JPn e-ISSN 2723-0503 Jurnal Pendidikan. Volume 26. Nomor 2 Desember 2025, 94 - 109 ISSN 1411-481X Analisis Kemampuan Berpikir Reflektif Matematis Siswa pada Materi Bentuk Aljabar ISSN 1411-481X ditinjau dari Aktivitas Discovery Learning Oleh: Try Gita Cahyani1. Demitra2. Muhammad Rizaldi3 trygitacahyani@gmail. com, 2demitra@fkip. id, 3muhammad. rizaldi@math. doi: https://doi. org/10. 52850/jpn. Received: July 06, 2025 History article: Accepted: December 23, 2025 Published: January 17, 2025 Abstrak Pentingnya kemampuan berpikir reflektif dalam pembelajaran matematika, yang menuntut siswa untuk menganalisis, mengevaluasi, dan meninjau kembali strategi pemecahan masalah. Tujuan penelitian ini adalah . mendeskripsikan kemampuan berpikir reflektif matematis siswa ditinjau dari aktivitas discovery learning . mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir reflektif matematis siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan desain explanatory sequential. Data kuantitatif diperoleh dari hasil observasi terhadap pelaksanaan discovery learning, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui tes tertulis dan wawancara mendalam terhadap dua orang siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti tahapan discovery learning dengan baik cenderung menunjukkan kemampuan berpikir reflektif matematis yang tinggi. Subjek penelitian mampu menunjukkan ketiga indikator berpikir reflektif . eacting, comparing, dan contemplatin. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir reflektif siswa meliputi aspek kognitif berdasarkan taksonomi Bloom, yaitu pengetahuan (C. , pemahaman (C. , penerapan (C. , analisis (C. , dan evaluasi (C. Kata Kunci: Bentuk Aljabar. Discovery Learning. Kemampuan Berpikir Reflektif. Matematika Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Palangka Raya. Jl. Yos Sudarso. Palangka Raya Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Palangka Raya. Jl. Yos Sudarso. Palangka Raya Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Palangka Raya. Jl. Yos Sudarso. Palangka Raya Cahyani , dkk: Analisis Kemampuan Berpikir Reflektif Matematis Siswa Analysis of Students' Mathematical Reflective Thinking Ability on Algebraic Forms Based on Discovery Learning Activities Abstract The importance of reflective thinking skills in mathematics learning stems from in their demand for students to analyze, evaluate, and reconsider problem-solving strategies. The objectives of this study are: . to describe students' mathematical reflective thinking abilities based on discovery learning activities, and . to identify the factors that influence students' mathematical reflective thinking abilities. This study employed a mixedmethod approach with an explanatory sequential design. Quantitative data were obtained through observations of the implementation of discovery learning, while qualitative data were gathered through tests and interviews with two students. The results show that students who effectively followed the stages of discovery learning tended to demonstrate a high level of mathematical reflective thinking. The research subjects were able to exhibit all three indicators of reflective thinking . eacting, comparing, and Factors influencing studentsAo reflective thinking skills include cognitive aspects based on Bloom's taxonomy: knowledge (C. , comprehension (C. , application (C. , analysis (C. , and evaluation (C. Keyword: Algebraic forms. Discovery Learning. Reflective thinking skills. Mathematics Pembelajaran matematika saat ini, berfokus pada pemecahan masalah dan liteasi matematis (Mairing et al. , 2024. Rizaldi et al. , 2023. Winata et al. , 2. Untuk memenuhi tujuan tersebut, diperlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi . igher-order thinking skill. yang mencakup kemampuan berpikir logis, kritis, analitis, reflektif dan kreatif dalam memahami serta menyelesaikan masalah (Ratnawati et al. , 2024. Rizaldi, 2020. Rizaldi et al. 2021, 2024, 2025. Setiawati et al. , 2. Di antara kemampuan berpikir tingkat tinggi matematika tersebut, kemampuan berpikir reflektif menjadi bagian penting karena memungkinkan siswa menghubungkan pengetahuan sebelumnya untuk menganalisis, menilai, membuat keputusan, mengevaluasi masalah untuk memperoleh kesimpulan (Andela et al. , 2024. Rhaudyatun, 2. Berpikir reflektif melibatkan proses kognitif untuk memahami apa yang menyebabkan konflik dalam suatu situasi. Selain itu, kemampuan berpikir reflektif juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah yang disertai dengan alasan logis dengan mempertahankan pendapat mereka, menganalisis, dan berpikir kembali ketika merespon atau memilih solusi yang berguna dalam pemecahan Jurnal Pendidikan. Volume 26. Nomor 2 Desember 2025, 94 - 109 masalah (Sani, 2. Oleh karena itu, berpikir reflektif merupakan bagian penting dalam pembelajaran matematika. Menurut teori Surbeck. Han, dan Moyer dalam Damastuti dkk. , . terdapat indikator berpikir reflektif yang digunakan sebagai acuan untuk mengetahui kemampuan berpikir reflektif seseorang yaitu: . Reacting . erpikir reflektif untuk aks. , dalam fase ini hal- hal yang harus dilakukan oleh siswa yaitu: menyebutkan apa yang diketahui dan ditanyakan,mampu menjelaskan yang diketahui cukup untuk menjawab yang ditanyakan, serta menyebutkan metode yang efektif untuk menyelesaikan soal, . Comparing . erpikir reflektif untuk evaluas. , adapun yang dilakukan pada fase ini adalah: memaparkan jawaban yang telah didapatkan, menghubungkan masalah yang ditanyakan dengan masalah yang pernah dihadapi, serta mengkaitkan keduanya, . Contemplating . erpikir reflektif untuk inkuiri kriti. , pada fase ini siswa melakukan: menentukan maksud dari permasalahan, mendeteksi kebenaran pada penentuan jawaban, memperbaiki jika terjadi kesalahan dari jawaban, serta dapat menarik kesimpulan dengan tepat. Hasil studi awal yang dilakukan peneliti menunjukkan adanya variasi dalam kemampuan berpikir reflektif matematis mereka, khususnya pada materi rasio. Berdasarkan analisis terhadap jawaban yang diberikan, sebagian besar siswa kesulitan dalam menghubungkan konsep rasio dengan pemecahan masalah secara reflektif. Beberapa siswa tampak hanya mengandalkan algoritma tanpa memperhatikan konteks atau makna lebih dalam dari soal. Hal itu ditunjukkan pada Gambar 1. Jawaban siswa di soal nomor 1 AuPada soal terkait rasio apel dan jeruk dalam paket buah, siswa memahami rasio masing-masing paket . :4 dan 9:. Namun, langkah langkah perhitungan yang rinci tidak dijelaskan, sehingga menunjukkan kurangnya refleksi dalam menjabarkan proses berpikir. Pada pertanyaan tentang harga per buah, siswa menyadari bahwa harga apel dan jeruk berbeda pada kedua paket, tetapi alasan yang diberikan tidak tersusun secara logis dan rinci. Hal ini juga terlihat pada soal pilihan paket ekonomis dengan anggaran tertentu, di mana siswa tidak menyertakan perhitungan yang jelas untuk mendukung pilihannya, yang mengindikasikan kurangnya kemampuan menggunakan data secara reflektif dalam pengambilan keputusan. Ay Lebih lanjut, jawaban siswa di soal nomor 2 ditunjukkan AuPada pertanyaan tentang harga per buah, siswa menyadari bahwa harga apel dan jeruk berbeda pada kedua paket, tetapi alasan yang diberikan tidak tersusun secara logis dan rinci. Hal ini juga terlihat pada soal pilihan Cahyani , dkk: Analisis Kemampuan Berpikir Reflektif Matematis Siswa paket ekonomis dengan anggaran tertentu, di mana siswa tidak menyertakan perhitungan yang jelas untuk mendukung pilihannya, yang mengindikasikan kurangnya kemampuan menggunakan data secara reflektif dalam pengambilan keputusanAy. Temuan ini menunjukkan perlunya pendekatan pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk lebih aktif berpikir dan mengeksplorasi konsep melalui proses discovery learning, yang diyakini dapat meningkatkan kemampuan berpikir reflektif mereka. Gambar 1. Jawaban Siswa pada Studi Awal Berpikir reflektif perlu didorong melalui pendekatan pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Dengan demikian, salah satu model pembelajaran yang diduga dan dapat menjadi alternatif pembelajaran matematika untuk meningkatan kemampuan berpikir reflektif matematis siswa adalah model pembelajaran discovery learning. Discovery learning merupakan model pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif dan mandiri dalam menemukan konsep atau prosedur baru melalui proses pemecahan masalah dengan guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator (Sinaga et al. Model ini memungkinkan siswa untuk menemukan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara mandiri, mengajak mereka untuk menyelidiki, memecahkan masalah, dan membangun pemahaman melalui pengalaman langsung. Seperti penelitian sebelumnya. Jurnal Pendidikan. Volume 26. Nomor 2 Desember 2025, 94 - 109 discovery learning terbukti efektif dalam melibatkan siswa secara aktif, yang berfokus pada penciptaan konsep dan prinsip melalui penemuan mandiri (Marianda et al. , 2. Tujuan dari model pembelajaran ini adalah untuk memastikan bahwa siswa memiliki pemahaman yang mendalam dan ingatan yang kuat terhadap materi, sehingga tidak mudah Salah satu topik penting yang dipelajari siswa kelas VII dalam pembelajaran matematika adalah bentuk aljabar. Aljabar merupakan materi matematika yang membuat siswa cemas (Friantini et al. , 2. Sehingga diperlukan pendekatan discovery learning yang terbukti efektif dalam pengajaran bentuk aljabar, karena memungkinkan siswa untuk aktif menemukan konsep dan menyelesaikan masalah secara mandiri. Pendekatan ini memberikan kesempatan bagi siswa menjadi lebih aktif, kreatif, kritis dan mandiri dalam memahami materi serta menarik kesimpulan (Andariska et al. , 2. Dengan demikian, penerapan discovery learning pada pembelajaran bentuk aljabar dapat mendukung pengembangan kemampuan berpikir reflektif siswa dan memperkuat pemahaman konsep secara keseluruhan. Beberapa penelitian sebelumnya juga menyatakan bahwa terdapat peningkatan kemampuan berpikir reflektif melalui model discovery learning (Dari dan Ahmad, 2020. Fitriani et al. Hasan, 2015. Susanti et al. , 2. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir reflektif sangat penting dimiliki oleh siswa, khususnya dalam mata pelajaran matematika. Hasil studi awal menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah secara reflektif. Pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir reflektif matematis siswa, salah satunya melalui metode discovery learning. Oleh karena itu, sangat diperlukan untuk mengetahui dan menganalisis berpikir reflektif siswa ditinjau dari discovery learning dan mengetahui faktor kognitif yang menyebabkan siswa untuk berpikir reflektif. Metode Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan mixed method. Data pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif merupakan metode penelitian yang dimaksud untuk mengumpulkan informasi mengenai status gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian (Arikunto, 2. Jenis desain dalam penelitian ini adalah explanatory sequential, yaitu sebuah desain Cahyani , dkk: Analisis Kemampuan Berpikir Reflektif Matematis Siswa penelitian dimulai dengan pengumpulan data kuantitatif yang kemudian diikuti dengan pengumpulan data kualitatif (Creswell, 2. Dalam konteks penelitian ini, data kuantitatif diperoleh melalui hasil observasi terhadap siswa dan guru selama proses pembelajaran discovery learning. Selanjutnya, data kualitatif dikumpulkan melalui tes tertulis dan wawancara mendalam terhadap siswa dan guru. Penelitian ini mendeskripsikan kemampuan berpikir reflektif matematis siswa dalam menyelesaikan soal bentuk aljabar dengan model pembelajaran discovery learning serta faktor apa saja yang mempengaruhinya. Subjek dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling di kelas VII-D MTs Muslimat NU Palangka Raya, dengan kriteria siswa yang telah mengikuti langkah-langkah model discovery learning dengan optimal. Peneliti melakukan observasi terhadap aktivitas guru dan siswa selama tiga kali pertemuan. Berdasarkan hasil observasi tersebut, peneliti memilih dua siswa sebagai subjek untuk diberikan tes tertulis dan wawancara mendalam, dengan pertimbangan bahwa kedua siswa tersebut menunjukkan persentase indikator kemampuan berpikir reflektif yang lebih tinggi dibandingkan siswa Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa observasi, tes, dan wawancara. Tes digunakan untuk mengevaluasi pemahaman siswa terhadap bentuk aljabar dan kemampuan siswa dalam berpikir reflektif matematis. Wawancara bertujuan untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang pengalaman, pandangan, dan perspektif individu terkait fenomena yang diteliti. Observasi digunakan untuk menganalisis hasil pembelajaran dengan model discovery learning yang telah dilaksanakan. Teknik analisis data pada penelitian ini terbagi dua yaitu teknik analisis data kualitatif model Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dan teknik analisis data kuantitatif dengan jumlah skor pada lembar observasi menggunakan perhitungan Skala Likert dengan kriteria sebagai berikut: Tabel 1. Kriteria Aktivitas Pembelajaran Guru dan Siswa Kriteria Tingkat Aktivitas Pembelajaran 80%