Asatiza: Jurnal Pendidikan Vol. 3 No. Asatiza :Jurnal Pendidikan P-ISSN: 2721-0723 | E-ISSN: 2716-3202 https://ejournal. stai-tbh. id/index. php/asatiza Nilai-nilai Pendidikan Toleransi dalam Kegiatan Bau Al-MasAil di Pesantren Tradisional *Habib Maulana Maslahul Adi1, a Pendidikan Bahasa Arab. UIN Sunan Kalijaga. Sleman. Yogyakarta. Indonesia maslahulhabib@gmail. INFORMASI ARTIKEL Histori Artikel: Diterima : 03/12/2021 Direvisi : 09/01/2022 Disetujui : 10/01/2022 Diterbitkan : 31/01/2022 Keywords: Islamic Boarding School. Tolerance. Bahtsul Masail Kata Kunci: Pesantren. Toleransi. Bau Al-MasAil DOI: https://doi. org/10. *Correspondence Author: maslahulhabib@gmail. Abstract This study aims to reveal the educational value of tolerance contained in bau al-masAil activities in traditional Islamic boarding schools. This research is a qualitative descriptive study which took place at the Pesantren Al-Anwar in Rembang and the Pesantren Al-Luqmaniyyah in Yogyakarta, with the object of research being the students from the pesantren who actively participated in the bau al-masAil forum. Data collection techniques used are interviews and documentation. The results of the study indicate that there are at least four values of tolerance education in ba almasAil activities, namely: mutual respect for the opinions of others shown by the bau al-masAil participants. helping fellow participants in finding 'ta'br related to the problem being discussed from the reference book. upholding peace after leaving the baul masAil arena which is full of and justice realized by the moderator in leading the bau al-masAil Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menyingkap nilai pendidikan toleransi yang terkandung dalam kegiatan bau al-masAil di pondok pesantren Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertempat di pesantren Al-Anwar Rembang dan pesantren AlLuqmaniyyah Yogyakarta, dengan objek penelitian para santri dari pesantren tersebut yang aktif mengikuti forum bau al-masAil. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat setidaknya empat nilai pendidikan toleransi dalam kegiatan bau al-masAil, yaitu saling menghormati pendapat orang lain yang ditunjukkan oleh para peserta bau al-masAil. tolong menolong antar sesama peserta dalam mencari AotaAobr terkait permasalahan yang sedang dibahas dari kitab rujukan. tinggi perdamaian setelah keluar arena bauul masAil yang sarat akan serta keadilan yang direalisasikan oleh moderator dalam memimpin jalannya forum bau al-masAil. Cara mensitasi artikel: Adi. Nilai-nilai pendidikan toleransi dalam kegiatan Bau Al-MasAil di pesantren Asatiza: Jurnal Pendidikan, 3. , 20-32. https://doi. org/10. 46963/asatiza. PENDAHULUAN Diskursus tentang pluralisme dan multikulturalisme terus mengemuka dan berkembang di negeri ini sejak Berkenaan dengan hal itu, sikap toleran dalam bersosial menjadi sikap yang sangat Lantaran sikap toleran sendiri dianggap bisa dijadikan sebagai penjaga keutuhan integrasi bangsa yang mudah terpecah-belah. Integrasi bangsa yang selama ini dibangun di atas landasan Editorial Address: Kampus STAI Auliaurrasyidin Tembilahan Jl. Gerilya No. 12 Tembilahan Barat. Riau Indonesia 29213 Mail: asatiza@stai-tbh. | 20 Nilai-nilai Pendidikan Toleransi dalam Kegiatan Bau Al-MasAil di Pesantren Tradisional Habib Maulana Maslahul Adi politik budaya yang cenderung senada, tak jarang dipandang tak lagi relevan dengan kondisi dan semangat demokrasi global. (Maksum, 2. Wacana bukanlah berasal dari dunia Islam, juga bukan pesantren, melainkan dari dunia Barat. Seiring pengetahuan, wacana ini berkembang pesat dan merambah hampir setiap jengkal wilayah di berbagai belahan bumi. Namun demikian, bukan berarti pluralisme itu menjadi properti Barat dan tidak terjadi di dunia Islam, khususnya pesantren. Faktanya, interaksi dan keragaman yang tumbuh dan berkembang dalam ranah pesantren kontemporer turut mendukung terpeliharanya perdamaian di Indonesia. (Harun, 2. Islam sendiri tidak hanya mengajarkan untuk affirmative terhadap kebhinnekaan, tetapi juga mengharuskan untuk melakukan interaksi keragaman . aAoAra. sebagai salah satu ciri orang Merujuk Indonesia terbangun atas keragaman yang tersebar mulai Sabang hingga Merauke. Keanekaragaman suku, adat-istiadat, budaya, bahasa, agama dan lain-lainnya membentuk satu kesatuan yang tak terpisahkan menuju satu tujuan: Bhinneka Tunggal Ika. Keragaman tersebut merupakan hal yang natural, niscaya dan tak dapat dielak. Barang siapa mengabaikannya, maka sama dengan mengabaikan kemanusiaan itu sendiri. (Harun, 2. Sehingga, setiap individu, kelompok maupun golongan di Indonesia harus mengakui eksistensi keberagaman, serta menyelaraskan diri di tengah keberagaman tersebut. Keanekaragaman | 21 ini bisa menjadi harmoni kekayaan yang memesona, namun di sisi lain juga bisa menjadi buah simalakama. Karena persinggungan dan interaksi antara yang kelompok satu dengan kelompok lain tidak selalu harmonis, maka serangkaian konflik horizontal di Indonesia kerap terjadi dipicu isu-isu etnis, ras, dan agama. (Harun, 2. Di sinilah letak posisi dan peran strategis pesantren. Sebagai subkultur masyarakat, tentunya pesantren tidak bisa terlepas dari realita homogenitas. Pesantren disebut sebagai sebuah mengimplementasikan tata kehidupan yang cukup unik. Selain adanya faktor kepemimpinan kiai, keunikan yang dimaksud juga terletak pengajaran kitab kuning, baik yang disusun oleh intelektual muslim Arab maupun yang ditulis oleh intelektual muslim Nusantara. (Wahid, 2. Sebagai prototipe masyarakat, pesantren juga tidak mungkin bisa mengurung diri akan adanya pertentangan atau sekadar perbedaan yang senantiasa meliputi, baik individu maupun golongan. Kebinekaan yang senantiasa melingkupi pesantren pun menjadi modal utama dalam proses moderasi dan toleransi para Para santri terlanjur terbiasa dengan adanya perbedaan atau ikhtilAf, hal ini terwujud dari tradisi pengajian pesantren dengan kitab kuningnyaAeyaitu buku berisikan keilmuan Islam yang ditulis dengan bahasa Arab tanpa tanda baca . yakl/harakA. Aeyang dalam disiplin ilmu Asatiza: Jurnal Pendidikan Vol. 3 No. This is an open access article under CC by SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Nilai-nilai Pendidikan Toleransi dalam Kegiatan Bau Al-MasAil di Pesantren Tradisional Habib Maulana Maslahul Adi fikih maupun tata bahasa Arab sekali pun selalu terdapat perbedaan pendapat di (Ratnasari, 2. Muatan yang terkandung dalam pembelajaran kitab kuning itulah yang kemudian membentuk para intelektual jebolan pesantren terbiasa dengan adanya ikhtilAf ar-raAoy . erbedaan pendapa. , sebagaimana yang terjadi dalam forum bau al-masAil. (Marom. Dalam khazanah Islam, ikhtilAf atau perbedaan pendapat mengenai suatu masalah sudah dihadapi sehari-hari. Bahkan bagi kaum santri, yang biasa membaca kitab terkait ilmu fikih, barang tentu menjumpai pernyataan-pernyataan yang mengindikasikan adanya perbedaan Misalnya ialah redaksi Aoinda jumhr AoulamAAo . enurut mayoritas ulam. Aoinda an-NawAw . enurut Imam Nawaw. , inda al-RAfiAo . enurut Imam RafiAo. , atau dalam disiplin hadis secara tegas dikatakan ikhtilAf baina al-AoruwAh . erdapat perbedaan di antara para peraw. , dan lain sebagainya. (Maknun, 2. Perbedaan pendapat sejatinya tidak terjadi sekarang-sekarang saja. Lebih jauh dari itu, perbedaan pendapat juga terjadi pada masa Sahabat Nabi Saw. Antara ImAm Ab anfah dan ImAm MAlik pun terjadi banyak sekali perbedaan pendapat. Bahkan disebutkan bahwa di antara keduanya terdapat sekitar 14. 000 masalah dengan pendapat yang berbeda. Demikian pula ImAm Aumad ibn anbal dan gurunya. ImAm SyAfiAo. Meskipun mereka berbeda pendapat, tetapi tidak saling memusuhi, tidak pernah saling mencacimaki, tidak berburuk sangka dan tidak pernah saling menyesatkan satu sama lain. Ini adalah akhlak dan etika dalam menyikapi perbedaan yang dijadikan pedoman oleh masyarakat kalangan (Masduqi, 2. Hampir dalam setiap persoalan fikih terdapat perbedaan pendapat, terlebih yang berkaitan dengan kehidupan sosial atau muAoAmalah. Ada menganggap bahwa perbedaan pendapat atau pandangan merupakan sumbu permulaan konflik, sebaliknya ada pula yang memandangnya sebagai rahmat dan kemaslahatan bagi IkhtilAf tak ubahnya seperti pisau, apabila dipegang mata pisaunya maka menjadi penyebab tangan berdarah, tetapi apabila dipegang gagangnya maka akan memberi kemanfaatan. (Marom. Perbedaan pendapat memang tak jarang menjadi penyebab lahirnya Tetapi jika perbedaan pendapat itu dapat dikelola dengan apik, maka dapat menghasilkan konsensus Secara tidak langsung, perilaku pandangan kedua, yang mana ikhtilAf arraAoyi perlu dikelola supaya dapat mendatangkan kemanfaatan bersama. Hal tersebut dapat dijumpai pada tradisi intelektual mereka dalam tradisi bau almasAil, juga dalam kegiatan yang informal Bau al-masAil sendiri disebut sebagai salah satu sistem pembelajaran yang diterapkan di pesantren untuk mencetak santri-santri yang berwawasan Dalam forum bau al-masAil para santri diperbolehkan untuk menggali pendapat dari berbagai mazhab atau aliran, serta pandangan yang bersumber dari ulama klasik maupun kontemporer. Irwan Masduqi menambahkan, bahwa dari Asatiza: Jurnal Pendidikan Vol. 3 No. This is an open access article under CC by SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. | 22 Nilai-nilai Pendidikan Toleransi dalam Kegiatan Bau Al-MasAil di Pesantren Tradisional Habib Maulana Maslahul Adi kegiatan tersebutlah wawasan santri dapat semakin luas, semakin komprehensif dan dapat memandang suatu kejadian dari berbagai perspektif dan sudut pandang. Berangkat dari perspektif yang luas itu, santri dapat menyikapi problem sosial yang terjadi di masyarakat dengan arif dan bijaksana, tidak dengan sikap radikal yang mudah menyalahkan, tetapi dengan perspektif yang moderat. (Masduqi, 2. Berangkat dari latar belakang tersebut, penelitian ini diarahkan untuk nilai-nilai toleransi yang terkandung dalam kegiatan bau al-masAil di pondok pesantren Di samping menghasilkan pengetahuan deskriptif, penelitian ini juga memberikan kontribusi akademis berupa pengetahuan perilaku inklusif, sikap toleran yang diimplementasikan melalui kegiatan bau al-masAil di pondok pesantren tradisional. Sebenarnya kajian tentang bau al-masAil atau musyawarah memang telah banyak dilakukan, baik dari kalangan internal pesantren. Nahdlatul Ulama, maupun kalangan di luar pesantren dan NU. Akan tetapi, berdasarkan penelusuran yang telah dilakukan oleh peneliti, belum ada yang mengangkat nilai-nilai terkandung dalam kegiatan bau al-masAil di pondok pesantren tradisional. METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, karena bermaksud menggambarkan, mengungkapkan dan menjelaskan nilai-nilai toleransi yang terkandung dalam kegiatan bau al-masAil di pondok pesantren tradisional, yang diketahui lulusannya telah menjadi manusia yang memegang nilai-nilai | 23 Misalnya ialah dipegangnya nilai keterbukaan, toleransi, dan bersatu dalam perbedaan (MaAoarif, 2. , lagi juga nilai demokrasi, kesetaraan, keadilan, dan nilai kasih sayang (Zamani & Ilahiyah, 2. Adapun penamaan penelitian deskriptif, karena tujuannya ialah mengungkap gambaran mengenai situasi atau kejadian (Nazir, 2. Objek penelitiannya adalah para Santri maupun alumni pondok pesantren tradisional yang aktif mengikuti forum bau al-masAil. Baik forum bau al-masAil internal di pesantren maupun forum bau al-masAil eksternal yang diadakan oleh lembaga di luar pesantren. Pesantren Al-Anwar Rembang Al-Luqmaniyyah Yogyakarta yang aktif menyelenggarakan bau al-masAil internal dan mengikuti bau al-masAil eksternal dipilih menjadi sampel penelitian ini. Data diperoleh melalui wawancara mendalam . n-depth intervie. dan sumber dokumentasi. Dilakukannya wawancara mendalam menggunakan patokan pada interview guide atau daftar pertanyaan yang bersifat terbuka supaya mendapatkan jawaban yang mendalam. Adapun narasumbernya ialah Ahmad Fairuz Baraya dari pesantren AlLuqmaniyyah Yogyakarta dan Aufan Nawal dari pesantren Al-Anwar Rembang, yang mana keduanya sama-sama aktif mengikuti forum bau al-masAil pesantren Jawa-Bali. Sedangkan informasi berkenaan dengan data sekunder, yaitu terkait sistem pendidikan serta penanaman sikap toleransi yang terjadi di pesantren tradisional. Dokumen Asatiza: Jurnal Pendidikan Vol. 3 No. This is an open access article under CC by SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Nilai-nilai Pendidikan Toleransi dalam Kegiatan Bau Al-MasAil di Pesantren Tradisional Habib Maulana Maslahul Adi yang dimaksud ialah sumber buku, hasil penelitian terdahulu, serta sumber internet. Analisis data mengisyaratkan pada kegiatan mengorganisasikan data ke dalam untuk mencapai efektivitas dalam menginterpretasikan Data dikelompokkan sesuai dengan susunan sajian data yang diperlukan supaya dapat menjawab permasalahan, (Faisal, 2. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik analisis induktif, yakni analisis yang didasarkan dari data dan menghasilkan kesimpulan umum. Kesimpulan umum yang dimaksud dapat berupa kategorisasi maupun proposisi. (Bungin, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Bau al-masAil di kalangan NU diyakini menjadi tradisi pemikiran yang telah lama tumbuh, bahkan diperkirakan bahwa forum ini sudah ada di Indonesia sebelum NU dibentuk. Martin Van Bruinessen menyatakan bahwa tradisi bau al-masAil yang menjadi tradisi kalangan orang NU tidaklah murni hasil gagasan para kiai-kiai NU. Jauh sebelum bau al-masAil mentradisi di kalangan NU, telah ada dan berkembang di Tanah Suci tradisi yang disebut dengan ualaqah. Menurutnya, bau al-masAil hanyalah tradisi yang diimpor dari Tanah Suci. Para santri Indonesia yang belajar di Tanah Suci, sepulang dari sana mereka menyebarkan agama Islam melalui lembaga pendidikan yang disebut pesantren sekaligus mengadopsi sistem ualaqah dalam mengkaji persoalanpersoalan yang terjadi di masyarakat. (Bruinessen, 1. Bermodal sistem ualaqah dari Tanah Suci, forum bau al-masAil terus diimplementasikan dan dikembangakan oleh kalangan pesantren. Sehingga bisa dikatakan bahwa pesantren beserta kiainya ualaqah untuk memperoleh hukum dari kitab-kitab kuning yang dipelajari, jauh sebelum NU berdiri. Forum ini terus berkembang dan dilaksanakan di dalam organisasi NU. Berkembangnya forum bau al-masAil dalam tubuh NU bukanlah hal yang mengherankan, karena hampir semua perangkat metodologi, referensi . arAjiA. , serta sistem ualaqah yang digunakan dalam pembahasan bau almasAil di NU, sama persis dengan yang diimplementasikan oleh para santri di pondok pesantren. (Nasih, 2. Dengan begitu bisa dikatakan bahwa bau al-masAil yang ada di dalam NU sejatinya merupakan panjang tangan dari bau al-masAil yang ada di dalam Sebagaimana bahwasanya dalam pesantren biasanya terdapat suatu forum yang disebut dengan Forum ini diadakan dalam rangka memberi kesempatan bagi santri untuk mendiskusikan dan mendalami materi yang sudah dipelajari sebelumnya. Selain itu, lebih luasnya, forum tersebut juga dimanfaatkan untuk mencari jawaban atas permasalahan yang terjadi di tengahtengah masyarakat ditinjau dari sisi (SaAodoellah, 2. Antara bau al-masAil pesantren dan NU, secara umum pelaksanaannya tidak terdapat perbedaan. Hal ini lantaran peserta bau al-masAil yang ada di NU hampir bisa dipastikan seorang intelektual alumni pesantren, atau setidaknya pernah Asatiza: Jurnal Pendidikan Vol. 3 No. This is an open access article under CC by SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. | 24 Nilai-nilai Pendidikan Toleransi dalam Kegiatan Bau Al-MasAil di Pesantren Tradisional Habib Maulana Maslahul Adi merasakan pendidikan pesantren. Hanya saja karena para pembahas dalam bau almasAil NU kebanyakan memiliki jam terbang, pengalaman, serta interaksi dengan masyarakat lebih banyak, maka bau al-masAil di NU cenderung lebih kuat dari segi analisis ketimbang bau almasAil di pesantren. Sehingga wajar saja jika pisau analisis yang ada di NU kerap kali lebih tajam, serta referensi yang dipakai lebih banyak. Meski demikian referensi yang digunakan sebagai rujukan di pesanten maupun NU tidaklah jauh (Nasih, 2. Aufan Nawal, tenaga pengajar di Madrasah Muhadharah PP Al-Anwar, menyebutkan bahwa proses pelaksanaan bau al-masAil di internal pesantren memang tidak serumit dan tidak sesistematis proses pelaksanaan forum bau al-masAil yang diadakan oleh LBM NU pada umumnya. Akan tetapi mempertahankan argumentasi para santri dalam kegiatan bau al-masAil di internal pesantren tak kalah sengit dengan panasnya perdebatan dalam forum LBM NU yang diikuti oleh para pakar hukum Islam (Kia. Adapun penjelasan terkait nilai berbasis masalah atau yang dikenal oleh kalangan pesantren tradisional dengan istilah bau al-masAil ialah, sebagai Tolong-menolong Buya Hamka pentingnya sikap saling tolong-menolong, karenaAemenurut beliauAeamal saleh tidak terbatas pada ranah ibadah semata, | 25 melainkan juga pada ranah sosial. Salah satunya adalah sikap saling tolongmenolong. Keragaman yang tidak bisa membangun persaudaraan. Artinya, salah persaudaraan adalah melalui interaksi kesalehan sosial yang dimanifestasikan melalui sikap saling tolong-menolong dalam masyarakat plural. Hal iniAemenurut pandangan Buya HamkaAemenunjukkan betapa pentingnya sikap saling tolongmenolong dalam lingkungan masyarakat untuk mewujudkan sikap kesalehan sosial. (Hamka, 1. Terkait sikap tolong-menolong yang dijumpai dalam kegiatan bau al-masAil. Aufan mengungkapkan bahwa tinggi rendahnya tensi perdebatan sebenarnya tergantung seberapa rumit permasalahan yang sedang dikaji, juga seberapa dalam peserta atau mubAuin mempersiapkan diri sebelum memasuki arena bau almasAil. Maka penting bagi para peserta atau mubAuin untuk saling bekerja sama dalam mempersiapkan diri, supaya ketika datang ke arena bau al-masAil tidak dalam keadaan kosong dan tanpa bekal argumen sedikit pun. Di samping itu. Fairuz Baraya, pengajar di Pondok Pesantren AlLuqmaniyyah Yogyakarta menuturkan bahwa kegiatan bau al-masAil yang dilangsungkan setiap minggu sekali, setiap Senin Malam, di Pondok Pesantren AlLuqmaniyyah Yogyakarta ternyata juga mampu meningkatkan minat dan motivasi para santri untuk belajar. Sebagai bentuk persiapan sebelum melenggang ke arena diskusi, para santri hampir dipastikan telah mempelajari tema yang akan dibahas dari Asatiza: Jurnal Pendidikan Vol. 3 No. This is an open access article under CC by SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Nilai-nilai Pendidikan Toleransi dalam Kegiatan Bau Al-MasAil di Pesantren Tradisional Habib Maulana Maslahul Adi berbagai sumber. Sering kali para santri membentuk ualaqah atau kelompokkelompok kecil demi mempermudah dan mempercepat proses belajar . , serta proses pencarian dan pemahaman dalil dari kitab-kitab muAotabarAt. Lebih lanjut. Fairuz menyatakan bahwa selain untuk menyeimbangkan kemampuan santri yang jelas tak sama dalam memahami teks kitab kuning, ualaqah atau kelompok-kelompok kecil itu juga menjadi sarana bagi para santri untuk mengimplementasikan konsep tolong-menolong dalam kebaikan. Atau istilahnya. AuTaAoAwun AoalA al-Birr wa alTaqwAAy. Unsur tolong-menolong yang terkandung dalam toleransi ini dapat menjadi modal awal bagi para santri untuk nilai-nilai Tolong-menolong kebaikan itu merupakan bagian dari yang diperintahkan Allah dalam rangka menjaga hubungan antar sesama hambaNya. Allah berfirman dalam Al-Quran surah Al-Maidah . ayat 2: e a a aa a e e a a aa aa aa e ca AOI eO EO E a aIA AOI eO EO E a a aOEC OOn OE A AOA a e a e a a AN a ac NA a ca a a e a a AA a AIn OCO cEEA a AI cEE aO E aCA a AOEOA Artinya: AuDan tolong-menolonglah kamu dalam . kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh. Allah sangat berat siksaan-Nya. Ay [Q. AlMaidah . : . Temuan tersebut juga didukung menyatakan bahwa bau al-masAil, dalam hal ini ialah penerapan metode pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning (PBL) memang meningkatkan motivasi belajar peserta didik pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam. (Novita. Syaifullah, & Hadi, 2. Berlaku Adil Buya Hamka menerangkan bahwa keadilan merupakan komponen inti untuk membangun hubungan yang baik dalam Keadilan di sini mencakup keadilan dalam pergaulan hidup di Maka, dalam hal ini dengan berbagai perbedaan praktik ritual peribadatan tidak menjadikan hubungan sosial masyarakat harus terusik. Buya Hamka menambahkan bahwa membangun hubungan yang baik, bersikap adil dan menjaga umat beragama lain dari gangguan kelompok lain yang dapat merusak ketenangan bersama adalah menjadi tanggung jawab bersama. (Hamka, 1. Terkait terkandung dalam kegiatan bau al-masAil ditunjukkan oleh sikap moderator dalam memimpin jalannya diskusi. Moderator harus mampu membawa suasanya diskusi supaya tetap terkesan menarik, juga berlaku adil dengan memberikan kesempatan menyampaikan pendapat dengan porsi yang sama. Sehingga semua peserta tetap diberikan kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya, asalkan didukung dengan taAobr yang jelas. Uraian tersebut menunjukkan bahwa perilaku adil memang ditunjukkan oleh moderator dalam memimpin jalannya bau al-masAil. Semua peserta diberikan Asatiza: Jurnal Pendidikan Vol. 3 No. This is an open access article under CC by SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. | 26 Nilai-nilai Pendidikan Toleransi dalam Kegiatan Bau Al-MasAil di Pesantren Tradisional Habib Maulana Maslahul Adi menyanggah pendapat peserta lain yang dianggap kurang sesuai, tanpa memihak pihak mana pun. Sehingga, sadar atau pun ditanamkan kepada santri adalah suatu yang niscaya. Perilaku tersebut sesuai dengan pernyataan Quraish Shihab, bahwasanya dalam menegakkan keadilan tidak ada unsur lain yang dapat menghalangi untuk bersikap adil. Bahkan kebencian sekali pun tidak bisa dijadikan alasan untuk kebencian tersebut mengarah kepada yang berbeda agama. Jika ditarik ke cakupan yang lebih luas, hal ini merupakan ramburambu bagi manusia agar selalu menegakkan keadilan untuk menghindari adanya diskriminasi dan kezaliman. Tidak hanya sebatas perbedaan agama, tetapi juga menyangkut ranah sosial lainnya. Keadilan perlu selalu ditegakkan, kapan pun, di mana pun, dan kepada siapa pun. Keadilan merupakan sebuah upaya untuk membangun sendi kehidupan masyarakat yang adil antar sesama. (Shihab, 2. Perintah untuk bersikap adil dalam artian tidak condong ke pihak mana pun ini sejatinya telah difirmankan Allah dalam Al-Quran surah Al-Maidah ayat 8: ca a a a a ca a a AcEE a aN aA a a AaO OacN E aOI aIIO EOIO CacO aIOIA a e a caa a a a a a a a ca e a a oAaE aC e an aOE O a aIIE eI II C eO sI E O E aEOA ca a a e a a a a e UAcEE aOA a ca AcEEo uacIA a ca AE eC aO On aOac aCOA A aEO NO C aEA a a ea a AaI aIEOIA Artinya: "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang | 27 yang selalu menegakkan . karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, membuatmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu " [Q. Al-Maidah . : . Saling menghormati Membangun hubungan baik itu tidak terbatas pada lingkungan Islam semata, tetapi juga harus diterapkan dalam ranah agama yang plural. Buya Hamka memberikan penekanan untuk saling Yakni untuk membangun lingkungan agama yang plural, meskipun dengan orang yang beragama lain, terlebih terhadap pemeluk agama yang sama. Maka dari itu, sikap saling menghormati merupakan salah satu jalan untuk menjalin persaudaraan tersebut. (Hamka, 1. Ajaran Islam yang berpangkal pada ketauhidan memberikan tuntunan agar menumbuhkan rasa hormat kepada orang yang memeluk agama lain. Dengan tegas Buya Hamka menuturkan bahwa hal tersebut berpedoman dari Al-Quran. Menghormati merupakan bagian dari toleransi, dan bagian dari Islam yang wajib diteladani oleh umat Islam. (Hamka, 2. Terkait sikap saling menghormati yang dijumpai dalam kegiatan bau almasAil. Aufan menuturkan bahwasanya mempertahankan argumen, tidak ada satu pun peserta yang dengan sengaja menganggap remeh pendapat peserta yang Hal ini juga didukung dengan sikap Asatiza: Jurnal Pendidikan Vol. 3 No. This is an open access article under CC by SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Nilai-nilai Pendidikan Toleransi dalam Kegiatan Bau Al-MasAil di Pesantren Tradisional Habib Maulana Maslahul Adi moderator dalam memimpin jalannya bau al-masAil. Uraian tersebut memberikan isyarat bahwa sikap saling menghormati memang benar-benar ditanamkan dalam proses bau al-masAil. Sikap saling menghormati ini ditunjukkan dengan cara menyimak bau al-masAil . ubAui. berseberangan dengan pendapat pribadi, tanpa adanya rasa untuk meremehkan. Sikap saling menghormati pendapat orang lain merupakan salah satu unsur yang harus terpenuhi untuk mewujudkan sebuah Sebagaimana maklum, bahwasanya pengimplementasian sistem bau almasAil, dalam hal ini ialah penerapan model pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning (PBL) menguatnya sikap toleransi peserta didik, di antara sikap toleransi yang diwujudkan ialah penerimaan terhadap konsep perbedaan, menguatnya sikap inklusif dalam bermazhab, serta menguatnya sikap toleran dalam berinteraksi sosial. Meski demikian, model pembelajaran berbasis masalah ini bukanlah satu-satunya faktor yang mendorong sikap toleransi, tetapi masih terdapat berbagai faktor lain yang tak dapat terelakkan perannya. (Aliyah. Penghormatan kepada orang lain memang bukanlah sekadar melakukan pembiaran atas perilaku orang lain. Tetapi lebih baik dari itu. Allah secara tegas hamba-Nya membalas penghormatan orang lain dengan penghormatan yang lebih baik a ca e a a a a a a a AaO au aOO eI a aacO s A acOO a a aI aII aN eO aONA a a a ca ca U AI a aEO aEE a eO aA AOA AauI cEE EA a s Artinya: AuApabila kamu diberi Maka penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu . engan yang serup. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. Ay [Q. An-Nisa . : . Menjunjung tinggi perdamaian Memberantas segala pertikaian dan kejahatan dalam masyarakat dengan memiliki rasa tanggung jawab akan memberikan rasa saling memiliki dan Untuk suasana yang rukun, dicontohkan oleh Buya Hamka dengan penengah dalam suatu pertikaian, sebagai upaya untuk mencari jalan kedamaian. Karena dalam keadaan yang damai, maka akan tercipta keharmonisan dalam masyarakat. (Hamka. Misi utama dari agama Islam sendiri adalah perdamaian. Peperangan yang dilakukan umat Islam pada masa silam melainkan untuk melindungi diri dari orang yang memusuhi Islam. Oleh karenanya, umat Islam harus bersatu untuk menjaga agamanya. Akan tetapi jika musuh memilih untuk berdamai, maka damailah yang menjadi jalan utama. Buya Hamka juga menambahkan, bahwa dengan berdamai tidak sedikit pun murAoah Islam berkurang. (Hamka, 1. Terkait kegiatan bau al-masAil, perlu diketahui bahwa ualaqah atau kelompok-kelompok kecil sebenarnya Asatiza: Jurnal Pendidikan Vol. 3 No. This is an open access article under CC by SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. | 28 Nilai-nilai Pendidikan Toleransi dalam Kegiatan Bau Al-MasAil di Pesantren Tradisional Habib Maulana Maslahul Adi tidak berhenti pada ranah persiapan saja, melainkan dalam pelaksanaan bau almasAil para santri tetap berkelompok sebagaimana kelompok belajarnya. Fairuz berpendapat, bahwa di satu sisi hal ini memang terkesan menjadi dilema dalam pelaksanaan bau al-masAil, karena para santri membentuk Aukelompok kanan dan kelompok kiriAy. Sehingga perdebatan yang tidak hanya melibatkan pendapat tetapi juga melibatkan kelompoknya ini dikhawatirkan akan membuat sikap bersitegang dan berselisih terbawa hingga keluar forum. Akan tetapi kekhawatiran ini segera disanggah oleh Fairuz, beliau menuturkan bahwa perselisihan hanya akan bertahan sampai kegiatan bau al-masAil usai. Begitu moderator menutup kegiatan bau al-masAil dan peserta keluar dari forum, para santri akan melakukan hubungan sosial sebagaimana mestinya dan seakan tidak ada perbedaan diantara mereka, meski sebelumnya mereka berselisih di dalam forum. Sikap santri tersebut menunjukkan bahwa melalui kegiatan bau al-masAil para santri sudah dibiasakan untuk menjunjung tinggi Sikap menjunjung tinggi perdamaian merupakan sikap yang harus dipegang para santri untuk menerapkan sikap toleran. Hal pembelajaran berbasis masalah memang berpengaruh terhadap sikap sosial peserta didik yang menjadi semakin baik. Sikap sosial yang dimaksud ialah menerima pendapat orang lain, tidak memaksa orang lain untuk menerima pendapatnya, | 29 pertentangan pendapat, serta mampu bekerja sama dengan orang lain yang berbeda status sosial, suku, dan agamanya. (Lestari. Nurmilawati, & Santoso, 2. Berkaitan toleransi. Kiai Ade Supriyadi, pengajar di Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah Yogyakarta, menyebut bahwa pendidikan toleransi sejatinya tidak cukup dalam tataran teoretis saja, lebih penting dari itu adalah dalam tataran praktis. Karena melalui praktik dan modelling atau uswah, sikap toleran akan menjadi kebiasaan bagi para santri. Pendidikan toleransi di sini mempersiapkan para santri dalam menyikapi perbedaan akidah saja. Lebih utamanya adalah untuk mempersiapkan para santri supaya mampu menyikapi segala perbedaan yang terjadi di masyarakat, setelah mereka terjun langsung menjadi bagian masyarakat yang adil dan beradab. Perilaku untuk menjunjung tinggi perdamaian ini merupakan cerminan dari firman Allah Swt. dalam Al-Quran surah Al-Hujurat ayat 10: aa a e a e a a a aea a e aa Ua e a a e e aa AauII E aI aIIOI auO AA aEO OI OOEIo OCOA a a a a a a a caa AcEE e eI e aIOIA Artinya: "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah . erbaikilah hubunga. antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat " [Q. Al-Hujurat . : . SIMPULAN Bau al-masAil sejatinya merupakan suatu forum yang ditujukan untuk membahas dan memecahkan masalah Asatiza: Jurnal Pendidikan Vol. 3 No. This is an open access article under CC by SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Nilai-nilai Pendidikan Toleransi dalam Kegiatan Bau Al-MasAil di Pesantren Tradisional Habib Maulana Maslahul Adi yang sedang dihadapi supaya tetap berjalan dalam koridor hukum Islam. Sedangkan bau al-masAil di pesantren cenderung bertujuan untuk membiasakan para santri supaya mampu memahami teks sekaligus sebagai sarana untuk melatih para santri tentang cara mengungkapkan argumentasi ilmiahnya dalam suatu forum. Akan tetapi apabila dilihat dari proses berlangsungnya kegiatan bau al-masAil, ternyata terkandung nilai-nilai pendidikan toleransi yang bisa dijadikan sebagai bekal bagi para santri untuk berkehidupan sosial di masyarakat. Setelah melakukan penelitian, penulis menemukan nilai-nilai pendidikan toleransi yang terkandung dalam proses kegiatan bau al-masAil. Pertama, sikap saling menghormati pendapat orang lain yang ditunjukkan oleh para peserta bau al-masAil . ubAui. Mereka tetap menghormati pendapat peserta lain, meski tidak jarang pendapat yang lain itu berseberangan dengan pendapat pribadinya. Kedua, sikap adil yang ditunjukkan oleh moderator dalam memimpin jalannya bau al-masAil. Moderator kesempatan yang sama kepada setiap peserta untuk menyampaikan pendapat maupun menyanggah pendapat yang lain, tanpa adanya kecenderungan ke pihak mana pun. Asalkan pendapat yang disampaikan didukung dengan taAobr yang Ketiga, sikap tolong-menolong yang diimplementasikan melalui kelompokkelompok kecil atau ualaqah yang dibentuk dengan tujuan mempermudah dan mempercepat para santri dalam mencari taAobr yang sesuai dari kitab mempersiapkan diri sebelum melenggang ke arena diskusi. Keempat, menjunjung tinggi perdamaian setelah keluar forum bauul masAil yang sarat akan Karena begitu moderator menutup kegiatan bau al-masAil dan peserta keluar dari forum, para santriAeyang sebelumnya adalah peserta bauul masAilAe akan kembali bersosial sebagaimana Menimbang begitu besar manfaat dan nilai-nilai toleransi yang terkandung dalam bauul masAil ini, besar harapan penulis supaya bauul masAil dapat digalakkan di setiap pesantren. Karena melaui sebuah forum diskusilah keilmuan dan pemahaman santri dapat semakin Selain itu, nilai-nilai Auagree in disagreementAy dapat menjadi modal santri dalam bersosial. REFERENSI