JPAP 10 . ISSN (Ceta. : 2548-6233. ISSN (Onlin. : 2548-6241 Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan https://jurnalpasca. id/index. php/jpap/index Evaluasi Program Pelaksanaan Supervisi Akademik Menggunakan Model CIPP di SD Negeri 3 Karang Bongkot. Kecamatan Labuapi Eka Setyawati1*. Abdul Kadir Jaelani2 Program Studi Magister Administrasi Pendidikan. Pascasarjana. Universitas Mataram. Mataram. Indonesia. DOI: 10. 29303/jpap. Sitasi: Setyawati. , & Jaelani. Evaluasi Program Pelaksanaan Supervisi Akademik Menggunakan Model CIPP di SD Negeri 3 Karang Bongkot. Kecamatan Labuapi. (JPAP) Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan, 10. , 68Ae72. https://doi. org/10. 29303/jpap. *Corresponding Author: Eka Setyawati. Program Studi Magister Administrasi Pendidikan. Pascasarjana. Universitas Mataram. Mataram. Indonesia. buekasetyawati@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan supervisi akademik di SD Negeri 3 Karang Bongkot menggunakan model CIPP (Context. Input. Process. Produc. Penelitian dilakukan dengan pendekatan evaluatif melalui wawancara, observasi kelas, dan telaah dokumen. Hasil evaluasi konteks menunjukkan bahwa supervisi akademik sangat dibutuhkan karena guru masih menghadapi kesulitan dalam penyusunan modul ajar, penerapan pembelajaran berdiferensiasi, serta pelaksanaan asesmen formatif. Pada aspek input, kepala sekolah telah memiliki pemahaman dasar tentang supervisi, namun variasi teknik dan kelengkapan instrumen masih terbatas sehingga pembinaan belum sepenuhnya mendukung pengembangan profesional guru. Dari aspek proses, supervisi telah dilaksanakan sesuai prosedur, tetapi tahap pra-observasi dan pasca-observasi belum optimal, terutama dalam memberikan umpan balik yang spesifik dan tindak lanjut yang Pada aspek produk, supervisi memberikan dampak positif pada peningkatan kelengkapan perangkat ajar dan keterampilan dasar mengajar, namun belum signifikan mendorong inovasi pembelajaran dan pemanfaatan teknologi. Secara keseluruhan, supervisi akademik berjalan cukup efektif, tetapi memerlukan penguatan pada teknik supervisi, instrumen, dan monitoring tindak lanjut agar lebih berdampak terhadap kualitas pembelajaran. Kata Kunci: Supervisi Akademik. Model CIPP. Kinerja Guru. Evaluasi Program. Pendahuluan Peningkatan mutu pendidikan pada tingkat sekolah dasar merupakan bagian penting dalam upaya memperkuat kualitas pembelajaran di Indonesia. Mutu pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas guru sebagai aktor utama proses instruksional. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga merancang pengalaman belajar, mengembangkan interaksi kelas, serta melakukan asesmen yang berkelanjutan. Kompetensi guru sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 meliputi kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Keempat kompetensi tersebut harus berkembang secara berkelanjutan agar guru mampu memenuhi tuntutan pembelajaran abad 21 yang menekankan kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan kemampuan berpikir kritis. Untuk berkembang, sekolah membutuhkan mekanisme pembinaan yang sistematis dan berkelanjutan. Supervisi akademik hadir sebagai perangkat penting dalam pengembangan profesional guru. Glickman. Gordon, dan Ross-Gordon . menjelaskan bahwa supervisi akademik merupakan proses bantuan terutama melalui observasi, analisis, dan umpan balik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sergiovanni dan Starratt . menambahkan bahwa supervisi modern harus berfungsi sebagai proses dialog profesional yang mendorong guru melakukan refleksi mendalam terhadap praktik mengajarnya. Artinya, supervisi bukan sekadar pengawasan, tetapi sebuah proses Auprofessional inquiryAy yang bertujuan mengembangkan kapasitas Dalam perkembangannya, supervisi akademik Sahertian . menyebutkan bahwa supervisi mencakup fungsi pembinaan, pengembangan, dan peningkatan mutu Zein . menekankan fungsi supervisi A 2026 Published by Posgraduate University of Mataram. This open access article is distributed under a Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan sebagai upaya membangun budaya belajar guru dan memperkuat komunitas belajar profesional. Dengan demikian, supervisi akademik merupakan bagian dari siklus peningkatan mutu yang tidak hanya berorientasi pada penilaian, tetapi juga pemberdayaan guru. Kepala sekolah menjadi tokoh kunci dalam keberhasilan supervisi akademik. Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 menetapkan bahwa kepala sekolah harus memiliki kompetensi supervisi, di samping kompetensi manajerial, kepribadian, sosial, dan kewirausahaan. Kompetensi menyusun program supervisi, melaksanakan observasi pembelajaran, menganalisis proses pembelajaran, serta memberi tindak lanjut yang terarah. Perspektif kepemimpinan pembelajaran . nstructional leadershi. Hallinger . mempertegas bahwa kepala sekolah berperan sebagai pemimpin pembelajaran yang harus memfokuskan perhatian pada kualitas proses mengajar, interaksi guruAemurid, dan perilaku profesional guru. Melalui peran ini, kepala sekolah bukan hanya administrator, tetapi agen perubahan yang dapat meningkatkan budaya mutu di sekolah. Pada konteks implementasi Kurikulum Merdeka, supervisi akademik menjadi semakin penting. Kurikulum ini menuntut guru mampu menyusun modul ajar yang fleksibel, melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi, dan menerapkan asesmen formatif yang Namun menunjukkan bahwa kesiapan guru dalam menerapkan pendekatan ini masih beragam. Suryani dan Wijaya . menemukan bahwa banyak guru masih kesulitan memahami filosofi pembelajaran merdeka, terutama terkait diferensiasi dan asesmen autentik. Hal serupa juga ditemukan oleh Setiyati . , bahwa supervisi akademik kerap masih bersifat administratif sehingga kurang memberikan dampak signifikan terhadap inovasi pedagogik guru. Di SD Negeri 3 Karang Bongkot Kecamatan Labuapi, kondisi tersebut juga tampak. Guru berupaya menyusun modul ajar dan perangkat evaluasi, tetapi variasi kualitas perangkat ajar masih terlihat. Sebagian guru belum menerapkan strategi pembelajaran yang memaksimalkan keterlibatan murid dan masih kesulitan mengembangkan asesmen formatif. Supervisi yang dilaksanakan oleh kepala sekolah maupun pengawas gugus berjalan rutin, tetapi tahap praobservasi dan tindak lanjut belum dimanfaatkan optimal sebagai sarana refleksi mendalam. Hal ini sejalan dengan temuan Ramdani . yang menunjukkan bahwa supervisi di tingkat sekolah dasar sering menghadapi kendala keterbatasan instrumen, kurangnya monitoring berkelanjutan, dan penguasaan teknik supervisi yang belum memadai. Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 68-72 Untuk memastikan supervisi akademik berjalan Model evaluasi CIPP (Context. Input. Process. Produc. yang dikembangkan Stufflebeam . merupakan kerangka yang banyak digunakan dalam penelitian pendidikan karena mampu keberhasilan suatu program. Evaluasi konteks menilai kebutuhan dan urgensi program. evaluasi input menilai kesiapan sumber daya, instrumen, dan kompetensi evaluasi proses melihat kesesuaian pelaksanaan dengan rencana. dan evaluasi produk menilai dampaknya terhadap guru dan mutu Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa model CIPP efektif digunakan untuk mengevaluasi program supervisi akademik dan pembinaan guru di sekolah dasar (Nurhayati, 2022. Wiyono, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanaan supervisi akademik di SD Negeri 3 Karang Bongkot menggunakan model CIPP. Evaluasi ini diharapkan menghasilkan pemahaman menyeluruh mengenai efektivitas supervisi, mengidentifikasi aspek yang sudah berjalan baik, serta menemukan komponen yang masih perlu diperbaiki. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi dasar bagi sekolah dalam merancang strategi pengembangan profesional guru yang lebih efektif dan berkelanjutan Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan evaluatif dengan model CIPP (Context. Input. Process. Produc. untuk menilai pelaksanaan supervisi akademik di SD Negeri 3 Karang Bongkot. Model CIPP dipilih karena mengenai kebutuhan program, kesiapan sumber daya, pelaksanaan kegiatan, serta hasil supervisi bagi peningkatan kompetensi guru (Stufflebeam, 2. Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 3 Karang Bongkot. Kecamatan Labuapi, dengan melibatkan kepala sekolah, guru, dan pengawas sekolah sebagai informan utama. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi kegiatan supervisi, serta telaah dokumen seperti program supervisi, instrumen, dan laporan tindak lanjut. Teknik pengumpulan data ini digunakan untuk memperoleh informasi yang holistik mengenai pelaksanaan supervisi Instrumen penelitian mencakup pedoman wawancara, lembar observasi, dan format analisis dokumen yang dikembangkan berdasarkan indikator model CIPP. Validitas isi instrumen diperoleh melalui expert judgment oleh dosen ahli manajemen pendidikan. Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Data dianalisis secara deskriptif melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan mengacu pada Miles. Huberman, dan Saldaya . Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik, serta member checking kepada informan untuk memastikan konsistensi hasil. Hasil dan Pembahasan Hasil Evaluasi Konteks (Contex. Kebutuhan terhadap supervisi akademik di SD Negeri 3 Karang Bongkot muncul karena kualitas pembelajaran guru belum merata, terutama pada aspek perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka. Data menunjukkan bahwa sebagian guru masih menyusun mengintegrasikan profil pelajar Pancasila, asesmen formatif, serta strategi diferensiasi secara konsisten Supervisi akademik dilakukan untuk memastikan guru memahami standar pembelajaran, menyusun perangkat ajar yang lengkap, dan meningkatkan Lingkungan mendukung pelaksanaan supervisi dengan adanya kalender supervisi gugus dan jadwal supervisi terstruktur setiap semester. Kebutuhan supervisi juga diperkuat oleh hasil refleksi guru yang menyatakan bahwa mereka memerlukan pendampingan terkait pengelolaan kelas, pemilihan metode yang variatif, serta pengembangan media pembelajaran yang sesuai karakter murid Evaluasi Input (Inpu. Kepala sekolah telah memiliki pemahaman tentang standar supervisi akademik dan mampu mengatur jadwal, mempersiapkan instrumen, serta melakukan koordinasi dengan guru. Namun teknik supervisi yang digunakan belum bervariasi. masih didominasi oleh observasi kelas dan percakapan individual, sedangkan teknik lain seperti demonstrasi mengajar, supervisi sebaya, atau workshop pedagogik belum dimanfaatkan secara optimal. Instrumen supervisi tersedia, tetapi sebagian besar masih menilai aspek administratif seperti kelengkapan RPP/modul ajar, jurnal kelas, serta administrasi portofolio guru. Indikator mengenai guru-murid, sepenuhnya tercantum dalam instrumen. Guru memiliki perangkat pembelajaranAimodul ajar, penilaian, media sederhanaAitetapi kualitas penyusunannya berbeda-beda. Guru senior telah membuat modul ajar lebih rinci, sementara guru baru Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 68-72 masih menggunakan format umum dan belum menyusun tujuan pembelajaran secara operasional. Dukungan sarana seperti proyektor dan internet terbatas, sehingga penggunaan teknologi dalam pembelajaran belum optimal Evaluasi Proses (Proces. Pelaksanaan supervisi mengikuti alur praobservasi, observasi, dan pasca-observasi. Pada tahap pra-observasi, supervisor meninjau perangkat ajar namun diskusi reflektif tentang strategi pembelajaran jarang dilakukan. Guru merasa tahap ini lebih bersifat pemeriksaan dokumen daripada dialog profesional . Pada tahap observasi, supervisor menilai keterampilan guru dalam membuka pelajaran, menyampaikan materi, mengelola kelas, dan memberi Namun penilaian belum menekankan pada evidensi belajar murid, efektivitas interaksi, atau Tahap pasca-observasi sudah dilakukan, tetapi umpan balik masih bersifat umum seperti Auperlu meningkatkan variasi metodeAy tanpa memberikan contoh konkret atau strategi yang dapat langsung Tindak lanjut dilakukan melalui percakapan balikan, tetapi belum ada monitoring berkelanjutan sehingga perubahan guru tidak selalu bertahan lama. Evaluasi Produk (Produc. Supervisi memberikan dampak positif, terutama pada peningkatan disiplin administrasi guru dan penyempurnaan perangkat ajar. Guru menunjukkan peningkatan dalam teknik mengajar, pengelolaan kelas, serta penggunaan metode ceramah bervariasi, diskusi, dan tanya jawab. Guru juga melaporkan peningkatan kepercayaan diri setelah mendapatkan bimbingan Namun dampak pada pembelajaran inovatif masih terbatas. Penggunaan media digital, asesmen autentik, dan strategi diferensiasi belum menunjukkan perkembangan signifikan. Guru juga belum seluruhnya mampu merancang pembelajaran berbasis projek sesuai tuntutan kurikulum. Hal ini menunjukkan bahwa tindak lanjut supervisi belum cukup kuat untuk menghasilkan perubahan perilaku mengajar yang Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa supervisi akademik di SD Negeri 3 Karang Bongkot berjalan cukup baik, terutama pada aspek pemenuhan kebutuhan supervisi dan kesiapan administratif. Hal ini sesuai dengan pandangan Glickman. Gordon, & Ross70 Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Gordon . yang menekankan bahwa supervisi bertujuan mendukung pengembangan profesional guru melalui proses bantuan yang sistematis. Aspek konteks memperlihatkan bahwa supervisi sangat relevan dengan kondisi sekolah. Guru membutuhkan pendampingan dalam memahami Kurikulum Merdeka, terutama terkait asesmen formatif dan pembelajaran diferensiasi. Hal ini sejalan dengan temuan Suryani & Wijaya . bahwa implementasi Kurikulum Merdeka membutuhkan dukungan intensif dari kepala sekolah melalui supervisi. Pada aspek input, kepala sekolah memiliki dasar kompetensi supervisi, namun variasi teknik supervisi masih terbatas. Sergiovanni & Starratt . menegaskan pentingnya supervisi kolaboratif yang mencakup coaching, diskusi reflektif, dan praktik berbasis evidensi. Kekurangan teknik supervisi di sekolah ini selaras dengan catatan Setiyati . bahwa banyak sekolah masih terjebak pada pola supervisi Pada aspek proses, supervisi formal telah berjalan tetapi belum mencerminkan supervisi modern yang berfokus pada kualitas proses belajar. Kurangnya dialog reflektif dan monitoring tindak lanjut melemahkan dampak supervisi, sebagaimana dikemukakan Ramdani . tentang lemahnya tahap pasca-supervisi di sekolah dasar. Pada aspek produk, supervisi menghasilkan perbaikan pada perangkat ajar dan dasar-dasar keterampilan mengajar, tetapi belum mampu mendorong inovasi pedagogik atau penggunaan Rivai . menjelaskan bahwa supervisi efektif harus memengaruhi perilaku mengajar secara konsisten, bukan sekadar perbaikan administratif. Secara keseluruhan, supervisi akademik di SD Negeri 3 Karang Bongkot menunjukkan efektivitas yang cukup baik pada aspek konteks dan input, namun perlu penguatan pada proses supervisi agar dampak . lebih maksimal, terutama dalam pembelajaran inovatif dan praktik Kurikulum Merdeka. Kesimpulan Hasil evaluasi menggunakan model CIPP menunjukkan bahwa pelaksanaan supervisi akademik di SD Negeri 3 Karang Bongkot telah berjalan cukup efektif, namun masih memerlukan penguatan pada beberapa aspek. Pada aspek konteks, supervisi memiliki dasar kebutuhan yang kuat karena guru membutuhkan pendampingan dalam memahami Kurikulum Merdeka, penyusunan modul ajar, dan peningkatan kualitas Pada aspek input, kepala sekolah telah memiliki pemahaman dasar tentang pelaksanaan supervisi, tetapi variasi teknik supervisi dan Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 68-72 kelengkapan instrumen masih terbatas sehingga belum sepenuhnya mendukung supervisi yang bersifat reflektif dan kolaboratif. Aspek proses menunjukkan bahwa supervisi dilaksanakan sesuai prosedur formal, namun alur praobservasi, observasi, dan pasca-observasi belum berjalan optimal. Dialog reflektif, pemberian umpan balik spesifik, dan monitoring tindak lanjut masih perlu Pada memberikan dampak positif pada peningkatan kelengkapan perangkat ajar dan keterampilan dasar mengajar, tetapi belum signifikan mendorong inovasi Kurikulum Merdeka. Secara keseluruhan, supervisi akademik yang berlangsung di sekolah ini sudah memberikan kontribusi terhadap pengembangan kompetensi guru, namun efektivitasnya masih dapat ditingkatkan melalui penguatan teknik supervisi, perbaikan instrumen, dan optimalisasi tindak lanjut. Daftar Pustaka