513 JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA BAYAN DI KABUPATEN LOMBOK UTARA Anak Agung Eka Putri Dewi Astiti 1Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram E-mail: eka. putri@stpmataram. Article History: RReceived: 19-01-2025 Revised: 21-01-2025 Accepted: 22-01-2025 Keywords: partisipasi masyarakat, strategi, pengembangan, destinasi wisata, pariwisata Abstract: Partisipasi masyarakat merupakan elemen kunci dalam mendukung keberhasilan pengembangan destinasi wisata yang berbasis pada pemanfaatan sumber daya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk partisipasi masyarakat serta strategi pengembangan destinasi wisata Bayan di Kabupaten Lombok Utara. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, analisis dilakukan menggunakan SWOT. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dokumentasi, diskusi kelompok terpumpun, dan studi literatur, melibatkan tokoh masyarakat, kepala desa, dan kelompok sadar wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan Desa Wisata Bayan difokuskan pada pemberdayaan masyarakat, pelestarian budaya, dan konservasi lingkungan, melalui pelatihan kepemanduan wisata dan pelatihan bahasa Inggris. Partisipasi aktif masyarakat, dukungan pemerintah, dan strategi berkelanjutan terbukti menjadi faktor penentu kesuksesan pengembangan destinasi wisata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa destinasi wisata berbasis masyarakat mampu mendorong kemandirian dan kesejahteraan ekonomi lokal, serta menjadi model pembangunan yang seimbang antara aspek ekonomi, budaya, dan lingkungan. Temuan ini diharapkan menjadi referensi strategis bagi pemerintah daerah, pengelola wisata, dan masyarakat dalam perencanaan pengembangan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan di Desa Bayan. PENDAHULUAN Pariwisata merupakan salah satu sektor strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama di wilayah pedesaan yang memiliki potensi alam dan budaya yang khas. Kabupaten Lombok Utara, khususnya Desa Bayan, merupakan kawasan yang kaya akan potensi pariwisata berbasis budaya dan alam. Keberadaan situs-situs bersejarah, tradisi adat, dan keindahan lanskap pegunungan hingga hutan adat menjadikan Bayan sebagai destinasi a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 yang potensial untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Namun, pengembangan pariwisata tidak semata-mata bergantung pada kekayaan sumber daya alam dan budaya semata, melainkan juga pada keterlibatan masyarakat lokal dalam seluruh proses perencanaan hingga implementasi. Oleh karena itu, partisipasi masyarakat menjadi pilar penting dalam memastikan bahwa pembangunan destinasi wisata benar-benar memberikan manfaat langsung bagi komunitas setempat. Partisipasi masyarakat dalam konteks pengembangan pariwisata mencakup keterlibatan aktif dalam pengambilan keputusan, pengelolaan atraksi wisata, pemberian layanan kepada wisatawan, hingga pelestarian lingkungan dan budaya lokal. Dalam banyak kasus, kegagalan proyek pariwisata di daerah pedesaan sering kali disebabkan oleh kurangnya partisipasi masyarakat serta pendekatan top-down yang mengesampingkan aspirasi dan peran warga lokal. Sebaliknya, jika masyarakat dilibatkan secara aktif, maka akan tercipta rasa memiliki . ense of belongin. terhadap destinasi yang dikembangkan. Hal ini bukan saja mendukung keberlanjutan proyek, tetapi juga meningkatkan kualitas pelayanan dan pengalaman wisata yang ditawarkan. Desa Bayan, dengan struktur sosial yang kuat dan tradisi gotong royong, memiliki modal sosial yang besar untuk mendukung pengembangan destinasi berbasis masyarakat . ommunity-based touris. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, keterlibatan masyarakat bukan hanya penting secara sosial tetapi juga secara ekonomi. Ketika masyarakat terlibat dalam aktivitas pariwisata, mereka memiliki peluang untuk memperoleh pendapatan tambahan melalui penyediaan jasa akomodasi, kuliner lokal, produk kerajinan, dan jasa pemandu wisata. Selain itu, pelatihan dan peningkatan kapasitas yang diberikan kepada warga akan membuka akses terhadap informasi, teknologi, dan jaringan pasar yang lebih luas. Hal ini tentu berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat dan pengurangan angka pengangguran di desa. Melalui partisipasi aktif, masyarakat Bayan dapat menjadi aktor utama dalam mengelola, mengembangkan, dan menjaga keberlanjutan destinasi wisata mereka. Dengan demikian, konsep desa wisata tidak hanya menjadi slogan, melainkan benar-benar menjadi sarana transformasi sosial dan ekonomi yang nyata. Namun demikian, partisipasi masyarakat tidak serta-merta terjadi begitu saja. Dibutuhkan pendekatan yang tepat dalam membangun kesadaran, motivasi, dan kapasitas masyarakat untuk terlibat dalam pengembangan pariwisata. Faktor-faktor seperti tingkat pendidikan, akses informasi, struktur kepemimpinan lokal, serta nilai-nilai budaya sangat memengaruhi tingkat partisipasi. Pemerintah daerah. LSM, akademisi, dan pelaku usaha pariwisata perlu bersinergi dalam membangun ekosistem pariwisata yang inklusif dan Strategi pemberdayaan yang terarah dan berbasis kebutuhan lokal menjadi kunci untuk mendorong masyarakat agar terlibat tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai penggerak utama dalam pembangunan destinasi wisata Bayan. Oleh karena itu, analisis terhadap bagaimana masyarakat berpartisipasi, kendala yang dihadapi, serta strategi yang diterapkan menjadi sangat penting untuk dilakukan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menggali bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam pengembangan destinasi wisata di Desa Bayan, mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat, serta merumuskan strategi yang efektif untuk mendorong keterlibatan masyarakat secara lebih luas dan berkelanjutan. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan analisis SWOT, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menyusun rekomendasi kebijakan dan program pengembangan pariwisata a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 yang berbasis masyarakat. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, pengelola desa wisata, dan masyarakat itu sendiri dalam menciptakan model pengembangan destinasi wisata yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan sosial dan budaya. Dengan begitu. Desa Bayan dapat menjadi contoh praktik baik . est practic. dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di wilayah pedesaan Indonesia. LANDASAN TEORI Teori yang digunakan dalam penelitian ini yakni teori partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat merupakan elemen penting dalam proses pembangunan, khususnya dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Partisipasi tidak hanya dilihat dari hasil akhir, melainkan juga dari keterlibatan aktif masyarakat dalam seluruh tahapan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga evaluasi program (Anwas, 2014. Cohen & Uphoff, 1. Pretty . dan Arnstein . menjelaskan bahwa partisipasi memiliki tingkatan, mulai dari partisipasi pasif hingga kontrol penuh oleh masyarakat, yang mencerminkan distribusi kekuasaan dalam proses pengambilan keputusan. Sementara Tosun . secara khusus mengklasifikasikan partisipasi dalam konteks pariwisata menjadi spontan, dipaksakan, dan didorong, menyoroti dinamika keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan destinasi. Tingkat partisipasi ini sangat dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan lamanya tinggal di suatu wilayah (Roiss, 1. Oleh karena itu, keberhasilan pengembangan desa wisata sangat bergantung pada sejauh mana masyarakat diberdayakan dan dilibatkan secara nyata dalam setiap tahap proses pembangunan, sehingga mampu meningkatkan rasa memiliki dan menciptakan keberlanjutan destinasi secara sosial, budaya, dan ekonomi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis SWOT. Adapun alasan pemilihan metode kualitatif karena sifatnya yang elaboratif sehingga memudahkan dalam menggali informasi yang lebih dalam terkait penelitian tentang partisipasi masyarakat dalam pengembangan destinasi wisata Bayan di Kabupaten Lombok Utara. Jenis data pada penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Sumber data yakni data primer dan skunder. Jurmlah informan dalam penelitian ini adalah 11 orang sesuai kriteria penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara. FGD da studi kepustakaan. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif menggunakan analisis SWOT . trengths, weaknesses, opportunities, and threat. dengan memaparkan kondisi eksisting faktor internal daneksternal dengan menggunakan matriks Internal Strategic Factors Analysis Summary (IFAS) danExternal Strategic Factors Analysis Summary (EFAS) untuk selanjutnya disusun/dihasilkan strategi yang sesuai dalam pengembangan pariwisata desa Bayan berbasis masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAN Partisipasi Masyarakat Dalam Pengembangan Potensi Destinasi Wisata Bayan Partisipasi masyarakat lokal sangat dibutuhkan dalam pengembangan pariwisata. Masyarakat yang aktif ikut dalam perencanaan, pengelolaan, dan pengembangan pariwisata lokal yang memperhatikan kelestarian lingkungan setempat akan lebih membantu dalam a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 meningkatkan laju pembangunan nasional dalam sektor pariwisata. Partisipasi masyarakat selain menjaga dan memelihara potensi yang ada di desa Bayan, peran masyarakat juga dibutuhkan dalam menjaga keberlanjutan pariwisata di desa Bayan. Menurut kepala desa Bayan. Bapak Satradi. Sp. menjelaskan bahwa: Au. partisipasi yang dilakukan masyarakat desa Bayan yaitu menjaga kelestarian budaya adat istiadat dan juga berpartisipasi dalam usaha pariwisata dengan bekerja sebagai guide, pengrajin tenun, menyediakan homestay dan mengelola daya tarik wisata di desa Bayan hal ini tidak terlepas keterlibatan adalah generasi muda yang tergabung dalam karang taruna desa Bayan dalam pengembangan desa wisata serta pengelolaan objek wisata yang ada di BayanAy (Hasil wawancara, 23 Desember 2. Berdasarkan kutipan wawancara tersebut mempertegas bahwa partisipasi yang dilakukan oleh masyarakat masih terbatas dalam beberapa aspek dan masyarakat pun perlu diberikan pemahaman terkait pengelolaan daya tarik wisata dan desa wisata. Sementara itu Raden Sutra Kusuma selaku ketua Pokdarwis Bayan Ecotourism, lebih memperjelas peran serta serta partisipasi masyarakat desa Bayan sebagai desa wisata. Au. partisipasi warga dalam pengelolaan desa wisata masih masih didasarkan pada kesukarelaan serta kesadaran individual sehingga masih perlunya dilakukan sosialisasi akan pentingnya peran serta dan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan potensi wisata yang ada di desaAy (Hasil wawancara, 23 Desember 2. Hasil wawancara dengan Ketua Pokdarwis Bayan Ecotourism mengungkapkan bahwa banyak masyarakat belum memahami konsep pengelolaan desa wisata secara menyeluruh. Pemerintah desa dan Dinas Pariwisata Lombok Utara telah berupaya memberikan pelatihan dan sosialisasi mengenai tata kelola pariwisata, termasuk etika menyambut wisatawan. Meski demikian, tokoh adat dan Pokdarwis menilai bahwa pemberdayaan masyarakat masih perlu ditingkatkan. Partisipasi masyarakat sangat krusial dalam pembangunan yang berbasis kebutuhan Conyers . menyebutkan tiga alasan utama pentingnya partisipasi: memperoleh informasi yang akurat dari masyarakat, membangun rasa memiliki terhadap proyek, dan sebagai bagian dari hak masyarakat dalam sistem demokrasi. Partisipasi ini mencakup keterlibatan aktif, kesadaran sukarela, kontribusi fisik maupun nonfisik, serta adanya kesepakatan bersama dalam setiap tahapan pembangunan. Dimensi Budaya Pada Partisipasi Masyarakat Dalam Pengembangan Destinasi Wisata 1 Dimesi Budaya Dalam kajian partisipasi masyarakat terhadap pengembangan destinasi wisata Bayan, dimensi budaya menjadi aspek penting. Budaya lokal tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga harus dikelola dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. Hal ini mencakup pertukaran budaya, penghormatan terhadap budaya lain, dan pengenalan budaya lokal. Pertukaran Budaya Desa Bayan sebagai destinasi wisata menawarkan pengalaman unik melalui interaksi langsung antara wisatawan dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Budaya yang dibawa wisatawan bertemu dengan tradisi lokal, membuka ruang pertukaran nilai yang memperkaya kedua belah pihak. Menurut tokoh adat Bayan Timur. Raden Suryanto, masyarakat Bayan terbuka dan mampu menyaring pengaruh budaya luar tanpa kehilangan jati diri. Menghormati Budaya yang Berbeda a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Interaksi harian dengan wisatawan dari berbagai latar belakang mendorong masyarakat untuk terbiasa dan menghargai keberagaman budaya. Pendekatan pariwisata berbasis masyarakat diharapkan tidak hanya meningkatkan ekonomi, tetapi juga membentuk masyarakat yang inklusif dan toleran. Pengenalan Budaya Lokal Budaya Bayan yang khas seperti Masjid Kuno Bayan, rumah adat, pakaian adat, tari tradisional, serta tradisi Wetu Telu menjadi potensi utama dalam pengembangan wisata Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga terlibat dalam aktivitas budaya masyarakat, menciptakan pengalaman otentik yang sulit ditemukan di tempat lain. Ketiga indikator tersebut menunjukkan bahwa pelibatan masyarakat dalam pelestarian dan pengenalan budaya lokal sangat penting dalam mendukung pengembangan desa wisata yang Budaya tidak hanya sebagai warisan, tetapi juga sebagai fondasi utama dalam memajukan pariwisata Bayan di masa depan. 2 Dimensi Ekonomi Pengembangan destinasi wisata Bayan memberikan dampak positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat setempat. Dimensi ekonomi ini mencakup tiga indikator utama: dukungan dana, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan warga. Dukungan Dana Pengembangan Wisata Dana menjadi faktor penting dalam menggerakkan potensi pariwisata. Di Bayan, dukungan diperoleh melalui hibah FIP II dari KLHK dan dana APBDes melalui BumDes. Dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas seperti lapak UMKM, pusat informasi, dan penataan destinasi wisata, termasuk kolam permandian Mandala dan Masjid Kuno Bayan. Lapangan Kerja Baru di Sektor Pariwisata Desa Bayan dulunya didominasi oleh masyarakat yang bekerja sebagai petani dan buruh Kini, pariwisata membuka peluang kerja baru, terutama bagi ibu rumah tangga, pemuda, dan warga yang sebelumnya tidak bekerja. Warga mulai terlibat dalam kegiatan seperti pemandu wisata, pengelolaan homestay, penjual suvenir, hingga penjaga parkir objek Dende, seorang ibu rumah tangga, kini mengelola Petung ArtShop yang menjual tenun tradisional Bayan. Satria, pemuda lulusan SMP, kini bekerja sebagai penjaga parkir Masjid Kuno sekaligus menyewakan kain adat dan warga yang lainnya juga dapat merasakan manfaat ekonomi langsung dari pariwisata. Peningkatan Pendapatan Masyarakat Masyarakat yang sebelumnya hanya bergantung pada sektor pertanian kini mendapatkan tambahan pendapatan dari aktivitas wisata. Kepala Desa Bayan menyatakan bahwa tidak hanya pendapatan individu yang meningkat, tetapi juga pendapatan desa. UMKM di sekitar objek wisata mengalami peningkatan penjualan, terutama di akhir pekan dan musim liburan. Ibu Katni, pedagang di sekitar kolam Mandala, mengaku pendapatannya meningkat signifikan saat hari libur. Bapak Suhaedi, yang sebelumnya hanya buruh tani, kini menjadi guide lokal setiap akhir pekan, menambah penghasilan untuk keluarganya. 3 Dimensi Lingkungan Pengelolaan desa wisata memerlukan komitmen dan sinergi antara pemerintah dan Dalam dimensi lingkungan, keduanya harus bersama-sama menjaga kelestarian alam, memberikan edukasi, serta mendorong kesadaran akan pentingnya konservasi. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Masyarakat dituntut untuk mengubah perilaku, terutama terkait kebersihan, sanitasi, dan mitigasi bencana. Namun, hasil pengamatan selama setahun terakhir menunjukkan masih rendahnya kesadaran lingkungan di Desa Wisata Bayan. Hal ini terlihat dari fasilitas umum yang kurang terawat dan banyaknya sampah plastik di area wisata. 4 Dimensi Sosial Dimensi sosial dalam pengembangan pariwisata mencakup peningkatan peran aktif masyarakat, kualitas hidup, serta hubungan antarkelompok. Desa Bayan memiliki potensi wisata budaya dan alam, namun terkendala oleh rendahnya tingkat pendidikanAisekitar 18,16% penduduk hanya tamat SDAiyang berdampak pada kapasitas pengembangan Meski demikian, kehadiran wisatawan mendorong perubahan pola pikir Perempuan yang sebelumnya hanya ibu rumah tangga kini turut berwirausaha, dan generasi muda mulai terlibat sebagai pemandu wisata. Pengunjung mancanegara seperti Thomas dari Jerman juga menunjukkan minat tinggi terhadap budaya lokal, meski masih terdapat kendala bahasa. Minimnya pelatihan bahasa dan keterampilan wisata menjadi tantangan yang diakui oleh pemuda lokal, seperti Karang Taruna yang secara sukarela menjadi pemandu. Pembagian peran dalam masyarakat terbilang adil, laki-laki dan generasi tua menjadi pengarah, generasi muda bertanggung jawab atas promosi digital, dan perempuan mendukung kegiatan seperti berdagang dan logistik saat kerja bakti. Namun, keterlibatan generasi muda masih terbatas karena usia sekolah, dan kelompok usia produktif menghadapi beban ganda sehingga regenerasi kepengurusan wisata menjadi tidak optimal. Meski sudah ada pembagian peran yang proporsional, tantangan keberlanjutan tetap memerlukan perhatian serius. 5 Dimensi Politik Dimensi politik dalam pengembangan destinasi wisata menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dan penguatan kelembagaan komunitas lokal. Di Desa Bayan, keterlibatan warga dalam perencanaan dan pengembangan wisata menjadi kunci untuk menciptakan keberlanjutan pariwisata yang berbasis budaya dan alam. Ketua Pokdarwis Bayan Ecotourism. Bapak Raden Sutra Kusuma, menyebutkan bahwa partisipasi masyarakat masih belum merata, namun telah menunjukkan kemajuan. Ia juga menekankan perlunya pendampingan karena rendahnya tingkat pendidikan masyarakat menjadi tantangan dalam pengelolaan wisata secara mandiri. Berdasarkan pengamatan peneliti, partisipasi masyarakat mulai tampak dalam bentuk kegiatan seperti berjualan, menjaga kebersihan, memperbaiki fasilitas, dan bergotong royong. Kepala Desa Bayan. Bapak Satradi. Sp, menambahkan bahwa masyarakat mulai memanfaatkan potensi alam dan SDM untuk membangun pariwisata, meskipun berbagai tantangan masih harus dihadapi. Beberapa komunitas lokal telah terbentuk untuk mendukung pengelolaan destinasi wisata, seperti Pokdarwis Bayan Ecotourism. Komunitas Adat Wetu Telu, dan Forum Teruna Dedare Bayan (Fernand. Namun, partisipasi masih sangat bergantung pada kesadaran individu karena mayoritas warga berlatar belakang sebagai petani dengan tingkat pendidikan yang rendah. Secara keseluruhan, dimensi politik di Desa Bayan telah menunjukkan kemajuan dalam mendorong partisipasi masyarakat, namun masih memerlukan strategi dan pendampingan lebih lanjut untuk mencapai pengelolaan pariwisata yang inklusif dan a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 4 Focus Group Discussion (FGD) Sebagai bagian dari penelitian pengembangan destinasi wisata Bayan. Kabupaten Lombok Utara, telah dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) pada 26 Maret 2024 secara Kegiatan ini melibatkan 11 narasumber dari unsur pentahelix . kademisi, pelaku usaha, komunitas, pemerintah, dan medi. , termasuk ASITA. PHRI. DEWISNU. HPI. Dinas Pariwisata KLU, pelaku UMKM, dan tokoh masyarakat. Diskusi dibuka oleh Kepala Desa Bayan. Bapak Satradi. FGD membahas analisis SWOT terhadap komponen 4A (Atraksi. Aksesibilitas. Amenitas. Ansiliar. dan partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata. Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) menekankan pentingnya pelatihan digital, promosi media sosial, dan kolaborasi industri. Kepala Desa Bayan menyampaikan bahwa potensi wisata baru mulai dikelola sejak 2020 melalui kerja sama Pokdarwis dan BUMDes, dengan tantangan utama rendahnya kualitas SDM. Beberapa isu yang dibahas antara lain: C DEWISNU NTB: Perlu penguatan sarana-prasarana dan pelatihan UMKM. C ASITA NTB: Kurangnya daya tarik bagi wisatawan asing karena akses sulit, fasilitas terbatas, dan masalah kebersihan. C BUMDes & Pokdarwis: Tingkat pendidikan rendah berdampak pada pelayanan dan C Tokoh Adat & LPMD: Masih rendahnya kesadaran kebersihan dan pentingnya fasilitas pendukung seperti homestay dan rest area. C PHRI KLU: SDM sebagai aset utama, pentingnya keseimbangan antara SDA dan SDM. C Karang Taruna: Kurangnya kesadaran generasi muda terhadap potensi lokal dan ekonomi kreatif, serta pentingnya kalender event. C Dinas Pariwisata KLU: Komitmen mendukung pelatihan dan sertifikasi pelaku wisata. Media Lingkar Utara juga berperan aktif dalam FGD ini, dengan kontribusi penting dalam promosi, edukasi, dan advokasi destinasi wisata. Peran media meliputi: Promosi & Branding Ae Menyoroti potensi wisata dan membangun citra destinasi. Menarik Wisatawan Ae Melalui liputan event dan daya tarik lokal. Dukungan Ekonomi Ae Meningkatkan kunjungan dan mendorong usaha lokal. Edukasi & Pelestarian Ae Menyampaikan pentingnya konservasi budaya dan Kemitraan & Jaringan Ae Menghubungkan desa dengan stakeholder industri. Advokasi Kebijakan Ae Mendorong dukungan publik dan regulasi. FGD ditutup dengan penegasan komitmen pemerintah desa dalam pembangunan pariwisata melalui peningkatan kapasitas SDM, pembangunan fasilitas, serta penguatan kesadaran masyarakat tentang kebersihan dan pelayanan wisata. 5 Faktor Internal dan Faktor Eksternal 1 Analisis Faktor Internal Penentuan faktor internal dalam analisa SWOT mencakup hal-hal yang berpotensi dari desa wisata Bayan yang menjadikan kekuatan dalam pengembangan desa wisata Bayan melalui partisipasi masyarakat Bayan. Berikut beberapa kekuatan dan kelemahan yang terdapat di objek desa wisata Bayan sebagai berikut: 1 Kekuatan Kekuatan merupakan potensi dari desa wisata Bayan dan elemen penunjang wisata di desa adat Bayan kabupaten Lombok Utara, yaitu: https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Desa Wisata Bayan memiliki potensi kuat dalam pengembangan pariwisata, di antaranya: Nilai Sejarah: Sebagai pusat peradaban, kebudayaan, dan agama di Lombok. Panorama Alam: Dikelilingi oleh gunung, bukit, udara sejuk, dan suasana desa yang Warisan Budaya: Masjid Kuno Bayan, rumah adat, pakaian adat, tarian, dan situs Pengalaman Wisata Alam: Trekking, kolam pemandian hutan, dan lanskap alami. Akses dan Akomodasi: Tersedianya penginapan dan akses jalan utama. Sarana Dasar: Jaringan listrik, air bersih, dan telekomunikasi tersedia. Kelemahan Kelemahan merupakan segala kendala dan masalah yang dihadapi dalam pengembangan desa wisata Bayan. SDM Terbatas: Masyarakat lokal belum memiliki keterampilan dan pelatihan memadai dalam bidang pariwisata. Partisipasi Rendah: Minimnya komitmen dan dukungan masyarakat dalam pengembangan wisata. Infrastruktur Kurang: Jalan dan fasilitas umum rusak, transportasi belum memadai. Pendanaan Terbatas: Minim anggaran untuk pengembangan dan promosi wisata. Sarana Pendukung Minim dimana fasilitas seperti penginapan, toilet, pusat informasi, restoran. ATM, rest area, dan parkir masih kurang. Jaringan telekomunikasi tidak stabil saat listrik padam. Manajemen pengelolaan dan promosi wisata belum optimal. Koordinasi kurang sinergis antara pemerintah dan masyarakat. Minim Paket Wisata: Belum tersedia tour package yang menarik. Kebersihan area wisata belum terjaga dengan baik. Pendidikan masyarakat mayoritas berpendidikan rendah. SDM kurang mampu berbahasa Inggris. Atensi dan dukungan pemerintah untuk edukasi harus ditingkatkan Pemberdayaan Terbatas: Minim pelatihan di bidang guiding, homestay. UMKM, pemasaran, dan kualitas layanan. 2 Analisis Faktor Eksternal Penentuan faktor eksternal dalam analisa SWOT yang mencakup tentang peluang dan tantangan dalam pengembangan desa wisata Bayan melalui pemberdayaan masyarakat Bayan. 1 Peluang Peluang merupakan kesempatan yang berasal dari desa wisata Bayan. Dalam pengembangan desa wisata Bayan terdapat beberapa peluang yang dapat dilakukan dalam pemberdayaan masyarakat Bayan. Diantaranya adalah: Adanya peluang informasi dan promosi untuk objek-objek wisata di kabupaten Lombok Utara yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata daerah maupun provinsi melalui media promosi cetak dan akses internet. Tren pariwisata berkelanjutan dengan meningkatnya minat wisatawan terhadap pariwisata berkelanjutan dan berbasis komunitas. Peluang teknologi dan media sosial dimana dapat dilakukan pemanfaatan teknologi dan media sosial untuk promosi dan pemasaran destinasi wisata a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Potensi alam yang menarik dan terjaga keasrian alamnya sehingga dapat dikelola adanya kegiatan wisata agrowisata Potensi budaya berupa atraksi wisata budaya berbasis komunitas tur budaya Mempromosikan objek wisata kepada pelaku wisata. Pengembangan sarana dan prasarana penunjang seperti homestay, restaurant, rest area, cafe, spot-spot foto instagramable. Dukungan pemerintah untuk mendukung kegiatan wisata dengan adanya program dan bantuan dari pemerintah untuk pengembangan desa wisata. Kemitraan dengan pihak ketiga dimana adanya potensi kerjasama dengan LSM, universitas, dan sektor swasta dalam mengembangkan pariwisata. 2 Ancaman Ancaman yang merupakan hal yang berpotensi mendatangkan kerugian yang berasal dari desa wisata Bayan. Pengaruh budaya asing terhadap masyarakat sekitar Bencana alam dimana daerah Bayan merupakan lokasi rawan bencana alam yaitu gempa Risiko bencana alam seperti gempa bumi dan banjir yang dapat merusak infrastruktur dan menurunkan jumlah wisatawan. Globalisasi, globalisasi akan meningkatkan persaingan, seiring dengan berkembangnya sarana dan prasarana penunjang wisata di daerah lain. Ketergantungan pada tren wisata dimana ketidakpastian tren wisata yang dapat mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan. Kerusakan lingkungan dimana potensi kerusakan lingkungan akibat over-tourism dan kurangnya kesadaran akan kelestarian lingkungan. Persaingan desatinasi wisata. Persaingan dengan destinasi wisata lain yang menawarkan pengalaman serupa serta adanya produk wisata sejenis yang lebih unggul. 7 Rekomendasi Strategi Kombinasi dari kekuatan dan kelemahan yang dikombinasikan dengan peluang dan ancaman, demikian juga peluang akan dipasangkan dengan faktor internal untuk dicapai titik temu yang akan menjadi arahan strategi pengembangan dan strategi partisipasi masyarakat dalam pengembangan destinasi wisata Bayan Berdasarkan analisis SWOT, terdapat beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk mendorong pengembangan pariwisata Desa Bayan melalui pemberdayaan masyarakat: Strategi SO (Strengths Ae Opportunitie. Memanfaatkan kekuatan untuk menangkap peluang, antara lain: C Mengoptimalkan potensi alam dan budaya untuk menarik dukungan pemerintah dan C Memasarkan keberagaman produk lokal dengan promosi digital dan kerja sama dengan BPPD. PHRI. ASITA. HPI, dan lainnya. C Mengembangkan wisata baru berbasis potensi lokal, seperti trekking, seni, dan kuliner. C Membangun brand image destinasi yang kuat untuk meningkatkan kepuasan dan loyalitas wisatawan. Strategi WO (Weaknesses Ae Opportunitie. Mengatasi kelemahan dengan memanfaatkan peluang: C Mengadakan pelatihan masyarakat . ouvenir, kuliner, homestay, digital marketin. C Menjalin kemitraan dengan sektor swasta untuk akses modal. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Menata sarana pendukung seperti toilet, parkir, dan tempat sampah. Menyusun Calendar of Event (CoE) untuk memperkuat promosi dan ketertarikan C Memperluas kerja sama dengan biro perjalanan dan merancang paket wisata ke Bayan. Strategi ST (Strengths Ae Threat. Menggunakan kekuatan untuk menghadapi ancaman: C Pelatihan kesiapsiagaan bencana bagi warga. C Mengembangkan atraksi wisata berkelanjutan dengan partisipasi komunitas. C Menerapkan prinsip CHSE dan Kampung Sehat. C Membuat regulasi wisata berbasis budaya lokal. C Bekerja sama dengan dinas terkait (DKP. Bank Sampa. untuk menjaga kelestarian Strategi WT (Weaknesses Ae Threat. Mengurangi kelemahan dan menghindari risiko: C Melibatkan ahli dan konsultan untuk penguatan manajemen pariwisata. C Mendorong program konservasi lingkungan. C Melakukan penyuluhan masyarakat tentang potensi dan manfaat pariwisata. C Meningkatkan pengawasan wisata untuk menjamin keamanan dan kenyamanan. C Meningkatkan sinergi anggaran dan program antar stakeholder. C Menanamkan kesadaran Sadar Wisata dan Sapta Pesona secara berkelanjutan. Dengan strategi-strategi ini, diharapkan pengembangan destinasi wisata Bayan dapat dilakukan secara terarah, berkelanjutan, dan melibatkan partisipasi aktif seluruh lapisan KESIMPULAN Partisipasi masyarakat Desa Bayan dalam pengembangan pariwisata mulai terlihat, khususnya pada tahap pelaksanaan. Namun, penguatan diperlukan pada aspek perencanaan dan evaluasi agar pengembangan wisata lebih inklusif dan berkelanjutan. Analisis SWOT menghasilkan beberapa strategi: C Strategi SO: Memanfaatkan teknologi untuk promosi, mengembangkan produk wisata lokal, dan membentuk brand image Desa Bayan. C Strategi WO: Pelatihan masyarakat, penataan fasilitas wisata, penetapan Calendar of Event, dan kerja sama dengan biro perjalanan. C Strategi ST: Regulasi pariwisata berbasis budaya, kolaborasi dengan dinas terkait, dan penerapan prinsip Kampung Sehat (CHSE). C Strategi WT: Penyuluhan masyarakat, peningkatan pengawasan wisata, optimalisasi anggaran, dan penguatan kesadaran sadar wisata. Strategi ini bertujuan menjadikan Desa Bayan sebagai destinasi wisata berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan yang efektif. SARAN Untuk mendukung pengembangan pariwisata yang berkelanjutan di Desa Bayan, disarankan: Pelatihan & Edukasi: Penguatan keahlian di bidang pemanduan, homestay, kuliner, kerajinan, serta edukasi lingkungan. Peningkatan Partisipasi: Libatkan masyarakat dalam perencanaan lewat forum a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 desa atau FGD. Kemitraan Strategis: Bangun sinergi dengan pemerintah, swasta, dan NGO untuk dukungan teknis dan finansial. Peningkatan Kapasitas: Melalui pelatihan pariwisata dan kewirausahaan. Forum Komunikasi: Bentuk wadah kolaborasi antara stakeholder pariwisata. Regulasi Inklusif: Buat kebijakan berbasis partisipasi masyarakat. Infrastruktur Dasar: Perbaiki akses jalan, sanitasi, listrik, dan fasilitas wisata. Promosi & Pemasaran: Gunakan media sosial dan kerja sama dengan agen Produk Lokal: Kembangkan kuliner dan kerajinan sebagai daya tarik otentik. Manajemen Keuangan: Latih masyarakat dalam mengelola pendapatan pariwisata. Pelestarian Budaya & Lingkungan: Jaga tradisi dan alam untuk menciptakan wisata yang autentik dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA