JOURNAL OF EDUCATIONAL REVIEW AND RESEARCH Vol. 8 No. December 2025. Page: 123 Ae 131 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Model Self-Directed Learning (SDL) Berbasis Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Teks Berita Saptiana Sulastri1. Muhammad Thamimi2 Universitas PGRI Pontianak. Pontianak. Indonesia1,2 saptianasulastri292@gmail. com1, thamibenzema09@gmail. Keywords : Self-Directed Learning. Teks Berita. Kearifan Lokal ABSTRACT Perkembangan teknologi informasi dan melimpahnya arus berita digital menuntut peserta didik memiliki kemampuan literasi informasi, berpikir kritis, dan kemandirian belajar dalam memahami teks berita. Namun, pembelajaran teks berita di sekolah masih cenderung berorientasi pada penguasaan struktur dan kebahasaan, serta belum secara optimal mendorong pembelajaran mandiri dan penguatan nilai-nilai kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model pembelajaran Self-Directed Learning (SDL) pada materi teks berita dengan mengintegrasikan kearifan lokal sebagai konteks pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dan sintesis teoretis terhadap konsep SDL, pembelajaran teks berita, serta integrasi kearifan lokal dalam pendidikan. Analisis data dilakukan dengan teknik content analysis terhadap literatur utama yang relevan. Hasil penelitian menghasilkan model pembelajaran SDL yang terdiri atas lima tahapan inti, yaitu kesadaran diri, manajemen diri, pemilihan strategi belajar, pelaksanaan pembelajaran, dan refleksi diri. Integrasi kearifan lokal dilakukan secara tematik dan metodologis melalui pemanfaatan sumber berita lokal, keterlibatan masyarakat sebagai sumber belajar, serta pengangkatan isu sosial dan budaya lokal sebagai konten pembelajaran teks berita. Model pembelajaran yang dirancang memberikan kerangka operasional bagi guru dalam memfasilitasi pembelajaran teks berita yang berorientasi pada penguatan literasi informasi, kemandirian belajar, dan pembentukan karakter berbasis nilai-nilai lokal. Dengan demikian, model SDL ini berpotensi menjadi alternatif inovatif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. PENDAHULUAN Perkembangan pesat teknologi informasi dan derasnya arus globalisasi telah mengubah konstelasi pendidikan, yaitu perubahan mendasar yang mencakup peran peserta didik, peran pendidik, sumber belajar, serta pola interaksi dalam proses pembelajaran di kelas. Peserta didik tidak lagi hanya Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 123 Ae 131 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 berhadapan dengan buku teks cetak, tetapi juga dengan beragam sumber informasi digital yang melimpah dan mudah diakses, sehingga menuntut kemampuan untuk menyeleksi, menginterpretasi, dan menggunakan informasi secara kritis dan bertanggung jawab (Trilling & Fadel, . 9:7Ae. Kondisi tersebut menuntut pergeseran paradigma pembelajaran dari pendekatan yang berpusat pada pendidik menuju pembelajaran berpusat pada peserta didik (Student-Centered Learning/SCL), khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang menekankan penguatan literasi, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan berbahasa berbasis konteks (Harden & Laidlaw, 2017:21Ae. Salah satu pendekatan yang relevan dalam kerangka SCL adalah Self-Directed Learning (SDL), yaitu pendekatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif yang secara mandiri mengidentifikasi kebutuhan belajar, merencanakan strategi pembelajaran, menentukan sumber belajar, serta melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar secara reflektif (Knowles, 1975, pp. 18Ae19. Garrison, 1997, pp. 20Ae. Self-Directed Learning memiliki keterkaitan erat dengan konsep self-regulated learning yang menekankan kemampuan peserta didik dalam mengatur tujuan, strategi, dan evaluasi belajarnya secara mandiri (Panadero, 2017:2Ae. Pendekatan SDL dipandang esensial dalam membekali peserta didik dengan keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, kemandirian belajar, dan kemampuan belajar sepanjang hayat, yang menjadi orientasi utama pendidikan modern (Fisher et al. 2001, pp. 517Ae518. OECD, 2019, pp. 4Ae. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, penerapan Project-Based Learning (PjBL) dan Problem-Based Learning (PBL) sebagai wahana penguatan SDL menunjukkan kecenderungan yang semakin menguat dalam satu dekade terakhir. Hal ini diperkuat oleh studi bibliometrik yang dilakukan oleh Oktaviani . 5, pp. 112Ae. yang menunjukkan peningkatan signifikan publikasi penelitian PBL di sekolah dasar di Indonesia, khususnya yang mengkaji efektivitas PBL dalam mengembangkan keterampilan generik sains, kemampuan berpikir tingkat tinggi, serta kemandirian belajar peserta didik, yang secara konseptual sejalan dengan prinsipprinsip SDL. Menurut Tarigan . , penguasaan teks berita melatih siswa menyampaikan dan memahami informasi secara logis dan akurat, yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Berita merupakan komponen penting untuk komunikasi massa, yang bertujuan untuk menyampaikan informasi terbaru kepada masyarakat. Menurut Rahman . , teks berita merupakan teks yang melaporkan suatu kejadian, peristiwa, atau informasi tentang sesuatu yang telah terjadi. Penyampaian berita dapat dilakukan secara lisan maupun secara tulisan. Menurut Hariyanto . , berita merupakan sebuah informasi tentang sesuatu yang sedang terjadi, disajikan dalam bentuk cetak, siaran, daring, atau melalui komunikasi langsung dengan orang lain. Pembelajaran teks berita memiliki peran strategis dalam mengembangkan literasi informasi dan kemampuan berpikir kritis yang menjadi kompetensi kunci abad ke-21 (OECD, 2019:4Ae Pembelajaran teks berita memiliki potensi besar sebagai sarana pengembangan literasi informasi dan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Namun, pada praktiknya, peserta didik masih menghadapi berbagai permasalahan dalam memahami dan menganalisis teks berita. Peserta didik cenderung mengalami kesulitan dalam menafsirkan isi berita secara kritis, membedakan fakta dan opini, serta mengaitkan informasi dalam teks berita dengan realitas sosial di lingkungan sekitarnya. Kondisi tersebut tidak terlepas dari praktik pembelajaran teks berita di sekolah yang masih didominasi oleh metode konvensional, yang berfokus pada penghafalan struktur teks dan ciri kebahasaan, tanpa memberikan ruang yang memadai bagi peserta didik untuk belajar secara mandiri dan reflektif. Di sisi lain, kekayaan kearifan lokal Indonesia yang mengandung nilai-nilai luhur dan praktik sosial masyarakat setempat belum dimanfaatkan secara optimal sebagai konteks pembelajaran, sehingga materi teks berita sering terasa kurang kontekstual dan bermakna bagi peserta didik. Padahal, integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran teks berita berpotensi membantu peserta didik memahami isi berita secara lebih dekat dengan pengalaman hidupnya, sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter seperti integritas, empati, dan tanggung jawab sosial. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan pengembangan model pembelajaran yang secara sistematis mengintegrasikan prinsip Self-Directed Learning (SDL), materi teks berita, dan kearifan lokal guna memfasilitasi peserta didik menjadi pembelajar yang mandiri, kritis, dan berkarakter. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 123 Ae 131 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Penelitian ini berpijak pada pandangan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan tidak hanya berorientasi pada penerapan teori yang telah ada, tetapi juga pada upaya memperluas, memperdalam, dan mengontekstualisasikan teori agar relevan dengan kebutuhan pembelajaran nyata (Creswell & Creswell, 2018:8Ae. Dalam kerangka tersebut, penelitian ini tidak sekadar mengaplikasikan model pembelajaran yang sudah ada, melainkan berupaya melakukan pengembangan konseptual terhadap Self-Directed Learning (SDL) melalui sintesis teoretis dan penyesuaian konteks pembelajaran (Knowles, 1975:18Ae19. Garrison, 1997:20Ae. Pengembangan konseptual ini diarahkan pada integrasi prinsip-prinsip SDL dengan karakteristik pembelajaran teks berita yang menuntut kemampuan literasi informasi, berpikir kritis, dan refleksi terhadap realitas sosial (Trilling & Fadel, 2009:7Ae. Selain itu, integrasi kearifan lokal dipandang sebagai bentuk kontekstualisasi teori pembelajaran yang berakar pada nilai, praktik sosial, dan budaya masyarakat setempat, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berorientasi pada pembentukan karakter (Banks, 2015:59Ae Hadi, 2017:23Ae. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi teoretis terhadap pengembangan SDL melalui penyusunan kerangka implementasi yang kontekstual, berbasis budaya lokal, serta relevan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada materi teks Integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran Bahasa Indonesia membantu membumikan materi ajar, memperkuat identitas budaya, dan meningkatkan keterlibatan siswa (Sutama, 2. Penelitian oleh Indriyani & Utami . menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis kearifan lokal meningkatkan relevansi materi dan mendorong sikap apresiatif terhadap lingkungan sosial siswa. Kearifan lokal dalam materi teks berita merujuk pada pengetahuan, nilai, dan praktik yang dimiliki oleh suatu komunitas yang dapat memberikan konteks dan pemahaman yang lebih dalam terhadap isuisu yang diangkat. Misalnya, dalam laporan berita tentang upaya pelestarian lingkungan di suatu Dengan menyertakan elemen-elemen kearifan lokal ini, teks berita tidak hanya menyampaikan informasi faktual, tetapi juga menggambarkan bagaimana budaya dan tradisi masyarakat berkontribusi dalam menghadapi tantangan modern, sehingga peserta didik dapat lebih menghargai hubungan antara masyarakat dan lingkungan mereka. Pengembangan ini diharapkan menghasilkan sebuah model teoretis yang dapat menjadi rujukan bagi pengembangan kurikulum dan praktik pembelajaran di masa depan, mengisi kekosongan model pembelajaran yang mengawinkan kemandirian belajar dengan kekayaan budaya lokal dalam domain literasi media. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dirancang untuk merespons tiga persoalan utama: . Bagaimana kerangka konseptual model pembelajaran SDL dapat dirumuskan untuk materi teks berita?, . Bagaimana strategi integrasi kearifan lokal dapat diwujudkan dalam setiap tahapan model pembelajaran SDL?, dan . Bagaimana peran guru dan siswa dirancang dalam model pembelajaran SDL untuk materi teks berita dengan integrasi kearifan lokal? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk . merancang kerangka model konseptual pembelajaran SDL berbasis kearifan lokal, . menjabarkan strategi integratif nilai-nilai lokal dalam setiap tahapan model, dan . menentukan peran masing-masing pihak . uru dan sisw. dalam pelaksanaan pembelajaran teks berita yang berpusat pada siswa dan berbasis budaya lokal. Melalui penelitian ini diharapkan dapat dihasilkan sebuah inovasi model pembelajaran Bahasa Indonesia yang tidak hanya mendukung pencapaian kompetensi dasar, tetapi juga membentuk kepribadian siswa yang reflektif, mandiri, dan berbudaya. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan bentuk penelitian dan pengembangan (Research and Development/R&D), yang difokuskan pada tahap awal pengembangan berupa kajian dasar dan perancangan model konseptual pembelajaran SelfDirected Learning (SDL) untuk materi teks berita yang terintegrasi dengan kearifan lokal. Penelitian ini tidak bertujuan mengukur variabel secara kuantitatif, melainkan memahami secara mendalam konsep SDL, karakteristik pembelajaran teks berita, serta nilai-nilai kearifan lokal khas Sungai Kakap sebagai dasar perancangan model pembelajaran. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 123 Ae 131 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Tahapan pengembangan model (R&D) yang digunakan . ifokuskan pada tahap awal/konseptua. Tahapan pengembangan model dalam penelitian ini meliputi: . analisis kebutuhan dan konteks pembelajaran, yang dilakukan melalui telaah literatur dan studi lapangan untuk mengidentifikasi permasalahan pembelajaran teks berita serta potensi kearifan . perancangan model konseptual SDL, yang mencakup perumusan tujuan, sintaks pembelajaran, peran guru dan peserta didik, serta integrasi kearifan lokal dalam setiap tahap dan . penyusunan draf awal model pembelajaran sebagai hasil pengembangan konseptual. Tahapan uji coba dan evaluasi model belum dilakukan karena penelitian ini berfokus pada pengembangan model pada level konseptual. Subjek penelitian meliputi guru Bahasa Indonesia dan peserta didik kelas VII SMP Negeri 11 Sungai Kakap. Lokasi penelitian dipilih secara purposif berdasarkan kekayaan konteks sosial dan budaya lokal yang relevan untuk mendukung integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran teks berita. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi nonpartisipan, dan kuesioner terbuka. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi, yang dilakukan secara siklus dan berkelanjutan untuk memperoleh pemahaman yang utuh terhadap data penelitian. HASIL DAN PEMBAHSAN Penelitian ini menghasilkan tiga temuan utama yang berkaitan dengan pengembangan model pembelajaran Self-Directed Learning (SDL) pada materi teks berita dengan integrasi kearifan lokal Sungai Kakap, yaitu: . perumusan kerangka konseptual model SDL yang kontekstual, . strategi integrasi kearifan lokal dalam setiap tahapan pembelajaran, dan . perancangan peran guru dan peserta didik dalam mendukung pembelajaran mandiri dan bermakna. Temuan-temuan tersebut dibahas dengan mengaitkan hasil kajian lapangan dan temuan teoretis mutakhir. Kerangka Konseptual Model Pembelajaran SDL untuk Materi Teks Berita Hasil analisis menunjukkan bahwa peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami relevansi teks berita dengan kehidupan nyata serta kurang mandiri dalam menganalisis dan memproduksi teks berita. Oleh karena itu, model SDL dirumuskan dalam lima tahapan utama, yaitu kesadaran diri . , manajemen diri . elf-managemen. , pemilihan strategi belajar . earning strateg. , pelaksanaan pembelajaran . earning executio. , dan refleksi diri . elf-reflectio. Hasil analisis menunjukkan bahwa peserta didik masih mengalami kesulitan dalam memahami relevansi teks berita dengan kehidupan nyata serta belum menunjukkan kemandirian dalam menganalisis dan memproduksi teks berita. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pembelajaran yang berlangsung belum sepenuhnya mendorong keterlibatan aktif peserta didik dalam mengaitkan informasi tekstual dengan konteks sosial di sekitarnya. Padahal, kemampuan memahami dan memproduksi teks berita menuntut keterampilan berpikir kritis, kontekstual, serta kesadaran akan fungsi sosial teks dalam kehidupan sehari-hari (Kemendikbud, 2017. Fisher & Scriven, 2. Kurangnya kemandirian belajar peserta didik juga terlihat dari ketergantungan yang tinggi terhadap arahan guru dalam proses analisis dan penulisan teks berita. Hal ini sejalan dengan temuan Knowles . yang menyatakan bahwa peserta didik yang belum memiliki keterampilan belajar mandiri cenderung pasif, kurang percaya diri, dan mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan belajar. Oleh karena itu, diperlukan suatu model pembelajaran yang secara sistematis mampu menumbuhkan kesadaran belajar, tanggung jawab, serta kemampuan reflektif peserta didik. Sebagai respons terhadap permasalahan tersebut, model Self-Directed Learning (SDL) dirumuskan dalam lima tahapan utama, yaitu self-awareness, self-management, learning strategy, learning Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 123 Ae 131 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 execution, dan self-reflection. Tahap self-awareness berfungsi untuk membantu peserta didik mengenali kebutuhan, tujuan, serta kesenjangan kompetensi yang dimiliki dalam memahami teks Kesadaran ini menjadi fondasi penting dalam pembelajaran mandiri (Garrison, 1. Selanjutnya, tahap self-management mendorong peserta didik untuk mengatur waktu, sumber belajar, dan aktivitas pembelajaran secara mandiri, sehingga mereka tidak sepenuhnya bergantung pada instruksi guru (Zimmerman, 2. Tahap learning strategy memungkinkan peserta didik memilih strategi belajar yang sesuai, seperti mengidentifikasi unsur 5W 1H, menganalisis struktur teks berita, serta mengaitkan peristiwa aktual dengan pengalaman pribadi atau lingkungan sekitar. Pada tahap learning execution, peserta didik secara aktif menerapkan strategi yang telah dipilih dalam proses analisis dan produksi teks berita. Sementara itu, tahap self-reflection berperan penting dalam mengevaluasi hasil belajar, proses berpikir, serta pemahaman peserta didik terhadap relevansi teks berita dengan kehidupan nyata. Refleksi ini terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan kemandirian belajar peserta didik (Brookfield, 2. Dengan demikian, penerapan model SDL melalui lima tahapan tersebut dinilai relevan dan strategis untuk mengatasi kesulitan peserta didik dalam memahami dan memproduksi teks berita, sekaligus memperkuat kemandirian dan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran bahasa berbasis teks. Tahap manajemen diri dalam model SDL berkaitan dengan kemampuan regulasi diri peserta didik, terutama dalam mengelola waktu, sumber belajar, dan strategi kognitif selama proses pembelajaran (Zimmerman, 2015:16Ae. Tahap kesadaran diri difokuskan pada pemahaman fungsi sosial teks berita dan keterkaitannya dengan konteks lokal. Temuan ini sejalan dengan penelitian Loyens et al. 7:14Ae. yang menegaskan bahwa kesadaran tujuan belajar merupakan fondasi penting dalam pembelajaran mandiri. Tahap manajemen diri dirancang untuk melatih peserta didik dalam mengelola waktu dan sumber informasi, terutama dalam menentukan sumber berita yang kredibel. Hal ini relevan dengan temuan Broadbent dan Poon . 5:5Ae. yang menyatakan bahwa kemampuan regulasi diri berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan pembelajaran mandiri. Pada tahap pemilihan strategi belajar, peserta didik diberikan keleluasaan memilih teknik analisis dan penulisan teks berita sesuai kebutuhan belajar. Fleksibilitas strategi ini mendukung pengembangan berpikir kritis dan literasi informasi, sebagaimana dikemukakan oleh OECD . 9:4Ae. Tahap pelaksanaan menekankan penerapan keterampilan menulis berita secara faktual dan sistematis, sedangkan tahap refleksi diri memungkinkan peserta didik melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar. Praktik refleksi ini selaras dengan temuan Kember et al. 7:33Ae. yang menegaskan bahwa refleksi diri berperan penting dalam pembelajaran bermakna. Refleksi diri menjadi tahap penting dalam SDL karena memungkinkan peserta didik mengevaluasi proses dan hasil belajar secara sadar, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berkelanjutan (Kember et al. , 2017:33Ae. Strategi Integrasi Kearifan Lokal dalam Setiap Tahapan Model SDL Temuan penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal Sungai Kakap diintegrasikan sebagai konteks utama pembelajaran, bukan sekadar pelengkap materi. Pada tahap kesadaran diri, peserta didik diarahkan untuk mengidentifikasi isu dan peristiwa lokal yang relevan sebagai bahan teks berita. Strategi ini terbukti meningkatkan keterlibatan belajar peserta didik karena materi pembelajaran dekat dengan pengalaman hidup mereka. Temuan ini sejalan dengan penelitian Gay . 8:28Ae. yang menekankan pentingnya pembelajaran kontekstual berbasis budaya lokal. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal Sungai Kakap tidak diposisikan sebagai unsur tambahan, melainkan diintegrasikan secara utuh sebagai konteks utama dalam pembelajaran. Integrasi ini terlihat sejak tahap awal pembelajaran, khususnya pada tahap kesadaran diri, ketika peserta didik diarahkan untuk mengidentifikasi isu, peristiwa, dan fenomena yang terjadi di lingkungan Sungai Kakap sebagai sumber dan bahan penyusunan teks berita. Pendekatan tersebut menjadikan Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 123 Ae 131 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 pembelajaran lebih bermakna karena peserta didik belajar dari realitas sosial dan budaya yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Pembelajaran yang berangkat dari konteks lokal terbukti mampu meningkatkan keterlibatan belajar peserta didik, baik secara kognitif maupun afektif. Kedekatan materi dengan pengalaman hidup peserta didik mendorong rasa memiliki . ense of belongin. , meningkatkan motivasi, serta mempermudah proses pemahaman konsep kebahasaan dalam teks berita. Hal ini sejalan dengan pandangan Gay . 8:28Ae. yang menegaskan bahwa pembelajaran berbasis budaya lokal memungkinkan peserta didik menghubungkan pengetahuan baru dengan latar belakang budaya mereka, sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan, responsif, dan efektif. Lebih lanjut, pembelajaran kontekstual berbasis kearifan lokal juga berperan dalam mengembangkan kesadaran kritis peserta didik terhadap lingkungan sosialnya. Dengan menjadikan isu lokal sebagai bahan teks berita, peserta didik tidak hanya berlatih keterampilan menulis, tetapi juga belajar mengamati, menganalisis, dan menyampaikan realitas sosial secara objektif. Hal ini sejalan dengan pendapat Banks . yang menyatakan bahwa integrasi budaya lokal dalam pembelajaran dapat memperkuat keterampilan berpikir kritis dan literasi sosial peserta didik. Selain itu. Rahmawati dan Ridwan . menegaskan bahwa pembelajaran berbasis kearifan lokal mampu meningkatkan partisipasi aktif peserta didik karena materi yang dipelajari memiliki makna langsung bagi kehidupan Dengan demikian, integrasi kearifan lokal Sungai Kakap sebagai konteks utama pembelajaran terbukti tidak hanya meningkatkan keterlibatan belajar peserta didik, tetapi juga memperkuat pemahaman konsep, keterampilan literasi, serta kesadaran sosial dan budaya. Temuan ini menegaskan pentingnya pembelajaran yang kontekstual dan berakar pada budaya lokal sebagai strategi pedagogis yang relevan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pada tahap manajemen diri, peserta didik menyusun rencana peliputan berdasarkan agenda desa dan berinteraksi langsung dengan masyarakat sebagai narasumber. Praktik ini memperkuat pembelajaran autentik dan mengembangkan kesadaran sosial peserta didik (Hadi, 2017:23Ae. Tahap pemilihan strategi memungkinkan pemanfaatan sumber lisan dan praktik budaya lokal sebagai sumber belajar, yang memperluas konsep literasi berita menjadi literasi budaya (Widodo, 2018:112Ae. Pada tahap pelaksanaan, peserta didik menghasilkan teks berita berbasis budaya lokal, seperti kegiatan adat dan praktik sosial masyarakat. Tahap refleksi diri diarahkan pada pemaknaan nilai-nilai budaya yang diperoleh selama proses pembelajaran, yang berkontribusi pada pembentukan karakter dan identitas budaya peserta didik. Temuan ini sejalan dengan penelitian Suyanto dan Widodo . 0:67Ae . mengenai peran kearifan lokal dalam pendidikan karakter. Peran Guru dan Peserta Didik dalam Model Pembelajaran SDL Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan sebagai fasilitator dan pendamping yang memberikan scaffolding pada tahap awal pembelajaran, kemudian secara bertahap mengurangi intervensi untuk mendorong kemandirian peserta didik. Peran ini sejalan dengan prinsip pembelajaran berpusat pada peserta didik yang menempatkan guru sebagai pengarah dan pendukung proses belajar (Harden & Laidlaw, 2017:21Ae. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menjalankan peran sebagai fasilitator dan pendamping belajar dengan memberikan scaffolding pada tahap awal pembelajaran. Scaffolding merupakan bentuk dukungan sementara yang diberikan guru untuk membantu peserta didik memahami konsep atau menyelesaikan tugas yang berada sedikit di atas kemampuan awal mereka. Dukungan ini dapat berupa pemberian contoh, pertanyaan penuntun, klarifikasi konsep, maupun umpan balik yang terarah. Seiring dengan meningkatnya pemahaman dan keterampilan peserta didik, guru secara bertahap mengurangi intensitas intervensi agar peserta didik mampu belajar secara mandiri. Strategi ini sejalan Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 123 Ae 131 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 dengan pandangan Vygotsky tentang Zone of Proximal Development (ZPD) yang menekankan pentingnya bantuan awal dalam proses internalisasi pengetahuan (Vygotsky, 1. Peran guru sebagai fasilitator yang adaptif juga mencerminkan prinsip pembelajaran berpusat pada peserta didik . tudent-centered learnin. , di mana fokus utama pembelajaran diarahkan pada kebutuhan, pengalaman, dan potensi peserta didik. Dalam pendekatan ini, guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan sebagai pengarah, pendukung, dan perancang lingkungan belajar yang kondusif. Harden dan Laidlaw . 7:21Ae. menegaskan bahwa dalam pembelajaran berpusat pada peserta didik, guru bertugas memfasilitasi proses belajar dengan memberikan arahan strategis serta menciptakan kesempatan bagi peserta didik untuk aktif membangun pengetahuannya sendiri. Temuan penelitian ini juga memperkuat hasil studi sebelumnya yang menyatakan bahwa pengurangan intervensi guru secara bertahap dapat meningkatkan kemandirian belajar, tanggung jawab, serta kepercayaan diri peserta didik. Ketika peserta didik diberi ruang untuk mengambil keputusan belajar dan merefleksikan prosesnya, mereka cenderung menunjukkan keterlibatan yang lebih tinggi dan kemampuan berpikir kritis yang lebih berkembang (Hmelo-Silver. Duncan, & Chinn, 2. Dengan demikian, peran guru sebagai fasilitator dan pendamping bukan hanya mendukung pencapaian hasil belajar, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan keterampilan abad ke-21 yang menuntut kemandirian dan kemampuan belajar sepanjang hayat. Dalam pembelajaran berbasis SDL, peserta didik berperan sebagai pengambil keputusan utama dalam proses belajarnya, mulai dari perencanaan hingga evaluasi, sehingga mendorong kemandirian dan tanggung jawab belajar (Song & Hill, 2017:35Ae. Peran guru dalam model SDL tidak lagi sebagai pusat informasi, melainkan sebagai fasilitator dan pemberi scaffolding yang mendukung proses belajar mandiri peserta didik (Harden & Laidlaw, 2017:21Ae. Peserta didik berperan sebagai subjek aktif yang merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan belajar. Melalui kegiatan peliputan berbasis kearifan lokal, peserta didik memperoleh pengalaman autentik, mengembangkan tanggung jawab belajar, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sosial dan budaya. Temuan ini memperkuat hasil penelitian Song dan Hill . 7:35Ae. yang menyatakan bahwa SDL efektif dalam meningkatkan kemandirian dan keterlibatan belajar peserta didik. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini telah merumuskan model konseptual Self-Directed Learning (SDL) untuk pembelajaran teks berita yang terintegrasi dengan nilai-nilai kearifan lokal di wilayah Sungai Kakap. Model ini menekankan pada kemandirian belajar peserta didik, relevansi konteks lokal, dan penguatan karakter melalui pembelajaran berbasis budaya. Saran untuk kegiatan pengabdian selanjutnya adalah penerapan model ini secara praktis di kelas, pelatihan penggunaan model bagi guru, serta pengembangan panduan pembelajaran dan modul implementatif yang dapat digunakan secara luas di berbagai jenis teks lainnya. UCAPAN TERIMAKASIH Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Universitas PGRI Pontianak atas dukungan dan pendanaan yang diberikan sehingga penelitian ini dapat dilaksanakan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA