47 HEME : Health and Medical Journal pISSN : 2685 Ae 2772 eISSN : 2685 Ae 404x Available Online at : https://jurnal. id/index. php/heme/issue/view/80 Perbandingan Metode Melahirkan Terhadap Risiko Depresi pada Ibu Postpartum di RSIA Mutiara Bunda Kota Padang Mahfira Fajrima1*. Alief Dhuha2. Sri Wahyuni3. Berri Rahmadhoni4. Raihana Rustam5 Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah. Padang Departement Fisiologi. Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah. Padang UPT Bahasa Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah. Padang Departemen OBGYN Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah. Padang Departemen Mata Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah. Padang Email : 2110070100100@student. Abstrak Latar belakang: Melahirkan adalah peristiwa kehidupan yang penting bagi seorang ibu. Peristiwa ini membuat sebagian wanita menjadi bahagia maupun bisa menjadi stres. Stres tersebut terjadi karena setelah melahirkan wanita lebih rentan mengalami gangguan kejiwaan postpartum, seperti kecemasan, depresi dan kehilangan jati Tujuan: Untuk mengetahui perbandingan metode melahirkan terhadap risiko depresi postpartum di RSIA Mutiara Bunda Kota Padang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan teknik pengambilan sampel yaitu teknik consecutive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 ibu postpartum. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji fisherAos exact test. Hasil: Dari 30 ibu postpartum, usia paling banyak berada pada 20-35 tahun berjumlah 21 orang . %). Mayoritas responden adalah ibu rumah tangga yaitu 17 orang . ,7%%). Selain itu, 12 orang . %) ibu memiliki tingkat pendidikan terakhir SMA. Ibu metode melahirkan pervaginam yaitu 15 orang . %) dan persalinan sectio caesarea yaitu 15 orang . %). Riwayat paritas multipara yaitu 16 orang . ,3%). Kemudian, responden yang tidak mengindikasi risiko depresi postpartum sebanyak 26 orang . ,7%). Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara metode melahirkan terhadap risiko depresi postpartum di RSIA Mutuara Bunda Kota Padang. Katakunci Ai Depresi Postpartum. Metode Melahirkan. Pervaginam. Sectio Caesarea Abstract Background: Childbirth is an important life event for a mother. This event makes some women happy or This stress occurs because, after giving birth, women are more prone to postpartum psychiatric disorders, such as anxiety, depression, and loss of identity. Objective: To compare delivery methods on the risk of postpartum depression at RSIA Mutiara Bunda. Padang City. Method: This study employed a cross-sectional design with consecutive sampling techniques involving 30 postpartum mothers. Data were collected through questionnaires and analyzed using fisherAos exact test. Results: Of the 30 postpartum mothers, the most were 2035 years old, totaling 21 people . %). Most respondents were housewives, namely 17 people . 7%). addition, 12 people . %) of mothers have a final level of high school education level. The number of mothers who have vaginal delivery is 15 people . %) and the number of cesarean delivery is 15 people . %). The history of multipara parity was 16 people . 3%). Then, respondents who did not indicate the risk of postpartum depression were 26 people . 7%). Conclusion: There was no significant difference between delivery methods and the risk of postpartum depression at RSIA Mutiara Bunda. Padang City. Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 1 January 2026 Keywords Ai Postpartum Depression. Delivery Methods. Vaginal Delivery. Cesarean Section PENDAHULUAN Stres dapat terjadi setelah persalinan tersebut terjadi karena wanita lebih rentan mengelami gangguan kejiwaan postpartum, seperti kecemasan, depresi dan kehilangan jati diri. Berdasarkan studi Lindayani dkk, tiga jenis gangguan psikologis yang dapat terjadi pada ibu postpartum, antara lain: postpartum blues, depresi postpartum, dan psikosis. Gangguan psikologis yang pertama pada ibu post partum yaitu postpartum blues . 5%), depresi postpartum . -20%), dan psikosis . %). Gejala postpartum blues umumnya berupa perasaan cemas, tidak percaya diri, sering menangis tanpa sebab, sensitif, mudah marah maupun gelisah. 10-15% postpartum blues dapat berkembang menjadi depresi Gejala depresi postpartum meliputi, ketakutan yang tidak rasional terkait kesehatan diri sendiri dan bayi, muncul keinginan untuk bunuh diri atau membahayakan bayi. Sedangkan Psikosis merupakan gangguan mental berat yang memerlukan perhatian serius. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Barat 2016 mengalami depresi berat postpartum . dari 10 ib. Studi Irawati di DKI Jakarta 25% dari 580 ibu yang disurvei mengalami kejadian depresi 6 Lindayani dkk, . angka kejadian gejala depresi postpartum di kota Denpasar pada tahun 2019 mencapai 25,4%. Oleh karena itu, perlu dilakukan skrinning awal untuk mencegah serta menanggulangi gejala tersebut dengan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Peneliti menggunakan EPDS merupakan alat skrinning depresi pada ibu postpartum dan sudah teruji di taraf Internasional. II. BAHAN DAN METODE Jenis penelitian analitik komparatif dengan cross-sectional. metode consecutive sampling dengan jumlah sampel 28 orang, lameshow. Data yang digunakan merupakan data primer yang diperoleh dari hasil wawancara kepada responden dan mengisi kuesioner Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Populasi penelitian adalah ibu postpartum di RSIA Mutiara Bunda Kota Padang dengan kriteria inklusi dan tidak termasuk ke dalam kriteria eksklusi, yaitu ibu postpartum yang melakukan persalinan dan kontrol di Poliklinik Obgyn dan Poliklinik Anak RSIA Mutiara Bunda Kota Padang, ibu postpartum pervaginam dan sectio caesarea, ibu postpartum minggu pertama hingga minggu keempat, ibu postpartum yang bersedia menjadi sampel penelitian. Analisis data penyusunan data yang terdiri dari editing, coding, data entry, cleaning dan tabulating. Kemudian, analisis data secara univariat dan bivariat menggunakan aplikasi SPSS Version 27. HASIL DAN PEMBAHASAN Wilda . di RSUD Nene Mallomo Kabupaten Sidrap p value . > . 7 Yuli . di RSUD Dr. Syaiful Anwar Malang, p value . < . Depresi postpartum sering tidak disadari oleh ibu, orang terdekat, suami dan tenaga Email : heme@unbrah. Penelitian yang dilakukan kepada 30 responden postpartum pervaginam . dan postpartum sectio caesarea . secara consecutive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Responden setuju dengan inform concent. Heme. Vol Vi No 1 January 2026 Peneliti menemukan : USIA TABEL 1 DISTRIBUSI FREKUENSI IBU POSTPARTUM BERDASARKAN USIA IBU POSTPARTUM Usia <20 tahun 20-35 tahun > 35 tahun Total Ibu postpartum dengan distribusi terbanyak dengan usia 20-35 tahun . %) tabel 1. Badan Pusat Statistik Sumatera Barat 2022, rata-rata usia perkawinan pertama di Sumatera Barat pada rentang usia 21 tahun hingga 23 tahun. BPS Sumatera Barat juga mencatat pernikahan pertama perempuan di bawah usia 19 tahun . ,49%). Sinta . , diperoleh mayoritas responden berusia 20-35 tahun yaitu sebanyak 30 orang . ,5%), 10 Alesandro . , menemukan bahwa 47 ibu . %) berusia 20-35 tahun memiliki kondisi fisik dan emosional yang lebih baik. PEKERJAAN TABEL 2 DISTRIBUSI FREKUENSI IBU POSTPARTUM BERDASARKAN PEKERJAAN IBU POSTPARTUM Pekerjaan Ibu Rumah Tangga Bekerja Total Pekerjaan ibu postpartum yang paling banyak adalah ibu rumah tangga sebanyak 17 orang . ,7%). Faktor penyebab banyaknya ibu rumah tangga di padang yaitu terkait norma sosial dan budaya, di Sumatera Barat terdapat norma sosial yang kuat yang menempatkan perempuan dalam peran tradisional sebagai ibu Masyarakat mengharapkan wanita untuk mengurus rumah dan anak, sehingga banyak yang memilih untuk tidak bekerja di luar rumah. Banyak wanita yang berstatus ibu rumah tangga merasa tidak memiliki dukungan sosial yang cukup jika mereka memilih untuk bekerja atau berkarier. Nurharyani dkk. mengungkapkan bahwa mayoritas dari 46 ibu postpartum adalah ibu rumah tangga sebanyak 28 orang . ,9%) dan bekerja sebanyak 15 orang . %). Kemudian, penelitian yang dilakukan oleh Mastarinda dkk. juga mendapatkan hasil yang sejalan yaitu dari 31 responden 18 . ,1%) diantaranya adalah ibu rumah tangga dan 22 . ,9%) responden adalah ibu bekerja. TINGKAT PENDIDIKAN TABEL 3 DISTRIBUSI FREKUENSI IBU POSTPARTUM BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN Tingkat Pendidikan Tamat D1/ D2/D3/PT Tamat SMA Tamat SMP Tamat SD Tidak Sekolah Total Pendidikan terakhir ibu postpartum di RSIA Mutiara Bunda Kota Padang mayoritas adalah sekolah menegah akhir . %). Data BPS Sumatera Barat menunjukan persentase tertinggi pendidikan terakhir wanita di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2023 adalah tamatan SMA . ,31%). Pendidikan signifikan terhadap kemampuan dan pola pikir individu. Proses belajar dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang, semakin mudah dalam menyerap suatu 16 Iga dkk. di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh mayoritas pendidikan terakhir adalah sekolah menegah sebanyak 25 orang . ,3%). METODE MELAHIRKAN TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI IBU POSTPARTUM BERDASARKAN METODE MELAHIRKAN Metode Melahirkan (%) Pervaginam Sectio Caesarea Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 1 January 2026 Total Penelitian dilakukan dengan jumlah tersebut dikarenakan ingin membandingkan antara kedua metode melahirkan. Sehingga, peneliti menggunakan jumlah sampel yang sama antara kedua metode melahirkan. Menurut data yang didapatkan di RSIA Mutiara Bunda Kota Padang pada bulan September 2024 rata-rata ibu melahirkan secara sectio caesarea dikarenakan ketakukan ibu melahirkan secara normal. Angka melahirkan secara sectio caesarea di Sumatera Barat mecapai sekitar 23,1%, angka ini telah melebihi batas ideal melahirkan secara sectio caesarea yang ditetapakan oleh WHO yaitu sebesar 515%. Wilda . , melibatkan 40 ibu pospartum, terdiri dari 20 ibu postpartum pervaginam dan 20 ibu postpartum sectio caesarea. 7 Iga . di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh yang diperoleh metode melahirkan paling banyak yaitu sectio caesarea dengan jumlah 24 orang . ,2%). Dinah . di RSUD Ulin Banjarmasin sebanyak 30 orang . ,6%) dengan metode melahirkan sectio caesarea. Preferensi ibu dalam memilih persalinan sectio caesarea dipengaruhi oleh beberapa alasan, antara lain anggapan bahwa metode ini lebih aman bagi bayi, lebih praktis, dan tidak terlalu menyakitkan dibandingkan dengan persalinan pervaginam. Sementara itu, ibu yang lebih memilih persalinan pemulihan setelah melahirkan lebih cepat. RIWAYAT PARITAS TABEL 5 DISTRIBUSI FREKUENSI IBU POSTPARTUM BERDASARKAN RIWAYAT PARITAS Riwayat Paritas Primipara Multipara Total Email : heme@unbrah. Mayoritas ibu postpartum memiliki riwayat paritas multipara, yaitu sebanyak 16 orang . ,3%). Ibu multipara yang telah melahirkan lebih dari satu anak, cenderung menghadapi proses melahirkan. Hal ini bisa mempengaruhi keputusan untuk memiliki lebih banyak anak, karena ibu merasa lebih siap secara fisik dan mental. Beberapa daerah di Sumatera Barat, memiliki banyak anak masih dianggap sebagai nilai positif. Hal ini diperngaruhi oleh tradisi dan norma sosial yang mengedepankan Iga dkk. di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh yang diperoleh dari 46 ibu postpartum didapatkan riwayat paritas paling banyak adalah multipara yaitu 31 orang . ,4%)13 Gangguan postpartum dengan status paritas berikaitan dengan riwayat obstetri pasien, termasuk pengalaman hamil hingga melahirkan serta adanya komplikasi sebelumnya, hal tersebut lebih sering terjadi pada wanita primipara. DEPRESI POSTPARTUM TABEL 6 DISTRIBUSI FREKUENSI IBU POSTPARTUM BERDASARKAN INDIKASI RISIKO DEPRESI Depresi Postpartum Tidak mengindikasi (<. Mengindikasi (Ou. Total Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa dari 30 ibu postpartum sebanyak 26 orang . ,7%) tidak mengindikasi risiko depresi postpartum dan 4 diantaranya mengindikasi risiko depresi postpartum . ,3%). Kejadian depresi postpartum di RSIA Mutiara Bunda dialami oleh 4 responden dengan rata-rata usia ibu postpartum yaitu 20-35 tahun, status pekerjaan ibu rumah tangga sebanyak 3 responden dan 1 responden adalah ibu bekerja, tingkat Heme. Vol Vi No 1 January 2026 pendidikan terakhir responden yaitu SD hingga Perguruan Tinggi. Lalu, metode malahirkan responden yaitu dengan 3 orang melahirkan secara sectio caesarea dan 1 orang melahirkan secara pervaginam, riwayat paritas dari 4 responden tersebut adalah 2 responden primipara dan 2 responden multipara. Empat responden yang mengindikasi depresi postpartum ini memiliki jumlah skor EPDS Ou 10. Penyebab terjadinya depresi postpartum disebabkan oleh banyak faktor seperti, usia, pekerjaan, tingkat pendidikan, riwayat paritas, sosial ekonomi, dukungan keluarga dan lainlainnya. perbedaan yang signifikan antara metode postpartum di RSIA Mutiara Bunda Kota Padang. Wilda dkk. memiliki hasil yaitu p value 0,212 . > 0,. artinya, tidak terdapat perbedaan metode melahirkan yang komalasari . menyatakan tidak ada pengaruh riwayat persalinan antara depresi postpartum yang menyatakan bahwa persalinan akan merangsang meningkatnya dukungan dari pasangan dan anggota kelompok sosial lainnya sehingga dapat komplikasi persalinan. Wahyu dkk. menunjukkan hasil bahwa ibu postpartum yang mengalami depresi postpartum sebanyak 22,8%. Ibu postpartum yang memiliki Skor EPDS Ou 10 adalah ibu dengan kelompok usia > 35 tahun, ibu yang bekerja, pendidikan terakhir SMA dan riwayat paritas multipara. Namun, berbeda dengan hasil penelitian Yuli . di RSUD Dr. Syaiful Anwar Malang, menunjukkan bahwa nilai A . < . Maka secara statistik terdapat adanya perbedaan yang signifikan antara metode melahirkan dengan depresi postpartum pada ibu postpartum di RSUD Dr. Syaiful Anwar Malang. Persalinan sectio caesarea lebih cenderung mengalami depresi postpartum ANALISA BIVARIAT TABEL 7 PERBANDINGAN METODE MELAHIRKAN TERHADAP RISIKO DEPRESI PADA IBU POSTPARTUM DI RSIA MUTIARA BUNDA KOTA PADANG Depresi Postpartum Metode Melahirkan Tidak Mengindikasi Mengindikasi Pervaginam 6,67 0,598 Sectio Caesarea Total Menurut hasil skor Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) dari 30 ibu postpartum di RSIA Mutiara Bunda Kota Padang, yang mengalami depresi postpartum lebih banyak pada metode melahirkan sectio caesarea yaitu sebanyak 3 orang . %) pervaginam sebanyak 1 orang . ,67%). Hasil analisis spss fisherAos exact test menunjukkan bahwa nilai A . < . secara statistik tidak terdapat adanya IV. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Karakteristik ibu postpartum paling banyak usia 20-35 tahun, mayoritas responden ibu rumah tangga, tingkat SMA, multipara, dan metode melahirkan pervaginam dan sectio caesarea. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara metode melahirkan terhadap depresi postpartum di RSIA Mutiara Bunda Kota Padang. SARAN