JIGE 4. JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN DI DAERAH KABUPATEN/KOTA KEPULAUAN DI BAGIAN BARAT SUMATERA YaAoaman Telaumbanua1. SyaAofii2. Sirojuzilam3 1,2,3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Sumatera Utara. Medan. Sumatera Utara. Indonesia History Article Article history: Received Mei 10, 2023 Approved Mei 23, 2023 Kata Kunci The potential of the agricultural, forestry ABSTRACT This study aims to analyze the potential of the agricultural, forestry and fisheries sectors in six regencies and one city in the western part of Sumatra, namely. Simeulue District. Aceh Province. Nias. South Nias. North Nias. West Nias and Gunungsitoli City in North Sumatra Province and Mentawai Islands District in West Sumatra Province. The analytical method used is through Location Quotient (LQ) Analysis. Dynamic Location Quotient (DLQ) and Kalssen Typology Analysis during the 2008-2022 period. The results of the LQ calculation show that the agriculture, forestry and fisheries sectors are the basic or leading sectors in Simeulue. Nias. South Nias. North Nias. West Nias and Mentawai Islands, while this sector in Gunungsitoli City is a non-base sector. Based on the results of the DLQ analysis, although this sector is the base sector in Nias. North Nias. West Nias and the Mentawai Islands, in the long term/time period 2008-2022 the growth rate of this sector tends to slow down markedly by a DLQ value < 1. In Nias Regency, even during a period of 15 years, only once in 2013 did it show a DLQ value > 1 or a fast growth rate, besides that it experienced a slow In contrast to the results of the analysis in Simeulue and South Nias Regencies, where during the period 2008-2022 this base sector was consistent with growth rates that tended to be fast. While the results of the Klassen Typology analysis show that the agricultural, forestry and fisheries sectors in South Nias and Mentawai Islands are developed sectors, in Simeulue. Nias. North Nias and West Nias Regencies are developing sectors, namely the advanced but depressed sector, while in Gunungsitoli City it is sectors that have the potential to be developed into advanced sectors. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di enam kabupaten dan satu kota yang berada di kepulauan bagian barat Sumatera ini, yaitu. Kabupaten Simeulue Propinsi Aceh. Kabupaten Nias. Nias Selatan. Nias Utara. Nias Barat dan Kota Gunungsitoli di Propinsi Sumatera ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 907 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Utara serta Kabupaten kepualauan Mentawai di Propinsi Sumatera Barat. Metode analisis yang digunakan melalui Analisis Location Quotient (LQ). Dynamic Location Quotient (DLQ) dan Analisis Typologi Kalssen selama kurun waktu 2008-2022. Hasil perhitungan LQ menunjukan bahwa sektor pertanian, kehutanan dan perikanan merupakan sektor basis atau unggulan di Kabupaten Simeulue. Nias. Nias Selatan. Nias Utara. Nias Barat dan Kepualauan Mentawai sedangkan sektor ini di Kota Gunungsitoli menjadi sektor non basis. Berdasarkan hasil analisis DLQ, meskipun sektor ini merupakan sektor basis di Kabupaten Nias. Nias Utara. Nias Barat dan Kepulauan Mentawai namun dalam jangka waktu panjang/periode waktu 2008-2022 laju pertumbuhan sektor ini lebih sering kecenderungannya melambat yang ditandai dengan nilai DLQ < 1. Di Kabupaten Nias bahkan selama kurun waktu 15 tahun hanya satu kali pada tahun 2013 menunjukan nilai DLQ > 1 atau laju pertumbuhan yang cepat, selain itu mengalami laju yang Berbeda dengan hasil analisis di Kabupaten Simeulue dan Nias Selatan, dimana selama kurun waktu 2008-2022 sektor basis ini konsisten dengan laju pertumbuhan yang cenderung cepat. Sementara hasil analisis Typologi Klassen menunjukan bahwa sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Kabupaten Nias Selatan dan Kepulauan Mentawai merupakan sektor yang maju, di Kabupaten Simeulue. Nias. Nias Utara dan Nias Barat merupakan sektor yang berkembang yaitu sektor maju tetapi tertekan sedangkan di Kota Gunungsitoli merupakan sektor yang potensial dapat dikembangkan menjadi sektor yang maju. A 2023 Jurnal Ilmiah Global Education *Corresponding author email: telyaman72@gmail. PENDAHULUAN Pembangunan ekonomi di Indonesia memiliki persoalaan yang beragam, salah satu yang sangat mendasar adalah terjadinya kesenjangan ekonomi antara masyarakat kelas ekonomi menengah atas atau kaya dan yang miskin, tercermin dari adanya perbedaan pendapatan (Baldwin,1. Kesenjangan kesejahteraan juga terjadi antara warga masyarakat perkotaan dengan pedesaan, sementara di Indonesia dengan teritorial wilayah kepulauan, daerah yang berada diwilayah kepulauan kecil memiliki ketimpangan ekonomi yang signifikan dengan daerah diwilayah daratan di pulau besar. Menurut Gunnar Myrdal . , terjadinya ketimpangan regional disebabkan oleh besarnya pengaruh dari backwash effect dibandingkan dengan spread effect di negara-negara terbelakang. Perpindahan modal cenderung meningkatkan ketimpangan regional, permintaan yang meningkat ke wilayah maju akan merangsang investasi dan akan meningkatkan pendapatan. Daerah kabupaten/kota kepulauan yang berada di bagian barat Sumatera, secara geografis berada di daerah terdepan dan terluar wilayah Indonesia bagian barat yang dikelilingi oleh lautan luas berada diantara Selat Sumatera dan Samudera Indonesia dengan jarak lebih dari 120 mill dari pesisir pantai barat Sumatera. Kabupaten/kota tersebut terdiri dari Kabupaten Simeulue Propinsi Aceh. Kabupaten Nias. Kabupaten Nias Selatan. Kabupaten Nias Utara. Kabupaten Nias Barat dan Kota Gunungsitoli di Propinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Kepulauan Mentawai di Propinsi Sumatera Barat. Selain daerah terdepan dan terluar, daerah-daerah di kepulauan ini merupakan zona yang dilalui garis patahan . semangko sumatera yang merupakan bentukan geologi yang membentang di pulau Sumatera dari utara ke selatan, dimulai dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung. Patahan sumatera ini menyebabkan bencana gempa bumi yang berulang kali terjadi disepanjang wilayah bagian barat Sumatera dengan potensi terjadinya tsunami. Resiko bencana alam ini sangat berdampak terhadap kondisi pertumbuhan ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 908 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . perekonomian masyarakat diwilayah ini. Berdasarkan data BPS 2021, laju pertumbuhan ekonomi pada ke ketujuh kabupaten/kota ini lebih rendah dari tingkat rata-rata propinsi masing-masing dan lebih rendah lagi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun yang sama. Tabel 1: Perbandingan Laju Pertumbuhan Ekonomi (ADHK) Antara Kabupaten/Kota dengan Propinsi dan Nasional. Tahun 2021 Kabupaten/K Simeulue Nias Nias Selatan Nias Utara Nias Barat Gunungsitoli Kep. Mentawai Sumber : BPS Tahun 2022 Laju Pertumbuhan (%) Kabupate Prop n/Kota 1,62 2,79 2,21 2,61 2,02 2,61 2,02 2,61 2,26 2,61 2,25 2,61 2,89 3,29 Nasi 3,69 3,69 3,69 3,69 3,69 3,69 3,69 Tingkat kemiskinan pada daerah kabupaten/kota kepulauan di bagian barat Sumatera menunjukan angka yang tertinggi diantara kabupaten/kota lain di masing-masing propinsi. Kondisi ini menunjukan tingkat kesejahteraan masyarakat yang paling rendah diantara kabupaten lainnya. Menurut data BPS tahun 2021 angka kemiskinan Kabupaten Simeulue sebesar 18,98% sementara rata-rata tingkat Propinsi Aceh sebesar 15,33%. Angka kemiskinan Kabupaten Nias 16,82%. Nias Selatan 16,92%. Nias Utara 25,66%. Nias Barat 26,42% dan Kota Gunungsitoli 16,45% sementara rata-rata tingkat Propinsi Sumatera Utara hanya 9,01%. Angka kemiskinan Kepulauan Mentawai sebesar 14,84% sementara rata-rata tingkat Propinsi Sumatera Barat sebesar hanya 6,63%. Pada tahun yang sama secara nasional angka kemiskinan Indonesia sebesar 9,71%. Ketimpangan antar daerah dalam kegiatan ekonomi suatu wilayah, terjadi karena adanya perbedaan kandungan sumber daya alam dan perbedaan kondisi demografi yang terdapat pada masing-masing Perbedaan ini membuat kemampuan setiap daerah dalam melakukan proses pembangunan didaerahnya menjadi berbeda-berbeda, sehingga munculah istilah daerah maju dan daerah terbelakang (Sjafrizal, 2. Wilayah Sumatera sebagaimana wilayah lain di Indonesia dikenal sebagai daerah agraris yang mengandalkan sektor pertanian dalam menopang pembangunaan juga sebagai sumber mata pencaharian masyarakatnya (Kremen et al. , 2. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sendiri sebagai penyedia pangan bagi sebagian besar penduduk di Negara berkembang termasuk Indonesia. Selain itu, merupakan sektor dengan lapangan kerja yang luas dan mempekerjakan hampir seluruh angkatan kerja yang tersedia serta merupakan penyedia bahan baku bagi sektor industri yang cukup berkembang dewasa ini. Andalan perekonomian masyarakat ketujuh daerah kabupaten/kota dibagian barat Sumatera bergantung pada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Sektor ini merupakan potensi utama perekonomian daerah dimana sebagain besar aktifitas ekonomi masyarakat bergerak diseputar subsektor ini. Sektor Pertanian. Kehutanan dan Perikanan merupakan salah satu dari 17 sektor yang berkontribusi besar dan utama terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) (Aisyah et al. , 2. Tabel 2: Tiga Sektor dengan Kontribusi Terbesar Terhadap PDRB (ADHB) Menurut Lapangan Usaha Pada Kabupaten/Kota Kepulauan di Bagian Barat Sumatera Pada Tahun 2021 Kabupaten/Kota Sektor (%) Pertanian. Adm Pemerintah ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 909 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Kehutanan. Perikanan Simeulue Nias Nias Selatan Nias Utara Nias Barat Gunungsitoli Kep. Mentawai 34,67 48,24 44,57 52,25 54,20 14,89 48,87 Konstruksi Perdagangan Besar Eceran 12,78 11,09 14,36 9,09 11,67 9,22 13,05 20,17 27,15 13,66 12,72 Sumber : BPS Tahun 2022 Pertah. Jaminan Sosial Wajib 17,20 12,35 9,26 Sektor terbesar yang memberikan kontribusi terhadap pembentukan PDRB di Kabupaten Simeulue. Nias. Nias Selatan. Nias Utara. Nias Barat dan Mentawai adalah dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, kecuali Kota Gunungsitoli sektor perdagangan besar dan eceran yang memberikan kontribusi besar terhadap pembentukan PDRB sebesar 27,15% disusul sektor konstruksi 20,17% sementara sektor pertanian, kehutanan dan perdagangan merupakan urutan ketiga dengan kontribusi sebesar 14,89%. Meskipun sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di tujuh kabupaten/kota tersebut sebagai sektor andalan utama aktifitas ekonomi mayoritas masyarakat namun selama ini belum banyak dilakukan penelitian apakah ketiganya merupakan sektor basis/potensial atau non basis. Ketika sektor ini sebagai sektor basis belum diketahui apakah pada masa yang akan datang terus menjadi sektor basis atau berubah menjadi sektor non basis. Sebaliknya, bila mana sektor tersebut sekarang ini sebagai sektor non basis akankah tetap sebagai sektor non basis dimasa yang akan mendatang atau berubah menjadi sektor basis. Analisis secara keseluruhan terhadap sektor pertanian, kehutanan dan perikanan ini akan memberikan pengetahuan sektor basis perekonomian masa lalu dan kemudian dapat dipergunakan sebagai bahan atau dasar pertimbangan dalam membuat perencanaan pembangunan secara makro yang lebih baik dimasa yang akan datang (Oktavia et al. , 2. METODE Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif, yaitu pendekatan penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan suatu keadaan secara objektif dengan menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data serta penampilan dan hasilnya (Arikunto, 2. , yang menggunakan data runtun waktu . ime serie. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data runtut waktu . ime serie. produk domestik regional brutto (PDRB) periode tahun 2008-2022 Kabupaten Simeulue. Kabupaten Nias. Kabupaten Nias Selatan. Kabupaten Nias Utara. Kabupaten Nias Barat. Kota Gunungsitoli. Kabupaten Kepulauan Mentawai dan PDRB Propinsi Aceh. Propinsi Sumatera Utara. Propinsi Sumatera Barat pada periode tahun yang sama. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) propinsi dan kabupaten/kota masing-masing. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan teknik dokumentasi dan teknik studi pustaka. Teknik dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melihat kembali laporan-laporan yang telah dipublikasikan secara online oleh instansi ataupun oleh individu sumber data. Sedangkan teknik analisis data studi pustaka merupakan teknik pengumpulan data dengan cara menganalisis literatur baik jurnal ataupun data dokumentasi untuk memperoleh yang dibutuhkan. Metode analisis kuantitatif digunakan untuk menjawab permasalahan yang telah ditetapkan dengan digunakan beberapa metode analisis data, yaitu: Analisis location quotient (LQ). Analisis LQ merupakan alat analisis untuk menentukan yang menjadi basis ekonomi suatu wilayah dengan membandingkan skala daerah yang lebih luas seperti suatu negara dengan daerah yang lebih kecil seperti suatu provinsi (Van Leeuwen & Fyldvyri, 2. (Jafar & Meilvidiri, 2. Hasil analisis ini memberikan gambaran kemampuan suatu wilayah berfungsi sebagai net importer atau net exporter dengan membandingkan antara produksi dan konsumsi di daerahnya. Location Quontient merupakan suatu pendekatan tidak langsung dalam mengukur kinerja basis ekonomi suatu daerah, artinya bahwa analisis itu digunakan untuk melakukan pengujian sektor-sektor ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan (Wati ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 910 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . & Arifin, 2. (Arsyad, 2. Dengan demikian, analisis LQ merupakan salah satu indikator penentuan sektor unggulan. Jika nilai kofisiennya sebesar LQ >1 artinya sektor di wilayah itu merupakan sektor unggulan memiliki potensi untuk meningkatkan perekonomian daerah, sebaliknya jika nilai koefisien LQ < 1 maka sektor tersebut bukanlah sektor unggulan sebab outputnya hanya mampu dikonsumsi di wilayah yang bersangkutan. Secara matematis formula LQ sebagai berikut (Lee & Gordon, 2. (Van Leeuwen & Fyldvyri, 2. yaycE = Keterangan: LQi Yij ycU /ycU ycU /ycU Indeks Location Quetiont Nilai tambah sektor i di kabupaten/kota PDRB kabupaten/kota Nilai tambah sektor i di propinsi PDRB propinsi Persamaan tersebut diatas terdapat 3 . kategori hasil perhitungan LQ dalam perekonomian daerah yaitu (Hendayana, 2. C Jika nilai LQ > 1 artinya sektor yang bersangkutan di wilayah studi lebih berspesialisasi dibandingkan dengan wilayah referensi. Artinya sektor tersebut dalam perekonomian daerah di wilayah studi memiliki keunggulan komparatif dan dikategorikan sebagai sektor basis. C Jika nilai LQ = 1 artinya sektor yang bersangkutan baik di wilayah studi maupun di wilayah referensi memiliki peningkatan. C Jika nilai LQ < 1 artinya sektor yang bersangkutan di wilayah studi kurang berspesialisasi dibandingkan dengan wilayah referensi. Artinya sektor tersebut dikategorikan sebagai sektor non basis. Dynamic Location Quotient (DLQ). Analisis DLQ merupakan aplikasi analisis data yang dapat menentukan suatu sektor dalam bentuk basis atau non basis dalam waktu yang akan datang, sama seperti aplikasi analisis LQ yang menentukan sektor basis dan non basis, namun perbedaannya terletak pada kekurangan dari analisis LQ yakni hanya memberikan gambaran pada kondisi waktu tertentu. Dengan menggunakan analisis Dynamic Location Quotient (DLQ), dapat untuk menentukan suatu sektor merupakan basis atau non basis pada suatu daerah atau wilayah dalam kurun waktu yang akan datang, ini akan membantu analisis LQ dalam menentukan keadaan sektor yang berada di wilayah. Naik turunnya DLQ dapat dilihat untuk sektor tertentu pada dimensi waktu yang berbeda dengan formulasi sebagai berikut (Nazipawati, 2. yayaycE = . yci ) / . yci ) . ya ) . ya ) Keterangan: DLQij: Indeks potensi sektor i pada PDRB kabupaten/kota. gij :Laju pertumbuhan nilai tambah sektor i pada PDRB kabupaten/kota gj :Rata-rata laju pertumbuhan PDRB kabupaten/kota Gi : Laju pertumbuhan nilai tambah sektor i pada PDRB propinsi G :Rata-rata pertumbuhan PDRB propinsi Analisis Typology Klassen Analisis Typologi Klassen merupakan analisis yang dapat menggambarkan pola dan struktur pertumbuhan sectoral daerah (Klassen, 1. Analisis ini dilakukan dengan melihat pertumbuhan dan kontribusi sektor yang dimaksud terhadap total PDRB suatu daerah. Menurut Widodo . teknik Typologi Klassen dapat digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan sektoral daerah. Analisis Tipologi Klassen dapat digunakan untuk tujuan mengidentifikasi posisi sektor perekonomian suatu daerah . dengan memperhatikan sektor perekonomian di daerah yang lebih luas sebagai daerah referensi . Analisis Tipologi Klassen menghasilkan empat klasifikasi ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 911 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . sektor dengan karakteristik yang berbeda, yaitu. sektor maju, sektor potensial, sektor berkembang, dan sektor terbelakang (Sjafrizal, 2. Masuknya suatu sektor pada salah satu kategori, didasarkan pada laju pertumbuhan dan kontribusi sektoral serta rerata besar kontribusi sektoralnya terhadap PDRB, dapat ditunjukkan pada matrik berikut: Kontribusi Sektoral Tabel 3. Matriks Tipologi Klassen Pertumbuhan Sektoral gi >= g gi < g si >= s sektor maju . aju dan tumbuh cepa. sektor berkembang . aju tapi terteka. si < s sektor potensial sektor terbelakang . asih dapat berkembang . elatif tertingga. dengan pesa. Sumber : Dimodifikasi dari (Widodo, 2. Keterangan : gi : Rata-rata laju pertumbuhan sektoral daerah kabupaten/kota g :Rata-rata laju pertumbuhan sektoral daerah propinsi si : Rata-rata kontribusi sektoral daerah kabupaten/kota s : Rata-rata kontribusi sektoral daerah propinsi Menurut matrik Typologi Klassen diatas, suatu daerah . abupaten/kot. yang rata-rata pertumbuhan sektoralnya lebih besar atau sama dengan rata-rata pertumbuhan sektoral daerah yang lebih luas diatasnya . dan persentase rata-rata kontribusi kabupaten/kota lebih besar atau sama dengan rata-rata pertumbuhan sektoral propinsi maka sektor ekonomi daerah kabupaten/kota tersebut ini dikategorikan sebagai sektor maju dan tumbuh cepat. Jika rata-rata pertumbuhan sektoral daerah kabupaten/kota lebih kecil dari rata-rata pertumbuhan sektoral yang sama pada daerah propinsi dan ratarata kontribusi sektoral terhadap PDRBnya lebih besar atau sama dengan rata-rata kontribusi sektor yang sama pada daerah propinsi, sektor ekonomi daerah kabupaten/kota ini dikategorikan sektor maju tapi selanjutnya, suatu daerah kabupaten/kota dengan rata-rata pertumbuhan sektoralnyalebih besar atau sama dengan rata-rata pertumbuhan sektoral yang sama pada daerah propinsi tapi persentase rata-rata kontribusi daerah tersebut lebih kecil dari rata-rata pertumbuhan sektoral daerah propinsi maka sektoral daerah kabupaten/kota ini dikategorikan sebagai sektor potensial atau masih dapat berkembang dengan Kategori terakhir adalah jika rata-rata pertumbuhan sektor daerah kabupaten/kota maupun rata-rata kontribusi sektoral terhadap PDRB lebih kecil dari rata-rata pertumbuhan dan rata-rata kontribusi sektoral terhadap PDRB pada daerah propinsi maka sektor ekonomi daerah ini masuk kategori sektor terbelakang atau relatif tertinggal. HASIL DAN PEMBAHASAN Kekuatan ekonomi utama pada daerah kabupaten kepulauan di bagain barat Sumatera terletak di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, kecuali Kota Gunungsitoli menempatkan sektor perdagangan besar dan eceran sebagai sektor utama kekuatan ekonomi kota. Pada tabel 2 diatas. BPS Kota Gunungsitoli pada tahun 2021 melaporkan sektor perdagangan besar dan eceran memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB sebesar 27,15% disusul dengan sektor konstruksi 20,17% sementara sektor pertanian, kehutanan dan perikanan merupakan unggulan ketiga dengan kontribusi 14,89% terhadap total PDRB Kota Gunungsitoli. Kabupaten Simeulue. Nias. Nias Selatan. Nias Utara. Nias Barat dan Kepulauan Mentawai masing-masing menempatkan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebagai sektor unggulan utama didaerahnya. Sektor unggulan kedua berikutnya bervariasi antar daerah, sebagaimana disajikan dalam tabel 2 untuk tahun 2021 Kabupaten Simeulue dan Nias masing-masing mengandalkan sektor administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebagai sektor unggulan kedua, sementara sektor unggulan ketiga adalah sektor perdagangan besar dan eceran di Kabupaten Simeulue dan sektor konstruksi di Kabupaten Nias. Kabupaten Nias Selatan sama halnya ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 912 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . dengan Kabupaten Kepulauan Mentawai mengandalkan sektor konstruksi sebagai kekuatan ekonomi kedua sementara sektor administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib merupakan penyumbang terbesar ketiga terhadap PDRB Nias Selatan sementara Kabupaten Kepulauan Mentawai menempatkan sektor perdagangan besar dan eceran sebagai andalan ketiganya. Kabupaten Nias Utara dan Nias Barat adalah dua kabupaten yang sama-sama mengandalkan sektor perdagangan besar dan eceran sebagai sektor kedua dan sektor konstruksi sebagai penyumbang ketiga terhadap PDRB kedua kabupaten Data yang dianalisis dalam penelitian potensi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di daerah kabupaten/kota di bagian barat Sumatera ini merupakan data PDRB atas dasar harga berlaku tahun 20082022 pada Kabupaten Simeulue. Kabupaten Nias. Kabupaten Nias Selatan. Kabupaten Nias Utara. Kabupaten Nias Barat. Kota Gunungsitoli dan Kabupaten Kepualauan Mentawai serta data PDRB Propinsi Aceh. Propinsi Sumatera Utara dan Propinsi Sumatera Barat yang diambil pada periode tahun yang sama. Adapun data-data PDRB yang dimaksud pada masing-masing kabupaten/kota dan propinsi sebagai mana table 4 sampai tabel 10 berikut ini. Tabel 4. Data PDRB dan Pertumbuhan Sektor Pertanian. Kehutanan dan Perikanan (Sektor PKP) ADHB Propinsi Aceh dan Kabupaten Simeulue Tahun 2008-2022 T a hun Rata-Rata P D R B . iliya r rupia. P rop. A c eh K a b. Sim eulue Se ktor Se luruh Se ktor Se luruh PKP Se ktor PKP Se ktor 397,73 547,55 361,90 897,25 988,65 046,40 393,88 983,71 579,57 545,24 409,25 078,22 553,52 217,63 435,99 166,34 643,04 552,09 474,68 272,04 254,07 331,13 513,52 392,56 376,59 897,07 550,34 516,87 598,85 092,66 593,35 640,12 218,31 843,82 630,40 772,57 363,35 806,92 668,29 897,04 365,38 911,12 711,40 042,84 438,86 162,93 757,32 211,89 547,88 279,15 793,62 274,76 611,32 978,75 845,94 439,83 311,54 750,02 948,19 650,28 P e rtum buha n (% ) P rop. A c eh K a b. Sim e ulue Se ktor Se luruh Se ktor Se luruh PKP Se ktor PKP Se ktor 10,10 10,68 11,90 9,16 7,10 7,34 8,84 9,64 6,63 6,84 3,90 9,61 7,72 6,57 6,54 8,17 7,58 5,85 8,87 9,06 8,81 5,92 8,18 9,47 6,58 5,41 7,17 8,93 9,37 0,93 7,81 8,13 6,97 6,00 6,24 8,08 7,82 6,55 6,01 7,02 6,92 6,93 6,45 7,69 4,47 5,29 6,45 8,28 6,42 -1,76 4,79 2,84 7,88 14,69 6,59 7,26 12,05 14,47 12,09 8,63 7,76 6,78 7,46 8,13 Sumber : BPS Propinsi Aceh dan Kabupaten Simeulue Kabupaten Simeulue merupakan salah satu kabupaten kepulauan di Propinsi Aceh memiliki ratarata pertumbuhan total PDRB selama 15 tahun terakhir sebesar 8,13% jauh lebih besar dari rata-rata Propinsi yang hanya mampu tumbuh sebesar 6,78% selama kurun waktu yang sama. Meskpiun demikian, bila dilihat secara sektoral dimana andalan kekuatan utama ekonomi daerah Kabupaten Simeulue di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan memiliki rata-rata pertumbuhan yang lebih rendah . ,46%) dibanding dengan rata-rata propinsi . ,76%). Artinya, pertumbuhan PDRB sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kabupaten Simeulue masih dibawah atau lebih melambat dibandingkan pertumbuhan sektor yang sama pada kabupaten/kota lainnya di Propinsi Aceh. Tabel 5. Data PDRB dan Pertumbuhan Sektor Pertanian. Kehutanan dan Perikanan (Sektor PKP) ADHB Propinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Nias ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 913 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Tahun 2008-2022 Tahun Rata-Rata PDRB . iliyar rupia. Prop. Sumut Kab. Nias Seluruh Sektor Seluruh Sektor Sektor PKP Sektor PKP 871,76 931,47 606,85 666,95 431,19 353,62 842,58 262,54 181,84 700,21 638,34 140,43 635,87 372,44 722,50 299,65 838,11 090,36 990,87 969,17 190,25 464,02 106,60 197,67 443,44 954,95 206,70 442,51 487,51 722,01 277,73 676,67 915,80 062,91 417,87 966,28 368,52 634,43 550,82 233,56 077,17 347,43 687,28 519,07 152,75 608,95 807,38 824,85 074,95 188,31 937,64 040,92 491,36 934,26 036,63 221,86 799,22 193,09 224,44 536,22 Pertumbuhan (%) Prop. Sumut Kab. Nias Sektor Seluruh Sektor Seluruh PKP Sektor PKP Sektor 16,09 15,01 13,79 13,23 11,38 10,48 14,67 16,24 16,08 16,65 -65,36 -73,25 11,80 14,03 13,18 13,96 8,78 11,68 37,14 51,52 49,91 33,72 11,68 11,60 5,43 11,18 9,05 11,14 3,33 9,53 5,89 9,59 7,51 9,50 10,97 10,82 8,49 9,36 9,38 9,01 5,95 8,28 8,80 8,83 5,85 7,86 7,12 8,69 5,44 1,45 7,21 5,65 9,49 6,01 5,11 4,48 15,99 11,08 9,22 7,45 12,10 11,72 6,52 7,26 Sumber : BPS Propinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Nias Pada tabel 5 diatas, rata-rata pertumbuhan PDRB baik secara keseluruhan maupun secara sektoral di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kabupaten Nias jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan total PDRB dan sektoral yang sama tingkat Propinsi Sumatera Utara selama periode waktu Rata-rata pertumbuhan PDRB Kabupaten Nias periode 2008-2022 sebesar 7,26% sementara Propinsi Sumatera Utara 11,72%. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebagai sektor unggulan utama ekonomi tumbuh rata-rata 6,52% sementara disektor yang sama pada tingkat propinsi rata-rata tumbuh 12,10%. Kondisi ini menunjukan bahwa baik perekonomian secara keseluruhan maupun secara sektoral di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kabupetan Nias masih jauh dibawa rata-rata kondisi perekonomian kabupaten/kota lainnya diluar kepulauan Nias di wilayah Propinsi Sumatera Utara. Tabel 6. Data PDRB dan Pertumbuhan Sektor Pertanian. Kehutanan dan Perikanan (Sektor PKP) ADHB Propinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Nias Selatan Tahun 2008-2022 Tahun Rata-Rata PDRB . iliyar rupia. Prop. Sumut Kab. Nias Selatan Seluruh Sektor Seluruh Sektor Sektor PKP Sektor PKP 871,76 931,47 494,16 854,54 431,19 353,62 090,49 014,35 181,84 700,21 389,06 802,77 635,87 372,44 537,94 442,56 838,11 090,36 686,81 479,98 190,25 464,02 868,40 898,78 443,44 954,95 046,12 310,08 487,51 722,01 219,95 748,11 915,80 062,91 391,20 192,28 368,52 634,43 600,34 695,74 077,17 347,43 822,21 247,31 152,75 608,95 044,02 861,48 074,95 188,31 196,25 164,27 491,36 934,26 307,45 420,63 799,22 193,09 619,28 014,50 Pertumbuhan (%) Prop. Sumut Kab. Nias Selatan Sektor Seluruh Sektor Seluruh PKP Sektor PKP Sektor 16,09 15,01 5,52 8,76 11,38 10,48 120,67 8,62 16,08 16,65 27,38 39,14 11,80 14,03 10,72 -12,85 8,78 11,68 9,68 42,47 49,91 33,72 10,77 12,03 5,43 11,18 9,51 10,55 3,33 9,53 8,50 10,16 7,51 9,50 7,71 9,35 8,49 9,36 8,75 9,70 5,95 8,28 8,53 9,68 5,85 7,86 7,86 9,83 5,44 1,45 5,00 4,41 9,49 6,01 3,48 3,58 15,99 11,08 9,43 8,00 12,10 11,72 16,90 11,56 Sumber : BPS Propinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Nias Selatan Kabupaten Nias Selatan merupakan kabupaten yang menggungguli rata-rata pertumbuhan PDRB Propinsi Sumatera Utara di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan selama periode 2008-2022 dengan rata-rata pertumbuhan 16,90% sementara tingkat propinsi 12,10%, namun secara keseluruhan sektor rata- ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 914 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . rata pertumbuhan PDRB Nias Selatan masih dibawah rata-rata pertumbuhan PDRB Propinsi Sumatera Utara sebagaimana dijelaskan pada tabel 6 diatas. Tabel 7. Data PDRB dan Pertumbuhan Sektor Pertanian. Kehutanan dan Perikanan (Sektor PKP) ADHB Propinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Nias Utara Tahun 2008-2022 Tahun Rata-Rata PDRB . iliyar rupia. Prop. Sumut Kab. Nias Utara Seluruh Sektor Seluruh Sektor Sektor PKP Sektor PKP 871,76 931,47 596,10 862,34 431,19 353,62 691,96 998,84 181,84 700,21 811,47 445,88 635,87 372,44 859,11 582,91 838,11 090,36 964,56 783,67 190,25 464,02 159,10 086,62 443,44 954,95 265,38 301,75 487,51 722,01 342,66 540,54 915,80 062,91 470,60 777,63 368,52 634,43 597,12 008,01 077,17 347,43 699,23 250,33 152,75 608,95 805,25 515,98 074,95 188,31 917,32 710,04 491,36 934,26 024,90 875,07 799,22 193,09 209,57 172,94 Pertumbuhan (%) Prop. Sumut Kab. Nias Utara Sektor Seluruh Sektor Seluruh PKP Sektor PKP Sektor 16,09 15,01 14,87 13,68 11,38 10,48 16,08 15,83 16,08 16,65 17,27 44,76 11,80 14,03 5,87 9,48 8,78 11,68 12,27 12,68 49,91 33,72 20,17 16,98 5,43 11,18 9,17 10,31 3,33 9,53 6,11 10,37 7,51 9,50 9,53 9,33 8,49 9,36 8,60 8,29 5,95 8,28 6,39 8,06 5,85 7,86 6,24 8,17 5,44 1,45 6,21 5,52 9,49 6,01 5,61 4,45 15,99 11,08 9,12 7,69 12,10 11,72 10,23 12,37 Sumber : BPS Propinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Nias Utara Tabel 8. Data PDRB dan Pertumbuhan Sektor Pertanian. Kehutanan dan Perikanan (Sektor PKP) ADHB Propinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Nias Barat Tahun 2008-2022 Tahun Rata-Rata PDRB . iliyar rupia. Prop. Sumut Kab. Nias Barat Seluruh Sektor Seluruh Sektor Sektor PKP Sektor PKP 871,76 931,47 322,37 444,04 431,19 353,62 368,37 507,06 181,84 700,21 433,30 589,40 635,87 372,44 496,95 673,15 838,11 090,36 556,63 747,01 190,25 464,02 630,30 844,57 443,44 954,95 668,92 181,35 487,51 722,01 716,65 288,53 915,80 062,91 778,27 415,85 368,52 634,43 846,20 548,74 077,17 347,43 907,17 673,31 152,75 608,95 968,49 816,85 074,95 188,31 032,17 922,54 491,36 934,26 094,77 019,88 799,22 193,09 181,81 172,22 Pertumbuhan (%) Prop. Sumut Kab. Nias Barat Sektor Seluruh Sektor Seluruh PKP Sektor PKP Sektor 16,09 15,01 12,44 11,99 11,38 10,48 14,27 14,19 16,08 16,65 17,62 16,24 11,80 14,03 14,69 14,21 8,78 11,68 12,01 10,97 49,91 33,72 13,24 13,06 5,43 11,18 6,13 39,88 3,33 9,53 7,13 9,07 7,51 9,50 8,60 9,88 8,49 9,36 8,73 9,39 5,95 8,28 7,21 8,04 5,85 7,86 6,76 8,58 5,44 1,45 6,58 5,82 9,49 6,01 6,06 5,06 15,99 11,08 7,95 7,54 12,10 11,72 9,96 12,26 Sumber : BPS Propinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Nias Barat Kabupaten Nias Utara dan Kabupaten Nias Barat dua kabupaten yang memiliki kondisi pertumbuhan perekonomian yang hampir sama, secara sektoral di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan memiliki potensi sektoral dengan rata-rata pertumbuhan yang lebih rendah dibanding rata-rata pertumbuhan sektor yang sama pada tingkat propinsi masing-masing sebesar 10,23% dan 9,96% lebih besar dari 12,10% rata-rata pertumbuhan sektoral yang sama tingkat propinsi. Meskipun demikian, rata-rata pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku keseluruhan sektor selama periode 2008-2022 tingkat kabupaten lebih besar diandingkan rata-rata pertumbuhan pada periode yang sama ditingkat propinsi. ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 915 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Tabel 9. Data PDRB dan Pertumbuhan Sektor Pertanian. Kehutanan dan Perikanan (Sektor PKP) ADHB Propinsi Sumatera Utara dan Kota Gunungsitoli Tahun 2008-2022 Tahun Rata-Rata PDRB . iliyar rupia. Prop. Sumut Kota Gunungsitoli Seluruh Sektor Seluruh Sektor Sektor PKP Sektor PKP 871,76 931,47 201,46 495,46 431,19 353,62 220,36 775,10 181,84 700,21 251,07 009,06 635,87 372,44 283,66 305,74 838,11 090,36 317,70 543,60 190,25 464,02 429,51 871,84 443,44 954,95 471,59 210,03 487,51 722,01 531,23 594,86 915,80 062,91 595,79 034,20 368,52 634,43 663,06 503,05 077,17 347,43 736,44 001,03 152,75 608,95 805,18 513,92 074,95 188,31 864,51 776,11 491,36 934,26 895,93 017,55 799,22 193,09 961,87 476,83 Pertumbuhan (%) Prop. Sumut Kota Gunungsitoli Sektor Seluruh Sektor Seluruh PKP Sektor PKP Sektor 16,09 15,01 14,23 13,91 11,38 10,48 9,38 18,70 16,08 16,65 13,93 13,18 11,80 14,03 12,98 14,77 8,78 11,68 12,00 10,32 49,91 33,72 35,19 12,90 5,43 11,18 9,80 11,78 3,33 9,53 12,65 11,99 7,51 9,50 12,15 12,22 8,49 9,36 11,29 11,62 5,95 8,28 11,07 11,06 5,85 7,86 9,33 10,26 5,44 1,45 7,37 4,76 9,49 6,01 3,63 4,18 15,99 11,08 7,36 7,63 12,10 11,72 12,16 11,28 Sumber : BPS Propinsi Sumatera Utara dan Kota Gunungsitoli Berbeda terbalik dengan kondisi perekonomian di Kota Gunungsitoli yang sektor pertanian, kehutanan dan perikanan bukan merupakan basis ekonominya, namun memiliki rata-rata pertumbuhan sektor ekonomi tersebut yang lebih besar . ,16%) dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan sektor yang sama pada tingkat Propinsi Sumatera Utara . ,10%). Meskipun demikian, secara keseluruhan sektor PDRB Propinsi Sumatera Utara lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan Kota Gunungsitoli. Tabel 10. Data PDRB dan Pertumbuhan Sektor Pertanian. Kehutanan dan Perikanan (Sektor PKP) ADHB Propinsi Sumatera Barat dan Kabupaten Kep. Mentawai Tahun 2008-2022 Tahun Rata-Rata PDRB . iliyar rupia. Prop. Sumbar Kab. Kep. Mentawai Seluruh Sektor Seluruh Sektor Sektor PKP Sektor PKP 379,93 954,52 617,89 099,75 381,92 752,94 695,92 261,18 885,37 226,62 989,12 905,95 421,54 966,99 106,12 139,27 886,69 435,65 193,42 364,68 256,49 899,83 341,56 667,44 219,06 898,84 507,02 027,23 424,68 951,98 704,87 395,69 172,98 099,18 866,47 724,60 501,86 893,47 992,58 098,05 385,35 367,22 024,52 252,82 468,27 949,74 168,52 665,09 099,28 894,13 260,83 647,10 886,62 101,28 366,96 843,10 509,91 378,64 614,55 445,47 Pertumbuhan (%) Prop. Sumbar Kab. Kep. Mentawai Sektor Seluruh Sektor Seluruh PKP Sektor PKP Sektor 15,10 15,72 17,80 17,00 5,77 8,17 12,63 14,68 13,62 13,65 42,13 51,12 12,14 13,46 11,83 12,24 40,41 32,81 7,89 10,54 10,25 11,77 12,41 12,80 13,69 12,25 12,33 13,49 7,78 9,13 13,13 12,17 6,19 8,97 9,48 9,69 7,06 9,07 6,76 10,03 5,71 7,70 1,60 3,78 2,03 6,76 7,11 9,69 -0,68 -1,65 4,26 -0,39 1,46 4,63 4,69 4,22 10,25 12,75 10,46 12,44 10,05 11,01 11,63 12,90 Sumber : BPS Propinsi Sumatera Barat dan Kabupaten Kepulauan Mentawai Pada tabel 10 diatas, menggambarkan kondisi perekonomian Kabupaten Kepulauan Mentawai dimana selama 15 tahun terakhir rata-rata pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 11,63% lebih besar dari rata-rata pertumbuhan sektor yang sama tingkat Propinsi Sumatera Barat yakni sebesar 10,05%. Seiring denga rata-rata pertumbuhan sektoral, pertumbuhan PDRB secara keseluruhan sektor di Kabupaten Kepulauan Mentawai selama tahun 2008-2022 lebih besar dari rata-rata pertumbuhan tingkat Propinsi Sumatera Barat. ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 916 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Hasil Analisis Potensi Sektor Pertanian. Kehutanan dan Perikanan Analisis Location Quotient (LQ) Hasil perhitungan Location Quotient (LQ) kabupaten/kota kepulauan di bagian barat Sumatera selama kurun waktu 2008-2022 dapat dilihat pada tabel 11. Berdasarkan hasil perhitungan LQ sektoral dari keenam kabupaten. Simeulue. Nias. Nias Selatan. Nias Utara. Nias Barat dan Kepulauan Mentawai memiliki nilai LQ lebih dari 1 (LQ > . Nilai LQ ini menunjukan bahwa sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Kabupaten Simuelue. Nias. Nias Selatan. Nias Utara. Nias Barat dan Kepulauan Mentawai merupakan sektor basis. Hasil perhitungan ini sangat relevan dengan kondisi geografis Kabupaten Simuelue. Nias. Nias Selatan. Nias Utara. Nias Barat dan Kepulauan Mentawai yang memiliki kawasan/lahan pertanian dan kehutanan yang masih luas, didominasi daerah pedesaan dan zona wilayah pesisir dan laut yang sangat luas dimasing-masing kabupaten. Penelitian ini selaras dengan penelitian (Syukur et al. , 2. yang menunjukan bahwa LQ sektor pertanian, kehutanan dan perikanan . Kabupaten Banyuwangi dari tahun 2015-2019 merupakan sektor basis dan potensial dengan nilai LQ sebesar 2,63, artinya produksi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan untuk Kabupaten Banyuwangi dapat mencukupi kebutuhan masyarakat Kabupaten Banyuwangi sendiri bahkan dapat di ekspor ke daerah lain atau ke mancanegara serta dapat mensejahterakan rakyat. Demikian juga halnya penelitian mengenai peranan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan pada perekonomian Kabupaten Deli Serdang yang dilakukan oleh (Sari & Bangun, 2. yang menunjukan bahwa dari hasil penghitungan LQ terdapat enam subsektor yang bernilai lebih dari satu. Keenam subsektor tersebut merupakan subsektor basis atau subsektor unggulan di Kabupaten Deli Serdang. Subsektor-subsektor tersebut adalah subsektor tanaman pangan, perkebunan semusim, tanaman hortikultura tahunan dan lainnya, peternakan, jasa pertanian dan perburuan, serta perikanan. Keenam subsektor tersebut mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Deli Serdang dan memiliki kekuatan ekonomi yang baik dibandingkan subsektor pertanian lainnya (Adi et al. , 2. Kondisi yang berbeda terjadi di Kota Gunungsitoli, meskipun wilayah Kota Gunungsitoli berada dalam satu daratan kepulauan dengan Kabupaten Nias. Nias Selatan. Nias Utara dan Nias Barat, akan tetapi selama periode waktu 2008-2022 berdasarkan hasil perhitungan LQ sektor pertanian, kehutanan dan perikanan lebih kecil dari 1 atau LQ < 1 masuk dalam kategori sektor non basis. Bahwa sektor pertanian, kehutanan dan perikanan tidak menjadi sektor basis di Kota Gunungsitoli sejalan dengan keberadanya sebagai ibu kota terbesar, wilayah pertama sebagai pusat pemerintahan di kepulauan Nias sebelum adanya pemekaran pertama tahun 2003 menjadi dua kabupaten (Nias dan Nias Selata. serta pemekaran kedua pada tahun 2008 menjadi empat kabupaten satu kota (Nias. Nias Selatan. Nias Utara. Nias Barat dan Kota Gunungsitol. Sebagai wilayah kota, areal untuk lahan pertanian dan kehutanan sangat terbatas, demikian halnya aktifitas ekonomi masyarakat disubsektor perikanan dan kelautan hanya dilakukan dipinggiranpinggiran kota sepanjang pesisir pantai Gunungsitoli saja. Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kepulauan. Kota Gunungsitoli mengandalkan sektor perdagangan besar dan eceran sebagai sektor basisnya. Tabel 11. Location Quotient (LQ) Sektor Pertanian. Kehutanan dan Perikanan Pada Kabupaten/Kota Kepulauan Di Bagian Barat Sumatera. Tahun 2008-2022 Tahun Simeulue Ket. 1,59 basis ( ) 1,59 basis ( ) 1,51 basis ( ) 1,47 basis ( ) 1,44 basis ( ) 1,39 basis ( ) 1,35 basis ( ) 1,24 basis ( ) 1,21 basis ( ) 1,18 basis ( ) 1,17 basis ( ) 1,16 basis ( ) 1,09 basis ( ) 1,15 basis ( ) 1,22 basis ( ) Nias Ket. 1,92 basis ( ) 1,88 basis ( ) 2,44 basis ( ) 2,47 basis ( ) 2,30 basis ( ) 2,05 basis ( ) 2,12 basis ( ) 2,17 basis ( ) 2,22 basis ( ) 2,24 basis ( ) 2,29 basis ( ) 2,30 basis ( ) 2,25 basis ( ) 2,19 basis ( ) 2,13 basis ( ) Nias Selatan Ket. 1,17 basis ( ) 2,35 basis ( ) 2,16 basis ( ) 2,80 basis ( ) 2,21 basis ( ) 1,95 basis ( ) 2,04 basis ( ) 2,13 basis ( ) 2,14 basis ( ) 2,14 basis ( ) 2,16 basis ( ) 2,16 basis ( ) 2,09 basis ( ) 2,02 basis ( ) 1,96 basis ( ) Kabupaten/Kota Nias Utara Ket. 3,026 basis ( ) 3,008 basis ( ) 2,449 basis ( ) 2,416 basis ( ) 2,471 basis ( ) 2,264 basis ( ) 2,363 basis ( ) 2,408 basis ( ) 2,457 basis ( ) 2,484 basis ( ) 2,499 basis ( ) 2,501 basis ( ) 2,422 basis ( ) 2,371 basis ( ) 2,301 basis ( ) Nias Barat Ket. 3,18 basis ( ) 3,15 basis ( ) 3,21 basis ( ) 3,29 basis ( ) 3,40 basis ( ) 3,04 basis ( ) 2,43 basis ( ) 2,53 basis ( ) 2,55 basis ( ) 2,56 basis ( ) 2,59 basis ( ) 2,60 basis ( ) 2,52 basis ( ) 2,46 basis ( ) 2,36 basis ( ) Gunungsitoli Kep. Mentawai Ket. Ket. 0,59 non basis (-) 2,29 basis ( ) 0,54 non basis (-) 2,30 basis ( ) 0,55 non basis (-) 2,17 basis ( ) 0,55 non basis (-) 2,18 basis ( ) 0,57 non basis (-) 2,02 basis ( ) 0,61 non basis (-) 2,04 basis ( ) 0,63 non basis (-) 1,99 basis ( ) 0,67 non basis (-) 2,03 basis ( ) 0,69 non basis (-) 2,08 basis ( ) 0,69 non basis (-) 2,06 basis ( ) 0,70 non basis (-) 2,05 basis ( ) 0,71 non basis (-) 2,10 basis ( ) 0,70 non basis (-) 2,18 basis ( ) 0,68 non basis (-) 2,25 basis ( ) 0,65 non basis (-) 2,26 basis ( ) ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 917 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Sumber : Hasil Analisis Peneliti Hasil analisis LQ sektoral pada eman kabupaten kepulauan di bagian barat Sumatera ini belum bisa memberikan kesimpulan akhir bahwa sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang teridentifikasi sebagai sektor basis pereknomian, merupakan sebagai sektor strategis yang sanggup bersaing dengan sektor yang sama dengan daerah lainnya. Menurut Wijaya . dikatakatan sebagai sektor basis atau sektor unggulan apabila sektor di daerah tertentu sanggup bersaing dengan sektor yang sama yang dihasilkan oleh daerah lain di pasar nasional ataupun dalam negeri. Hasil komoditi pertanian, kehutanan dan perikanan di Kabupaten Simeulue. Nias. Nias Selatan. Nias Utara. Nias Barat dan Kepulauan Mentawai, khusus subsektor pangan, holtikultura, peternakan, kehutanan masih belum mampu mencukupi kebutuhan dalam daerahnya masing-masing apalagi memiliki kelebihan produksi untuk diekspor memenuhi permintaan luar Meskipun sebagai sektor basis, sebagian besar dari komoditas sektor pertanian, kehutanan dan perikanan ini masih di impor dari luar daerah-daerah tersebut. Kondisi ini didukung oleh data net ekspor barang dan jasa pada table 12 selama kurun waktu 2010-2022 pada enam kabupaten kepulauan bagian barat Sumatera, negative (-). Selisih kegiatan ekspor dengan impor yang negative ini menunjukan kekuatan daya saing produk sektor unggulan masih lemah. Kondisi ini diperparah dengan posisi geografis kabupaten/kota kepulauan di bagain barat Sumatera yang memiliki tingkat kesulitan aksesibiltas yang tinggi, jauh dari pusat-pusat pertumbutuhan ekonomi regional Sumatera. Jawa dan Kalimantan serta daerah-daerah ini masuk dalam kategori daerah tertinggal sebagaimana Kepres No. 63 tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2020-2024. Tabel 12. Net Ekspor Barang dan Jasa Kabupaten/Kota Kepulauan di Bagian Barat Sumatera. Tahun 2010-2022 Tahun Kabupaten Kabupaten Kabupaten Kabupaten Kabupaten Kota Simeulue Nias Nias Selatan Nias Utara Nias Barat Gunungsitoli -836,11 -577,50 -641,51 -342,43 -169,71 -987,08 -637,63 -657,20 -358,31 -228,32 -1097,99 -734,72 -686,59 -448,39 -322,33 -1084,20 -876,94 -872,51 -516,12 -422,77 -1139,64 -1020,67 -1073,52 -606,24 -559,35 -1173,98 -1178,27 -1267,75 -753,09 -600,05 -1225,88 -1352,16 -1574,46 -882,95 -615,22 -1246,24 -1475,30 -1873,98 -974,11 -649,46 -417,65 -1290,64 -1611,68 -2152,67 -1124,15 -730,16 -470,88 -1296,40 -1712,69 -2440,45 -1195,96 -766,70 -477,20 -1256,77 -1724,56 -2673,72 -1187,28 -741,54 -529,27 -1229,18 -1728,31 -2914,97 -1233,81 -729,08 -512,76 -1725,71 -3041,02 -1282,84 -750,46 -530,27 Kab. Kep. Mentawai -187,07 -231,60 -336,63 -184,84 -171,93 -156,46 -122,80 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 183,51 Sumber : BPS Kabupaten Simaelue. Nias. Nias Selatan. Nias Utara. Nias Barat, dan Kepulauan Mentawai Analisis Dynamic Location Quotient (DLQ) Berdasarkan hasil perhitungan Dynamic Location Quotient (DLQ) yang ditunjukan pada tabel 13, laju pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan pada ketujuh daerah kepulaun di bagian barat Sumatera mengalami laju pertumbuhan yang tidak selalu konsisten. Beberapa kabupaten dalam beberapa tahun mengalami kecenderungan laju pertumbuhan sektoral yang cepat sementara di beberapa kabupaten lainnya justru laju pertumbuhan yang lambat lebih mendominasi dalam kurun waktu 2008-2022. Kondisi pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Kabupaten Simeulue sepanjang waktu 2008-2022 menunjukan kecenderungan laju pertumbuhan yang cepat (DLQ > . selama 9 tahun, yakni. pada tahun 2009, 2010, 2011, 2013, 2015-1018 dan 2020-2021, sementara 6 tahun diantaranya mengalami laju pertumbuhan yang lambat. Dengan kondisi sektoral yang cenderung tumbuh cepat ini, dapat dipastikan sektor basis ini masih terus menjadi andalan pembentukan PDRB kabupaten pada masa yang akan datang. ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 918 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Hasil perhitungan DLQ sektor yang sama di Kabupaten Nias selama periode waktu 2008-2022 mengalami kondisi yang sebaliknya dari Kabupaten Simeulue. Selama 15 tahun terakhir hampir tidak mengalami laju pertumbuhan yang cepat, hanya pada tahun 2013 DLQ > 1, artinya hanya satu tahun dari lima belas tahun mengalami laju pertumbuhan sektoral yang cepat. Kabupaten Nias merupakan daerah yang sebagian besar wilayahnya berdekatan dengan wilayah Kota Gunungsitoli. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Kota Gunungsitoli sendiri merupakan sektor non basis. Selain itu, sejak pemekaran Kabupaten Nias menjadi 4 daerah otonomi baru pada tahun 2008, kantor-kantor pusat pemerintah Kabupaten Nias serta pusat ekonomi Kabupaten Nias masih berada dalam wilayah Kota Gunungsitoli. Dengan kondisi sektor seperti ini, dapat dipastikan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Kabupaten Nias pada masa yang akan datang akan bergeser menjadi sektor non basis. Kabupaten Nias Selatan merupakan daerah dengan luas wilayah terbesar di Kepulauan Nias. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan adalah sektor basis ekonomi dengan rata-rata distribusi persentase 47% terhadap PDRB selama kurun waktu 2008-2022. Sektor ini merupakan andalan utama aktiftas ekonomi masyarakat Nias Selatan, dimana hasil hitungan DLQ selama kurun waktu yang sama memiliki kecenderungan laju pertumbuhan yang cepat (DLQ>. selama 11 tahun diantara 15 tahun periode waktu yang dianalisis. Dengan kondisi ini, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Kabupaten Nias Selatan masih merupakan sektor basis unggulan perekonomian daerah. Kabupaten Nias Utara dan Nias Barat merupakan dua daerah yang agak jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi kepulauan Nias. Wilayah kedua daerah ini relatif lebih kecil dibandingkan Kabupaten Simeulue. Nias Selatan dan Kepulauan Mentawai, namun sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menyumbang ratarata 56% pada PDRB Kabupaten Nias Utara dan 62% pada PDRB Kabupaten Nias Barat selama kurung waktu Berdasarkan perhitungan DLQ, dalam jangka panjang menunjukan hasil yang justru laju pertumbuhan sektor ini cenderung melambat. Pada tahun 2008 di Kabupaten Nias Barat dan 2011 di Kabupaten Nias Utara serta pada tahun 2013, 2021-2022 sama-sama mengalami laju pertumbuhan sektoral yang cepat, sedangkan pada 11 tahun lainnya mengalami pelambanan laju pertumbuhan. Dengan kondisi ini pada masa yang akan datang sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di kedua kabupaten ini dapat bergeser menjadi sektor non basis. Kondisi pertumbuhan sektor yang sama selama periode 2008-2022 di Kabupaten Kepulauan Mentawai mengalami fluktuasi yang lebih cenderung melaju lambat. Wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan yang teluas mencapai 6,034 m2 diantar enam daerah lain di kepulauan bagian barat Sumatera. Wilayah yang luas ini memungkinkan sektor pertanian, kehutanan dan subsektor perikanan dapat berkembang sebagai potensi keunggulan komparatif dengan daerah-daerah lain di ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 919 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . wilayah bagian barat Sumatera. Selama kurun waktu 15 tahun terakhir, rata-rata 50% dari PDRB Kepulauan Mentawai disumbangkan dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. berdasarkan hasil hitungan DLQ pada periode yang sama, laju pertumbuhan sektor ini cenderung lambat dan hanya 6 tahun diatara 15 tahun mengalami laju pertumbuah yang cepat, yaitu pada tahun 2011-2012, 2014, 2017-2018 dan pada tahun 2022 terakhir ini. Dengan kecenderungan ini, pada masa yang akan datang sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Kabupaten Kepulauan Mentawai akan bergeser menjadi sektor non Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Kota Gunungsitoli bukanlah sektor basis dan selama kurun waktu 2008-2022 memiliki kecenderungan laju pertumbuhan sektor ini melambat. Sebagai sektor yang bukan basis unggulan perekonomian dan kinerja pertumbuhan yang lambat, sektor ini pada masa yang akan datang akan terus sebagai sektor non basis dengan laju pertumbuhan yang tidak signifikan bahkan akan cenderung melambat. Tabel 13. Dynamic Location Quotients (DLQ) Sektor Pertanian. Kehutanan dan Perikanan Pada Kabupaten/Kota Kepulauan Di Bagian Barat Sumatera. Tahun 2008-2022 Tahun Simeulue DLQ Laju 0,83 lambat 0,80 lambat 1,50 cepat 1,12 cepat 0,84 lambat 1,03 cepat 0,90 lambat 1,14 cepat 1,06 cepat 1,21 cepat 1,03 cepat 0,71 lambat 1,24 cepat 1,13 cepat 0,96 lambat Nias DLQ Laju 0,66 lambat 0,45 lambat -0,15 lambat 0,52 lambat 0,15 lambat 2,31 cepat 0,37 lambat 0,36 lambat 0,41 lambat 0,53 lambat 0,41 lambat 0,48 lambat 0,45 lambat 0,99 lambat 0,95 lambat Nias Selatan DLQ Laju 3,58 cepat 0,14 lambat 0,82 lambat 1,49 cepat 1,25 cepat 5,91 cepat 0,84 lambat 0,62 lambat 1,33 cepat 1,33 cepat 1,00 cepat 1,06 cepat 1,47 cepat 3,20 cepat 2,23 cepat Kabupaten/Kota Nias Utara Nias Barat Gunungsitoli DLQ Laju DLQ Laju DLQ Laju 0,92 lambat 1,06 cepat 1,13 cepat 0,62 lambat 0,68 lambat 1,20 cepat 0,80 lambat 0,77 lambat 1,15 cepat 1,60 cepat 0,68 lambat 0,92 lambat 0,63 lambat 0,63 lambat 0,76 lambat 2,06 cepat 2,99 cepat 1,41 cepat 0,54 lambat 0,75 lambat 0,60 lambat 0,52 lambat 0,45 lambat 0,32 lambat 0,69 lambat 0,74 lambat 0,65 lambat 0,85 lambat 0,82 lambat 0,78 lambat 0,81 lambat 0,71 lambat 0,58 lambat 0,81 lambat 0,74 lambat 0,67 lambat 0,77 lambat 0,71 lambat 0,77 lambat 1,36 cepat 1,24 cepat 2,27 cepat 1,44 cepat 1,59 cepat 2,04 cepat Kep. Mentawai DLQ Laju 0,98 lambat 0,57 lambat 0,39 lambat 1,17 cepat 5,32 cepat 0,96 lambat 1,26 cepat 0,71 lambat 0,78 lambat 1,19 cepat 2,95 cepat 0,43 lambat 0,07 lambat 0,49 lambat 1,12 cepat Sumber: Hasil Analisis Peneliti Analisis Typologi Klassen Pola dan struktur pertumbuhan sektor ekonomi daerah kepulauan di bagian barat Sumatera dijelaskan melalui hasil analisis Typologi Klassen sebagaimana ditunjukan pada table 14 dibawah ini. Gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan sektoral di daerah, dapat dipergunakan untuk memperkirakan prospek pertumbuhan ekonomi daerah pada masa mendatang dan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijaksanaan pembangunan daerah (Munandar & Wardoyo, 2. Supriyadi dkk. , 2. Kabupaten Simeulue sebagai bagian dari Propinsi Aceh, selama kurun waktu 2008-2022 rata-rata pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kabupaten Simeulue . sebesar 7,46 lebih kecil dari rata-rata pertumbuhan sektor yang sama tingkat Propinsi Aceh . sebesar 7,76 . i < g = 7,46 < 7,. dan rata-rata kontribusi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kabupaten Simuelue . sebesar 0,37 lebih besar dari rata-rata kontribusi sektor yang sama tingkat Propinsi Aceh sebesar 0,28 . i > s = 0,37 > 0,. Berdasarkan hasil analisis ini, maka sektor ini di Kabupaten Simeulue masuk dalam kategori daerah dengan sektor berkembang atau sektor maju tapi tertekan. Kabupaten Nias sebagai bagian dari Propinsi Sumatera Utara, selama kurun waktu 2008-2022 ratarata pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kabupaten Nias . sebesar 6,52 lebih kecil dari rata-rata pertumbuhan sektor yang sama tingkat Propinsi Sumatera Utara . sebesar 12,10 . i < g = ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 920 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . 6,52 < 12,. dan rata-rata kontribusi sektor ini pada Kabupaten Nias . sebesar 0,49 lebih besar dari ratarata kontribusi sektor yang sama tingkat Propinsi Sumatera Utara sebesar 0,22 . i > s = 0,49 > 0,. Berdasarkan hasil analisis ini, maka sektor ini di Kabupaten Nias masuk dalam kategori daerah dengan sektor berkembang atau sektor maju tapi tertekan. Kabupaten Nias Selatan sebagai bagian dari Propinsi Sumatera Utara, selama kurun waktu 20082022 rata-rata pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kabupaten Nias Selatan . sebesar 16,90 lebih besar dari rata-rata pertumbuhan sektor yang sama pada tingkat Propinsi Sumatera Utara . sebesar 12,10 . i > g = 16,90 > 12,. dan rata-rata kontribusi sektor ini di Kabupaten Nias Selatan . sebesar 0,47 lebih besar dari rata-rata kontribusi sektor yang sama pada tingkat Propinsi Sumatera Utara sebesar 0,22 . i > s = 0,47 > 0,. Berdasarkan hasil analisis ini, maka sektor ini di Kabupaten Nias Selatan masuk dalam kategori daerah dengan sektor maju dan tumbuh cepat. Kabupaten Nias Utara sebagai bagian dari Propinsi Sumatera Utara, selama kurun waktu 2008-2022 rata-rata pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kabupaten Nias Utara . sebesar 10,23 lebih kecil dari rata-rata pertumbuhan sektor yang sama tingkat Propinsi Sumatera Utara . sebesar 12,10 . i < g = 10,23 < 12,. dan rata-rata kontribusi sektor ini di Kabupaten Nias Utara . sebesar 0,56 lebih besar dari rata-rata kontribusi sektor yang sama tingkat Propinsi Sumatera Utara sebesar 0,22 . i > s = 0,56 > 0,. Berdasarkan hasil analisis ini, maka sektor ini di Kabupaten Nias Utara masuk dalam kategori daerah dengan sektor berkembang atau sektor maju tapi tertekan. Kabupaten Nias Barat sebagai bagian dari Propinsi Sumatera Utara, selama kurun waktu 2008-2022 rata-rata pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kabupaten Nias Barat . sebesar 9,96 lebih kecil dari rata-rata pertumbuhan sektor yang sama tingkat Propinsi Sumatera Utara . sebesar 12,10 . i < g = 9,96 < 12,. dan rata-rata kontribusi sektor ini di Kabupaten Nias Utara . sebesar 0,62 lebih besar dari rata-rata kontribusi sektor yang sama tingkat Propinsi Sumatera Utara sebesar 0,22 . i > s = 0,62 > 0,. Berdasarkan hasil analisis ini, maka sektor ini di Kabupaten Nias Barat masuk dalam kategori daerah dengan sektor berkembang atau sektor maju tapi tertekan. Kota Gunungsitoli sebagai bagian dari Propinsi Sumatera Utara, selama kurun waktu 2008-2022 rata-rata pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kota Gunungsitoli . sebesar 12,16 lebih besar dari rata-rata pertumbuhan sektor yang sama tingkat Propinsi Sumatera Utara . sebesar 12,16 . i > g = 12,16 > 12,. dan rata-rata kontribusi sektor ini di Kota Gunungsitoli . sebesar 0,14 lebih kecil dari rata-rata kontribusi sektor yang sama tingkat Propinsi Sumatera Utara sebesar 0,22 . i < s = 0,14 < 0,. Berdasarkan hasil analisis ini, maka sektor ini di Kota Gunungsitoli masuk dalam kategori daerah dengan sektor potensial atau masih dapat berkembang dengan pesat. Kabupaten Kepulauan Mentawai sebagai bagian dari Propinsi Sumatera Barat, selama kurun waktu 2008-2022 rata-rata pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kabupaten Kepulauan Mentawai . sebesar 11,63 lebih besar dari rata-rata pertumbuhan sektor yang sama tiingkat Propinsi Sumatera Barat . sebesar 10,05 . i > g = 11,63 > 10,. dan rata-rata kontribusi sektor ini di Kabupaten Kepulauan Mentawai . sebesar 0,50 lebih besar dari rata-rata kontribusi sektor yang sama tingkat Propinsi Sumatera Barat sebesar 0,24 . i > s = 0,50 > 0,. Berdasarkan hasil analisis ini, maka sektor ini di Kabupaten Kepulauan Mentawai masuk dalam kategori daerah dengan sektor maju dan tumbuh cepat. Tabel 14. Typologi Klassen Sektor Pertanian. Kehutanan dan Perikanan Pada Kabupaten/Kota Kepulauan Di Bagian Barat Sumatera. Tahun 2008-2022 Kabupaten Simeulue Kabupaten Nias Kabupaten Nias Selatan Kabupaten Nias Utara Kabupaten Nias Barat Kota Gunungsitoli Kabupaten Kepulauan Mentawai Pertumbuhan Kontribusi Prop Kab Prop Kab 11,90 10,10 0,25 0,40 8,84 7,10 0,25 0,40 Pertumbuhan Kontribusi Prop Kab Prop Kab 13,79 16,09 0,23 0,44 14,67 11,38 0,23 0,43 Pertumbuhan Kontribusi Prop Kab Prop Kab 5,52 16,09 0,23 0,27 11,38 120,67 0,23 0,54 Pertumbuhan Kontribusi Prop Kab Prop Kab 14,87 16,09 0,23 0,69 16,08 11,38 0,23 0,69 Pertumbuhan Kontribusi Prop Kab Prop Kab 12,44 16,09 0,23 0,73 14,27 11,38 0,23 0,73 Pertumbuhan Kontribusi Prop Kota Prop Kota 14,23 16,09 0,23 0,13 9,38 11,38 0,23 0,12 Pertumbuhan Kontribusi Prop Kab Prop Kab 17,80 15,10 0,24 0,56 12,63 5,77 0,24 0,55 6,63 3,90 0,25 0,38 16,08 -65,36 0,23 0,56 16,08 27,38 0,23 0,50 16,08 17,27 0,23 0,56 16,08 17,62 0,23 0,74 16,08 13,93 0,23 0,12 13,62 42,13 0,24 0,52 7,72 6,54 0,25 0,37 11,80 13,18 0,22 0,56 11,80 10,72 0,22 0,63 11,80 5,87 0,22 0,54 11,80 14,69 0,22 0,74 11,80 12,98 0,22 0,12 12,14 11,83 0,24 0,52 7,58 8,87 0,26 0,37 8,78 37,14 0,22 0,50 8,78 9,68 0,22 0,48 8,78 12,27 0,22 0,54 8,78 12,01 0,22 0,75 8,78 12,00 0,22 0,12 40,41 7,89 0,25 0,50 8,81 8,18 0,27 0,37 49,91 11,68 0,25 0,50 49,91 10,77 0,25 0,48 49,91 20,17 0,25 0,56 49,91 13,24 0,25 0,75 49,91 35,19 0,25 0,15 10,25 12,41 0,25 0,50 6,58 7,17 0,27 0,36 5,43 9,05 0,23 0,49 5,43 9,51 0,23 0,47 5,43 9,17 0,23 0,55 5,43 6,13 0,23 0,57 5,43 9,80 0,23 0,15 13,69 12,33 0,25 0,50 9,37 7,81 0,29 0,36 3,33 5,89 0,22 0,48 3,33 8,50 0,22 0,47 3,33 6,11 0,22 0,53 3,33 7,13 0,22 0,56 3,33 12,65 0,22 0,15 7,78 13,13 0,25 0,50 6,97 6,24 0,29 0,36 7,51 10,97 0,22 0,48 7,51 7,71 0,22 0,46 7,51 9,53 0,22 0,53 7,51 8,60 0,22 0,55 7,51 12,15 0,22 0,15 6,19 9,48 0,24 0,50 7,82 6,01 0,30 0,35 8,49 9,38 0,21 0,48 8,49 8,75 0,21 0,46 8,49 8,60 0,21 0,53 8,49 8,73 0,21 0,55 8,49 11,29 0,21 0,15 7,06 6,76 0,24 0,49 6,92 6,45 0,30 0,35 5,95 8,80 0,21 0,48 5,95 8,53 0,21 0,45 5,95 6,39 0,21 0,52 5,95 7,21 0,21 0,54 5,95 11,07 0,21 0,15 5,71 1,60 0,23 0,48 4,47 6,45 0,30 0,34 5,85 7,12 0,21 0,47 5,85 7,86 0,21 0,44 5,85 6,24 0,21 0,51 5,85 6,76 0,21 0,53 5,85 9,33 0,21 0,15 2,03 7,11 0,22 0,46 6,42 4,79 0,32 0,35 5,44 7,21 0,21 0,48 5,44 5,00 0,21 0,45 5,44 6,21 0,21 0,52 5,44 6,58 0,21 0,54 5,44 7,37 0,21 0,15 -0,68 4,26 0,22 0,49 7,88 6,59 0,30 0,35 9,49 5,11 0,22 0,48 9,49 3,48 0,22 0,45 9,49 5,61 0,22 0,52 9,49 6,06 0,22 0,54 9,49 3,63 0,22 0,15 1,46 4,69 0,22 0,49 12,05 12,09 0,29 0,36 15,99 9,22 0,23 0,49 15,99 9,43 0,23 0,45 15,99 9,12 0,23 0,53 15,99 7,95 0,23 0,54 15,99 7,36 0,23 0,15 10,25 10,46 0,21 0,48 Rata-Rata 7,76 7,46 0,28 0,37 12,10 6,52 0,22 0,49 12,10 16,90 0,22 0,47 12,10 10,23 0,22 0,56 12,10 9,96 0,22 0,62 12,10 12,16 0,22 0,14 10,05 11,63 0,24 0,50 Tahun ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 921 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . Sumber: Hasil Analisis Penelit Tabel 15. Matriks Typologi Klassen Sektor Pertanian. Kehutanan dan Perikanan Pada Kabupaten/Kota Kepulauan Di Bagian Barat Sumatera. Tahun 2008-2022 Kontribusi Sektoral Pertumbuhan Sektoral gi >= g MAJU si >= s Kab. Nias Selatan Kab. Kep. Mentawai POTENSIAL si < s gi < g BERKEMBANG Kab. Simeulue Kab. Nias Kab. Nias Utara Kab. Nias Barat TERBELAKANG Kota Gunungsitoli Sumber : Hasil Analisis Peneliti Berdasarkan hasil perhitungan Typologi Klassen masing-masing kabupaten/kota sebagimana pada tabel 14 diatas, ketujuh kabupaten/kota di bagian barat Sumatera terbagi dalam 3 kategori pola dan struktur pertumbuhan sektoral seperti ditunjukan pada tabel 15 dibawah ini. Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Kepulauan Mentawai masuk kategori sektor maju dan tumbuh cepat. Kabupaten Simuelue. Nias. Nias Utara, dan Nias Barat masuk kategori dengan sektor berkembang atau maju tapi tertekan. Kota Gungungsitoli dengan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebagai sektor non basis masuk pada kategori daerah dengan sektor potensial dalam arti masih dapat berkembang dengan pesat KESIMPULAN Hasil analisis LQ selama kurun waktu 2008-2022, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan pada daerah kabupaten/kota kepulauan di bagain barat Sumatera terbagi dalam dua kelompok sebagai sektor basis atau sebagai sektor non basis. Kelompok pertama, terdiri Kabupaten Simeulue. Kabupaten Nias. Kabupaten Nias Selatan. Kabupaten Nias Utara. Kabupaten Nias Barat dan Kabupaten Kepulauan Mentawai, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan adalah sebagai sektor basis ekonomi di masingmasing daerah dengan nilai LQ>1. Potensi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di enam kabupaten kepulauan ini sangat besar didukung dengan ketersediaan kawasan/lahan pertanian dan areal kehutanan yang masih luas serta wilayah pesisir dan perairan laut yang luas mengelilingi sebagian besar wilayah dari keeman kabupaten ini. Secara demografis, sebagian besar wilayah kabupaten didominasi oleh wilayah Meskipun sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di keenam kabupaten di bagain barat Sumatera sebagai sektor basis namun memiliki daya saing yang lemah sehingga produksinya masih belum mampu menenuhi kebutuhan lokal didaerah masing-masing serta belum mampu menjadi sektor keunggulan komparatif. Untuk memenuhi kekurangan kebutuhan tersebut dilakukan impor barang dan jasa kebutuhan dari luar daerah. Kelompok kedua adalah Kota Gunungsitoli dengan nilai LQ sektor pertanian, kehutanan dan perikanan kurang dari 1 (LQ < . selama kurun waktu yang sama, menjadikan sektor ini di Kota Gunungsitoli sebagai sektor non basis. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kota Gunungsitoli menjadi sektor unggulan ketiga setelah sektor perdagangan besar dan eceran serta sektor kontruksi. Dalam kurun waktu 2008-2022, hasil analisis DLQ kondisi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Simeulue sebagai sektor basis menunjukan kondisi laju pertumbuhan sektoral yang lebih konsisten sebagai sektor basis, dimana hampir setiap tahun mengalami laju pertumbuhan sektoral yang cepat. Ke depan sektor ini baik di Kabupaten Nias Selatan maupun di Kabupaten Simeulue masih terus mengalami penguatan sebagai sektor unggulan. Kondisi sebaliknya terjadi di Kabupaten Nias, dimana dalam kurun waktu yang sama hampir sepanjang waktu mengalami laju pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang melambat. Selama kurun waktu yang sama hanya sekali ANALISIS POTENSI SEKTOR PERTANIAN. KEHUTANAN DAN PERIKANAN A- 922 Telaumbanua et. al/ Jurnal Ilmiah Global Education 1 . mengalami laju pertumbuhan yang cepat, yaitu. pada tahun 2013. Kondisi ini menunjukan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Kabupaten Nias pada waktu yang akan datang dapat bergeser menjadi sektor non basis dan digantikan oleh sektor lain sebagai sektor utama andalan perekonomian. Sebagai wilayah yang sangat dekat berdampingan dengan wilayah Kota Gunungsitoli, pergeseran sektor basis perekonomian Kabupaten Nias pada masa yang akan datang dapat terjadi seiring dengan pengaruh atau imbas perkembangan Kota Gunungsitoli. Sementara laju pertumbuhan sektoral di Kabupaten Nias Utara. Nias Barat. Kota Gunungsitoli dan Kabupaten Kepulauan Mentawai relatif berfluktuasi dari sektor basis menjadi non basis dan kembali lagi sebagai sektor basis pada tahun-tahun berikutnya. Berdasarkan hasil analisis Typologi Klassen sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dapat dikelompokan pola dan struktur pertumbuhan sektoral ekonomi kedalam tiga kategori, yaitu. Kabupaten Nias Selatan dan Kepulauan Mentawai masuk kategori sektor maju dan tumbuh dengan cepat. Kabupaten Simeulue. Nias. Nias Utara. Nias Barat masuk dalam kategori sektor berkembang, sedangkan Kota Gunungsitoli masuk dalam kategori sektor yang potensial masih berkembang pesat. Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan hasil analisis potensi sektoral diatas, disarankan agar sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebagai sektor basis di Kabupaten Simeulue. Nias. Nias Selatan. Nias Utara. Nias Barat dan Kepulauan Mentawai menjadi sektor prioritas pengembangan dalam perencanaan pembangunan ekonomi daerah karena memiliki potensi sumberdaya yang relatif besar di daerahnya masing-masing. Hambatan terkait kesulitan/keterbatasan aksesibilitas daerah kepulauan yang terpisah jauh dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi regional dapat dikurangi dengan melakukan kerjasama antara pemerintah daerah kepulauan di bagain barat Sumatera untuk pembangunan infrastruktur dan suprastruktur ekonomi regional atau kawasan daerah kepulaun bagian barat Sumatera. Sebagai daerah yang memiliki potensi perekonomian yang besar, pergeseran sektor pertanian, kehutanan dan perikanan kearah pengembangan sektor industri pengelolahan, sektor perdagangan besar dan eceran di Kota Gunungsitoli. Kabupaten Nias. Kabupaten Nias Selatan dan Kepulauan Mentawai agar diberikan dukungan dan keberpihakan kebijakan yang konstruktif. DAFTAR PUSTAKA