Jurnal Pendidikan West Science Vol. No. Mei 2025, pp. Pengaruh Konsumsi Budaya Populer Asing dan Keterlibatan Keluarga terhadap Nasionalisme Pelajar SMA di Jawa Barat Apriyanto1. Latifa Dinar Rahmani Hakim2. Rani Eka Arini3 Politeknik Tunas Pemuda Tangerang dan irapriyanto0604@gmail. 2 Universitas Mataram dan latifa_dr@unram. 3 Universitas Nusa Putra dan raniekaarini1009@gmail. Article Info ABSTRAK Article history: Penelitian ini mengkaji pengaruh konsumsi budaya populer asing dan keterlibatan keluarga terhadap nasionalisme siswa sekolah menengah atas di Jawa Barat. Pendekatan kuantitatif digunakan, dengan data dikumpulkan dari 250 siswa melalui survei terstruktur yang menggunakan skala Likert 5 poin. Survei tersebut mengukur tiga variabel utama: konsumsi budaya populer asing, keterlibatan keluarga, dan nasionalisme. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 25, dan hasilnya menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga secara signifikan memprediksi nasionalisme, sementara konsumsi budaya populer asing menunjukkan korelasi negatif yang lemah dengan nasionalisme. Studi ini menyarankan bahwa tingkat keterlibatan keluarga yang lebih tinggi dalam diskusi budaya dapat memperkuat perasaan nasionalisme, sementara paparan terhadap budaya asing tidak secara signifikan mengurangi kebanggaan Temuan ini menyoroti pentingnya pengaruh keluarga dalam membentuk identitas nasional di kalangan pemuda, dengan implikasi bagi kebijakan dan praktik pendidikan yang bertujuan untuk mempromosikan nasionalisme di tengah globalisasi. Received Mei, 2025 Revised Mei, 2025 Accepted Mei, 2025 Kata Kunci: Nasionalisme. Budaya Populer Asing. Keterlibatan Keluarga. Identitas Pemuda. Indonesia Keywords: Nationalism. Foreign Popular Culture. Family Engagement. Youth Identity. Indonesia ABSTRACT This study examines the influence of foreign popular culture consumption and family involvement on the nationalism of high school students in West Java. A quantitative approach was used, with data collected from 250 students through a structured survey using a 5-point Likert scale. The survey measured three main variables: foreign popular culture consumption, family involvement, and nationalism. Data analysis was conducted using SPSS version 25, and the results showed that family involvement significantly predicted nationalism, while consumption of foreign popular culture showed a weak negative correlation with nationalism. This study suggests that higher levels of family involvement in cultural discussions may strengthen feelings of nationalism, while exposure to foreign culture does not significantly reduce national pride. The findings highlight the importance of family influence in shaping national identity among youth, with implications for educational policies and practices aimed at promoting nationalism amid globalization. This is an open access article under the CC BY-SA license. Journal homepage: https://wnj. westscience-press. com/index. php/jpdws/index Jurnal Pendidikan West Science A 285 Corresponding Author: Name: Apriyanto Institution: Politeknik Tunas Pemuda Tangerang Email: irapriyanto0604@gmail. PENDAHULUAN Globalisasi telah semakin memudarkan batas-batas nasional, memfasilitasi pertukaran nilainilai dan praktik budaya di seluruh dunia, dan fenomena ini telah mempengaruhi generasi muda, terutama siswa SMA di Jawa Barat. Indonesia, yang preferensi dan gaya hidupnya dibentuk oleh budaya populer asing. Penyebaran media internasional, musik, film, dan platform sosial telah memperkenalkan norma-norma dan idealisme budaya yang beragam, yang memperkaya pandangan dunia mereka tetapi juga menantang pelestarian rasa nasionalisme yang kuat, menciptakan lingkungan paradoksal di mana nilai-nilai global dan tradisional bersaing. Remaja Indonesia, yang sangat dipengaruhi oleh budaya populer global melalui pola konsumsi media merekaAiseperti televisi, media sosial, musik, dan filmAiseringkali mengembangkan preferensi yang dapat mengaburkan nilai-nilai tradisional Indonesia, sehingga berisiko mengancam identitas nasional (Dewi et al. , n. Hasan et al. , 2. Dinamika ini semakin rumit akibat dampak transformatif globalisasi terhadap norma-norma budaya, terutama melalui teknologi informasi dan komunikasi, yang telah mengganggu homogenitas identitas nasional dan meningkatkan kerentanan generasi muda terhadap dominasi budaya asing (Arasy & Nelwati, 2023. Dewi et al. , n. Sebagai respons, pendekatan pendidikan strategis yang menekankan nilai-nilai lokal, disertai dengan kebijakan budaya inklusif, sangat penting untuk memperkuat identitas nasional. Memperkuat keterlibatan komunitas dan mendorong kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan merupakan upaya vital untuk mengatasi tantangan ini (Arasy & Nelwati, 2. , sementara multikulturalisme juga memainkan peran kunci dengan menumbuhkan apresiasi dan toleransi siswa terhadap keragaman budaya, sehingga memperkuat identitas nasional di tengah pengaruh budaya global (Hikmah & Awaru, 2. Nasionalisme, yang didefinisikan sebagai rasa bangga dan loyalitas yang mendalam terhadap negara, memainkan peran penting dalam memperkuat kohesi sosial dan pembangunan nasional, terutama di negara yang kaya akan keragaman budaya seperti Indonesia dengan perjuangan sejarah yang panjang untuk kemerdekaan. Namun, meningkatnya konsumsi budaya populer asing di kalangan pemuda IndonesiaAiterutama pengaruh BaratAitelah menimbulkan kekhawatiran tentang erosi nasionalisme, karena remaja yang berada pada tahap pembentukan identitas mulai mengadopsi gaya hidup Barat dan menunjukkan penurunan apresiasi terhadap budaya asli (Damayanti et al. , 2024. Naura, 2021. Widiyono, 2. Paparan yang luas terhadap media global dan tren seringkali menumbuhkan preferensi terhadap norma-norma asing daripada nilai-nilai tradisional Indonesia, yang dapat melemahkan kebanggaan dan loyalitas nasional. Untuk mengatasi hal ini, pendidikan memainkan peran krusial dalam menanamkan nasionalisme melalui upaya berkelanjutan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, terutama melalui pendidikan kewarganegaraan yang menekankan persatuan nasional dan pentingnya warisan budaya lokal (Damayanti et al. , 2024. Simanjorang et al. , 2023. Widiyono, 2. Mengatasi tantangan ini memerlukan pendekatan yang seimbang antara memanfaatkan manfaat globalisasi sambil menjaga identitas nasional, di mana pemerintah dan lembaga pendidikan harus bekerja sama untuk Vol. No. Mei 2025, pp. A 286 Jurnal Pendidikan West Science mengembangkan program yang mempromosikan nasionalisme dan keragaman, dengan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan sebagai landasan yang kokoh untuk menumbuhkan kebanggaan nasional di kalangan generasi muda (Cahya, 2021. Simanjorang et al. , 2. Di tengah pergeseran budaya yang terus berlangsung akibat globalisasi, peran keluarga tetap menjadi yang terpenting sebagai agen sosialisasi utama yang menanamkan nilai-nilai, tradisi, dan rasa memiliki pada individu muda. Keluarga berfungsi sebagai lingkungan pertama di mana anak-anak memperoleh keterampilan bahasa, sosial, dan emosional yang esensial untuk integrasi mereka ke dalam masyarakat, bertindak sebagai jembatan vital antara individu dan komunitas yang lebih luas melalui mana unsur-unsur budaya diinternalisasi dan kepribadian terbentuk (Pyrez, 2007. Sowmya, 2. Peran dasar keluarga sangat dipengaruhi oleh latar belakangnyaAitermasuk dimensi etnis, agama, budaya, dan sosialAiyang memengaruhi norma dan praktik yang diturunkan selama sosialisasi awal (Sumiyardana, 2017. Syarif, 2. Struktur keluarga yang berbeda, seperti keluarga dengan anak tunggal atau keluarga besar, menawarkan pengalaman sosialisasi yang unik yang memengaruhi perkembangan dan kompetensi sosial anak-anak (Sowmya, 2. Keterlibatan aktif keluarga melalui komunikasi yang konsisten, teladan peran, dan praktik budaya bersama memainkan peran kritis dalam memperkuat identitas budaya, memperkuat sikap nasionalis, dan mengurangi dampak negatif pengaruh budaya asing (Sowmya, 2013. Sumiyardana, 2017. Syarif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh konsumsi budaya populer asing dan keterlibatan keluarga terhadap tingkat nasionalisme di kalangan siswa SMA di Jawa Barat dengan menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif untuk menganalisis sejauh mana faktor-faktor tersebut mempengaruhi rasa identitas nasional siswa. Penelitian ini didasarkan pada tiga pertanyaan kunci: . sejauh mana konsumsi budaya populer asing mempengaruhi tingkat nasionalisme di kalangan siswa SMA, . bagaimana keterlibatan keluarga berkontribusi dalam menumbuhkan nasionalisme di kalangan remaja, dan . apa efek gabungan dari faktor-faktor tersebut terhadap identitas nasional siswa SMA di Jawa Barat. Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan berharga tentang bagaimana globalisasi dan dinamika keluarga berinteraksi dalam membentuk nasionalisme di kalangan pemuda Indonesia, serta memberikan rekomendasi praktis bagi pendidik, pembuat kebijakan, dan keluarga. TINJAUAN PUSTAKA 1 Nasionalisme dan Pentingnya dalam Pengembangan Remaja Nasionalisme adalah ideologi multifaset yang menekankan kesetiaan terhadap bangsa dan berfungsi sebagai kekuatan politik yang kuat untuk mobilisasi dan pembentukan identitas, terutama di Indonesia, di mana pengalaman sejarah dengan kolonialisme dan perjuangan kemerdekaan telah memberikan makna mendalam pada Bagi pemuda Indonesia, nasionalisme memberikan rasa identitas dan persatuan yang vital dalam konteks global yang terus berubah. Pembentukan identitas nasional dipengaruhi oleh faktor formal dan informal, terutama melalui pendidikan, keluarga, dan sosialisasi. Kurikulum pendidikan nasional memainkan peran kritis dalam mempromosikan nilai-nilai patriotik dan membentuk identitas kolektif dengan memasukkan narasi sejarah dan praktik budaya yang menekankan kebanggaan nasional dan persatuan (Heywood, 2015. Kane, 2. , sementara sekolah menjadi Vol. No. Mei 2025, pp. A 287 Jurnal Pendidikan West Science tempat utama untuk menanamkan nilai-nilai ini dengan mendidik siswa tentang sejarah, budaya, dan makna politik negara (Rodrigues, 2. Secara bersamaan, dinamika keluarga menjadi pusat proses sosialisasi, di mana orang tua dan kerabat menyampaikan narasi dan tradisi budaya yang memperkuat kebanggaan nasional (Buckley & Parisi, 2. , memberikan penguatan yang lebih berkelanjutan dan personal terhadap identitas nasional di samping pendidikan formal (Garner, 2. Selain itu, media berfungsi sebagai pengaruh eksternal yang krusial, membentuk persepsi pemuda tentang nasionalisme dengan menyebarkan narasi dan informasi yang dapat memperkuat atau menantang pemahaman mereka tentang identitas nasional dan peran Indonesia dalam lanskap global (Heywood, 2. 2 Pengaruh Konsumsi Budaya Populer Asing terhadap Nasionalisme Konsumsi budaya populer asing di Indonesia, terutama melalui platform seperti Netflix. YouTube, dan Instagram, telah secara signifikan mempengaruhi praktik budaya generasi muda Indonesia dengan memperkenalkan nilai-nilai dan gaya hidup Barat yang sering bercampur dengan tradisi lokal, menimbulkan kekhawatiran tentang erosi identitas nasional. Namun, interaksi dinamis antara budaya global dan lokal ini kompleks dan multifaset, karena juga dapat memperkaya identitas lokal dan memupuk rasa nasionalisme yang lebih inklusif dan sadar global. Di daerah seperti Yogyakarta. Bali, dan Bandung, transformasi budaya muncul dengan cara yang berbeda, di mana budaya lokal tetap dominan atau mengintegrasikan pengaruh global tanpa kehilangan nilai inti (Niezen, 2. Masuknya budaya asing telah mengubah pola konsumsi dan gaya hidup, terutama di kalangan pemuda, seiring dengan popularitas merek dan produk internasional, yang menantang pelestarian identitas budaya lokal (Wijaya. Meskipun demikian, sineas dan musisi Indonesia berkontribusi pada ketahanan budaya dengan menyisipkan unsur lokal ke dalam karya kreatif, meraih pengakuan internasional, dan memperkuat identitas nasional (Putri, 2. Namun, globalisasi terus mempengaruhi identitas kewarganegaraan generasi muda Indonesia, mengubah pola pikir dan nilai-nilai, yang menantang keseimbangan antara identitas lokal dan global, serta menimbulkan pertanyaan tentang loyalitas nasional (Firmansyah et al. 3 Peran Keluarga dalam Sosialisasi Nasionalisme Keluarga memainkan peran krusial dalam menanamkan nilai-nilai dan normanorma, termasuk yang berkaitan dengan identitas nasional, dengan bertindak sebagai agen utama sosialisasi melalui transmisi praktik budaya, bahasa, dan ekspektasi sosial yang membentuk dasar identitas nasional yang kuat. Sebagai lingkungan pertama di mana anak-anak belajar nilai-nilai budaya dan moral, bahasa, serta keterampilan sosial yang esensial untuk partisipasi dalam masyarakat, keluarga memberikan pengaruh langsung dan tidak langsung melalui interaksi dengan orang tua, saudara kandung, dan anggota keluarga yang lebih luas (Sowmya, 2. Dalam masyarakat multikultural Indonesia, peran ini sangat penting, karena keluarga berkontribusi pada pengembangan nasionalisme dengan mempromosikan nilai-nilai yang berakar pada Pancasila, ideologi resmi negara yang menekankan persatuan dalam keberagaman dan kebanggaan nasional (Sumiyardana, 2017. Syarif, 2. Melalui pembicaraan sehari- Vol. No. Mei 2025, pp. Jurnal Pendidikan West Science A 288 hari tentang sejarah nasional, tradisi budaya, dan isu-isu terkini, keluarga membantu menumbuhkan rasa kesadaran nasional dan loyalitas pada anak-anak (Chebita, 2. Namun, globalisasi menghadirkan tantangan bagi fungsi tradisional keluarga dalam sosialisasi, sehingga keluarga perlu beradaptasi sambil mempertahankan struktur budaya yang memperkuat identitas nasional dalam dunia yang semakin global (Chebita, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif untuk menganalisis pengaruh konsumsi budaya populer asing dan keterlibatan keluarga terhadap nasionalisme siswa SMA di Jawa Barat. Indonesia. Data dikumpulkan melalui metode survei dari 250 siswa yang dipilih secara acak dengan sampling berstrata, dengan strata berdasarkan jenis sekolah . egeri vs. dan lokasi geografis . rban vs. , memastikan sampel yang representatif dan beragam. Kriteria inklusi berfokus pada siswa berusia 15Ae18 tahun yang terdaftar di sekolah menengah atas negeri atau swasta di Jawa Barat, sementara kriteria eksklusi menyingkirkan siswa yang tidak terdaftar selama tahun akademik atau tidak dapat menyelesaikan survei. Penelitian ini berfokus pada tiga variabel utama: konsumsi budaya populer asing, keterlibatan keluarga, dan nasionalisme, masingmasing diukur melalui kuesioner terstruktur menggunakan skala Likert 5 poin. Item-item untuk variabel-variabel ini diadaptasi dari literatur yang telah established, termasuk Hjarvard . Tung . Verkuyten . Schneider . , dan Liebkind . , untuk memastikan validitas dan Data dikumpulkan di kelas selama dua bulan, dengan persetujuan etis dijamin melalui persetujuan tertulis dari siswa dan orang tua, serta administrasi survei dilakukan oleh asisten peneliti yang terlatih. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 25, dimulai dengan statistik deskriptif untuk merangkum karakteristik demografis dan skor rata-rata untuk setiap variabel. Analisis reliabilitas menggunakan Cronbach's alpha dilakukan untuk menilai konsistensi internal skala pengukuran, dengan ambang batas 0,70 menunjukkan reliabilitas yang dapat diterima. Koefisien korelasi Pearson dihitung untuk menganalisis hubungan bivariat antara ketiga variabel, memberikan wawasan tentang kekuatan dan arah hubungan mereka. Untuk menguji hipotesis lebih lanjut, analisis regresi berganda digunakan, dengan konsumsi budaya populer asing dan keterlibatan keluarga sebagai variabel independen dan nasionalisme sebagai variabel dependen. Hasil regresi diinterpretasikan menggunakan koefisien standar (), nilai t, dan nilai p, dengan kesesuaian model dievaluasi melalui nilai RA. Nilai RA sebesar 0,20 atau lebih tinggi dianggap menunjukkan proporsi varians yang signifikan dalam nasionalisme siswa, memberikan pemahaman komprehensif tentang bagaimana globalisasi dan dinamika keluarga membentuk identitas nasional di kalangan pemuda Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Statistik Deskriptif Survei dilakukan pada 250 siswa SMA di Jawa Barat, semua responden memberikan tanggapan yang valid. Profil demografis peserta menunjukkan distribusi yang representatif di kategori utama: usia siswa berkisar antara 15 hingga 18 tahun, dengan mayoritas . %) berusia 16 hingga 17 tahun. distribusi gender relatif seimbang, dengan 120 siswa laki-laki . %) dan 130 siswa Vol. No. Mei 2025, pp. A 289 Jurnal Pendidikan West Science perempuan . %). Mengenai jenis sekolah, 150 siswa . %) terdaftar di sekolah negeri, sementara 100 siswa . %) bersekolah di sekolah swasta. Dari segi lokasi geografis, 140 siswa . %) berasal dari daerah perkotaan dan 110 siswa . %) dari daerah pedesaan. Komposisi yang seimbang ini memastikan bahwa sampel mewakili perspektif yang beragam dari populasi siswa SMA di Jawa Barat. Tabel berikut menampilkan nilai rata-rata dan simpangan baku untuk variabel utama dalam studi ini. Rata-rata skor konsumsi budaya populer asing (M = 3,42. SD = 0,. menunjukkan bahwa siswa terlibat secara moderat dengan konten budaya asing, dengan tingkat keterlibatan yang lebih tinggi di kalangan siswa perkotaan dibandingkan dengan siswa pedesaan. Skor rata-rata untuk keterlibatan keluarga (M = 3. SD = 0. menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga dalam membahas budaya dan nilai-nilai nasional cukup sering, meskipun terdapat variasi antar keluarga. Skor rata-rata untuk nasionalisme (M = 4. SD = 0. mencerminkan tingkat kebanggaan nasional dan keterikatan yang tinggi terhadap Indonesia di kalangan siswa. 2 Analisis Keandalan Konsistensi internal skala pengukuran dalam studi ini diukur menggunakan Cronbach's alpha, dengan hasil menunjukkan reliabilitas yang dapat diterima untuk semua variabel: konsumsi budaya populer asing ( = 0. , keterlibatan keluarga ( = 0. , dan nasionalisme ( = 0. Nilai-nilai ini menunjukkan konsistensi internal yang baik, menunjukkan bahwa item-item dalam setiap skala secara andal mengukur konstruk masing-masing dan cocok untuk digunakan dalam analisis statistik lebih lanjut. 3 Analisis Korelasi Analisis korelasi Pearson dilakukan untuk mengeksplorasi hubungan antara konsumsi budaya populer asing, keterlibatan keluarga, dan nasionalisme di kalangan siswa sekolah menengah Hasil menunjukkan korelasi positif moderat antara konsumsi budaya populer asing dan keterlibatan keluarga . = 0. 32, p < 0. , menunjukkan bahwa siswa yang lebih banyak terlibat dengan konten budaya asing cenderung memiliki tingkat keterlibatan keluarga yang lebih tinggi dalam diskusi budaya. Selain itu, keterlibatan keluarga menunjukkan korelasi positif moderat dengan nasionalisme . = 0,47, p < 0,. , menyarankan bahwa partisipasi keluarga yang lebih besar dalam diskusi budaya dan nasional terkait dengan sikap nasionalis yang lebih kuat. Sebaliknya, ditemukan korelasi negatif lemah antara konsumsi budaya populer asing dan nasionalisme . = 0. 18, p < 0. , yang menunjukkan bahwa paparan yang lebih besar terhadap budaya asing mungkin sedikit mengurangi sentimen nasionalis, meskipun efeknya relatif kecil. Temuan ini menyoroti interaksi yang kompleks antara pengaruh budaya global, dinamika keluarga, dan pembentukan identitas nasional di kalangan remaja Indonesia. 4 Analisis Regresi Untuk menganalisis lebih lanjut pengaruh konsumsi budaya populer asing dan keterlibatan keluarga terhadap nasionalisme di kalangan siswa SMA, dilakukan analisis regresi berganda dengan nasionalisme sebagai variabel dependen dan dua variabel independen, yaitu konsumsi budaya populer asing dan keterlibatan keluarga. Model regresi menjelaskan 28% varians nasionalisme (RA = 0. , menunjukkan daya penjelas yang cukup kuat. Hasil menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga merupakan prediktor positif yang signifikan terhadap nasionalisme ( = 0. Vol. No. Mei 2025, pp. A 290 Jurnal Pendidikan West Science p < 0. , artinya setiap peningkatan satu unit dalam keterlibatan keluarga menyebabkan 42 poin dalam nasionalisme. Hal ini menyoroti peran krusial keluarga dalam memperkuat identitas nasional dan nilai-nilai patriotik di kalangan pemuda. Di sisi lain, konsumsi budaya populer asing tidak menjadi prediktor signifikan terhadap nasionalisme dalam model regresi ( = -0. 09, p = 0. , meskipun terdapat korelasi negatif lemah yang diamati dalam analisis sebelumnya. Meskipun arah hubungan menunjukkan bahwa paparan yang lebih tinggi terhadap budaya asing mungkin terkait dengan tingkat nasionalisme yang sedikit lebih rendah, efek tersebut tidak mencapai signifikansi statistik. Temuan ini menyarankan bahwa meskipun pengaruh budaya asing mungkin berperan dalam membentuk perspektif pemuda, keterlibatan keluarga tetap menjadi faktor yang lebih berpengaruh dan dapat diandalkan dalam menumbuhkan nasionalisme di kalangan siswa SMA di Jawa Barat. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga memainkan peran penting dalam menumbuhkan nasionalisme di kalangan siswa SMA di Jawa Barat. Siswa yang melaporkan tingkat keterlibatan keluarga yang lebih tinggi dalam diskusi tentang budaya nasional, sejarah, dan nilai-nilai cenderung mengekspresikan perasaan kebanggaan nasional dan keterikatan yang lebih kuat terhadap Indonesia. Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menekankan peran krusial keluarga dalam membentuk identitas nasional dan menanamkan nilai-nilai budaya sejak usia dini. Dinamika keluarga, termasuk pendidikan orang tua dan kualitas komunikasi orang tua-anak, secara signifikan mempengaruhi sikap siswa terhadap kebanggaan nasional (Gunawan. Setiadi & Hitowasono, 2. Sebaliknya, penelitian ini menemukan bahwa konsumsi budaya populer asing memiliki hubungan yang lemah dan tidak signifikan secara statistik dengan nasionalisme. Meskipun terdapat korelasi negatif yang ringan, analisis regresi menunjukkan tidak ada dampak prediktif yang berarti, menyarankan bahwa paparan terhadap media asing tidak secara signifikan melemahkan sikap nasionalistik siswa. Hal ini menantang kekhawatiran umum bahwa globalisasi dan dominasi media Barat secara otomatis menyebabkan homogenisasi budaya dan penurunan identitas nasional. Sebaliknya, tampaknya pemuda Indonesia dapat berinteraksi dengan konten budaya global sambil mempertahankan rasa kebangsaan yang kuat, terutama ketika didukung oleh lingkungan keluarga yang berpengaruh. Selain itu, temuan ini menyoroti peran komplementer pendidikan dalam memperkuat Sekolah yang mengintegrasikan pendidikan karakterAiterutama melalui Pancasila dan Pendidikan KewarganegaraanAimemainkan peran kunci dalam memperkuat identitas nasional siswa (Kurnia et al. , 2022. RETNANINGSIH, 2. Kegiatan seperti upacara bendera, perayaan nasional, dan diskusi tentang tanggung jawab warga negara semakin mengakar nilai-nilai nasional dalam diri siswa. Namun, ketahanan nasionalisme Indonesia di tengah paparan budaya global menunjukkan bahwa pembentukan identitas bersifat multifaset, dan lingkungan keluarga dan sekolah bersama-sama menciptakan fondasi yang kokoh untuk menjaga kebanggaan nasional di hadapan globalisasi (Gunawan, 2. Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pendidik, pembuat kebijakan, dan orang tua. Temuan ini menyoroti pentingnya mendorong keterlibatan keluarga dalam diskursus nasional dan mendorong praktik pendidikan yang menekankan warisan nasional. Meskipun paparan terhadap budaya asing tidak dapat dihindari dalam dunia yang terhubung saat ini, memupuk dialog yang Vol. No. Mei 2025, pp. Jurnal Pendidikan West Science A 291 bermakna di rumah dan di sekolah tentang sejarah, nilai-nilai, dan identitas Indonesia dapat membantu mempertahankan dan bahkan memperkuat nasionalisme di kalangan pemuda. Alih-alih melihat globalisasi sebagai ancaman, hal ini dapat dilihat sebagai peluang untuk menumbuhkan bentuk nasionalisme yang lebih inklusif yang menerima keragaman sambil mempertahankan kebanggaan nasional. Batasan dan Saran untuk Penelitian Lebih Lanjut Penelitian ini memiliki beberapa batasan yang perlu diperhatikan dalam penelitian Pertama, sifat cross-sectional dari penelitian ini tidak memungkinkan untuk menarik kesimpulan kausal. Penelitian longitudinal diperlukan untuk menganalisis bagaimana konsumsi budaya populer asing dan keterlibatan keluarga memengaruhi nasionalisme seiring waktu. Kedua, ketergantungan pada instrumen self-report dapat menimbulkan bias respons, seperti bias kesesuaian sosial. Penelitian lebih lanjut dapat mengintegrasikan ukuran yang lebih objektif untuk konsumsi budaya dan nasionalisme. Terakhir, penelitian ini fokus pada siswa SMA di Jawa Barat, dan temuan mungkin tidak dapat digeneralisasikan ke wilayah lain di Indonesia atau kelompok usia Memperluas sampel untuk mencakup siswa dari provinsi lain dan institusi pendidikan tinggi dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang faktor-faktor yang mempengaruhi nasionalisme di Indonesia. KESIMPULAN Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti peran penting keterlibatan keluarga dalam menumbuhkan nasionalisme di kalangan siswa SMA di Jawa Barat, menunjukkan bahwa partisipasi keluarga dalam diskusi budaya memperkuat ikatan siswa terhadap identitas nasional mereka. Penelitian ini tidak menemukan bukti yang signifikan bahwa konsumsi budaya populer asing berdampak negatif terhadap nasionalisme, menantang anggapan bahwa paparan budaya global mengurangi kebanggaan nasional. Meskipun media asing mungkin membentuk selera dan minat siswa, hal ini tampaknya tidak melemahkan rasa keterikatan mereka terhadap negara. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga tetap menjadi institusi yang kuat dalam memperkuat nilai-nilai nasional dan identitas. Studi lebih lanjut perlu meneliti dampak jangka panjang konsumsi budaya asing dan mengidentifikasi faktor lain yang mungkin mempengaruhi nasionalisme di kalangan pemuda Indonesia. Temuan penelitian ini berkontribusi pada diskusi yang sedang berlangsung tentang hubungan antara globalisasi, identitas budaya, dan nasionalisme dalam dunia yang semakin DAFTAR PUSTAKA