DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Eksplorasi Gaya Manajemen Konflik Competing dan Collaborating dalam Tim pada Film Moneyball Nazhifah Wardani, 2Gagas Gayuh Aji, 3Amaliyah, 4Erindah Dimisqiyani D4 Manajemen Perkantoran Digital. Universitas Airlangga. Surabaya E-mail: 1nazhifah. wardani-2023@vokasi. aji@vokasi. id, 3amaliyah@vokasi. id, , 4erindah- dimisyqiyani@vokasi. ABSTRAK Dinamika organisasi sering kali memunculkan konflik, terutama dalam tim yang bergantung pada kolaborasi untuk mencapai tujuan mereka. Dalam tim olahraga, perbedaan pendapat mengenai peran, strategi, dan komunikasi dapat berdampak signifikan terhadap kinerja serta hubungan antaranggota. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana gaya manajemen konflik, khususnya competing dan collaborating, ditampilkan dalam film Moneyball . serta bagaimana pendekatan tersebut memengaruhi dinamika tim. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui analisis konten, penelitian ini menelaah adegan, dialog, dan interaksi Billy Beane, manajer umum Oakland Athletics, terkait penerapan strategi competing dan collaborating. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Beane menerapkan gaya competing ketika membuat keputusan strategis yang tegas dan menolak metode rekrutmen tradisional, sementara gaya collaborating muncul dalam kerja samanya dengan Peter Brand dan para pemain untuk merancang solusi inovatif berbasis data. Kombinasi ini mempercepat perubahan organisasi sekaligus memperkuat motivasi dan kerja sama tim. Penggunaan yang tepat dari masingmasing gaya memastikan konflik menjadi peluang untuk kreativitas, bukan sumber perpecahan. Penelitian ini menyoroti potensi film sebagai media reflektif dalam memahami perilaku organisasi dan manajemen konflik, yang menjembatani teori dan praktik dengan cara yang menarik. Penelitian selanjutnya dapat mengkaji film manajemen lainnya atau membandingkan strategi manajemen konflik dalam berbagai konteks organisasi untuk memperkaya perspektif tentang kepemimpinan efektif dan kolaborasi tim. Kata kunci: Moneyball, manajemen konflik, gaya competing, gaya collaborating, perilaku organisasi, dinamika tim, analisis konten kualitatif ABSTRACT Organizational dynamics often give rise to conflicts, particularly in teams that depend on collaboration to achieve their goals. In sports teams, disagreements about roles, strategy, and communication can significantly affect performance and relationships among members. This study aims to explore how conflict management styles, specifically competing and collaborating, are portrayed in the film Moneyball . and how these approaches influence team dynamics. Using a qualitative descriptive method with content analysis, the research examines scenes, dialogues, and interactions of Billy Beane, the general manager of the Oakland Athletics, in relation to his application of competing and collaborating strategies. The findings reveal that Beane applies the competing style when making firm strategic decisions and resisting traditional recruitment methods, while the collaborating style emerges in his cooperation with Peter Brand and the players to design innovative, data-driven solutions. This combination accelerates Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. organizational change while strengthening motivation and teamwork. Proper use of each style ensures that conflicts become opportunities for creativity rather than sources of division. The study highlights the potential of films as reflective media for understanding organizational behavior and conflict management, bridging theory and practice in an engaging way. Future research may examine other management-related films or compare conflict management strategies across different organizational contexts to enrich perspectives on effective leadership and team collaboration. Keyword : Moneyball, conflict management, competing style, collaborating style, organizational behavior, team dynamics, qualitative content analysis PENDAHULUAN Dinamika organisasi maupun tim yang kompleks kerap memunculkan konflik sebagai fenomena yang tidak dapat dihindari, khususnya dalam organisasi yang mengandalkan kerja tim seperti tim olahraga. Ketidaksepakatan terkait pembagian tugas, pencapaian target, hingga pola komunikasi sering menjadi sumber permasalahan, ditambah dengan keragaman tim serta perbedaan karakteristik individu, baik dari segi gender, emosi, status sosial, kondisi ekonomi, agama, etnis, budaya, maupun tujuan hidup, yang sering kali memicu konflik (Deca & Pitriani, 2. Konflik dalam tim umumnya muncul ketika terdapat perbedaan tujuan, kepentingan, nilai, atau persepsi di antara anggotanya, komunikasi atau interpretasi berbeda terhadap tugas dan tanggung jawab, ketegangan interpersonal apabila tidak segera dikelola. Robbins dan Judge . menjelaskan bahwa konflik berkembang melalui lima tahapan, yaitu potensi oposisi atau ketidaksesuaian, tahap kognisi dan personalisasi, pembentukan niat, perilaku, hingga konsekuensi. Agar konsekuensi yang timbul tidak bersifat negatif maupun merusak produktivitas tim, diperlukan manajemen konflik yang konstruktif, sehingga dampak negatif Kemampuan manajemen konflik tidak hanya berfungsi mendorong inovasi, memperkuat kerja sama, serta meningkatkan efektivitas dan produktivitas tim, karena konflik dapat menjadi sarana pembelajaran yang berharga apabila dikelola dengan baik, sebaliknya berpotensi merugikan bila diabaikan (Efriza & Mendrofa, 2024:. Dengan meningkatnya inovasi dan kualitas pengambilan keputusan, kinerja tim pun akan lebih optimal melalui solusi kreatif, efektif, dan sesuai tujuan Dari konsep manajemen konflik inilah lahir berbagai gaya penyelesaian konflik yang dirancang untuk menyesuaikan dengan beragam situasi, karena setiap konflik memiliki karakteristik, intensitas, dan tujuan yang pendekatan yang fleksibel dan kontekstual agar penyelesaiannya lebih efektif. Menurut Iswahyudi et al. terdapat lima gaya utama manajemen konflik, yaitu collaborating, competing, compromising, yang masing-masing relevan sesuai situasi yang dihadapi. Ozkan Tuncay et al. menekankan bahwa pemilihan gaya penyelesaian konflik yang tepat mampu menjaga lingkungan kerja tetap sehat. Misalnya, gaya competing efektif untuk keputusan cepat, sedangkan collaborating cocok dalam konflik kompleks yang butuh solusi jangka panjang. Seorang manajer yang memahami berbagai gaya konflik dapat lebih bijak dalam merespons perbedaan. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. meningkatkan efektivitas tim, serta mencegah konflik berkepanjangan. Film sebagai media massa juga dapat merefleksikan fenomena sosial dan menjadi sarana pembelajaran informal yang transformatif (Aoki & Santos, 2. Salah satunya adalah film Moneyball yang menggambarkan perjalanan Billy Beane menghadapi keterbatasan anggaran, penolakan staf, hingga perbedaan strategi menerapkan inovasi berbasis data . Dalam Moneyball, gaya konflik yang menonjol adalah collaborating dan Gaya collaborating tampak dalam kerja sama Beane dengan Peter Brand, sementara competing muncul dalam ketegangannya dengan pelatih kepala Art Howe. Perpaduan ini menunjukkan bahwa konflik bisa menjadi pemicu inovasi, bukan hanya penghalang. Dibandingkan penelitian sebelumnya yang banyak membahas studi kasus nyata organisasi formal, kajian tentang strategi konflik melalui media populer seperti film masih jarang ditemukan. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan Moneyball sebagai sarana reflektif untuk competing dan collaborating dalam konteks tim olahraga. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperkaya literatur manajemen konflik, tetapi juga menawarkan perspektif baru dalam memahami dinamika organisasi modern melalui analisis media populer. LANDASAN TEORI Penting bagi seorang manajer untuk mampu memilih gaya manajemen konflik yang tepat dalam menghadapi situasi Menurut Alhamali . , mengklasifikasikan manajemen konflik ke dalam lima gaya utama, yaitu competing . , collaborating . , avoiding . , . , compromising . Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Manajemen Mulasih et al. menyatakan, manajemen merupakan disiplin ilmu yang pengendalian sumber daya dalam organisasi untuk mencapai tujuan secara Berdasarkan pengertian tersebut dapat diketahui bahwa fungsi manajemen POAC . lanning, organizing, actuating, dan controllin. menjadi fondasi utama dalam teori manajemen modern karena mencakup seluruh aspek perencanaan, pelaksanaan, hingga pengendalian kegiatan organisasi. Menurut Pratama manajemen dibagi menjadi empat, yaitu Planning (Perencanaa. Perencanaan merupakan proses awal dalam manajemen yang menekankan pada penetapan tujuan serta langkah-langkah strategis untuk Melalui perencanaan, organisasi dapat menentukan arah, ketidakpastian di masa depan. Organizing (Pengorganisasia. Pengorganisasian penyusunan struktur organisasi yang jelas, pembagian tugas, wewenang, serta tanggung jawab kepada setiap anggota. Hal ini bertujuan agar sumber daya yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara optimal dan koordinasi antar bagian berjalan efektif. Actuating (Pelaksanaan/Pengaraha. Fungsi ini berkaitan dengan upaya menggerakkan individu atau kelompok agar melaksanakan tugas sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Actuating menggerakkan anggota organisasi. Controlling (Pengendalia. Pengendalian adalah proses untuk memastikan bahwa pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai dengan rencana yang telah Fungsi pengukuran kinerja, evaluasi, serta P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. organisasi dapat tercapai secara efektif. Dengan adanya tindakan korektif ini, pelaksanaan dapat tetap berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Definisi Manajemen Konflik Manajemen konflik merupakan proses menyelesaikan perbedaan secara tepat sehingga dapat menciptakan solusi yang konstruktif baik dalam lingkungan organisasi maupun dalam interaksi antarpribadi (Ramadhani et al. , 2. Manajemen konflik adalah proses untuk mengurangi dampak negatif dari konflik sekaligus meningkatkan hasil positifnya (Lewicki et al. , 2. Kompetensi manajemen konflik sangat diperlukan karena manajemen konflik memiliki pengaruh yang penting bagi kinerja sebuah organisasi. Manajemen konflik yang efektif membantu menyelesaikan masalah secara langsung, memperkuat hubungan, dan meningkatkan kinerja organisasi (Usendok et al. Definisi Konflik Dalam arti luas konflik dapat diartikan sebagai situasi di mana dua atau lebih individu, kelompok, atau entitas memiliki perbedaan pendapat, kepentingan, atau tujuan yang saling bertentangan (Folger et al. , 2021:. Studi lainnya mendefinisikan konflik secara berbeda. Konflik diartikan sebagai sebuah proses yang dimulai ketika suatu pihak memiliki persepsi bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif sesuatu yang menjadi kondisi yang merupakan titik awal proses konflik (Wahyudi. Setiap kali konflik muncul, baik dalam lingkungan bisnis maupun keluarga, konflik tersebut perlu diselesaikan atau dikelola dengan baik agar hubungan harmonis antar pihak yang terlibat tetap terjaga (Kilag et al. , 2. Gaya Pendekatan Manajemen Konflik Seorang manajer perlu memilih gaya manajemen konflik yang sesuai dengan Menurut Alhamali . , terdapat lima gaya utama, yaitu competing . , collaborating . , avoiding . , accommodating . , . Competing Gaya competing ditandai dengan sikap tegas dalam mempertahankan pendirian dan menolak pandangan lawan untuk memastikan kemenangan. Strategi ini persuasif, komitmen kuat, hingga Pendekatan ini tepat digunakan pada kondisi darurat, penegakan disiplin, atau ketika menyangkut kepentingan vital Collaborating Gaya komunikasi terbuka, negosiasi, dan pencarian solusi win-win. Pendekatan ini sesuai ketika hubungan antar pihak dianggap penting dan hasil keputusan berpengaruh besar pada tim. Gaya ini kepentingan melalui kerja sama aktif (Mabunga & Mabunga, 2. Avoiding Gaya penghindaran konflik dengan cara menjauh atau mengalihkan interaksi. Strategi ini sering dipilih saat masalah dianggap sepele atau ada isu lain yang lebih mendesak. Misalnya, karyawan mengatur ulang ruang kerja untuk meminimalkan gesekan. Compromising Gaya compromising mencari titik tengah yang dapat diterima kedua belah pihak. Pendekatan ini tepat untuk situasi dengan kekuatan yang seimbang, persoalan kompleks, atau keterbatasan waktu. Strategi ini juga menjadi alternatif jika kolaborasi maupun kompetisi tidak Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Accommodating Gaya accommodating ditandai dengan kepentingan pihak lain. Pendekatan ini tepat saat isu lebih penting bagi orang lain, menjaga kerja sama, atau ketika menyadari pendapat diri kurang tepat. Strategi keharmonisan, stabilitas, dan kesempatan belajar bagi pihak yang lebih lemah. METODOLOGI Penelitian pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi . ontent analysi. terhadap film Moneyball sebagai dokumen visual. Data primer diperoleh dari adegan, dialog, dan interaksi karakter utama Billy Beane yang menampilkan gaya manajemen konflik competing dan collaborating, sedangkan data sekunder bersumber dari buku, jurnal, serta literatur relevan. Pengumpulan data dilakukan melalui non-partisipan menonton film secara berulang untuk mencatat dialog dan adegan, serta melalui dokumentasi berupa tangkapan layar yang diberi keterangan durasi, deskripsi, dan jenis gaya manajemen konflik. Analisis data mengacu pada model interaktif Miles & Huberman . yang penarikan kesimpulan. Data yang relevan dikelompokkan sesuai kategori konflik sebelum disajikan dalam tabel, kutipan dialog, dan dokumentasi scene. Penarikan menginterpretasikan pola dan hubungan keabsahannya melalui triangulasi teori agar hasil penelitian konsisten dengan landasan teoritis. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Berdasarkan kajian film Moneyball, beberapa adegan pada film ini memusatkan perhatian pada dua gaya manajemen konflik, yaitu competing . Kedua gaya ini dipilih karena mencerminkan dinamika penting dalam penyelesaian konflik, di mana competing lebih menekankan pada collaborating berorientasi pada solusi bersama melalui kerja sama dan komunikasi terbuka. Gambar 1. Adegan Billy Beane berdebat dengan beberapa staff klub Sumber: Netflix Pada potongan . yang terdapat dalam film AuMoneyballAy pada menit 35:21-35:42, terlihat adegan di mana Billy berpegang teguh pada pendirian dan keyakinannya. Billy juga mengkonfrontasi para staff. Hal ini menunjukkan bahwa Billy menggunakan gaya competing dalam menyelesaikan konflik tersebut. Billy : AuIni Bukan Diskusi. Periksa Laporan Kalian atau Aku akan Menunjuk Pete. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Gambar 2. Adegan Billy Beane bekerja sama dengan Peter Brand Sumber: Netflix Sumber: Netflix Pada potongan . yang terdapat dalam film AuMoneyballAy pada menit 27:04-28:54, terlihat adegan di mana Billy bekerjasama dengan Peter Brand untuk membuat strategi tim yang lebih bagus dan mencari solusi untuk menggunakan analisis statistik. Dialog 1 Billy : AuApa ini?Ay Peter : AuIni kode untuk proyeksi kita tahun demi tahun. Ini dibangun berdasarkan pengetahuan kita untuk memproyeksikan pemain. Ay Billy : AuBaik. Ay Peter : AuIni tentang mengubah angka menjadi data. Menggunakan statistik untuk membacanya. Ay Dialog 2 Billy : AuPemain tak dipilih karena berbagai alasan yang bias dan pandangan yang cacat. Umur, penampilan, kepribadian. Bill James memotong hal-hal itu. Billy, 000 pemain yang perlu kita pertimbangkan, aku yakin ada tim kejuaraan di 25 pemain dalam batas anggaran kita. karena tim lain merendahkan nilai mereka. Seperti tumpukan mainan yang tidak cocok. Ay Pada potongan . yang terdapat dalam film AuMoneyballAy pada menit 57:45-58:55, terlihat adegan di mana Billy Beane bertengkar dengan Art mengenai strategi penggunaan Billy bersikeras agar tim mengikuti metode baru berbasis analisis statistik, sedangkan Art Howe tetap Pertentangan ini mencerminkan gaya manajemen konflik competing, di mana masing-masing kepentingannya tanpa ada upaya Dialog 1 Billy Art Billy Art Billy Art Billy Art Billy Art Billy Dialog 2 Billy Art Gambar 3. Adegan Billy berdebat dengan Art Howe : AuTak masalah apa yang kulakukan, jika kau tak memainkan timnya sesuai Ay : AuBilly kau keluar batas. Ay :AuKenapa bukan Hatteberg di base pertama?Ay : AuKarena tak bisa. Ay : AuBagaimana kau tahu?Ay :AuBukan Scot Hatteberg dia tak bisa memukul. Ay : AuDia mencetak poin. Dia membuat kita surplus. Kita butuh tujuh di atas 0,500. Apa?Ay : AuAda yang lainnya?Ay :AuYa. Aku lebih suka melihat Bradford di akhir Ay : AuDia pemain kanan. Ay :AuAku tak peduli dia pemain kanan atau kiri. Dia kidal. Ay : AuIni tentang kontrakmu. : AuBukan ini tentang kau melakukan pekerjaanmu dan aku pekerjaankumu. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Billy Aku mengurus tim ini. Ay :AuAku untukmu Art. AuPertemuan bagus, setiap kita bicara aku menjadi semangat. Ay . engan nada sarka. Gambar 4. Adegan diskusi intens Billy dengan pemain Sumber: Netflix Pada potongan . yang terdapat dalam film Moneyball pada menit 57:45Ae58:55, terlihat adegan di mana 1. Billy Beane yang sebelumnya jarang berinteraksi langsung dengan para pemain akhirnya menunjukkan kepeduliannya. Billy melakukan pendekatan dengan menyemangati beberapa pemain untuk meningkatkan motivasi mereka. Tindakan ini mencerminkan gaya manajemen konflik collaborating, karena Billy berusaha membangun kerja sama dan menguntungkan agar para pemain dapat tampil lebih baik dan timnya tidak kembali mengalami kekalahan. Billy Billy : AuAku benci kalah. Chavvie. Aku membenci hal itu. Aku benci kalah lebih dari aku ingin menang. Ay : AuSaat lawanmu membuat Mereka Memberimu begitu saja. Ambil, bilang terima kasih. Ini Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 sebuah proses. Ya?Ay Berdasarkan analisis adegan yang dipaparkan, terlihat bahwa Billy Beane menerapkan gaya manajemen konflik competing ketika menghadapi penolakan staf lama, sedangkan gaya collaborating muncul saat Billy bekerja sama dengan Peter Brand menyusun strategi berbasis Pendekatan competing mempercepat ketegangan, sementara collaborating mendorong dialog dan solusi kreatif yang memperkuat kerja tim. Temuan ini menunjukkan pentingnya pemilihan gaya manajemen konflik yang tepat agar tujuan tercapai tanpa merusak hubungan 2 Pembahasan Penyebab Terjadinya Konflik Faktor penyebab terjadinya konflik pada film tersebut adalah adanya perbedaan persepsi mengenai cara perekrutan pemain. Konflik ini muncul ketika tokoh Billy Beane memiliki ide atau pendapat yang tidak konsisten dengan orang lain. Seringkali konflik kognitif berakar pada perbedaan sikap, keyakinan, nilai, dan pandangan hidup, serta ide yang mungkin terkait dengan budaya, politik, dan agama yang dipegang Jenis konflik ini muncul ketika perasaan atau emosi . seseorang atau kelompok tidak sesuai dengan orang Manajemen tradisional lebih mengandalkan intuisi, pengalaman, dan penilaian fisik seperti umur atau kondisi tubuh pemain, sedangkan Billy Beane memilih pendekatan berbasis analisis statistik yang diperkenalkan oleh Peter Brand. Perbedaan sudut pandang ini menimbulkan ketegangan dalam tim P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. manajemen karena masing-masing pihak merasa metode mereka adalah yang paling Ketidakcocokan strategi tersebut menjadi pemicu utama konflik internal yang kemudian berdampak pada dinamika komunikasi, pengambilan keputusan, serta hubungan kerja di dalam organisasi tim bisbol Oakland Athletics. Gaya Competing dalam Pengambilan Keputusan Strategis Pada beberapa adegan. Billy Beane terlihat menggunakan gaya competing saat menghadapi konflik dengan staf pelatih maupun manajer tim lama. Misalnya mempertahankan penggunaan metode statistik meskipun mendapat tentangan. Gaya competing ini tampak pada sikap tegas, keputusan sepihak, dan keberanian mengambil risiko demi mencapai tujuan. Menurut Robbins & Judge . , gaya competing efektif digunakan ketika keputusan harus diambil cepat atau ketika tujuan organisasi lebih penting daripada menjaga hubungan personal. Namun, penerapan yang berlebihan dapat memunculkan ketegangan antarindividu dan mengurangi rasa percaya dalam tim. Pada film terlihat bahwa Billy Beane berada dalam posisi harus mengambil keputusan dengan cepat karena timnya mengalami kekalahan dan berada di bawah tekanan besar dari manajemen serta para penggemar yang menginginkan hasil lebih baik. Kondisi tersebut Billy competing, sebab ia meyakini bahwa metode berbasis data yang diusungnya merupakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan performa tim. Dengan sikap tegas dan keberanian mengambil risiko, ia menolak kompromi yang berpotensi menghambat implementasi Keputusan menunjukkan fokus Billy terhadap kepentingan organisasi yang lebih besar, yaitu memperbaiki catatan kemenangan tim, meskipun ia harus menghadapi resistensi internal dari pihak yang tidak sejalan dengan visinya. Gaya Collaborating untuk Membangun Sinergi Tim Seiring berjalannya cerita. Billy menyadari bahwa mempertahankan sikap terlalu dominan justru dapat menimbulkan jarak dengan para stafnya. Oleh karena itu. Billy mulai competing dengan gaya collaborating, yaitu melibatkan analis data dan anggota bersama-sama merumuskan strategi. Pendekatan ini membuat komunikasi lebih terbuka dan memberikan ruang bagi ide baru yang memperkuat kerja sama tim. Perpaduan antara keberanian mengambil keputusan dan kesediaan mendengar masukan inilah yang kemudian membantu Billy meningkatkan motivasi anggota, serta Alih-alih mempertahankan ego. Billy dan Peter keduanya saling berbagi ide, mendiskusikan data, serta membangun tim yang lebih kompetitif. Gaya collaborating terlihat dari adeganadegan seperti adanya diskusi terbuka, mendengarkan pendapat Peter oleh Billy Beane. Menurut Iswahyudi et al. in-win solutio. , memperkuat keterikatan tim, dan Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. meningkatkan komitmen terhadap keputusan yang diambil. Keberhasilan Billy dalam membawa tim Oakland menuju kemenangan karena adanya win-win menguntungkan bagi Billy dan pihak manajemen lain itu sendiri. Dampak dan Respon dari Penggunaan Gaya Competing Dampak dari gaya competing yang digunakan oleh tokoh Billy ini adalah munculnya ketegangan dalam hubungan antara manajer dan pelatih, yang berpotensi mengganggu stabilitas internal Namun, di sisi lain, gaya competing juga menunjukkan bahwa Billy memiliki keteguhan dan keyakinan kuat terhadap strategi yang dipilihnya. Respon tim terhadap konflik ini beragam. Sebagian pemain awalnya ragu, namun seiring perubahan yang terjadi. Ketegasan Billy melalui gaya competing ini akhirnya mendorong terciptanya inovasi dalam manajemen tim, meskipun prosesnya penuh tekanan dan resistensi. Dengan demikian, gaya competing tidak hanya menimbulkan gesekan, tetapi juga transformasi strategi tim menuju arah yang lebih baik. Dampak dan Respon dari Penggunaan Gaya Collaborating Dampak collaborating ini adalah munculnya inovasi dalam sistem perekrutan pemain, di mana penilaian berbasis data mampu menantang pola 72iker lama yang Respon dari kerja sama tersebut tampak pada hasil nyata di Meskipun pada awalnya Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 menghadapi resistensi dari pihak internal, strategi kolaboratif ini membuat tim semakin solid dan pemain lebih Kolaborasi antara Billy dan Peter juga memperkuat hubungan kepercayaan di antara keduanya, sehingga keputusan-keputusan yang diambil lebih efektif dan berdampak positif bagi kinerja Dengan demikian, gaya collaborating memberikan kontribusi penting terhadap tercapainya tujuan organisasi sekaligus menjadi bukti bahwa konflik dapat melengkapi dan mencari solusi win-win. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa film Moneyball . menggambarkan penerapan dua gaya utama manajemen collaborating, dalam dinamika tim Tokoh Billy Beane menggunakan gaya competing saat menghadapi resistensi staf lama dan mengambil keputusan strategis secara tegas demi menyelamatkan performa Namun, ia juga memadukan pendekatan tersebut dengan gaya collaborating, terutama ketika bekerja sama dengan Peter Brand dan para pemain untuk mengembangkan strategi berbasis data serta membangun motivasi Perpaduan kedua gaya tersebut menunjukkan bahwa konflik tidak selalu berdampak negatif, melainkan dapat menjadi sarana inovasi dan penguatan kerjasama apabila dikelola dengan tepat. Pemilihan gaya manajemen konflik yang sesuai dengan konteks menjadi faktor penting untuk memastikan tercapainya tujuan organisasi sekaligus menjaga P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. hubungan antar personal. Melalui analisis ini, terlihat bahwa penggunaan film sebagai media reflektif mampu mengenai penerapan manajemen konflik dalam lingkungan organisasi modern, sekaligus memperkaya literatur terkait strategi competing dan collaborating dalam konteks kerja tim. DAFTAR PUSTAKA