda dianggap sebagai salah satu cara untuk menikmati perjalanan wisata secara lambat. Artinya dengan bersepeda wisatawan diajak mengunjungi suatu tempat untuk menikmati suasana alam, budaya lokal atau tradisi di suatu daerah. Selain itu wisatawan dapat merasakan lebih mendalam apa yang dialami dan dirasakan selama dalam perjalanan. Proses mengalami dan merasakan ini menjadi sebuah pengalaman baru bagi wisatawan pesepeda. Transportasi dan pariwisata memiliki relevansi yang kuat dan posisinya sangat penting dalam sistem kepariwisataan (Leiper, 1. Sistem pariwisata di dunia saat ini membutuhkan 2 . bentuk transportasi yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya, yaitu: melalui transportasi udara dan kendaraan bermotor. Kedua model transportasi ini membutuhkan sumber energi yang besar dan memberikan dampak terhadap pencemaran Kedua moda transportasi ini mengalami pertumbuhan dalam melayani pariwisata. Tercatat ada pertumbuhan sebesar 10 sampai 17% per tahun untuk perjalanan udara dengan tujuan baru (Holloway, 1989. Shaw, 1. Kemudian dari moda tranportasi kendaran bermotor selama 4 . dekade mengalami peningkatan sepuluh kali lipat dari 53 juta kendaraan pada tahun 1950 menjadi 500 juta pada tahun 1992 secara global (Forward, 2. Hal ini menunjukkan bahwa mobilitas wisatawan menuju destinasi wisata mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Mobilitas wisatawan yang meningkat ini harus diselaraskan dengan pengembangan pariwisata yang ramah terhadap lingkungan. Perspektif pariwisata berkelanjutan mengarahkan kepada layanan kegiatan pariwisata yang dapat meminimalisir dampak terhadap lingkungan. Penggunaan sistem transportasi yang terintegrasi menjadi salah satu upaya untuk menciptakan solusi transportasi berkelanjutan. Sistem terpadu ini menekankan pada transportasi umum seperti sistem angkutan masal kereta api, layanan jaringan bus di perkotaan serta penggunaan sepeda secara personal maupun Kereta api sebagai moda transportasi massal dan sepeda dapat diintegrasikan menjadi sistem jaringan transportasi yang mendukung kepada pariwisata yang berkelanjutan. https://ejournal. id/index. php/wisata Abdi Wisata. Volume 2. No 1. Halaman 22-31. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 Untuk mengurangi dampak transportasi terhadap lingkungan dapat dilakukan dengan menurunkan intensitas perjalanan, mengurangi jarak perjalanan, menurunkan jumlah dari kendaraan dengan menggunakan transportasi masal, serta memindahkan perjalanan ke moda yang berkelanjutan seperti berjalan dan bersepeda (Guiver. Lumsdon. Weston, 2. Sebagai alat transportasi di suatu destinasi pariwisata, sepeda dapat digunakan untuk mengunjungi kota-kota bersejarah, museum, monumen, taman bersejarah, situs arkeologi, dan tempat ibadah. Sepeda semakin menjadi objek utama dalam budaya urban populer yang mengekspresikan gaya hidup, status, dan perbedaan sosial dalam konteks kelas menengah perkotaan (Hoor, 2. Menurut (National Trust for Historic Preservation, 2. AuPariwisata berbasis warisan adalah bepergian untuk mengalami tempat, artefak, dan kegiatan yang secara otentik mewakili cerita dan orang-orang dari masa lalu dan masa kini. Termasuk wisata sejarah, budaya, dan alam. Ay Selanjutnya wisata warisan merupakan bagian penting dalam pelestarian sejarah. Setiap kesempatan yang dipakai untuk menikmati tempat bersejarah, tidak sekedar untuk membantu melestarikan tetapi juga memberikan peningkatan kualitas hidup penduduk melalui penciptaan lapangan kerja baru, memberikan kesempatan untuk pengembangan bisnis baru, dan memperkuat ekonomi lokal. Destinasi yang memiliki nilai warisan budaya ini cenderung meningkat kunjungan wisatawannya setiap tahun. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh United Nations World Tourism Organization (UNWTO) bahwa hampir 40% dari semua perjalanan internasional terkait dengan warisan budaya dan mengalami kenaikan sebesar 15% setiap tahunnya (Richards, 2. Peningkatan tren wisatawan untuk mengunjungi destinasi warisan budaya menjadi pola minat dan tujuan dari wisatawan saat ini. Pola perjalanan ini menjadi peluang dan masukan strategis dalam pengembangan pariwisata warisan budaya di Indonesia. Beberapa kota di Pulau Jawa memiliki destinasi pariwisata warisan budaya yang menarik seperti Jakarta. Bandung. Semarang, dan Jogjakarta. Hal ini dapat dilihat dari keberadaan kawasan heritage yang ada di setiap kota tersebut. Selama ini relatif sudah banyak dikunjungi oleh wisatawan. Namun untuk pengembangan lebih lanjut, destinasi pariwisata warisan budaya ini dapat dijadikan destinasi wisata minat khusus pesepeda agar selaras dan mendukung terhadap konsep pariwisata berkelanjutan. Keberadaan jaringan transportasi massal menjadi elemen penting dalam sistem transportasi pariwisata yang terintegrasi. Isu mendasar yang muncul adalah belum terintegrasinya transportasi ke dalam pariwisata secara keseluruhan yang memudahkan wisatawan. Hal ini dapat dilihat dari mulai tingkat perencanaan, pengembangan transportasi strategis secara nasional maupun regional yang belum tersambung dengan destinasi pariwisata. Potensi destinasi pariwisata warisan budaya akan lebih berkembang apabila jaringan transportasinya sudah dapat diintegrasikan. Salah satu kota yang memiliki daya tarik warisan budaya adalah Kota Semarang. Kota Semarang memiliki kawasan kota tua yang terpelihara dengan baik dan nyaman dikunjungi Selain kawasan kota tua Semarang, di sekitarnya terdapat destinasi pariwisata warisan budaya yang menarik untuk dikembangkan dan terintegrasi dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di kawasan metropolitan Semarang, yaitu Museum Kereta Api Ambarawa. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 2. No 1. Halaman 22-31. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 Jum lah Kunjunga n Wis ataw an Kota Se m ar ang 2020 2023 8,000,000 6,000,000 4,000,000 2,000,000 6,478,883 5,338,233 3,260,303 6,628 2,663,684 Wisatawan Domestik 13,992 2,918 Wisatawan Mancanegara Gambar 1. Jumlah Kunjungan Wisatawan Kota Semarang 2019-2022 Sumber: Nesparda . Berdasarkan gambar 1. Jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Semarang mengalami penurunan tajam akibat pandemi COVID-19, dengan wisatawan domestik turun 18,29% dari 3,26 juta pada 2020 menjadi 2,66 juta di 2021, sementara wisatawan mancanegara anjlok hingga 98,84% dari 6. 628 menjadi hanya 77 orang. Namun, pemulihan mulai terlihat sejak 2022, ditandai dengan kenaikan wisatawan domestik sebesar 100,40% dan terus meningkat 21,37% pada 2023 hingga mencapai 6,47 juta orang. Kunjungan wisatawan mancanegara juga melonjak signifikan, naik 3. 689,61% di 2022 dan 379,47% di 2023, menunjukkan kebangkitan sektor pariwisata Semarang pasca pandemi (Pemkot Semarang, 2. Tabel 1. Struktur Budaya di Kota Semarang Tahun 2022 Kategori Jumlah Jumlah Objek Wisata Budaya Jumlah Gedung Kesenian Jumlah Grup Kesenian Kota Semarang memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan dengan keberadaan kawasan kota tua yang terpelihara, destinasi pariwisata warisan budaya seperti Museum Kereta Api Ambarawa, serta jumlah obyek wisata budaya mencapai 59 obyek, 200 gedung kesenian, dan 929 grup kesenian. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi adalah belum terintegrasinya sistem transportasi dalam pariwisata secara menyeluruh, yang membutuhkan pengembangan infrastruktur dan strategi transportasi yang terintegrasi untuk meningkatkan aksesibilitas dan mendukung pertumbuhan pariwisata budaya di Kota Semarang. Wisata bersepeda menawarkan manfaat ekonomi, kesehatan, dan lingkungan, dan semakin penting dalam pariwisata berkelanjutan, dengan potensi pertumbuhan melalui sistem berbagi sepeda dan infrastruktur yang lebih baik (Derman & Keles, 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sistem transportasi terintegrasi yang dapat mendukung pariwisata keberlanjutan di Kota Semarang serta bagaimana membuat rute tematik warisan budaya yang menarik wisatawan pesepeda di Kota Semarang dan sekitarnya. Metode Model penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu proses penelitian yang dilakukan secara wajar dan alamiah sesuai dengan https://ejournal. id/index. php/wisata Abdi Wisata. Volume 2. No 1. Halaman 22-31. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 fakta atau obyektif di lapangan tanpa adanya upaya merubah keadaan yang sebenarnya (Arifin, 2. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam untuk mendapatkan data primer. Data primer merupakan data yang didapatkan oleh peneliti dari sumber aslinya (Suryabrata, 1. Pemilihan informan dilakukan berdasarkan kriteria keaktifan dalam kegiatan komunitas sepeda dan terlibat intensif dalam kegiatan wisata heritage. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan Bapak Sinar mewakili pegiat komunitas sepeda di Semarang dan Bapak Yosef dari PT Kereta Api Indonesia (KAI). Proses wawancara dilakukan secara langsung berdasarkan daftar pertanyaan yang telah disusun terkait integrasi layanan transportasi dan wisata heritage yang ada di Sekitar Kota Semarang Raya. Wawancara ini untuk memperoleh gambaran terkait kondisi moda transportasi serta rute tematik warisan budaya menarik yang ada di Kota Semarang. Selanjutnya dilakukan studi literatur untuk memperoleh data sekunder. Data sekunder adalah data yang tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen (Suryabrata, 1. Data yang telah diperoleh selanjutnya dianalisa secara deskriptif. Hasil dan Pembahasan Kota Semarang termasuk salah satu kota yang mengalami perkembangan yang cepat dengan jumlah penduduk sekitar 1,7 juta jiwa dan menjadi kota metropolitan terbesar ke-5 . di Indonesia. Kota ini terletak di pesisir utara Pulau Jawa yang sekaligus menjadi jalur penghubung antara Jakarta dengan Surabaya. Sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah. Kota Semarang merancang rencana pengembangan kota dengan membuat strategi kawasan mega urban Semarang Kedungsepur, yaitu pengembangan yang melibatkan kota/kabupaten sekitarnya seperti Kendal. Demak. Unggaran Kabupaten Semarang. Kota Salatiga. Kota Semarang dan Purwodadi Kabupaten Grobogan. Gambar 2. Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang Tahun 2011-2031 Sumber : Perda Kota Semarang No. 14 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang Tahun 2011-2031 https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 2. No 1. Halaman 22-31. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 Secara geografis Kota Semarang terletak sekitar 558 km di sebelah timur Kota Jakarta sebagai ibukota negara. Berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara. Kabupaten Kendal di sebelah barat. Kabupaten Semarang di sebelah selatan, dan Kabupaten Demak di sebelah timur. Luas wilayah Kota Semarang secara administrasi mencapai 373,70 km persegi. Kota Semarang secara aksesibilitas memiliki jaringan transportasi yang cukup lengkap baik di dalam kota maupun dari dan keluar kota. Salah satunya adalah jaringan transportasi massal kereta api. Saat ini jalur kereta api yang menghubungkan beberapa destinasi di sekitar Semarang Raya belum terintegrasi secara penuh. Kondisi jalurnya sudah tidak aktif. Berdasarkan penuturan dari Bapak Yosef salah satu informan dari PT KAI menyampaikan bahwa dahulu ada beberapa jalur kereta api yang menghubungkan ke sekitar Semarang Raya seperti Demak bahkan sampai ke Lasem dan juga jalur menuju Ambarawa. Tetapi jalur ini sudah lama tidak aktif. Saat ini sedang direncanakan untuk mengaktifkan jalur lama ini. Apabila jalur ini sudah aktif kembali akan menjadi sarana yang mudah dan murah bagi wisatawan khususnya pesepeda untuk berkunjung ke beberapa destinasi wisata yang ada di sekitar Semarang Raya. Selain itu, dengan menggunakan moda transportasi massal ini jangkauannya bisa diperluas sampai Lasem. Lasem sendiri dikenal sebagai Kota Santri dan menjadi salah satu destinasi warisan budaya yang memiliki catatan sejarah tentang kehidupan masyarakat China di Pulau Jawa. Wisata sepeda dapat mengaktifkan regenerasi stasiun-stasiun kecil dan menengah, mempromosikan reaktivasi perkotaan, teritorial, dan sosial dengan beralih dari kereta api ke sepeda dan menawarkan layanan seperti area reparasi dan kegiatan sosial (Moscarelli et al, 2. Kemudian jalur menuju Ambarawa kondisinya pun sudah tidak aktif. Rencana mengaktifkan kembali jalur Semarang - Kedungjati - Tuntang - Ambarawa sejauh 37 Km akan mendukung pengembangan wisata sepeda dengan tematik sejarah kereta api. Saat ini jalur wisata kereta api di Museum Ambarawa sudah tersedia untuk wisatawan, yaitu jalur Ambarawa - Tuntang PP dan Ambarawa - Jambu Ae Bedono PP. Jalur menuju Kendal sampai ke Pekalongan saat ini dalam kondisi aktif. Untuk sampai ke Kendal Wisatawan berangkat dari Semarang menuju Stasiun Weleri di Kendal. Wisatawan yang tertarik dengan produk batik dapat melanjutkan perjalanannya sampai ke Pekalongan untuk mengunjungi pengrajin dan industri batik di Pekalongan. Kota Semarang dikenal pula sebagai kota kelahiran pertama kereta api di Indonesia. Stasiun Tawang merupakan salah satu stasiun yang menjadi landmark sejarah kereta api di Kota Semarang. Stasiun ini memiliki arsitektur khas yang mulai dibangun pada jaman Belanda sekitar tahun 1911. Daya tarik Stasiun Tawang menjadi titik tolak pengembangan pariwisata warisan budaya dengan menggunakan sepeda di Kota Semarang dan sekitarnya. Jaringan kereta api aktif maupun tidak aktif yang sudah terbangun sejak lama itu menunjukkan bahwa Kota Semarang sudah terhubung dengan moda transportasi massal. Tidak jauh dari Stasiun Tawang ada satu kawasan yang disebut dengan Kota Lama. Kawasan ini menjadi tujuan utama wisatawan warisan budaya untuk berkunjung ke Kota Semarang. Di Kota lama banyak ditemukan jejak peninggalan jaman kolonial Belanda pada Pada jaman itu kota lama menjadi pusat kegiatan ekonomi. Landmark yang menjadi ciri khas Kota Lama adalah Spiegel Bar & Bistro serta Gereja Blenduk. Bangunan heritage di kawasan Kota Lama ini menampilkan gaya arsitektur Eropa kuno yang jumlahnya kurang lebih 50 bangunan. Pengembangan kawasan kota lama tidak sekedar untuk menjaga pelestarian warisan pusaka tetapi juga menjadi pusat kegiatan dan penghubung . reative hu. dari aktivitas kreatif, produk kreatif yang berdampak secara ekonomi. Beberapa bangunan heritage dipakai untuk usaha kuliner dengan ornamen dan suasana tempo dulu yang menjadi daya tarik wisatawan. Beberapa komunitas sketsa dan menggambar memanfaatkan keunikan kawasan kota lama ini sebagai obyek karya sketsa atau gambarnya. https://ejournal. id/index. php/wisata Abdi Wisata. Volume 2. No 1. Halaman 22-31. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 Pameran seni budaya dan industri kreatif menjadi bagian penting dalam aktivitas ekonomi kretaif. Salah satu aktivitas yang sudah menjadi Calender of Event Provinsi Jawa Tengah dan berskala nasional adalah Festival Kota Lama Semarang. Kegiatan ini menjadi agenda yang menarik untuk menghidupkan suasana dan aktifitas kota lama yang dapat dinikmati oleh masyarakat secara luas. Bahkan kegiatan ini dapat membangun promosi dan jejaring dengan wisatawan luar negeri khususnya wisatawan Belanda. Gambar 3. Kawasan Kota Tua Semarang Sumber: Dokumentasi Pribadi . Selain Kota Tua. Semarang memiliki destinasi warisan budaya yang menarik dikunjungi wisatawan. Terdapat sejarah terkait keberadaan pelabuhan laut di Kota Semarang. Kegiatan perdagangan pada masa lampau memberikan ruang interaksi antara para pedagang dari luar nusantara untuk datang dan berniaga dengan pengusaha pribumi. Pedagang di luar nusantara yang datang ke Semarang beberapa datang dari negeri China. Salah satu pedagang dan perantau yang meninggalkan jejak dan menjadi landmark di Kota Semarang adalah Laksamana Cheng Ho. Jejak pengembaraan Laksamana Cheng Ho yang terkenal dan menjadi destinasi warisan budaya adalah Kelenteng Sam Poo Ho. Kelenteng terbesar di Kota Semarang ini menyimpan sejarah dan bukti pembauran budaya. Ketika berkunjung ke kawasan kelenteng ini akan terasa atmosfir China di zaman kekaisaran. Jejak Laksmana lainnya dapat ditemukan di kawasan pecinan di Kota Semarang, yaitu kelenteng Thai Ket Shi. Gambar 4. Sam Poo Ho Temple Semarang Sumber: Dokumentasi Pribadi . Pariwisata warisan budaya di Semarang Raya sangat potensial untuk dikembangkan. Pengembangan tersebut dapat dilakukan dengan penggunaan konsep rute tematik yang https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 2. No 1. Halaman 22-31. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 menghubungkan beberapa daya tarik warisan budaya dengan segala keunikan dan Rute yang dikembangkan sesuai dengan tema dan keunggulan destinasi yang ada di beberapa wilayah di seputar Semarang Raya. Berdasarkan informasi dari pegiat sepeda di Kota Semarang, beberapa rute bersepeda di Kota Semarang sudah berjalan dengan baik. Rute sepeda selanjutnya dapat dibuat secara tematik. Rute tematik yang dapat dikembangkan, yaitu: . Rute tematik sejarah kereta api. Wisatawan pesepeda dari titik awal Stasiun Tawang diajak mengunjungi Museum Lawang Sewu dan Museum Ambarawa untuk mendapatkan pengetahuan mengenal lebih jauh tentang sejarah kereta di Indonesia yang awal mula idenya untuk mengangkut hasil bumi dari sistem paksa yang diterapkan pada jaman Hindia Belanda. Museum Lawang Sewu dapat dikunjungi oleh wisatawan pesepeda dari berbagai tipe mulai dari pesepeda rekreasi sampai peturing karena lokasi Museum Lawang Sewu terletak di pusat Kota Semarang. Sedangkan Museum Ambarawa hanya dapat dikunjungi oleh wisatawan pesepeda tipe peturing saja. Tipe pesepeda non peturing dapat berkunjung dengan menggunakan shuttle bus. Rute tematik reliji. Wisatawan sepeda diajak untuk mengunjungi beberapa destinasi terkenal di Kota Demak dan sekitarnya. Destinasi religi yang dapat dikunjungi diantaranya adalah Masjid Agung Demak. Makam Sunan Kalijaga. Makam Raja Demak. Museum Masjid Demak, dan sentra kerajinan kaligrafi. Gambar 5. Masjid Agung Demak Sumber: detiktravel . Wisatawan akan mendapatkan pengalaman yang bermakna dan pengetahuan baru terkait sejarah penyebaran Islam yang dilakukan oleh salah satu tokoh penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Selain itu ada beberapa karya seni yang dihasilkan dari kreatifitas kaligrafi yang penuh makna dan pelajaran hidup yang diambil dari kitab suci Al Quran. Rute tematik kreatif dan industri. Wisatawan pesepeda dapat mengunjungi pengrajin dan indutri kreatif Batik Pekalongan. Wisatawan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman mengenai proses pembuatan batik langsung dari pengrajin. Kemudian di Kendal terdapat industri sepeda nasional yang dapat dikunjungi wisatawan pesepeda untuk mengetahui proses pembuatan sepeda dan mendapatkan pengalaman langsung dari tempat produksinya. Wisata sepeda memiliki peran yang penting dalam pengembangan pariwisata warisan budaya di Kota Semarang dan sekitarnya. Hubungan antara wisata sepeda dengan wisata warisan budaya dapat dipahami dari perspektif interaksi diantara keduanya berdasarkan pengalaman dan interpretasi wisatawan. Hubungan tersebut teridentifikasi menjadi tiga jenis hubungan, yaitu sinergis, komplementer, dan antagonis (Dan Cho, 2. Hubungan yang bersifat sinergis menunjukkan wisata sepeda dan wisata warisan budaya saling memperkuat satu sama lain. Selanjutnya bersifat saling melengkapi, yaitu keduanya hidup berdampingan https://ejournal. id/index. php/wisata Abdi Wisata. Volume 2. No 1. Halaman 22-31. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 tanpa interaksi yang signifikan. Hubungan bersifat antagonis menjelaskan bahwa antara wisata sepeda dan wisata warisan untuk dapat berkonflik. Menggunakan sepeda bersama untuk pariwisata meningkatkan pengalaman emosional dan kepuasan wisatawan, tetapi hanya keunikan yang dirasakan yang berdampak positif pada loyalitas terhadap destinasi (Chen & Huang, 2. Wisata sepeda juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Mengelola rute wisata budaya bersepeda berdampak positif terhadap faktor ekonomi, seperti kesejahteraan dan peningkatan pendapatan bagi keluarga berpenghasilan rendah, melalui hukum, konteks sosial, dan karakteristik rute (Luekveerawattana, 2. Dengan adanya aktivitas wisata sepeda, pelaku usaha lokal seperti warung makan, homestay, dan penyewaan sepeda akan mendapatkan peluang untuk berkembang. Hal ini akan membantu meningkatkan pendapatan masyarakat setempat serta memperluas lapangan kerja dalam sektor pariwisata. Terbuka peluang untuk menciptakan program pemberdayaan pelaku usaha lokal terkait pengembangan pariwisata warisan budaya di Kota Semarang melalui peningkatan pemahaman cagar budaya dan inovasi produk ekonomi kreatif berbasis warisan budaya. Dengan demikian, pengembangan wisata sepeda tidak hanya memberikan pengalaman berlibur yang berkesan bagi wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat yang nyata bagi pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat lokal. Simpulan Saat ini kondisi jaringan moda transportasi terintegrasi di sekitar Kota Semarang dan sekitarnya belum terkoneksi dengan baik. Ada beberapa jalur kereta api yang sudah tidak aktif. Jalur kereta api tersebut perlu diaktifkan kembali dalam upaya mendukung pariwisata warisan budaya yang berkelanjutan dan strategi pengembangan kawasan mega urban Semarang Kedungsepur, yaitu pengembangan yang melibatkan kota/kabupaten sekitarnya seperti Kendal. Demak. Unggaran kabupaten Semarang. Kota Salatiga. Kota Semarang dan Purwodadi Kabupaten Grobogan. Jalur yang diaktifkan akan memberikan dampak positif kepada pengembangan destinasi pariwisata warisan budaya di sekitar Semarang Raya. Rute tematik dalam pengembangan pariwisata warisan budaya dapat dijadikan paket wisata sepeda yang menarik untuk wisatawan. Rute tematik ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan melibatkan kemitraan dari pihak penyedia layanan amenitas dan layanan pariwisata lainnya. Daya tarik pariwisata warisan budaya yang strategis di Kota Semarang dan sekitarnya ini memerlukan dukungan dari aspek aksesibilitas untuk wisata sepeda. Keputusan tepat untuk mengintegrasikan pengembangan jalur kereta api dengan rute sepeda tematik. Dampaknya wisatawan dengan mudah dapat mengakses ke berbagai destinasi wisata yang ada di Kota Semarang raya. Selain itu, perlu juga adanya promosi yang kuat dan berkelanjutan untuk menarik minat wisatawan domestik maupun internasional terhadap pengalaman unik yang ditawarkan oleh wisata sepeda di Kota Semarang dan sekitarnya. Referensi