SEGARA WIDYA Jurnal Penelitian Seni Volume 10 No. Maret 2022 P47-56 E-ISSN 2798-8678 Pelatihan Tari Rejang Shanti Banjar Desaanyar. Desa Lalanglinggah. Kecamatan Selemadeg Barat. Kabupaten Tabanan. Provinsi Bali Ni Wayan Suartini1. I Ketut Sariada2. I Gede Mawan3 1 Program Studi Tari, 2 Program Studi Tari, 3 Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan Fakultas Seni Pertunjukan. Institut Seni Indonesia Denpasar niwayansuartini71@gmail. PKM Pelatihan Tari Rejang Shanti ini bertujuan untuk memberikan pelatihan tari Rejang Shanti dalam mengiringi upacara piodalan di Banjar Desaanyar. Desa Lalanglinggah. Kecamatan Selemadeg Barat. Kabupaten Tabanan. Provinsi Bali. Keunikan Tari Rejang Shanti terletak pada gerak tarinya yang terinspirasi dari gerak papendetan yang ada di Banjar Desanyar. Analisis situasi di lapangan menunnjukkan belum ada tari ritual upacara piodalan seperti Tari Rejang di Pura tersebut. Selain itu tabuh pengiring juga belum dimiliki. Solusinya memberikan pelatihan tari dan tabuh Rejang Shanti kepada masyarakat Banjar Desaanyar, lokasi pelatihannya di Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita Banjar Desaanyar. Metode pelaksanaannya dengan ceramah, demonstrasi, dan pendampingan dalam Selain memberikan pelatihan, peserta pelatihan juga diberikan tentang wawasan, filosofi, serta nilai-nilai luhur yang terkandung didalam tarian Rejang Shanti, sehingga dapat mengetahui makna dari tarian tersebut. Sehinga hasil dari pelatihan ini adalah tari Rejang Shanti dan tabuh Rejang Shanti. Dengan penanaman nilai-nilai lewat Tari Rejang Shanti maka masyarakat banjar Desaanyar dapat melestarikan Tari Rejang Shanti serta menjadi identitas bagi masyarakat banjar Desaanyar. Tari Rejang Shanti dilatih oleh tim pelaksana pelatihan merupakan pengajar tari Bali dan Karawitan dari Institut Seni Indonesia Denpasar, dibantu dua mahasiswa jurusan Tari. Kata kunci: PKM. Pelatihan. Tari Rejang Shanti. Community service of Rejang Shanti dance aims to provide training for the Rejang Shanti dance to accompany the piodalan ceremony in Banjar Desaanyar. Lalanglinggah Village. West Selemadeg District. Tabanan Regency. Bali Province. The unique of Rejang Shanti dance was in the dance movements which is inspired by the papendetan movements in Banjar Desaanyar. A field research found that there is no piodalan ritual dance such as the Rejang dance at the temple. Furthermore, no percussion accompaniment is obtainable. The solution is to offer Rejang Shanti dance and percussion training to the people of Banjar Desaanyar, that will occur at the Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita in Banjar Desaanyar. Lectures, demonstrations, and questions and answers are being used to implement the project. In addition to training, training participants are given insight, philosophy, and noble values contained in the Rejang Shanti dance, understand and interpret the dance's meaning. the result of this training is the Rejang Shanti dance and the Rejang Shanti percussion. By inculcating values through the Rejang Shanti Dance, the Banjar Desaanyar community can preserve the Rejang Shanti Dance and become an identity for the Banjar Desaanyar community. The Rejang Shanti dance was instructed by a group of Balinese and Karawitan dance instructors from the Indonesian Institute of the Arts Denpasar, who'd been assisted by two female dance students. Keywords: Community Service. Training. Rejang Shanti Dance Ni Wayan Suartini (PelatihanA) Volume 10 No. Maret 2022 Pendahuluan Banjar Desaanyar adalah salah satu dari 5 . banjar yang ada di Desa Lalanglinggah. Kecamatan Selemadeg Barat. Kabupaten Tabanan. Jumlah penduduk masyarakat Banjar Desaanyar sebanyak 250 jiwa, yang terdiri atas 106 orang laki-laki dan 169 orang perempuan, dengan 106 jumlah kepala keluarga. Masyarakat memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil, buruh, petani, dan pedagang. Letak Banjar Desaanyar terletak di bagian paling barat dari Kecamatan Selemadeg. Kabupaten Tabanan. Jarak antara Banjar Deaanyar dengan Kota Denpasar adalah 55 . ima puluh lim. kilo meter dengan waktu tempuh selama satu jam lima puluh menit. Struktur Organisasi Banjar Adat Desaanyar terdiri dari: Kelian Adat: I Wayan Suarta Ariana. Wakil Kelian Adat: I Ketut Kartawijaya. Sekretaris: I Nyoman Sutariana. Bendahara: I Nyoman Subagia. Banjar Desaanyar juga memiliki Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita. Ketua Sanggar: I Gede Yudana. Sekretaris: I Made Wardana. Bendahara: I Ketut Nuriastama. Di dalam kehidupan beragama masyarakat Banjar Desaanyar. Desa Lalanglinggah. Kecamatan Selemadeg Barat. Kabupaten Tabanan menganut agama Hindu yang percaya dengan konsep Tri Murti. Hal ini disampaikan oleh pemangku I Made Sumereg (Pemangku Pura Desaanya. bahwa Tri Murti ini mempunyai tiga wujud manifestasi, yaitu wujud Brahma yang menciptakan, wujud Wisnu yang melindungi dan memelihara, serta Siwa melebur segala yang ada. Dengan konsep ini masyarakat Banjar Desaanyar melaksanakan upacara dan persembahyangan, baik di sanggah paibon, pura kahyangan tiga dan pura kahyangan jagat. Umumnya masyarakat Desa lebih banyak diatur oleh banjar, baik banjar dinas maupun banjar Setiap aspek parahyangan, anggota banjar mempunyai kewajiban untuk menyungsung, baik ngayah . istem gotong-royong yang berkaitan dengan agama seperti halnya membuat banten, memperbaiki pura, membersihkan pura dan sebagainy. maupun medana punia. Aspek pawongan, setiap anggota banjar mempunyai hak dan kewajiban mendapat pelayanan atau dilayani, baik dalam hal ini suka maupun duka. Sehingga masyarakat Banjar Desaanyar dalam melaksanakan upacara keagamaan dapat berjalan aman, tertib, teratur, dan harmonis. Di pihak lain sarana berupa tempat suci dan alat-alat upacara yang ada dipura tersebut dirawat oleh pemangku dan masyarakat pengemongnya. Untuk dapat melestarikan nilai-nilai ajaran agama Hindu kesenian merupakan sarana dan pelengkap upacara serta sebagai hiburan. Sehubungan dengan hal itu, masyarakat Banjar Desaanyar telah melaksanakan aktivitas seperti halnya membentuk Sanggar Seni. Sekaa pesantian, sekaa gong, sebagai wujud persembahan srada bakti, melaksanakan persembahyangan bersama pada hari-hari tertentu di pura kahyangan di Banjar Desaanyar, serta melaksanakan penyuluhan tentang agama dan adat. Dengan demikian, melalui kegiatan ini keharmonisan, keserasian adat, agama, dan budaya semakin mantap, ajeg dan lestari. Sebagai salah satu cara menyeimbangkan dunia swah loka, maka masyarakat Banjar Desaanyar setiap enam bulan sekali melaksanakan Upacara Piodalan di Pura Banjar Desaanyar. Desa Lalanglingah. Selemadeg Barat. Tabanan jatuh pada hari Saniscara Kliwon. Wuku Kuningan. Piodalan sendiri dapat diartikan sebagai perayaan hari jadi tempat suci. Upacara piodalan merupakan kewajiban krama banjar/desa dalam rangka membayar hutang kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta seluruh manifestasinya yang disthanakan di pura kayangan banjar/desa. Tujuan dari upacara piodalan adalah untuk mewujukan kehidupan yang harmonis dan sejahtera lahir batin dalam Ni Wayan Suartini (PelatihanA) Volume 10 No. Maret 2022 Selama ini upacara piodalan di Pura Desaanyar, kurang lengkap karena belum ada tari yang dipakai pengiring upacara piodalan seperti tari Rejang. Walaupun sudah memiliki seperangkat gambelan gong Semarandana yang hanya difungsikan untuk tabuh-tabuh petegak. Sehingga masyarakat sangat membutuhkan sekali agar bisa memiliki tari dan tabuh ritual untuk pengiring upacara piodalan di Pura Banjar Desaanyar. Permasalahan yang ditemukan adalah belum ada tari ritual upacara piodalan seperti Tari Rejang sebagai pengiring upacara piodalan di Pura Banjar Desaanyar, dan belum ada tabuh sebagai pengiring tari untuk upacara piodalan di Pura Banjar Desaanyar. Solusinya memberi pelatih tari maupun pelatih tabuh Rejang Shanti kepada masyarakat di Banjar Desaanyar. Desa Lalanglinggah. Kecamatan Selemadeg Barat. Kabupaten Tabanan. Melalui diskusi dan koordinasi dengan mitra yang diwakili oleh kelian adat beberapa permasalahan dapat dilihat dengan jelas serta perlu dicarikan solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Setelah diadakan analisis bersama dengan mitra maka muncul dua permasalahan yang perlu dicarikan solusi secara prioritas, adalah belum ada Tari Rejang sebagai pengiring upacara piodalan di Pura Banjar Desaanyar. Desa Lalanglinggah. Kecamatan Selemadeg Barat. Kabupaten Tabanan, dan belum ada tabuh iringan Tari Rejang sebagai pengiring upacara piodalan di Pura Banjar Desaanyar. Tabanan. Tujuannya untuk penguatan seni di masyarakat yang berkaitan dengan seni ritual khususnya Tari Rejang Shanti sebagai pengiring upacara piodalan di Pura Desaanyar. Desa Lalanglinggah. Kecamatan Selemadeg Barat. Kabupaten Tabanan, mendekatkan lembaga Institut Seni Indonesia Denpasar dengan masyarakat khususnya Banjar Desaanyar. Desa Lalanglinggah. Kecamatan Selemadeg Barat. Kabupaten Tabanan dan mengimplementasikan hasil penciptaan dan kepakaran yang dimiliki dosen Institut Seni Indonesia Denpasar. Sinopsis tari Rejang Shanti merupakan tari persembahan, rasa puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa atas turunnya parawidyadari ke dunia untuk menyaksikan upacara piodalan, diharapkan masyarakat menjadi damai dihati damai didunia. Tari ini diciptakan pada tahun 2020. Serta manfaat dari pelatihan tari dan tabuh Rejang Shanti bisa dijadikan sebagai identitas bagi masyarakat Banjar Desaanyar. Desa Lalanglinggah. Kecamatan Selemadeg Barat. Kabupaten Tabanan, serta memperkaya kasanah berkesenian yang dimiliki di Banjar Desaanyar. Desa Lalanglinggah. Kecamatan Selemadeg Barat. Kabupaten Tabanan. Pada pelatihan diberikan materi Tari Rejang Shanti. Selain pelatihan tari dan tabuh Rejang Shanti, diberikan juga tentang wawasan, filosofi, serta nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tarian tersebut sehingga peserta pelatihan dan masyarakat Banjar Desaanyar dapat menikmati keindahan bentuk serta filosofi dan makna dari tarian itu. Pemahaman dan penguasaan tentang bentuk, filosofi dan makna tersebut akan mampu membentuk peserta pelatihan yaitu penari dan penabuh menjadi metaksu . erkarisma atau memiliki kekuatan dala. sebagai salah satu kekuatan dalam tari Bali. Dengan penanaman nilai-nilai lewat Tari Rejang Shanti maka masyarakat dapat melestarian tari tersebut dan menjadi identitas pertunjukan di setiap piodalan bagi masyarakat Banjar Desaanyar. Pada pelatihan ini juga diberikan untuk iringan Tari Rejang Shanti. Karena antara tari dan tabuh harus ada satu kesatuan yang utuh, sehingga di dalam pelaksanaan upacara piodalan di Pura Desaanyar bisa berjalan harmonis. Ni Wayan Suartini (PelatihanA) Volume 10 No. Maret 2022 Metode Pelaksanaan Metode yang diterapkan dalam pelatihan ini adalah sebagai berikut: Pertama koordinasi dan komunikasi dengan kelian adat, ketua sanggar seni banjar Desaanyar untuk merumuskan program mulai dari latarbelakang, perencanaan, tujuan dan manfaat, serta evaluasi. Kedua mengumpulkan penari dan penabuh untuk diberikan pemahaman tentang sinopsis tari rejang Shanti, fungsi tari, karakter, dan teknik gerak, ragam gerak yang terdapat pada tari Rejang Shanti, serta untuk penabuh diberikan tentang iringan tari Rejang Shanti dengan mempergunakan gambelan semarandana pelatihan ini dilakukan dengan ceramah, demonstrasi serta tanya Ketiga pendampingan yaitu pertemuan secara berkala dan berkelanjutan antara tim pelaksana pelatihan dengan peserta pelatihan yaitu penari dan penabuh sehingga pelatihan ini dapat dilaksanakan secara mandiri. Peserta pelatihan terdiri dari sepuluh orang penari dan dua puluh satu orang penabuh. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pelatihan Tari Rejang Shanti diawali dengan pelatihan tari dengan memberikan teknik dasar Tari Rejang Shanti pelatihan dilakukan bagian perbagian dari pangawit, pangawak, pangecet dan pakaad. Setelah dianggap cukup menguasai teknik dasar dan bagian-bagian dari Tari Rejang Shanti, dilanjutkan menggabungkan keseluruh bagian menjadi satu kesatuan yang utuh. Hal ini terus dilakukan berulangulang sehingga para peserta pelatihan dapat menguasai Tari Rejang Shanti secara baik dan benar. Begitu juga dengan penabuhnya melakukan pelatihan dari bagian pangawit, pangawak, pangecet, dan pakaad. Setelah dikuasai gerak tarinya dan iringan tarinya baru digabungkan antara tari dengan iringannya sehingga penguasaan Tari Rejang Shanti menjadi satu kesatuan dengan musik pengiringnya. Pelatihan ini secara keseluruhannya memerlukan waktu enam bulan, yang meliputi observasi, pelatihan Tari Rejang Shanti, yang diakhiri dengan pementasan disertai dengan perekaman. Pementasan dan perekaman Tari Rejang Shanti merupakan evaluasi terakhir dari semua materi yang telah diberikan pada waktu pelatihan dengan menggunakan tata rias dan kostum dominan warna putih dan Tari Rejang Shanti diiringi gambelan Semarandana. Hasil dari pelatihan ini adalah pembuatan video hasil pelatihan yaitu Tari Rejang Shanti dan tabuh Rejang Shanti. Dari hasil pelatihan serta pementasan ini diharapkan masyarakat Banjar Desaanyar dapat mempergunakan secara terus menerus Tari Rejang Shanti sebagai pengiring upacara piodalan di Pura Banjar Desaanyar. Kecamatan Selemadeg Barat. Kabupaten Tabanan. Tim pelaksana pelatihan ini terdiri dari Ni Wayan Suartini selaku ketua tim pelaksana merupakan tenaga pengajar Tari Bali yang telah melaksanakan berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan pelatihan Tari Bali. Disamping itu juga berpengalaman menari tari Bali baik di tingkat lokal, nasional, dan internasional juga sebagai dosen pengajar di Institut Seni Indonesia Denpasar. I Ketut Sariada sebagai anggota I adalah tenaga pengajar tari Bali di Institut Seni Indonesia Denpasar yang sudah sering menjadi juri, pelatih, dan mencipta dan meneliti kesenian Bali. I Gede Mawan sebagai anggota II adalah dosen karawitan di Institut Seni Indonesia Denpasar Selain mencipta juga sebagai instruktur, dan sering menjadi juri pada lomba tabuh Bali, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah Kabupaten/Kota maupun pemerintah Provinsi Bali. Dibantu oleh dua orang mahasiswa ISI Denpasar yang tidak diragukan lagi sebagai penari Bali yang handal. Ni Wayan Suartini (PelatihanA) Volume 10 No. Maret 2022 Kegiatan pelatihan Tari Rejang Shanti di Banjar Desaanyar adalah sebagai berikut: pertemuan pertama hari sabtu 12 juni 2021 mengadakan pertemuan dengan kelian adat, ketua Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita. Banjar Desaanyar untuk merumuskan program mulai dari latar belakang, perencanaan, tujuan dan manfaat, serta evaluasi. Pada pertemuan ini membicarakan tentang sinopsis tari Rejang Shanti, teknis kegiatan, materi kegiatan, dan lokasi kegiatan. Tentang teknis kegiatan pelatihan diadakan setiap hari sabtu dan minggu, materi Tari Rejang Shanti dan tabuh Rejang Shanti. Lokasi pelatihannya diadakan di Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita Banjar Desaanyar. Gambar 1. Pertemuan dengan Ketua Sanggar di Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita Banjar Desaanyar. (Dok : Ni Wayan Suartini, 2. Kemudian pertemuan kedua hari minggu 13 juni 2021. Pada pertemuan ini mengumpulkan penari serta penabuh untuk mengadakan nuasen dengan melakukan persembahyangan bersama. Nuasen adalah mencari hari baik untuk memulai suatu Nuasen dilakukan di Sanggar Seni Shanti Werdhi Gita Banjar Desaanyar yang dipimpin oleh pemangku Banjar Desaanyar, yang hadir terdiri dari semua tim pelaksana pelatihan, kelian adat, sekretaris banjar, ketua sanggar serta seluruh penari, penabuh peserta pelatihan. Setelah persembahyangan bersama, para peserta mulai mengadakan pelatihan oleh masing-masing pelatih tari dan pelatih tabuh yaitu pengenalan teknik dasar gerak tari Rejang Shanti bagian pangawit dan tabuh pangawit Rejang Shanti. Gambar 2. Nuasen dan pertemuan dengan kelian adat, ketua sanggar, penari, penabuh, di Sanggar Seni Shanti Werdi Gita Banjar Desaanyar. (Dok : Ni Wayan Suartini, 2. Ni Wayan Suartini (PelatihanA) Volume 10 No. Maret 2022 Pertemuan ketiga, hari sabtu 19 juni 2021 proses pelatihan Tari Rejang Shanti dan Tabuh Rejang Shanti dengan mengulang bagian pangawit, kemudian dilanjutkan ke bagian pangawak. kemudian digabungkan antara tari dan tabuh. Pertemuan keempat, hari minggu 20 juni 2021. Proses pelatihan tari dan tabuh Rejang Shanti dilakukan pengulangan dari bagian pangawak kemudian dilanjutkan ke bagian pangecet, kemudian digabung antara tari dengan tabuh. Pertemuan kelima hari sabtu 26 juni 2021. Proses pelatihan tari dan tabuh Rejang Shanti dilakukan pengulangan dari bagian pangecet kemudian dilanjutkan kebagian pakaad, kemudian dilakukan Latihan gabung antara tari dan tabuh. Pertemuan keenam, hari minggu 27 juni 2021. Pada pertemuan ini dilakukan penggabungan antara tari dan tabuh Tari Rejang Shanti dari bagian pangawit, pangawak, pangecet dan pakaad. Pada pelatihan ini penggabungan secara keseluruhan walaupun secara kasar atau masih dalam tahap Pertemuan ketujuh hari sabtu 3 juli 2021. Pada pertemuan ini pengulangan secara keseluruhan tari dan tabuh materi tari Rejang Shanti dengan memperjelas dan melatih teknik tarinya untuk membentuk kwalitas gerak yang bagus begitu pula dengan tabuhnya. Pertemuan kedelapan, hari minggu 4 juli 2021. Pada pertemuan ini pengulangan secara keseluruhan materi tari Rejang Shanti dan tabuh Rejang Shanti dengan menambahkan ekspresi serta penjiwaan dari tarinya. Pertemuan kesembilan hari minggu 22 agustus 2021 Pada pertemuan ini masih tetap melakukan pelatihan secara keseluruhan tari dan tabuh dengan memberikan kesempatan kepada peserta pelatihan untuk bertanya gerakan tari yang belum bisa dilakukan oleh penari atau iringan yang belum dipahami penabuh sebagai peserta dalam pelatihan ini. Gambar 3. Proses pelatihan Tari Rejang Shanti di Sanggar Seni Shanti Werdi Gita Banjar Desaanyar. (Dok : Ni Wayan Suartini, 2. Ni Wayan Suartini (PelatihanA) Volume 10 No. Maret 2022 Gambar 4. Proses pelatihanTabuh Rejang Shanti di Sanggar Seni Shanti Werdi Gita Banjar Desaanyar. (Dok : Ni Wayan Suartini, 2. Gambar 5. Proses pelatihan Tari Rejang Shanti di Sanggar Seni Shanti Werdi Gita Banjar Desaanyar. (Dok: Ni Wayan Suartini, 2. Gambar 6. Proses pelatihan Tabuh Rejang Shanti (Dok: Ni Wayan Suartini, 2. Pertemuan ke sepuluh hari minggu 29 agustus 2021. Pada pertemuan ini melakukan pelatihan serta pemantapan Tari dan Tabuh Rejang Shanti secara Pertemuan kesebelas, hari minggu 5 september melakukan pemantapan Tari dan Tabuh Rejang Shanti untuk persiapan pementasan dan perekaman. Ni Wayan Suartini (PelatihanA) Volume 10 No. Maret 2022 Gambar 7. Pelatihan dan pemantapan Tari Rejang Shanti. (Dok: Ni Wayan Suartini, 2. Gambar 8. Pelatihan dan pemantapan Tabuh Rejang Shanti. (Dok: Ni Wayan Suartini, 2. Pertemuan ke duabelas hari sabtu 11 september 2021 pementasan dan perekaman Tari Rejang Shanti. Merupakan evaluasi terakhir dari semua materi yang telah diberikan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penguasaan gerak tari dari penari dan penguasaan memainkan gambelan oleh penabuh dapat dilakukan dengan Seluruh penari sudah mampu mempraktekkan dan melakukan gerak tari Rejang Shanti dengan baik, begitu juga dengan penabuh telah mampu memainkan iringan tari Rejang Shanti secara mandiri. Dengan penanaman nilai-nilai lewat Tari Rejang Shanti maka masyarakat banjar Desaanyar memberikan respon yang positif terhadap kegiatan pelatihan ini. Karena sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat. Masyarakat dapat melestarikan Tari Rejang Shanti serta menjadi identitas bagi masyarakat banjar Desaanyar. Hasil dari PKM Pelatihan ini adalah Banjar Desaanyar bisa memiliki tari rejang untuk upacara piodalan diPura yaitu Tari Rejang Shanti dan Tabuh Rejang Shanti. Ni Wayan Suartini (PelatihanA) Volume 10 No. Maret 2022 Gambar 9. Hasil pelatihan Tari Rejang Shanti dan Tabuh Rejang Shanti. Lokasi Pura Puseh Lan Desa. Desa Pakraman Surabrata Tabanan. (Dok: Ni Wayan Suartini, 2. Gambar 10. Hasil pelatihan Tari Rejang Shanti dan Tabuh Rejang Shanti. Lokasi Pura Puseh Lan Desa. Desa Pakraman Surabrata Tabanan. (Dok: Ni Wayan Suartini, 2. SIMPULAN Berdasarkan hasil kegiatan PKM Pelatihan Tari Rejang Shanti di Banjar Desaanyar. Desa Lalanglinggah. Kecamatan Selemadeg Barat. Kabupaten Tabanan dapat disimpulkan sebagai berikut: Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini adalah bertujuan untuk memberikan pelatihan Tari dan Tabuh Rejang Shanti sebagai pengiring upacara piodalan di Banjar Desaanyar. Desa Lalanglinggah. Kecamatan Selemadeg Barat. Kabupaten Tabanan. Keunikan Tari Rejang Shanti terletak pada gerak tarinya yang terinspirasi dari gerak papendetan seperti gerak persembahan, agem mentang . edua tangan lurus kesampin. , agem nyirang . angan membentuk Ni Wayan Suartini (PelatihanA) Volume 10 No. Maret 2022 diagona. dan agem nyiku . atu tangan lurus kedepan dan yang satu lurus ke Metode pelaksanaannya adalah koordinasi dan komunikasi dengan kelian adat, ketua sanggar seni banjar Desaanyar, mengumpulkan penari dan penabuh, pendampingan yaitu pertemuan secara berkala dan berkelanjutan antara tim pelaksana pelatihan dengan peserta pelatihan yaitu penari dan penabuh, sehingga pelatihan ini dapat dilaksanakan secara mandiri oleh peserta pelatihan. Selain memberikan pelatihan, peserta pelatihan juga diberikan tentang wawasan mengenai, filosofi, serta nilai-nilai luhur yang terkandung didalam Tari Rejang Shanti. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penguasaan gerak tari dari penari dan penguasaan memainkan gambelan oleh penabuh dapat dilakukan dengan baik. Seluruh penari sudah mampu mempraktekkan gerak Tari Rejang Shanti begitu juga dengan penabuh telah mampu memainkan iringan tari Rejang Shanti secara mandiri. Dengan penanaman nilai-nilai lewat Tari Rejang Shanti maka peserta pelatihan dapat memahami makna tariannya. Serta masyarakat banjar Desaanyar memberikan respon yang positif terhadap kegiatan pelatihan ini. Karena sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat. Sehingga masyarakat dapat melestarikan Tari Rejang Shanti menjadi identitas bagi masyarakat Banjar Desaanyar. Lokasi pementasan dan perekaman Tari Rejang Shanti di Pura Puseh Lan Desa. Desa Pakraman Surabrata. Desa Lalanglinggah Tabanan, yang dihadiri oleh kelian adat beserta prajuru adat Banjar Desaanyar, tim pelaksana pelatihan, penari sepuluh orang dan penabuh dua puluh satu orang. Hasil dari PKM Pelatihan di Banjar Desaanyar adalah Tari Rejang Shanti dan Tabuh Rejang Shanti. UCAPAN TERIMAKASIH