Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 8 Nomor 2 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Pada Jenjang SMP di Kabupaten Bangli Ni Komang Sutriyanti*. I Made Luwih. I Gusti Lanang Agung Suandewa Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Bali. Indonesia *nikomangsutriyanti@uhnsugriwa. Abstract Education is one aspect of life that receives extra attention for the progress of a Indonesia is no exception, which is currently still making great efforts to improve the quality of its education. One of the efforts that has been made by Indonesian people is to implement a new curriculum called Merdeka Curriculum. However, as long as its existence, there were still many schools and teachers who need guidelines to implement it optimally. Based on these problems, it was very appropriate to conduct a study with the title Implementation of the Independent Curriculum in Learning Hindu Religious Education and Ethics at the Junior High School level in Bangli Regency. The aim of this research was to describe the implementation of Merdeka Curriculum in the learning planning stage, learning implementation stage, and learning evaluation stage. Through qualitative research methods with a descriptive naturalistic approach. The results of the research showed that, firstly, at the learning planning stage, the form of implementation of the Merdeka curriculum is carried out in several ways, including: . Holistic deepening of Merdeka curriculum, . Selection of the independent option to change as a reference for Merdeka curriculum, . Preparation of teaching modules based on Merdeka curriculum , . Preparing a variety of teaching materials, . Preparing a variety of learning media, and . Designing formative and summative assessments. Second, at the learning implementation stage, the implementation of Merdeka Curriculum is carried out in several ways, including: . Providing initial diagnostic assessments to determine student diversity, . Implementing differentiated learning, . Applying the Project Based Learning (PjBL) learning model, and . Application of Problem Based Learning (PBL) and Discovery Learning (DL) learning models. And thirdly, at the learning evaluation stage, the form of implementation of the Merdeka curriculum is carried out by implementing a combination of formative and summative assessments. Keywords: Implementation. Merdeka Curriculum. Hindu Religious Education and Character Abstrak Pendidikan menjadi salah satu aspek kehidupan yang mendapatkan perhatian ekstra untuk kemajuan suatu bangsa. Tidak terkecuali di negara Indonesia, yang saat ini masih sangat berupaya dalam meningkatkan mutu pendidikannya. Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh bangsa Indonesia adalah dengan menerapkan suatu kurikulum terbaru yang bernama Kurikulum Merdeka. Namun dalam eksistensinya, masih banyak sekolah dan guru yang memerlukan pedoman untuk mengimplementasikan secara Berdasarkan pada problematika tersebut, sehingga sangat layak untuk melakukan kajian dengan judul Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Bekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli. Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan implementasi Kurikulum Merdeka dalam tahap perencanaan pembelajaran, tahap pelaksanaan pembelajaran, dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH tahap evaluasi pembelajaran. Melalui metode penelitian kualitatif dengan pendekatan naturalistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa. Pertama pada tahap perencanaan pembelajaran, bentuk implementasi kurikulum merdeka dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: . Pendalaman kurikulum merdeka secara holistik, . Pemilihan opsi mandiri berubah sebagai acuan kurikulum merdeka, . Penyusunan modul ajar berbasis kurikulum merdeka, . Penyiapan bahan ajar yang beragam, . Penyiapan media pembelajaran yang beragam, dan . Perancangan penilaian formatif dan sumatif. Kedua pada tahap pelaksanaan pembelajaran, bentuk implementasi Kurikulum Merdeka dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: . Pemberian assesmen diagnostik awal untuk mengetahui keragaman siswa, . Penerapan pembelajaran berdiferensiasi, . Pengaplikasian model pembelajaran Project Based Learning (PjBL), dan . Pengaplikasian model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Discovery Learning (DL). Serta ketiga pada tahap evaluasi pembelajaran, bentuk implementasi kurikulum merdeka dilakukan dengan cara penerapan penilaian kombinasi antara formatif dan sumatif. Kata Kunci: Implementasi. Kurikulum Merdeka. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Pendahuluan Pendidikan merupakan aspek kehidupan yang senantiasa mendapatkan perhatian ekstra dari pemerintah suatu bangsa. Hal ini tidak terlepas dari posisi pendidikan yang sangat sentral dalam mendidik tunas-tunas bangsa menjadi pribadi yang unggul. Pendidikan berkualitas akan memudahkan jalan negara dalam mencetak dan melahirkan generasi bangsa yang mampu menghadapi segala problematika kehidupan. Atas dasar tersebut, sudah menjadi hakikat yang tidak terbantahkan apabila suatu bangsa senantiasa mengupayakan peningkatan kualitas pendidikan untuk generasi mudanya. Menimbang kedepan, generasi muda menjadi pihak yang meneruskan tongkat estafet kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh bangsa Indonesia melalui Kementerian Pendidikan. Kebudan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. Republik Indonesia (RI) untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan yang masih berada di peringkat pertengahan tersebut adalah dengan pencanangan suatu program yang bernama Merdeka Belajar. Dimana salah satu bagian dari program Merdeka Belajar tersebut adalah tercetusnya implementasi kurikulum yang baru dalam dunia pendidikan Indonesia bernama Kurikulum Merdeka (Arifa, 2. Tercetusnya Kurikulum Merdeka tersebut dilandasi oleh Keputusan Menteri Pendidikan. Kebudan. Riset, dan Teknologi (Kepmendikbudriste. RI Nomor 56 Tahun 2022, yang mengatur lebih lanjut mengenai pedoman dalam penerapannya. Melalui penerapannya, program Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) berusaha mewadahi ekosistem AuMerdeka BelajarAy dalam proses pembelajaran. Landasan filosofi merdeka belajar mengarah kepada kondisi proses pembelajaran dimana anak dapat lebih leluasa dalam belajar sesuai dengan hal yang peserta didik minati secara maksimal untuk mengembangkan kompetensinya, serta guru lebih diberikan kebebasan dalam memegang kendali pembelajaran guna melepaskan standar pendidikan yang selama ini dirasa terlalu mengikat (Sartini & Mulyono, 2. Melalui penerapan Kurikulum Merdeka dengan ekosistem merdeka belajar tersebut, diharapkan dapat menjadi jawaban untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia sambil memulihkan proses pembelajaran yang sempat terhantam dan tertinggal akibat dari badai pandemi Covid-19. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Meskipun menjanjikan peningkatan kualitas pendidikan, pada pelaksanaannya belum semua sekolah dalam satuan pendidikan di Indonesia siap untuk menjalankan program IKM tersebut secara sempurna. Hal tersebut didasarkan pada kesiapan dari sisi sumber daya manusia (SDM), sarana dan prasarana, pengetahuan, serta beberapa hal lain yang perlu dipersiapkan oleh sekolah dalam pengimplementasian Kurikulum Merdeka. Atas dasar pertimbangan tersebut. Kementerian Pendidikan. Kebudan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. Republik Indonesia tetap memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk dapat memilih tiga opsi kurikulum yang bisa dipergunakan (Sari et al. Opsi pertama, sekolah masih bisa melaksanakan Kurikulum 2013 yang terdahulu. Opsi kedua, sekolah bisa beranjak sedikit dalam melaksanakan Kurikulum Darurat sebagai hasil dari Kurikulum 2013 yang telah disederhanakan. Serta opsi ketiga, dimana sekolah yang telah siap dan mampu dapat mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Lebih lanjut berkaitan dengan upaya dalam mengintensifkan dan memasifkan pelaksanaan Kurikulum Merdeka di seluruh sekolah Indonesia. Kemendikbudristek RI juga menyediakan tiga pilihan bagi sekolah dalam melaksanakan program IKM melalui jalur mandiri (Nugraha, 2. Diantara 3 pilihan tersebut, terdapat pilihan ketiga yang dikenal dengan istilah AuMandiri BerbagiAy. Pilihan AuMandiri BerbagiAy memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk dapat melaksanakan merdeka belajar secara optimal. Sekolah yang telah melaksanakan pilihan ketiga ini disebut sebagai sekolah penggerak, yaitu sekolah yang dipilih sebagai duta atau sekolah percontohan dari pelaksanaan Implementasi Kurikulum Merdeka karena telah mampu mengembangkan perangkat pembelajaran secara mandiri dan berkenan berbagi dengan sekolah lainnya. Guru dalam Sekolah Penggerak ini disebut juga sebagai Guru Penggerak, yaitu pihak yang menjadi ujung tombak keberhasilan proses implementasi Kurikulum Merdeka di dalam proses Namun pada problematika yang ditemukan di lapangan, belum masifnya penerapan Kurikulum Merdeka diakibatkan oleh beberapa sekolah yang telah dicap sebagai Sekolah Penggerak dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka ternyata belum mampu menjalankan pilihan ketiga untuk berbagi dengan sekolah lainnya secara Disamping itu dalam eksistensi Guru Penggerak yang dikatakan sebagai ujung tombak IKM, juga sangat minim ditemukan peran guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti sebagai Guru Penggerak. Hal tersebut dikarenakan, belum masifnya pengetahuan dan informasi yang diperoleh oleh guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti akan Kurikulum Merdeka dan korelasi IKM dalam pengembangan ajaran agama Hindu di sekolah. Sehingga guru dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti baru memulai dan meraba-raba untuk menjalankan Kurikulum Merdeka. Permasalahan tersebutlah yang terjadi pada pelaksanaan IKM dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di jenjang SMP di Kabupaten Bangli. Padahal dari sisi historis, guru Agama Hindu yang menjadi Guru Penggerak di Kabupaten Bangli berasal dari jenjang SMP. Dengan menimbang problematika tersebut, untuk itulah dalam hal ini sangat menarik untuk mengkaji lebih jauh mengenai implementasi kurikulum merdeka dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti dengan judul implementasi kurikulum merdeka dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran Pendidikan Agama Hindu yang selaras dengan tujuan pelaksanaan IKM, serta semakin memotivasi guru mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti lainnya untuk berkenan menjadi Guru Penggerak sebagai ujung tombak Sekolah Penggerak. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Metode Penelitian disusun dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif yang didasarkan pada pendekatan naturalistik deskriptif. Dimana dengan jenis dan pendekatan tersebut, pada penelitian ini berusaha mendeskripsikan sebuah fenomena/peristiwa secara runtut dan sistematis sesuai dengan apa yang ditemukan di lapangan, dan sesuai dengan keadaan saat ini. Dari sisi lokasi dan waktu, penelitian ini dilakukan selama kurang lebih 6 bulan dan memilih lokasi penelitian di Kabupaten Bangli khususnya pada sekolah penggerak jenjang SMP tahun 2023 (SMP Negeri 1 Bangli. SMP Negeri 3 Bangli dan SMP Negeri Satap 2 Kintaman. Adapun alasan pemilihan lokasi penelitian di Kabupaten Bangli adalah menimbang Kabupaten Bangli merupakan kabupaten yang pertama memiliki guru penggerak pendidikan Agama Hindu di Bali. Selain itu. Kabupaten Bangli juga merupakan salah satu kabupaten yang ada di Bali yang memiliki sekolah penggerak di jenjang SMP. Lebih lanjut dari sumber data, penelitian ini diperoleh melalui sumber primer, yaitu dari guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti, kepala sekolah, dan siswa, serta didukung oleh sumber sekunder dari literatur buku tentang kurikulum merdeka dan artikel ilmiah terkait. Melalui teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, studi kepustakaan dan dokumentasi, data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis data secara interaktif, yaitu data terkait implementasi Kurikulum Merdeka dipilah dan dipilih yang selaras dengan topik kajian (Data Reductio. , data yang telah dipilih disajikan secara naratif (Data Displa. , dan terakhir melakukan penarikan suatu kesimpulan dari data yang telah disajikan (Verificatio. Hasil dan Pembahasan Implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli dikupas secara komprehensif dan terstruktur dalam beberapa sub bahasan. Sub bahasan tersebut mengarah kepada bagaimana warga sekolah, khususnya guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti bersama siswa dalam memahami dan menerapkan pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka yang terbilang inovasi terbaharukan di bidang pendidikan. Hal ini dilakukan guna memudahkan penjabaran dan implementasi Kurikulum Merdeka secara lebih terstruktur dan sistematis. Penjabaran tentang bentuk implementasi Kurikulum Merdeka dibagi secara sistematis dan terstruktur menjadi tiga tahapan utama. Tiga tahapan tersebut antara lain: Tahap Perencanaan Pembelajaran, . Tahap Pelaksanaan Pembelajaran, dan . Tahap Evaluasi Pembelajaran. Pembahasan dan penjabaran sub-sub bahasan tersebut yang berdasarkan tiga tahapan pembelajaran diterangkan secara lebih lanjut sebagai berikut: Tahap Perencanaan Pembelajaran Tahap Perencanaan adalah tahap pertama sekaligus permulaan yang dilakukan dalam mengimplementasikan proses pembelajaran. Kegiatan perencanaan mengarah kepada usaha memahami, merancang, menyiapkan, serta mengintegrasikan tujuan, kebijakan, dan rangkaian yang dapat berubah sesuai dengan keputusan bersama menjadi kesatuan yang utuh. Tahap Perencanaan menjadi formulasi yang wajib disusun dengan Hal ini dilakukan guna terciptanya proses pembelajaran dalam penerapan Kurikulum Merdeka Belajar yang baik serta agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan baik pihak sekolah maupun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lebih mengkhusus kepada peran guru sebagai pendidik, tahap perencanaan juga mengarah kepada aktivitas-aktivitas awal yang dilaksanakan oleh pendidik guna https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH melakukan analisis karakter pengajaran yang kedepan bisa berguna dalam aktivitas Tujuan dilaksanakan tahap perencanaan ini adalah agar pendidik mempunyai pedoman untuk lebih siap dalam melaksanakan pendidikan secara lebih efisien, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan para siswa (Ramadhani dkk. , 2. Dalam tahap ini, dikaitkan dengan implementasi Kurikulum Merdeka secara garis besar guru dimandatkan untuk memahami lebih dalam, merancang, menyiapkan, menyusun rencana, modul, dokumen-dokumen, model, pola, bentuk, dan kunstruksi pembelajaran yang selaras dengan esensi Kurikulum Merdeka. Begitu juga jika dikaitkan dengan bentuk implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli. Tahap perencanaan ini sangat penting untuk dapat menciptakan iklim pembelajaran yang maksimal dan optimal. Terlebih lagi, tahap perencanaan menjadi tahap dasar untuk dapat membantu memperlancar proses pendidikan di penerapan Kurikulum Merdeka Belajar yang dinilai lebih fleksibel. Hal ini menjadi cermin kedepannya yang dapat membuat guru dan peserta didik bebas mengeksplorasi diri dalam dunia pendidikan, serta tidak terikat dengan ketentuan yang monoton. Untuk lebih jelasnya, pada bagian ini akan dijelaskan secara lebih lanjut bentuk implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli dalam tahap perencanaan pembelajaran. Pendalaman Kurikulum Merdeka secara Holistik Langkah pertama di tahap perencanaan pembelajaran implementasi Kurikulum Merdeka adalah dimana guru-guru memahami terlebih dahulu hakikat Kurikulum Merdeka secara holistik dan konferehensif. Pemahaman ini penting, mengingat hakikat Kurikulum Merdeka terbilang inovasi yang terbilang baru dari Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Tekonologi (Kemendikbudriste. , sehingga perlu pemahaman yang terbuka untuk guru dapat mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran. Pemahaman akan hakikat Kurikulum Merdeka juga berguna sebagai pegangan guru dalam menyiapkan perencanaan pembelajaran yang benar dan optimal. Hal tersebut penting, agar esensi memerdekakan atau memanusiakan manusia dapat tercapai, serta tidak keluar dari rambu-rambu yang telah ditetapkan. Hal yang sama juga diimplementasikan oleh guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli dalam penerapan Kurikulum Merdeka. Di tahap perencanaan awal, para guru secara terbuka mengeksplor pengetahuan dan pemahaman tentang hakikat Kurikulum Merdeka sebagai asas membuat rancanagan Dimana sumber pemahaman tentang hakikat Kurikulum Merdeka yang guru peroleh juga berasal dari sumber beragam, baik Platform Merdeka Belajar. Workshop, dan lain-lain. Dengan demikian, rancangan pembelajaran kedepannya dapat tersusun dengan baik sesuai dengan tujuan yang diamanatkan. Sebagai pendukung pembahasan tersebut. Dewa Ngakan Made Ekayana Putra sebagai salah satu guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N 1 Bangli mengemukakan pandangannya, bahwa Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum baru yang diimplementasikan dengan pembelajaran berdiferensiasi konten, media dan proses yang beragam dengan tujuan agar murid dapat lebih optimal dan memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi murid. Dimana pengetahuan ini diperoleh dari sumber Platform Merdeka Mengajar (PMM) dan Workshop Kurikulum Merdeka. (Wawancara, 10 Juni 2. Lebih lanjut hal yang sama juga dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N 3 Bangli, dimana Sang Ayu Made Yoki Gitasari dalam sesi wawancara mengemukakan pandangan tentang hakikat Kurikulum Merdeka setelah mendalami pemahamannya, bahwa Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang dimana https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dalam pembelajaran intrakurikuler memberikan kebebasan dalam memilih media dan perangkat ajar yang akan diberikan kepada peserta didik, dimana dalam proses nya berpusat kepada peserta didik dalam menentukan kebutuhannya, agar sesuai dengan bakat, minat dan potensi peserta didik masing-masing dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Sumber pemahaman ini, diperoleh dari pelatihan yang diadakan di tingkat MGMP kabupaten dan provinsi. Kegiatan Workshop Sekolah, kegiatan Pelatihan Mandiri (PMM), serta pengimbasan antar guru di sekolah (Wawancara, 19 Agustus 2. Jadi dari penuturan para guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti tersebut sebagai responden, dapat diketahui bahwa di tahap perencanaan pembelajaran guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli melakukan pemahaman yang mendalam terlebih dahulu tentang hakikat Kurikulum Merdeka sebagai dasar merancang dan melaksanakan proses pembelajaran di tahap lebih Pemahaman ini guru peroleh dari berbagai sumber, baik Platform Merdeka Mengajar (PMM). Kegiatan Workshop. Pelatihan. Webinar, dan kegiatan mandiri. Hal ini tercermin dari pemahaman guru yang telah holistik dan komprehensif dalam menjabarkan esensi dari Kurikulum Merdeka itu sendiri. Pemahaman yang dijadikan pedoman dalam menerapkan dan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara lebih optimal dan maksimal. Pemilihan Opsi Mandiri Berubah sebagai Acuan Kurikulum Merdeka Bentuk kedua di tahap perencanaan pembelajaran implementasi Kurikulum Merdeka adalah sekolah terlebih dahulu memilih opsi penerapan Kurikulum Merdeka itu Kemendikbudristek (Nurzila, 2. telah mengemukakan 3 buah opsi yang bisa dipilih oleh sekolah dalam menerapkan Kurikulum Merdeka tergantung situasi, kondisi, dan kesiapan sekolah masing-masing. Ketiga Opsi tersebut antara lain: . Mandiri Belajar, . Mandiri Berubah, . Mandiri Berbagi. Ketiga opsi dan pilihan tersebut didukung juga oleh adanya angket kesiapan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) yang tersedia untuk mengukur seberapa siap sekolah melaksanakan IKM, serta opsi IKM mana yang cocok untuk dipilih dan diaplikasikan di sekolah. Penjabaran mengenai ketiga opsi tersebut (Nugraha, 2. , antara lain: Mandiri Belajar sebagai opsi pertama, dimana sekolah yang memilih opsi ini diberikan keleluasaan untuk tetap memakai kurikulum terdahulu namun dapat menerapkan hanya beberapa bagian dan prinsip dari Kurikulum Merdeka. Mandiri Berubah sebagai opsi kedua, dimana sekolah yang memilih opsi kedua ini diberikan keleluasaan dalam menerapkan IKM secara sempurna, namun perangkat pelajaran yang digunakan masih berasal dari perangkat yang tersedia sebelumnya terutama dari pemerintah. Mandiri Berbagi sebagai opsi ketiga, dimana sekolah yang memilih opsi ini diberikan keleluasaan dalam menerapkan Kurikulum Merdeka secara sempurna bahkan dengan perangkat ajar yang bisa dikembangkan sendiri, serta mampu berbagi dengan sekolah lain mengenai pelaksanaan IKM itu sendiri. Dari penjabaran ketiga opsi tersebut, berdasarkan data di lapangan dan keterangan dari Kepala SMP di Kabupaten Bangli yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka, secara kompak menyatakan memiliki opsi AuMandiri BerubahAy. Sekolah tersebut diantaranya SMP N 1 Bangli. SMP N 3 Bangli, dan SMP N Satap 2 Kintamani. Opsi ini dipilih, dengan menimbang situasi, kondisi, dan kesiapan sekolah. Lebih lanjut. I Wayan Agus Adi Wiguna selaku Kepala SMP N 1 Bangli sebelumnya juga mengemukakan keterangan yang sama dalam menggunakan opsi Mandiri Berubah (Wawancara, 10 Juni https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kemudian sebagai penguat. Dewa Ngakan Made Ekayana Putra selaku guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N 1 Bangli juga mengemukakan pandangannya terkait pemilihan opsi yang dipilih sekolahnya yaitu Mandiri Berubah. Pada sesi wawancara, ditambahkan terkait pedoman peraturan yang melandasi sekolahnya berkenan mengimplementasikan Kurikulum dari Permendikbudristek No. Tahun 2022, tentang SKL menjadi acuan untuk Kurikulum 2013. Kurikulum darurat dan Kurikulum Merdeka. Permendikbudristek No. 7 Tahun 2022 tentang Standar isi menjadi acuan untuk Kurikulum 2013. Kurikulum darurat dan Kurikulum Merdeka. Permendikbudristek No. 262/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. Memuat struktur Kurikulum Merdeka, aturan terkait pembelajaran dan asesmen. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, serta beban kerja guru (Wawancara, 10 Juni 2. Jadi berdasarkan pembahasan tersebut, dapat diketahui bahwa pemilihan opsi merupakan bentuk implementasi kedua yang dilakukan oleh sekolah pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli dalam menerapkan Kurikulum Merdeka di tahap perencanaan Dimana pemilihan opsi ini penting sebagai dasar atau asas oleh guru dalam menyiapkan rancangan pembelajaran di sekolah yang mendasarkan diri pada situasi, kondisi, dan kesiapan sekolah masing-masing. Dengan pertimbangan tersebut, dipilih opsi AuMandiri BerubahAy yang juga didasarkan pada landasan yuridis terutama yang berasal dari Permendikbudristek RI. Penyusunan Modul Ajar Berbasis Kurikulum Merdeka Bentuk ketiga di tahap perencanaan pembelajaran implementasi Kurikulum Merdeka dalam pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli adalah guru menyusun Modul Ajar. Modul Ajar ini merupakan sebuah materi pembelajaran yang disusun secara intensif dan sistematis dengan berdasarkan prinsip pembelajaran yang disusun oleh guru kepada siswa (Maulida, 2. Modul Ajar menjadi satu unit program belajar-mengajar yang tersusun secara sistematis dan utuh, memuat pengalaman pembelajaran terencana untuk mencapai tujuan pembelajaran yang juga telah disusun secara khusus dan jelas. Terlebih dengan adanya Kurikulum Merdeka. Modul Ajar menjadi substansi sentral yang sangat urgen bagi guru dalam merancang dan menyiapkan proses pembelajaran. Dengan demikian, guru dapat merancang pembelajaran yang mampu mewadahi segala minat dan bakat peserta didik secara terbuka dan merdeka dalam menguasai suatu pelajaran, sesuai prinsip Kurikulum Merdeka. Modul Ajar di Kurikulum Merdeka oleh guru juga berguna dalam mengembangkan karakter berdasarkan konten pembelajaran dan Profil Pelajar Pancasila. Sehingga fungsi dari Modul sebagai media yang memuat rencana pelaksanaan pembalajaran yang berlandasakan kurikulum, serta mengarahkan proses pembelajaran berbasis merdeka belajar dapat terealisasikan dengan baik sesuai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan (Siloto dkk. , 2. Berkaitan dengan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) di tahap perencanaan pembelajaran yang menyusun Modul Ajar. I Nengah Asrama Juta Ningrat selaku guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N 1 Bangli mengemukakan pendapatnya bahwa, yang tergolong bentuk implementasi di Tahap Perencanaan Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Merdeka adalah penyusunan Modul Ajar. Hal ini sesuai dengan Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022, sehingga yang disusun dalam tahap perencanaan pembelajaran adalah Modul Ajar yang terintegrasi pembelajaran berdifrensiasi. Setidaknya dalam perencanaan tersebut terdapat: . Tujuan Pembelajaran, . Langkah-langkah pembelajaran dan . Asesmen pembelajaran (Wawancara, 23 Juli 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Lebih lanjut, hal yang sama sebelumnya juga diutarakan oleh Ni Nyoman Sriasih Ratnawati selaku guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N Satap 2 Kintamani. Dimana melalui proses wawancara, diterangkan hal yang perlu dipersiapkan dalam tahap perencanaan, diantaranya: . Tujuan Pembelajaran (TP) yang diturunkan dari Capaian Pembelajaran (CP) yang telah ditetapkan oleh pemerintah, kemudian setelah memperoleh TP dilanjutkan menyusun . Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) kemudian . Modul Ajar (MA) (Wawancara, 16 September 2. Jadi berdasarkan pembahasan tersebut, dapat diketahui bahwa penyusunan Modul Ajar merupakan bentuk implementasi ketiga yang dilakukan oleh guru pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli dalam menerapkan Kurikulum Merdeka di tahap perencanaan pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Dimana penyusunan Modul Ajar ini difungsikan sebagai pedoman yang memuat pembelajaran berdiferensiasi terintegrasi, dengan berdasar pada: . Tujuan Pembelajaran, . Langkah-langkah pembelajaran, dan . Asesmen pembelajaran. Lebih lanjut. Modul Ajar dalam Kurikulum Merdeka yang disusun oleh guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti secara sistematis juga mengacu pada Capaian Pembelajaran (CP). Tujuan Pembelajaran (TP), dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). Penyiapan Bahan Ajar yang Beragam Bentuk keempat di tahap perencanaan pembelajaran implementasi Kurikulum Merdeka dalam pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli adalah guru menyiapkan bahan ajar yang beragam. Sesungguhnya sudah menjadi sesuatu hal yang lumrah bagi pendidik untuk menyiapkan materi pembelajaran sebagai instrument bahan ajar di tahap perencanaan pembelajaran. Penyiapan bahan ajar ini, kemudian diseleraskan dengan tingkat kelas, jenjang pendidikan siswa, dan kurikulum yang berlaku dalam satuan pendidikan, termasuk pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Secara lebih lanjut, dari sisi definisi bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang bisa dipergunakan oleh guru untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas (Badra, 2. Dari sisi bentuk, jenis bahan ajar meliputi bentuk tertulis dan tidak tertulis, berdasarkan minat dan keahlian guru dalam menyesuaikanya dengan materi Hal ini juga diselaraskan dengan Capaian Pembelajaran. Tujuan Pembelajaran, serta karakteristik siswa yang beragam di dalam kelas sesuai asas Kurikulum Merdeka. Sehingga, bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan akan sangat membantu guru dan siswa dalam mengembangkan proses pembelajaran berdiferensiasi. Dengan menelaah urgensinya hakikat bahan ajar tersebut di tahap perencanaan pembelajaran, tidak salah apabila guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli juga turut memanfaatkan kesempatan penyusunan bahan ajar yang beragam untuk memenuhi tujuan pembelajaran di Kurikulum Merdeka. Dalam penyiapan bahan ajar yang beragam dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di jenjang SMP, disisipkan pula pengetahuan tentang Profil Pelajar Pancasila dalam sebuah Modul. Ini menjadi keseriusan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka yang tidak hanya berfokus pada aspek pengetahuan . , namun bagaimana juga mengembangkan aspek sikap . dan keterampilan . , berdasarkan nilai luhur Pancasila sebagai Dasar sekaligus nilai filosofi bangsa Indonesia. Berbicara lebih lanjut mengenai implementasi ini, dalam kutipan wawancara bersama salah satu guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N 1 Bangli yakni Dewa Ngakan Made Ekayana Putra, diungkapkan pendapatnya menyiapkan bahan ajar yang beragam untuk memenuhi pengembangan minat, bakat, dan karakter siswa yang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH beragam dalam mengikuti proses pembelajaran. Bahan ajar tersebut, antara lain, seperti Buku Teks Pelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti. Modul Ajar, dan Modul Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (Wawancara, 10 Juni 2. Terkait penyiapan dan pemanfaatan berbagai bentuk bahan ajar, hal yang sama juga diutarakan oleh Sang Ayu Made Yoki Gitasari selaku guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N 3 Bangli. Dimana dikemukakan pendapatnya mengenai bahan ajar dalam sesi wawancara, antara lain: 1. Rincian Minggu efektif, 2. Prota Promes, 3. TP/ATP. KKTP, 4. Kalender Pendidikan, 5. Modul Ajar, 6. LKPD, 7. Bahan Ajar berbasis Power Point, dan 8. Video Pembelajaran (Wawancara, 19 Agustus 2. Jadi berdasarkan pembahasan tersebut, dapat diketahui bahwa penyiapan bahan ajar yang beragam merupakan bentuk implementasi keempat yang dilakukan oleh guru pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli dalam menerapkan Kurikulum Merdeka di tahap perencanaan pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Dimana penyiapan bahan ajar yang beragam ini difungsikan sebagai materi pelajaran yang akan menjadi bahan proses belajar-mengajar di dalam kelas. Keberagaman bahan ajar tersebut juga menjadi ciri dari proses pembelajaran di Kurikulum Merdeka yang diharapkan mampu memfasilitasi minat, bakat, kemampuan, dan karakter siswa yang beragam sesuai prinsip merdeka belajar. Keberagaman bahan ajar yang dipergunakan antara lain: . Buku Teks Pelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti, . Modul Ajar, . Bahan Ajar berbasis Power Point, dan . Bahan Ajar berbasis Video. Keberagaman bahan ajar ini juga diarahkan sebagai pengembang aspek sikap dan keterampilan siswa berdasarkan nilai luhur Pancasila sebagai filosofi bangsa Indonesia. Penyiapan Media Pembelajaran yang Beragam Bentuk kelima di tahap perencanaan pembelajaran implementasi Kurikulum Merdeka dalam pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli adalah guru menyiapkan media pembelajaran yang beragam. Hal ini merupakan keberlanjutan dari implementasi sebelumnya yanag menyiapkan bahan ajar yang beragam, sehingga diperlukan juga media pembelajaran yang beragam. Lebih lanjut, menimbang fungsi dari media pembelajaran dalam proses belajar-mengajar yang bermanfaat sebagai alat bantu pendidik dalam menciptakan proses pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien (Gawise, at al. , 2. Pembelajaran dikatakan berlangsung secara efektif, apabila situasi kelas mampu memudahkan guru selaku pendidik dalam menyampaikan bahan ajar kepada peserta Terlebih lagi di Kurikulum Merdeka, pemilihan media pembelajaran yang tepat dan beragam juga dituntut agar mampu menyokong pengembangan kompetensi peserta didik, sehingga lebih semangat dan termotivasi dalam mengikuti proses belajar-mengajar. Oleh karena itu, media pembelajaran sebagai perantara penyampaian bahan ajar juga menjadi aspek urgen oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal dan Hal ini termasuk dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di jenjang SMP. Pada tahap perencanaan pembelajaran, guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli menyiapkan beberapa jenis media pembelajaran yang beragam untuk dipergunakan sebagai senjata dalam proses pembelajaran Kurikulum Merdeka. Berkaitan dengan hal tersebut, mengutip hasil dari sesi wawancara . Juli 2. I Nengah Asrama Juta Ningrat sebagai salah satu guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N 1 Bangli mengemukakan pendapatnya menyiapkan beberapa jenis media pembelajaran untuk memenuhi pengembangan kompetensi siswa yang beragam dalam mengikuti proses pembelajaran. Media pembelajaran tersebut antara lain, media pembelajaran dalam bentuk: Media interaktif (Vide. , kuis. LKPD. Buku Penunjang, dan Power Point (PPT). https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berkaitan dengan penyiapan dan pemanfaatan berbagai bentuk media pembelajaran, hal yang sama juga diutarakan oleh Sang Ayu Made Yoki Gitasari selaku guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N 3 Bangli. Dimana dikemukakan pendapatnya mengenai media pembelajaran, seperti Power Point dari Canva, dan game/kuis berbasis online seperti bambozel, word wall, khoot, kemudian LKPD yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yang didalam prosesnya terdapat berdiferensiasi yaitu ada berupa video, gambar, mind map, dan poster (Wawancara, 19 Agustus 2. Jadi berdasarkan pembahasan tersebut, dapat diketahui bahwa penyiapan media pembelajaran yang beragam merupakan bentuk implementasi kelima yang dilakukan oleh guru pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli dalam menerapkan Kurikulum Merdeka di tahap perencanaan pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Dimana penyiapan media pembelajaran yang beragam ini difungsikan sebagai media perantara penyampaian bahan ajar yang juga dipersiapkan beragam. Keberagaman media pembelajaran tersebut menjadi ciri dari proses pembelajaran di Kurikulum Merdeka yang diharapkan mampu memfasilitasi minat, bakat, kemampuan, dan karakter siswa yang beragam sesuai prinsip merdeka belajar. Keberagaman media pembelajaran yang dipergunakan oleh guru antara lain: . Media Pembelajaran Berbasis Video, . Kuis, . LKPD, . Buku Penunjang, . Power Point (PPT), . Game/Kuis berbasis Online, serta . Media Pembelajaran berbasis Cetak dalam wujud gambar, mind map, dan poster. Perancangan Penilaian Formatif dan Sumatif Bentuk keenam di tahap perencanaan pembelajaran implementasi Kurikulum Merdeka dalam pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli adalah guru merancang penilaian formatif dan sumatif. Penilaian Formatif adalah penilaian yang dilakukan pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung, bertujuan untuk mengetahui perkembangan penguasaan dan kompetensi peserta didik selama proses pembelajaran, serta hasilnya dipakai sebagai refleksi memperbaiki proses pembelajaran yang sedang berlangsung dan tidak dipakai dalam peilaian rapor. Sementara Penilaian Sumatif merupakan jenis penilaian yang dilakukan pada akhir proses pembelajaran, bertujuan mengetahui pencapaian komptensi setelah pembelajaran selesai, menjadi refleksi penguasaan materi dari peserta didik, serta menjadi acuan dalam penilaian rapor (Adinda, at al. , 2. Dari sisi bentuk, jenis penilaian formatif berbentuk berulang baik berupa kuis, esai, dan aktivitas pembelajaran yang biasanya memerlukan waktu selama satu semester untuk melaksanakannya. Sementara jenis penilaian sumatif, dapat berbentuk kualitatif dan kuantitatif tergantung aspek yang dinilai. Khusus pada penilaian aspek pengetahuan, biasanya wujud dari jenis penilaian sumatif berupa test tugas akhir atau ulangan yang bertipe pilihan ganda, isian, atau esai sesuai kebutuhan dan tujuan pendidikan (Adinda , 2. Meskipun berbeda, keduanya tetap dijadikan acuan sebagai bahan evaluasi di dalam sistem Kurikulum Merdeka. Seperti yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N 1 Bangli, yakni I Nengah Asrama Juta Ningrat. Dimana dalam sesi wawancara disiapkan alat evaluasi yang berdasarkan pada jenis penilaian formatif dan sumatif. Penilaian Formatif terdiri dari: . Tes Awal Potensi Siswa/Asesmen Awal Kogniti. , dan . Penilaian Perbaikan Proses Pembelajaran dalam 1 TP. Sedangkan Asesmen Sumatif dirancang untuk mengukur ketercapaian beberapa Tujuan Pembelajaran yang dilaksanakan diakhir konten, dan diakhir semester (Wawancara, 23 Juli 2. Dari penuturan tersebut, semakin mempertegas esensi pentingnya perancangan penilaian Formatif dan Sumatif di pelaksanaan Kurikulum Merdeka. Asas penilaian ini didasarkan pada Permendikbudristek RI Nomor 21 Tahun 2022. Penilaian Formatif https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH terdiri dari: . Tes Awal Potensi Siswa/Asesmen Awal Kogniti. , dan . Penilaian Perbaikan Proses Pembelajaran dalam 1 TP. Kemudian Penilaian Sumatif dirancang untuk mengukur ketercapaian beberapa Tujuan Pembelajaran yang dilaksanakan diakhir konten dan semester. Kemudian lebih lanjut, hal yang sama juga diutarakan oleh Ni Nyoman Sriasih Ratnawati selaku guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N Satap 2 Kintamani, dimana di tahap perencanaan pembelajaran, dirinya juga telah merancang penilaian dalam bentuk formatif dan sumatif. Pada Kurikulum Merdeka penilaian atau asesmen biasanya dibedakan menjadi 2 penilaian tersebut. Formatif untuk menilai proses, dan Sumatif untuk menilai hasil akhir. Untuk penilaian menggunakan alat penilaian berupa rubrik, ceklis, catatan anekdotal, dan grafik perkembangan. Instrumen penilaian berdasarkan teknik penilaian: observasi, kinerja, projek, portofolio, tes tertulis, tes lisan, dan penugasan (Wawancara, 16 September 2. Jadi berdasarkan pembahasan tersebut, dapat diketahui bahwa perancangan jenis penilaian formatif dan sumatif merupakan bentuk implementasi keenam yang dilakukan oleh guru pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli dalam menerapkan Kurikulum Merdeka di tahap perencanaan pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Dimana perancangan jenis penilaian dan bentuk tes ini difungsikan sebagai media penilaian serta evaluasi sejauh mana keberhasilan proses dan hasil belajar siswa. Penilaian Formatif difungsikan untuk menilai proses dan mengavaluasi jalannya aktivitas belajar-mengajar. Sementara Penilaian Sumatif difungsikan sebagai jenis penilaian untuk mengukur hasil akhir proses pembelajaran siswa dalam bentuk hasil belajar di dalam Kurikulum Merdeka. Bentuk tes atau instrument juga dipersiapkan secara beragam berdasarkan wujud dan teknik penilaiannya. Dimana berdasarkan wujud, bentuk tes terdiri atas rubrik, ceklis, catatan anekdotal, dan grafik perkembangan. Sementara instrumen penilaian berdasarkan teknik penilaian, terdiri atas observasi, kinerja, projek, portofolio, tes tertulis, tes lisan, dan penugasan untuk menilai seberapa besar tingkat keberhasilan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Tahap Pelaksanaan menjadi tahap kedua yang perlu diaplikasikan dalam menjalankan proses pembelajaran. Lebih lanjut dalam bidang pendidikan, tahap pelaksanaan pembelajaran adalah pusat sekaligus inti dari aktivitas belajar-mengajar. Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, guru sebagai pendidik, bertanggung jawab dalam memastikan proses transfer ilmu pengetahuan melalui bahan ajar, media pembelajaran, dan metode pembelajaran yang tepat sampai kepada siswa selaku peserta didik dengan baik, optimal, dan maksimal. Hal ini dilakukan selaras dengan Capaian Pembelajaran (CP). Tujuan Pembelajaran (TP). Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), dan Modul Pembelajaran (MP) yang telah dipersiapkan di tahap perencanaan. Esensi dari pelaksanaan tahap pelaksanaan pembelajaran adalah tahap pokok dimana guru memberikan pengajaran, bimbingan, dan pendampingan kepada siswa agar mampu menggali potensi dan meningkatkan kompetensinya sesuai tujuan pembelajaran (Adrianto, 2. Lebih lanjut pada tahap pelaksanaan, guru dimandatkan secara umum untuk dapat menjalankan tugasnya sebagai pendidik yang melaksanakan rencana, mengaplikasikan model, pendekatan, dan memanfaatkan segala fasilitas untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Terlebih di Kurikulum Merdeka, semua hal tersebut mesti bisa disinergikan oleh guru untuk dapat mengembangkan kompetensi dan potensi siswanya yang beragam. Implementasi Kurikulum Merdeka dalam tahap pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti juga menerapkan hal sama demi tercapainya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH tujuan pendidikan. Begitu juga yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di beberapa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bangli yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka dan berkenan menjadi Sekolah Penggerak. Terdapat beberapa perbedaan, baik dari sisi penggunaan pendekatan pembelajaran, memunculkan inovasi, metode dan tipe pembelajaran yang mengutamakan keberagaman siswa dari sisi karakter dan potensi, serta esensi pembelajaran yang lebih terbuka untuk mengutamakan proses, tidak hanya berpaku pada hasil pembelajaran semata. Berikut akan dijabarkan secara lebih lanjut, bentuk-bentuk implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli, khususnya pada tahap pelaksanaan pembelajaran. Pemberian Assesmen Diagnostik Awal untuk Mengetahui Keragaman Siswa Bentuk pertama di tahap pelaksanaan pembelajaran implementasi Kurikulum Merdeka adalah dimana guru-guru melaksanakan assesmen atau tes diagnostik awal kapada para siswa. Pemberian assesmen diagnostik awal ini, difungsikan sebagai alat atau media mengetahui minat, bakat, karakter, kecerdasan, dan keragaman lainnya pada diri siswa dalam menjalani proses pembelajaran di dalam Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM). Hasil diagnostik awal tersebut juga bisa dijadikan pedoman oleh guru untuk merancang ekosistem belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa yang memiliki karakter beragam di dalam kelas. Hal yang sama juga diimplementasikan oleh guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli dalam penerapan Kurikulum Merdeka. Di tahap pelaksanaan pembelajaran awal, para guru melakukan diagnostik awal kapada siswa menggunakan alat dan jenis penilaian formatif yang telah dipersiapkan di tahap perencanaan pembelajaran sebelumnya. Tujuan dari pemberian diagnostik awal ini adalah untuk mengetahui kelebihan dan penyakit peserta didik di awal pembelajaran, kemudian guru dapat mencarikan solusi atau obat untuk menyembuhkannya (Sasomo & Rahmawati, 2. Dari sisi jenis. Assesmen diagnostik ini juga dibedakan menjadi dua, yakni . Assesment Non-Kognitif untuk menilai menggali tingkat emosional, sosial, dan psikologis peserta didik, serta . Assesment Kognitif untuk menilai kinerja kompetensi siswa dalam ranah pengatahuan atau kognitif. Sebagai pendukung pembahasan tersebut. Dewa Ngakan Made Ekayana Putra sebagai salah satu guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N 1 Bangli mengemukakan pandangannya mengenai diagnostik awal yang ia pergunakan untuk menilai kemampuan dan minat murid, gaya belajar murid untuk mengetahui tingkat kemampuan masing-masing murid, sehingga dari hasil ini dijadikan pedoman untuk membuat perencanaan pelaksanaan pembelajaran secara lebih lanjut untuk pembelajaran. Ketika ada kendala dalam hal pelaksanaan pembelajaran maka perlu berkolaborasi dengan teman sejawat (Wawancara, 10 Juni 2. Lebih lanjut hal yang sama juga dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N Satap 2 Kintamani, dimana Ni Nyoman Sriasih Ratnawati dalam tahap awal pelaksanaan pembelajaran, saya biasanya melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid dan gaya belajar murid dengan melakukan asesmen awal Hal ini menjadi penting untuk mengetahui keberagaman karakter dan komptensi siswa di dalam kelas (Wawancara, 16 September 2. Jadi dari penuturan kedua guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti tersebut sebagai responden, dapat diketahui bahwa di tahap awal pelaksanaan pembelajaran guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli melakukan diagnostik awal kepada para siswa dengan memberikan Assesment awal ini merupakan wujud keberlanjutan dari alat dan jenis penilaian formatif yang telah dipersiapkan di tahap persiapan pembelajaran sebelumnya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH untuk menilai dan memperbaiki proses pelaksanaan pembelajaran. Dari sisi fungsional, assessment diagnostik awal ini digunakan sebagai media guru untuk mengetahui gaya belajar murid dan tingkat kemampuan masing-masing murid, sehingga dari hasil ini bisa dijadikan pedoman untuk membuat perencanaan pelaksanaan pembelajaran secara lebih Lebih lanjut, pemberian assessment diagnostik awal ini menjadi penting untuk mengetahui keberagaman karakter siswa dalam suatu kelas dan memetakan potensi serta kompetensi siswa di dalam kelas, sehingga menjadi pedoman penyusunan rancangan pembelajaran kedepannya. Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Bentuk kedua di tahap pelaksanaan pembelajaran implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Busi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli adalah penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Menurut (Pitaloka & Arsanti, 2. menyatakan pembelajaran berdiferensiasi adalah tipe pembelajaran dimana guru selaku pendidik melakukan cara atau upaya untuk memenuhi kebutuhan murid. Atas dasar tersebut, pembelajaran berdiferensiasi menjadi tipe pembelajaran pokok yang bisa diberdayakan guru untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka di dalam dunia pendidikan. Pembelajara Berdiferensiasi mampu mewadahi perkembangan potensi dan kompetensi yang memiliki karakter yang beragam. Menimbang esensi dan kelebihan pembelajaran berdiferensiasi tersebut, membuat guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli menerapkannya dalam tahap pelaksanaan pembelajaran. Dimana dari hasil diagnostik awal, dengan pembelajaran berdiferensiasi guru dapat memetakan beberapa keragaman pada diri siswanya (Pitaloka & Arsanti, 2. , antara lain: Keragaman Sifat yang berdasarkan pada watak dan tingkah laku peserta didik, . Keragaman Gaya Belajar yang cocok untuk siswanya, baik yang bertipe Visual . Audiotory . , maupun Kinestetik . ktivitas langsun. , . Keragaman Kecerdasan yang memetakan perbedaan keunggulan kompetensi siswa baik yang unggul di bidang verbal . , musik, matematika atau Dengan demikian, guru dapat menciptakan iklim pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan, minat, bakat, gaya belajar, dan profil belajar individu setiap siswa selaku peserta didik. Lebih lanjut. I Nengah Asrama Juta Ningrat selaku guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti lainnya di SMP N 1 Bangli juga mengemukakan pandangannya terkait pemilihan opsi pembelajaran berdiferensiasi yang dipilih Pada sesi wawancara, ditambahkan terkait pedoman pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi serta perbedaan pendekatan pembelajaran ini dengan pendekatan pembelajaran di kurikulum sebelumnya (Wawancara, 23 Juli 2. Kemudian terakhir, penerapan pembelajaran berdiferensiasi juga mengarah kepada pengembangan pembelajaran yang berbasis kondisi lingkungan. Hal ini dikemukakan oleh I Gusti Kadek Arnawa Putra selaku guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N 3 Bangli. Dimana ditekankan terkait penerapan pembelajaran berdiferensiasi di mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu yang mengarahkan siswa untuk belajar melalui pengalaman yang relevan, seperti kunjungan lapangan, percobaan, atau proyek praktis di bidang keagamaan (Wawancara, 17 Juni 2. Jadi berdasarkan pembahasan tersebut, dapat diketahui bahwa pemilihan opsi pembelajaran berdiferensiasi merupakan bentuk implementasi kedua yang dilakukan oleh sekolah pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli dalam menerapkan Kurikulum Merdeka di tahap pelaksanaan pembelajaran. Dimana pemilihan opsi ini penting sebagai dasar atau asas oleh guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di sekolah yang mendasarkan diri pada keragaman siswa selaku peserta didik, baik berupa keragaman karakter, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH keragamaan gaya belajar, serta keragaman kecerdasan yang tentunya berbeda antara satu siswa dengan siswa yang lain. Lebih lanjut, pembelajaran yang berdiferensiasi juga mengarah kepada keragaman dari sisi konten, media, proses, media pembelajaran yang berbasis IT, dan strategi pembelajaran yang lebih relevan, menyesuaikan dengan lingkungan siswa. Hal ini kemudian pada akhirnya membantu guru dalam menciptakan penilaian yang berdiferensiasi untuk menilai kemampuan siswa secara lebih optimal dan Pengaplikasian Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Bentuk ketiga di tahap pelaksanaan pembelajaran implementasi Kurikulum Merdeka dalam pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli adalah guru mengaplikasikan Project Based Learning (PjB. dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran ini merupakan sebuah model pembelajaran yang memiliki esensi dimana guru memasukkan suatu kerja atau proyek yang mesti diselesaikan oleh peserta didik dalam proses pembelajaran (Anggraini & Wulandari. Dengan demikian, guru dapat mengeksplorasi kreativitas dan inovasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Lebih lanjut, peran guru dalam hal ini hanya sebagai fasilitator dan pengarah yang membantu siswa dalam mengembangkan ide dan kreativitasnya untuk menyelesaikan suatu tugas yang diberikan. Di Kurikulum Merdeka. PjBL merupakan salah satu model pembelajaran yang relevan untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran. Hal ini didasarkan pada tujuan PjBL yang selaras dengan hadirnya Kurikulum Merdeka dimana mampu memberikan wawasan luas kepada peserta didik untuk menghadapi suatu permasalahan, serta menjadi media pengembangan kreativitas dan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan suatu proyek atau kerja (Anggraini & Wulandari, 2. Sehingga tidak salah, apabila guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli juga menerapkan model pembelajaran ini dalam tahap pelaksanaan pembelajaran. Berkaitan dengan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) di tahap pelaksanaan pembelajaran yang mempergunakan model PjBL. Ni Nyoman Sriasih Ratnawati selaku guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N Satap 2 Kintamani mengemukakan pendapatnya dalam tahap pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di Kurikulum Merdeka, biasa menggunakan model Project Based Learning (PjBL). Dimana proyek yang saya berikan biasanya membuat upakara, membuat video, dan membuat bagan/gambar sesuai dengan materi (Wawancara, 16 September 2. Lebih lanjut, hal yang sama sebelumnya juga diutarakan oleh I Nengah Asrama Juta Ningrat selaku guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N 1 Bangli. Dimana melalui proses wawancara, diterangkan hal baru terkait pengaplikasian model pembelajaran PjBL dalam tahap pelaksanaan pembelajaran yang lebih cenderung memberikan pada P5, karena 1 jam dari mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti mencakup kedalam pembelajaran P5, hanya pada konten tertentu saja yang bisa dibuatkan proyek dalam pembelajaran intrakurikuler, seperti Upakara. Dharma Gita, dan konten lainya yang lebih cendrung menekankan pada praktik (Wawancara, 23 Juli Jadi berdasarkan pembahasan tersebut, dapat diketahui bahwa pengaplikasian model pembelajaran PjBL merupakan bentuk implementasi ketiga yang dilakukan oleh guru pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli dalam menerapkan Kurikulum Merdeka di tahap pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Dimana pengaplikasian model pembelajaran ini selaras dengan esensi Kurikulum Merdeka yang menekankan pada kerjasama . , berpikir kritis . ritical thinkin. , serta belajar yang berbasis penyelesaian masalah dengan menyusun suatu kinerja atau proyek. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dalam model pembelajaran ini, guru hanya berperan sebagai fasilitator yang kemudian mengarahkan siswa untuk menyelesaikan suatu proyek di bidang keagamaan, seperti pembuatan suatu Upakara. Dharma Gita. Video, dan Bagan yang memuat materi mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Selain itu, proyek yang diberikan kepada siswa juga tidak kaku, dan cenderung luwes serta dibebaskan sesuai minat dan Baik boleh membuat video pembelajaran yang kreatif, membuat gambar, mind map, poster, atau portofolio yang selaras dengan materi pelajaran. Pengaplikasian Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Discovery Learning (DL) Bentuk keempat di tahap pelaksanaan pembelajaran implementasi Kurikulum Merdeka dalam pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli adalah guru mengaplikasikan model pembelajaran Problem Based Learning (PB. dan Discovery Learning (DL) dalam proses pembelajaran. Selain PjBL, dua model pembelajaran ini merupakan sebuah model pembelajaran yang juga sering dan bisa dipergukan untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Melalui dua model pembelajaran ini, guru dapat mengembangkan daya kritis siswa dalam menyelesaikan masalah, sekaligus menemukan pengetahuan baru dengan daya analisanya. Di Kurikulum Merdeka. PBL merupakan salah satu model pembelajaran yang relevan untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran. Hal ini didasarkan pada tujuan jBL yang selaras dengan hadirnya Kurikulum Merdeka dimana mampu memberikan wadah siswa untuk menyelesaikan suatu masalah dengan daya analisa dan berpikir kritisnya (Hartatik, 2. Sehingga tidak salah, apabila guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli juga menerapkan model pembelajaran ini dalam tahap pelaksanaan pembelajaran. Selain PBL, model pembelajaran DL juga sama sebagai salah satu model yang sering dipergunakan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Dimana melalui metode Discovery atau menemukan, siswa diarahkan oleh guru untuk menemukan sendiri pengetahuan yang bermanfaat untuk dirinya dengan sedikit petunjuk dari guru pada awalnya (Sunarto & Amalia, 2. Metode ini bermnafaat untuk mengarahkan siswa dapat mengeksplor lingkungan dan mengembangkan daya nalarnya untuk menemukan pengetahuan yang berguna bagi kehidupannya di masa yang akan Berkaitan dengan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) di tahap pelaksanaan pembelajaran yang mempergunakan model PBL dan DL. Ni Nyoman Sriasih Ratnawati selaku guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N Satap 2 Kintamani mengemukakan pendapatnya bahwa, dalam tahap pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di Kurikulum Merdeka, selain mempergunakan model pembelajaran PjBL, dirinya juga menggunakan model pembelajaran Discovery Learning (DL) dan Problem Based Learning (PBL). Dimana dalam penggunaan dua model tersebut, dirinya biasanya menampilkan media pembelajaran dalam bentuk gambar dan video sebagai stimulus sehingga dapat menemukan keterkaitan konten materi dengan gambar atau media yang ditampilkan, kemudian berdiskusi bersama kelompoknya untuk membahas apa yang peserta didik temukan bersama kelompoknya. Kemudian saat menggunakan PBL, dirinya akan meminta murid untuk menyampaikan masalah perilaku yang dijumpai sehari-hari kemudian mencari solusi atau mengatasi masalah tersebut bersama kelompok diskusinya (Wawancara, 16 September 2. Lebih lanjut, hal yang sama sebelumnya juga diutarakan oleh Dewa Ngakan Made Ekayana Putra selaku guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N 1 Bangli. Dimana melalui proses wawancara, diterangkan pengaplikasian model PBL dan Dl pada tahap pelaksanaan pembelajarannya biasa mempergunakan untuk https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH mengimplementasikan Kurikulum Merdeka adalah Model Problem Based Learning dan Discovery Learning dengan tujuan agar murid menemukan sendiri pemecahan permasalahan yang dihadapi dan menumbuhkan kemampuan berfikir kritis (Wawancara, 10 Juni 2. Jadi berdasarkan pembahasan tersebut, dapat diketahui bahwa pengaplikasian model pembelajaran PBL dan DL merupakan bentuk implementasi keempat yang dilakukan oleh guru pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli dalam menerapkan Kurikulum Merdeka di tahap pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Dimana pengaplikasian dua model pembelajaran ini selaras dengan esensi Kurikulum Merdeka yang menekankan pada kemampuan berpikir kritis . ritical thinkin. , berdiskusi dan bekerjasama, serta pembelajaran kontekstual yang dimana siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan di lingkungan sekitarnya. Ditambah lagi, pengaplikasian dua model pembelajaran tersebut dikolaborasikan oleh guru dengan media pembelajaran berbasis video dan metode pembelajaran berbentuk diskusi yang membuat para siswa semakin dapat mengeksplorasi pengetahuan dan kompetensinya. Tahap Evaluasi Pembelajaran Tahap Evaluasi menjadi tahap ketiga sekaligus puncak dalam proses pembelajaran secara umum. Tahap evaluasi mengarah kepada aktivitas guru selaku pendidik, dalam menjalankan tugasnya sebagai evaluator yang memeriksa, mengukur, menilai, dan mengevaluasi perkembangan komptensi peserta didik, baik dari sisi sikap atau tingkah lakunya . , pengetahuan atau wawasannya . , maupun kreativitas atau keterampilannya . Tahap evaluasi juga menjadi refleksi penting, untuk mengetahui secara konferensif seberapa jauh tujuan pembelajaran telah tercapai. Lebih lanjut, hakikat tahap evaluasi juga hadir sebagai media guru dalam menentukan hasil belajar siswa dengan melaksanakan aktivitas pengukuran, penilaian, dan evaluasi hasil belajar (Idrus L, 2. Pada tahap ini, guru selaku evaluator dapat menggunakan jenis penilaian dan alat penilaian atau evaluasi (Tes. yang telah dirancang pada tahap perencanaan pembelajaran. Tujuan dari hasil alat penilaian tersebut adalah sebagai media guru dalam mengetahui dan mengevaluasi tingkat pemahaman dan perkembangan kompetensi siswa setelah materi diberikan dalam proses belajar-mengajar. Implementasi Kurikulum Merdeka dalam tahap evaluasi pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti juga menerapkan hal yang sama demi tercapainya tujuan Begitu juga yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di beberapa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bangli yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka dan berkenan menjadi Sekolah Penggerak. Terdapat beberapa jenis dan alat penilaian yang diaplikasikan oleh guru dalam tahap evaluasi pembelajaran guna mengukur seberapa jauh perkembangan kompetensi siswa. Hal ini juga disesuaikan dengan tipe pembelajaran berdiferensiasi yang juga membutuhkan alat penilaian yang juga kompleks. Berikut akan dijabarkan secara lebih lanjut, mengenai bentuk-bentuk implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli, khususnya pada tahap evaluasi pembelajaran. Penerapan Penilaian Kombinasi antara Formatif dan Sumatif Bentuk implementasi Kurikulum Merdeka dalam tahap evaluasi pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli adalah guru menerapkan penilaian kombinasi antara formatif dan sumatif. Seperti penjelasan pada sub bab sebelumnya. Penilaian Formatif adalah penilaian yang dilakukan pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung, bertujuan untuk mengetahui perkembangan penguasaan dan kompetensi peserta didik selama proses pembelajaran, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH serta hasilnya dipakai sebagai refleksi memperbaiki proses pembelajaran yang sedang berlangsung dan tidak dipakai dalam peilaian rapor. Sementara Penilaian Sumatif merupakan jenis penilaian yang dilakukan pada akhir proses pembelajaran, bertujuan mengetahui pencapaian komptensi setelah pembelajaran selesai, menjadi refleksi penguasaan materi dari peserta didik, serta menjadi acuan dalam penilaian rapor (Adinda , 2. Kedua jenis penilaian yang telah dipersiapkan di tahap perencanaan pembelajaran ini, kemudian diterapkan di tahap evaluasi pembelajaran sebagai Dari sisi bentuk yang diterapkan pada tahap evaluasi pembelajaran, jenis penilaian formatif melanjutkan test yang sudah dilakukan pada saat proses pembelajaran, baik berupa kuis, esai, proyek, dan aktivitas pembelajaran sehari-hari. Sementara jenis penilaian sumatif yang digunakan saat tahap evaluasi pembelajaran, berbentuk test pilihan ganda, isian, esai sebagai penilaian tengah semester maupun penilaian akhir Untuk lebih jelasanya. Dewa Ngakan Made Ekayana Putra selaku guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N 1 Bangli menerangkan beberapa penilaian formatif yang dipergunakan selama proses pembelajaran antara lain: observasi, kinerja, projek, portofolio, tes tertulis, tes lisan, dan penugasan dalam bentuk keseharian (Wawancara, 10 Juni 2. Kemudian lebih lanjut, hal yang sama juga diutarakan oleh Sang Ayu Made Yoki Gitasari selaku guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP N 3 Bangli, dimana dikemukakan pendapatnya mengenai penerapan jenis penilaian kombinasi formatif dan sumatif yang dipergunakan dengan memberikan tugas, kuis, ulangan harian, dan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran. Sementara untuk penilaian sumatif yaitu dengan memberikan ulangan akhir semester dan penilaian tengah semester (Wawancara, 19 Agustus 2. Lebih lanjut, dalam sesi wawancara juga menambahkan bahwa dengan penilaian sekarang, pengetahuan anak-anak lebih kreatif dalam menuangkan ide-ide melalui media yang dituangkan seperti infografis, gambar, video dan portofolio. Dalam bentuk sikap anak menjadi lebih bertanggung jawab, menghargai adanya kesepakatan kelas yang sudah disepakati bersama antara guru dan peserta didik. Dari sisi keterampilan, kreativitas anak juga jadi lebih meningkat, karena masing-masing anak-anak diberikan kebebasan dalam berkarya dalam pembuatan tugas/proyek seperti ada suka menggambar, membuat video, dan lain-lain dengan berkolaborasi bersama teman temannya, sehingga secara tidak langsung hal ini akan menekankan sikap gotong royong dalam diri anak-anak. Jadi berdasarkan pembahasan tersebut, dapat diketahui bahwa penerapan jenis penilaian kombinasi antara formatif dan sumatif merupakan bentuk implementasi yang dilakukan oleh guru pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli dalam menerapkan Kurikulum Merdeka di tahap evaluasi pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Dimana penerapan jenis penilaian ini merupakan hal yang sudah dipersiapkan sejak tahap perencanaan sebelumnya. Penilaian Formatif difungsikan untuk menilai proses dan mengavaluasi jalannya aktivitas belajar-mengajar, hal ini tercermin dalam penerapan test dalam bentuk observasi, kinerja, projek, portofolio, tes tertulis, tes lisan, dan penugasan dalam bentuk keseharian untuk menilai proses pembelajaran siswa. Sementara untuk Penilaian Sumatif difungsikan sebagai jenis penilaian untuk mengukur hasil akhir proses pembelajaran siswa dalam bentuk hasil belajar di dalam Kurikulum Merdeka, hal ini tercermin melalui test dalam bentuk pilihan ganda, isian, dan essay yang dipergunakan untuk menilai penilian tengah dan akhir semester siswa. Kombinasi ini terbukti efektif dalam mengembangkan kompetensi anak, baik dari sisi sikap, pengetahuan, maupun keterampilannya sesuai tujuan yang telah ditetapkan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kesimpulan Implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMP di Kabupaten Bangli dibagi secara sistematis dan terstruktur menjadi tiga tahapan utama. Pertama pada tahap perencanaan pembelajaran, bentuk implementasi Kurikulum Merdeka dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: Pendalaman Kurikulum Merdeka secara Holistik, . Pemilihan Opsi Mandiri Berubah sebagai Acuan Kurikulum Merdeka, . Penyusunan Modul Ajar Berbasis Kurikulum Merdeka, . Penyiapan Bahan Ajar yang Beragam, . Penyiapan Media Pembelajaran yang Beragam, dan . Perancangan Penilaian Formatif dan Sumatif. Kedua pada tahap pelaksanaan pembelajaran, bentuk implementasi Kurikulum Merdeka dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: . Pemberian Assesmen Diagnostik Awal untuk Mengetahui Keragaman Siswa, . Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi, . Pengaplikasian Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL), dan . Pengaplikasian Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Discovery Learning (DL). Serta ketiga pada tahap evaluasi pembelajaran, bentuk implementasi Kurikulum Merdeka dilakukan dengan cara Penerapan Penilaian Kombinasi antara Formatif dan Sumatif. Daftar Pustaka