Persona. Jurnal Psikologi Indonesia September 2015. Vol. No. 03, hal 233 - 241 Religiusitas. Pola Asuh Otoriter dan Perilaku Prososial Remaja di Pondok Pesantren Ellyana Ilsan Eka Putri eana77@ymail. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya IGAA Noviekayati noviekayati@untag-sby. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Abstract. The purpose of this research is testing the relation between religiousness and authoritarian parenting with prosocial behavior of adolescents in Islamic building school. The subjects of this research are 119 teenagers, 14-17 years. This research uses quantitative method. The data collection method uses the scale of psychology are arranged based on variable construct theory of religiousness, authoritarian parenting and prosocial behavior. The data analysis used is regression and partial analysis. Research result indicates there is a relation between religiousness and the more authoritarian parenting with prosocial behavior (Freg= 0,7758. p = 0,001 <0,. , while partially found that no relation between religiousness to prosocial behavior . partial = 0,94. treg = 0,803 . p = 0,425>0,. , and there is a negative relationship between the more authoritarian parenting with prosocial behavior . partial = -0,395. treg = -3,644. p = 0,001<0,. Keywords : prosocial behavior, religiousness, authoritarian parenting, adolescent Intisari. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji hubungan antara religiusitas dan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial pada remaja pondok pesantren. Subyek dalam penelitian ini adalah 119 remaja usia 14-17 tahun. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Metode pengumpulan data menggunakan skala psikologi yang disusun berdasarkan konstruk teori dari variabel religiusitas, pola asuh otoriter dan prososial. Analisa data yang digunakan adalah dengan analisis regresi dan parsial. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara religiusitas dan kecenderungan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial (Freg= 0,7758. 0,001 <0,. sedangkan secara parsial ditemukan tidak ada hubungan antara religiusitas dengan perilaku prososial . parsial = 0,94. treg = 0,803 . p = 0,425>0,. serta ada hubungan negatif antara kecederungan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial . parsial = -0,395. treg = -3,644. p = 0,001<0,. Kata kunci : perilaku prososial, religiusitas, pola asuh otoriter, remaja. PENDAHULUAN Indonesia beberapa tahun terakhir ini dihadapkan pada kenyataan akan beragam Beberapa contoh konflik yang tampak dan langsung dapat dirasakan adalah keacuhan, ketidakpedulian, dan permusuhan. Pelaku bukan hanya masya-rakat awam, namun juga pelajar yang masih berusia remaja. Remaja merupakan bagian dari masyarakat yang juga memerlukan perhatian cukup besar karena remaja merupakan generasi penerus bangsa. Kenyataannya banyak remaja yang justru menjadi penghambat perkembangan bangsa ini melalui beberapa tindakan yang tidak bermoral dan antisosial, seperti terlibat dalam pengedaran narkoba ataupun terlibat dalam Ellyana Ilsan dan IGAA Noviekayati perkelahian pelajar. Contoh fenomena tersebut sesuai dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Permasyarakatan Kelas II Wonosari Anggraini Hidayat, yang mengatakan kepada wartawan Harianjogja. iunduh 4 Mei 2. bahwa di sepanjang tahun 2014, ada 135 kasus pidana yang melibatkan anak dan Kasus yang terjadi di dominasi kasus asusila, pencurian, perampokan, tawuran dan Perilaku prososial mencakup segala bentuk tindakan yang menguntungkan dan dilakukan untuk menolong orang lain, tanpa memperdulikan motif-motif penolong. Perilaku prososial bermanfaat bagi masyarakat di dalam interaksi sosial. Hal ini yang membuat perilaku prososial menjadi bagian atau norma sosial. Tiga norma yang paling penting didalamnya adalah tanggung jawab sosial, saling keterbalikan dan keadaan sosial (Sears, dkk: Faktor internal lain yang juga mempengaruhi perilaku prososial remaja adalah segi keagamaan . Menurut Nashori . alam Reza, 2. , religiusitas adalah seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa pelaksanaan ibadah dan kaidah, dan seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianut. Setelah memiliki pemahaman agama yang baik idealnya para santri memiliki perilaku prososial yang sesuai dengan yang telah di ajarkan dalam pondok Hasil observasi awal di lapangan di salah satu pondok pesantren di kota Kalibaru Banyuwangi, santri menampakkan serangkaian perilaku yang cenderung mengindikasikan memiliki tingkat prososial yang tinggi, seperti menunjukkan perilaku saling bergotong royong, saling berbagi dan membantu, perilaku sopan dan santun yang ditunjukkan dengan hormat kepada guru dan pergaulan yang sehat kepada sesama teman santri. Selain itu sebagian santri cenderung menampakkan perilaku religius yang dapat dilihat melalui serangkaian perilaku ibadah dalam konteks agama Islam, seperti pelaksanaan salat berjamaah, zikir, dan membaca Alquran. Fenomena sebaliknya yang ditemukan peneliti terhadap santri masih terdapat santri yang melakukan kecenderungan perilaku prososial yang rendah. Fenomena tersebut tidak mencerminkan ajaran Islam yang telah diberikan dan pada dasarnya para santri sudah mengetahui bahwasanya tata aturan tersebut diterapkan agar tidak keluar dari koridor agama serta melatih kedisiplinan santri dalam melaksanakan ibadah. Kenyataannya dalam perilaku prososial para santri yang berada di pondok pesantren terdapat ketidaksesuaian dengan ilmu yang telah di ajarkan dalam agama Islam. Contoh perilaku prososial yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama di pondok pesantren diantaranya adalah tidak peduli dengan kebersihan lingkungan asrama yang sedang kotor, tidak peduli dan acuh terhadap teman-teman yang bukan dari golongannya, bullying dan mencuri. Lingkungan merupakan lingkungan tempat para santri tinggal, menimba ilmu dan berinteraksi. Santri sendiri tidak terlepas dari peran pengasuh yang berusaha mengawasi dan mengarahkan santri untuk selalu taat dan melakukan semua peraturan yang ditentukan. Melalui bentuk pengasuhan seperti ini diharapkan santri akan patuh dan berkembang ke arah yang diinginkan atau dikehendaki oleh pihak pondok pesantren. Patuh disini Bukan hanya sekedar mematuhi dan mengarahkan, tidak jarang pengasuh memberikan hukuman kepada santri yang Hukuman diberikan untuk tujuan pendidikan dan pembinaan karakter santri (Ismail, 2. Pola pengasuhan pondok pesantren yang cenderung menghukum, menempatkan batasan-batasan yang tegas pada santri tanpa Religiusitas. Pola Asuh Otoriter dan Perilaku Prososial Remaja di Pondok Pesantren bermusyawarah tentang semua hukuman atau Pengasuhan Baumrind . alam Santrock, 2. , termasuk dalam pola pengasuhan otoriter. Pengasuhan model ini dapat menyebabkan santri kurang berkompeten secara sosial dan memiliki perilaku prososial yang buruk, artinya santri mengembangkan segala potensi dan daya pikir yang dimilikinya karena harus sesuai, patuh dan taat pada aturan yang telah ditetapkan di pondok pesantren. Tinjauan Pustaka Sears, dkk . , mendefinisikan bahwa tingkah laku prososial merupakan tingkah laku yang menguntungkan orang lain. Menurut Sears, tingkah laku prososial meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memperhatikan motif si penolong. Menurut Eisenberg, dkk . alam Farid, 2. Perilaku prososial adalah kesediaan remaja secara sukarela peduli kepada orang lain untuk mempertimbangkan hak dan kesejahteraan orang lain. Sears, dkk . menyebutkan beberapa indikator perilaku prososial sebagai . , . , . , menolong . , kejujuran . , kedermawanan . Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku prososial diantaranya adalah situasional, karakteristik penolong dan karakteristik orang yang membutuhkan pertolongan. Terdapat faktor situasional yang dapat meningkatkan atau menurunkan kecenderungan orang untuk melakukan tindakan prososial. Faktor lain yang mempengaruhi perilaku prososial adalah beberapa perbedaan individual dalam usaha memahami mengapa ada orang yang lebih mudah menolong dibandingkan orang yang lain diantaranya adalah: kepribadian, suasana hati, distress dan rasa empatik (Sears dkk, 2. Hurlock . , membagi masa remaja menjadi masa remaja awal . hingga 16 atau 17 tahu. dan masa remaja akhir . atau 17 tahun hingga 18 tahu. Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati Santrock menggunakan istilah adolescence untuk mendefinisikan masa remaja yang dimulai sekitar 10 hingga 13 tahun dan berakhir pada sekitar 18 hingga 22 tahun. Masa remaja sebagai periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif dan sosio-emosional. Zarkasyi . alam Ruswaraditra, 2. juga mengemukakan bahwa kata santri berarti orang yang belajar agama islam, sehingga pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul untuk belajar agama Islam. Pondok Pesantren menurut Pertiwi dkk . , merupakan lembaga pendidikan yang berbasis Pesantren hadir sebagai lembaga pendidikan yang bersumber dari unsur-unsur pembentuk pesantren seperti kiai, ustadz dan Jalaludin . , menyebutkan bahwa religiusitas merupakan konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur konatif, perasaan terhadap agama sebagai unsur efektif dan perilaku agama sebagai unsur kognitif, sehingga aspek keberagamaan merupakan integrasi dari pengetahuan, perasaan dan perilaku keagamaan dalam diri Glock dan Stark dalam bukunya American Pety: The Nature of Religion Commitment dalam Ancok dan Suroso . menyebut ada lima dimensi agama dalam diri manusia, yakni dimensi keyakinan . Ellyana Ilsan dan IGAA Noviekayati dimensi peribadatan dan praktek keagamaan . , . , . dan dimensi pengetahuan agama . Pola asuh juga didefinisikan oleh Reza . sebagai sebuah bentuk perlakuan atau tindakan yang dilakukan oleh pengasuh untuk mengajar dan membimbing anak selama masa Hurlock . , mengatakan bahwa didalam pengasuhan anak, para orangtua mempunyai tujuan untuk membentuk anak menjadi yang terbaik sesuai dengan apa yang dianggap ideal oleh para orangtua dan dalam pengasuhan anak diberikan istilah mengendalikan dan mengontrol diri. Secara umum Baumrind . alam Fatimah 2. , mengkategorikan pola asuh menjadi 3 jenis, yaitu: Pola asuh otoriter, pola asuh otoritatif . dan pola asuh Pola asuh otoriter mempunyai ciri orangtua membuat semua keputusan, anak harus tunduk, patuh, dan tidak boleh bertanya. Pola asuh demokratis mempunyai ciri orangtua mendorong anak untuk membicarakan apa yang ia inginkan. Pola asuh permisif kebebasan penuh pada anak untuk berbuat. Baumrind . alam Santrock, 2. menjelaskan bahwa pola asuh otoriter adalah gaya pengasuhan yang membatasi dan bersifat menghukum yang mendesak individu untuk mengikuti petunjuk orang tua dan untuk menghormati pekerjaan dan usaha. Menurut Hurlock . orangtua yang mempunyai sikap otoriter pada umumnya bersikap : . Orangtua menentukan apa yang perlu diperbuat oleh anak tanpa memberikan penjelasan tentang alasannya, . Apabila anak melanggar ketentuan yang sudah digariskan oleh orangtua, anak tidak diberikan kesempatan untuk memberikan alasan dan penjelasan sebelum hukuman diterima anak, . Pada umumnya hukuman berwujud fisik, . Orang tua jarang atau tidak pernah memberikan hadiah, baik yang berupa kata-kata maupun bentuk lain apabila anak berbuata sesuatu yang sesuai dengan harapan orangtua. HIPOTESIS Berdasarkan dari rumusan masalah dan landasan teori diatas, maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah : . Ada hubungan antara religiusitas dan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial. Ada hubungan antara religiusitas dengan perilaku Ada hubungan antara pola asuh otoriter dengan perilaku prososial. METODE Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian korelasional dengan menggunakan variabel bebas religiusitas dan pola asuh otoriter dengan variabel tergantung adalah perilaku prososial. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 119 orang yang diambil dari remaja di pondok pesantren yang biasa disebut santri. Kata santri yang dimaksud dalam penelitian ini adalah remaja usia 14-17 tahun yang menjadi santri sambil bersekolah di Madrasah Aliyah . etara dengan Sekolah Menengah Umu. yang ada di dalam lingkup pondok pesantren. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive Pengambilan secara acak . andom samplin. Hasil uji reliabilitas skala perilaku prososial dalam penelitian ini diperoleh koeffisien reliabilitas sebesar 0,748. Sedangkan hasil estimasi menggunakan perhitungan SPSS 20. diperoleh koeffisien reliabilitas sebesar 0,812 > 0,700, hal ini berarti reliabel. Dan hasil estimasi reliabilitas skala kecenderungan pola asuh otoriter dengan menggunakan perhitungan SPSS 20. 0 diperoleh koefisien reliabilitas Religiusitas. Pola Asuh Otoriter dan Perilaku Prososial Remaja di Pondok Pesantren sebesar 0,863 > 0,700, hal ini berarti reliabel. HASIL Data yang terkumpul dan sudah dilakukan uji diskriminasi item, uji reliabilitas, uji prasyarat . ji normalitas sebaran dan uji melakukan analisis data. Hipotesis yang ada dalam penelitian ini diuji menggunakan analisis Pelaksanaan analisis menggunakan SPSS versi 20. 0 yang hasilnya dapat dilaporkan sebagai berikut: Hubungan Antar Variabel Secara Simultan Perilaku prososial sebagai variabel tergantung, religiusitas dan kecenderungan pola asuh otoriter sebagai variabel bebas telah memenuhi uji normalitas sebaran dan uji linieritas hubungan. Hubungan antar Hasil perhitungan statistik SPSS 20,0 dengan teknik regresi diperoleh F regresi = 0,7758. p = 0,001 <0,01. angat Berarti ada hubungan yang sangat signifikan antara religiusitas dan kecenderungan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial. Hubungan Antar Variabel Secara Parsial Hasil perhitungan statistik SPSS 20,0 dengan korelasi parsial diperoleh r parsialnya = 0,94 . t regresi = 0,803 . 0,425>0,05 . idak signifika. Berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara religiusitas dengan perilaku prososial Artinya naik turunnya religiusitas, tidak diikuti naik turunnya perilaku Hal religiusitas tidak dapat dijadikan prediktor perubahan perilaku prososial remaja. Hasil perhitungan statistik SPSS 20,0 dengan korelasi parsial diperoleh r parsialnya = -0,395. t regresi = -3,644. 0,001<0,01 . angat signifika. Berarti signifikan antara kecenderungan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial, semakin tidak otoriter pola asuh di pesantren maka perilaku remaja semakin Oleh sebab itu kecenderungan pola asuh otoriter dapat dijadikan prediksi naik turunnya perilaku prososial remaja. Sumbangan Efektif Secara Keseluruhan Sumbangan efektif secara keseluruhan diperoleh hasil R square . oefisien determinas. sebesar 0,177 yang berarti 17,7% ditentukan oleh variabel religusitas dan kecenderungan pola asuh otoriter, sisanya 82,3% ditentukan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. PEMBAHASAN Hasil Uji Hipotesis pertama, hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara religiusitas dan kecenderungan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial remaja di pondok Hipotesis pertama dari penelitian ini yang berbunyi AuAda hubungan antara religiusitas dan kecenderungan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial remajaAy Remaja dengan religiusitas seperti memiliki tingkat kepercayaan, keyakinan, ketaatan terhadap Tuhan dan penerapan ajaran agama dalam kehidupan sosialnya apabila diasuh dengan peraturan yang menerapkan hukuman dan minim penghargaan serta memberikan pengaruh terhadap perilaku prososialnya seperti bekerjasama, menolong, berbagi dan menghargai hak orang lain. Hal pengasuhan yang cenderung otoriter dengan disertai religiusitas yang baik diperlukan Pengasuhan yang cenderung otoriter yang diterapkan oleh pesantren dengan tujuan agar remaja belajar agama dengan Ellyana Ilsan dan IGAA Noviekayati sungguh-sungguh, mengingat ajaran agama dan nilai yang ada di dalamnya sangat luhur yang bersumber dari Tuhan, sehingga dibutuhkan kedisiplinan dalam mempelajari, menghayati dan menerapkannya. Apabila remaja telah mampu memahami dan meyakini ajaran agama yang dipelajarinya, maka secara tidak langsung dan tidak disadari perilaku prososial remaja akan muncul dengan sendirinya. Penemuan ini didukung oleh penelitian Tajiri . yang meneliti tentang integrasi kognitif di pondok pesantren bahwa pada tataran kognitif, santri yang kebanyakan berusia remaja menjadi sadar akan eksistensi dirinya sebagai orang yang sedang belajar dan harus memposisikan dirinya sebagai warga Bahkan para santri mulai sadar keberadaan hukuman bagi setiap pelanggaran dipandang sebagai media pembelajaran, bagaimana seharusnya ia menempatkan diri dalam suatu area yang memiliki budaya disiplin tinggi. Merekapun mulai menyadari manfaat hidup disiplin ketika mereka mampu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan ketika mereka akhirnya terbiasa berperilaku sosial yang positif. Sumbangan efektif secara keseluruhan diperoleh R square . oefisien determinas. sebesar 0,177 yang berarti 17,7% variabel perilaku prososial ditentukan oleh variabel religusitas dan kecenderungan pola asuh otoriter, sisanya 82,3% ditentukan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hal ini sesuai dengan pendapat Eissenberg dan Mussen . alam Farid, 2. bahwa perilaku prososial dipengaruhi oleh tujuh faktor utama diantaranya adalah faktor biologis, budaya masyarakat setempat, pengalaman sosialisasi, proses kognitif, respon emosional, karakteristik individu dan faktor situasional. Hipotesis kedua yang berbunyi. Auada hubungan positif antara religiusitas dengan perilaku prososial remajaAy ditolak. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara religiusitas dengan perilaku prososial remaja di pondok Artinya naik turunnya religiusitas tidak diikuti dengan naik turunnya perilaku prososial remaja demikian juga sebaliknya. Religiusitas lebih berfokus pada kepercayaan, keyakinan, ketaatan pada ajaran agama, pelaksanaan dan menerapkannya dalam kehidupan sosial sedangkan perilaku prososial lebih menekankan pada perilaku bekerjasama, suka menolong, berbagi dan menghargai hak orang lain yang kemudian bisa dikatakan perilaku prososial sama dengan perilaku atau perbuatan baik. Untuk dapat berbuat baik seperti yang sudah dijelaskan terdahulu, ternyata beberapa remaja tidak menggunakan kapasitas religiusitas yang ada pada diri mereka secara mendalam. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa perilaku prososial tidak ditentukan Begitu juga sebaliknya, perilaku prososial tidak mempengaruhi keyakinan dan kepercayaan remaja terhadap ajaran agama yang dipelajarinya karena bekerjasama dan saling tolong menolong adalah hal yang sudah dipahami dalam diri setiap remaja. Pada penelitian ini kapasitas religiusitas yang dimiliki remaja tidak digunakan sepenuhnya untuk berperilaku prososial. Remaja berbuat baik atau berperilaku menolong dan berbagi dengan tidak memikirkan terlebih dahulu apakah itu benar, salah, sesuai atau tidak dengan ajaran dan aturan agama yang Hipotesis ketiga yang berbunyi AuAda hubungan negatif antara kecenderungan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial remajaAy Hasil penelitian hubungan antara kecenderungan pola asuh otoriter dan perilaku prososial remaja menunjukkan bahwa ada hubungan negatif dan sangat signifikan antara kecenderungan pola asuh otoriter dengan Religiusitas. Pola Asuh Otoriter dan Perilaku Prososial Remaja di Pondok Pesantren perilaku prososial remaja. Artinya semakin otoriter pola asuh di pesantren maka perilaku prososial remaja semakin rendah, sebaliknya semakin tidak otoriter pola asuh di pesantren maka perilaku prososial remaja semakin tinggi Remaja dengan pengasuhan otoriter Kemampuan komunikasi yang buruk ini dikarenakan tidak pernah diberikannya bermusyawarah tentang pertanyaan yang ada di dalam pikiran mereka. Hendaknya pengasuhan yang diterapkan dalam pondok pesantren dapat lebih proaktif dan komunikatif, sehingga ketrampilan sosial santri berkembang baik dan memunculkann perilaku prososial tinggi sesuai dengan ajaran agama dan religiusitas yang Hal ini sesuai dengan teori Eissenberg dan Mussen . alam Farid, 2. tentang salah satu dari tujuh faktor utama yang mempengaruhi perilaku prososial adalah faktor situasional/lingkungan . engasuhan di pondok Faktor mempengaruhi perilaku prososial remaja salah satunya adalah lingkungan pendidikan dimana remaja tinggal. Pondok pesantren merupakan lingkungan tempat para santri tinggal, menimba ilmu dan berinteraksi tidak terlepas dari peran pengasuh yang berusaha mengawasi dan mengarahkan santri untuk selalu taat dan melakukan semua peraturan yang ditentukan. Bentuk pengasuhan yang demokratif dan komunikatif ditambah dengan contoh perilaku yang nyata dari para pengasuh dapat bekerjasama dan saling tolong menolong. Demikian juga dalam membina hubungan antar teman dan saling menghargai sesamanya akan muncul dengan sendirinya seiring dengan pola pengasuhan yang lebih autoritatif disertai teladan yang memadai. KESIMPULAN dan SARAN Kesimpulan Hasil analisis data menggunakan analisis regresi linier diperoleh hasil yaitu : . Sumbangan efektif secara simultan variabel religiusitas dan kecenderungan pola asuh otoriter terhadap variabel perilaku prososial adalah 17,7% artinya, ada hubungan yang sangat signifikan antara religiusitas dan kecenderungan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial remaja di pondok pesantren. Tidak ada hubungan yang signifikan antara religiusitas dengan perilaku prososial remaja. Artinya tinggi rendahnya religiusitas tidak diikuti dengan tinggi rendahnya prososial remaja. Ada hubungan negatif yang signifikan antara kecenderungan pola asuh otoriter dengan perilaku prososial. Artinya semakin otoriter pola asuh di pesantren maka perilaku prososial remaja semakin rendah, demikian juga sebaliknya. Saran Berdasarkan hasil penelitian maka dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut: Pesantren/sekolah melakukan berbagai pembenahan yang berkaitan dengan pola pengasuhan yang dilakukan oleh pengasuh dalam membimbing santri yang mayoritas Diharapkan mengajarkan religiusitas santri pola pengasuhan yang tepat adalah yang cenderung otoriter dimana ketegasan tetap diperlukan untuk hal atau peraturan yang harus ditegakkan terkait dengan ajaran agama yang bersifat dogmatis dan tidak boleh dilanggar, namun penerapan pola asuh demokratis juga perlu dipertimbangkan sehingga perilaku prososial remaja menjadi lebih baik dan berkembang seimbang Guru/ pengasuh hendaknya menerapkan pola asuh yang lebih mengedepankan Ellyana Ilsan dan IGAA Noviekayati pemberian contoh nyata tentang bentuk perilaku yang baik dan buruk sesuai ajaran agama. membuka kesempatan Bagi orangtua diharapkan mampu menjadi model . bagi remaja terkait nilai dan norma kehidupan yang mereka ajarkan, memberi ruang untuk berdialog dan bermusyawarah tentang berbagai permasalahan yang dihadapi serta menghargai pendapat Bagi remaja yang tinggal di pondok pesantren khususnya yang memiliki sikap lebih senang bekerja sendiri daripada bekerjasama, tidak suka menolong dan tidak menghargai orang lain agar lebih bisa merubah perilaku prososialnya menjadi lebih berempati dengan orang lain, mampu merasakan dan membantu kesulitan orang lain, serta mampu bekerjasama dengan baik Bagi menggunakan variabel lain yang turut mempengaruhi perilaku prososial. DAFTAR PUSTAKA