Jurnal Pendidikan Bahasa Volume 14. Nomor 2, Desember 2024 | ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi.org/10.37630/jpb.v14i1.2097 Kajian Literatur terhadap Mengembangkan Keterampilan Membaca di Sekolah Dasar Rabiatul Adawiah HT1,*, Rahma Ashari Hamzah1, Nurlinda1, Ririn Dewi Aryanti1 1 Universitas Islam Makassar *Corespondence: rabiatuladawiah4010@gmail.com Artikel Info Abstrak Submission Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki kemampuan membaca pada anak sekolah dasar serta manfaat dari berbagai filososfi dan teknik mengajar. Penelitian ini mengkaji nilai literasi dini dalam meletakkan dasar keberhasilan akademik siswa dengan menggunakan metodologi penelitian kualitatif dan tinjauan literature. Kemahiran membaca tidak hanya membantu dalam pemahaman materi tetapi juga mendorong pertumbuhan kemampuan kognitif, analitis, dan komunikasi siswa. Penekanan utama adalah pada aspek kemampuan membaca seperti pemahaman teks, pengenalan symbol, dan intonasi suara yang sesuai. Temuan menunjukkan bahwa dengan menempatkan siswa dipusat pembelajaran yang terintegrasi dan relevan, model CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) dan metode SAS (Synthetic Structural Analytics) adalah yang paling berhasil dalam mengembangkan keterampilan membaca anak-anak sekolah dasar. Studi ini menekankan betapa pentingnya model serta metode pengajaran kreatif dan suasana pengasuhan untuk menumbuhkan minat dan keterampilan membaca anak sejak usia muda. Penerapan kedua strategi ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan membaca anak, yang kemudian akan mengarah pada pertumbuhan kemampuan menulis dan pemahaman yang lebih dalam terhadap teks yang mereka baca, yang semuanya akan berkontribusi pada prestasi akademik mereka. 2024-10-11 Revisions 2024-12-12 Publish 2024-12-31 Kata kunci: Kajian Literatur; Keterampilan Membaca; Sekolah Dasar This is an open access article under the CC - BY license. PENDAHULUAN Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 pasal 4 ayat 5 menjelaskan bahwa pendidikan disusun dengan menumbuhkan budaya membaca, menulis, dan matematika bagi seluruh anggota masyarakat. Salah satu komponen kunci dari perkembangan manusia adalah membaca. Karena membaca adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, itu juga merupakan jenis kegiatan belajar yang berkelanjutan (Arifin, 2018; Mustikasari & Astuti, 2020). Kemampuan untuk menggunakan kata-kata, baik secara lisan maupun tertulis, dikenal sebagai keterampilan bahasa. Setiap orang harus dapat berbicara dan memahami bahasa tersebut. Empat komponen kemahiran bahasa biasanya termasuk dalam kurikulum sekolah: (1) berbicara, (2) mendengarkan, (3) membaca, dan (4) menulis (2018). Di antara empat kemampuan linguistik, membaca menjadi bagian yang lebih penting. Hanya dengan memiliki keterampilan membaca yang efektif dan efisien, barbagai informasi yang bermanfaat dapat dengan mudah dipahami (Hamzah, 2020a). Setiap keberadaan manusia dipengaruhi oleh kemampuan bahasa. Selama masa kanak-kanak, kita belajar mendengarkan, kemudian berbicara, dan kemudian kita belajar membaca dan menulis. Intinya, keempat keterampilan tersebut membentuk satu unit catur (Dawson, dalam Tarigan, 2008: 1). Efektivitas keterlibatan pada kemahiran membaca siswa dalam proses belajar mengajar adalah penentu utama di kelas (Hamzah, 2020b). Kemahiran membaca bukanlah hasil dari keberuntungan. Sebaliknya, itu adalah hasil kerja dan pembelajaran (Mislikhah, 2016). https://ejournal.tsb.ac.id/index.php/jpb/index 42 Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 14, No. 2, Desember 2024 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi.org/10.37630/jpb.v14i1.2097 Tidak diragukan lagi, pengajaran membaca dilakukan karena dapat menawarkan keuntungan yang dapat membantu siswa tumbuh sebagai individu. Ini memerlukan instruksi literasi awal. Guru dapat membantu siswa dengan mengajari mereka membaca. Syafi'e mengatakan bahwa "Belajar membaca di kelas satu dan di kelas dua (kelas bawah) adalah tahap awal pembelajaran membaca, yang didapatkan siswa di kelas bawah akan menjadi dasar untuk belajar membaca di kelas berikutnya". Membaca adalah kapasitas untuk menghubungkan penguasaan kosakata, tulisan, dan bahasa lisan. Selain dapat membaca kata-kata dan mengidentifikasi huruf, siswa juga harus dapat membaca sebuah wacana dengan lancar. Akan lebih mudah untuk menguraikan arti urutan bunyi huruf jika anak memiliki kosakata yang kuat (Hasma et al., 2013). Sehingga secara umum, membaca adalah proses di mana individu memeriksa teks dan menafsirkan simbol-simbol tertulis di atasnya (Aebersold dan Field). Dua komponen fisik penting untuk proses membaca adalah teks dan pembaca. Namun demikian, bacaan sejati adalah hubungan antara pembaca dan teks, proses pembaca menafsirkan teks yang terjadi selama kontak itu. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan yang lebih komprehensif tentang kemampuan membaca siswa di sekolah dasar dan manfaatnya bagi siswa maupun sekolah. Kemampuan membaca harus dikembangkan di sekolah dasar karena merupakan dasar untuk memahami sains dan disiplin ilmu lainnya. Pembaca yang efektif lebih siap untuk memahami dan menyerap pengetahuan dari berbagai sumber, yang sangat penting untuk kinerja skolastik dan perkembangan intelektual. Untuk menciptakan taktik belajar yang lebih efisien, penelitian ini secara khusus akan meneliti unsur-unsur yang mempengaruhi pengembangan kemampuan membaca siswa sekolah dasar, termasuk strategi mengajar, peran guru dan keluarga, serta akses ke bahan bacaan berkualitas tinggi. Muammar (2015) dalam bukunya juga menjelaskan bahwa motivasi dan pemahaman siswa dipengaruhi secara signifikan ketika keluarga mereka berpartisipasi dalam kegiatan membaca. Menurut penelitian ini, orang tua yang berpartisipasi aktif dalam pendidikan anak-anak mereka dapat meningkatkan kemampuan literasi mereka dan dorongan untuk belajar dengan membacakan untuk mereka, memberi mereka bahan bacaan yang menarik, dan menumbuhkan suasana ramah literasi di rumah. Anak-anak berada pada titik penting dalam perkembangan kognitif dan linguistik mereka pada saat mereka memasuki sekolah dasar, jadi mengembangkan pemahaman membaca dapat membantu mereka menjadi lebih mahir dalam komunikasi, analisis, dan pemikiran kritis. Selain itu, membaca yang mahir dapat menciptakan semangat belajar yang bertahan seumur hidup dan mengarah pada lebih banyak peluang di masa depan (Hasma et al., 2013). METODE Pada metodologi penelitian ini bersifat kualitatif dan jenis penelitian library research, yang berarti bahwa kegiatan penelitiannya didasarkan pada kualitas ilmu pengetahuan yang rasional, empiris, dan metodis. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pencarian literature, analisis dokumen, dan studi pustaka yang sistematis untuk mengidentifikasi pola-pola yang relevan dengan topik penelitian. Data primer dan sekunder adalah dua jenis sumber data yang digunakan dalam investigasi ini. Buku studi karakter berfungsi sebagai sumber data utama penelitian, sedangkan data sekunder adalah informasi yang dikumpulkan dari sumber luar. Untuk mengumpulkan data sekunder, tinjauan literatur yang mencakup rincian tentang primer terutama bahan perpustakaan dilakukan dengan menggunakan literatur dari buku dan publikasi ilmiah. Buku dan majalah digunakan sebagai data sekunder. Karena tujuan utama penelitian adalah mengumpulkan data yang andal dan valid, prosedur pengumpulan data menjadi tahap yang paling strategis dalam proses penelitian. Data sekunder dari buku dan majalah dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, yang meliputi proses membaca, menafsirkan, dan menyusun data secara sistematis untuk mengidentifikasi pola, tema, dan hubungan yang relevan. Analisis ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai keterkaitan data dengan tujuan penelitian, serta untuk menghasilkan kesimpulan yang dapat diandalkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Membaca berarti melihat dan memahami apa yang tertulis (baik secara lisan maupun hanya di dalam hati), menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Menurut Sri Pratisi dalam Crawley dan Montain, https://ejournal.tsb.ac.id/index.php/jpb/index 43 Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 14, No. 2, Desember 2024 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi.org/10.37630/jpb.v14i1.2097 membaca pada dasarnya adalah proses kompleks yang menggabungkan berbagai tugas, termasuk proses visual, kognitif, psikolinguistik, dan metakognitif, selain melafalkan materi tertulis. Membaca adalah aktivitas visual yang melibatkan konversi simbol tertulis, seperti huruf, menjadi kata-kata yang diucapkan. Pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif adalah komponen membaca sebagai aktivitas kognitif (Richard Oliver (dalam Zeithml., 2021). Setelah berbicara dan mendengar, membaca adalah tingkat ketiga dari kemahiran bahasa. Membaca adalah kegiatan yang membutuhkan lebih dari sekadar menguraikan bahasa tertulis. Ini juga melibatkan pemikiran, aktivitas visual, psikolinguistik, dan metakognisi. Membaca bersifat responsif karena memungkinkan seseorang untuk memperluas perspektif, meningkatkan pemikiran, dan mempertajam visi selain mendapatkan informasi, pengalaman, dan pengetahuan baru. Salah satu kemampuan penting yang membentuk dasar keberhasilan akademik dan pertumbuhan pribadi adalah membaca (Susanti, 2021). Membaca membutuhkan pemahaman menyeluruh tentang materi yang dibaca selain kemampuan interpretasi kata teknis. Tarigan menyebutkan membaca adalah proses yang digunakan pembaca untuk mendapatkan pesan yang ingin mereka sampaikan melalui media kata, bahasa, atau tulisan. Ini juga merupakan kegiatan interaktif yang membantu pembaca memahami dan memahami makna yang terkandung dalam bahasa tertulis (Sudaryati et al., 2023). Sudut pandang yang disebutkan di atas mengarahkan seseorang pada kesimpulan bahwa keterampilan membaca adalah tindakan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh pesan atau informasi yang penulis coba sampaikan melalui media bahasa tertulis (Mariati, 2018). Kemampuan membaca, kemudian adalah kapasitas untuk menggunakan tindakan dan pikiran untuk melakukan tugas visual dengan mengucapkan serangkaian huruf ke dalam kata dan kalimat melalui penguasaan strategi membaca dan menangkap konten bacaan yang efektif. Aspek-Aspek Keterampilan Membaca di SD Siswa literasi menjadi fokus dari komponen keterampilan membaca pertama. Ini konsisten dengan temuan Yuliana (2017, hlm. 344). Melek huruf, yaitu mampu melafalkan simbol yang ditulis dengan suara yang bermakna tanpa diikuti oleh pemahaman siswa tentang simbol-simbol, ini adalah persyaratan untuk keterampilan membaca awal (2022). Siswa juga dapat merangkai huruf menjadi kata-kata dan mengenali huruf individu. Menurut Dalman (Anggraeni dan Alpian, 2020, hlm. 56), berikut ini adalah komponen keterampilan membaca awal di kelas awal: (1) menggunakan ungkapan yang sesuai, (2) menggunakan frasa yang sesuai, (3) menggunakan intonasi suara yang sesuai untuk kemudahan pemahaman, (4) menguasai tanda baca, (5) membaca tanpa gagap dan dengan jelas. Henry Guntur Tarigan menyatakan bahwa pemahaman membaca dan keterampilan mekanik adalah dua komponen penting. Keterampilan tingkat rendah berkaitan dengan mekanik. Ini mencakup pemahaman bentuk huruf, pemahaman elemen linguistik (fonem, kata, frasa, klausa, kalimat, dan lain-lain), pemahaman hubungan atau korespondensi antara pola ejaan dan suara (kemampuan untuk menyuarakan materi tertulis), dan kecepatan membaca yang lambat. Henry Guntur Tarigan mendefinisikan kemampuan tersebut sebagai kemampuan untuk memahami. Menurut Henry Guntur Tarigan, itu adalah keterampilan yang lebih tinggi. Beberapa elemen tersebut termasuk memahami makna dasar (leksikal, tata bahasa, dan retoris), memahami konotasi atau makna, menilai atau menilai, dan memiliki kecepatan membaca yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan berbagai situasi. Latihan membaca yang berbeda diperlukan untuk memenuhi tujuan dari kedua keterampilan ini. Menurut Henry Guntur Tarigan, membaca dengan keras adalah kegiatan yang perlu dibudidayakan untuk meningkatkan kemampuan mekanik, sedangkan membaca di dalam hati adalah latihan membaca terbaik untuk mengembangkan keterampilan pemahaman. Bagaimana Keterampilan Membaca di SD Menjaga dan menumbuhkan semangat anak dalam membaca sangat penting untuk pengembangan kemampuan dan perspektif mereka. Saat ini, sering terlihat bahwa siswa sekolah dasar kesulitan membaca karena berbagai faktor, termasuk didikan dan lingkungan mereka (Barus et al., 2023). Tentu saja, ini adalah salah satu masalah yang harus diselesaikan. Menurunnya minat anak-anak untuk membaca adalah masalah https://ejournal.tsb.ac.id/index.php/jpb/index 44 Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 14, No. 2, Desember 2024 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi.org/10.37630/jpb.v14i1.2097 penting yang harus ditangani. Secara alami, fasilitas dan lingkungan sekitar diperlukan untuk membantu proses ini. Secara umum, anak-anak sekolah dasar adalah kelompok usia bermain, oleh karena itu tidak jarang melihat anak-anak yang menghabiskan seluruh waktu luang mereka bermain. Tentu saja, anak-anak juga membutuhkan waktu untuk mempelajari keterampilan baru dan meningkatkan keterampilan yang sudah ada. Dengan demikian, untuk meningkatkan minat belajar anak-anak, di antaranya untuk meningkatkan minat mereka dalam membaca, diperlukan pendidik yang inovatif dan kreatif. Sebagai hasil dari memulai dengan minat, anak-anak akan dapat mengembangkan keterampilan membaca mereka, yang diperlukan bahkan di usia muda dan juga diperlukan untuk remaja dan orang dewasa. Model dan Metode Membaca di SD Model Membaca di SD Kurikulum dan model pembelajaran yang digunakan adalah apa yang menentukan bagaimana pendidikan dilaksanakan dan hasil apa yang diperoleh dalam hal belajar mengajar untuk meningkatkan keterampilan membaca dan menulis di sekolah dasar. Menggunakan tema dan koneksi di beberapa kursus, metode pembelajaran tematik terintegrasi memberi siswa pengalaman yang bermakna baik dalam pengaturan individu maupun kelompok. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang sesuai yang selaras dengan fitur-fitur berikut dari model pembelajaran terpadu, meliputi: (1) model pembelajaran yang dipilih perlu dirancang secara ilmiah dengan mempertimbangkan koneksi dan konektivitas; (2) model pembelajaran antar bidang yang berurutan, berjejaring, dan terintegrasi; dan (3) siswa berpartisipasi aktif dalam proses belajar mengajar yang berjejaring. Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), Visual, Auditory, Read-Write, Kinaesthetic (VARK), dan Picture and Picture adalah beberapa model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis dan selaras dengan fitur model pembelajaran terintegrasi. Kemampuan membaca dan menulis siswa sekolah dasar dapat ditingkatkan dengan menggunakan salah satu dari tiga gaya belajar (Fitriyani & Utama, 2019). Model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) merupakan pendekatan pembelajaran terpadu yang disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa, sesuai dengan minat dan bakatnya. Hal ini membuat proses pembelajaran lebih bermakna untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dan juga dapat meningkatkan interaksi sosial antara siswa dan guru. Penglihatan, pendengaran, dan gerakan adalah semua komponen dari model pembelajaran Multisensori Visual, Auditory, Read-Write, Kinestetik (VARK). Informasi disajikan sebagai kata-kata dalam teknik pembelajaran ini. Di mana anak-anak dapat belajar membaca dan menulis melalui input dan output berbasis tes, mereka dapat membaca dan menulis apa pun yang telah mereka dengar dan pahami, seperti kamus, kutipan, daftar, internet, power point, dan banyak lagi. Model pembelajaran Picture and Picture adalah pendekatan belajar mengajar yang menggunakan kartu gambar sebagai alat utama. Siswa diajarkan untuk berpikir kritis dan logis, berpartisipasi aktif dalam perencanaan dan manajemen kelas, dan mengenali sudut pandang yang berbeda sebagai sumber motivasi untuk belajar. Tentu saja, salah satu dari tiga model pembelajaran yang disebutkan di atas ada satu model yang paling cocok untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa sekolah dasar. Karena termasuk dalam kategori metode pembelajaran terpadu yang selaras dengan konsep sistem kurikulum untuk mengintegrasikan atau menghubungkan tema dan mata pelajaran, menempatkan siswa di pusat proses belajar mengajar, dan menekankan pembelajaran yang bermakna, maka model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) adalah model yang paling cocok untuk digunakan dalam meningkatkan keterampilan membaca dan menulis siswa sekolah dasar. Hal ini sejalan dengan temuan studi Natalia (Natalia & Oentoe, 2021) tentang penerapan CIRC di sekolah dasar Indonesia, yang menemukan bahwa "Menggunakan model CIRC dalam pengajaran membaca dapat meningkatkan keterlibatan, motivasi, dan hasil belajar membaca siswa." Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan siswa tetapi juga meningkatkan pemahaman mereka tentang materi. Hal ini https://ejournal.tsb.ac.id/index.php/jpb/index 45 Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 14, No. 2, Desember 2024 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi.org/10.37630/jpb.v14i1.2097 memberikan kepercayaan pada gagasan bahwa CIRC dapat memberikan siswa pengalaman pendidikan yang lebih menarik dan produktif. Metode Membaca di SD Metode Pembelajaran Membaca Permulaan Menurut tesis Reni, yang dikutip dalam buku Darmiyati Zuchdi Pendidikan Bahasa dan Sastra di Kelas Bawah, ada tiga jenis instruksi membaca awal (Adhiyah, 2018). Berikut ini adalah pendekatan yang diambil ketika mengajarkan siswa membaca. Metode Abjad dan Metode Bunyi Kedua metode ini sudah sangat tua, menggunakan kata-kata lepas, seperti berikut: Metode abjad: b, a, d, u menjadi b-a: (dibaca atau dieja /be-a/ [ba]), d-u: (dibaca atau dieja /de-u/ [du]) dilafalkan /badu/. Metode bunyi: /b/ dilafalkan [eb] /d/ dilafalkan [ed] /e/ dilafalkan [e] /g/ dilafalkan [eg] /p/ dilafalkan [ep] Dengan demikian kata “nani” dieja menjadi: /en-a/: [na] /en-i/: [ni] dibaca [na-ni] Beda antara metode abjad dan metode bunyi terletak pada pengucapapan huruf. Pada metode abjad, huruf diucapkan sebagai abjad (“a”, “be”, “ce”, dan seterusnya) sedangkan pada metode bunyi, huruf diucapkan sesuai dengan bunyinya [m], [n], [a], dan seterusnya. Metode Kupas Rangkai Suku Kata dan Metode Kata Lembaga Kedua metode ini mengajarkan cara mengurai dan merangkaitkan. Misalnya: Metode kupas rangkai suku kata: Mata→ma–ta Papa→pa–pa Siswa diperkenalkan huruf dengan memecah suku kata yang telah mereka sajikan menjadi huruf, yang kemudian disatukan kembali menjadi suku kata. Contohnya dapat pada tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Contoh Pemecahan Suku Kata No Tahapan 1 Pemecahan suku kata 2 Pemecahan huruf Contoh Pemecahan Kata Penjelasan Meja→Me–ja Kata meja dipecah menjadi dua suku kata Meja→M–e–j–a Setiap huruf dalam kata meja diucapkan Kata lembaga yaitu kata yang sudah dikenal oleh siswa. Kata dipecah menjadi suku kata individu, yang kemudian dipecah menjadi huruf individu. Huruf-huruf tersebut kemudian dipecah menjadi suku kata, yang kemudian disatukan untuk membentuk kata-kata. Metode Global Sekolah psikologi Gesalt, yang berpendapat bahwa kelengkapan atau kesatuan akan memiliki makna yang lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya, berdampak pada pengembangan pendekatan global. Berikut adalah contohnya. https://ejournal.tsb.ac.id/index.php/jpb/index 46 Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 14, No. 2, Desember 2024 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi.org/10.37630/jpb.v14i1.2097 ini dadu ini i – ni i–n–i dadu da – du d–a–d–u Metode pembelajaran membaca awal mengajarkan anak keterampilan membaca awal, seperti cara membaca huruf, kata, dan frasa, sesuai dengan premis pendekatan yang disebutkan di atas. Metode Pembelajaran Membaca bagi Anak pada Umumnya Dalam bukunya Anak dengan Kesulitan Belajar, Mulyono Abdurrahman mencatat bahwa guru biasa menggunakan berbagai strategi pengajaran membaca. Bagian ini akan mencakup berbagai pendekatan, termasuk abjad, pengalaman bahasa, linguistik, SAS, fonik, bacaan dasar, dan linguistik. Metode Membaca Dasar Untuk mengajarkan kesiapan, kosakata, pengenalan kata, pemahaman, dan kenikmatan membaca, pendekatan membaca dasar biasanya menggunakan pendekatan eklektik yang memadukan berbagai prosedur. Metode Fonik Teknik fonik sangat menekankan pada pengenalan kata dengan meminta siswa mendengarkan bunyi huruf. Oleh karena itu, pendekatan fonik kurang analitis dan lebih sintetis. Anak-anak pertama-tama didorong untuk mempelajari bunyi huruf sebelum menggabungkannya untuk membentuk suku kata dan kata-kata. Metode Linguistik Pendekatan linguistik didasarkan pada gagasan bahwa membaca pada dasarnya adalah proses menerjemahkan kode tertulis menjadi suara yang mewakili komunikasi. Pendekatan ini memperkenalkan anak-anak pada kata-kata seperti "ayah", "lampu", dan sebagainya yang terdiri dari konsonan. Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik) Pendekatan ini menggabungkan pendekatan bahasa dan fonetik. Kode tertulis yang diperiksa menggunakan pendekatan SAS dan metode linguistik berbeda. Menurut teknik linguistik, kode tekstual yang diperiksa adalah kalimat yang singkat dan lengkap. Dasar dari pendekatan SAS adalah gagasan bahwa pengamatan anak dimulai dengan keseluruhan dan berkembang ke potongan-potongan. Metode Alfabetik Memperkenalkan anak-anak pada huruf alfabet yang berbeda dan kemudian merangkainya menjadi suku kata, frasa, dan kalimat adalah dua proses dalam strategi ini. Salah satu dari beberapa metode pembelajaran yang disebutkan di atas, ada satu metode yang paling cocok untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa sekolah dasar. Karena pendekatannya yang bertahap yang cocok untuk perkembangan kognitif anak usia dini, metode SAS (Structural Analytics Synthetic) dianggap paling cocok untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa sekolah dasar. Pendekatan ini membantu siswa memahami bacaan sepenuhnya sebelum mempelajari unsur-unsur penyusunnya dengan memulai dengan bentuk seluruh kalimat atau kata (sintetis), memecahnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil (analitis), dan kemudian menyusunnya kembali (sintetis). KESIMPULAN Kemampuan untuk membaca teks secara akurat dan benar dan memahami makna yang diungkapkan di dalamnya dikenal sebagai kemampuan membaca. Menemukan dan memperoleh pengetahuan, mendiskusikan pokok bahasannya, dan memahami pentingnya membaca adalah tujuan membaca. Menggunakan media kartu huruf, mengajarkan huruf dan suku kata secara bertahap, menggunakan teknik menyanyi, dan latihan membaca dengan anak-anak adalah beberapa cara guru dapat membantu siswa menjadi pembaca yang lebih baik. Ada banyak keuntungan memiliki kemampuan membaca ini, termasuk belajar dari buku atau teks, menyadari peristiwa kehidupan nyata, mendapatkan lebih banyak minat pada suatu subjek, dan memajukan pertumbuhan sendiri. Tidak ada lagi alasan untuk tidak terlibat dalam kegiatan membaca mengingat keuntungan ini. Kontribusi penelitian ini untuk memeriksa kemahiran membaca siswa sekolah dasar serta https://ejournal.tsb.ac.id/index.php/jpb/index 47 Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 14, No. 2, Desember 2024 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi.org/10.37630/jpb.v14i1.2097 keuntungan dari berbagai filosofi dan metode pengajaran. Melalui penggunaan pendekatan penelitian kualitatif, penelitian ini menyelidiki pentingnya literasi dini dalam membangun landasan prestasi akademik anak. Dengan menggunakan metode ini, penelitian ini berusaha untuk memberikan lebih banyak penjelasan tentang bagaimana pengajaran membaca dapat ditingkatkan menggunakan strategi yang relevan untuk meningkatkan tingkat literasi anak-anak. Daftar Pustaka Adhiyah, M. (2018). Metode Pembelajaran Membaca Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Siswa Disleksia Di Kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Terpadu Ar-Roihan Lawang. Tabiyah Dan Keguruan. http://etheses.uin-malang.ac.id/12156/1/14140092.pdf Barus, F. B., Ritonga, F. U., & Ginting, B. (2023). Meningkatkan Kemampuan Membaca Pada Anak Sekolah Dasar Menggunakan Program Mobile Teaching. Mahaguru: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 4(2), 287–293. Danang Wicaksono, A. (2018). Peningkatan Keterampilan Membaca Siswa Sd Menggunakan Media Big Book. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar , 5–10. Dr. Muammar, M. P. (2015). Membaca Permulaan di Sekolah Dasar (M. P. Dr. Hilmiati (ed.)). Sanabil. Fitriyani, F., & Utama, E. G. (2019). Model Pembelajaran dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca dan Menulis Siswa Sekolah Dasar. Journal of Educational Review and Research, 2(1), 77. https://doi.org/10.26737/jerr.v2i1.1921 Hamzah, R. A. (2020a). Meningkatkan keterampilan membaca pemahaman melalui penggunaan pembelajaran metode sq3r pada siswa kelas v sd negeri 2 malino. Algazali Journal, 3(1), 1–8. Hamzah, R. A. (2020b). Peningkatan Keterampilan Membaca Permulaan Melalui Metode Bermain Membaca Suku Kata Pada Siswa Kelas I Sd Inpres Btn Ikip I Kota Makassar. ALGAZALI | International Journal of Educational Research, 2(2), 131–143. Hasma, Barasandji, S., & Muhsin. (2013). Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan melalui Metode Bermain pada Siswa Kelas I SDN Nambo Kec . Bungku Timur. Jurnal Kreatif Tadulako Online, 3(1), 147–160. http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/JKTO/article/view/4114 Mariati, S. P. S. (2018). Upaya Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan Dengan Menggunakan Media Kartu Kata Pada Siswa Kelas I A SDN 01 TAMAN KOTA MADIUN. Jurnal Pendidikan , Vol. 1 No.(2), 1–8. Mislikhah, S. (2016). Strategi Pembelajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jurnal Universitas Negeri Jakarta, 2(5), 55–76. Natalia, F. J. A., & Oentoe, N. N. M. (2021). Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Integrete Reading And Composition (CIRC) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas IV SD Unpres Kakaskasen III. Edu Primary Journal : Jurnal Pendidikan Dasar, 2(1), 1–9. http://ejurnalmapalus-unima.ac.id/index.php/eduprimary/article/view/871/406 Nurfadilah, S. (2022). Konsep Keterampilan Membaca Peserta Didik Di Sekolah Dasar. 1–23. richard oliver (dalam Zeithml., dkk 2018). (2021). Keterampilan Membaca. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 1–25. Sudaryati, S., Pattiasina, P. J., Deswalantri, D., Widayati, U., Rukmana, A. Y., Normasunah, N., Meisuri, M., & Keban, S. K. K. (2023). Keterampilan membaca (M. H. Yuliatri Novita (ed.); Issue December). GETTPRESS INDONESIA. Susanti, D. E. (2021). Keterampilan Membaca. In Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952. Penerbit IN MEDIA. http://dx.doi.org/10.31227/osf.io/mfyhe https://ejournal.tsb.ac.id/index.php/jpb/index 48