Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. EDUKASI REMAJA PRODUKTIF DI BULAN RAMADHAN MELALUI KEGIATAN EDUKATIF BERBASIS NILAI KEISLAMAN PADA SISWI MTS DARUL ULUM DESA KUREKSARI. WARU. SIDOARJO Riska Auliatus Solichah1* Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia RIWAYAT ARTIKEL Diterima: 17-04-2026 Disetujui: 19-04-2026 Dipublikasi: 19-04-2026 Kata Kunci: Edukasi. Karakter. Nilai Keislaman. Produktivitas. Partisipatif ABSTRAK Masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan karakter, khususnya dalam menanamkan kebiasaan positif yang selaras dengan nilai-nilai keislaman. Bulan Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk mendorong remaja memanfaatkan waktu secara produktif. Namun, masih ditemukan kecenderungan remaja yang belum optimal dalam mengisi waktu Ramadhan dengan aktivitas yang bermanfaat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada siswi MTs Darul Ulum Desa Kureksari. Waru. Sidoarjo agar mampu memanfaatkan waktu secara lebih produktif selama bulan Ramadhan. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukasi partisipatif melalui komunikasi dua arah dalam satu kali pertemuan, yang meliputi penyampaian materi, diskusi interaktif, tanya jawab, serta refleksi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta terlibat aktif dalam proses pembelajaran serta secara kualitatif menunjukkan indikasi peningkatan pemahaman terkait pentingnya produktivitas selama Ramadhan. Selain itu, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran awal terhadap nilai disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian Dengan demikian, kegiatan ini dapat menjadi salah satu alternatif pendekatan edukatif berbasis nilai keislaman dalam mendukung pembinaan remaja di lingkungan sekolah. PENDAHULUAN Bagi umat Muslim di seluruh dunia. Ramadhan adalah bulan yang sangat suci. Umat Muslim diwajibkan untuk berpuasa selama bulan ini dan didorong untuk melakukan lebih banyak ibadah, seperti membaca Al-Qur'an, memberikan sedekah, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang bermanfaat. Selain berbagai manfaat lain dari puasa selama Ramadhan, umat Muslim belajar untuk mengendalikan nafsu makan mereka, berbagi dengan mereka yang membutuhkan, dan benar-benar menerima semua perintah Allah SWT . (Ardiansyah, 2. Melalui ibadah puasa dan amalan lainnya, umat Muslim dilatih untuk mengendalikan diri, meningkatkan kepedulian terhadap sesama, serta menumbuhkan sikap qanaah atau menerima dengan ikhlas segala ketentuan dari Allah SWT. Dengan demikian. Ramadhan tidak hanya menjadi waktu untuk menjalankan kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter dan peningkatan kualitas spiritual. Namun, banyak remaja di masyarakat saat ini tidak dapat sepenuhnya memanfaatkan momentum bulan Ramadhan. Sebagian remaja menghabiskan sebagian besar waktunya untuk kegiatan yang tidak bermanfaat, seperti menggunakan perangkat elektronik secara berlebihan, begadang tanpa melakukan hal yang produktif, dan tidak ikut serta dalam acara keagamaan lokal. LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Riska Auliatus Solichah Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia e-mail: riskaauliatussolicha@mail. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. Kurangnya kesadaran diri dalam menjaga puasa dan menganggapnya tidak penting merupakan beberapa penyebab masalah ini. Remaja yang melewatkan puasa sebenarnya akan merasa jauh lebih sedikit bersalah (Yakup et al. , 2. Oleh karena itu, diperlukan upaya pembinaan dan edukasi agar remaja lebih sadar akan pentingnya menjalankan ibadah dan memanfaatkan bulan Ramadhan secara positif. Salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran spiritual dan mengembangkan karakter positif pada generasi muda adalah dengan membimbing remaja melalui kegiatan pendidikan yang didasarkan pada keyakinan Islam. Remaja yang mengikuti kegiatan ini tidak hanya memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang agama, tetapi juga berkembang dalam hal pengendalian diri, tanggung jawab, dan kesadaran sosial. Disisi lain, kegiatan edukatif adalah kegiatan yang menggunakan metode yang menarik dan interaktif untuk meningkatkan kemampuan kognitif, emosional, dan psikomotorik siswa. Permainan edukatif, proyek kelompok, dan simulasi dunia nyata adalah beberapa contoh dari kegiatan-kegiatan tersebut. Nilai-nilai tersebut sangat penting untuk membentuk generasi muda yang berakhlak baik dan memiliki integritas dalam kehidupan bermasyarakat (Sari et al. , 2. Selain itu, kegiatan tersebut turut menumbuhkan sikap pengendalian diri, tanggung jawab, serta kepedulian sosial, sehingga dapat membantu membentuk generasi muda yang berakhlak mulia dan berintegritas dalam kehidupan Peran pembimbingan dalam kegiatan pendidikan sangat penting dalam memberikan bimbingan dan motivasi kepada remaja agar mereka dapat berpartisipasi dalam kegiatan dengan Pembimbing tidak hanya bertindak sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membimbing remaja dalam memahami nilai-nilai Islam yang terkandung dalam setiap Melalui proses pembimbingan yang interaktif, remaja dapat lebih mudah memahami dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka. Seorang remaja yang baik dalam Islam haruslah seorang yang positif dan terus berusaha untuk memperbaiki diri setiap Remaja juga perlu menjadi orang yang produktif dan aktif. Optimisme saja tidak cukup, karena remaja perlu terlibat sejak dini, terutama dalam memotivasi orang lain untuk berbuat baik. Selain itu, remaja juga perlu memiliki imajinasi dan sikap kooperatif (Rachman & Effendi, 2. Melalui bimbingan yang interaktif dan motivatif, remaja tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga terdorong untuk menjadi pribadi yang positif, produktif, dan aktif dalam melakukan kebaikan serta bekerja sama dengan orang lain. Dengan demikian, pembimbingan dapat mendukung terbentuknya karakter remaja yang lebih baik dan berakhlak sesuai dengan ajaran Islam Produktivitas remaja dapat ditingkatkan secara efektif melalui berbagai kegiatan pendidikan yang diselenggarakan selama bulan Ramadhan. Kegiatan positif yang dapat mengisi waktu remaja dengan hal-hal bermanfaat meliputi studi Islam, pembacaan Al-Quran, percakapan keagamaan, dan pertemuan sosial. Melalui program-program ini, remaja belajar tentang keyakinan Islam dan mendapatkan pengalaman praktis. Saat ini, banyak remaja mulai mengabaikan aspek-aspek budaya lokal, seperti ibadah, kerja sama, saling membantu, dan nilainilai lain seperti tanggung jawab dan kejujuran. Meskipun Indonesia adalah negara beragama, praktik keagamaannya belum terwujud secara nyata (Mubarok & Anlianna, 2. Oleh karena itu, kegiatan pendidikan yang dilaksanakan selama bulan Ramadhan dapat menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan produktivitas remaja sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan edukatif selama bulan Ramadhan juga dapat meningkatkan interaksi sosial di antara para siswi. Melalui kegiatan bersama, mereka dapat belajar untuk saling bekerja LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Riska Auliatus Solichah Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia e-mail: riskaauliatussolicha@mail. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. sama, menghargai pendapat orang lain, serta mempererat hubungan persaudaraan. Interaksi positif tersebut sangat penting dalam membangun lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung perkembangan karakter remaja. Peningkatan empati terhadap individu yang mengalami kesulitan, terutama mereka yang hidup dalam kemiskinan dan kekurangan, merupakan salah satu pelajaran paling penting yang dapat dipetik dari puasa. Umat Islam diingatkan akan penderitaan mereka yang tidak dapat dengan mudah menikmati makanan dan minuman melalui pengalaman lapar dan haus. Melalui pengalaman ini, orang memiliki kesempatan untuk merasakan penderitaan orang lain, dan sebagai hasilnya, mereka termotivasi untuk berbagi dan membantu mereka yang membutuhkan (Dzakirah et al. , 2. Dengan demikian, pengalaman spiritual seperti berpuasa dapat meningkatkan pemahaman remaja yang lebih peduli, memiliki rasa persaudaraan yang kuat, serta terdorong untuk berbagi dan membantu orang lain yang membutuhkan. Pembinaan remaja yang efektif melalui kegiatan pendidikan yang didasarkan pada keyakinan Islam tidak hanya memberikan manfaat spiritual tetapi juga membantu remaja mengembangkan keterampilan sosial dan karakter mereka. Remaja yang mengalami kesulitan dalam mengelola waktu mungkin merasa stres terkait sekolah, kurang produktif, dan kesulitan mencapai tujuan jangka panjang. Tujuannya adalah agar melalui kegiatan-kegiatan ini, anak-anak dapat memahami nilai hidup yang seimbang yang menggabungkan pendidikan, agama, dan interaksi sosial yang konstruktif (Dhora & Abbas, 2. Dengan demikian, kegiatan tersebut dapat membantu remaja memahami pentingnya menjalani kehidupan yang seimbang antara pendidikan, ibadah, dan interaksi sosial yang positif. Tujuan utama dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mendorong siswi MTs Darul Ulum Desa Kureksari agar dapat memanfaatkan bulan Ramadhan secara lebih produktif melalui berbagai kegiatan edukatif berbasis nilai-nilai keislaman. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter seperti disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial sehingga dapat membentuk pribadi yang religius dan berakhlak mulia. Umat Muslim menantikan bulan suci Ramadan, di mana mereka harus berpuasa selama sebulan penuh (Nurdianti, 2. Hal ini juga sejalan dengan makna bulan suci Ramadhan yang menjadi momen bagi umat Muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki diri, dan memperkuat nilainilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. METODE Perencanaan kegiatan edukasi remaja selama bulan Ramadhan dilaksanakan pada tanggal 09 Maret 2026, dengan melakukan koordinasi bersama wali kelas 7D, selaku murid siswi kelas Dalam proses ini dilakukan diskusi mengenai berbagai kegiatan yang dapat dilaksanakan selama kegiatan PKM Ramadhan yang melibatkan partisipasi aktif para remaja di lingkungan sekolah, khususnya siswi kelas 7D. Remaja memiliki kemampuan pertahanan diri yang buruk dan pemahaman yang kurang tentang prinsip-prinsip agama, yang membuat mereka takut untuk menolak permintaan teman-teman mereka untuk melakukan hal-hal buruk (Setiawati et al. , 2. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan remaja dapat memiliki pemahaman keagamaan yang lebih baik serta kemampuan untuk bersikap tegas dan bijak dalam menghadapi pengaruh negatif dari lingkungan pertemanan. Proyek pengabdian masyarakat ini menerapkan metodologi edukasi partisipatif. Melalui komunikasi dua arah antara fasilitator dan peserta, metode ini menekankan peran aktif peserta dalam proses pembelajaran. Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi singkat semuanya dilakukan dalam satu sesi (Intyaswati et al. , 2. Dengan menggunakan pendekatan edukasi partisipatif LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Riska Auliatus Solichah Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia e-mail: riskaauliatussolicha@mail. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. dalam satu sesi kegiatan, proyek ini mampu melibatkan peserta secara aktif melalui komunikasi dua arah, sehingga mendukung terciptanya proses pembelajaran yang interaktif. Meskipun dilaksanakan dalam waktu terbatas, metode ini efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta dan menumbuhkan kesadaran awal terhadap materi yang disampaikan. Tahap perencanaan dilakukan melalui koordinasi dengan pihak sekolah untuk menentukan waktu, tempat, serta bentuk kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan peserta. Tahap pelaksanaan dilakukan melalui beberapa kegiatan, yaitu penyampaian materi mengenai nilai-nilai keislaman, diskusi interaktif, tanya jawab, serta refleksi bersama. Sementara itu, evaluasi dilakukan secara sederhana melalui pengamatan terhadap partisipasi dan respons peserta selama kegiatan Penulis mengumpulkan referensi berupa buku dan jurnal yang relevan dengan topik artikel ini menggunakan dokumentasi sebagai metode pengumpulan data. Kemudian, dilakukan analisis terhadap buku dan jurnal tersebut untuk menarik kesimpulan mengenai topik penelitian (Ardiansyah et al. , 2. Dengan dukungan data dari berbagai sumber, termasuk referensi buku dan jurnal yang relevan, kegiatan ini dapat dirancang secara lebih tepat sehingga mampu mendukung pelaksanaan program edukasi yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta. Kegiatan edukasi ini dilaksanakan pada hari Senin, 09 Maret 2026 yang bertempat di MTs Darul Ulum Desa Kureksari. Kecamatan Waru. Kabupaten Sidoarjo. Partisipan yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri dari siswi MTs Darul Ulum kelas 7D sebagai peserta utama kegiatan, guru sebagai pendamping serta pengawas diawal kegiatan, dan tim pelaksana kegiatan pengabdian yang berperan sebagai fasilitator dalam pelaksanaan kegiatan edukatif berbasis nilai Penerapan nilai-nilai Islam dalam semua kegiatan pendidikan dan proses bermain merupakan hal yang memerlukan pertimbangan yang cermat dalam konteks lembaga pendidikan berbasis Islam (Raniyah & Mahdi, 2. Melalui pelaksanaan kegiatan tersebut, penerapan nilainilai Islam diharapkan dapat terintegrasi dalam proses pembelajaran dan aktivitas yang dilakukan, sehingga dapat mendukung pembentukan karakter religius pada peserta didik di lingkungan lembaga pendidikan berbasis Islam. Pelaksanaan kegiatan edukasi dilakukan melalui beberapa tahapan yang meliputi perencanaan kegiatan, pelaksanaan kegiatan edukatif, serta refleksi bersama peserta kegiatan. Bentuk kegiatan yang dilaksanakan antara lain penyampaian materi mengenai nilai-nilai keislaman, kegiatan diskusi keagamaan, serta kegiatan refleksi yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswi mengenai pentingnya memanfaatkan waktu Ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat. Prestasi akademik mereka dapat ditingkatkan oleh semua hal ini (Murali et al. , 2. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, diharapkan para siswi tidak hanya memperoleh pemahaman keagamaan yang lebih baik, tetapi juga termotivasi untuk meningkatkan kedisiplinan dan semangat belajar sehingga dapat mendukung peningkatan prestasi akademik Melalui penerapan pendekatan edukasi partisipatif, kegiatan edukasi ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif para siswi dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna serta mampu membentuk karakter remaja yang lebih produktif, religius, dan memiliki kesadaran untuk menerapkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Pembangunan karakter keagamaan telah dilakukan, termasuk peran pesantren Islam dalam membantu siswa mengembangkan karakter keagamaan mereka melalui kegiatan mujahadah dan dukungan orang tua terhadap peraturan sekolah (Rizkiyah & Ainah. Hal ini juga sejalan dengan upaya pembentukan karakter keagamaan yang dapat dilakukan LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Riska Auliatus Solichah Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia e-mail: riskaauliatussolicha@mail. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. melalui berbagai kegiatan keagamaan serta dukungan dari lingkungan pendidikan dan orang tua dalam membimbing peserta didik. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi remaja produktif berbasis nilai keislaman dilaksanakan secara tatap muka pada tanggal 09 Maret 2026 di MTs Darul Ulum Desa Kureksari. Kecamatan Waru. Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan ini melibatkan siswi kelas 7D sebagai peserta utama dengan didampingi oleh guru serta tim pelaksana. Bentuk kegiatan yang dilaksanakan meliputi penyampaian materi mengenai nilai-nilai keislaman, diskusi keagamaan, serta refleksi terkait pentingnya memanfaatkan waktu selama bulan Ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat. Pelaksanaan kegiatan ini menunjukkan bahwa peserta terlibat aktif dalam proses pembelajaran, khususnya dalam sesi diskusi dan refleksi. Keterlibatan tersebut memberikan indikasi adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai pentingnya memanfaatkan waktu secara produktif selama bulan Ramadhan. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong munculnya kesadaran awal terkait penerapan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan pentingnya peran orang tua dan pendidik dalam membantu remaja memahami makna Ramadhan tidak hanya sebagai kewajiban berpuasa, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah serta perilaku (Anugerah et al. , 2. Secara umum, kegiatan ini didukung oleh lingkungan madrasah yang kondusif serta partisipasi aktif peserta selama kegiatan berlangsung. Namun demikian, masih terdapat beberapa peserta yang belum terbiasa mengikuti kegiatan keagamaan secara rutin. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembinaan remaja masih memerlukan upaya yang berkelanjutan. Di sisi lain, perkembangan teknologi dan pengaruh lingkungan menjadi tantangan tersendiri dalam mengarahkan remaja pada aktivitas yang lebih bermanfaat. Oleh karena itu, kegiatan edukasi seperti ini menjadi penting sebagai salah satu upaya dalam memberikan arahan yang positif bagi remaja (Amri et al. , 2. Dari sisi capaian kegiatan, peserta menunjukkan keterlibatan yang baik dalam mengikuti rangkaian kegiatan, terutama dalam diskusi keagamaan dan refleksi bersama. Keterlibatan ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan pemahaman peserta mengenai pentingnya memanfaatkan waktu secara lebih produktif serta menjalankan ibadah dengan lebih sadar. Kegiatan yang secara khusus ditujukan bagi remaja juga dinilai penting sebagai sarana pembinaan karakter, terutama dalam menanamkan dan menginternalisasi nilai-nilai Islam guna menumbuhkan kepedulian dan komitmen terhadap ajaran agama (Daulay & Wahyuningsih. Selain itu, kegiatan ini turut mendorong terjadinya interaksi sosial yang positif antar Melalui diskusi, peserta dapat saling bertukar pendapat, bekerja sama, serta mempererat hubungan sosial. Interaksi tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran sosial yang mendukung pembentukan karakter. Di sisi lain, kegiatan edukatif yang dilakukan secara lebih intensif berpotensi memberikan pemahaman yang lebih praktis dalam waktu yang relatif singkat, meskipun masih memerlukan tindak lanjut untuk memperkuat dampaknya (Gusrianti et , 2. Secara keseluruhan, kegiatan edukasi ini memberikan kontribusi awal dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran remaja terhadap pentingnya memanfaatkan waktu Ramadhan secara LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Riska Auliatus Solichah Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia e-mail: riskaauliatussolicha@mail. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. Keterlibatan aktif peserta dalam kegiatan kelompok juga sejalan dengan teori pembelajaran sosial yang menyatakan bahwa perilaku individu berkembang melalui interaksi dan pengalaman sosial (Suroto, 2. Dengan demikian, kegiatan ini dapat menjadi salah satu alternatif pendekatan dalam mendukung pembentukan karakter remaja yang lebih baik, meskipun implementasi yang berkelanjutan tetap diperlukan untuk memperoleh dampak yang lebih optimal. Gambar 1. Kegiatan Pembukaan dan Perkenalan Tim Pelaksana PKM Kegiatan diawali dengan sesi pembukaan dan perkenalan antara tim pelaksana dengan para siswi MTs Darul Ulum. Pada tahap ini disampaikan tujuan kegiatan, yaitu memberikan pemahaman mengenai pentingnya memanfaatkan waktu secara produktif selama bulan Ramadhan melalui aktivitas yang bernilai edukatif dan religius. Selain itu, peserta juga memperoleh gambaran singkat mengenai rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan. Tahap awal ini berperan penting dalam membangun kedekatan antara fasilitator dan peserta, sehingga tercipta suasana yang lebih nyaman dan kondusif untuk proses pembelajaran. Kondisi tersebut mendukung keterlibatan peserta dalam mengikuti kegiatan secara lebih aktif. Hal ini sejalan dengan pentingnya integrasi intervensi pendidikan dengan penguatan ekosistem sekolah dalam mendukung keberhasilan kegiatan berbasis nilai keislaman (Rohman et al. , 2. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai penyampaian materi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya penguatan lingkungan pendidikan yang mendukung pembentukan karakter religius. Gambar 2. Kegiatan Ice Breaking Setelah sesi perkenalan, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking yang bertujuan untuk mencairkan suasana dan meningkatkan kesiapan peserta sebelum memasuki materi utama. Kegiatan ini dilakukan melalui permainan singkat dan interaksi ringan yang melibatkan seluruh LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Riska Auliatus Solichah Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia e-mail: riskaauliatussolicha@mail. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. Pelaksanaan ice breaking memberikan dampak positif terhadap dinamika kelas, ditandai dengan meningkatnya keaktifan dan keterlibatan peserta dalam kegiatan selanjutnya. Suasana yang lebih santai dan interaktif mendorong peserta menjadi lebih fokus serta siap mengikuti proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa kegiatan ice breaking memiliki potensi dalam meningkatkan minat dan semangat belajar siswa melalui penciptaan lingkungan belajar yang menyenangkan (Fadillah & Muthi, 2. Dengan demikian, ice breaking tidak hanya berfungsi sebagai selingan, tetapi juga sebagai strategi awal untuk membangun kondisi pembelajaran yang lebih kondusif dan partisipatif. Gambar 3. Penyampaian Materi Edukatif Pada tahap ini, pemateri menyampaikan materi mengenai pentingnya memanfaatkan waktu selama bulan Ramadhan melalui kegiatan yang bermanfaat, seperti meningkatkan ibadah, membaca Al-QurAoan, serta melakukan aktivitas positif yang dapat mengembangkan potensi diri. Materi juga menekankan nilai-nilai keislaman, seperti disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian Penyampaian materi dilakukan secara interaktif untuk mendorong keterlibatan peserta dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini memudahkan peserta dalam memahami materi sekaligus memberikan ruang untuk berpartisipasi secara aktif. Keterlibatan tersebut memberikan indikasi bahwa peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mulai memahami peran mereka dalam menerapkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa remaja memiliki potensi sebagai agen perubahan melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan keagamaan, pengembangan keterampilan sosial, serta penguatan nilai moral dan spiritual (Samanto et al. , 2. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai penyampaian materi, tetapi juga sebagai upaya awal dalam mendorong peran aktif remaja dalam lingkungan sosial dan keagamaan. Gambar 4. Sesi Tanya Jawab LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Riska Auliatus Solichah Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia e-mail: riskaauliatussolicha@mail. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. Setelah penyampaian materi, peserta diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan terkait materi yang telah disampaikan. Sesi tanya jawab ini menjadi ruang interaksi antara pemateri dan peserta yang memungkinkan terjadinya pendalaman pemahaman. Melalui diskusi tersebut, peserta dapat menyampaikan pendapat, pengalaman, maupun kendala yang mereka hadapi dalam memanfaatkan waktu selama bulan Ramadhan secara produktif. Interaksi yang terjadi dalam sesi ini mendorong terciptanya proses pembelajaran yang lebih aktif dan partisipatif. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa aktivitas sosial terbentuk melalui interaksi antarmanusia, sehingga komunikasi yang terbangun dalam proses pembelajaran memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman dan pengalaman belajar peserta (Hazani. Gambar 5. Pemberian Apresiasi dan Dokumentasi Pada akhir kegiatan, tim pelaksana memberikan apresiasi kepada peserta yang aktif selama kegiatan berlangsung. Pemberian apresiasi ini berfungsi sebagai bentuk penghargaan sekaligus sebagai upaya untuk mendorong motivasi peserta dalam mengikuti kegiatan serupa di masa Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi sebagai bagian dari pelaporan kegiatan pengabdian. Selain itu, pemberian apresiasi juga dapat berperan sebagai bentuk penguatan perilaku positif yang telah ditunjukkan peserta selama kegiatan berlangsung. Hal ini sejalan dengan fungsi pengendalian dalam aktivitas sehari-hari, di mana penguatan terhadap perilaku tertentu dapat mendorong terbentuknya kebiasaan yang lebih baik (Lisa et al. , 2. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman belajar, tetapi juga mendorong internalisasi nilai-nilai positif sebagai bagian dari pengendalian diri peserta. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi remaja produktif berbasis nilai keislaman pada siswi MTs Darul Ulum Desa Kureksari. Waru. Sidoarjo telah terlaksana dengan baik dan memperoleh respons yang positif dari peserta. Pelaksanaan kegiatan ini menunjukkan adanya keterlibatan aktif peserta dalam setiap tahapan kegiatan, serta memberikan indikasi peningkatan pemahaman mengenai pentingnya memanfaatkan waktu selama bulan Ramadhan secara lebih produktif. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong munculnya kesadaran awal terhadap penerapan nilai-nilai keislaman, seperti disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kegiatan edukatif berbasis nilai keislaman dapat menjadi salah satu alternatif pendekatan dalam mendukung pembinaan karakter remaja di lingkungan sekolah. Berdasarkan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan, program serupa disarankan untuk dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya pada bulan Ramadhan tetapi juga pada berbagai LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Riska Auliatus Solichah Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia e-mail: riskaauliatussolicha@mail. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. momentum pembinaan karakter lainnya. Pihak sekolah dapat mempertimbangkan integrasi kegiatan edukatif berbasis nilai keislaman sebagai bagian dari program pembiasaan, sehingga dampak yang dihasilkan dapat lebih optimal. Selain itu, pengembangan kegiatan ke depan dapat dilakukan melalui variasi metode yang lebih interaktif, seperti praktik langsung, mentoring kelompok kecil, maupun kegiatan sosial keagamaan. Keterlibatan guru, orang tua, dan lingkungan masyarakat juga perlu diperkuat agar nilai-nilai yang telah diperoleh peserta dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. REFERENSI