Volume 8 | Nomor 4 | Tahun 2025 | Halaman 1121Ai1136 E-ISSN 2615-8655 | P-ISSN 2615-725X http://diglosiaunmul. com/index. php/diglosia/article/view/1351 Kesesuaian teks dwibahasa Jawa-Indonesia jenjang B1 terhadap pedoman perjenjangan nomor 030/P/2022 Examined the compliance of Javanese-Indonesian bilingual texts at level B1 with the leveling guidelines number 030/P/2022 Mulasih1,*. Suroso2, & Anwar Efendi3 1,2,3 Universitas Negeri Yogyakarta Jalan Colombo No 1. Yogyakarta. Indonesia *Email: mulasih. 2023@student. Orcid: https://orcid. org/0009-0001-9284-2242 Email: suroso@uny. Orcid: https://orcid. org/0000-0002-3814-6350 Email: anwar@uny. Orcid: https://orcid. org/0000-0002-4265-0496 Article History Received 22 June 2025 Revised 22 September 2025 Accepted 14 October 2025 Published 26 December 2025 Keywords children's reading materials. Kata Kunci bacaan anak. Read online Scan this QR code with your smart phone or mobile device to read online. Abstract The need for children's literature that aligns with developmental stages and integrates cultural values is increasingly urgent to support contextual literacy. This study analyzes the alignment of manuscripts from the Ministry of Education's reading material competition with official leveling guidelines. Employing a qualitative approach with literature analysis, ten manuscripts from the 2023 Central Java Language Center competition were selected via purposive sampling. Analysis focused on three aspects: linguistics, content, and format. Regarding linguistics . omplexity, organization, style, and predictabilit. , most manuscripts complied, yet issues in structural complexity and organization weakened readability. terms of content . enre, familiarity, and vocabular. , although genres were appropriate, rapid pacing and indistinct characters diminished developmental familiarity, while cultural vocabulary lacked explanation. Regarding format . ength, typography, and layou. , manuscript length was generally adequate, but inconsistencies in typography and illustration The study concludes that the manuscripts fail to fully meet the leveling guidelines essential for child-friendly curation. Abstrak Kebutuhan akan bahan bacaan anak yang sesuai dengan tahap perkembangan serta mengintegrasikan nilai budaya semakin mendesak untuk mendukung literasi yang Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian naskah hasil sayembara pengadaan bahan bacaan Kementerian Pendidikan dengan aturan pedoman perjenjangan Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis literatur. Melalui teknik purposive sampling, dipilih sepuluh naskah hasil sayembara tahun 2023 oleh Balai Bahasa Jawa Tengah. Analisis difokuskan pada tiga aspek utama: kebahasaan, konten, dan format. Pada aspek kebahasaan . ompleksitas, organisasi, gaya, dan prediktabilita. , ditemukan bahwa meskipun sebagian besar naskah sudah sesuai ketentuan, masih ditemukan isu kompleksitas struktur, organisasi yang terlalu panjang, serta kesinambungan kalimat yang melemahkan keterbacaan. Pada aspek konten . enre, familiaritas, dan kosakat. , ditemukan bahwa walaupun genre cerita telah sesuai aturan, alur bergerak terlalu cepat, karakter tidak jelas dan tidak sesuai dengan tugas perkembangan mengurangi sehingga familiaritas, serta kosakata budaya tidak dijelaskan melalui narasi maupun glosarium. Pada aspek format . anjang buku, gaya dan ukuran, serta tata leta. , ditemukan bahwa panjang naskah umumnya sudah tepat, tetapi inkonsistensi dalam tipografi, tata letak, dan ilustrasi masih menjadi catatan dalam naskah. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa naskah tidak dapat memenuhi pedoman perjenjangan bacaan yang seharusnya menjadi prasyarat kurasi naskah ramah anak. A 2025 The Author. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya by Universitas Mulawarman How to cite this article with APA style 7th ed. Mulasih. Suroso, & Efendi. Kesesuaian teks dwibahasa Jawa-Indonesia jenjang B1 terhadap pedoman perjenjangan nomor 030/P/2022. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya, 8. , 1121Ae1136. https://doi. org/10. 30872/diglosia. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya is an open access article under the terms of the Creative Commons Attribution-Share Alike 0 International License (CC BY-SA 4. Mulasih. Suroso, & Anwar Efendi Pendahuluan Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibac. 2019 mengungkapkan bahwa hanya 26% provinsi di Indonesia yang memiliki aktivitas literasi dikategorisasi sedang, sementara 71% lainnya berada dalam kategori rendah, dan 3% sangat rendah (Fransisca, 2. Rendahnya indeks aktivitas literasi tersebut dipengaruhi disparitas ketersediaan bahan bacaan dan kurangnya buku dengan konten yang mampu menarik minat anak (Nasrullah & Asmarini, 2. , serta mendukung kemampuan dalam menghadapi era 21 (Boeriswati et al. , 2. Meskipun demikian, literasi dibutuhkan anak untuk mengembangkan karakter nasionalis (Safitri & Ramadan, 2. , dan kemampuan kritis (Harsaid et al. , 2. , untuk menangkal hal-hal yang bertentangan dengan nilai budaya nasional (Kiranti et al. , 2. Selain itu, strategi tersebut telah terbukti efektif dan diterapkan oleh negara-negara adidaya (Marsono, 2. Menanggapi isu tersebut, kementerian membuat berbagai gerak strategis terutama dalam rangka mendorong integrasi literasi ke dalam kurikulum pendidikan anak (Harti et al. , 2. Pada tahun 2024, bertepatan dengan Hari Buku Nasional, gerakan ini secara resmi membuahkan Keputusan Mendikbudristek Nomor 025/H/P/2024 yang mengatur standardisasi naskah sastra yang masuk ke dalam kurikulum (Nurjolis & Andik, 2. Pada bulan yang sama. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahas. 000 eksemplar buku. Buku-buku ini akan didistribusikan ke 35. 785 Sekolah Dasar dengan kategori literasi rendah berdasarkan hasil asesmen nasional (AN) tahun 2022, yang tersebar di 514 kabupaten/kota. Pengiriman buku tahap pertama dimulai sejak Senin, 6 Mei 2024. Pada tahap kedua. Badan Bahasa akan mencetak 200 judul buku dengan total 5. 200 eksemplar, yang akan dikirimkan 292 Sekolah Dasar (Ade, 2. Buku-buku tersebut merupakan hasil kurasi dari sayembara penyediaan bahan bacaan yang diselenggarakan oleh Badan Bahasa. Penyelenggaraan sayembara ini dilakukan secara nasional melalui balai perwakilan daerah. Pada tiap-tiap daerah, program berfokus pada penyediaan bahan bacaan dwibahasa. Program ini bertujuan mendukung literasi budaya yang dapat dinikmati antarkomunitas dalam lingkup nasional. Salah satu balai bahasa yang berperan aktif dalam program ini adalah Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (Prihantono, 2. Hingga 2023. Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah telah meloloskan ratusan naskah dwibahasa. Kurasi dan distribusi tersebut dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga kualitas dan aksesibilitas bahan bacaan anak. Kedua langkah strategis tersebut digunakan untuk mendorong aktivitas literasi melalui bahan bacaan yang berkualitas (Sailar, 2. Salah satu kriteria penting untuk menjaga kualitas dalam pelaksanaan sayembara penyediaan naskah adalah penyesuaian naskah dengan pedoman perjenjangan buku. Pedoman tersebut memberikan parameter mengenai jenis bahan bacaan yang sesuai dengan perkembangan psikologis dan kemampuan membaca anak. Hal ini sangat penting untuk pembentukan persepsi anak terkait kegiatan membaca sebagai aktivitas menyenangkan. Buku berjenjang menyediakan materi yang kompleksitasnya meningkat secara bertahap, disesuaikan dengan lima jenjang pembaca: . jenjang A . embaca din. jenjang B . jenjang C . embaca semenjan. jenjang D . embaca mady. jenjang E . embaca mahi. (Peraturan Kepala Badan Standar. Kurikulum. Dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset. Dan Teknologi Nomor 030/P/2022 Tentang Pedoman Perjenjangan Buku, 2. Namun, observasi awal terhadap naskah-naskah hasil terbitan Balai Bahasa Jawa Tengah, ditemukan dua masalah utama. Pertama, tema budaya yang diangkat tidak sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak (Ratri et al. , 2. Kedua, naskah disusun oleh orang dewasa, sementara keterlibatan anak hanya sebatas asesmen untuk distribusi buku (Ade, 2. Saat ini terdapat kekhawatiran bahwa karya orang dewasa mencerminkan pandangan ideal mereka sendiri, bukan realitas yang relevan bagi anak (Politis, 2. Padahal , naskah yang ideal dan efektif harus menggambarkan anak sebagai subjek aktif yang berperan dalam interaksi sosial Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1121Ai1136 Kesesuaian teks dwibahasa Jawa-Indonesia jenjang B1 terhadap pedoman perjenjangan nomor 030/P/2022 dan diskusi moral (Luciano et al. , 2. , sehingga dapat menjadi panduan perkembangan kognitif mereka tentang dunia (Yeon et al. , 2. Menanggapi hal ini, diperlukan validasi lebih lanjut terhadap naskah perjenjangan yang disusun oleh kementerian, sehingga kekhawatiran bahwa naskah tersebut tidak sesuai dengan perkembangan anak dapat terjawab secara ilmiah. Sejauh ini, penelitian tentang sistem perjenjangan bacaan anak masih sangat terbatas di Indonesia. Kajian yang ada pun terfragmentasi, misalnya hanya membahas aspek kebahasaan (Hiebert & Tortorelli, 2. atau membahas konten kebudayaan saja (Fauzi et al. , 2. Berdasarkan celah yang ditemukan, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menelaah kesesuaian naskah terbitan balai bahasa terhadap perkembangan pembaca secara komprehensif. Adapun teori utama yang digunakan adalah pedoman perjenjangan No. 030/P/2022 yang menjadi alat kurasi naskah kementerian, tidak terkecuali balai bahasa. Pedoman tersebut berakar dari teori yang dikemukakan Mermer. Mermer menyatakan bahwa kompleksitas buku yang dapat meningkat di antaranya: . bahasa, yang melingkupi kompleksitas kalimat, organisasi, gaya, prediktabilitas. konten, yang meliputi familiaritas, genre, dan kosakata. format, yang meliputi panjang teks, gaya dan ukuran huruf, tata letak, dan ilustrasi (Mesmer, 2008, pp. 71Ae. Dua konstruk ini kemudian diintegrasikan untuk menelaah naskah terbitan Balai Bahasa Jawa Tengah, terkhusus untuk perjenjangan B1. Naskah B1 ditujukan untuk anak-anak di usia 68 tahun. Pada tahap ini, anak-anak mulai beralih dari membaca untuk belajar membaca, menjadi Selain itu, menurut Piaget, sejak usia 6 tahun, anak mulai menunjukkan perkembangan dalam penalaran logis, memahami hubungan sebab-akibat, dan memiliki kemampuan memori jangka panjang. Pengembangan karakter yang dimulai pada masa ini akan didukung dengan perkembangan kognitif mereka (Hasibuan et al. , 2. Oleh karena itu, penelaahan terhadap naskah jenjang B1 dengan tema budaya itu, menjadi sangat penting. Hal ini dilakukan untuk memastikan optimalisasi peran naskah sebagai pintu gerbang strategis, dalam menanamkan nilai-nilai karakter nasional dan membangun fondasi literasi. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis tekstual (Barker & Jane, 2. Data diperoleh dari sepuluh naskah jenjang B1 terbitan Balai Bahasa Jawa Tengah tahun 2023 yang dipilih melalui purposive sampling untuk mendukung tercapainya tujuan Tabel. 1 Naskah Jenjang B1 terbitan Balai Bahasa Jawa Tengah 2023 Judul Naskah Menanam Kentang Ketika Bibo Rindu Mendoan Karya Afia Enak dan Manis Srabi Pelangi Lebaran Ketupat Tradisi Takiran Bagaimana Bunyinya Hore! Aku Bisa Menghitung Jangan Macam-macam dengan Keluarga Mosi Penulis Dian Nofitasari Muhammad Fauzi Rokhmat Sita Sarah Fajriatun Nurhidayati Yuli Kismawati Fajriatun Nurhidayati Oky. Noorsari Rokhmat Dian Nofitasari Kode KBR JMD Analisis difokuskan pada tiga indikator utama, yakni, aspek kebahasaan, konten, dan . Kebahasaan mengatur tingkat kesulitan melalui empat indikator: . kompleksitas kalimat, dari struktur subjekAepredikat sederhana hingga kalimat majemuk dengan klausa bertingkat dan frasa yang panjang. organisasi, dari satu kalimat per-halaman hingga paragraf Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1121Ai1136 Mulasih. Suroso, & Anwar Efendi panjang dengan subjudul. gaya, dari bahasa lisan sederhana hingga gaya sastra dengan konstruksi teknis. prediktabilitas, dari pola berulang yang mudah ditebak hingga struktur variatif yang tidak dapat diprediksi (Mesmer, 2008, p. Konten mempengaruhi tingkat kesulitan melalui: . familiaritas, dari tema sehari-hari hingga ide abstrak dan kompleks. genre, dari narasi sederhana hingga fiksi sejarah, memoar, atau fantasi dengan alur episodik dan karakter kompleks. kosakata, dari kosakata umum percakapan hingga kosakata teknis dan khusus (Mesmer, 2008, p. Format ditentukan oleh: . panjang teks, dari <50 kata hingga >250 kata. tipografi, dari huruf besar dengan spasi lebar hingga ukuran kecil dengan spasi rapat. tata letak, dari konsisten dan sederhana hingga kompleks dengan subjudul atau kolom. ilustrasi, dari visual yang mendukung pemahaman hingga gambar terbatas sebagai elemen tambahan (Mesmer, 2008, p. Adapun langkah-langkah analisis adalah sebagai berikut: . pengelolaan data. Data hasil pengumpulan berupa naskah, jurnal, buku, dan dokumen terkait diorganisasikan dan disiapkan untuk dianalisis. analisis horizontal. Setiap naskah dianalisis secara mendalam menggunakan instrumen penelitian dengan menggunakan matriks data. Analisis dilakukan satu per satu hingga seluruh butir dalam instrumen selesai ditelaah. Pada tahap ini, hasil analisis disajikan bersamaan dengan kutipan langsung dari naskah sebagai bukti untuk memperkuat interpretasi. analisis Setelah seluruh naskah selesai dianalisis secara horizontal, data dari setiap kolom instrumen ditarik secara vertikal ke bawah untuk membandingkan hasil antarnaskah. Pada tahapan ini, dapat dilihat persamaan, perbedaan, maupun pola yang muncul di tiap-tiap elemen. interpretasi data. Peneliti menafsirkan hasil perbandingan tersebut dengan mengaitkannya pada teori dan pertanyaan penelitian. validasi oleh ahli. Secara paralel, naskah yang sama ditelaah oleh ahli, yakni akademisi (Dr. Teguh Trianto. dan budayawan Banyumas (Ahmad Tohar. Hasil penilaian ahli digunakan untuk memeriksa konsistensi, memperkuat kredibilitas, serta menemukan sudut pandang tambahan. penyajian data. Hasil analisis disajikan dalam bentuk deskriptif naratif yang dilengkapi tabel dan kutipan. Penyajian ini bertujuan menghadirkan thick description agar pembaca dapat memahami data secara utuh sekaligus menilai keabsahan interpretasi. Pembahasan Kesesuaian Terhadap Aspek Kebahasaan Kesesuaian Aspek Kebahasaan: Indikator Kompleksitas Kalimat Berdasarkan aturan perjenjangan, pada jenjang B1, naskah dapat disusun dengan penggunaan kata tunggal, frasa, klausa, kalimat tunggal, dan kalimat majemuk setara. Sementara hasil analisis menemukan bahwa, naskah didominasi oleh kalimat tunggal sederhana. Di semua naskah, ditemukan kalimat yang hanya terdiri dari interjeksi tunggal, frasa, tanpa struktur subjekpredikat yang lengkap. Berikut variasi struktur kata atau kalimat tunggal yang muncul: Struktur Interjeksi, seperti AuHii!Ay (MK, p. AuAduh!Ay (SP, p. AuBenar!Ay (HA, p. Selain dalam bentuk tunggal, ada yang disajikan dalam bentuk repitisi seperti. AuHus, hus, hus!Ay (TK, p. Struktur Predikat, yang dalam naskah muncul dengan pola repetitif seperti. AuDiputar . Ay (EM, p. Struktur Predikat Keterangan, yang dalam naskah banyak digunakan pada kalimat imperatif, atau kalimat yang memuat intruksi, seperti. AuAmbil satu bibit. Ay (MK, p. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1121Ai1136 Kesesuaian teks dwibahasa Jawa-Indonesia jenjang B1 terhadap pedoman perjenjangan nomor 030/P/2022 Struktur Subjek Predikat (SP) atau Predikat Subjek (PS). SP dalam naskah digunakan pada kalimat deklaratif, seperti, "Ia senang sekali. " (LK, p. Sementara struktur PS dapat terlihat dalam kalimat berikut. AuAda yang kecil-kecil. Ay (BB, p. Struktur Subjek Predikat Objek (SPO), adalah bentuk kalimat yang paling banyak muncul pada naskah, seperti. AuBibo mencoba membuat tempe. Ay (KBR, p. Struktur ini juga digunakan pada kalimat interaktif, misalnya. AuLo, di mana pewarna hijaunya?Ay (SP, p. Subjek Predikat Keterangan (SPK) atau Keterangan Subjek Predikat (KSP). Pada naskah, struktur SPK atau KSP, umumnya digunakan untuk jenis kalimat yang menambahkan unsur tempat. Contoh kalimat SPK adalah. AuMona tinggal di Banyumas. Jawa Tengah (KBR, p. Sementara kalimat KSP merujuk pada kalimat dengan keterangan tempat di depan, seperti. AuDi kebun Afia banyak tanaman bunga (KA, p. Struktur Subjek Predikat Objek Keterangan (SPOK) atau Keterangan Struktur Subjek Predikat Objek (KSPO). Contoh SPOK dalam naskah adalah. AuJanur itu akan digunakan untuk membuat ketupat. Ay (LK, p. Sementara itu, struktur KSPO digunakan untuk menekankan aspek waktu, tempat, atau situasi di awal kalimat, seperti, "Sore ini. Rumi akan pergi bermain. Ay (TK, p. Strategi kebahasaan sederhana ini untuk menjaga keterbacaan dan aksesibilitas teks (Gopal et al. , 2. Struktur kalimat yang tidak panjang, efektif mempermudah pembaca memahami tujuan (Nurhuda et al. , 2. Meskipun demikian, dalam upaya menyampaikan alur peristiwa atau hubungan sebab-akibat secara lebih terstruktur, 8 dari 10 naskah tetap menghadirkan bentuk kalimat majemuk. Berikut contoh penggunaannya pada naskah: Majemuk Setara, terdiri dari dua atau lebih klausa yang memiliki kedudukan sejajar atau Pada naskah, indikator kemajemukan ini terlihat dari kata penghubung . seperti "dan", "atau", "tetapi", "lalu", dan "kemudian". Sebagai contoh. AuDitumbuk kemudian ditempelkan ke kuku. Ay (KF, p. Majemuk Bertingkat, atau kalimat yang terdiri dari dua klausa yang saling mempengaruhi atau berhubungan. Hubungan itu bisa dikarenakan tujuan, seperti, "Agar makin berani. Diwang memakai sarung tangan. " (MK, p. sebab-akibat, seperti, "Karena musim kemarau, bedeng tidak memakai plastik. " (MK, p. induk-anak kalimat, seperti. AuBibo janji, akan mengenalkan mendoan pada tetangganyaAy (KBR, p. interogatif bersyarat, seperti. AuBagaimana kalau Sari membuat yang lain saja?Ay (LK, p. repitisi distributif, seperti, "Satu per satu ketupat diisi beras. " (LK, p. klausa relatif, seperti. Au"Takir yang dibuat Rumi bentuknya tidak sama. " (TK, p. dan hubungan waktu, seperti. AuRio membereskan congklak setelah dipakai bermain. Ay (HA, p. Majemuk Rapatan, atau bentuk kalimat majemuk yang menggabungkan dua atau lebih klausa dengan unsur yang sama, sehingga terjadi perapatan struktur sintaksis. Pada naskah, kalimat tersebut ditemukan dalam bentuk seperti: AuBibo tahu cara membuat tempe dan mendoanAy (KBR, p. Hanya saja, kalimat majemuk yang menjadi batas optimal dalam kategori B1 adalah majemuk setara. Hal itu karena pada majemuk setara, masing-masing klausa berdiri sendiri sehingga lebih cepat dipahami (Lenhart et al. , 2. Keberadaan kalimat majemuk bertingkat dan rapatan dalam delapan naskah menunjukkan penyimpangan dari pedoman. Dalam studi neurokognitif, kapasitas memori kerja anak-anak di masa awal baca belum berkembang optimal untuk memahami naskah yang kompleks (Moscati et al. , 2. Pemrosesan kalimat ambigu dan kompleks seperti dalam kalimat bertingkat . sulit untuk dicerna, sehingga menurunkan keterbacaan serta efektivitas penyampaian makna (Pontikas et al. , 2. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1121Ai1136 Mulasih. Suroso, & Anwar Efendi Kesesuaian Aspek Kebahasaan: Indikator Organisasi Merujuk pada perjenjangan bacaan, naskah B1 maksimal terorganisasi ke dalam 5 kalimat per-halaman dan maksimal 7 kata per-kalimat. Sementara pada hasil analisis, diketahui bahwa jumlah kalimat per-halaman dalam naskah didominasi oleh rentang 2 hingga 5 kalimat, dengan frekuensi tertinggi pada 4 kalimat per-halaman, sehingga masih sesuai dengan aturan yang Sementara itu, distribusi jumlah kata per kalimat menunjukkan bahwa sebagian besar kalimat terdiri atas 2 hingga 7 kata. Meskipun demikian, terdapat dua naskah yang memiliki kalimat dengan jumlah kata melebihi ambang batas, yakni sebanyak 8 kata. Kalimat tersebut di antaranya adalah AuBibit diglethakna nang bolongan, terus ditutupi karo lemah. Ay (MK, p. , serta pada kalimat AuNamun, keluarga Mosi tidak menakuti orang yang datang. Ay (JMD, p. Jumlah kata dan panjang kalimat memengaruhi keterbacaan dan level bacaan (Hiebert & Tortorelli, 2. Naskah yang terlalu panjang atau padat menghambat keterlibatan anak terhadap narasi, sehingga memperlambat pemahaman dan menurunkan akurasi persepsi (Matthews & Folivi, 2. Kesesuaian Aspek Kebahasaan: Indikator Gaya Pada buku tingkat rendah, gaya bahasa yang direkomendasikan untuk digunakan adalah gaya lisan. Berikut beberapa temuan pada penelaahan terhadap gaya naskah: Kasualitas. Seluruh naskah menunjukkan bahwa gaya bahasa dalam naskah berbahasa Jawa cenderung lebih kasual dibandingkan naskah berbahasa Indonesia, seperti kalimat berikut: AuMosi mikir. Arep ngapa, ya? (Mosi berpikir. Mau melakukan apa, ya?)Ay (JMD, p. Kekasualan ini dapat dikaitkan dengan karakteristik dialek Ngapak yang secara alami lebih akrab dan spontan (Sutrisno et al. , 2. Kemudian naskah juga menggunakan gaya sederhana dan konkret, seperti AuLaras buru-buru ke warungAy (SP, p. , sehingga memudahkan pemahaman isi cerita tanpa sintaksis kompleks (Gopal et al. , 2021. Hiebert & Tortorelli, 2. Lalu, meskipun naskah B1 tidak mengizinkan dialog, penulis menghadirkan interaktivitas menggunakan kalimat retoris. Contoh kalimat yang ditemukan adalah: AuDiwang, siap menanam kentang?Ay (MK, p. dan AuKira-kira apa yang kurang, ya? Ah. Afia punya ide. Ay (KA, p. Pada seluruh naskah, kalimat retoris digunakan menggambarkan percakapan internal tokoh . , percakapan antar tokoh, hingga menciptakan kesan berkomunikasi dengan pembaca. Elemen partisipatif mendorong pembaca aktif berpikir dalam proses memahami isi cerita sebagaimana proses berpikir tokoh (Petousi et al. , 2. Usaha penyusun buku dalam melibatkan pembaca juga dilakukan dengan unsur ekspresivitas, melalui reaksi spontan, deskripsi emosi, dan interjeksi. Sebagai contoh, dalam naskah MK, ekspresi spontan tokoh Diwang disampaikan secara eksplisit melalui narasi, seperti pada kalimat. AuDiwang suka sekali!Ay (MK, p. Contoh lain ada pada kalimat AuWah, kelihatannya mudah. Ay (TK . , yang mengandung interjeksi wah untuk mengekspresikan antusiasme tokoh Rumi ketika melihat proses pembuatan takir. Narasi ekspresif meningkatkan keterlibatan emosional (Mordechay et al. , 2. , koherensi (Foldager et al. , 2. , dan kemunculan empati anak (Brockington et al. , 2. Selain itu, banyak kalimat dalam naskah difokuskan pada detail visualisasi . entuk, bunyi, warna, bahkan prose. Bentuk visualisasi dalam naskah dilakukan dengan membandingkan informasi kontekstual dengan hal familiar, metafora perubahan visual, ekspresi hiperbolik sederhana untuk menekankan aspek durasi, kalimat repetitif atau reduplikasi, serta onomatope untuk bunyi. Salah satu contohnya ada pada kalimat. AuPutih menjadi cokelat. Ay (EM, p. , yang menggambarkan proses perubahan warna makanan ketika dimasak. Pada naskah BB, banyak digunakan repitisi onomatope seperti,AuThik-thik-thik!Ay (BB, p. untuk visualisasi bunyi Komposisi visual membuat naskah bersifat multimodal (Pantaleo, 2. , yang membantu pemahaman narasi sehingga alur mudah diingat (Bernstein et al. , 2. Sebagai imbas dari integrasi tema STEAM, muncul pula gaya prosedural. Sebagai contoh, pada naskah MK, untuk menjelaskan prosedur penanam kentang digunakan kalimat instruktif Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1121Ai1136 Kesesuaian teks dwibahasa Jawa-Indonesia jenjang B1 terhadap pedoman perjenjangan nomor 030/P/2022 seperti, "Ambil satu bibit" (MK, p. Narasi yang menjelaskan tindakan bertahap secara logis dan runtut menjembatani konsep abstrak dan praktik, sehingga pembaca memahami konsep aplikatif (Gonzylez-Martyn et al. , 2. Kesesuaian Aspek Kebahasaan: Indikator Prediktabilitas Teks untuk bacaan rendah mengandalkan pola berulang, seperti rima atau struktur kalimat yang sama. Hampir semua naskah menyisipkan prediktabilitas tinggi di awal sebagai pengait, lalu beberapa mengalami penurunan untuk mendorong rasa ingin tahu. Naskah memiliki alur linear, pola repetisi kata/frasa yang kuat, hubungan sebab-akibat yang eksplisit, penggunaan bahasa sederhana, serta kontinuitas antar halaman. Hal ini membantu pembaca menebak kelanjutan cerita dan meningkatkan rasa percaya diri mereka (Wijns et al. , 2. Secara umum, prediktabilitas menurun karena adanya ketidakpastian dalam ritme alur cerita, misalnya dalam satu halaman diakhiri dengan interjeksi atau pertanyaan. Pada proses perkembangan keterampilan, hal ini digunakan melatih pembaca anak terkait fleksibilitas berpikir dan respons terhadap informasi tak terduga (C. Li & Kovycs, 2. Terdapat pula kasus khusus pada beberapa naskah, seperti kemunculan simbol budaya. Dalam naskah LK, muncul konsep keris pusaka dalam kalimat berikut: "Wah, ada keris pusaka juga!" (LK, p. Konteks kepustakaan yang tidak dijelaskan dalam narasi maupun glosarium mempersulit pemaknaan bagi anak (Alford & Yousef, 2. Kemudian, adanya variasi penyajian narasi prosedural dengan hanya mengandalkan visual tanpa dukungan verbal pada naskah Srabi Pelangi. Informasi yang disajikan melalui gambar dapat menurunkan prediktabilitas karena tidak menghadirkan penanda tindakan yang jelas (Cohn, 2. , sehingga membuka peluang interpretasi berbeda (Pantaleo, 2. Anak-anak lebih mudah mengingat elemen visual dibandingkan urutan atau logika prosedural. Akibatnya, mereka mungkin mengenali bentuk atau warna, tetapi tidak mampu merekonstruksi langkah-langkah dengan tepat (Scheurich et al. , 2. Lalu, pergantian setting yang mendadak pada naskah Hore! Aku Bisa Menghitung tanpa kontinuitas narasi juga dapat mengganggu alur berpikir logis dan mempersulit prediksi (Debuse & Warnick, 2. Kesesuaian terhadap Aspek Konten Kesesuaian Aspek Konten: Indikator Genre Melalui penelaahan, dapat diketahui bahwa 8 dari 10 naskah mengambil genre realis, atau mengangkat pengalaman keseharian, sementara dua naskah lain mengambil genre dongeng fabel atau personifikasi terhadap tokoh hewan, yaitu. Ketika Bibo Rindu Mendoan dan Jangan MacamMacam dengan Keluarga Mosi!. Variasi ini sesuai dengan aturan perjenjangan B1. Fiksi realis memberikan asosiasi langsung kepada dunia nyata (Benjamin, 2. , sementara fabel menstimulasi imajinasi (Dewi et al. , 2. yang menyenangkan dan menarik (Madondo & Dampier, 2. asal karakter dipersonifikasi sesuai dengan perkembangan anak (Manshur. Struktur naratif seluruh naskah mengikuti pola klasik yang linear yang sederhana dengan alur progresif, yang membantu anak berpikir logis (Buttrick et al. , 2. , tentang sebab-akibat, tujuan, progres emosi sehingga pesan moral tersampaikan dengan natural (Benjamin, 2024. Croix et al. , 2. Namun demikian, tidak semua naskah bebas dari keterbatasan struktural. Naskah Hore! Aku Bisa Menghitung menunjukkan plot terlalu cepat dan dapat menurunkan keterlibatan emosional (J. Huang & Grizzard, 2. karena resolusi masalah kurang logis (Santosa et al. , 2. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1121Ai1136 Mulasih. Suroso, & Anwar Efendi Kesesuaian Aspek Konten: Indikator Familiaritas Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, topik, situasi, karakter, emosi dan bahasa familiar sesuai dengan tahapan perkembangan anak (Noegroho, 2. , sehingga narasi bersifat kontekstual (Amin et al. , 2. dan memudahkan pembaca untuk mengidentifikasi diri mereka pada cerita (Puspitoningrum, 2. Namun demikian, isu terkait familiaritas tetap muncul, karena: pertama, karakter pendukung pada naskah Enak dan Manis tidak diberi penokohan yang jelas, sehingga menimbulkan ambiguitas (Liu & Keller, 2. Kedua, tokoh utama pada naskah Ketika Bibo Rindu Mendoan, yakni Bibo, dipersonifikasi sebagai manusia yang bekerja menjadi petani atau mengambil peran dewasa (K. Huang & Fung, 2. Kesesuaian Aspek Konten: Indikator Kosakata Secara teoretis, buku mudah menggunakan kosakata yang umum dalam percakapan. Menurut aturan perjenjangan, pada jenjang B1, kosakata yang digunakan bersifat sederhana dan akrab . Di dalam satu buku, memuat 25Ae40 kosakata yang sering digunakan. Seluruh naskah memiliki tingkat keakraban tinggi karena tema cerita, tokoh, dan pilihan bahasa yang dekat dengan dunia anak. Gaya bahasa seperti dialog atau kalimat langsung (Burke & Coats, 2. yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari mengurangi beban kognitif dan proses asimilasi informasi pada anak (Giroud et al. , 2023. Morgenstern, 2. Istilah khusus, terutama yang berkaitan dengan budaya dan sains, disisipkan secara Penjelasan lanjutan diberikan melalui ilustrasi atau glosarium yang mempermudah anak (Morgenstern, 2. Meski demikian, masih ditemukan kosakata budaya yang tidak dijelaskan lebih lanjut, seperti pada naskah Lebaran Ketupat, baik dalam konteks maupun glosarium, sehingga menghambat pemaknaan . an Rij et al. , 2. atau ambigu (Le & Miller. Kesesuaian terhadap Aspek Format Kesesuaian Aspek Format: Indikator Panjang buku Menurut peraturan perjenjangan buku, pada tingkat B1 tebal buku ada pada kisaran 16-32 Naskah yang dianalisis memiliki jumlah halaman isi sebanyak 16 halaman. Fokus dan kedalaman pemahaman anak meningkat saat membaca teks yang disajikan dalam bentuk naratif pendek dan interaktif (H. Li et al. , 2. Kesesuaian Aspek Format: Indikator Gaya dan Ukuran Huruf Peraturan perjenjangan menyatakan bahwa pada tingkat B1, naskah perlu menggunakan fon tidak berkait (Sanseri. dengan ukuran minimal 20 pt dan spasi yang memadai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, naskah menggunakan model font Calibri yang termasuk ke dalam fon tidak berkait, tetapi dengan ukuran hanya 12 pt. Fon tidak berkait memiliki performa lebih baik untuk pengenalan kata dan meningkatkan keterbacaan (Minakata et al. , 2. Sementara meski ukuran 12pt cukup untuk keterbacaan (Sieghart, 2. , ukuran mendekati 20pt atau lebih memberikan kenyamanan lebih optimal (Gu et al. , 2. dan mengurangi kelelahan visual untuk buku digital (Aura et al. , 2. Kesesuaian Aspek Format: Indikator Tata letak Hasil temuan menunjukkan kategorisasi beragam pada tata letak. Empat naskah (Ketika Bibo Rindu Mendoan. Srabi Pelangi. Tradisi takiran, dan Jangan Macam-Macam dengan Keluarga Mos. berada pada konsistensi tinggi karena penempatan yang seragam tanpa pengecualian. Tiga Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1121Ai1136 Kesesuaian teks dwibahasa Jawa-Indonesia jenjang B1 terhadap pedoman perjenjangan nomor 030/P/2022 naskah (Enak dan Manis. Lebaran Ketupat, dan Bagaimana Bunyiny. berada pada konsistensi sedang karena sebagian besar konsisten, namun terdapat beberapa penyesuaian mengikuti Tiga naskah berada pada konsistensi rendah (Menanam Kentang. Karya Afia, dan Hore! Aku bisa Menghitun. karena menunjukkan variasi penempatan yang berbeda tiap halaman. Konsistensi tata letak (Hayati et al. , 2. menjadi kunci kemudahan pemahaman dan daya tarik visual dari buku anak (Kolosnichenko et al. , 2. Sementara semakin tidak konsisten tata letak, itu akan berdampak pada terganggunya skema pemrosesan teks (Ate, 2. Kesesuaian Aspek Format: Indikator Ilustrasi Semua naskah menggunakan ilustrasi 2D berwarna penuh sebagai standar visual, yang memberikan kesan cerah, ramah anak, dan mudah dicerna (Ibenegbu, 2021. Syahbani et al. Penggunaan ilustrasi 2D dan full warna juga sesuai dengan aturan perjenjangan yang berlaku pada tahap ini. Selain itu, proporsi gambar lebih dominan dibandingan teks, sehingga memperkuat imajinasi melalui representasi simbolik terkait dunia (Weiwei, 2. Sebagian besar memanfaatkan variasi ilustrasi dalam bentuk full-page untuk menjaga kontinuitas, dengan variasi insert dan spot untuk memperkaya perspektif (Tsapiv, 2. Secara fungsional, mayoritas ilustrasi berhasil mendukung dan memperkuat narasi. Ilustrasi tidak hanya memperindah, tetapi juga menjelaskan prosedur . ontoh: takir, ketupa. , mendeskripsikan emosi, serta membangun atmosfer dan budaya (Strode & Munda, 2023. Wang & Jung, 2. Beberapa naskah menampilkan sisipan komponen budaya lokal baik yang masuk ke dalam narasi atau bertugas memperkuat konteks latar. Sisipan yang tersebar terbukti menguatkan konstruksi identitas budaya yang terlimitasi narasi (Lea, 2. Namun begitu, secara kasuistik, tetap ditemukan kecatatan ilustrasi di dalam naskah. Gambar 1. Inkonsistensi Penokohan Ayah dan Paman dalam Naskah Menanam Kentang (MK, pp. Pertama, inkonsistensi penokohan pada naskah MK, yang menunjukkan tokoh dewasa diilustrasikan seumuran anak pada halaman 8. Kesesuaian usia menjadi hal wajib (Weiwei, 2. yang menjaga dari gangguan pemahaman kognitif (Ate, 2. Kedua, gangguan kohesi antara narasi dengan ilustrasi pada naskah EM. Kegagalan ilustrator dalam menciptakan keterkaitan antara ilustrasi dan narasi teks menjadi permasalahan yang sering dijumpai dalam naskah anak (Ate, 2. Ketiga, gangguan suasana pada BB, di mana ilustrasi hanya menampilkan latar kosong tanpa menggambarkan suasana (Weiwei, 2. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1121Ai1136 Mulasih. Suroso, & Anwar Efendi Penutup Hasil penelaahan terhadap 10 naskah jenjang B1 hasil sayembara pengadaan bahan bacaan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah tahun 2023, menunjukkan kualitas yang beragam jika ditelaah berdasarkan aturan perjenjangan bacaan. Pada aspek kebahasaan, sebagian besar naskah memenuhi ketentuan, namun terdapat temuan terkait ketidaksesuaian kompleksitas, organisasi, hingga isu kontinuitas kalimat yang mengganggu prediktabilitas teks. Pasa aspek konten, meskipun genre disusun sesuai dengan aturan, ditemukan permasalahan pada alur yang terlalu cepat, karakter yang kurang jelas atau tidak selaras dengan konteks usia pembaca, serta kosakata budaya yang tidak dijelaskan baik di narasi maupun glosarium. Pada aspek format, panjang buku sesuai ketentuan, tetapi terdapat variasi pada ukuran huruf, konsistensi tata letak, dan ketepatan ilustrasi yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Penelitian menyimpulkan bahwa sebagian naskah belum sepenuhnya memenuhi kriteria pedoman perjenjangan bacaan yang seharusnya menjadi prasyarat kurasi naskah ramah anak. Daftar Pustaka