Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 31849/jpmi. Mengenal Budaya Melalui Kriya: Lokakarya Pembuatan Jepit Rambut Tradisional Tiongkok di Jakarta Dewi Hartati1. Yulie Neila Chandra2. Gustini Wijayanti3. David Darwin4 1,2,3,4Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok. Fakultas Bahasa dan Budaya. Universitas Darma Persada *e-mail: c. dewihartati@gmail. com1, ync. puellabona@gmail. com2, poppy7870@gmail. daviddarwin8299@gmail. Abstrak Artikel ini merupakan pemaparan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dosen dan mahasiswa program studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Universitas Darma Persada Jakarta. Program ini bertujuan untuk mengenalkan seni kriya jepit rambut berbasis kertas melalui pelatihan kepada siswa di Jakarta. Pengabdian ini dilaksanakan karena kurangnya pemahaman seni kriya Tiongkok di kalangan siswa Indonesia. Dengan memperkenalkan jepit rambut tradisional berbahan dasar kertas tidak hanya memperkenalkan budaya Tiongkok tetapi juga untuk memperkenalkan program studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Universitas Darma Persada sebagai sebuah universitas swasta pertama yang memiliki program studi Sastra Cina yang telah berdiri sejak tahun 1986. Metode dari kegiatan ini adalah praktik langsung . earning by doin. , yang dipadukan dengan pendekatan presentasi visual. Evaluasi keberhasilan kegiatan ini terlihat bahwa pembuatan jepit rambut tradisional dari kertas sangat diminati karena tidak banyak yang mengetahui pembuatannya sebagai bentuk seni kriya Tiongkok. Dampak terhadap mitra adalah semua peserta tertarik untuk mempelajari kebudayaan Tiongkok Kata kunci: budaya Tiongkok, jepit rambut tradisional Tiongkok, seni kriya, seni memotong kertas Tiongkok Abstract This article presents a community service activity carried out by lecturers and students of the Mandarin Language and Chinese Culture Study Program at Darma Persada University. Jakarta. The program aims to introduce the art of paper-based hairpin crafts through training sessions. This community service was conducted due to the lack of understanding of Chinese crafts among Indonesian students. By introducing traditional paper-based hairpins, the program not only promotes Chinese culture but also serves to introduce the Mandarin Language and Chinese Culture Study Program at Darma Persada University. The method used in this activity is hands-on practice . earning by doin. , combined with a visual presentation approach. The success of the activity was evident in the high level of interest in making traditional paper hairpins, as many participants were unfamiliar with this form of Chinese craft. The impact on the participants was positive, expressing interest in learning more about Chinese culture. Keywords: Chinese culture. Chinese hairpin. Chinese cutting papers, craft art PENDAHULUAN Seni dan kerajinan tradisional Tiongkok telah menjadi bagian dari kebudayaan dunia yang diwariskan lintas generasi dan memiliki kekayaan filosofi serta estetika yang mendalam. Bentukbentuk seni seperti keramik, sulaman, kaligrafi, opera, dan seni potong kertas (O jianzh. tidak hanya menampilkan keindahan visual tetapi juga mengandung makna simbolik yang mencerminkan harapan, kebahagiaan, dan kebijaksanaan dalam budaya Tiongkok . Seni kerajinan rakyat di Tiongkok serupa dengan budaya lainnya muncul dari kebutuhan emosional untuk mengekspresikan cinta, kepedulian terhadap keluarga, semangat hidup, serta rasa hormat terhadap alam . Di Tiongkok, dalam sejarahnya gadis-gadis muda menyulam tas kecil untuk diberikan kepada kekasih mereka, sementara para ibu membuat topi berbentuk kepala harimau untuk anak-anak mereka. Kerajinan tangan seperti ini mencerminkan kasih sayang serta kecerdasan kaum perempuan yang merupakan bentuk keterampilan yang harus P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 31849/jpmi. dimiliki para perempuan di zamannya Salah satu seni kriya yang masih bertahan hingga saat ini adalah seni memotong kertas, yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO Salah satu unsur budaya yang kurang dikenal namun kaya akan makna simbolis adalah jepit rambut tradisional Tiongkok ( zAn, e chA. Jepit rambut tidak hanya digunakan sebagai aksesoris, tetapi juga memiliki makna dalam upacara kedewasaan dan pernikahan, serta mencerminkan status sosial dan nilai estetika pada zaman dahulu. Namun, di Indonesia, pemahaman mengenai seni kriya Tiongkok masih sangat terbatas, terutama di kalangan siswa. Berdasarkan pengamatan awal dan interaksi dengan peserta kegiatan di lingkungan sekolah mitra, hanya sebagian kecil yang mengenal seni potong kertas Tiongkok, dan hampir tidak ada yang mengetahui tentang simbolisme maupun bentuk jepit rambut Minimnya pemahaman ini menunjukkan perlunya pendekatan edukatif yang lebih aplikatif dan menyenangkan dalam memperkenalkan budaya Tiongkok kepada generasi muda. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa seni kriya dapat menjadi media yang efektif dalam pembelajaran lintas budaya karena mampu mengembangkan empati budaya, estetika, serta keterampilan motorik dan kreativitas siswa. Pendekatan pembelajaran berbasis praktik seperti lokakarya seni juga terbukti lebih mudah diterima dan diingat oleh peserta didik, terutama dalam konteks pembelajaran budaya asing. Perempuan Tiongkok pada zaman dahulu memiliki gaya rambut yang rumit dan mengembangkan berbagai macam hiasan kepala yang semuanya itu mempunyai makna simbolik dan memiliki fungsinya masing-masing. Perkembangan hiasan kepala terkait erat dengan gaya rambut di setiap mode dan perubahan dinasti. Hiasan kepala kuno terutama mencakup Ji. Zan. Chai. epit rambu. Buyao . epit rambut goyan. Dian . iasan bung. Huasheng . iasan kepal. Guan (Mahkot. Zhi. Shu dan Bi . , dan lain-lain . Aksesoris rambut yang dikenal sebagai . , e. , digunakan oleh wanita Tiongkok sejak zaman kuno . Jepit rambut memiliki peran penting dalam budaya Tiongkok, terutama dalam upacara kedewasaan (Hairpin Initiation atau E jil. Pada usia 15 tahun, seorang gadis mulai menggunakan jepit rambut sebagai tanda bahwa ia telah dewasa dan siap Sebelum mencapai usia tersebut, para gadis tidak menggunakan jepit rambut dan biasanya menata rambut mereka dengan kepang. Namun, setelah melewati usia lima belas tahun, mereka tidak lagi memakai kepang, dan menjalani upacara kedewasaan, mereka melepas kepangan mereka. Setelah mencuci rambut, mereka menyanggulnya dan menyematkan jepit rambut, yang menandakan bahwa mereka telah menjadi dewasa dengan menyanggul rambut mereka dan menyematkan jepit rambut, menandakan bahwa mereka telah siap untuk menikah . Oleh karena itu, jepit rambut memiliki peran penting dalam transisi dari anak-anak menuju Jepit rambut juga erat kaitannya dengan pernikahan. Rambut memiliki makna penting dalam budaya Tiongkok. Dalam istilah Tiongkok, pasangan suami istri disebut eac (Jiyfy f. , yang berarti hubungan antara suami dan istri diibaratkan seperti rambut mereka yang terikat bersama. Oleh karena itu, upacara pernikahan sangat menitikberatkan pada rambut. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa di Indonesia tradisi upacara perkawinan dengan cara tradisional semacam tersebut dengan menyisir rambut perempuan ke atas dan menggulungnya kemudian diikat dikenal dengan upacara Ciotao yang sampai saat ini masih dilaksanakan di daerah Tangerang. Ritual ini melibatkan prosesi penyisiran rambut sebanyak empat kali, dengan makna yang melambangkan keharmonisan rumah tangga, berkah keturunan, dan kesehatan panjang umur. Tradisi ini bersifat sakral dan hanya dilakukan sekali seumur hidup. Budaya P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 31849/jpmi. Cio Tao telah disesuaikan dengan masyarakat setempat dan terus berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat Cina Benteng di Tangerang. Selain berfungsi sebagai aksesori, jepit rambut memiliki makna simbolis dalam pernikahan. Dalam pertunangan, tunangan perempuan memberikan jepit rambutnya kepada calon suaminya sebagai tanda janji, mirip dengan pemberian cincin dalam budaya Barat. Setelah menikah, suami mengembalikan jepit rambut tersebut kepada istrinya. Pasangan juga sering menggunakan sehelai rambut atau membelah jepit rambut sebagai tanda janji saat mereka harus berpisah dalam waktu lama. Bahan jepit rambut mencerminkan status sosial seseorang. Wanita dari keluarga kaya mengenakan jepit rambut berbahan emas, perak, atau giok, sementara wanita dari keluarga miskin hanya memiliki jepit rambut dari kayu atau tulang. Jepit rambut juga berfungsi sebagai simbol kecantikan dan status, sering dihiasi dengan pola tradisional yang membawa makna keberuntungan dan kesejahteraan. Selain itu, banyak jepit rambut yang dihiasi dengan pola tradisional Tiongkok yang memiliki makna khusus, seperti harapan akan keberuntungan dan kesejahteraan di masa depan. Jepit rambut tradisional Tiongkok juga sering dilukiskan dalam karya sastra Tiongkok seperti dalam novel dinasti Tang AuJepit rambut giok ungu Huo XiaoyuAy dalam novel romansa Tang ia io . Ae. karya Jiang Fang AuKisah Huo XiaoyuAy (Huo Xiaoyu zhuan usaaO C, ca. dan adaptasi drama The Purple Hairpins (Zichai ji NAo, 1. oleh dramawan Ming. Tang Xianzu un . 0Ae1. Gambar 1 dan 2. Hairpin Sumber : https://w. chinese-showcase. com/blogs/jewelry/what-is-buyao-hair-pin P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 31849/jpmi. Gambar 3. buyao hairpin Sumber : https://w. com/blogs/blob/the-beauty-of-chinese-traditionalhairpin Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Universitas Darma Persada, sebagai program studi yang berkomitmen terhadap pengembangan budaya Tiongkok di Indonesia, melihat pentingnya peran pengabdian masyarakat dalam menjembatani kesenjangan pemahaman ini. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan pembuatan jepit rambut kertas, program ini tidak hanya mengenalkan seni kriya tradisional, tetapi juga menjadi media promosi akademik dan pelatihan softskill mahasiswa. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan melatih peserta dalam pembuatan jepit rambut berbasis kertas sebagai bagian dari seni kriya Tiongkok, serta mengevaluasi dampak dari kegiatan ini terhadap pemahaman budaya mereka. METODE Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah metode praktik langsung . earning by doin. , yang dipadukan dengan pendekatan presentasi Metode ini dipilih karena dinilai efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta terhadap materi berbasis keterampilan budaya, khususnya seni kriya Tiongkok. Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya menerima penjelasan teoretis melalui presentasi dan tayangan video tutorial, tetapi juga langsung mempraktikkan pembuatan jepit rambut kertas secara mandiri dengan bimbingan dari tim pelaksana. Melalui metode praktik langsung ini, peserta diharapkan dapat memperoleh pengalaman konkret dalam membuat karya seni sekaligus memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Peserta dan Lokasi Kegiatan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan oleh Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Universitas Darma Persada dengan melibatkan dua kelompok peserta: Siswa Sekolah Bahasa POLRI (SEBASA POLRI) yang mengikuti Program Outing Bahasa Mandarin, sebanyak 15 peserta didik. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 6 November Siswa-siswi dari berbagai SMA di Jakarta Timur, sebanyak 35 peserta, dalam rangkaian acara Pentas Seni Mahasiswa "OMOIDE Ae Ayo Buat Kenangan Bersama" yang merupakan bagian dari Open House Fakultas Bahasa dan Budaya. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 5 Desember 2024. Seluruh kegiatan dilaksanakan di Ruang TS 60. Gedung Fakultas Bahasa dan Budaya. Universitas Darma Persada. Jakarta. P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 31849/jpmi. Tahapan Kegiatan Kegiatan dilakukan dalam beberapa tahapan, dengan pendekatan yang bersifat edukatif dan aplikatif: Persiapan Materi Tim pelaksana yang terdiri dari empat dosen dan tiga mahasiswa menyusun materi presentasi mengenai sejarah, perkembangan, dan nilai budaya dari seni menggunting kertas . ian zh. dan jepit rambut . Materi dilengkapi dengan contoh visual dan model-model hairpin tradisional Tiongkok. Pemaparan Presentasi Kegiatan diawali dengan presentasi yang menjelaskan asal-usul, makna simbolik, dan transformasi bentuk jepit rambut dalam budaya Tiongkok. Penjelasan juga mencakup keterkaitan antara seni memotong kertas dan desain jepit rambut. Pemutaran Video Tutorial Sebagai pelengkap visual, peserta diajak menonton video DIY berjudul "DIY Chinese Hair Stick Handmade Hairpins Origami" YouTube . ttps://w. com/watch?v=KP-plboZ2HI&t=15. yang menunjukkan proses pembuatan hairpin dari bahan dasar kertas. Sesi Praktik Langsung Peserta dibagi dalam kelompok dan diberikan bahan-bahan berikut: Kertas origami bermotif ukuran 20x20 cm . Mutiara ukuran sedang . Penggaris . Pensil . Gunting . Lem kertas Setiap peserta mengikuti instruksi pembuatan hairpin tahap demi tahap dengan bimbingan langsung dari tim pengajar. Selama praktik, terjadi interaksi aktif dan komunikasi dua arah yang menunjukkan keterlibatan peserta dalam kegiatan ini. Evaluasi Keberhasilan Keberhasilan kegiatan dievaluasi melalui: Observasi langsung terhadap tingkat keterlibatan, antusiasme, dan hasil karya peserta. Diskusi terbuka di akhir sesi untuk menilai pemahaman peserta terhadap nilai budaya di balik pembuatan hairpin. Kuesioner singkat . re-test dan post-test lisa. yang digunakan untuk mengukur perubahan pemahaman siswa tentang seni kriya Tiongkok sebelum dan sesudah kegiatan. P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 31849/jpmi. Gambar 4. Bahan presentasi Sumber : Dokumentasi pribadi Gambar 5. Hairpin kertas Sumber( https://w. com/watch?v=KP-plboZ2HI&t=15. P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 31849/jpmi. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pertama dilaksanakan pada Rabu, 6 November 2024 di Ruang TS 60 Gedung Fakultas Bahasa dan Budaya Universitas Darma Persada untuk siswa Outing Program Bahasa Mandarin SEBASA POLRI sebanyak 15 peserta. Dimulai pukul 09. 00 dan berakhir pukul 12. Siswa SEBASA POLRI mendapatkan mata pelajaran Bahasa Mandarin dan juga mengenal berbagai bentuk kebudayaan Tiongkok namun belum pernah mendapat program pengenalan budaya dengan membuat hairpin ini. Karena belum pernah mendapat program membuat seni kriya Tiongkok berupa hairpin ini, maka pada awalnya dirasa cukup sulit, namun karena panduan yang diberikan cukup detil dan jelas, para siswa dapat mengikuti. Berikut adalah cara membuat paper hairpin sederhana yang terinspirasi dari seni memotong kertas Tiongkok: Langkah-Langkah Membuat Hairpin kertas: Siapkan Pola Desain Tentukan desain yang diinginkan, seperti bunga, daun, kupu-kupu, atau motif tradisional Tiongkok. Gambar pola di atas kertas menggunakan pensil sebagai panduan. Gunting Pola Gunakan gunting kecil untuk memotong pola dengan hati-hati sesuai garis yang sudah digambar. Jika ingin membuat pola berlubang . ut-ou. , lipat kertas untuk mendapatkan simetri yang indah. Bentuk dan Lipat Agar hairpin lebih menarik, beri sedikit lekukan atau lipatan pada bagian kertas untuk menciptakan efek 3D. Gunakan batang pensil untuk melengkungkan ujung-ujung kertas jika diperlukan. Pasang pada Batang Hairpin Oleskan lem di bagian belakang hiasan kertas. Tempelkan dengan hati-hati pada ujung tusuk sate atau batang hairpin polos bisa juga dengan kertas origami itu sendiri. Pastikan lem mengering sempurna agar hiasan tidak mudah lepas. Tambahkan Hiasan Tambahan (Opsiona. Jika ingin, tambahkan manik-manik kecil, pita, atau ornamen tradisional Tiongkok untuk mempercantik hairpin. Pastikan semuanya terpasang dengan kuat. Finishing Periksa kembali apakah semua bagian sudah menempel dengan baik. Hairpin siap digunakan, dijadikan koleksi atau dijadikan hadiah. P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 31849/jpmi. Gambar 6,7,8,9,10 Kegiatan Membuat Hairpin Kertas bagi Siswa Outing Program Bahasa Mandarin Sumber : Dokumentasi Himpunan Mahasiswa Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Universitas Darma Persada (HIMASCIDA) Kegiatan kedua dilaksanakan pada Kamis 5 Desember 2024 yang juga dilaksanakan di di Ruang TS 60 Gedung Fakultas Bahasa dan Budaya Universitas Darma Persada untuk siswa-siswa SMU se Jakarta Timur sebanyak 35 peserta. Kegiatan ini dilaksanakan bersama dengan kegiatan Open House Fakultas Bahasa dan Budaya Universitas Darma Persada yang dikemas dalam acara Pentas Seni Mahasiswa Omoide Ayo Buat Kenangan Bersama, dan dalam acara ini salah satunya adalah sebagai sarana promosi program studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok (BMKT) mengajarkan pembuatan hairpin bagi siswa-siswa SMU. Dengan memberikan presentasi pada mulanya dan kemudian memutarkan video pembuatan, para siswa langsung belajar praktik membuat hairpin. Para siswa sangat antusias karena dalam pembuatan juga diselingi dengan berbagai games yang dipandu oleh para mahasiswa BMKT. P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 31849/jpmi. Gambar 11,12,13,14 Kegiatan Membuat Hairpin Kertas bagi Siswa-siswa SMU se Jakarta Timur Sumber : Dokumentasi Himpunan Mahasiswa Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Universitas Darma Persada (HIMASCIDA) Sebagai sebuah program studi yang memiliki bidang keilmuan Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok serta menjadi pionir studi Tiongkok di universitas swasta, program studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Universitas Darma Persada berusaha untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan, dan seni kepada masyarakat sehubungan dengan seni tradisi Tiongkok. Kegiatan pembuatan hairpin kertas dirasakan mampu memberikan suatu nilai tambah bagi masyarakat dalam hal ini adalah perubahan perilaku . Dengan membuat seni kriya dari kertas ini dapat menjadikan individu-individu memiliki rasa estetika, kesabatan, hobi yang dapat mengisi waktu luang dan dapat menjadikannya sebagai bentuk koleksi ataupun dapat menjadi nilai tambah lainnya. Kegiatan pengabdian pembuatan hairpin kertas telah mampu memberi perubahan bagi individu-individu untuk menghargai seni tradisi dari kertas sebagai sebuah hobi ataupun mengubah kebiasaan yang semula waktu luang diisi dengan bermain media sosial dapat diganti dengan membuat seni kriya. Bagi program studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Universitas Darma Persada dapat memberikan manfaat berupa sarana promosi dan juga pelatihan softskill bagi mahasiswa program studi BMKT untuk mengembangkan kemampuan bekerjasama, berkomunikasi, menggunakan teknologi informasi, dan juga mengembangkan kemahiran berbahasa dan pengetahuan budaya. 1 Survei dan Evaluasi Untuk menilai perubahan pemahaman, dilakukan pre-test dan post-test lisan secara Hasilnya menunjukkan: Sebelum kegiatan, hanya 4 dari 50 total peserta . %) yang mengetahui tentang seni memotong kertas . ian zh. dan fungsinya dalam budaya Tiongkok. Setelah kegiatan, seluruh peserta . %) dapat menjelaskan kembali makna simbolik jepit rambut dalam budaya Tiongkok dan menyebutkan teknik dasar membuat hairpin dari kertas. Survei kepuasan yang dilakukan secara daring melalui Google Form setelah kegiatan menunjukkan bahwa: 96% peserta menyatakan kegiatan ini menyenangkan. 92% peserta merasa kegiatan ini memperkaya wawasan budaya mereka. 88% peserta ingin mengikuti kegiatan serupa di masa mendatang. Temuan ini sejalan dengan studi oleh Gong . yang menyebutkan bahwa keterlibatan aktif dalam seni kriya berdampak positif terhadap apresiasi budaya dan pengembangan soft skill peserta . Selain itu, hasil ini konsisten dengan laporan Chai et al. yang menunjukkan bahwa praktik langsung dalam seni tradisional meningkatkan kemampuan kolaborasi, konsentrasi, dan kreativitas siswa dalam konteks pembelajaran lintas budaya . P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 31849/jpmi. 2 Pembahasan Hasil kegiatan pengabdian menunjukkan bahwa metode praktik langsung dalam pembuatan hairpin berbasis seni kriya Tiongkok mampu meningkatkan pemahaman dan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran budaya asing. Temuan ini memperkuat berbagai studi yang telah menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis seni kriya berdampak positif terhadap pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik. Penelitian oleh Gong . menyebutkan bahwa kegiatan berbasis seni kriya tradisional seperti jian zhi . eni potong kerta. mampu memperdalam pemahaman lintas budaya karena siswa terlibat langsung dalam nilai simbolik dan proses artistik budaya tersebut. Hal ini sejalan dengan hasil kegiatan ini, di mana tingkat pemahaman siswa meningkat signifikan, dari hanya 8% sebelum kegiatan menjadi 100% setelahnya dalam mengenali makna budaya di balik jepit rambut Tiongkok . Selain itu. Chai et al. dalam jurnal Journal of Modern Languages menekankan pentingnya pendekatan praktik dalam pendidikan seni tradisional sebagai media untuk membangun keterampilan kolaboratif dan konsentrasi, terutama di kalangan generasi muda. Mereka menunjukkan bahwa integrasi seni kriya dalam kegiatan edukatif bukan hanya memperkuat transfer nilai budaya, tetapi juga membantu dalam pembentukan karakter dan softskill . Dalam konteks Indonesia, hasil survei pasca kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta merasa kegiatan ini menyenangkan . %) dan memperkaya wawasan budaya . %). Ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis praktik langsung sangat efektif dalam konteks pengenalan budaya asing, khususnya dalam penguatan pengalaman belajar yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif. Lebih lanjut. Wang et al. dalam Asian Studies Journal menyebut bahwa seni potong kertas Tiongkok tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai sarana komunikasi budaya yang kuat dan dapat menjadi media pendidikan alternatif untuk membentuk pemahaman lintas budaya di tengah masyarakat multicultural . Kegiatan ini juga berdampak pada mahasiswa pendamping yang terlibat dalam pelaksanaan, di mana mereka memperoleh pengalaman dalam mengorganisasi acara, membimbing peserta, serta mengomunikasikan budaya dalam konteks praktis. Hal ini mendukung fungsi pendidikan tinggi dalam mengembangkan softskill mahasiswa melalui pengabdian kepada masyarakat, sebagaimana disarankan oleh Miristianti et al. bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program komunitas dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan penggunaan teknologi. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Universitas Darma Persada yang terdiri dari dosen dan mahasiswa bertujuan untuk memperkenalkan budaya Tiongkok yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengambil tema pengenalan budaya Tiongkok dalam bentuk pengenalan seni kriya Tiongkok kuno yang tetap berkembang saat ini. Budaya yang diperkenalkan adalah dengan membuat seni menggunting kertas berupa hairpin. Dengan memperkenalkan budaya Tiongkok ini selain memperkenalkan budaya itu sendiri juga dapat mendukung berhasilnya proses pembelajaran bahasa Mandarin dan kebudayaan Tiongkok yang ada di program studi BMKT Universitas Darma Persada. Kayanya ragam seni dalam tradisi budaya Tiongkok yang berasal dari zaman Tiongkok kuno dan terus bertahan sampai saat ini memunculkan terjadinya ragam transformasi dan variasi. Salah satunya yaitu seni kriya Tiongkok yang sangat terkenal adalah seni memotong/ menggunting kertas (Chinese paper cuttin. Hairpin dalam sejarahnya adalah sebagai simbol status, identitas, dan juga kedudukan seorang perempuan, pada masa modern ini telah beralih fungsi tidak hanya sebagai simbol status tetapi juga memiliki fungsinya sebagai sebuah seni kriya. Bahan dasar hairpin yang semula adalah giok, emas, perak, dalam transformasinya menjadi seni P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 31849/jpmi. kriya berbahan kertas maka bahan dasarnya adalah kertas origami. Dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut terlihat bahwa pembuatan hairpin sangat diminati dan tidak banyak yang mengetahui pembuatan hairpin dari kertas sebagai bentuk seni kriya Tiongkok. Hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah semua peserta tertarik untuk mempelajari kebudayaan Tiongkok dan kegiatan ini diharapkan akan dilanjutkan pada semester berikutnya. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Darma Persada yang telah memberi dukungan finansial terhadap kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. DAFTAR PUSTAKA