Vocat : Jurnal Pendidikan Katolik Vol. No. Tahun 2025 Hal. 84 - 97 Website: https://ejournal. id/index. php/vocat STUDI DESKTIPTIF TENTANG MOTIVASI ORANG TUA MEMILIH SEKOLAH KATOLIK UNTUK MEMBENTUK SIKAP PLURALISME SISWA Cosmas Eric Wirawan1*. Rian Antony2 Yayasan Tarakanita Wilayah Jawa Tengah Email : cosmas. eric7@gmail. Sekolah Pascasarjana. Universitas Negeri Yogyakarta. Indonesia email : rian. antony31@gmail. Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk memahami motivasi orang tua dalam memilih sekolah Katolik sebagai sarana pembentukan sikap inklusif terhadap perbedaan sosial pada anak, khususnya dalam konteks masyarakat Indonesia yang multikultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain naratif. Sementara itu, teknik purposive sampling digunakan untuk memilih lima orang tua siswa yang terlibat dalam penelitian. Wawancara mendalam dilakukan kepada orang tua siswa d SMK Pius X Magelang. Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi orang tua memilih sekolah Katolik tidak hanya karena reputasi akademik, tetapi juga karena nilai-nilai disiplin, moralitas, keterbukaan, dan cinta kasih yang ditanamkan. Meskipun demikian, terdapat tantangan yang dihadapi, seperti biaya pendidikan yang relatif tinggi, isu eksklusivitas, hingga kekhawatiran akan kristenisasi. Namun, sekolah katolik tetap dipandang mampu memberikan dampak positif bagi anak, terutama dalam membentuk integritas, kreativitas, dan sikap toleransi. Temuan ini sejalan dengan teori struktur sosial Durkheim yang menekankan fungsi pendidikan dalam menjaga keteraturan sosial, serta teori pendidikan kritis Freire yang menekankan dialog, kesadaran kritis, dan pembebasan. Kajian penelitian terdahulu juga menguatkan bahwa sekolah Katolik berperan penting dalam menanamkan nilai pluralisme dan pendidikan karakter di tengah masyarakat yang beragam. Dengan demikian, sekolah Katolik memiliki potensi besar sebagai mitra strategis orang tua dalam membangun generasi yang unggul, berintegritas, dan berjiwa inklusif. Kata kunci: karakter, motivasi orang tua, pluralisme, pendidikan karakter, sekolah katolik. Abstract : This study aims to understand parents' motivations in choosing Catholic schools as a means of fostering inclusive attitudes towards social differences in children, particularly in the context of Indonesia's multicultural society. This study used a qualitative approach with a narrative design. Meanwhile, purposeful sampling was used to select five parents of students involved in the study. In-depth interviews were conducted with parents of students at SMK Pius X Magelang. Central Java. The results of the study show that parents' motivation in choosing Catholic schools is not only because of their academic reputation, but also because of the values of discipline, morality, openness, and love that are instilled. However, there are challenges faced, such as relatively high education costs, issues of exclusivity, and concerns about Christianisation. However. Catholic schools are still considered capable of having a positive impact on children, especially in shaping integrity, creativity, and tolerance. These findings are in line with Durkheim's social structure theory, which emphasises the function of education in maintaining social order, as well as Freire's critical pedagogy theory, which emphasises dialogue, critical awareness, and liberation. Previous studies also reinforce that Catholic schools play an important role in instilling the values of pluralism and character education in a diverse society. Thus. Catholic schools have great potential as strategic partners for parents in building a generation that is superior, has integrity, and is Keywords: catholic schools, character, character education, parental motivation, pluralism. PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kemajemukan yang sangat Berdasarkan Long Form Sensus Penduduk 2020, terdapat lebih dari 1. 200 kelompok suku dan 694 bahasa daerah yang tersebar di seluruh nusantara (BPS, 2. Selain itu, enam agama resmi diakui negara, disertai dengan beragam aliran kepercayaan dan tradisi lokal yang terus hidup berdampingan. Keanekaragaman ini merupakan modal sosial yang besar bagi bangsa (Sunarno & Rahmawati Zakiyah, 2. , tetapi pada saat yang sama juga berpotensi menimbulkan gesekan apabila tidak dikelola secara bijaksana (Sitanggang. Dalam konteks inilah, pendidikan memiliki peran strategis untuk menanamkan nilainilai kebangsaan, membentuk karakter peserta didik, dan mengajarkan keterampilan hidup bersama dalam perbedaan (Adini Rahmi dkk. , 2025. Ardiana Bulan Ramadhani dkk. , 2024. Hazizah Isnaini & Robie Fanreza, 2024. Inanna, 2. Sebagai salah satu lembaga utama dalam penyelenggaraan pendidikan, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga berperan penting dalam sosialisasi, internalisasi nilai, dan pembentukan identitas sosial peserta didik. Durkheim . menggambarkan bagaimana generasi muda membutuhkan bantuan pendidikan untuk mempersiapkan diri memasuki kehidupan di masyarakat yang memiliki sistem nilai. menilai jika pendidikan perlu mengembangkan kekuatan fisik, intelektual, dan moral yang dibutuhkan masyarakat (Wandi dkk. , 2. Melalui teori pendidikan kritis. Freire . 0, 2. menegaskan bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang pembebasan yang mendorong peserta didik berpikir kritis, menghargai keberagaman, dan terlibat dalam perubahan sosial. Dengan demikian, sekolah memiliki tanggung jawab yang besar sebagai membekali peserta didik dengan keterampilan akademik (Antony, 2022. Mulyatno, 2022. , sekaligus membentuk mereka agar mampu hidup berdampingan secara harmonis di tengah masyarakat plural dan dinamis (Ismanto dkk. , 2024. Mulyatno, 2. Kondisi-kondisi di atas sedikit banyak membuat orang tua terlibat dalam memilih sekolah bagi anak-anaknya (Prihanto dkk. , 2018. Yaacob dkk. , 2. Temuan berbagai penelitian menyebutkan bahwa orang tua biasanya mempertimbangkan berbagai faktor, seperti kualitas pengajaran, pelayanan, lingkungan belajar, serta biaya (Lumbantobing dkk. Salfiah dkk. , 2022. Thoyyibah dkk. , 2. Sekolah keagamaan sering menjadi pilihan karena dianggap mampu memberikan pendidikan berkualitas, sekaligus menanamkan nilai-nilai spiritual dan etika. Temuan Kompas pada 2021 menunjukkan bahwa sekolah berlandaskan nilai keagamaan sudah lama memiliki pamor keuanggulan di Indonesia. Dari sisi kualitas nilai, sekolah-sekolah berlandas keagamaan masih relatif lebih tinggi, di mana dari 191 SMA swasta berbasis keagamaan yang masuk 1. 000 besar, nilai rata-ratanya sebesar 543,29. Capaian tersebut relatif lebih tinggi dari rata-rata skor UTBK SMA negeri yang sebesar 538,80 (Nainggolan, 2. Sebagai salah satu bagian dari institusi pendidikan, sekolah Katolik di Indonesia menjadi salah satu lembaga yang menekankan pengembangan manusia seutuhnya, baik secara akademis, moral, maupun spiritual (Hamu, 2. Sekolah Katolik, dengan spiritualitas Kristiani, dituntut untuk hadir bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan juga sebagai ruang perjumpaan yang inklusif, tempat peserta didik dari beragam latar belakang dapat belajar hidup bersama dalam semangat dialog dan cinta kasih (Widyawati & Bule, 2. Oleh karenanya, proses pembelajaran berfokus pada integrasi hard skill dan soft skill, agar peserta didik tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan tetapi juga mampu mengembangkan sikap, nilai, dan solidaritas yang dibutuhkan di tengah masyarakat majemuk (Sari dkk. , 2. Keadaan inilah yang menjadi ciri khas, keunikan, dan daya tawar dari sekolah katolik. Sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan bahwa iman Kristiani memiliki peran positif dalam menghadapi realitas pluralisme. Agustiani et al. , . dan Soesilo . menekankan pentingnya peran Gereja dalam merawat kerukunan antarumat beragama, khususnya melalui dialog dan pendidikan lintas iman. Sejalan dengan itu. Widyawati . menegaskan bahwa pendidikan Kristiani membawa misi untuk menjadikan sekolah sebagai rumah yang inklusif bagi semua perbedaan. Penegasan yang sama juga disampaikan oleh (Syahputra dkk. , 2. yang menyebut bahwa pendidikan pada sekolah keagamaan dibutuhkan untuk memperdalam pemahaman siswa tentang multikultural dan pluralisme di Indonesia. Temuan penelitian ini juga menyebutkab bahwa lingkungan dan iklim sekolah, materi dan metode pembelajaran, program dan kegiatan sekolah, kegiatan ekstrakurikuler dan kesadaran siswa menjadi faktor-faktor yang mendukung terlaksananya pendidikan multikultural di sekolah katolik. Di sisi lain, temuan Indrawono . yang menunjukkan bahwa komunitas sekolah katolik dapat membangun budaya saling menerima, menghormati, membantu, dan melindungi tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan. Hal ini menggambarkan bahwa nilai-nilai kasih, solidaritas, dan kemanusiaan yang diajarkan di sekolah Katolik tidak berhenti pada ranah teologis, tetapi diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Guru, siswa, dan seluruh anggota komunitas sekolah berinteraksi dalam semangat kebersamaan yang menempatkan martabat manusia di atas segala Pendekatan seperti ini menjadikan sekolah katolik bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter sosial yang menumbuhkan rasa empati dan toleransi. Berbagai temuan tersebut memberikan landasan yang kuat bagi lembaga pendidikan Katolik untuk terus mengemban misi membangun kerukunan, mengingat pluralisme merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat Landasan lain yang memperkuat komitmen sekolah katolik dalam mengembangkan sikap pluralisme adalah Gravissimum Educationis (Paulus VI, 1. Dokumen ini merupakan bagian dari pembaharuan yang hadir setelah Konsili Vatikan II. Nada dasar dari dokumen ini menekankan bahwa pendidikan kaum muda perlu agar mereka semakin menyadari martabat maupun tugas kewajiban mereka sendiri, dan ingin berperan serta makin aktif dalam kehidupan sosial, terutama di bidang ekonomi dan politik (Yulius & Goa. Dengan demikian, gereja menggaris bawahi bahwa peran serta serta sekolah katolik dibutuhkan agar semakin banyak orang yang bertumbuh dan berpartisipasi dalam membangun dunia. Di dalam dokumen Gravissimum Educationis, proses pendidikan dipahami sebagai proses yang mempertebal dan memperkokoh kemanusian (Irudayaselvam, 2. Pendidikan juga dimengerti sebagai proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan perilaku dalam masyarakat sehingga ia dapat mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan pribadinya. Penekanan ini memberikan sekolah katolik kedudukan yang istimewa karena perannya dalam mengasah kemampuan intelektual peserta didik dan pengembangan berbagai aspek kemanusiaan lainnya. Oleh karena itu, praktik pendidikan sekolah katolik diarahkan untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, memperkenalkan warisan budaya dari generasi terdahulu, menanamkan kesadaran terhadap nilai-nilai moral, serta menumbuhkan sikap saling menghargai. Lebih jauh, gagasan ini dipertegas dalam ensiklik Fratelli Tutti (Fransiskus, 2. yang menyerukan pentingnya persaudaraan universal dan solidaritas sosial di tengah dunia yang penuh perpecahan dan intoleransi. Fratelli Tutti menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi jalan untuk membangun budaya dialog, menghormati perbedaan, dan memperkuat rasa tanggung jawab terhadap sesama tanpa membedakan agama, ras, atau status sosial. Semangat ini selaras dengan visi sekolah Katolik yang tidak hanya membentuk pribadi beriman dan berilmu, tetapi juga mendorong siswa menjadi pembawa damai . yang mampu berelasi dengan semua orang dalam semangat kasih dan persaudaraan sejati. Dengan demikian. Gravissimum Educationis dan Fratelli Tutti menjadi dua pilar penting yang menegaskan bahwa pendidikan Katolik berakar pada misi kemanusiaan universal yaitu membentuk pribadi yang cerdas, berbelarasa, dan terbuka terhadap pluralitas yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi dan menganalisis motivasi orang tua dalam memilih sekolah Katolik sebagai sarana pembentukan sikap pluralisme pada siswa. Penelitian ini berupaya menghadirkan pemahaman baru sekaligus perspektif alternatif dalam melihat keterkaitan antara motivasi orang tua, pilihan sekolah, dan pendidikan pluralisme di masyarakat majemuk. Kontribusi yang diharapkan dari penelitian ini adalah memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pilihan orang tua, sekaligus menjadi dasar bagi pengembangan model pendidikan sekolah katolik yang berorientasi pada penguatan kebinekaan pembentukan karakter inkusif kebinekaan bangsa Indonesia. METODE Penelitian kualitatif ini menggunakan desain penelitian naratif dimana peneliti meminta satu atau lebih individu untuk menceritakan pengalaman mereka (Creswell, 2013. Riessman. Desain penelitian naratif ini cocok untuk memahami dan mempelajari secara mendalam cerita dan motivasi para informan dalam menyekolahkan anak di sekolah Katolik. Pengalaman dan cerita informan dibutuhkan untuk menggali aspek yang lebih personal, khususnya bagaimana orang tua menafsirkan peran sekolah katolik dalam pembentukan karakter anak, perkembangan sikap inklusif terhadap perbedaan sosial, serta tantangan yang mereka hadapi dalam proses pendidikan. Dalam konteks pendidikan katolik, menggali cerita pengalaman seseorang menjadi sarana penting untuk dapat memahami motivasi dan pemaksan mereka dalam proses pengambilan keputusan yang dilakukan. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara mendalam atau indepth interview. Wawancara mendalam adalah suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara intensif antara peneliti dan informan (Sugiyono, 2. yang memungkinkan adanya eksplorasi secara luas terhadap pengalaman, pandangan, serta alasan-alasan yang melatar belakangi tindakan mereka (Creswell, 2023. Creswell & Poth, 2. Dalam penelitian ini, wawancara melibatkan lima orang tua siswa di SMK Pius X Magelang. Jawa Tengah. Pemilihan informan dilakukan menggunakan teknik purposivel sampling, yakni pemilihan subjek secara sengaja berdasarkan pertimbangan tertentu agar dapat mempelajari atau memahami fenomena sentral (Creswell, 2. Selain itu, informan dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan lain, antara lain: . memiliki anak yang masih aktif bersekolah di jenjang menengah, . menunjukkan partisipasi dalam kegiatan sekolah baik secara formal maupun non-formal . berasal dari latar belakang sosial, ekonomi, dan agama yang beragam agar diperoleh perspektif yang lebih komprehensif mengenai pluralisme, serta . memiliki kesediaan waktu untuk mengikuti wawancara mendalam sesuai kebutuhan penelitian. Keberagaman latar belakang informan tersebut secara sengaja dihadirkan untuk mendukung proses triangulasi sumber, yakni membandingkan dan memverifikasi temuan antar-informan guna memperoleh pemahaman yang lebih mendalam, valid, dan holistik mengenai fenomena yang diteliti. Secara teknis, wawancara dilaksanakan dalam durasi 30Ae45 menit, tergantung pada kedalaman narasi yang muncul. Wawancara dilakukan secara tatap muka di lingkungan sekolah dengan waktu yang disepakati bersama. Seluruh percakapan direkam menggunakan alat perekam digital dengan izin dari informan dan kemudian ditranskrip verbatim untuk keperluan analisis data. Penelitian ini juga memperhatikan prinsip etika penelitian kualitatif sebagaimana ditekankan pada The Belmont Report yang mencakup respect for persons, beneficence, dan justice (Miracle, 2. Sebelum wawancara dilakukan, peneliti meminta persetujuan dari setiap informan untuk menjelaskan tujuan penelitian, hak mereka untuk berpartisipasi secara sukarela, serta jaminan kerahasiaan data. Identitas informan dijaga dengan menggunakan kode informan, dan seluruh data hanya digunakan untuk kepentingan Panduan wawancara dirancang dengan mengacu pada tiga pertanyaan utama: . apa yang memotivasi orang tua untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah katolik. bagaimana dampak sekolah katolik terhadap perkembangan sikap pluralisme anak. tantangan apa saja yang dihadapi orang tua dalam memilih sekolah Katolik sebagai lembaga pendidikan bagi anak mereka. Ketiga pertanyaan ini menjadi instrumen penting untuk menggali motivasi, harapan, sekaligus makna pengalaman orang tua. Temuan wawancara kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif dari Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahapan yaitu data condensation, data display, and conclusion and verification (Miles, dkk, 2. Pada tahap data condensation, informasi hasil wawancara diseleksi dan dikodekan berdasarkan sub-dimensi seperti pemahaman, strategi, dampak, dan tantangan. Selanjutnya, pada tahap data display, data yang telah diklasifikasikan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi tematik untuk memudahkan identifikasi pola dan hubungan antar-tema. Tahap terakhir yaitu conclusion and verification dilakukan dengan menarik dan memverifikasi kesimpulan, guna memastikan bahwa interpretasi yang diperoleh konsisten dengan data empiris dan konteks penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini dijelaskan temuan penelitian dari hasil wawancara. Temuan-temuan penelitian dipaparkan dengan tabel agar memudahkan pembaca memahami setiap kata kunci yang muncul dari temuan penelitian, sekaligus mengacu pada tahap data display dari Miles dan Huberman. Selanjutnya, setiap kata kunci dijelaskan secara deskriptif untuk menjelaskan dengan lebih rinci setiap kata kunci dari temuan penelitian. Untuk lebih lanjut dijelaskan pada Tabel 1. Tabel 1. Koding Kata Kunci Hasil Wawancara Dampak Pendidikan di Sekolah Katolik bagi Anak Membentuk berintegritas dan berkarakter kuat Motivasi Memilih Sekolah Katolik Tantangan Informan Sudah karakter anak Biaya realtif tinggi Informan Keterbukaan terhadap agama Mengajarkan dan menghargai Informan Menanamkan keteguhan nilai Sudah Menjunjung Memiliki murid dari berbagai latar Kekhawatiran Biayanya cukup tinggi Biayanya Kesannya masih kurang Metode sama dengan sekolah lain cukup tinggi Daya saing masih sama sekolah lain Menumbuhkan kreativitas dan AuMenjunjung memberikan hak yang Ay Membentuk daya juang tinggi dan Setiap pribadi memiliki keunikan, ketika mampu masingmasing akan menjadi suatu kekuatan yang Ay Kode Informan Informan Informan Integritas kepribadian dan penghargaan atas keunikan individu Membentuk pribadi unggul dan terbuka pada Kutipan penting AuSekolah Katolik sudah terbukti sejak lama karakter anak dengan integritas tinggi, dengan hatiAy AuPribadi yang terbuka, berasal dari sekolah pengetahuan dan iman dari agama lainAy AuAnak bisa bergaul dengan siapapun karena sikap puralisme dan multikulturalismeAy Motivasi Orang Tua Memilih Sekolah Katolik Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi orang tua dalam memilih sekolah katolik itu beraneka ragam. Motivasi utama orang tua dalam memilih sekolah Katolik lebih banyak berkaitan dengan nilai-nilai yang ditanamkan dalam pendidikan, bukan sekadar aspek Orang tua menilai sekolah Katolik telah terbukti mampu menanamkan disiplin, integritas, dan cinta kasih pada anak, yang dianggap sebagai bekal penting dalam kehidupan. Informan AA, misalnya, menegaskan bahwa sekolah Katolik mampu membentuk siswa yang berintegritas melalui pendekatan yang menekankan hati. AuSpritualitas sekolah katolik itu mengutamakan cinta kasih dan mampu mengutamakan hati untuk membentuk karakter peserta didik lebih integritasAy (Informan AA). Menurutnya, pengajaran dari hati ini mampu melihat dari berbagai aspek pendampingan pendidikan yang lebih tepat. Selain itu, beberapa orang tua juga menilai sekolah Katolik memiliki tradisi keterbukaan terhadap keberagaman. Informan AB memandang bahwa sekolah Katolik justru membangun sikap saling menghargai perbedaan agama, berbeda dengan stereotipe negatif yang berkembang di masyarakat. AuSejauh pengalaman kami, anak bisa untuk lebih terbuka dengan bisa berteman dengan siaap siapa saja, terutama mereka dari agama lainAy (Informan AB). Informan AD menambahkan bahwa budaya keberagaman di sekolah Katolik membantu anak terbiasa dengan kehidupan plural, sementara informan AE menekankan pada pengembangan integritas kepribadian yang menghargai keunikan individu. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi orang tua memilih sekolah Katolik karena mereka ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang terbuka, disiplin, dan berkarakter pluralisme. Tantangan dalam Memilih Sekolah Katolik Meskipun sekolah Katolik menawarkan nilai-nilai penting, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi orang tua. Tantangan utama adalah biaya pendidikan yang relatif tinggi, yang sering dianggap sebagai penghalang utama bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Informan AA. AB, dan AD menegaskan biaya pendidikan yang cukup besar menjadi pertimbangan utama ketika hendak menyekolahkan anak mereka di sekolah katolik. AuBiaya pendidikan di sekolah katolik relatif tinggi, tapi ini wajar karena sekolah ini sekolah swasta dan sudah punya nama yang bagus di masyarakatAy (Informan AA). Kondisi ini tentu dapat mempersempit aksesibilitas sekolah Katolik bagi masyarakat luas. Selain persoalan biaya, muncul pula tantangan sosial dan kultural. Informan AB menilai sekolah Katolik masih menghadapi persoalan inklusivitas, di mana ada kesan belum sepenuhnya terbuka bagi semua kalangan. Menurut Informan AC dan AD, hal ini terjadi karena adanya isu kristenisasi dan pandangan subjektif yang terus terjadi, meskipun dalam praktiknya ia melihat sekolah Katolik justru menguatkan semangat Bhinneka Tunggal Ika. AuDi luar masih ada kekhawatiran adanya isu kristenisasi di sekolah katolikAy (Informan AC). Sementara informan AE menekankan perlunya sekolah Katolik terus menjaga daya saing dengan lembaga pendidikan lain. Dengan demikian, tantangan ini menegaskan bahwa sekolah Katolik harus terus berbenah agar tetap relevan dan dipercaya masyarakat. Dampak Pendidikan di Sekolah Katolik bagi Anak Dampak yang dirasakan orang tua terhadap anak-anak mereka setelah bersekolah di sekolah Katolik umumnya positif, terutama dalam aspek pembentukan karakter. Informan AA menilai anaknya menjadi pribadi yang lebih berintegritas. AuSekolah katolik terbukti mampu membentuk karakter peserta didik lebih integritasAy (Informan AA). Sedangkan informan AB menilai sekolah Katolik melahirkan pribadi unggul yang tangguh dalam menghadapi Hal ini menunjukkan bahwa sekolah Katolik tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan identitas sosial dan moral Selain itu, sekolah Katolik juga dianggap menumbuhkan keterbukaan, kreativitas, dan daya juang pada anak. Informan AC menekankan bahwa sekolah Katolik membantu anakanak memahami makna Bhinneka Tunggal Ika secara konkret. AuSejauh ini anak kami bisa bergaul dengan siapapun yang mana ini menunjukkan sikap puralisme dan multikulturalismeAy (Informan AC). Sedangkan informan AD menyoroti peningkatan kreativitas dan keterbukaan berpikir. Informan AE menambahkan bahwa sekolah Katolik mampu membentuk anak menjadi pribadi dengan daya juang tinggi serta mampu menghargai keunikan orang lain. Dengan demikian, dampak pendidikan Katolik tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga menyentuh aspek spiritual, sosial, dan humanis, yang menjadi modal penting bagi kehidupan di tengah masyarakat majemuk. Pembahasan Motivasi orang tua dalam memilih sekolah bagi anaknya merupakan aspek penting dalam dunia pendidikan, sebab pilihan tersebut mencerminkan harapan mereka terhadap masa depan anak. Sekolah Katolik, dalam konteks Indonesia yang plural dan majemuk, sering dipandang sebagai lembaga pendidikan yang mampu mengintegrasikan kualitas akademik dengan pendidikan karakter. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa orang tua memiliki motivasi positif pada sekolah katolik terutama dalam hal kedisiplinan, penanaman nilai moral, serta pembinaan spiritualitas. Hal ini sejalan dengan penelitian Thoyyibah dkk . dan Sari dkk . yang menyebut bahwa cenderung memilih Sekolah Katolik bukan hanya karena reputasi akademiknya, tetapi juga karena nilai-nilai spiritualitas, disiplin, dan moralitas yang ditanamkan. Pendidikan saat ini tidak cukup dalam pendampingan intelektual, namun perlu dan sangat penting dalam membangun moral peserta didik. Moral peserta didik diajarkan untuk menjadi manusia yang manusia yang bijak. Dengan pendampingan moral yang baik akan membuat motivasi orangtua akan mulai tumbuh kembali untuk menyekolahkan anaknya kepada sekolah katolik. Dari perspektif teori fungsionalisme struktural (Durkheim, 1. motivasi tersebut dapat dipahahami sebagai upaya orang tua agar anak mereka memperoleh sosialisasi nilai dan norma yang menjadi perekat kohesi sosial. Sekolah katolik, melalui tata disiplin dan kehidupan komunitasnya dianggap mampu menanamkan nilai-nilai universal seperti tanggung jawab, ketekunan, dan rasa hormat terhadap sesama. Hal tersebut menjadi gambaran kecil akan motivasi orang tua dalam memilih sekolah katolik. Motivasi tersebut perlu dijawab oleh sekolah dengan komitmen yang kuat untuk meningkatkan kualitas pendidikan, menyediakan fasilitas yang memadai, serta menyeimbangkan antara pembentukan karakter, moral, dan biaya pendidikan sesuai dengan harapan orang tua dan kebutuhan siswa. Sekolah katolik diajak untuk mampu sebagai fasilitator dalam membentuk peserta didik yang unggul. Maksud dari peserta didik yang unggul itu tidak hanya dalam hal akademis namun membawa nilai-nilai kehidupan yang berguna bagi kehidupan secara nyata. Dalam Konsili Vatikan II, gereja katolik diminta untuk bersikap lebih positif tentang kebenaran dan nilai-nilai kepercayan lain (Suriawan, 2. Keadaan ini memperlihatkan bahwa gereja mampu terbuka dengan ideologi lain yang beragam. Di tengah pluralitas bangsa Indonesia, sekolah katolik menjunjung tinggi nilai cinta kasih kepada sesama. Nilai cinta kasih ini harapannya mampu menumbuhkan rasa inklusivitas yang tinggi bagi setiap peserta Realitas pluralitas ini menjadi tantangan mendasar tidak saja bagi agama katolik tetapi juga bagi agama-agama masa kini, sehingga kadang-kadang dianggap sebagai ancaman terhadap nilai-nilai religiositas (Suriawan, 2. Dalam sudut pandang seperti ini melihatkan bahwa sekolah katolik terbuka bagi semua peserta didik. Sekolah mampu melayani semua peserta didik tanpa memilah dan memilih. Sekolah katolik secara objetif melayani seluruh peserta didik. Sehingga dapat dikatakan bahwa sekolah katolik mampu menjadi sekolah dengan karakter dan daya pluralisme yang tinggi. Perlu disadari bahwa dalam kenyataan sekolah-sekolah Katolik juga membuka lowongan bagi calon guru beragama lain (Gedo dkk. Hal semacam ini menjadi wawasan bagi masyarakat pada umumnya bahwa sekolah katolik terbuka seluruh masyarakat yang menginginkan bersekolah. Lebih jauh, semangat keterbukaan dan inklusivitas sekolah katolik berakar kuat pada dokumen Gravissimum Educationis. Pendidikan Katolik, menurut dokumen ini, tidak dimaksudkan hanya bagi umat Katolik semata, melainkan terbuka bagi semua orang yang mencari kebenaran dan nilai-nilai kemanusiaan universal (Irudayaselvam, 2. Sementara itu, ensiklik Fratelli Tutti (Paus Fransiskus, 2. menyerukan pentingnya persaudaraan universal dan solidaritas lintas batas, menekankan bahwa pendidikan harus menjadi sarana membangun budaya dialog dan kerja sama antarmanusia tanpa diskriminasi. Kedua dokumen ini memberi arah spiritual dan etis bagi sekolah katolik agar menjadi komunitas dialogis yang menghidupi kasih, keterbukaan, dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks ini, sekolah katolik dipanggil untuk menjadi komunitas yang menghargai dan menghidupi keberagaman sehingga mampu membentuk pribadi-pribadi yang menghormati martabat manusia dan mampu hidup dalam solidaritas dengan sesama tanpa Terlebih pendidikan harus berperan aktif dalam membangun tatanan sosial yang lebih adil dan damai (Yulius & Goa, 2. Artinya, lembaga pendidikan katolik tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga berkomitmen terhadap pembentukan masyarakat yang menghargai keadilan sosial, kejujuran, dan perdamaian lintas iman. Hal ini sangat relevan dengan konteks Indonesia yang plural, di mana pendidikan katolik dapat berperan sebagai jembatan dialog antar agama dan penggerak harmoni sosial. Di sisi lain, penelitian menemukan bahwa terdapat tantangan signifikan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah katolik. Tantangan utama adalah biaya pendidikan yang relatif tinggi, sehingga memunculkan hambatan akses bagi sebagian keluarga. Informan AA menegaskan bahwa biaya sekolah katolik cukup mahal, namun semua itu seseuai dengan kualitas dan proses pembelajaran yang didapatkan oleh anak. Selain itu, isu kristenisasi juga menjadi tantangan serius, karena masih menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Informan AC menuturkan bahwa ada kekhawatiran tentang kristenisasi, meskipun kenyataannya tidak demikian. Selanjutnya, hadirnya sekolah baru yang memiliki kualitas sama, banyak yang tertarik ke sekolah negeri karena biaya yang tergolong ringan. Namun ada yang dilupakan bahwa biaya ringan juga berdampak pada pelayanan pendidikan, kegiatan sekolah serta fasilitas sekolah. Selain itu ada tantangan lain yaitu bersekolah sesuai dengan kepercayaan agamanya masing-masing, dan isu ideologi. Hal ini memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap sekolah katolik. Hal ini memperkuat temuan Arsal & Hidayat . bahwa biaya tinggi di sekolah berbasis agama kerap dianggap sebagai faktor eksklusivitas yang menghambat akses pendidikan bagi keluarga menengah ke bawah. Sementara penelitian dari Nugroho & Endi . menyoroti adanya persepsi negatif terkait kristenisasi, meskipun secara faktual sekolah Katolik di Indonesia tetap menampung siswa dari berbagai latar belakang agama. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, dampak pendidikan sekolah katolik dirasakan cukup signifikan. Orang tua menilai bahwa sekolah katolik berhasil menumbuhkan integritas, disiplin, keterbukaan, dan kepekaan sosial pada diri anak. Selain itu, sekolah juga dianggap mampu memperkuat nilai kebangsaan dan pluralisme, sebagaimana dinyatakan oleh informan AC bahwa sekolah Katolik mampu membangun kepedulian anak mereka terhadap orang lain. Temuan ini selaras dengan penelitian Sari & Ningtias . menunjukkan bahwa sekolah berbasis agama dapat berperan sebagai agen pembentuk pluralisme jika memiliki kurikulum yang inklusif. Dalam perspektif Freire, pendidikan ini membuka ruang bagi pembentukan kesadaran kritis dan solidaritas lintas identitas (Antony, 2022a. Mulyatno. Temuan ini memperkuat kajian sebelumnya, tetapi sekaligus memberikan kontribusi baru yang menghubungkan motivasi, tantangan, dan dampak secara lebih mendalam. Dengan demikian, sekolah Katolik dapat dipahami sebagai lembaga yang tidak hanya berfungsi mempertahankan nilai sosial Durkheim . , tetapi juga sebagai ruang dialog kritis untuk transformasi sosial (Freire, 1. Temuan penelitian ini memiliki implikasi praktis yang signifikan bagi pengembangan pendidikan Katolik yang inklusif dan kontekstual, sebagaimana ditekankan dalam Gravissimum Educationis bahwa pendidikan Katolik harus menumbuhkan keutuhan pribadi manusia dan memampukan peserta didik untuk berperan aktif dalam kehidupan sosial. Sejalan dengan semangat Fratelli Tutti, hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya membangun pendidikan yang berakar pada persaudaraan universal, solidaritas, dan keterbukaan terhadap Dengan kata lain, penelitian ini memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan Katolik dengan menegaskan bahwa motivasi orang tua menjadi dasar penting bagi sekolah untuk merancang pendekatan pendidikan yang lebih dialogis, partisipatif, dan kontekstual terhadap realitas plural masyarakat Indonesia. Penelitian ini juga menyarankan agar sekolah katolik mampu memperkuat program pembinaan iman yang terintegrasi dengan nilai kemanusiaan universal melalui kegiatan lintas iman, pengabdian sosial, dan pendidikan karakter berbasis kasih. Upaya ini tidak hanya mempertegas identitas katolik yang berpihak pada kemanusiaan dan keadilan sosial, tetapi juga meningkatkan daya tawar sekolah katolik sebagai lembaga pendidikan yang relevan, terbuka, dan transformatif. Dengan demikian, pendidikan katolik dapat semakin menampilkan wajah Gereja yang hadir di tengah dunia, menghidupi semangat Gaudium et Spes untuk terlibat aktif dalam membangun masyarakat yang adil dan berbelarasa. Adapun keterbatasan penelitian ini terletak pada jumlah informan dan konteks sekolah yang masih terbatas, sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi secara luas. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk memperluas cakupan wilayah, melibatkan berbagai tipe sekolah katolik, serta mengeksplorasi bagaimana prinsip-prinsip dalam dokumen Gereja diimplementasikan secara konkret dalam praktik pendidikan di konteks Indonesia yang majemuk. KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa motivasi orang tua dalam memilih sekolah katolik berakar pada harapan akan terbentuknya anak yang berkarakter kuat, disiplin, dan terbuka terhadap pluralisme. Sekolah katolik dipandang tidak hanya sebagai lembaga akademik, tetapi juga sebagai mitra pendidikan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai moral, spiritual, dan sosial. Walaupun terdapat tantangan seperti biaya, isu inklusivitas, dan kekhawatiran ideologis, sekolah katolik tetap memiliki daya tarik karena konsistensinya dalam menanamkan nilai cinta kasih, keterbukaan, dan penghargaan terhadap keberagaman. Hal ini sejalan dengan semangat Gravissimum Educationis, yang menyebut bahwa pendidikan harus menuntun manusia menuju perkembangan yang utuh dan partisipatif dalam masyarakat. Dalam perspektif teori, temuan ini mendukung gagasan Durkheim mengenai pendidikan sebagai mekanisme sosial untuk menjaga solidaritas dan keteraturan dalam masyarakat yang plural. Sementara itu, dari perspektif Freire, peran sekolah Katolik mencerminkan praktik pendidikan yang dialogis, membebaskan, serta mendorong kesadaran kritis anak terhadap realitas sosial dan keberagaman. Temuan penelitian ini juga memiliki implikasi praktis yang signifikan bagi pengembangan pendidikan katolik yang inklusif dan kontekstual. Sekolah katolik perlu terus memperkuat strategi pedagogis yang menekankan dialog lintas iman, kolaborasi dengan keluarga, serta keterlibatan aktif dalam isu-isu sosial di lingkungan lokal. Pendidikan Katolik diharapkan tidak berhenti pada ranah kognitif dan religius, tetapi juga mampu membangun kesadaran sosial dan tanggung jawab ekologis peserta didik sebagai wujud nyata iman yang bekerja dalam kasih sebagaimana ditegaskan dalam ensiklik Fratelli Tutti. Dengan begitu, sekolah Katolik dapat menjadi model pendidikan yang humanis, transformatif, dan relevan dengan tantangan zaman, sekaligus memperkuat identitasnya sebagai ruang pembelajaran iman yang hidup dan terbuka bagi semua. DAFTAR PUSTAKA