Aksiologi dalam Perspektif Islam Sulaeman Ahmad1. Abdul Syatar2. Nurbaethy3 Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar sulaemanahmad74@gmail. syatar@uin-alauddin. nurbaety@uinalauddin. Abstrak Kajian filsafat tidak lepas dari pembahasan mengenai manusia. Sebeb, manusia adalah penentu mengenai kebaikan dan keburukan penilaian manusia Dalam hal nilai dalam filsafat bisa ditemui dalam cabang filsafat yaitu Aksiologi adalah cabang ilmu filsafat yang membahas mengenai nilai, dengan kata lain aksiologi adalah bidang filsafat yang menjelaskan pengaplikasian suatu ilmu pengetahuan yang bernilai baik buruknya sesuatu hasil dari pengetahuan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan yaitu menekankan pada berbagai literatur-literatur yang sesuai dengan objek yang Aksiologi dalam pandangan islam menyatakan bahwa agama melahirkan ilmu pengetahuan. Sehingga ilmu bisa dikatakan bagian dari agama itu sendiri, karena nabi Muhammad Saw mewajibkan manusia untuk mencari ilmu. Dan tujuan dari agama adalah mencari ridha dan kebenaran dari Allah SWT. Ilmu adalah bagian dari islam dan fungsi ilmu adalah memberi petunjuk, solusi, sebagai pembebas dari kebodohan. Ilmu pengetahuan melahirkan nilai,etika dan estetika, sementara agama islam sebagai paying untuk kelahiran ontologi, epistimologi, dan Kata Kunci : Aksiologi. Perspektif Islam Abstract The study of philosophy cannot be separated from the discussion of humans. Because, humans are the determinants of the good and bad judgments of other In terms of values in philosophy, it can be found in the branch of philosophy, namely axiology. Axiology is a branch of philosophy that discusses values, in other words, axiology is a field of philosophy that explains the JURNAL SULESANA application of a science that has good and bad values, the results of that The research method used is a literature study, which emphasizes various literatures that are in accordance with the object being studied. Axiology in the Islamic perspective states that religion gives birth to science. So science can be said to be part of religion itself, because the Prophet Muhammad SAW requires humans to seek knowledge. And the purpose of religion is to seek the pleasure and truth of Allah SWT. Science is part of Islam and the function of science is to provide guidance, solutions, as a deliverer from ignorance. Science gives birth to values, ethics and aesthetics, while Islam is an umbrella for the birth of ontology, epistemology, and axiology. Keywords: axiology. Islamic perspective Pendahuluan Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat tidak menjadi penghalang untuk orang untuk menuntut ilmu dan mencari kebenaran. Justru sebaliknya banyak orang yang menuntut untuk terus mencari kebenaran dengan menggunakan teoriteori yang baru atau membatalkan teori- teori yang ada sebelumnya. Oleh karena itu, orang-orang aktif terlibat dalam melakukan penelitian ilmiah untuk menemukan JURNAL SULESANA solusi dari pokok permasalahan yang dihadapi. Yaitu tidak berhenti pada titik tertentu tetapi terus berlanjut seiring waktu ketika dapat memuaskan rasa ingin tahu tentang dunia,metode, dan ilmu pengetahuan. Oleh karen itu, epistemology yang merupakan bagian dari ilmu filsafat yang secara khusus mempertimbangkan hakikat ilmu . cientific knowledg. Aksologi merupakan ilmu yang selalu menarik untuk dipelajari dan diperbincangkan, karena didasarkan pada landasan dan teori pengetahuan manusia. Aksiologi berperan penting setelah mendapatkan pengetahuan sehingga aksiologi menjadi suatu ilmu pengetahuan tentang bagaimana meaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah didapatkan. Aksiologi ini berada pada posisi yang sangat strategis karena menyangkut mengetahui bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan yang sebenarnya. Mengetahui bagaimana pengaplikasian ilmu pengetahuan dengan benar sangat erat Kedepannya, menentukan aksiologi akan sangat mempengaruhi warna dan jenis pengetahuan yang dihasilkan. Jika teori yang sudah mapan tidak bisa lagi menjelaskan peristiwa, ilmu akan jatuh ke dalam krisis. Dalam krisis ini, para ilmuwan membuat revolusi untuk menciptakan model baru. Jelas hari ini bahwa krisis yang dialami oleh sains modern didorong oleh model pemikiran rasionalis. Oleh karena itu, dialektika ilmiah hanya berfungsi untuk menguji teori, bukan untuk menghasilkan pandangan baru dari Perspektif baru ini tercapai ketika pandangan subjek dan objek dapat Aksiologi dalam perspektif islam akan membentuk bagaimana suatu ilmu pengetahuan yang berangkat dari pemikiran yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan, sehingga mampu menjadi suatu disiplin ilmu pengetahuan yang Anwar Mujahidin. Epistemologi Islam: Kedudukan Wahyu Sebagai Sumber Ilmu. (Jurnal Ulumuna Vol 17. Nomor 1, 2. , h. JURNAL SULESANA Bagaimana peran aksiologi dalam islam dan bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan yang tidak lepas dari ajaran islam. Literatur Review Dalam jurnal tentang Aupendidikan islam dalam perspektif filsafat ilmuAy yang di tulis oleh Zainal Arifin yang lebih focus menjelaskan pendidikan islam melalui tiga cabang ilmu yaitu, ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Pada bagian pertama penulis menjelaskan menjelaskan bagaimana lingkup pendidikan dalam islam bagaimana peran pendidkan islam dalam kemajuan dalam berpikir. Pada bagian kedua yaitu bagaiamana mengaitkan cabang filsafat ilmu untuk menopang pendidikan islam sehingga filsafat ilmu juga mengambil peran yang sangat penting dalam peningkatan kualitas belajar. Dalam jurnal tentang AuAksiologi dalam perspektif islam Ay yang ditulis oleh M. Zainuddin, pada bagian pertama membahas tentang masalah tentang kedudukan ilmu melalui berbagai pendekatan ayat dan hadis dan hakikat manusia sebagai khalifah fil ardh, dan pada bagian kedua lebih mengfokuskan pembahasan pada aksiologi dalam bidang manfaat pendidikan dalam melalui pendekatan seni atau sering disebut dalam kajian aksiologi itu adalah estetika. Dalam jurnal yang berjudul Aksiologi Ilmu Pengetahuan dan Manfaatnya bagi Manusia, karya Rosnawati. Ahmad Syukri. Badarussyamsi, dan Ahmad Fadhil Rizki. Yang fokus pembahasannya tentang kajian aksiologi dalam ilmu pengetahuan dan bagaimana manfaat bagi manusia yang dengan menggunakan metode penelitian metode,pengetahuan,dan aktivitas manusia. Metodologi Penelitian Tulisan artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian yang sifatnya menjelaskan dengan menggunakan berbagai sumber. JURNAL SULESANA Penelitian ini juga merupakan penelitian sejarah yang dalam pengambilan datanya melalui Library Research . enelitian pustak. Data dan informasi yang berasal dari buku-buku dan jurnal yang relevan dengan judul yang dikaji. Aksiologi Ilmu Pengertian secara etimologi, kata aksiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu axios yang berarti layak atau pantas dan logos yang berarti ilmu atau studi mengenai ilmu. Selain itu, nilai juga berasal dari bahasa latin Valere yang berarti berarti berguna, mampu akan, berdaya, berlaku atau kuat yang bermakna kualitas sesuatu hal yang menjadikannya dapat disukai, diinginkan bermanfaat atau menjadi objek kepentingan. Namun juga bisa bermakna sebagai apa yang dihargai, dinilai tinggi, atau dihargai sebagai suatu kebaikan. 2 Aksiologi adalah cabang ilmu yang membahas tentang hakikat tertinggi, realitas, dan arti dari nilai-nilai . ebaikan, keindahan, dan kebenara. Dengan demikian aksiologi adalah studi tentang hakikat tertinggi dari nilai-nilai etika dan estetika. 3 Menurut kamus Bahasa Indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika. 4 Sementara Suriasumantri mengatakan, aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Dikatakan bahwa aksiologi adalah suatu pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia dan menjaganya, membinanya di dalam kepribadian peserta Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, aksiologi adalah salah satu cabang ilmu filsafat yang membahas tentang nilai-nilai dan norma-norma yang berkaitan tentang cabang ilmu tertentu. 6 Berbincang mengenai sebuah nilai tersebut Zaprulkhan. Filsafat Ilmu Sebuah Analisis Kontemporer, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2. Jujun Sumantri. Filsafat ilmu, sebuah pengantar popular, (Jakarta. Sinar harapan, 2. Kamus bahasa Indonesia. Jalius Jama. Filsafat Ilmu. (Padang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang, 2. , h. Ibid, h. JURNAL SULESANA dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari seperti kata-kata adil dan tidak adil, jujur dan curang, benar dan salah, baik dan tidak baik. Hal ini semua mengadung penilaian sebab manusia yang dengan perbuatannya berkeinginan untuk mencapai atau melakukan berbagai, pertimbangan mengenai apa yang dinilai. Aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, pada umumnya dari sudut pandang filsafat. Di alam ini terdapat banyak cabang ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan berbagai kasus nilai seperti, epistimologi, etika, dan estetika. Epistimologi bersangkutan mengenai kebenaran, etika bersangkutan dengan kebaikan, dan sedangkan mengenai estetika bersangkutan dengan suatu keindahan. Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, pada umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Di alam ini terdapat banyak cabang ilmu seperti, epistimologi,etika dan estetika. Dari pengertian-pengertian terkait dengan aksiologi, dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia, untuk melakukan berbagai perimbangan mengenai apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika. Etika menilai perbuatan atau tingkah laku manusia, maka lebih tepatnya jika dikatakan bahwa objek formal etika adalah norma-norma, kesusilaan manusia. Dapat dikatakan bahwa etika mempelajari tingkah laku manusia ditinjau dari segi baik dan tidak baik, di dalam suatu kondisi atau keadaan yang normative yaitu, suatu kondisi yang melibatkan norma-norma. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya. Aksiologi dalam islam M Zainudin. Filsafat dalam perspektif islam. Jurnal Al-harakah. No2 Vol 3, ahun 2001, 6 louis Kattsoff. Pengantar Filsafat (V. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1. , h. JURNAL SULESANA Aksiologi dalam islam adalah ilmu yang membahas mengenai nilai atau Etika atau akhlak merupakan tujuan pokok bagi orang yang mempelajari ilmu itu sendiri. Sebagian beranggapan, ilmu adalah sebagai jalan, atau sarana untuk memperoleh etika, kemudahan-kemudahan dalam hidup didunia. 9 Sedangkan dalam pendapat Kontowijoyo aksiologi dalam paradigm islam adalah ilmu tidak ada yang benar-benar netral. Ilmu pada dasarnya tidak ada yang bebas nilai. 10 Ilmu modern yang selama ini sering diklaim sebagai bebas nilai, sehingga dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, ternyata tidak lepas dari nilai-nilai yang dianut oleh penganutnya, seperti filsafat barat. Dalam struktur keilmuan islam, ilmu bekerja dalam pandangan islam itu sendiri, dimana ilmu bersumber langsung dari wahyu Al-qurAoan. Maka nilai etis yang terkandung dalam ilmu keislaman berada dalam bingkai etika dan moral yang sangat erat. Karena misi kenabian Muhammad Saw adalah membangun etika-moral atau akhlak. Kontowijoyo menyebutkan etika-moral dengan etika Profetik. Nilai etika profetik itu sendiri berasal dari akhlak Nabi Muhammad Saw dan sumbernya adalah wahyu Allah Swt. Oleh sebab itu, ada perbedaan pendapat mengenai aksiologi dalam pandangan islam dan barat. Pertama menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik secara ontologis. Dalam hal ini, ilmuwan barat adalah menemukan pengetahuan dan terserah pada orang lain untuk mempergunakanya, apakah ilmu tersebut dimanfaatkan untuk tujuan benar ataupun tujuan yang tidak Kedua beranggapan bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisika keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya ilmu terletak pada objek penelitian harus didasarkan pada asas-asas moral. 12 Oleh sebab itu. Maqbul Halim, 2004. Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan. Online, http://w. Diakses 29 Juli 2016. Kontowijoyo, islam sebagai ilmu: epistimologi, metodologi dan etika (Jakarta:teraju,2. Ibid, kontowijoyo, hal 69. Emayulia Satria. Hakikat ilmu: Ontologi. Epistimologi dan Aksioloi. Jurnal UINSU. Vol 3 No3 tahun 2016, h. JURNAL SULESANA bahwa ilmu tidak ada yang benar-benar bebas nilai, tetapi sangat tergantung kepada siapa dan dokma yang diyakini. Sedangkan aksiologi dalam islam, memandang bahwa ilmu itu berasal dari Allah Swt, sang maha bijaksana dan agung . emberi Sebab nilai kebaikan dan keburukan itu sejatinya adalah dari Allah untuk Dan manusia yang akan memberikan nilai terhadap perilaku dan Teori Nilai Apa yang dimaksud dengan nilai? Nilai sebagai suatu hal yang menarik bagi seseorang, sesuatu yang menyenangkan, suatu yang dicari, sesuatu yang disukai dan diiginkan. Singkatnya, nilai adalah sesuatu hal yang baik. 13 Lawan dari nilai adalah non-nilai atau disvalue. Ada yang mengatakan disvalue sebagai nilai Sedangkan sesuatu yang baik adalah positif. 14 Hans Jonas, seorang filsuf jerman-amerika, mengatakan nilai sebagai the addresse of a yes. Ada tiga ciri yang dapat kita kenali dengan nilai, yaitu nilai yang berkaitan dengan subjektif, praktis, dan sesuatu yang ditambahkan pada objek. Pertama, nilai berkaitan dengan subjek. Artinya, nilai itu berkaitan dengan kehadiran manusia sebagai subjek. Jika tidak ada manusia yang memberi nilai, nilai itu tidak akan pernah ada. Tanpa kehadiran manusia pun, jika gunung merapi meletus yang tetap Alasannya sekarang, ketika gunung merapi meletus misalnya, apakah itu sesuatu yang indah ataukah justru membahayakan bagi kehidupan manusia. Kesemuanya itu tetap memerlukan kehadiran manusia untuk memberikan Dalam perkara ini subjektivitas memang bergantung, semata-mata pada pengalaman manusia. Kedua, nilai dalam konteks praktis. Yakni, subjek ingin membuat sesuatu, seperti lukisan, gerabah, dan lain-lain. Ketiga, berkaitan dengan nilai tambah pada objek. Nilai ini bisa berbentuk budaya, estetis, kewajiban. Hamersma. Harry. Pintu Masuk ke Dunia Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1992. Ash-Shadr. Muhammad Baqir. Falsafatuna terhadap Belbagai Aliran Filsafat Dunia. Cet. VII. Bandung: Mizan, 1999. Ash-Shadr. Muhammad Baqir. Falsafatuna terhadap Belbagai Aliran Filsafat Dunia. Cet. VII. Bandung: Mizan, 1. , h. JURNAL SULESANA kesucian, kebenaran, maupun yang lainnya. 16 Bisa jadi objek yang sama akan memiliki nilai yang berbeda-beda bagi berbagai subjek. Nilai bisa dikatakan berbeda dikarenakan sifat nilai tersebut. Nilai bersifat ide atau abtrak . idak nyat. Nilai bukan suatu fakta yang ditangkap oleh indra. Perbuatan atau tingkah laku manusia yang bisa ditangkap oleh indra yang mempunyai nilai itu bukanlah fakta yang nyata. Jika kembali kepada ilmu pengetahuan, kita akan membahas suatu pokok permasalahan, benar atau tidak 17 kebenaran ialah persoalan logika logika dimana persoalan nilai, adalah persoalan pengahayatan, perasaan, dan kepuasan. Ringkasan persoalan nilai, bukanlah membahas kebenaran dan kesalahan . enar dan sala. akan tetapi masalahnya ialah soal baik dan buruk, senangtahuau tidak senang. Kebenaran memang tidak lepas dari masalah nilai, tetapi nilai adalah menurut nilai logika. Teori nilai adalah menyelesaikan masalah etika dan estetika. Teori nilai dalam kajian filsafat mengacu pada masalah etika dan estetika. Etika memiliki dua makna yakni kumpulan pegetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan manusia, dan predikat yang dipakai untuk membedakan perbuatan tingkah laku atau yang lainnya. 18 Nilai itu bersifat objektif, namun juga bisa bersifat Dikatakan objektif, jika nilai-nilai tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan, berada pada objeknya, bukan pada subjek yang melakukan penilaian. Kebenaran, tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada,objektivitas fakta. 19 Sebaliknya, nilai menjadi subjektif, apabila subjek berperan dalam memberi penilaian. kesadaran manusia menjadi tolak ukur Dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang. Ibid, h. Kassofs Lois. Pengantar Filsafat, (Jogjakarta. Tiara wacana, 1. , hal 56. Kassofs Lois. Pengantar Filsafat,h. Fitriani. Implikasi aksiologi dalam pendidikan, . urnal pendidikan isla. , vol 4 no 3. JURNAL SULESANA Nilai dan Fakta Ada perbedaan antara pertimbangan nilai dengan pertimbangan fakta. Fakta berbentuk kenyataan, ia dapat ditangkap dengan panca indra, sedang nilai hanya dapat dihayati. 20 Meskipun para filosofi berbeda pandangan tentang didefinisi nilai, namun pada umumnya menganggap bahwa nilai adalah pertimbangan tentang Pertimbangan fakta dan pertimbangan nilai tidak dapat dipisahkan, diantara keduanya karena saling memengaruhi. Sifat-sifat benda yang dapat diamati juga termasuk dalam penilaian. Jika fakta berubah, maka penilaian kita berubah, ini berarti pertimbangan nilai dipengaruhi oleh fakta. Fakta itu sebenarnya netral, tetapi manusialah yang memberikan nilai kedalamannya, sehingga ia mengandung nilai. Namun bagaimanakah kriteria benda atau fakta itu mempunyai nilai. Nilai dapat dibagi menjadi dua yaitu nilai etika dan nilai estetika. Nilai Etika termasuk cabang filsafat yang membicarakan perbuatan manusia dan memandangnya dari sudut baik dan buruk. Adapun ruang lingkup dari nilai etika adalah ukuran perbuatan yang baik yang berlaku secara universal bagi seluruh manusia, apakah landasan dasar yang digunakan untuk menentukan norma-norma universal tersebut, apakah yang dimaksud dengan baik dan buruknya suatu perbuatan manusia, apakah yang maksud dengan kewajiban dan apakah implikasi dari perbuatan baik dan buruk. Nilai etika diperuntukkan pada manusia saja, selain manusia . inatang, benda, ala. tidak mengandung nilai etika, karena itu tidak mungkin dihukum baik atau buruk, salah atau benar. Adapun estetika adalah suatu nilai-nilai yang berhubungan dengan kreasi seni, dan pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan keindahan. Kadang estetika dimaknai sebagai filsafat seni dan kadang prinsip yang berhubungan dengan keindahan. 22 Syarat estetika terbatas pada lingkungannya, disamping juga Ibid, kassofs lois, hal 66. M zainal Abidin. Filsafat ilmu keislaman integrative. Jurnal Ilmu ushuludin. Vol 13 No 2,2015, h. Ibid, jurnal pendidikan Islam, h. JURNAL SULESANA terikat dengan ukuran-ukuran etika. Etika menuntut supaya yang bagus itu baik. Lukisan seni dapat mengandung nilai estetika. Pembagian Aksiologi Menurut Bramel, aksiologi dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : Moral . oral conduc. Moral adalah bidang yang melahirkan disiplin ilmu terkhusus mengenai etika. Moral atau Etika disebut filsafat moral . oral philosoph. , yang berasal dari kata ethos (Yunan. yang berarti watak. Moral berasal dari kata mos atau mores (Lati. yang artinya kebiasaan, watak, kelakuan tabiat. Dalam Bahasa Indonesia istilah moral atau etika diartikan kesusilaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa etika mempunyai tiga arti. Pertama, etika merupakan ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral . Kedua, etika adalah kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak. Ketiga, etika ialah nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Moral dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, didefinisikan sebagai ajaran mengenai baik buruk yang diterima mengenai akhlak dan budi pekerti. Hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi mental seseorang sehingga bersemangat, berani, disiplin, dan sebagainya. 25 Moral selalu mengarah pada perbuatanbaik buruknya seorang manusia bukan merujuk kepada pekerjaan atau profesi manusia itu sendiri sebagai dosen, guru, pemain bola, ataupun sebagai ustadz, tetapi sebagai manusia. Etika dan moral dapat didefinisikan sebagai teori mengenai tingkah laku manusia yakni baik dan buruk yang masih dapat dijangkau oleh akal. Moral adalah suatu ide tentang tingkah laku manusia . aik dan buru. Harry Hamersma. Filsafat Eksistensi, (Jakarta. Gramedia,1. , h. Rapar Hendrik, pengantar Logika, asas-asas penalaran sistematik, . Jogjakarta,1. , h. Frans Magnis Suseno. Etika dasar. Masalah pokok filsafat etika, (Jogjakarta: Kip,1. JURNAL SULESANA menurut situasi tertentu. Fungsi etika adalah mencari ukuran tentang penilaian tingkah laku perbuatan manusia. Tingkah laku manusia yang dapat dinilai oleh etika itu haruslah mempunyai syarat-syarat tertentu, yaitu : Perbuatan manusia itu dikerjakan dengan penuh pengertian. Oleh karena itu, orang-orang yang mengerjakan sesuatu perbuatan jahat tetapi ia tidak mengetahui sebelumnya bahwa perbuatan itu jahat, maka perbuatan manusia semacam ini tidak mendapat sanksi dalam etika. Perbuatan yang dilakukan manusia itu dikerjakan dengan sengaja. Perbuatan manusia . yang dikerjakan dalam keadaan tidak sengaja maka perbuatan manusia semacam itu tidak akan dinilai atau dikenakan sanksi oleh etika. Perbuatan manusia dikerjakan dengan kebebasan atau dengan kehendak sendiri. Perbuatan manusia yang dilakukan dengan paksaan . alam keadaan terpaks. maka perbuatan itu tidak akan dikenakan sanksi etika. Ekspresi Keindahan (Estetic Expressio. Ekspresi Keindahan (Estetic Expressio. , adalah bidang yang melahirkan disiplin ilmu mengenai keindahan atau biasa di sebut dengan Estetika disebut juga sebagai filsafat keindahan . hilosophy of beaut. , yang berasal dari bahasa Yunani yakni aisthetika atau aesthesis. Kata tersebut berarti hal-hal yang dapat diserap dengan indra atau serapan indra. Estetika adalah bagian dari aksiologi yang selalu membahas tentang permasalahan, pertanyaan, dan isu-isu tentang keindahan, ruang lingkupnya, nilai, pengalaman, perilaku pemikiran seniman, seni, serta persoalan estetika dan inini dalam kehidupan manusia. 26 Estetika menjadi polemik yang sering diperbincangkan sampai sekarang jika dikaitkan dengan agama dan nilai kesusilaan, kepatutan, dan hukum. Zainal Abidin, model relasi agama dan sains,Jurnal filsafat, vol 5, no 2, tahun 2015, h. JURNAL SULESANA Apa sebenarnya yang menjadi tolak ukur keindahan dan perannya dalam kehidupan manusia? Dan bagaimana hubungan antara keindahan dan kebenaran? Hal ini berkaitan dengan refleksi kritis terhadap nilai-nilai tertentu sehingga sesuatu bisa dikatakan indah dan tidak indah. Marcia Eaton menyatakan bahwa konsep tersebut berkaitan dengan deskripsi dan evaluasi objek serta kejadian artistik dan estetika27 Edmund Burke dan David, memandang estetika sebagai suatu konsep yang berkaitan dengan empirik atau sesuatu yang bersifat objektif. Lingkup bahasan estetika memiliki beberapa bidang garapan. Diantaranya adalah estetika filsafati dan estetika ilmiah. Estetika filsafati disebut juga dengan filsafat keindahan . hilosophy of beaut. , filsafat cita rasa . hilosophy of tast. , filsafat seni . hilosophy of ar. , dan filsafat kritik . hilosophy of criticis. Estetika dalam hal ini banyak membahas hakikat, akar dari ilmu seni, hasil perenungan bukan eksperimen, dan pengalamanpengalaman lahiriah. 28 Sedangkan filsafat ilmiah cenderung mengacu pada ilmu pengetahuan mengenai kesenian, keindahan, ataupun estetika. Filsafat keindahan yang saat ini lebih banyak dianggap sebagai bagian dari aksiologi, lebih banyak dibicarakan dalam metafisika karena sifatnya yang abstrak. Tokoh yang membicarakan estetika di masa itu adalah Sokrates dan Plato. 29 Plato berpendapat bahwa seni . adalah keterampilan untuk memproduksi sesuatu. Hasil seni adalah sebuah tiruan . Lukisan merupakan contoh dari hasil seni yang berupa tiruan tentang alam atau sesuatu yang ideal. Karya seni merupakan tiruan yang ada dalam dunia ide dan tidak memiliki sifat yang sempurna. Seni bagi Plato tidaklah penting karena tidak memiliki pengaruh terhadap kehidupan manusia. Immanuel Kant . menganggap kesadaran estetis sebagai unsure penting dalam pengalaman manusia secara umum. Kant juga berpendapat sama dengan Hume, bahwasannya keindahan adalah penilaian bid, jujun hal 6 M Zainudin. Aksiologi dalam perspektif islam. Stain Malang. Vol 2 No 4, 2014, h. Fitriani, implikasi aksiologi dalam filsafat pendidikan,Jurnal Pendidikan Islam. Arraniri Aceh, vol 4 no2,206, h. JURNAL SULESANA estetis yang bersifat 30 Pertimbangan-pertimbangan estetis memberikan arah yang terfokus untuk menjembatani antara teoretis dan praktik dari sifat dasar manusia. Menurut Santayana, keindahan identik dengan kesenangan manusia ketika ia mengamati objek-objek tertentu. Keindahan, baginya, merupakan perasaan senang yang diobjektifkan dan diproyeksikan ke dalam objek yang diamati. Pada awal Abad ke-20, para filsuf berargumentasi bahwa konsepkonsep estetika berpatokan pada cita rasa kemanusian dan pertimbangan Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal konsep estetika yang Di dalam estetika tidak ada hukum-hukum atau aturan-aturan yang mensyaratkan adanya keindahan yang ideal. Keindahan adalah suatu hal bebas dan alamiah. Keindahan tidaklah dikonstruksikan dengan aturan dan harmonisasi yang merujuk pada hal-hal yang menyenangkan. Sosio Politic life Sosio politic life adalah kehidupan sosial politik, yang melahirkan cabang filsafat politik. 31 Filsafat politik dengan pokok kajianya adalah Manusia sebagai mahluk sosial yang saling berinteraksi satu sama Berdasarkan kodrat, manusia tidak hanya sekedar mahluk jasmaniah, tetapi juga mahluk rohaniah dan sosial, yang memiliki daya cipta . , rasa . dan rasa karsa . Kegiatan manusia dapat berlangsung sebagaimana kegiatan mahlukmahluk lain, misalnya manusia dapat berlari, jatuh, menyelam, bernafas dan mencerna makanan. 33 Kegiatan ini berlangsung secara alamiyah dan otomatis, tanpa adanya kendali manusia. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan khas manusia yang didasarkan pada kemampuan rohani manusia. Kegiatan manusia tersebut berlangsung atas dasar perasaan, pemikiran. Jujun S. Suriasumantri. Ilmu dalam perspektif, (Jakarta: obor Indonesia,1. , h. Ash-Shadr. Muhammad Baqir. Falsafatuna terhadap Berbagai Aliran Filsafat Dunia. Cet. VII. Bandung: Mizan. M Zainudin, filsafat ilmu-ilmu keislaman Integralistik. Jurnal Ilmu ushuludin. Vol 3 No 4,juli 2014, h. Ibid. Jurnal ilmu Ushuludin, h. JURNAL SULESANA pertimbangan, pengambilan keputusan, dan selanjutnya adanya kehendak untuk melakukannya. Manusia juga dapat mengendalikan tindakan, tidak hanya sekedar berlangsung secara otomatis, tetapi juga berlangsung secara efektif. Dengan kelebihan ini, manusia diharapkan bukan hanya sekedar sebagai objek yang terkena hukum alam, melainkan diharapkan berfungsi sebagai subyek, yang menyadari dan menghendaki apa yang dilakukannya. Sehingga apa yang dilakukan oleh manusia, diharapkan tidak hanya sekedar efek atau reaksi terhadap rangsangan atau stimulus yang mengenai dirinya. Dalam menghadapi stimulus dari lingkungannya, diharapkan manusia . ebagai subye. sedapat mungkin melakukan pertimbangan, pemikiran berkenaan dengan hukum alam yang berlaku, dan selanjutnya mengambil keputusan untuk bertindak sesuai dengan kehendaknya. Menurut frans magnes suseno, manusia perlu mendobrak kesadaran moral heteronom dan beralih kepada moral otonom. Kesadaran moral heteronom adalah sikap oeang yang yang memenuhi kewajiban moralnya bukan karena ia insaf bahwa kewajiban itu pantas dipenuhi, melainkan karena ia tertekan, takut dosa, takut dikutuk Tuhan dan sebagainya. 35 Kesadaran moral heteronom berarti bahwa orang tersebut mentaati peraturan, tetapi tanpa melihat nilai atau maknanya. Ia hidup sesuai dengan tuntutan-tuntutan moral lingkungannya, bukan karena kesadaran maknanya, melainkan karena takut ditegur, takut berdosa, dan karena tak berani mengambil sikap sendiri. Heteronomi moral adalah penyimpangan dari sikap moral yang sebenarnya. Dalam islam. AlMaududi . 7:37-. dalam bukunya Islamic Way of life menejelaskan,' kehidupan manusia harus bersinergi antara hidup di dunia dan akhirat. Dimana dalam way of Lift, bahwa sistem normal Islam itu kehidupan di dunia manusia harus berkaitan dengan agama. Manusia memiliki ciri-ciri yang komprehensif, yang senantiasa mengabdikan diri Jujun S. Suriasumantri. Ilmu dalam perspektif, (Jakarta: obor Indonesia,1. , h. Ibid. JURNAL SULESANA kepada Allah sebagai hamba-Nya untuk memperoleh ridha untuk kebahagiaan kelak. Oleh sebab itu, ilmu harus memandang, bahwa tujuan ilmu sama dengan tujuan agama, yaitu untuk kesejahteraan umat manusia. Karena ilmu memiliki perhatian besar terhadap pendidikan jiwa manusia dan pertumbuhannya, serta menghendaki kepribadian yang luhur. Dan bahwa orangyang mencari ilmu adalah sama dengan mencari hakekat . Ciri-ciri manusia lain tersebut antara lain sebagai berikut : Keridhaan Allah adalah tujuan hidup Muslim dan merupakan sumber standar moral yang tinggi serta menjadi jalan bagi evaluasi moral kemanusiaan. Sikap mencari ridha Allah memberikan sanksi moral untuk mencintai dan takut kepada-Nya, yang pada gilirannya mendorong manusia untuk mentaati hukum moral tanpa paksaan dari luar dengan landasan iman dan balasan di hari Semua lingkup kehidupan manusia senantiasa ditegakkan di atas moral Islami, sehingga moral tersebut berkuasa penuh atas semua Hawa nafsu clan kepentingan pribadi tidak diberi kesempatan untuk menguasaid kehidupan manusia. Moral Islam mementingkan keseim bangan dalam semua aspek kehidupan: individual maupun social. Islam menuntut manusia agar melaksanakan sistem kehidupan yang berdarkan atas norma-norma kebajikan clan jauh dari Islam memerintahkan perbuatan yang ma'nifdan mengatahui perbuatan yang mungkar, bahkan manusia dituntut supaya menegakkan keadilan dan memberantas segala kejahatan. Al-maududi. Islamic Way of life. Lahore Islamic Publication, 1996, h. Jujun S. Suriasumanteri. Islam dalam Perspektif Moral Sosial dan Politik, (Jakarta Gramedia,1. JURNAL SULESANA Kesimpulan Berbicara tentang ilmu pengetahuan adalah hal yang sangat penting dalam perkembangan peradaban manusia. Aksiologi sebagai suatu produk ilmu pengetahuan telah banyak merubah tatanan kehidupan manusia dibumi. Ilmu pengetahuan tidak terlepas dari sebuah nilai, sebab sesungguhnya yang dipelajari dalam ilmu pengetahuan adalah verasal dari tatanan nilai dan etika. Penerapan ilmu pengetahuan sangat berkaitan erat dengan aspek moral,nilai, dan etika. Islam memandang ilmu pengetahuan layaknya kapal yang berlabuh tanpa nahkodah, akan berjalan tanpa arah. Karena keberadaan islam itu sendiri untuk menyempurnakan akhlak manusia yang pada awalnya tidak bermoral menjadi bermoral, aktivitas manusia yang tidak bernillai menjadi bernilai. Moral atau nilai berasal dari Agama, sementara ilmu pengetahuan mempelajari alam semesta dengan konotasi fisik. Relasi antara ilmu pengetahuan dengan agama sangat berkaitan erat karena penciptaan alam semesta inii dari Allah SWT yang disebut sebagai transcendental atau metafisik . Tuhan itu nyata meskipun tidak bisa diraba dan dilihat, tetapi adanya alam semesta ini bukti bahwa adanya yang menciptakan yaitu Tuhan. Oleh sebab itu, filsafat islam sangat berbeda dengan filsafat barat dalam objek kajiannya, filsafat islam mengenal fisik, sistematis, dan metafisik. Sedangkan di dunia filsafat barat hanya bersumber pada fisik dan sistematis semata. Sehingga filsafat islam lebih kaya khazanah ilmu pengetahuan. Daftar Pustaka