Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan p-ISSN: 2302-0008 e-ISSN: 2623-1964 DOI: https://doi. org/10. 47668/pkwu. Volume 14 Issue 1 2026 Pages 1 - 16 Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience Capacity dalam Ketahanan Usaha Hortikultura Abdul Latif1*. Elfira Yunita Sapitri2. Subiyantoro3. Eni Hidayati4. Baha Shofa Mijdal5 1,2,3,4,5 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Indonesia *Corresponding author: 24204012044@student. uin-suka. Abstract: Despite ongoing research on entrepreneurial resilience, studies specifically examining the integration of Islamic spirituality, entrepreneurial traits, and business resilience capacity in shaping entrepreneurial resilience among informal microenterprises in developing countries remain limited. This study aims to address this gap by analyzing these three dimensions in an integrated manner at Syaqila Buah Trading Business. a horticultural SME in Indonesia. This study employs a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, and documentation, and analyzed using data condensation, data presentation, and conclusion-drawing techniques. The findings indicate that Islamic spirituality, encompassing infaq/zakat, tawakal, gratitude, trustworthiness, and honesty, serves as foundational values in entrepreneurship. Furthermore, these values foster entrepreneurial traits such as optimism, perseverance, risktaking, proactivity, and innovation. These values, in turn, strengthen resilience capacities, which include adaptability, operational flexibility, problem-solving, business learning, and relational resilience at UD Syaqila Buah. This study contributes by proposing an integrative model that demonstrates that the entrepreneurial resilience of UD Syaqila Buah is shaped not only by entrepreneurial character and capacity but also by spirituality as a core component of the Islamic entrepreneurial ecosystem. Keywords: business sustainability. entrepreneurial resilience. Islamic entrepreneurship. MSME resilience. and spiritual capital Abstrak: Meskipun penelitian mengenai ketahanan kewirausahaan terus berlanjut. Studi yang secara khusus mengkaji integrasi spiritualitas Islam, karakter kewirausahaan, dan kapasitas ketahanan bisnis dalam membentuk ketahanan kewirausahaan di kalangan usaha mikro informal di negara-negara berkembang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis ketiga dimensi secara terintegrasi di Usaha Dagang Syaqila Buah. Sebuah UMKM di bidang hortikultura di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan teknik kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan menunjukkan bahwa spiritualitas Islam yang mencakup infaq/zakat, tawakal, syukur, amanah dan kejujuran yang berfungsi sebagai nilai-nilai dasar dalam berwirausaha. Selanjutnya nilai-nilai ini mengembangkan karakter kewirausahaan seperti optimisme, keuletan, pengambilan risiko, proaktif, dan inovasi. Kemudian nilai-nilai tersebut memperkuat kapasitas ketahan yang meliputi kemampuan beradaptasi, fleksibilitas operasional, pemecahan masalah, pembelajaran bisnis, dan ketahanan relasional di UD Syaqila Buah. Penelitian ini berkontribusi dengan mengusulkan model integratif yang menunjukkan bahwa ketahanan kewirausahaan UD Syaqila Buah tidak hanya dibentuk oleh Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience CapacityA karakter dan kapasitas kewirausahaan, tetapi juga oleh spiritualitas sebagai komponen inti dari ekosistem kewirausahaan Islam. Kata Kunci: bisnis keberlanjutan. ketahanan wirausaha. kewirausahaan Islam. UMKM. modal spiritual. PENDAHULUAN Pengangguran merupakan suatu hal yang harus menjadi perhatian utama negara maju maupun negara berkembang (Setiawan, 2. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakerna. dalam badan pusat statistik persentase tingkat pengangguran terbuka berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2024 sebagai berikut: tidak/belum pernah sekolah/belum tamat dan tamat SD 2,32%. SMP 4,1%. SMA umum 7,05%. SMA Kejuruan 9,01%. Diploma I/II/i 4,83%. Universitas 5,25% (Badan Pusat Statistik, 2. Fenomena pengangguran merupakan permasalahan struktural yang dihadapi oleh negara berkembang, termasuk Indonesia. Data Badan Pusat Statistik tahun 2025 mencatat peningkatan jumlah pengangguran dari 7,20 juta menjadi 7,28 juta orang, menunjukkan kenaikan sebesar 80 ribu individu dibandingkan tahun sebelumnya (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2. Pengangguran tidak hanya membebani struktur sosial-ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi katalisator kemiskinan, keresahan sosial, dan aktivitas kriminal yang menghambat pembangunan berkelanjutan (Mulyadi, 2. Kewirausahaan merupakan salah satu terobosan yang menjadi lokomotif ekonomi Indonesia dalam mengatasi masalah kemiskinan. Dari banyaknya orang sukses dalam pemenuhan kebutuhan hidup 80%nya berasal dari seorang wirausaha (Hidayah dkk. , 2. Kewirausahaan dipandang sebagai solusi strategis dalam mengatasi kemerosotan ekonomi dan tantangan ketenagakerjaan secara global (Gao & Lu, 2. Suryana mengemukakan bahwa kewirausahaan ditandai dengan adanya kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses (Sholihin dkk. , 2. Peran Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) sangat penting dalam perekonomian Indonesia sebagai penyumbang lapangan kerja dan kinerja ekonomi lokal. Ketahanan usaha UMKM dipengaruhi oleh faktor internal seperti spiritualitas, iman, optimisme, dan kemampuan mengelola usaha, serta faktor eksternal seperti dukungan pelanggan, pemasok, dan lingkungan sosial (Kasim dkk. , 2. Ketahanan kewirausahaan diambil berdasarkan teori Islamic entrepreneur resilience atau ketahanan pelaku usaha Muslim yang terbentuk dari kemampuan menyelesaikan masalah, fleksibilitas tindakan, kemampuan menciptakan peluang dari kondisi krisis, serta kekuatan spiritual yang bersumber dari nilai-nilai Islam. Usaha yang dijalankan dengan orientasi ibadah, tawakal, sikap positif, dan orientasi keberkahan memiliki daya tahan yang lebih kuat karena pelaku usaha memiliki kontrol psikologis berbasis keyakinan (Junusi & Mubarok, 2. Selain itu, ketahanan usaha tidak hanya berasal dari spiritualitas, tetapi juga dipengaruhi oleh traits atau karakter kewirausahaan seperti optimisme, keberanian mengambil risiko, keuletan, dan kemampuan bernegosiasi. Traits tersebut berperan langsung terhadap resiliensi dan secara tidak langsung meningkatkan performa usaha lewat orientasi Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience CapacityA kewirausahaan (Trinanda dkk. , 2. Ketahanan dalam berwirausaha berkaitan erat dengan sifat dan perilaku kewirausahaan, seperti kemampuan beradaptasi, ketekunan, dan pemecahan masalah yang inovatif dalam menanggapi krisis dan gangguan (Pennetta dkk. , 2. Kajian mengenai entrepreneurial resilience telah dilakukan oleh sejumlah peneliti dengan pendekatan yang beragam. Ramadani dkk. mengkaji Islamic entrepreneurship secara konseptual, namun belum mengintegrasikannya dengan dimensi ketahanan usaha (Ramadani dkk. , 2. Davis menawarkan model wirausaha Muslim di konteks Amerika, tetapi belum dibuktikan secara empiris pada UMKM di negara berkembang seperti Indonesia (Davis, 2. Machmud dan Hidayat meneliti karakteristik Islamic entrepreneurship pada UMKM di Jawa Barat secara kuantitatif, namun belum menggali mekanisme spiritualitas sebagai sumber ketahanan usaha (Machmud & Hidayat, 2. Pennetta mengonseptualisasikan entrepreneurial resilience, namun belum menyentuh nilai-nilai spiritualitas pada pelaku usaha Muslim (Pennetta dkk. , 2. Junusi dan Mubarok membuktikan peran Islamic spirituality dalam resiliensi ritel Muslim, tetapi terbatas pada anggota Sampoerna Retail Community yakni jaringan ritel modern yang terorganisasi secara formal (Junusi & Mubarok, 2. Kasim dkk. menemukan fondasi ketahanan UMKM berbasis Islamic entrepreneurship secara kualitatif, namun belum menghubungkan kerangka teori resiliensi yang cukup (Kasim dkk. , 2. Trinanda membuktikan peran religiusitas secara kuantitatif, namun belum mengungkap bagaimana nilai Islam dihayati dalam menghadapi krisis secara kontekstual (Trinanda dkk. , 2. Cao dkk. peran personality traits terhadap entrepreneurial intention, namun tidak berlatar konteks Islam dan tidak menyentuh resiliensi usaha mikro (Cao dkk. , 2. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini hadir untuk mengisi ruang yang belum terjawab dengan menelaah entrepreneurial resilience melalui Usaha Dagang Syaqila Buah perspektif Islamic entrepreneurship. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana spiritualitas Islam, karakteristik kewirausahaan, kapasitas ketahanan membentuk ketahanan kewirausahaan pada UD Syaqila Buah. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya mengintegrasikan entrepreneurial resilience dengan nilai-nilai Islamic entrepreneurship secara holistik melalui usaha mikro informal yaitu UD Syaqila Buah. Integrasi ketiga komponen ini dalam satu kerangka analisis berbasis perspektif Islam merupakan kontribusi yang belum pernah dilakukan oleh penelitian-penelitian sebelumnya METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus untuk menggali fenomena pengintegrasian spiritualitas Islam, karakter kewirausahaan, dan kapasitas ketahanan pada UD. Syaqila Buah cabang Kota Yogyakarta yang dilaksanakan pada 30 November 2025. Pemilihan informan dilakukan secara purposive dengan kriteria: . terlibat langsung dalam operasional usaha, . memiliki pengetahuan memadai tentang praktik bisnis dan nilai-nilai yang diterapkan, serta . bersedia memberikan informasi secara terbuka. Berdasarkan Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience CapacityA kriteria tersebut, informan dalam penelitian ini berjumlah enam orang, terdiri atas dua pemilik usaha yang sekaligus berperan sebagai pemasok karena keduanya merupakan petani buah semangka aktif, tiga karyawan yang terlibat langsung dalam kegiatan operasional harian, dan satu pelanggan yang memiliki pengalaman transaksi dengan UD. Syaqila Buah. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga prosedur utama meliputi wawancara mendalam semi terstruktur dengan pemilik usaha, pengamatan langsung terhadap kegiatan operasional, dan pendokumentasian berupa catatan usaha serta arsip terkait (Creswell, 2. Analisis data menggunakan model yang terdiri atas tiga alur kegiatan: kondensasi data . emilihan, penyederhanaan, dan transformasi data mentah menjadi data bermakn. , penyajian data . enyusunan informasi terorganisir yang memungkinkan penarikan kesimpula. , dan penarikan kesimpulan serta verifikasi (Miles dkk. , 2. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan metode untuk memenuhi empat pilar kepercayaan penelitian kualitatif: kredibilitas, keteralihan, ketergantungan, dan kepastian (Korstjens & Moser, 2. Kredibilitas dipenuhi dengan membandingkan pernyataan informan dengan pengamatan langsung kegiatan di UD. Syaqila Buah. Keteralihan dijamin melalui deskripsi mendalam konteks usaha. Ketergantungan dipenuhi dengan mendokumentasikan dari transkrip wawancara dan catatan lapangan. Kepastian dijamin melalui refleksi kritis peneliti terhadap interpretasi spiritualitas Islam, karakter kewirausahaan, dan ketahanan usaha dalam praktik bisnis untuk memastikan temuan berasal dari data, bukan asumsi peneliti. Penelitian ini juga memperhatikan aspek etika penelitian dengan memastikan seluruh informan memberikan persetujuan secara sukarela, menjaga kerahasiaan identitas informan, serta memastikan data digunakan sematamata untuk kepentingan ilmiah tanpa merugikan pihak manapun. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Profil Usaha Dagang Syaqila Buah UD. Syaqila Buah adalah unit usaha agribisnis hortikultura yang bergerak dalam komoditas buah semangka sejak tahun 2006. Keunggulan utama usaha ini terletak pada penerapan model usaha terpadu yang menyatukan fungsi produksi di lahan pertanian dan fungsi distribusi ke pasar. Keterpaduan usaha ini mampu mengurangi ketergantungan pada perantara sekaligus meningkatkan perolehan nilai tambah dari setiap kilogram semangka yang dihasilkan. Pada tahun 2025, usaha ini mengelola 20 hektare lahan yang tersebar di lima lokasi berbeda. Penyebaran lokasi ini merupakan strategi yang disengaja untuk mendistribusikan risiko kegagalan panen. Satu siklus produksi berlangsung selama tiga bulan. Kegiatan distribusi dijalankan melalui empat lapak, yakni dua lapak di Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience CapacityA Pasar Induk Jatibarang Indramayu, satu di Yogyakarta, dan satu di Tangerang. Semua lapak beroperasi selama 24 jam penuh untuk menjangkau segmen pembeli yang membutuhkan pasokan yang tidak dilayani oleh pesaing. Guna menjamin ketersediaan, pemilik membangun jaringan pasokan bersama komunitas petani semangka di Lampung dan Palembang. Perjalanan usaha ini bermula dari pengalaman pahit sebagai petani semangka yang selalu menjual hasil panen dengan harga rendah di tingkat tengkulak. Melalui survei langsung ke berbagai pasar induk di pulau Jawa, pemilik mengenali peluang untuk berperan sebagai distributor dengan keuntungan yang jauh lebih memadai. Keputusan berani ini merupakan titik balik yang mengubah arah usaha secara Entrepreneurial Resilience dalam Usaha Dagang Syaqila Buah Berdasarkan hasil temuan dari 6 informan, penelitian ini mengidentifikasi tiga dimensi yang secara bersama-sama membentuk ketahanan kewirausahaan dalam UD. Syaqila Buah, yaitu spiritualitas Islam, karakter kewirausahaan, dan kapasitas ketahanan usaha. Ketiga dimensi ini tidak bekerja secara terpisah, melainkan saling memperkuat dan membentuk ekosistem usaha yang utuh. Data temuan dari ketiga dimensi tersebut dirangkum dalam tabel-tabel berikut. Kolom ketiga pada setiap tabel sengaja dirancang tidak hanya mendeskripsikan, tetapi juga memposisikan makna dari setiap temuan sebagai pijakan pembahasan pada bagian selanjutnya. Tabel 1. Spiritualitas Islam dalam UD. Syaqila Buah Dimensi Praktik Empiris Makna Temuan Infak rutin bulanan ke yayasan Infak atau zakat sebagai sarana ibadah dan tanggung jawab sosial Tetap menjalankan usaha meski Tawakal berfungsi sebagai penyangga risiko iklim dan fluktuasi harga Menafkahi keluarga dari usaha Syukur menjadi prinsip operasional yang mendorong pengelolaan usaha Spiritualitas Infak/Zakat Tawakal Syukur Amanah secara berkelanjutan Seleksi Amanah reputasi usaha dan kepercayaan pasar transparan kepada konsumen. sebagai sumber kekuatan strategis Tabel 2. Karakter Kewirausahaan dalam UD. Syaqila Buah Dimensi Karakter Praktik Makna Temuan Bangkit dari kerugian besar Optimisme dan ekspansi ke luar provinsi. menjadi peluang pembelajaran. Kewirausahaan Optimisme Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience CapacityA Keuletan Bertani Ketekunan menopang visi jangka panjang dan ekspansi usaha. Pengambilan risiko Proaktif Modal besar untuk 20 hektare Risiko diambil secara terukur berbasis Survey Proaktivitas provinsi, operasional 24 jam, penciptaan peluang sebelum pesaing Inovasi Transformasi Inovasi adaptif menciptakan aliran pendapatan baru dan keunggulan penjualan skala besar Tabel 3. Kapasitas Ketahanan dalam UD. Syaqila Buah Dimensi Praktik Empiris Makna Temuan Ketahanan Penyesuaian Peralihan Penangkapan nilai tambah lebih besar model usaha dan pengurangan ketergantungan pada usaha produksi sekaligus Kelenturan Lapak di berbagai kota. Kelenturan distribusi memungkinkan operasional 24 jam dan penetrasi pasar yang lebih luas Lampung-Palembang Pemecahan Penyesuaian Pendekatan akumulasi pengalaman menghasilkan sistem logistik pengiriman. solusi yang terencana. Pembelajaran Uji coba dan evaluasi dan Kegagalan diolah menjadi pengetahuan karyawan baru. seluruh tim. Ketahanan Kemitraan Jaringan Relasi Lampung-Palembang dan sebagai penyangga ketika menghadapi guncangan usaha. Modal dengan karyawan. Pembahasan Spiritualitas Islam Sebagai Fondasi Dasar Pembentukan Usaha Sebagian besar kajian terdahulu menempatkan spiritualitas sebagai faktor penguat dalam kewirausahaan, yakni faktor yang memperbesar atau memperlemah pengaruh karakter wirausahawan terhadap kinerjanya. Pandangan ini mengandung asumsi bahwa karakter kewirausahaan sudah terbentuk lebih dulu, dan spiritualitas hanya datang belakangan untuk mempertebal dampaknya. Temuan pada UD. Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience CapacityA Syaqila Buah menantang asumsi tersebut secara mendasar. Data lapangan menunjukkan bahwa spiritualitas Islam tidak sekadar memperkuat karakter yang sudah ada, melainkan justru membentuk dan mendahului terbentuknya karakter kewirausahaan itu sendiri. Dengan kata lain, spiritualitas sebagai dasar pembentukan entrepreneurial resilience. Spiritualitas Islam pada UD Syaqila Buah terintegrasi dalam berbagai kegiatan operasional bisnis yang dijalankan sehari-hari. Dimensi spiritualitas dalam UD Syaqila terbentuk dalam empat praktik. Pertama, praktik infak. Pemilik usaha secara konsisten menyisihkan sebagian keuntungannya setiap bulan untuk disalurkan kepada yayasan. Praktik ini merupakan perwujudan nyata dari konsep zakat mal sekaligus bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan sosial masyarakat sekitar. Penerapan spiritualitas Islam dalam ranah bisnis tidak semata-mata berorientasi pada penumpukan keuntungan finansial, melainkan mencakup dimensi falah, yakni kesejahteraan yang merangkul kehidupan duniawi sekaligus ukhrawi, dengan mengintegrasikan tanggung jawab sosial sebagai komponen yang melekat pada kegiatan kewirausahaan (Hilaluddin , 2. Kedua, tawakal. Nilai ini tergambar nyata melalui sikap pemilik yang tetap menjalankan kegiatan budidaya kendati dihadapkan pada ketidakpastian kondisi iklim serta gejolak harga pasar yang kerap tidak menentu. Pengalaman pemilik yang pernah mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah namun tetap mampu bangkit mencerminkan penghayatan mendalam atas nilai tawakal, yakni kepasrahan kepada Allah yang dilakukan setelah melaksanakan ikhtiar secara Kewirausahaan Islam mengidentifikasi bahwa tawakal, bersama dengan takwa dan zikir, membentuk fondasi spiritual yang memberikan ketenangan psikologis dalam menghadapi ketidakpastian bisnis (Machmud & Hidayat, 2. Ketiga, syukur. Nilai ini terimplementasi melalui komitmen pemilik dalam menafkahi keluarga dari usaha yang halal dan berkah. Pengakuan informan bahwa salah satu motivasi berdagang adalah menunaikan kewajiban sebagai kepala keluarga mencerminkan kesadaran mendalam akan amanah yang diemban. Syukur bukanlah sekadar respons emosional sesaat, melainkan prinsip operasional yang mendorong wirausahawan Muslim untuk mengelola sumber daya secara bertanggung jawab dan berkelanjutan (Rouf dkk. , 2. Keempat, amanah dan kejujuran. Nilai ini menjadi landasan utama dalam pengelolaan sumber daya manusia di UD. Syaqila Buah. Kriteria pemilihan karyawan yang mengutamakan integritas dan kejujuran, serta sistem pengawasan yang tetap berbasis kepercayaan, menunjukkan penerapan nyata prinsip amanah dalam hubungan kerja. Meskipun menggunakan kamera pengawas sebagai instrumen kontrol, pemilik tetap membangun kedekatan personal melalui kegiatan Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience CapacityA tahunan seperti perayaan tahun baru dan buka bersama bersama karyawan dan Pengintegrasian nilai-nilai spiritualitas Islam dalam pengelolaan usaha menciptakan orientasi kewirausahaan yang tidak hanya efisien secara ekonomi, melainkan juga menghasilkan kesejahteraan psikologis dan sosial bagi seluruh pihak yang terlibat dalam organisasi (Davis, 2. Karakter Kewirausahaan Sebagai Pengembangan Usaha Karakter kewirausahaan pada UD. Syaqila Buah terwujud dalam lima karakter yang saling menopang satu sama lain. Pertama, optimisme. Sikap optimisme kewirausahaan pada UD. Syaqila Buah teridentifikasi melalui ketekunan pemilik dalam mengembangkan usaha meskipun pernah mengalami kerugian yang cukup besar. Hal tersebut mengindikasikan optimisme kewirausahaan yang berfungsi sebagai pendorong untuk terus Optimisme ini terwujud dalam keputusan perluasan usaha, seperti pembukaan lapak di Yogyakarta. Indramayu, dan Tangerang, serta rencana penambahan gerai baru yang menunjukkan keyakinan terhadap potensi pertumbuhan usaha bahkan setelah mengalami kerugian yang cukup besar. Ketahanan kewirausahaan seperti optimisme memungkinkan wirausahawan untuk mengubah pandangan terhadap kegagalan menjadi peluang pembelajaran, sehingga memberikan kestabilan emosional dalam menghadapi ketidakpastian (Isichei dkk. Kedua, keuletan. Karakter ini merupakan penopang keberlanjutan UD. Syaqila Buah. Pemilik secara tegas menyatakan bahwa keuletan sangat penting dalam bertani dan berdagang, dengan penekanan pada kemampuan menguasai hal-hal dari skala kecil sampai besar. Hal ini sejalan dengan pandangan Zali dan Rezaei yang menjelaskan bahwa ketabahan merupakan perpaduan antara gairah dan ketekunan untuk mencapai tujuan jangka panjang. Dalam kondisi krisis, ketekunan justru dapat memperkuat visi kewirausahaan, sementara gairah bisa melemah ketika menghadapi kesulitan yang sangat berat (Zali & Rezaei, 2. Keuletan terwujud dalam kesediaan melakukan survei pasar secara rutin ke berbagai kota, pembelajaran berkelanjutan dari kegagalan, dan konsistensi dalam menjalankan strategi usaha. Transformasi dari petani murni pada tahun 2006 menjadi pelaku usaha terpadu pada tahun 2023 menunjukkan ketekunan luar biasa dalam membangun kompetensi bisnis selama tujuh belas tahun. Ketiga, pengambilan risiko secara terukur. Kecenderungan ini pada UD. Syaqila Buah tampak melalui keberanian mengalokasikan modal Rp1,2 miliar untuk Kajian mengungkapkan bahwa wirausahawan yang mencapai keberhasilan berkelanjutan memperlihatkan kecenderungan mengambil risiko dengan perhitungan matang Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience CapacityA (Ramlah dkk. , 2. Setiap risiko yang diambil pemilik sebenarnya telah dipertimbangkan dengan matang, berdasarkan pengalaman bertahun-tahun di lapangan, pemahaman terhadap kondisi pasar, serta langkah-langkah pencegahan yang disiapkan secara terencana. Penyebaran lahan ke lima lokasi berbeda menjadi strategi untuk menghindari kerugian besar sekaligus, apabila satu lokasi mengalami masalah, lokasi lain masih dapat menanggung produksi. Keempat, sikap proaktif. Karakter ini tercermin dalam inisiatif pemilik mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang pasar sebelum pesaing bergerak. Ketika menghadapi harga yang murah di tingkat petani, pemilik secara proaktif melakukan survei ke pasar induk dan mengambil keputusan strategis untuk berperan sebagai distributor. Keputusan membuka operasional 24 jam untuk melayani segmen pasar acara pagi hari menunjukkan kemampuan mengantisipasi kebutuhan konsumen yang belum terlayani. Sikap proaktif dalam kewirausahaan melibatkan kemampuan mengantisipasi perubahan pasar dan mengambil tindakan sebelum pesaing bereaksi bereaksi (Addy dkk. , 2. UD. Syaqila Buah tidak menunggu permintaan datang, melainkan menciptakan nilai yang unik, seperti kebijakan boleh dibelah bentuk segitiga sebelum beli yang menjadi strategi pembeda dari pesaing. Kelima, inovasi. Sebagai karakter khas kewirausahaan, inovasi terwujud dalam berbagai bentuk pada UD. Syaqila Buah. Peralihan dari penjualan langsung ke penjualan daring melalui Facebook setelah mengalami kerugian akibat kerusakan produk menunjukkan kemampuan berinovasi secara adaptif. Pengembangan sistem pemesanan awal untuk acara berskala besar, termasuk pemesanan dalam program Makanan Bergizi Gratis, mencerminkan model inovasi usaha yang menciptakan aliran pendapatan baru. Inovasi usaha mencakup kreativitas dalam menemukan solusi unik terhadap tantangan pasar yang terus berkembang (Soorya, 2. UD. Syaqila Buah melakukan inovasi pada tataran proses, layanan, dan model usaha secara bersamaan, yang bersama-sama menciptakan keunggulan kompetitif yang Kapasitas Ketahanan Sebagai Pencegahan Hambatan Bisnis Kapasitas ketahanan UD. Syaqila Buah terbangun secara bertahap melalui lima dimensi yang bekerja sebagai sebuah sistem yang utuh, bukan sebagai kemampuan yang terpisah-pisah. Pertama, kemampuan menyesuaikan model usaha. Kapasitas ketahanan UD. Syaqila Buah terbangun melalui kemampuan penyesuaian terhadap perubahan kondisi eksternal yang dinamis. Ketika dihadapkan pada penurunan harga akibat panen raya yang terjadi secara bersamaan, pemilik tidak sekadar bertahan dalam posisi sebagai petani, melainkan menyesuaikan diri dengan mengintegrasikan peran sebagai penyalur sekaligus. Ketahanan usaha dapat dipahami sebagai kemampuan Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience CapacityA untuk menghadapi tekanan, bangkit dari situasi sulit, dan tetap berkembang di tengah tantangan besar. Di dalamnya, kemampuan menyesuaikan diri menjadi unsur yang sangat penting karena memungkinkan seorang wirausahawan membaca perubahan pasar dan meresponsnya dengan cepat (Pennetta dkk. , 2. Perubahan peran dari petani menjadi sekaligus pedagang menunjukkan adanya pergeseran mendasar dalam model usaha yang dijalankan. Langkah ini membuat usaha lebih mampu menangkap nilai tambah dan mengurangi ketergantungan pada perantara dalam proses distribusi. Kedua, kelenturan operasional. Dimensi ini tampak melalui respons dinamis terhadap gejolak pasar dan kondisi iklim yang tidak menentu. Pemilik mengembangkan jaringan pasokan dari Lampung dan Palembang untuk menjamin kesinambungan pasokan ketika produksi sendiri tidak mencukupi atau mengalami Keputusan mengoperasikan lapak di berbagai lokasi geografis menciptakan kelenturan dalam distribusi dan memperluas jangkauan pasar. Kelenturan dalam konteks ini adalah kemampuan menata ulang sumber daya secara cepat untuk merespons perubahan lingkungan (Browder dkk. , 2. UD. Syaqila Buah memperlihatkan kelenturan operasional melalui kemampuan beralih dari saluran penjualan langsung ke pasar daring, menyesuaikan harga sesuai kondisi pasar, dan mengubah skala operasi menambah atau mengurangi volume sesuai Ketiga, kemampuan memecahkan masalah secara sistematis. Dimensi ini dilaksanakan melalui pendekatan yang terstruktur dalam mengidentifikasi dan mengatasi hambatan usaha yang muncul. Ketika kualitas buah menurun akibat kadar air tinggi di musim hujan, pemilik merespons dengan menyesuaikan jadwal tanam berdasarkan prediksi bulan-bulan yang dianggap baik dari akumulasi pengalaman bertahun-tahun. Ketika kerusakan produk terjadi saat pengiriman, solusi dikembangkan melalui perbaikan sistem logistik dan perluasan ke pasar daring untuk memperpendek rantai distribusi. Kemampuan memecahkan masalah dalam kewirausahaan melibatkan pemikiran kritis untuk mengidentifikasi masalah kompleks, menghasilkan alternatif solusi yang inovatif, dan melaksanakan solusi terbaik dengan sumber daya yang terbatas (De la Gala-Velysquez dkk. , 2. UD. Syaqila Buah menunjukkan siklus pemecahan masalah yang berulang seperti melaksanakan, menilai hasilnya, dan menyempurnakan. Keempat, pembelajaran berkelanjutan. Dimensi ini menjadi pilar ketahanan jangka panjang UD. Syaqila Buah. Pernyataan informan bahwa pengalaman kerugian menjadi pembelajaran berharga dan proses coba-coba membentuk karakter lebih kuat mengindikasikan adanya budaya belajar yang mengubah kegagalan menjadi pengetahuan. Hartmann membedakan antara pembelajaran perbaikan Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience CapacityA taktis dengan pembelajaran yang mengubah asumsi mendasar, dengan menekankan bahwa ketahanan melibatkan penyesuaian positif melalui pemanfaatan kesulitan untuk pembelajaran yang berkelanjutan (Hartmann dkk. , 2. UD. Syaqila Buah menerapkan proses pembelajaran dua arah yang semula berorientasi pada produksi menjadi berorientasi pada kebutuhan pasar. Adanya pelatihan internal bagi karyawan baru serta transfer pengetahuan tentang cara membaca pergerakan harga pasar menunjukkan bahwa proses belajar sudah diterapkan secara berkelanjutan. Kelima. Dimensi pengembangan jejaring strategis dengan berbagai pemangku kepentingan. Hubungan dengan komunitas petani semangka di Lampung dan Palembang menciptakan penyangga terhadap kestabilan pasokan. Koneksi dengan pasar induk di berbagai provinsi menghadirkan informasi harga dan permintaan secara langsung dan tepat waktu. Hubungan kekeluargaan dengan karyawan mengurangi pergantian tenaga kerja dan meningkatkan kesetiaan dalam kondisi sulit. Wasim menjelaskan bahwa jaringan sosial memiliki peran penting dalam proses belajar Ketahanan jaringan relasi yakni kemampuan membangun dan menjaga hubungan yang saling mendukung dalam lingkungan kerja dan komunitas menjadi faktor pelindung ketika menghadapi berbagai kesulitan. Keragaman jaringan dan kuatnya ikatan dalam jaringan tersebut sangat menentukan kemampuan wirausahawan untuk belajar dan menyesuaikan diri (Wasim dkk. UD. Syaqila Buah yang tidak hanya mengandalkan hubungan transaksional, melainkan membangun modal sosial melalui kepercayaan, saling membantu, dan komitmen jangka panjang. Pendekatan seperti ini membuat hubungan bisnis lebih stabil dan memberikan dukungan nyata ketika menghadapi tantangan. Integrasi Spiritualitas Islam. Karakter, dan Kapasitas Ketahanan Usaha Sebagai Pembentukan Ketahanan Kewirausahaan Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience CapacityA Pentingya kewirausahaan telah disebutkan dalam Al-QurAoan. Pada Surat AnNajm ayat 39 sampai 41 disebutkan sebagai berikut: "Dan bahwa manusia tidak akan memperoleh sesuatu kecuali apa yang telah diusahakannya, dan bahwa usahanya akan terlihat, dan sesudahnya akan dibalas dengan balasan yang lebih sempurna. Dalam surat AL-Muddatsir ayat 38, jelas disebutkan, "Setiap jiwa menjadi jaminan atas amalnya sendiri. " Poin pentingnya adalah bahwa bekerja dan berusaha memiliki banyak efek menurut sistem kognitif Islam (Nikneshan dkk. , 2. Kedua ayat ini bukan sekadar anjuran normatif. Keduanya membangun keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan niat yang benar, dikerjakan secara sungguhsungguh, lalu hasilnya diserahkan kepada Allah, adalah tindakan yang bermakna secara spiritual sekaligus produktif secara ekonomi. Keyakinan inilah yang menjadi benang merah yang menyatukan ketiga dimensi yang ditemukan pada UD. Syaqila Buah ke dalam satu model integratif yang utuh, sebagaimana digambarkan pada Gambar 1 berikut. Gambar 1. Model Integratif Ketahanan Kewirausahaan dalam Perspektif Islam pada UD. Syaqila Buah Model pada Gambar 1 menggambarkan bahwa ketahanan kewirausahaan dalam perspektif Islam tidak lahir dari satu faktor tunggal, melainkan dari aliran sebabakibat yang bergerak dari dalam ke luar. Berawal dari nilai spiritual yang paling mendasar, mengalir melalui karakter wirausahawan, kemudian membangun kapasitas yang memungkinkan usaha bertahan dan berkembang. Setiap anak panah dalam model bukan sekadar urutan, melainkan hubungan kausal yang dapat diuji secara empiris pada kasus UD. Syaqila Buah. Spiritualitas Islam berperan sebagai fondasi pembentuk. Nilai infak, tawakal, syukur, serta amanah dan kejujuran membentuk cara pandang pemilik tentang apa itu kerja, risiko, dan keberhasilan. Perbedaan cara pandang ini yang membedakan Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience CapacityA wirausahawan Muslim dari wirausahawan pada umumnya. Bagi pemilik UD. Syaqila Buah, kerugian ratusan juta rupiah bukan akhir dari segalanya karena tawakal mengajarkan bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya di tangannya. Orientasi usaha bukan semata-mata keuntungan karena infak dan syukur menanamkan tujuan yang lebih luas dari sekadar akumulasi aset. Keyakinan-keyakinan ini yang menjadi sumber energi psikologis yang tidak dimiliki oleh model ketahanan kewirausahaan konvensional. Dari fondasi spiritual itu, tumbuhlah karakter kewirausahaan sebagai perwujudan nilai dalam tindakan. kelima karakter meliputi optimisme, keuletan, pengambilan risiko, sikap proaktif, dan inovasi hadir pada diri pemilik UD. Syaqila Buah. Karakter-karakter itu bisa bertahan melampaui krisis demi krisis selama tujuh belas tahun. Jawabannya ada pada fondasi spiritual yang menopangnya. Optimisme tidak runtuh karena tawakal memberinya landasan, keuletan tidak padam karena syukur terus menyalakan motivasi, inovasi terus mengalir karena keterbatasan dipahami sebagai peluang. Inilah yang dimaksud oleh model bahwa spiritualitas bukan sekadar pelengkap karakter, melainkan pembentuknya. Karakter-karakter memungkinkan usaha mencegah dan mengatasi hambatan bisnis. Kelima kapasitas penyesuaian meliputi model usaha, kelenturan operasional, pemecahan masalah sistematis, pembelajaran berkelanjutan, dan ketahanan jaringan relasi adalah hasil nyata dari karakter yang terus dilatih dalam menghadapi tekanan. Seorang wirausahawan yang optimis dan proaktif akan membangun jaringan pasokan cadangan sebelum krisis terjadi, bukan setelahnya. Wirausahawan yang ulet dan inovatif akan mengubah kegagalan menjadi pengetahuan yang diwariskan kepada Kapasitas ketahanan dapat dipahami sebagai karakter yang sudah tertanam kuat, bukan sekadar sikap individu tetapi telah berkembang menjadi kemampuan organisasi yang stabil dan berkelanjutan. Hasil akhir dari keseluruhan model integratif ini adalah ketahanan kewirausahaan UD. Syaqila Buah dalam perspektif Islam. Usaha yang tidak sekadar bertahan dari krisis, melainkan tumbuh, berkontribusi kepada masyarakat, dan berorientasi pada kesejahteraan yang melampaui perhitungan duniawi. Model ini mempertegas bahwa dalam konteks kewirausahaan Islam, ketahanan usaha bukan produk dari strategi bisnis yang cerdas semata, melainkan hasil dari integrasi yang utuh antara dimensi spiritual, karakter, dan kapasitas ketahan merupakan tiga lapisan yang saling terkoneksi satu sama lain. SIMPULAN Penelitian ini membuktikan bahwa ketahanan kewirausahaan pada usaha mikro informal tidak dapat dipahami semata-mata melalui pendekatan karakter atau Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience CapacityA kapasitas ketahanan dalam berwirausaha. Temuan pada UD. Syaqila Buah menunjukkan bahwa spiritualitas Islam bukan sekadar variabel pelengkap, melainkan komponen anteseden yang mendahului dan menopang terbentuknya karakter kewirausahaan serta kapasitas ketahanan usaha secara hierarkis. Nilai spiritual membentuk orientasi kognitif, orientasi tersebut terwujud dalam karakter kewirausahaan, lalu karakter yang tertanam kuat berkembang menjadi kapasitas ketahanan yang adaptif. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pengujian empiris model integratif yang menempatkan spiritualitas Islam sebagai komponen anteseden dalam ekosistem kewirausahaan, sebuah posisi yang belum secara eksplisit diuji oleh (Junusi & Mubarok, 2020. Kasim dkk. , 2024. Pennetta dkk. , 2. yang cenderung memperlakukan spiritualitas sebagai moderator atau faktor pendukung, bukan sebagai pembentuk awal karakter wirausahawan. Secara praktis, model ini menawarkan kerangka pendampingan UMKM yang menempatkan penguatan modal spiritual sebagai titik masuk intervensi, bukan hanya pelatihan Program pemberdayaan yang mengabaikan dimensi spiritual berpotensi kehilangan sumber ketahanan terdalam pelaku usaha Muslim. Penelitian selanjutnya disarankan menguji model ini secara komparatif lintas sektor hortikultura dan non-hortikultura, atau mengembangkan instrumen kuantitatif untuk mengukur kekuatan kausal antar dimensi dalam model integratif ini. DAFTAR RUJUKAN Addy. Ajayi-Nifise. Bello. Tula. , & Odeyemi. Entrepreneurial leadership in high-tech industries: A review of key traits and success strategies. GSC Advanced Research and Reviews, 18. , 286Ae296. https://doi. org/10. 30574/gscarr. Badan Pusat Statistik. Tingkat Pengangguran Terbuka Berdasarkan Tingkat PendidikanAiTabel Statistik. https://w. id/id/statisticstable/2/MTE3OSMy/tingkat-pengangguran-terbuka-berdasarkan-tingkatpendidikan. Badan Pusat Statistik Indonesia. Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh di Tengah Ketidakpastian GlobalAiBerita Siaran Pers. https://w. id/id/news/2025/05/05/703/ekonomi-indonesia-tetaptumbuh-di-tengah-ketidakpastian-global. Browder. Dwyer. , & Koch. Upgrading adaptation: How digital transformation promotes organizational resilience. Strategic Entrepreneurship Journal, 18. , 128Ae164. https://doi. org/10. 1002/sej. Cao. Asad. Wang. Naz. , & Almusharraf. Role of personality traits for entrepreneurial intentions of young entrepreneurs: A case study of higher education institution. Frontiers in Psychology, 13, 1010412. https://doi. org/10. 3389/fpsyg. Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience CapacityA Creswell. Research Design: Qualitative. Quantitative, and Mixed Methods Approaches. SAGE. Davis. Entrepreneurship: An Islamic perspective. Int. of Entrepreneurship and Small Business, 20, 63Ae69. https://doi. org/10. 1504/IJESB. De la Gala-Velysquez. Hurtado-Palomino. Monrroy-Villena. , & GomezVillegas. Roots of the entrepreneurial mindset in university students. The International Journal of Management Education, 22. , 101049. https://doi. org/10. 1016/j. Gao. , & Lu. Entrepreneurship education and self-efficacy among Chinese college students mediated by harmonious passion and moderated by Scientific Reports, 14. Scopus. https://doi. org/10. 1038/s41598-024-83426-z Hartmann. Backmann. Newman. Brykman. , & Pidduck. Psychological resilience of entrepreneurs: A review and agenda for future Journal of Small Business Management, 60. , 1041Ae1079. https://doi. org/10. 1080/00472778. Hidayah. Arbarini. , & Siswanto. Pengaruh Kompetensi Kewirausahaan dan Digital Marketing terhadap PendapatanWirausaha Perempuan Desa Mangunharjo. Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan, 12. , 618Ae https://doi. org/10. 47668/pkwu. Hilaluddin. Muhayiddin. Muhammad. , & Rahman. Islamic Entrepreneurship: A Systematic Literature Review. Dalam N. Mansour & L. Bujosa (Ed. Islamic Finance: New Trends in Law and Regulation . 1Ae. Springer Nature Switzerland. https://doi. org/10. 1007/978-3-031-48770-5_1 Isichei. Olabosinde. , & Shaibu. Entrepreneurial Resilience and Business Survival: The Mediating Role of Self-compassion. The Journal of Entrepreneurship, 33. , 7Ae33. https://doi. org/10. 1177/09713557241233820 Junusi. , & Mubarok. Islamic Entrepreneur Resilience Model: Retail Business Survives During Crisis. Journal of Digital Marketing and Halal Industry, 2. , 89Ae106. https://doi. org/10. 21580/jdmhi. Kasim. Hamzah. Kadir. , & Abdullah. Resilience of Micro. Small, and Medium Enterprises Based on Islamic Entrepreneurship. IQTISHODUNA: Jurnal Ekonomi Islam, 13. , 211Ae232. https://doi. org/10. 54471/iqtishoduna. Korstjens. , & Moser. Series: Practical guidance to qualitative research. Part 4: Trustworthiness and publishing. European Journal of General Practice, 24. , 120Ae124. https://doi. org/10. 1080/13814788. Machmud. , & Hidayat. Characteristics of Islamic Entrepreneurship and the Business Success of SMEs in Indonesia. Journal of Entrepreneurship Education, 23. , 1Ae534. Miles. Huberman. , & Saldana. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. SAGE Publications. Integrasi Spiritualitas Islam. Entrepreneurial Traits, dan Resilience CapacityA Mulyadi. Peran Pemerintah dalam Mengatasi Pengangguran dan Kemiskinan Masyarakat. Kajian, 21. Article https://doi. org/10. 22212/kajian. Nikneshan. Saify. , & Sajjad. Entrepreneurship Education from the Viewpoint of Islam. Mediterranean Journal of Social Sciences, 6. Article 5. Scopus. https://doi. org/10. 36941/mjss Pennetta. Anglani. Reaiche. , & Boyle. Entrepreneurial Agility in a Disrupted World: Redefining Entrepreneurial Resilience for Global Business Success. The Journal Entrepreneurship, 34. , 221Ae267. https://doi. org/10. 1177/09713557251352283 Ramadani. Dana. -P. Ratten. , & Tahiri. The context of Islamic entrepreneurship and business: Concept, principles and perspectives. International Journal Business Globalisation, 244Ae261. https://doi. org/10. 1504/IJBG. Ramlah. Murtihapsari. , & Lestari. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Mahasiswa terhadap Kewirausahaan pada Program Studi Kimia dan Pendidikan Kimia di Universitas Papua. Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan, 12. , 654Ae665. https://doi. org/10. 47668/pkwu. Rouf. Syukur. , & Maarif. Entrepreneurship in Islamic Education Institutions: Pesantren Strategy in Responding to the Industrial Revolution 4. Tafkir: Interdisciplinary Journal of Islamic Education, 5. , 250Ae265. https://doi. org/10. 31538/tijie. Setiawan. Evaluation of Entrepreneurship Education for University Students: A Scale Development Study. Pegem Journal of Education and Instruction, 13. Article 2. Scopus. https://doi. org/10. 47750/pegegog. Sholihin. Rachmawati. Gustiawan. , & Meilani. Kewirausahaan. Klik Media. Soorya. November . Tips for Developing an Entrepreneurial Mindset in Westford. https://w. com/blog/how-to-build-anentrepreneurial-mindset-tips-for-business-students-in-2024/ Trinanda. Wardi. , & Evanita. From Traits to Resilience: How Muslim Entrepreneurs Thrive in Times of Crisis. Administrative Sciences, 15. , 70. https://doi. org/10. 3390/admsci15030070 Wasim. Youssef. Christodoulou. , & Reinhardt. The Path to Entrepreneurship: The Role of Social Networks in Driving Entrepreneurial Learning and Education. Journal of Management Education, 48. , 459Ae493. https://doi. org/10. 1177/10525629231219235 Zali. , & Rezaei. The nexus of entrepreneurial vision, role models and perceived entrepreneurial opportunities: Exploring entrepreneurial grit paradox. Business Process Management Journal, 31. , 2636Ae2667. https://doi. org/10. 1108/BPMJ-02-2024-0065