JIKO (Jurnal Ilmiah Keperawatan Orthoped. Vol. 3 No. Volume. 3 Nomor. Periode: Januari Ae Juni 2019. p-ISSN : 2580-1112. e-ISSN : 2655-6669 Copyrighr @2019 Penulis memiliki hak cipta atas artikel ini journal homepage: https://ejournal. Jurnal Ilmiah Keperawatan Orthopedi (JIKO) Meningkatkan Kooperatif Anak Melalui Permainan Ular Tangga Ayuda Nia Agustina1. Mesia Christina Happy2. Nesri Aulina3 Akademi Keperawatan Fatmawati. Jakarta Selatan Abstrak Perkembangan pada anak usia prasekolah mengalami penurunan ketika anak mengalami sakit dan tak jarang mengharuskan mereka dirawat di rumah sakit . Anak-anak akan menjadi sangat tergantung dengan orang tua atau pengasuh, sehingga dapat mempengaruhi sikap kooperatif anak dan perkembangannya. Apabila tidak ditangani segera maka dapat menghambat perawatan selama di rumah sakit. Penelitian ini menganalisis penerapan terapi aktivitas bermain untuk meningkatkan kooperatif anak selama di rumah sakit. Desain yang digunakan adalah studi kasus. Terdapat empat kasus yang dibahas. Diagnosa keperawatan utama adalah risiko gangguan perkembangan anak. Intervensi utama yang diterapkan adalah permainan ular tangga. Hasil akhir penerapan terapi aktivitas bermain ular tangga menunjukkan bahwa terapi aktivitas bermain dapat meningkatkan kooperatif anak pra sekolah selama hospitalisasi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kontak mata keempat subjek saat berinteraksi dengan tenaga kesehatan, dapat bekerjasama dengan tenaga kesehatan dan subjek tidak sungkan bertanya terhadap prosedur yang dilakukan terhadapnya. Terapi aktivitas bermain berperan penting untuk memfasilitasi perkembangan anak, salah satunya adalah kooperatif selama dirawat di rumah sakit dan mempermudah proses pengobatan juga penyembuhan anak, sehingga pemberi an terapi aktivitas bermain perlu dilakukan secara konsisten oleh perawat dan keluarga agar proses pengobatan dan proses keperawatan dapat diberikan dengan optimal. Kata Kunci: Anak Prasekolah. Hospitalisasi. Perkembangan. Terapi Bermain Ular Tangga Abstract The development's preschool children can be decrease when they have experiences of pain and hospitalized. Children will become very dependent on parents or caregivers, so that it can affect the child's cooperative attitude and development. If not treated immediately it can effect treatment while in hospital. This study analyzes the application of play therapy to improve children's cooperation while in hospital. The design used is a case There are four cases discussed. The main nursing diagnosis is the risk of developmental disorders in children. The main intervention applied was the snake and ladder game. The final results showed that play therapy could be increase the cooperatives of pre-school children during hospitalization. This is indicated by the eye contact of the four subjects when interacting with health workers, can work together with health workers and the subject does not hesitate to ask the procedures performed on them. 1,2,3 e-mail: ayudania@akperfatmawati. Meningkatkan Kooperatif Anak Melalui Permainan Ular Tangga JIKO (Jurnal Ilmiah Keperawatan Orthoped. Vol. 3 No. Play therapy plays an important role to facilitate children's development, one of which is cooperative during hospitalization and facilitates the treatment process as well as healing children, so that the provision of play therapy needs to be consistently by nurses and families so that the treatment process and nursing process can be optimally provided . Keywords: Preschool Children. Hospitalization. Development. Snake Ladder Play Therapy Pendahuluan Berdasarkan data yang didapat dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak . , jumlah penduduk Indonesia mencapai 258 juta jiwa, sepertiga diantaranya . ,24 %) adalah anak-anak. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan kesehatan pada anak akan sangat mempengaruhi angka kesehatan nasional. Angka kesakitan anak Indonesia Survei Kesehatan Nasional (Susena. tahun 2014 yang dikutip dalam Profil Anak Indonesia . , yaitu sebesar 15,26 %. Angka kesakitan anak di daerah perdesaan sebesar 15,75 %, sementara angka kesakitan di daerah perkotaan sebesar 14,74 %. Melihat fenomena di atas angka kesakitan pada anak sangat tinggi, sehingga berdampak pada peningkatan jumlah anak yang dirawat di rumah sakit. Anak yang dirawat di rumah sakit akan mengalami masalah terhadap perubahan lingkungan, ketidaknyamanan selama berada di rumah sakit . yang dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Adapun dampak jangka pendek dari hospitalisasi yang tidak segera ditangani antara lain akan membuat anak melakukan penolakan terhadap tindakan perawatan dan pengobatan yang diberikan sehingga berpengaruh terhadap lamanya hari rawat, memperberat kondisi anak dan bahkan dapat menyebabkan kematian pada anak. Sedangkan dampak jangka panjangnya adalah akan mempengaruhi pada pertumbuhan dan perkembangan anak, antara lain adanya kesulitan dan kemampuan membaca yang buruk, menurunnya kemampuan intelektual dan sosial serta fungsi imun. Salah satu perkembangan anak dapat dicapai melalui Bagi anak, seluruh aktivitasnya adalah bermain yang juga mencakup bekerja, kesenangannya dan metode bagaimana mereka mengenal dunia. Ketika bermain, anak tidak hanya sekadar melompat, melempar atau berlari, tetapi mereka bermain dengan menggunakan seluruh emosi, perasaan dan pikirannya (Saputro & Fazrin, 2. Berdasarkan pengamatan peneliti selama berada di rumah sakit, hampir semua anak yang dirawat mengalami dampak hospitalisasi, salah satunya anak usia sekolah dimana anak tersebut mengalami rasa cemas, takut terhadap perawat, sering menangis, rewel, tidak mau makan, tidak mau menggerakkan tangan yang terpasang infus, menolak untuk mobilisasi, bahkan menolak untuk dilakukan tindakan keperawatan. Anak yang mengalami kecemasan jika tidak dilakukan penanganan untuk mengatasi rasa cemasnya, akan mengakibatkan perilaku tidak kooperatif. Salah satunya anak akan melakukan penolakan terhadap tindakan perawatan dan pengobatan yang Perilaku penolakan tersebut dapat berpengaruh terhadap lamanya hari rawat, memperberat kondisi anak, menghambat tumbuh kembang anak, serta dapat menyebabkan kematian pada Melihat fenomena tersebut, maka pemberian terapi aktivitas bermain sangat perkembangan anak pra sekolah selama Perawat merupakan salah satu pemberi pelayanan yang terdekat dengan pasien, sehingga Meningkatkan Kooperatif Anak Melalui Permainan Ular Tangga JIKO (Jurnal Ilmiah Keperawatan Orthoped. Vol. 3 No. peran perawat sangat penting dalam mengurangi masalah hospitalisasi. Bermain dapat menjadi media terapi yang baik bagi anak-anak bermasalah. Selain berguna untuk mengembangkan potensi anak, bermain juga dapat dilakukan untuk meningkatkan sikap Bermain pekerjaan atau aktivitas anak yang sangat Melalui bermain akan semakin keterampilan motorik anak, kemampuan Melalui kontak dengan dunia nyata, menjadi eksis di lingkungannya, menjadi percaya diri, dan masih banyak lagi manfaat lainnya (Martin, 2. Beberapa penelitian terkait terapi aktivitas bermain yaitu penelitian yang dilakukan oleh Handayani dan Puspitasari . memiliki adanya pengaruh terapi bermain terhadap tingkat kekooperatifan pada anak usia 3Ae5 tahun. Purwandari, dkk . menyatakan bahwa terapi bermain berdampak terhadap penurunan kecemasan perpisahan pada anak yang mengalami hospitalisasi. Penelitian yang dilakukan oleh Nida Adilah dan Irman Somantri . menyatakan bahwa terdapat perbedaan skor kecemasan pada usia toddler dan prasekolah setelah pemberian terapi mendongeng. Penelitian Suryanti dan Yulistiani . mengemukakan bahwa terdapat perbedaan antara tingkat kecemasan yang dialami anak sebelum dilakukan terapi bermain . ewarnai dan origam. dan sesudah dilakukan terapi bermain . ewarnai Dalam kesimpulan bahwa terapi bermain . ewarnai menurunkan tingkat kecemasan anak usia prasekolah, dari tingkat kecemasan sedang menjadi tingkat kecemasan Penelitian lain yang diungkapkan oleh Koukourikos. Tzeha. Pantelidou dan Tsaloglidou bahwa melalui bermain secara terapeutik dapat meningkatkan kesehatan fisik maupun emosional pada anak di rumah Metode Penelitian ini menggunakan desain studi kasus. Kasus yang diambil sebanyak Tempat diadakan penelitian di ruang perawatan bedah dan penyakit infeksi anak . antai 3 selatan dan 3 utar. RSUP Fatmawati. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan Juni 2018. Subjek dalam penelitian adalah anak pra sekolah, yaitu anak berumur 3-6 tahun yang memiliki masalah keperawatan risiko gangguan perkembangan. Diagnosa medis dari keempat subjek adalah: Diare dengan dehidrasi berat, cedera kepala ringan, dan dua kasus prolong fever. Data didapatkan dari catatan medis, catatan keperawatan dan keperawatan diberikan. Intervensi utama yang diterapkan adalah permainan ular Etika penelitian yang diterapkan adalah memberikan manfaat kepada subjek, memberikan kebebasan anak dan berpartisipasi atau tidak dalam penelitian, menjaga privasi anak, mempertahankan kenyamanan dan bersikap adil. Hasil Kasus 1. Seorang anak laki-laki berinisial A berumur 6 tahun, dibawa ke IGD RSUP Fatmawati dengan keluhan utama mual muntah lebih dari 3 kali disertai darah dan sisa makanan, mengalami buang air besar (BAB) lebih dari 5 kali dengan konsistensi cair disertai lendir dan busa sebelum masuk rumah Diagnosis medis saat masuk yaitu diare dehidrasi berat. Ibu subjek berumur 44 tahun, beragama islam, suku bangsa jawa, pendidikan terakhir sarjana dan bekerja sebagai guru PAUD. Ayah subjek berumur 58 tahun, beragama Islam, suku bangsa betawi, pendidikan terakhir sarjana dan bekerja sebagai pegawai Sumber biaya JKN. Meningkatkan Kooperatif Anak Melalui Permainan Ular Tangga JIKO (Jurnal Ilmiah Keperawatan Orthoped. Vol. 3 No. Hasil pemeriksaan fisik, didapatkan data: kesadaran sadar penuh, berat badan anak saat ini 16 kilogram, berat badan sebelum sakit 17 kilogram, tinggi badan 104 sentimeter. tanda-tanda vital: frekuensi nadi: 90 kali per menit, frekuensi pernapasan: 20 kali per menit, suhu tubuh: 37,8 AeC. Hasil wawancara yang dilakukan dengan ibu subjek, yaitu selama di rumah sakit subjek selalu bermain handphone. Subjek selalu malu bila di dekati oleh petugas kesehatan dan selalu rewel bila dilakukan tindakan Selain itu, ibu merasa kesulitan untuk melarang subjek berhenti bermain handphone. Masalah teridentifikasi sebanyak empat, yaitu: Resiko kekurangan volume cairan, ketidakseimbangan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan asupan makanan, kerusakan Intervensi yang diberikan yaitu mengevaluasi perkembangan anak usia prasekolah, memotivasi orangtua untuk mengajak anak bermain, memfasilitasi terapi aktivitas bermain, memberikan pujian terhadap orangtua yang mengajak anak bermain, meningkatkan latihan dengan menggunakan berbagai mainan di tempat tidur anak, memberikan distraksi setelah prosedur yang menyebabkan rasa takut, melibatkan orangtua pada saat dilakukannya tindakan keperawatan. Evaluasi asuhan keperawatan setelah lima hari yaitu : kekurangan volume cairan tidak terjadi, ketidakseimbangan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh belum teratasi, kerusakan integritas kulit teratasi gangguan perkembangan tidak terjadi. Kasus 2. Seorang anak laki-laki berinisial S berumur 6 tahun dibawa ke IGD RSUP Fatmawati dengan keadaan pingsan selama 4 jam. Sebelumnya subjek terjatuh dari sepeda dan terbentur Diagnosis medis saat masuk yaitu cedera kepala ringan. Ibu subjek berumur 36 tahun, agama islam, suku bangsa jawa, pendidikan terakhir SLTA dan tidak Ayah subjek berumur 40 tahun, agama islam, suku bangsa jawa, pendidikan terakhir SLTA, dan bekerja sebagai karyawan swasta. Sumber biaya yaitu BPJS. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan data kesadaran sadar penuh, berat badan anak saat ini adalah 16 kilogram, berat badan sebelum sakit 16 kilogram, tinggi badan 110 sentimeter. tanda-tanda vital: frekuensi nadi: 86 kali per menit, frekuensi pernapasan 22 kali per menit, suhu tubuh 38,5 AeC. Hasil wawancara yang dilakukan dengan ibu subjek yaitu anak tampak lebih diam bila diajak Anak tampak takut bila diajak komunikasi dengan petugas kesehatan, dan lebih banyak diam serta Berdasarkan data-data tersebut. Nyeri, perdarahan, risiko infeksi dan risiko gangguan perkembangan. Intervensi yang diberikan yaitu mengevaluasi tingkat perkembangan anak usia prasekolah, memotivasi orangtua untuk mengajak anak bermain, memfasilitasi terapi aktivitas bermain, memberikan pujian terhadap orangtua yang mengajak anak bermain, meningkatkan latihan dengan menggunakan berbagai mainan di tempat tidur anak, memberikan distraksi setelah prosedur yang menyebabkan rasa takut, dilakukannya tindakan keperawatan, kolaborasi pemberian terapi obat melalui oral piracetam 2 kali 1 tablet dan parenteral KaEn 1B 1000 cc per hari. Evaluasi masalah setelah 5 hari pemberian asuhan keperawatan yaitu: nyeri teratasi, perdarahan tidak terjadi, perkembangan tidak terjadi. Kasus 3, seorang anak perempuan berinisial S berumur 5 tahun, dibawa ke RSUP Fatmawati dengan keluhan utama deman sejak 2 bulan yang lalu, deman semakin tinggi saat malam hari, dan Meningkatkan Kooperatif Anak Melalui Permainan Ular Tangga JIKO (Jurnal Ilmiah Keperawatan Orthoped. Vol. 3 No. mengalami diare sejak 5 hari yang lalu, terdapat keluhan nyeri pada seluruh tubuh terutama tangan dan kaki. Diagnosis medis yaitu Prolong Fever e. c Autoimun. Ibu anak berumur 36 tahun, beragama Islam, suku bangsa jawa, pendidikan terakhir tamat SMA, ibu rumah tangga. Ayah berumur 36 tahun, beragama Islam, suku bangsa jawa, pendidikan terakhir Diploma i, pekerjaan pegawai negri Sumber biaya BPJS. Hasil pengkajian sebagai berikut: kesadaran sadar penuh, berat badan anak sekarang 22 kg, berat badan sebelum sakit 24 kg, frekuensi nadi: 110 kali per menit, frekuensi pernapasan: 24 kali per menit, suhu tubuh: 39,8 AC. Konjungtiva pucat, membran mukosa kering, turgor kulit tidak elastis, waktu pengisian kapiler kurang dari 2 detik dan mendapatkan cairan infus. An. S mengeluh sakit jika kaki dan tangannya disentuh, anak rewel saat dilakukan tindakan, tampak cemas dan takut saat melihat perawat, kontak mata ada dengan perawat namun tidak bertahan lama. Hasil wawancara dengan ibu subjek didapatkan data bahwa subjek selama dirawat menjadi pendiam, selalu rewel saat dilakukan tindakan, cemas dan takut dengan perawat sehingga anak menjadi tidak kooperatif setiap dilakukan Teridentifikasi empat diagnosa keperawatan, yaitu: Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer, kekurangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh, dan risiko gangguan perkembangan anak. Intervensi mengevaluasi perkembangan dan sikap kooperatif subjek, memberikan sentuhan dan sering melakukan kontak mata, menjelaskan semua prosedur menggali apa yang akan dirasakan selama prosedur dilakukan, memfasilitasi bermain ular tangga bagi subjek dan keluarga, memberikan pujian kepada anak dan keluarga setelah terapi aktivitas bermain. Evaluasi keperawatan setelah lima hari perawatan yaitu: ketidakefektifan perfusi kekurangan volume cairan teratasi, ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh belum teratasi dan gangguan perkembangan tidak terjadi. Kasus 4, seorang anak laki-laki berumur 4 tahun dibawa ke RSUP Fatmawati dengan keluhan utama demam sejak 2 minggu yang lalu dan meningkat saat malam hari, batuk sejak 3 hari namun tidak ada produksi sputum. Diagnosis anak saat masuk yaitu prolong fever. Ibu berumur 30 tahun, beragama Islam, suku bangsa betawi, pendidikan terakhir sarjana dan ibu rumah tangga. Ayah subjek berumur 30 tahun, beragama Islam, suku bangsa betawi, pendidikan terakhir sarjana, pekerjaan pegawai negri Sumber biaya BPJS. Hasil pengkajian didapatkan datadata: kesadaran sadar penuh, berat badan 20 kg, tinggi badan 110cm. Frekuensi nadi 100 kali per menit, frekuensi pernapasan 23 kali per menit, suhu tubuh 38,0 AC, anak rewel saat dilakukan tindakan, takut saat melihat perawat, kontak mata tidak ada dengan perawat, tidak peduli dengan lingkungan sekitar, dan sering bermain gadget telepon Hasil wawancara dengan ibu subjek, yaitu anak selama dirawat menjadi pendiam, rewel saat dilakukan tindakan, selalu bermain handphone karena merasa bosan, cemas dan takut dengan perawat, anak menjadi tidak kooperatif setiap dilakukan tindakan. Berdasarkan data-data didapatkan, dirumuskan tiga diagnosa keperawatan, yaitu: ketidakefektifan ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh dan risiko gangguan Intervensi yang diberikan yaitu mengevaluasi perkembangan anak, diberikan, memfasilitasi bermain ular tangga, memeriksa laboratorium darah Setelah 5 hari pemberian ketidakefektifan perfusi jaringan perifer Meningkatkan Kooperatif Anak Melalui Permainan Ular Tangga JIKO (Jurnal Ilmiah Keperawatan Orthoped. Vol. 3 No. kurang dari kebutuhan tubuh belum teratasi, dan gangguan perkembangan tidak terjadi Pembahasan Pada keempat subjek tersebut saat hospitalisasi yang ditunjukkan pada reaksi keempat subjek selama mengalami Keempat subjek berada pada usia prasekolah yang memiliki ketergantungan dengan orangtua tinggi sehingga kerjasama dengan orangtua Keluarga khususnya ibu adalah orang yang paling mengetahui apa yang dibutuhkan oleh anak. Usia dikaitkan dengan pencapaian menunjukkan bahwa anak usia prasekolah pengalaman baru dengan lingkungan Dalam penelitian (Tsai, 2. , semakin muda usia anak, kecemasan hospitalisasi akan semakin tinggi. Anak prasekolah lebih mungkin mengalami kemampuan kognitif anak yang terbatas untuk memahami hospitalisasi. Pada semua subjek, memperlihatkan reaksi selama hospitalisasi, yaitu, kontak mata kurang, rewel, memangis apabila didatangi petuugas kesehatan, dan tidak Ketidakkooperatifan subjek selama hospitalisasi dipengaruhi berbagai macam Pada keempat kasus terpilih, yang menjadi penyebab stres subjek adalah status kesehatan, keberadaan tenaga kesehatan dan prosedur medis atau non medis yang didapatkan oleh subjek. prosedur medis yang didapatkan dapat Susilaningrum. Nursalam dan Utami . menjelaskan bahwa penyebab stres anak pra sekolah pada saat mengalami hospitalisasi antara lain cemas disebabkan perpisahan, kehilangan kontrol dan luka pada tubuh dan rasa sakit . Diagnosa keperawatan yang ada pada setiap kasus terpilih yaitu risiko gangguan perkembangan berhubungan Diagnosa ini sesuai dengan teori yang Susilaningrum. Nursalam dan Utami . Pelaksanaan keperawatan mengacu pada rencana tindakan keperawatan, bertujuan agar pasien mempunyai . engetahui, memahami, dan menyadar. , afektif . Pelaksanaan keperawatan dilakukan sesuai dengan perencanaan keperawatan dan disesuaikan dengan keadaan dan kondisi pasien. Permainan ular tangga adalah permainan yang menggunakan dadu untuk menentukan berapa langkah yang harus dijalani bidak. Permainan ini masuk dalam kategori Auboard gameAy atau permainan monopoli, halma, ludo, dan Papan berupa gambar petakpetak yang terdiri dari 10 baris dan 10 kolom dengan nomor 1-100, serta bergambar ular dan tangga (Husna. Alasan menggunakan permainan ular tangga bertujuan untuk memperjelas konsep, pola, dan urutan bilangan, mampu memuaskan rasa ingin tahu, membayangkan, dan menerjemahkan pengalaman bermain tersebut menjadi sesuatu yang bermakna bagi anak, serta mengembangkan kemampuan kognitif. samping itu, teknik permainan ular tangga dapat mengurangi dampak hospitalisasi dan kecemasan sehingga didiharapkan perkembangan anak pada askpek sikap kooperatif dapat meningkat. Permainan ular tangga diberikan dengan durasi 15 menit di setiap sesinya. Dalam sehari permainan ular tangga dapat diberikan 23 sesi. Meningkatkan Kooperatif Anak Melalui Permainan Ular Tangga JIKO (Jurnal Ilmiah Keperawatan Orthoped. Vol. 3 No. Menurut Deslidel. Hasan. Hevrialni dan Sartika . , tujuan bermain di rumah sakit adalah untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan secara optimal, mengekspresikan perasaan, keinginan dan fantasi serta ide-idenya, sehingga anak dapat beradaptasi lebih efektif terhadap stres. Adapun manfaat dari bermain menurut Wong . adalah memberikan sarana untuk melepaskan diri dari ketegangan dan stres yang dihadapi di lingkungan. Kooperatif berarti bersifat kerja sama, bersedia membantu. Kooperatif adalah sikap yang menunjukkan kerja sama, tidak melakukan penentangan terhadap suatu sikap individu maupun golongan tertentu. Dalam hal ini kerja sama yang dimaksud adalah kerja sama yang ditunjukkan anak selama menjalani perawatan di rumah sakit (KBBI, 2. Sikap kooperatif pada anak sangat dipengaruhi oleh adanya faktor dukungan keluarga, yakni kehadiran keluarga di rumah sakit, keterlibatan keluarga dalam pemberian asuhan keperawatan dan hubungan keluarga dengan perawat dan tim kesehatan lain. Peran perawat dalam mengoptimalkan tingkat kooperatif anak, salah satunya adalah dengan menyusun perencanaan keperawatan terapi aktivitas bermain untuk mengurangi dampak Selama penelitian dilaksanakan, peneliti mengobservasi sikap dan perilaku subjek sebelum dan setelah diberikan intervensi terapi aktivitas bermain setiap hari selama 5 hari. Hari ke-5 pemberian intervensi, keempat subjek menunjukkan adanya kontak mata dengan tenaga kesehatan yang datang ke tempat tidurmya, tidak lagi rewel, subjek menyebutkan namanya, subjek mau diajak bermain, menyatakan senang setelah bermain, tidak menangis apabila ditinggal ibu, dapat mengajukan bertanya tentang prosedur yang akan diberikan, frekuensi berinteraksi dengan handphone pun sudah minimal, hanya 1-2x per hari degan durasi 15 menit. Reaksi anak setelah diberikan terapi bermain, sejalan dengan hasil penelitian Levy Alan mengemukakan bahwa melalui bermain secara terapeutik dapat meningkatkan kesehatan fisik maupun emosional pada anak di rumah sakit. Penelitian Ningrum dan Nasrudin . menyatakan bahwa ada pengaruh bermain kolase kartun prasekolah selama prosedur nebulizer di Rumah Sakit Airlangga. Wiguna. Kusumaningsih dan Sumarni . pengaruh penggunaan elastic bandage bermotif . terhadap tingkat kooperatif anak usia prasekolah selama prosedur injeksi IV preset di Rumah Sakit Umum Daerah Klungkung. Begitu pula dengan Handayani dan Puspitasari . dalam penelitiannya mengatakan bahwa ada pengaruh terapi bermain terhadap tingkat kooperatif pada anak usia 3 Ae 5 tahun di Ruang CB2 Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Kesimpulan Terapi menggunakan ular tangga dapat menjadi pilihan intervensi untuk mengatasi masalah kecemasan, dampak hospitalisasi dan risiko gangguan perkembangan pada anak pra sekolah, namun dibutuhkan komitmen oleh perawat agar dapat diterapkan secara rutin dan terstruktur sehingga dapat memberikan manfaat. Ucapan Terima Kasih Akademi Keperawatan Fatmawati yang telah membantu pembiayaan dan pendanaan penelitian. Pihak RSUP Fatmawati tempat penelitian dilaksanakan terutama staf lantai 3 utara . uang ruang perawatan beda. dan 3 selatan . uang perawatan penyakit infeks. yang telah memberikan banyak bantuan terlibat penelitian dan seluruh perawat yang Meningkatkan Kooperatif Anak Melalui Permainan Ular Tangga JIKO (Jurnal Ilmiah Keperawatan Orthoped. Vol. 3 No. bersedia ikut berpartisipasi sehingga penelitian ini dapat selesai, serta keluarga yang senantiasa memberikan dukungan secara materil dan non materi. Daftar Pustaka