ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Analisis Implementasi Kebijakan Pendidikan dalam Gerakan Literasi Desa di Kelurahan Kairagi Dua. Kota Manado Dwi Andriani Pamase1. Winda Lidia Lumbantobing2. Fidinda Paputungan3. Lisa Aprisilia Mauru4. Dela Ilam5 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar1,2,3,4,5 Universitas Negeri Manado1,2,3,4,5 dwitandrianipamase@gmail. com1, windalumbantobing@unima. fidindapaputungan13@gmail. com3, lisamauruh@gmail. com4, dilam6988@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan pendidikan Gerakan Literasi Desa di Kelurahan Kairagi Dua. Kota Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik analisis data yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman yaitu reduction, data display, dan conclusion drawing. Keabsahan data dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik triangulasi. Penelitian ini menunjukkan beberapa temuan. Terciptanya suasana belajar yang menyenangkan dan menumbuhkan minat baca di kalangan anak-anak. Tumbuhnya rasa percaya diri untuk tampil didepan umum, dan melatih kreativitas anak sejak dini. Adanya kendala pada keterbatasan fasilitas baca, kurangnya bahan bacaan yang sesuai dengan semua tingkat usia serta rendahnya kesadaran masyarakat. Temuan ini menegaskan perlunya strategi pendampingan jangka panjang dan dukungan kebijakan dari pemerintah daerah agar gerakan literasi dapat berkelanjutan dan memberikan dampak nyata. Kata kunci: Kebijakan pendidikan, gerakan literasi desa, implementasi. Kairagi Dua Abstract This research aims to analyze the policy implementation of the Village Literacy Movement (Gerakan Literasi Des. in Kairagi Dua Sub-district. Manado City. The study employs a descriptive qualitative approach utilizing observation, interviews, and documentation techniques. Data analysis was conducted using the techniques developed by Miles and Huberman: data reduction, data display, and conclusion drawing. The validity and trustworthiness of the data were established through triangulation. The study yielded several key findings: . The creation of a pleasant learning environment and the fostering of reading interest among children. The growth of self-confidence for public speaking and the nurturing of children's creativity from an early age. The presence of constraints related to limited reading facilities and low public These findings emphasize the necessity of long-term mentoring strategies and policy support from the local government to ensure the sustainability of the literacy movement and its capacity to deliver tangible impact. Keywords: Education policy, village literacy movement, implementation. Kairagi Dua PENDAHULUAN Pendidikan adalah proses sadar, terencana, dan berkesinambungan yang dilakukan untuk mengembangkan seluruh potensi manusia, baik dari aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, karakter, maupun nilai moral dengan tujuan membentuk pribadi yang cerdas, berakhlak, dan mampu berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 berbangsa, dan bernegara (Ichsan. Pendidikan bukan hanya aktivitas yang berlangsung di sekolah, tetapi juga proses pembelajaran yang terjadi di lingkungan keluarga dan masyarakat (Rahayu. Melalui pendidikan, seseorang tidak hanya memperoleh pemahaman tentang berbagai ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar tentang cara bertindak, berpikir kritis, menghargai perbedaan, bekerja sama, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam menyelesaikan persoalan kehidupan (Darwati. , & Purana. Literasi adalah kemampuan seseorang untuk mengakses, memahami, mengolah, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif melalui berbagai bentuk bahasa dan media, baik dalam bentuk tulisan, lisan, visual, maupun digital (Tulak et al. , 2025, 2. Literasi tidak hanya merujuk pada kemampuan dasar membaca dan menulis, tetapi juga mencakup keterampilan berpikir kritis, menganalisis informasi, memecahkan masalah, serta mengkomunikasikan ide secara jelas dan bertanggung jawab dalam berbagai konteks kehidupan (Bu'ulolo. Putri. et al, 2024,). Dalam era modern, literasi menjadi kemampuan yang sangat penting karena informasi tersedia dalam jumlah besar dan tersebar melalui berbagai media (Ginting. Oleh karena itu, literasi menuntut individu untuk mampu memilah informasi yang valid, memahami maknanya, serta menggunakannya untuk mengambil keputusan yang tepat (Naufal. Pendidikan literasi adalah suatu proses pembelajaran yang dirancang secara sadar, terencana, dan berkelanjutan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengakses, memahami, mengolah, mengevaluasi, serta menggunakan informasi secara efektif melalui aktivitas membaca, menulis, berpikir kritis, berkomunikasi, dan pemanfaatan media digital (Budiharto. Pendidikan literasi tidak hanya berfokus pada penguasaan kemampuan dasar membaca dan menulis, tetapi juga mencakup pembentukan kecakapan berpikir tingkat tinggi . igher order thinking skill. yang memungkinkan peserta didik untuk menganalisis informasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan yang tepat dalam berbagai situasi kehidupan (Saputra. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi telah meluncurkan berbagai kebijakan strategis seperti Gerakan Literasi Nasional (GLN). Gerakan Literasi Sekolah (GLS), dan Gerakan Literasi Desa (GLD), (Aryani. , & Purnomo. Program-program tersebut bertujuan menumbuhkan budaya literasi di berbagai lapisan masyarakat dan memperkuat kolaborasi antara lembaga pendidikan, pemerintah, serta komunitas lokal (Amir. Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan hidup masyarakat (Rasyid, dkk 2. Dalam konteks pembangunan nasional, literasi menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur kualitas sumber daya manusia. Literasi bukan hanya sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi, menganalisis, serta menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari (Abidin, dkk. Gerakan Literasi Desa merupakan salah satu bentuk implementasi kebijakan pendidikan yang diarahkan untuk memperkuat budaya membaca dan belajar masyarakat ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 di lingkungan desa atau kelurahan. Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan membaca masyarakat, tetapi juga pada pengembangan budaya belajar sepanjang hayat melalui keterlibatan masyarakat, pemerintah daerah, dan lembaga Dalam pelaksanaannya. Gerakan Literasi Desa menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui akses terhadap bahan bacaan, kegiatan edukatif, dan pemberdayaan masyarakat berbasis literasi (Tangkearung et al. Peningkatan literasi tercermin dalam program Gerakan Literasi Desa yang telah dilaksanakan di Kelurahan Kairagi Dua. Kota Manado. Berdasarkan hasil observasi awal, program literasi di wilayah tersebut sudah berjalan melalui berbagai kegiatan seperti penyediaan fasilitas baca, kegiatan membaca bersama, dan keterlibatan masyarakat dalam aktivitas literasi. Namun demikian, implementasi gerakan literasi tersebut masih perlu dikaji lebih mendalam untuk mengetahui sejauh mana kebijakan pendidikan yang diterapkan telah berjalan secara efektif dan sesuai dengan tujuan Gerakan Literasi Nasional. Penelitian sebelumnya tentang gerakan literasi pada umumnya lebih banyak berfokus pada implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS), peningkatan kemampuan membaca siswa, atau pengembangan budaya literasi di lingkungan pendidikan formal. Selain itu, sebagian besar penelitian terdahulu hanya menyoroti hasil dari program literasi tanpa membahas secara mendalam proses implementasi kebijakan pendidikan di tingkat Kajian mengenai Gerakan Literasi Desa masih relatif terbatas, terutama yang membahas keterlibatan masyarakat, faktor pendukung, hambatan pelaksanaan, serta efektivitas implementasi kebijakan pendidikan dalam konteks lingkungan desa atau Selain itu, penelitian terdahulu cenderung menempatkan literasi hanya sebagai program pendidikan semata, belum mengkaji secara komprehensif bagaimana kebijakan pendidikan diterjemahkan ke dalam praktik sosial masyarakat (Umar et al. , 2. Padahal, keberhasilan gerakan literasi tidak hanya ditentukan oleh adanya program pemerintah, tetapi juga dipengaruhi oleh dukungan masyarakat, ketersediaan fasilitas, partisipasi komunitas, dan keberlanjutan pelaksanaan program di lapangan. Dengan demikian, masih terdapat kesenjangan penelitian . esearch ga. terkait implementasi kebijakan pendidikan dalam Gerakan Literasi Desa yang dilakukan secara langsung pada masyarakat lokal. Berdasarkan kesenjangan penelitian tersebut, studi ini penting dilakukan karena berupaya menganalisis implementasi kebijakan pendidikan dalam Gerakan Literasi Desa di Kelurahan Kairagi Dua secara lebih mendalam dan kontekstual. Penelitian ini tidak hanya menelaah keberadaan program literasi, tetapi juga mengkaji bagaimana pelaksanaan program, keterlibatan masyarakat, hambatan yang dihadapi, serta efektivitas kebijakan dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran nyata mengenai kondisi implementasi gerakan literasi di tingkat masyarakat. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Selain memberikan kontribusi secara teoritis dalam pengembangan kajian implementasi kebijakan pendidikan dan literasi masyarakat, penelitian ini juga diharapkan memiliki manfaat praktis bagi pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta masyarakat setempat. Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dan rekomendasi dalam memperkuat pelaksanaan Gerakan Literasi Desa agar lebih efektif, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis implementasi kebijakan pendidikan dalam Gerakan Literasi Desa di Kelurahan Kairagi Dua. Kota Manado. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pelaksanaan gerakan literasi sebagai bagian dari implementasi kebijakan pendidikan serta menjadi referensi dalam pengembangan program literasi masyarakat di masa mendatang. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan jenis penelitian kualitatif untuk menganalisis implementasi kebijakan pendidikan dalam Gerakan Literasi Desa di Kelurahan Kairagi Dua. Kota Manado. Pendekatan kualitatif digunakan karena penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai pelaksanaan program literasi, keterlibatan masyarakat, serta berbagai faktor yang memengaruhi implementasi kebijakan pendidikan di lingkungan masyarakat. Penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk memahami fenomena sosial secara mendalam melalui proses berpikir induktif dan interpretatif terhadap data yang diperoleh di lapangan (Adlini et al. , 2. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Kairagi Dua. Kota Manado, pada bulan Januari sampai Maret 2026. Subjek dalam penelitian ini terdiri atas aparat pemerintah kelurahan, pengelola kegiatan literasi, serta masyarakat yang terlibat aktif dalam Gerakan Literasi Desa. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan secara sengaja berdasarkan pertimbangan bahwa informan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang relevan dengan fokus penelitian. Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 10 orang yang terdiri dari 2 aparat kelurahan, 3 pengelola kegiatan literasi, dan 5 warga masyarakat yang aktif mengikuti kegiatan literasi desa. Pemilihan informan dilakukan untuk memperoleh data yang mendalam dan sesuai dengan kebutuhan penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara langsung terhadap pelaksanaan kegiatan Gerakan Literasi Desa untuk mengetahui bentuk implementasi program literasi di masyarakat. Wawancara dilakukan secara mendalam . n-depth intervie. menggunakan pedoman wawancara semi terstruktur agar peneliti dapat menggali informasi secara lebih luas terkait pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam gerakan literasi desa. Sementara itu, dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan berbagai dokumen pendukung seperti foto kegiatan, data program literasi, arsip kelurahan, dan catatan kegiatan yang berkaitan dengan penelitian. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data model Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahapan, yaitu reduksi data . ata reductio. , penyajian data . ata displa. , dan penarikan kesimpulan . onclusion drawing/verificatio. Pada tahap reduksi data, peneliti memilih, memfokuskan, dan menyederhanakan data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk uraian deskriptif agar memudahkan peneliti dalam memahami hubungan antar data. Tahap terakhir dilakukan penarikan kesimpulan berdasarkan pola dan temuan yang diperoleh selama penelitian berlangsung. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik, yaitu membandingkan data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi agar data yang diperoleh lebih valid dan kredibel. Dengan prosedur tersebut, penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan data yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Gerakan Literasi Desa di Kelurahan Kairagi Dua dilakukan melalui kegiatan membaca nyaring, lomba menggambar, mewarnai, dan membaca puisi. Kegiatan tersebut menunjukkan hasil positif dalam mengembangkan potensi anak-anak di Kelurahan Kairagi Dua. Pelaksanaan program gerakan literasi berhasil menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan secara efektif menumbuhkan minat baca di kalangan peserta didik dan juga memberikan dampak signifikan pada pengembangan Hal ini terlihat dari observasi langsung di Taman Baca Pelita Kaiwatu setiap hari Rabu hingga Jumat. Anak-anak menunjukkan peningkatan rasa percaya diri untuk tampil di depan umum serta memiliki kemampuan membaca yang baik, seperti pelafalan, artikulasi, dan kelancaran suara yang lebih jelas. Keberhasilan gerakan literasi desa Kairagi Dua dilengkapi dengan penguasaan aspek ekspresif, di mana siswa mampu menggunakan intonasi yang tepat dan menampilkan ekspresi atau penghayatan yang sesuai dengan isi bacaan. Kemampuan ekspresif ini berbanding lurus dengan pemahaman isi teks yang baik. Di samping keterampilan teknis, aspek perilaku juga menonjol, siswa menunjukkan sikap yang baik, percaya diri, serta kemampuan untuk menjaga interaksi dan keterlibatan pendengar sepanjang sesi membaca. Wahyono . yang menyatakan bahwa perkembangan kemampuan bahasa dan literasi tidak hanya bergantung pada keterampilan teknis, tetapi juga dipengaruhi oleh interaksi sosial, kepercayaan diri, dan dukungan lingkungan. Penelitian ini juga mengidentifikasi tiga tantangan krusial yang perlu ditangani. Hal ini dilihat dari hasil wawancara dengan Kepala Lurah. Operator kelurahan. Tokoh pemuda dan masyarakat setempat yang mengatakan: AuAdanya fasilitas yang kurang memadai, keterbatasan buku yang sesuai dengan semua tingkatan usia dan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasiAy Tantangan pertama adalah keterbatasan pada fasilitas baca, yang dapat menghambat keberlanjutan dan aksesibilitas program. Fasilitas baca yang minim menjadi faktor lingkungan . esosistem dan ekosiste. yang dapat menghambat partisipasi masyarakat dalam kegiatan literasi. Dalam Ecological Systems Theory dari Urie ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Bronfenbrenner . menyatakan bahwa lingkungan fisik dan sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan, perilaku, dan keterlibatan individu. Tantangan kedua, kurangnya bahan bacaan yang sesuai dengan semua tingkatan usia. Minimnya variasi bahan bacaan, di mana jenis bahan bacaan didominasi oleh buku pelajaran dan penyajiannya monoton dan tidak menarik bagi minat pembaca modern (Sampoerna Foundation, 2. Tantangan ketiga, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gerakan literasi. Tanpa adanya dorongan dan motivasi dari keluarga atau lingkungan sekitar, minat baca siswa sulit untuk tumbuh (Zalukhu. , . Di banyak kasus, orang tua sendiri tidak memiliki kebiasaan membaca, sehingga anakanak tidak memiliki teladan yang baik dalam hal literasi. Orang tua dituntut harus berperan aktif dalam proses penumbuhkembangan minat hingga membentuk disiplin anak terutama dalam budaya membaca (Lumbantobing. L & Pebria D. , 2. rendahnya kesadaran masyarakat dapat memperburuk situasi, terutama di kalangan keluarga yang secara ekonomi tidak terlalu mapan, di mana buku sering kali dianggap sebagai barang yang tidak terlalu penting. Ketika kesadaran kritis belum terbentuk, masyarakat cenderung menganggap literasi bukan kebutuhan mendesak, sehingga partisipasi dan dukungan terhadap program literasi menjadi rendah. Ketiga kendala ini berpotensi menjadi penghalang dalam upaya menanamkan budaya literasi yang kuat dan berkelanjutan di kelurahan Kairagi Dua. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun gerakan literasi di Kelurahan Kairagi Dua telah berjalan dengan baik, implementasi kebijakan literasi di tingkat desa masih menghadapi 3 tantangan besar dan diharapkan bisa diatasi secara berkala untuk keberlanjutan program gerakan literasi desa di kelurahan Kairagi Dua. Kegiatan gerakan literasi desa yang dilaksanakan di Kelurahan Kairagi Dua menjadi wujud nyata kolaborasi antara pemerintahan dan masyarakat dalam mendukung kebijakan pendidikan dalam gerakan literasi (Novianti. Mahasiswa yang berkontribusi di desa dapat berperan sebagai fasilitator kegiatan baca-tulis, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mendorong kesadaran literasi, menciptakan pojok baca, serta memberikan pelatihan literasi digital dan kreatif kepada masyarakat (Purwati. Dan masih dibutuhkan penguatan kelembagaan dan dukungan kebijakan lokal agar gerakan ini menjadi bagian dari program pembangunan desa secara permanen. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan (Indriyani 2. yang menyatakan bahwa implementasi gerakan literasi di masyarakat desa memerlukan pendekatan kolaboratif antara masyarakat, guru, dan perangkat desa. Kegiatan literasi yang berorientasi pada partisipasi masyarakat terbukti lebih efektif dalam menumbuhkan budaya baca (Safitri, . Putri. , & Ghofur. PENUTUP Implementasi kebijakan pendidikan dalam Gerakan Literasi Desa di Kelurahan Kairagi Dua. Kota Manado, telah berjalan cukup baik. Kegiatan literasi yang dilakukan melalui kegiatan membaca nyaring, lomba mewarnai, menggambar dan membaca puisi berhasil meningkatkan minat baca dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya literasi. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 menumbuhkan rasa percaya diri dan melatih kreativitas anak sejak dini. Dalam implementasi gerakan literasi di kelurahan Kairagi Dua masih terdapat 3 tantangan yaitu kurangnya fasilitas yang memadai, kurangnya bahan bacaan yang sesuai dengan tingkatan semua usia, dan rendahnya kesadaran masyarakat akan literasi. Oleh karena itu dibutuhkan sinergi berkelanjutan antara pemerintah desa, lembaga pendidikan, dan komunitas lokal untuk menjaga eksistensi taman baca dan pojok literasi sebagai pusat belajar masyarakat. DAFTAR PUSTAKA