Jurnal Penelitian Transportasi Multimoda 2024, 22 . : 49-59 Pengaruh Pelatihan. Manajemen, dan Teknologi Keselamatan terhadap Perilaku Keselamatan Operasional Angkot Feeder LRT Musi Emas Rhaptyalyani Herno Della*,1. Melawaty Agustien1. Puteri Kusuma Wardhani1. Ahmad Nabil Muzakki1 1Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya Jl. Raya Palembang-Prabumulih. KM 32. Indralaya. Ogan Ilir. Sumatera Selatan 30662. Indonesia *E-mail: rhapty@unsri. Diterima: 29 Februari 2024, direvisi: 11 Maret 2024, disetujui: 7 Mei 2024, tersedia daring: 25 Juni 2024, diterbitkan: 28 Juni 2024 Abstrak Pemberian layanan yang menjamin kenyamanan dan keselamatan pengguna memiliki hubungan erat dengan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan (SMK) pada perusahaan penyedia layanan trasnportasi. Penerapan SMK yang berbasis budaya keselamatan dalam pelayanan angkutan umum, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 85 Tahun 2018, merupakan langkah yang sangat penting dan berlandaskan aspek hukum yang mengatur sektor transportasi di Indonesia. Salah satu jenis angkutan umum yang telah memiliki Standar Operasional Pelayanan (SOP) dan Standar Pelayanan Minimum adalah angkot feeder LRT Musi Emas, yang mulai beroperasi sejak yahun 2022 dan mempunyai tujuh koridor pelayanan. Namun demikian, walaupun telah diterapkan SOP terkait keselamatan berkendara pada angkot feeder LRT Musi Emas tersebut, kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh kelalaian pengemudi dan faktor lainnya masih kerap terjadi pada angkot feeder LRT Musi Emas. Untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan tersebut, maka perlu dilakukan pemahaman bagaimana pengaruh pelatihan, pengetahuan, manajemen, prosedur dan teknologi keselamatan terhadap perilaku keselamatan operasional angkot feeder LRT Musi Emas. Dalam penelitian ini, dilakukan pengolahan data menggunakan Metode Structure Equation Modelling (SEM) yang menghubungkan antara variabel laten endogen perilaku keselamatan dengan variabel laten eksogen, yaitu pelatihan, pengetahuan, manajemen, prosedur dan teknologi keselamatan, dengan bantuan software Smart-PLS. Berdasarkan kriteria penilaian original sample, t-statistic, dan p-values diketahui variabel-variabel yang berpengaruh positif terhadap perilaku keselamatan operasional angkot feeder LRT adalah pelatihan keselamatan, manajemen keselamatan dan teknologi keselamatan. Kata kunci: Feeder LRT, perilaku keselamatan, sistem manajemen keselamatan. SEM. Abstract The Influence of Training. Management, and Safety Technology on Operational Safety Behavior of Musi Emas LRT Feeder. Providing services that guarantee user comfort and safety is closely related to implementing the Safety Management System (SMK) in transportation service providers. The implementation of a Safety Management System (SMK) based on safety culture in public transportation services, as regulated in the Regulation of the Minister of Transportation of the Republic of Indonesia Number 85 of 2018, is a crucial step and is based on legal aspects that regulate the transportation sector in Indonesia. One type of public transportation that already has a Service Operational Standard (SOP) and Minimum Service Standard is the Musi Emas LRT feeder, which has been operating since 2022 and has seven service However, even though the SOP related to driving safety has been implemented on the Musi Emas LRT feeder, traffic accidents caused by driver negligence and other factors still often occur on the Musi Emas LRT feeder. To anticipate these accidents, it is necessary to understand how training, knowledge, management, procedures, and safety technology influence the operational safety behavior of the Musi Emas LRT feeder. In this study, data processing was carried out using the Structure Equation Modeling (SEM) method which connects the endogenous latent variables of operational safety behavior of LRT Musi Emas feeder public transportation with exogenous latent variables, including training, knowledge, management, procedures, and safety technology. with the help of Smart-PLS software. Based on the original sample assessment criteria, t-statistics, and p-values, it is known that the variables that positively affect the operational safety behavior of LRT feeder public transportation are safety training, safety management, and safety technology. Keywords: LRT feeder. Safety Management System. SEM, safety behavior. Pendahuluan Percepatan pertumbuhan teknologi, digitalisasi informasi, dan komunikasi telah menjadi pendorong utama dalam mengubah pola layanan transportasi. Sistem transportasi konvensional yang lamban secara bertahap mengalami transformasi dengan fokus pada peningkatan efisiensi dan perbaikan pada setiap aspeknya . Di tengah perubahan ini, angkutan umum diharapkan akan berperan penting sebagai moda transportasi yang dapat mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi di lingkungan perkotaan. Meskipun demikian, banyak penduduk perkotaan masih memilih menggunakan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor, yang pada akhirnya berkontribusi pada masalah kemacetan lalu lintas yang http://dx. org/10. 25104/mtm. 0852-1824/ 2580-1082 A2024 Badan Kebijakan Transportasi, diterbitkan oleh Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi. Artikel ini open access dibawah lisensi CC BY-NC-SA . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Nomor akreditasi: (RISTEKDIKTI) 10/E/KPT/2019 (Sinta . semakin serius . Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palembang, terdapat peningkatan jumlah kendaraan bermotor pribadi di Kota Palembang selama periode tahun 2020 Pada tahun 2023, jumlah kendaraan bermotor pribadi di Palembang mencapai 527 ribu unit, bertambah dari jumlah tahun sebelumnya yang mencapai 520 ribu unit. Artinya, terdapat peningkatan sebesar 1,4% kendaraan bermotor selama periode tersebut . Hal ini menunjukkan bahwa meski angkutan umum, termasuk angkot feeder LRT Musi Emas yang mulai beroperasi tahun 2022 telah ada, namun belum sepenuhnya berhasil mengatasi permasalahan transportasi di kota ini. Sarana transportasi umum Kota Palembang sudah seharusnya memenuhi standar tertentu, dengan kelengkapan fasilitas, pelayanan yang memuaskan, kenyamanan, dan jaminan keselamatan penumpang. Hal ini diperlukan untuk meningkatkan pengguna moda transportasi umum di Palembang . Salah satu jenis angkutan umum yang telah memiliki Standar Operasional Pelayanan (SOP) dan Standar Pelayanan Minimum adalah angkot feeder LRT Musi Emas, yang mulai beroperasi sejak tahun 2022 dan mempunyai tujuh koridor pelayanan . Namun, walau sudah menerapkan SOP dan Standar Pelayanan Minimum, angkot feeder LRT Musi Emas masih belum mencapai tingkat optimal dalam hal keamanan Meskipun pelatihan, manajemen keselamatan, dan penggunaan teknologi keselamatan memiliki peranan penting dalam membentuk perilaku yang aman, namun hingga saat ini, belum ada penelitian menyeluruh mengenai pengaruh ketiga faktor ini. Berdasarkan Cooper . 0 dan 2. , ketiga faktor inilah yang melingkupi budaya atau perilaku keselamatan . , . Budaya atau perilaku keselamatan, seperti yang didefinisikan oleh Advisory Committee on Safety of Nuclear Installation (ACSNI), adalah hasil dari sikap, keyakinan, dan norma organisasi terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja . Budaya keselamatan melibatkan interaksi tiga unsur, yaitu organisasi, pekerja, dan pekerjaan . , . , . Dengan demikian, penerapan budaya keselamatan harus melibatkan semua aspek sumber daya yang ada, dengan kerjasama yang kuat diantara mereka . Faktor-faktor yang mempengaruhi budaya keselamatan dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yakni karakteristik organisasi, sumber daya teknis atau fasilitas, dan atribut individu . Dalam konteks karakteristik organisasi, elemen- elemen seperti kepemimpinan, komitmen, komunikasi, dan pelatihan memainkan peran kunci dalam membentuk budaya keselamatan . Dalam karakteristik individu, halhal seperti sikap, pengetahuan, kesadaran risiko, dan persepsi individu terhadap keselamatan berperan signifikan . Sedangkan untuk sumber daya teknis atau fasilitas, peralatan dan infrastruktur memainkan peran penting dalam menopang budaya keselamatan yang kuat . Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, mengenai budaya keselamatan diatas dan permasalahan mengenai angkutan umum feeder LRT Musi emas sendiri, kurang banyak dilakukan studinya, maka diperlukan kajian mendalam mengenai bagaimana pelatihan keselamatan, manajemen keselamatan, dan teknologi keselamatan mempengaruhi perilaku keselamatan operasional pramudi dan karyawan angkot feeder LRT Musi Emas. Terdapat kekosongan penelitian mengenai pengaruh ketiga faktor ini terkait angkot feeder LRT karena belum ada hubungan yang jelas antara variabel-variabel tersebut dalam studi sebelumnya dilakukan pada studi kasus angkutan umum feeder. Maka dari itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan sebuah model yang dapat menjelaskan hubungan antara variabel-variabel tersebut dengan maksud meningkatkan perilaku keselamatan operasional. Variabel yang akan diamati dalam penelitian ini adalah perilaku keselamatan operasional angkot feeder LRT Musi Emas di Palembang yang dipengaruhi oleh variabel-variabel pemahaman keselamatan oleh pramudi dan manajemen keselamatan, pelatihan keselamatan, teknologi dan prosedur yang diterapkan oleh pengelola angkot feeder LRT. Sehingga, fokus penelitian ini adalah perilaku keselamatan operasional angkot feeder LRT di Palembang, yang dipengaruhi oleh pelatihan, manajemen, dan teknologi keselamatan yang diterapkan oleh PT Transportasi Global Mandiri (PT TGM). Objek penelitian adalah seluruh pramudi dan karyawan perusahaan PT TGM serta badan pengawas pelaksanaan operasional angkot feeder LRT Musi emas yaitu Balai pengelola Kereta api ringan Sumatera Selatan. Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan model yang menjelaskan hubungan antara perilaku keselamatan pramudi, karyawan dan pengawas operasional dengan penilaian terhadap prosedur, teknologi, pelatihan, manajemen dan pengetahuan mengenai keselamatan yang telah dijalankan oleh PT TGM. Penelitian ini akan menggunakan pendekatan Structural Equation Modelling (SEM) untuk menguji hubungan antara variabel-variabel dan memperluas pengetahuan dalam wilayah penelitian yang sebelumnya belum terkaji. Hasil Penelitian ini diharapkan memberikan masukan mengenai upaya peningkatan keselamatan angkot feeder LRT melalui peningkatan sumber daya manusia dan peraturan yang perlu dijalankan dalam pengoperasian angkot feeder LRT. Metodologi Berdasarkan pendahuluan yang telah dijabarkan sebelumnya, maka penelitian ini berusaha menjawab beberapa pertanyaan utama terkait pengaruh pelatihan, manajemen, pengetahuan keselamatan, prosedur keselamatan, dan teknologi keselamatan terhadap perilaku keselamatan operasional angkot feeder LRT Musi Emas di Kota Palembang. Adapun rumusan masalah penelitian ini membentuk hipotesis yang diadaptasi dari penelitian sebelumnya, yaitu dari Herno Della, dkk. mengenai hipotesis perilaku keselamatan . , sebagaimana disajikan pada Gambar 1 yaitu: Hipotesis 1 (H. : Pengetahuan keselamatan berpengaruh positif terhadap perilaku keselamatan. Hipotesis 2 (H. : Manajemen keselamatan berpengaruh positif terhadap perilaku keselamatan. Hipotesis 3 (H. : Pelatihan keselamatan berpengaruh positif terhadap perilaku keselamatan. Hipotesis 4 (H. : Pelatihan keselamatan berpengaruh positif terhadap pengetahuan keselamatan. Hipotesis 5 (H. : Pelatihan keselamatan berdampak positif terhadap manajemen keselamatan Hipotesis 6 (H. : Teknologi berhubungan dengan pelatihan keselamatan. Hipotesis 7 (H. : Prosedur berhubungan dengan pelatihan keselamatan. Hipotesis 8 (H. : Teknologi mempunyai dampak positif terhadap manajemen keselamatan. Hipotesis 9 (H. : Prosedur mempunyai dampak positif terhadap manajemen keselamatan. Hipotesis 10 (H. : Teknologi berhubungan dengan prosedur. Gambar 1. Model hipotesa . iadopsi dari . ) Lokasi penelitian adalah Kota Palembang dengan objek yang diteliti adalah angkot feeder LRT di Kota Palembang. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner dan melakukan wawancara langsung untuk menilai prosedur operasional keselamatan angkot feeder LRT Kota Palembang oleh pramudi dan karyawan operator feeder LRT di PT Transportasi Global Mandiri (PT TGM). Pelaksanaan penyebaran kuesioner dan survei wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai karakteristik pribadi pramudi dan operator serta penilaian terhadap keselamatan operasional angkot feeder LRT Musi Emas di Kota Palembang. Penelitian ini melibatkan total 122 responden yang terdiri dari pramudi dan operator feeder LRT. Kegiatan pengambilan data ini dilakukan selama kurang lebih satu bulan pada akhir tahun 2023 dan awal tahun 2024. Pengolahan data perilaku keselamatan operasional angkot feeder LRT dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS untuk menguji validitas, dan reliabilitas dari enam variabel, di mana satu variabel endogen (Y) yaitu perilaku keselamatan, dan lima variabel lainnya merupakan variabel eksogen (X) yaitu pelatihan keselamatan, pengetahuan keselamatan, manajemen keselamatan, teknologi keselamatan dan prosedur keselamatan. Keenam variabel mengandung indikator-indikator yang diadopsi dari penelitian sebelumnya dari Herno Della, dkk. dan Shang, dkk. , . sebagaimana yang tertera pada Tabel 1. Untuk membuat bagan analisis keselamatan operasional, penelitian ini menggunakan metode Structure Equation Modelling dengan bantuan Software Smart-PLS. Hasil pengolahan data menggunakan software smart-pls berupa analisis faktor-faktor yang mempengaruhi keselamatan operasional pengemudi feeder LRT di kawasan pusat Kota Palembang. Tabel 1. Variabel dan indikator penelitian. Variabel Safety Training (Pelatihan Keselamata. Notasi An observed Safety Knowledge (Pengetahuan Keselamata. Safety Management (Manajemen Keselamata. Indikator Notasi Perusahaan menyediakan training/pelatihan yang cukup dan sesuai mengenai keselamatan Program pelatihan keselamatan kerja memberikan manfaat yang signifikan di lingkungan kerja saya. Program pelatihan keselamatan kerja berjalan dengan baik Perusahaan memberikan pelatihan keselamatan kerja kepada karyawan yang baru X11 Saya tahu prosedur penyelamatan. Saya memiliki pemahaman yang baik mengenai penggunaan peralatan keamanan, seperti pemadam kebakaran dan hidran kebakaran. Saya memenuhi persyaratan dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dalam bidang keselamatan kerja. X21 X22 Para pekerja memiliki hak dan kewajiban untuk melaporkan segala kondisi yang dianggap tidak aman dalam lingkungan kerja tanpa rasa takut atau hambatan. Para pekerja diizinkan dan merasa nyaman untuk meminta bimbingan kepada pimpinan dan perusahaan terkait dengan isu-isu kesehatan dan keselamatan kerja. Perusahaan memberikan informasi yang relevan tentang kesehatan dan keselamatan kerja kepada para pekerjanya. Perusahaan memberikan penjelasan kepada karyawan tentang risiko yang mungkin timbul selama menjalankan pekerjaan mereka. Perusahaan merespons masalah keselamatan kerja dengan cepat dan efektif. Perusahaan secara rutin menyelenggarakan pertemuan berkala mengenai kesehatan dan keselamatan kerja. Perusahaan sangat menerima berbagai gagasan dan ide untuk meningkatkan kesehatan dan keselamatan di lingkungan kerja. Perusahaan sangat mendorong komunikasi mengenai keselamatan di dalam lingkungan Perusahaan sering mendiskusikan isu-isu terkait keselamatan penumpang dan pekerja. Pimpinan menerapkan prosedur keselamatan kerja dengan sangat ketat di dalam kelompok kerja saya. Pimpinan sangat proaktif dalam menangani masalah kesehatan dan keselamatan kerja. Pimpinan menunjukkan kepemimpinan dengan mengalokasikan perhatian pada kesehatan dan keselamatan kerja. Pimpinan selalu menunjukkan inisiatif dalam menghadapi masalah terkait kesehatan dan keselamatan kerja. Pimpinan sangat berdedikasi dalam upaya meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja. Pimpinan sangat menitikberatkan pada pentingnya keselamatan di tempat kerja. Perusahaan secara berkala melakukan pemeriksaan keselamatan untuk meningkatkan keselamatan para pekerja. Perusahaan menyediakan peralatan keselamatan yang memadai Perusahaan memberikan kebebasan kepada karyawan untuk menjalankan praktik-praktik keselamatan kerja. Setelah terjadi kecelakaan, perusahaan akan berfokus pada pemecahan masalah dan upaya bersama untuk meningkatkan keselamatan kerja, daripada menyalahkan individu yang mungkin terlibat dalam kecelakaan tersebut. Perusahaan menawarkan program dan pelatihan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja yang sangat lengkap dan memadai. Perusahaan melakukan persiapan keselamatan kerja untuk situasi darurat dengan sangat X31 X12 X13 X14 X23 X32 X33 X34 X35 X36 X37 X38 X39 X310 X311 X312 X313 X314 X315 X316 X317 X318 X319 X320 X321 Variabel Notasi An observed Indikator Notasi Technology (Teknolog. Perusahaan memiliki standar perbaikan kendaraan dan catatan pemeliharaan kendaraan. Fasilitas keselamatan di kendaraan. Navigasi dan komunikasi di kendaraan. Peralatan medis di kendaraan. Peralatan medis di kantor. X41 X42 X43 X44 X45 Procedure (Prosedu. Demonstrasi penggunaan peralatan keselamatan untuk pegawai dan penumpang. Pemberitahuan dini mengenai kondisi cuaca. Demonstrasi prosedur penggunaan peralatan keselamatan untuk pegawai dan penumpang. X51 X52 X53 Safety Behavior (Perilaku Keselamata. Saya memakai alat pelindung diri ketika bekerja. Saya menggunakan semua peralatan keselamatan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan saya. Saya tidak mengabaikan keselamatan, walaupun ketika saya terburu-buru. Saya tidak mengabaikan keselamatan, walaupun ketika saya terburu-buru. Y11 Y12 Y13 Y14 Hasil dan Pembahasan Penelitian ini melibatkan 122 responden yang terdiri dari pramudi dan operator feeder LRT di Kota Palembang. Komposisi gender menunjukkan bahwa 91% responden adalah laki-laki, sementara 9% lainnya adalah perempuan. Dari segi kelompok usia, mayoritas responden berada pada rentang usia 2640 tahun . %), diikuti oleh kelompok usia 41-55 tahun . 25%). Tingkat pendidikan terakhir responden didominasi oleh lulusan SMU/SMK . 31%), dengan sebagian kecil di antaranya memiliki pendidikan D-i . 30%) dan Sarjana S1 . 39%). Dari 122 responden tersebut, dilakukan wawancara untuk mendapatkan persepsi dari indikatorindikator seperti yang dijabarkan pada Tabel 1. Penilaian persepsi menggunakan skala Likert dengan lima poin dari yang terkecil yaitu 1 untuk sangat tidak setuju sampai ke 5 untuk sangat setuju . Penjelasan mengenai hasil uji validitas, reliabilitas dan Confirmatory Factor Analysis (CFA) adalah sebagai berikut. Uji Validitas Penelitian ini melibatkan 122 responden dengan tingkat kepercayaan 95%. ( = 5%), sehingga nilai r tabel untuk 122 responden adalah 0,178. Hasil uji validitas untuk semua variabel-variabel teramati dari variabel-variabel tidak teramati yaitu karakteristik pelatihan keselamatan, pengetahuan keselamatan, manajemen keselamatan, perilaku keselamatan, dan tindakan berkeselamatan menunjukkan hasil yang Hal ini menunjukkan bahwa indikator-indikator pernyataan yang diberikan kepada responden dapat direspons dengan baik karena adanya keterikatan indikator pernyataan mengenai keselamatan operasional angkot feeder LRT. Uji Reliabilitas Reliabilitas merupakan suatu indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat diandalkan dan memberikan hasil yang konsisten ketika digunakan berulang kali. Dalam konteks ini, reliabilitas mengukur tingkat keandalan hasil suatu pengukuran . Analisis reliabilitas media penelitian dilakukan dengan menggunakan Metode CronbachAos Alpha. Kriteria nilai evaluasi adalah jika nilai CronbachAos Alpha melebihi 0,60 (CronbachAos Alpha > 0,. , maka media penelitian dianggap memiliki tingkat reliabilitas yang memadai . , . Untuk mengetahui reliabilitas variabel pelatihan keselamatan, pengetahuan keselamatan, manajemen keselamatan, perilaku keselamatan, dan tindakan berkeselamatan telah dilakukan pengisian kuesioner oleh 122 orang responden dengan menjawab pernyataan yang valid. Hasil uji reliabilitas menunjukan nilai CronbachAos Alpha variabel pelatihan keselamatan sebesar 0,989, variabel pengetahuan keselamatan sebesar 0,978, variabel manajemen keselamatan sebesar 0,990, teknologi Keselamatan sebesar 0,985, variabel prosedur keselamatan sebesar 0,919, dan variabel perilaku keselamatan sebesar 0,922. Semua indikator dinyatakan reliabel dikarenakan CronbachAos Alpha > 0,6 . maka dapat disimpulkan bahwa indikator-indikator tersebut reliable. Confirmatory Factor Analysis (CFA) Analisis faktor konfirmatori atau Confirmatory Factor Analysis (CFA) digunakan untuk memverifikasi dan memastikan banyaknya dimensi yang membangun suatu tes dan melihat pola hubungan antara item dengan faktor . , . Analisis faktor konfirmatori (CFA) terdiri dari loading factor dengan persyaratan nilai outer loading Ou 0,70. CronbachAos alpha Ou 0,7, average variance extracted (AVE) Ou 0,50, evaluasi discriminant validility yaitu cross loading dengan syarat nilai akar kuadrat AVE lebih besar dibandingkan dengan nilai korelasi antara konstruk serta composite reliability Ou 0,70 . Gambar 2 menjelaskan tentang Model Pengukuran Analisis Faktor Konfirmatori (CFA). Gambar 2. Model pengukuran analisis faktor konfirmatori (CFA) Convergent Validity Convergent validity model pengukuran diukur melalui indikator yang memiliki nilai berdasarkan hubungan antara skor indikator dan nilai konstruk. Evaluasi convergent validity menjelaskan sejauh mana indikator-indikator tersebut secara konsisten dan saling mendukung dalam mencerminkan konsep atau variabel laten yang dimaksudkan. Dalam proses ini, indikator dianggap valid secara konvergen jika mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengukur konstruk secara keseluruhan. Terdapat nilai loading factor indikator-indikator pada setiap variabel yang menunjukkan setiap indikator yang dihasilkan oleh variabel pelatihan keselamatan, pengetahuan keselamatan, manajemen keselamatan, perilaku keselamatan dan tindakan berkeselamatan telah tervalidasi dengan baik, di mana setiap indikator telah memenuhi nilai standardized loading factors, yaitu Ou 0,70 . Discriminant Validity Dalam SMART-PLS pengujian discriminant validity dapat dinilai berdasarkan fornell-larcker Pada pengujian fornell-larcker criterion, discriminant validity dapat dikatakan baik jika akar dari AVE pada konstruk lebih tinggi dibandingkan dengan korelasi konstruk dengan variabel laten Jika nilai akar kuadrat AVE setiap konstruk lebih besar daripada nilai korelasi antara satu konstruk dengan konstruk lainnya dalam model, maka dapat disimpulkan bahwa discriminant validity yang baik telah tercapai. Hasil nilai fornell-larcker menunjukkan adanya korelasi indikator variabel laten satu dengan lainnya. Terdapat perbandingan antara nilai akar kuadrat AVE lebih besar dibandingkan dengan nilai korelasi antara konsrtuk. Perbandingan tersebut dapat disimpulkan bahwa model ini memenuhi kriteria discriminant validity . Composite Reliability Dalam mengukur reliabilitas suatu konstruk dalam aplikasi SmartPLS, dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu menggunakan CronbachAos Alpha dan Composite Reliability. Pendekatan menggunakan CronbachAos Alpha memberikan nilai yang lebih rendah. Oleh karena itu, disarankan untuk lebih mengandalkan pada Composite Reliability, dengan nilai yang diharapkan seharusnya Ou 0,7 . Berdasarkan hasil pengolahan data, diketahui bahwa nilai variabel dalam pengujian reliabilitas, baik menggunakan CronbachAos Alpha maupun Composite Reliability, memiliki nilai Ou 0,7. Dapat disimpulkan bahwa variabel yang diuji telah tervalidasi dan reliabel. Hal ini memberikan dasar yang kuat untuk melanjutkan pengujian model struktural dengan keyakinan bahwa data yang digunakan dapat diandalkan dan representatif. Evaluasi Goodness of Fit Goodness of Fit (GoF) adalah salah satu metrik evaluasi kecocokan model dalam analisis PLS-SEM. GoF digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana model yang dihasilkan sesuai dengan data yang ada. Pada umumnya, semakin tinggi nilai-nilai metrik GoF, semakin baik kecocokan model dengan data. Namun, penilaian GoF selalu dikaitkan dengan konteks penelitian dan pemahaman mendalam terhadap model yang dibangun. Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak ada nilai ambang tertentu yang secara mutlak menunjukkan keberhasilan atau kegagalan model. Sebaliknya, penilaian relatif dan perbandingan dengan model alternatif atau teori substansif yang ada juga penting. Hasil dari analisis GoF ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil dari analisis GoF Nilai Goodness of Fit Tingkat Kecocokan yang Dapat Diterima Indeks Model Keterangan Chi-square Semakin kecil semakin baik . -value Ou 0,. Ou 0,90 O 0,05 Ou 0,90 Ou 0,90 Ou 0,90 24,78 . =0,. Good fit 0,951 0,022 0,924 0,981 0,974 Good fit Good fit Good fit Good fit Good fit GFI RMSEA AGFI NFI CFI Analisis Hipotesis Penelitian Pengujian hipotesis dilakukan dengan menganalisis model struktural . nner mode. , mengacu pada total efek yang mencerminkan koefisien parameter dan signifikansinya. Menurut Hair, dkk. dan Hair, dkk. pengujian hipotesis harus memenuhi kriteria, yaitu original sample, t-statistics, dan pvalues . , . Original sample digunakan untuk melihat arah dari pengujian hipotesis, jika menunjukkan nilai positif, maka arahnya positif, dan apabila menunjukkan nilai negatif, maka arahnya Selanjutnya, nilai t-statistik digunakan untuk melihat signifikansi hubungan variabel. Pada pengujian hipotesis memiliki tujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh atau hubungan antar variabel yang diuji, dan bersifat positif. Oleh karena itu, pengujian hipotesis ini menggunakan konsep uji hipotesis One Tailed, sehingga untuk menerima suatu hipotesis nilai t- statistic harus Ou 1,64 untuk standar eror sebanyak 5% . , . Dalam konteks penelitian ini, agar agar suatu hipotesis dapat diterima, nilai p-values harus < 0,05. Untuk menyimpulkan bahwa suatu hipoetsis dapat diterima, maka ketiga kriteria tersebut harus terpenuhi. Jika salah satu atau lebih kriteria tidak terpenuhi, maka hipotesis alternatif akan ditolak. Pada penelitian ini, untuk mendapatkan ketiga kriteria tersebut menggunakan metode bootstrapping yang diterapkan dalam rangka mengatasi adanya potensi ketidaknormalan data penelitian. Hasil pengujian dengan bootstrapping dapat dilihat pada output result for inner weight yang dilihat pada gambar model structural pada Gambar 3 dan hasil uji hipotesis pada Tabel 3. Gambar 3. Pengujian hipotesis . nner mode. Tabel 3. Hasil uji hipotesis Hipotesis Original Sample (O) Sampel Mean (M) Standard Deviation (STDEV) T-Statistics (O/STDEV) p-values H10 *** *** *** *** *** *** *** *** Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada Tabel 3, diterima atau ditolak dijelaskan sebagai berikut: Hasil Uji Hipotesis H1 Pada H1, pengetahuan keselamatan mempunyai pengaruh negatif terhadap perilaku keselamatan sebesar (-0,. dengan nilai T-statistic . ,328 < 1,. atau p-value . ,092 > 0,. Setiap adanya peningkatan pada pengetahuan keselamatan mempunyai pengaruh negatif, namun tidak signifikan pada peningkatan perilaku keselamatan. Hasil Uji Hipotesis H2 Pada H2, manajemen keselamatan mempunyai pengaruh positif terhadap perilaku keselamatan sebesar . dengan nilai T-statistic . ,705 > 1,. atau p-value . ,000 < 0,. Setiap adanya peningkatan pada manajemen keselamatan mempunyai pengaruh positif signifikan pada peningkatan perilaku keselamatan. Hasil Uji Hipotesis H3 Pada H3, pelatihan keselamatan mempunyai pengaruh positif terhadap perilaku keselamatan sebesar . dengan nilai T-statistic . ,510 > 1,. atau p-value . ,00 < 0,. Setiap peningkatan pada pelatihan keselamatan mempunyai pengaruh positif signifikan pada peningkatan perilaku keselamatan. Hasil Uji Hipotesis H4 Pada H4, pelatihan keselamatan mempunyai pengaruh positif terhadap pengetahuan keselamatan sebesar . dengan nilai T-statistic . ,287 > 1,. atau p-value . ,000 < 0,. Setiap adanya peningkatan pada pelatihan keselamatan mempunyai pengaruh positif signifikan pada peningkatan pengetahuan keselamatan. Hasil Uji Hipotesis H5 Pada H5, pelatihan keselamatan mempunyai pengaruh positif terhadap manajemen keselamatan sebesar . dengan nilai T-statistic . ,412 > 1,. atau p-value . ,000 < 0,. Setiap adanya peningkatan pada pelatihan keselamatan mempunyai pengaruh positif signifikan pada peningkatan perilaku keselamatan. Hasil Uji Hipotesis H6 Pada H6, teknologi keselamatan mempunyai pengaruh positif terhadap pelatihan keselamatan sebesar . dengan nilai T-statistic . ,791 > 1,. atau p-value . ,000 < 0,. Setiap adanya peningkatan pada teknologi keselamatan mempunyai pengaruh positif signifikan pada peningkatan pelatihan Hasil Uji Hipotesis H7 Pada H7, prosedur keselamatan mempunyai pengaruh positif terhadap pelatihan keselamatan sebesar . dengan nilai T-statistic . ,039 > 1,. atau p-value . ,000 < 0,. Setiap adanya peningkatan pada prosedur keselamatan mempunyai pengaruh positif signifikan pada peningkatan pelatihan Hasil Uji Hipotesis H8 Pada H8, teknologi keselamatan mempunyai pengaruh positif terhadap manajemen keselamatan sebesar . dengan nilai T-statistic . ,726 > 1,. atau p-value . ,000 < 0,. Setiap adanya peningkatan pada teknologi keselamatan mempunyai pengaruh positif signifikan pada peningkatan manajemen keselamatan. Hasil Uji Hipotesis H9 Pada H9, prosedur keselamatan mempunyai pengaruh negatif terhadap manajemen keselamatan sebesar (-0,. dengan nilai T-statistic . ,185 > 1,. dan p-value . ,118 < 0,. Setiap adanya peningkatan pada prosedur keselamatan mempunyai pengaruh negatif signifikan pada peningkatan manajemen keselamatan. Hasil Uji Hipotesis H10 Pada H10, teknologi keselamatan mempunyai pengaruh positif terhadap prosedur keselamatan sebesar . dengan nilai T-statistic . ,073 > 1,. atau p-value . ,000 < 0,. Setiap adanya peningkatan pada Teknologi keselamatan mempunyai pengaruh positif signifikan pada peningkatan prosedur keselamatan. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis pengujian faktor-faktor yang mempengaruhi keselamatan operasional angkot feeder LRT di Kota Palembang kepada para pramudi angkot feeder, diperoleh kesimpulan bahwa hasil model penelitian ini, menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel pelatihan keselamatan, pengetahuan keselamatan, manajemen keselamatan, dan perilaku keselamatan, serta memiliki pengaruh dari kesadaran pribadi terhadap praktik keselamatan yang dapat memperkuat maupun memperlemah keselamatan operasional angkot feeder LRT. Hasil ini memberikan dasar untuk implementasi strategi keselamatan yang lebih efektif di lingkungan yang diteliti. Berdasarkan hasil analisis goodness of fit terhadap model yang dievaluasi, dapat dinyatakan bahwa model ini menunjukkan tingkat kesesuaian yang sangat baik dengan data observasi. Nilai chi-square sebesar 24,78 dengan p-value 0,05 mengindikasikan bahwa terdapat ketidaksesuaian yang signifikan antara matriks kovariansi sampel dan yang dipasangkan, namun hasil ini masih berada pada batas ambang signifikansi. Secara khusus, nilai RMSEA sebesar 0,022 menegaskan bahwa model ini mampu dengan akurat memperkirakan matriks kovariansi populasi dengan tingkat kesalahan yang rendah, yang mengindikasikan tingkat kesesuaian yang kuat terhadap data observasi. Selain itu, nilai NFI. CFI. GFI, dan AGFI masing-masing adalah 0,981, 0,974, 0,951, dan 0,924, menunjukkan bahwa model mampu secara baik mereplikasi hubungan antar variabel dan mendekati pola nol independensi. Kesimpulan ini memberikan dukungan kuat bahwa model yang dievaluasi dapat diandalkan dalam merepresentasikan struktur kovariansi yang ada dalam data penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis model menggunakan metode SEM yang menghubungkan antara variabel laten endogen yaitu perilaku keselamatan dengan variabel laten eksogen yaitu, pelatihan keselamatan, pengetahuan keselamatan, manajemen keselamatan, dan praktik kesadaran pribadi terhadap tindakan Terdapat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku keselamatan yang dilihat dari ketiga kriteria meliputi kriteria original sample, t-statistic, dan p-values, baik yang berpengaruh positif signifikan maupun berpengaruh negatif signifikan. Hasil pemodelan dapat diamati seperti pelatihan keselamatan memiliki pengaruh positif terhadap perilaku keselamatan, ditunjukkan oleh nilai original sample 0,921. Lalu pelatihan keselamatan memiliki pengaruh signifikan terhadap prilaku keselamatan ditunjukkan nilai t-statistic 35,510 dan p-value 0,000. Sehingga, faktor pelatihan keselamatan memberikan pengaruh positif signifikan terhadap perilaku Pengetahuan keselamatan memiliki pengaruh negatif terhadap perilaku keselamatan, ditunjukkan oleh nilai original sample -0,126. Lalu pengetahuan keselamatan memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku keselamatan, yang ditunjukkan dengan nilai t-statistic 1,328 dan p-value 0,092. Sehingga faktor pengetahuan keselamatan memberikan pengaruh negatif signifikan terhadap perilaku keselamatan. Manajemen keselamatan memiliki pengaruh positif terhadap perilaku keselamatan, ditunjukkan oleh nilai original samples 0,624. Lalu manajemen keselamatan memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku keselamatan dilihat dari nilai t-statistic sebesar 3,705 dan p-value sebesar 0,000. Sehingga faktor manajemen keselamatan memberikan pengaruh positif signifikan terhadap perilaku keselamatan. Teknologi keselamatan mempunyai pengaruh positif terhadap manajemen keselamatan sebesar . dengan nilai t-statistic . ,726 > 1,. atau p-value . ,000 < 0,. Setiap adanya peningkatan pada teknologi keselamatan mempunyai pengaruh positif signifikan pada peningkatan manajemen keselamatan. Teknologi keselamatan mempunyai pengaruh positif terhadap pelatihan keselamatan sebesar . dengan nilai t-statistic . ,791 > 1,. atau p-value . ,000 < 0,. Setiap adanya peningkatan pada teknologi keselamatan mempunyai pengaruh positif signifikan pada peningkatan pelatihan keselamatan. Prosedur keselamatan mempunyai pengaruh negatif terhadap manajemen keselamatan sebesar (-0,. dengan nilai t-statistic . ,185 < 1,. atau p-value . ,118 < 0,. Setiap adanya peningkatan pada prosedur keselamatan mempunyai pengaruh negatif tidak signifikan pada peningkatan manajemen keselamatan. Ucapan Terima Kasih Terima kasih kepada PT Transportasi Global Mandiri, selaku penyedia layanan jasa angkot feeder LRT Musi Emas, dan para pramudinya yang telah membantu dan kooperatif dalam pelaksanaan penelitian Penelitian/publikasi artikel ini dibiayai oleh Anggaran DIPA Badan Layanan Umum Universitas Sriwijaya Tahun Anggaran 2024 Nomor SP DIPA 023. 617 51512024, tanggal 24 November 2023, sesuai dengan SK Rektor Nomor 0013/UN9/LP2M. PT/2024 tanggal 20 Mei 2024. Daftar Pustaka