Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia. Vol. 5 No. : 230-236 Edukasi Pemberian Makanan Tambahan Berbahan Pangan Lokal Labu Kuning (Cucurbita Moschat. Pada Balita Stunting Di Desa Ogomoli Education on Providing Additional Foods Made from Local Foods. Pumpkin (Cucurbita Moschat. For Stunting Toddlers In Ogomoli Village Arniawan1*. Saprina1. Moh. Syamzul1. Moh. Nawawi1. Abd. Dandiyansa1. Andi Rusman1. Suardi1. Marwah1. Febi1. Siescha Monica Jacobus1. Sarini M. Samang1. Rasma Rais1 1 Program Studi Ilmu Keperawatan. Universitas Widya Nusantara. Indonesia *Email Korespondensi: Arniawan@uwn. Abstrak Stunting merupakan keadaan terhambatnya pertumbuhan pada anak balita yang ditandai dengan tinggi badan lebih rendah dibandingkan anak seusianya, stunting masih menjadi masalah yang mengkhawatirkan karna stunting dapat memberikan dampak buruk jangka pendek dan jangka panjang pada balita sebagai generasi penerus. Salah satu langkah dalam menanggulangi stunting pada balita yaitu melalui edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terkait pencegahan stunting dengan pemberian makanan tambahan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal mengandung gizi yang baik. Kegiatan ini bertujuan melaksanakan edukasi pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal labu kuning pada balita sebagai upaya pencegahan stunting. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2025 di Desa Ogomoli. Kecamatan Galang. Kabupaten Tolitoli. Dengan metode ceramah tanya jawab, dan video demonstrasi, diikuti 21 orang ibu balita, ibu hamil dan ibu menyusui, termasuk 6 ibu yang memiliki anak balita dengan kondisi stunting. Rangkaian kegiatan dimulai dengan pengisian kuesioner pre-test kemudian dilanjutkan penyuluhan stunting dan pemberian makanan tambahan bergizi dengan memanfaatkan pangan lokal labu kuning serta pemutaran video demo cara memasak puding olahan labu kuning dan terakhir pengisian kuesioner post-test. Adapun indikator keberhasilan yang dicapai dalam kegiatan ini adalah terjadinya peningkatan rata-rata pengetahuan peserta setelah diberikan edukasi lebih besar . dibandingkan ratarata pengetahuan peserta sebelum diberikan edukasi . data ini menunjukkan edukasi dengan metode ceramah tanya jawab dan video demonstrasi dapat meningkatkan pengetahuan ibu dalam pemberian asupan nutrisi dengan memanfaatkan pangan lokal. Diharapkan kepada kepala Puskesmas. Kepala Desa. Kader Posyandu dan tenaga pelaksana Gizi dalam rangka monitoring dan evaluasi terkait pemberian makanan tambahan bergizi pada balita sehingga terhindar dari stunting. Kata Kunci: Edukasi. Pemberian Makanan Tambahan. Pangan Lokal. Stunting Abstract Stunting is a condition of stunted growth in toddlers, characterized by shorter height than other children their age. Stunting remains a worrying problem because it can have both short-term and long-term negative impacts on toddlers as the next generation. One step in tackling stunting in toddlers is through community education to increase knowledge and skills related to stunting prevention by providing supplementary food using local, nutritious food ingredients. This activity aims to provide education on providing additional food made from local pumpkin food. in toddlers as an effort to prevent stunting. This activity was held on August 16, 2025, in Ogomoli Village. Galang District. Tolitoli Regency. Using a lecture method, questions and answers, and video demonstrations , 21 mothers of toddlers, pregnant women, and breastfeeding mothers participated, including 6 mothers with toddlers with stunting. The series of activities begins with filling out a pre-test questionnaire. then continued with stunting counseling and provision nutritious supplementary food by utilizing local pumpkin food as well as showing a video demonstration on how to cook pumpkin pudding and finally filling out a post-test questionnaire. The indicator of success achieved in this activity is an increase in the average knowledge of participants after being given education which is greater . compared to the average knowledge of participants before being given education . This data shows that education using the lecture method of questions and answers and video demonstrations can increase mothers' knowledge. in providing nutritional intake by utilizing local It is hoped that heads of Community Health Centers. Village Heads. Integrated Health Post (Posyand. cadres, and nutrition staff will monitor and evaluate the provision of nutritious supplementary food to toddlers to prevent stunting. Keywords: Education. Supplemental Feeding. Local Food. Stunting. Arniawan. Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia. Vol. 5 No. : 230-236 Pesan Utama: Edukasi ini memberikan pemahaman tentang pembuatan makanan tambahan bergizi dengan memanfaatkan labu kuning sebagai pangan lokal yang diolah menjadi puding yang lezat dan menarik, sekaligus mendorong perubahan perilaku dalam pemberian makanan tambahan bergizi pada balita. Kandungan gizi labu kuning yang kaya akan vitamin A yang sangat berperan dalam mencegah terjadinya stunting pada balita. Copyright . 2026 Authors. Received: 28 October 2025 Accepted: 04 December 2025 This work is licensed under a Creative Commons AttributionNonCommercial-ShareAlike 4. DOI: https://doi. org/10. 56303/jppmi. International License GRAPHICAL ABSTRACT PENDAHULUAN Stunting merupakan keadaan terhambatnya pertumbuhan pada anak balita yang ditandai dengan tinggi badan lebih rendah dibandingkan anak seusianya. Kondisi ini biasanya dipicu oleh kekurangan gizi yang berlangsung lama serta infeksi berulang, khususnya pada masa 1. 000 hari pertama kehidupan. Beberapa faktor risiko yang berperan dalam terjadinya stunting antara lain kurang optimalnya pemberian ASI eksklusif, status gizi ibu hamil yang tidak memadai, rendahnya tingkat pendidikan ibu, berat badan lahir yang rendah, serta defisiensi zat besi dan seng, (Rakhmalia Imeldawati, 2. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa terdapat sekitar 148,1 juta anak di bawah usia lima tahun yang mengalami stunting, atau setara dengan 22,3%, (World Health Organization, 2. Menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting secara nasional mencapai 19,8%, sedikit lebih Arniawan. Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia. Vol. 5 No. : 230-236 rendah dibandingkan target nasional yaitu 20,1%, (Sari et al. , 2. Laporan penyelenggaraan percepatan penurunan stunting di Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa stunting sebesar 27,2%, (Dinkes Sulteng. Angka prevalensi stunting di Kabupaten Tolitoli sebanyak 7,08%, (Dinas Kominfo Kab. Tolitoli, 2. Dan berdasarkan data yang didapat dari UPT. Puskesmas Galang bahwa terdapat balita stunting di Ogomoli sebanyak 6 balita, (UPT. Puskesmas Galang, 2. Salah satu langkah dalam menanggulangi stunting pada balita yaitu melalui edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terkait pencegahan stunting, serta pemberian edukasi mengenai makanan tambahan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal salah satunya adalah labu kuning . ucurbita moschat. , merupakan salah satu pangan lokal yang memiliki kandungan gizi bermanfaat bagi tubuh. Dalam setiap 100 gram labu kuning terdapat 1. 569 g beta-karoten. Selain itu, labu kuning juga mengandung berbagai zat gizi lain seperti karbohidrat, protein, lemak, serat, serta mineral penting seperti kalsium, fosfor, dan zat besi. Kandungan vitamin di dalamnya meliputi vitamin A. B, dan C. Warna kuning pada daging buahnya menandakan tingginya kadar karotenoid, (Ginting et al. , 2. Melimpahnya pangan lokal labu kuning dan dampak bahaya dari stunting maka diperlukan upaya edukasi yang lebih intensif guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan labu kuning sebagai pemberian makanan tambahan yang bergizi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya nutrisi bagi pertumbuhan anak balita dan berkontribusi dalam upaya penurunan angka stunting di Desa Ogomoli. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Desa Ogomoli Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, dengan metode yang digunakan adalah ceramah tanya jawab, dan video demonstrasi, sasarannya adalah ibu yang memiliki balita stunting, ibu balita, ibu hamil dan ibu menyusui. Selain itu, intansi yang terlibat adalah Kepala Puskesmas UPT. Puskesmas Galang. Kepala Desa Ogomoli. Kader Posyandu dan tenaga pelaksana Gizi dari UPT. Puskesmas Galang. Agenda kegiatan ini dimulai dengan pengisian kuesioner pre-test untuk mengukur pengetahuan peserta sebelum diberikan materi terkait stunting dan kandungan gizi labu kuning dilanjut pengukuran stunting kemudian dilanjutkan penyuluhan stunting dan pemberian makanan tambahan bergizi dengan memanfaatkan pangan lokal labu kuning serta pemutaran video demo cara memasak puding olahan labu Kegiatan terakhir yaitu pengisian kuesioner post-test untuk mengukur pengetahuan peserta setelah diberikan materi. Nilai pre-post test yang akan dijadikan indikator keberhasilan. Langkah-langkah kegiatan dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini: Tahap Persiapan AKomunikasi dan studi pendahuluan di Desa Ogomoli wilayah kerja UPT. Puskesmas Galang Tahap Pra Pelaksanaan Tahapa Pelaksanaan Tahap Evaluasi APersiapan alat pengukuran stunting APenyusunan materi penyuluhan stunting dan pemberian makanan tambahan bergizi dengan pangan lokal labu APersiapan pembuatan video demo cara memasak puding labu A pre-test APengukuran stunting APenyampaian materi penyuluhan stunting dan dan pemberian makanan tambahan bergizi dengan pangan lokal labu APemutaran video demo memasak cara puding labu kuning A post-test AEvaluasi pemahaman peserta tentang pemberian makanan tambahan bergizi pangan lokal labu Gambar 1. Bagan Alur Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Arniawan. Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia. Vol. 5 No. : 230-236 HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu pelaksanaan kegiatan edukasi pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal labu kuning pada balita. Dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2025 di Desa Ogomoli. Kecamatan Galang. Kabupaten Tolitoli. Kegiatan ini diikuti 21 orang ibu balita, ibu hamil dan ibu menyusui, termasuk 6 ibu yang memiliki anak balita dengan kondisi stunting. Dan dihadiri oleh Kepala Puskesmas UPT. Puskesmas Galang. Kepala Desa Ogomoli. Kader Posyandu dan tenaga pelaksana Gizi dari UPT. Puskesmas Galang. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memperluas wawasan masyarakat mengenai beragam faktor yang berperan dalam munculnya stunting pada anak, terutama yang berkaitan dengan pengetahuan dan perilaku ibu dalam memenuhi kebutuhan gizi selama masa kehamilan maupun periode awal kehidupan anak. Sehingga dibutuhkan adanya upaya pencegahan dan pengendalian stunting, salah satunya dengan asupan nutrisi yang baik sebagai makanan tambahan dengan memanfaatkan pangan lokal salah satunya adalah labu kuning. Kandungan gizi labu kuning yang kaya akan beta karoten yang merupakan pigmen warna kuning-oranye yang jika dicerna oleh tubuh manusia akan berubah menjadi vitamin A yang sangat berperan dalam mencegah terjadinya penyakit infeksi seperti infeksi diare. Salah satu penyebab utama terjadinya stunting pada balita adalah adanya paparan penyakit infeksi seperti diare (Khaira et al. , 2. Apabila penyakit infeksi sering diderita oleh balita maka dapat menyebabkan timbulnya dampak secara langsung yaitu stunting karena dengan adanya penyakit infeksi dapat menurunkan nafsu makan dan terjadi gangguan absorbsi zat-zat gizi, (Yulnefia & Sutia, 2. Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan absensi kehadiran peserta, setelah itu pemberian kuesioner pretest yang sudah disesuaikan dengan materi stunting dan kandungan gizi labu kuning, pengukuran stunting pada balita, dilanjutkan penyuluhan stunting dan pemberian makanan tambahan bergizi dengan memanfaatkan pangan lokal labu kuning dengan materi meliputi : definisi stunting, dampak dan bahaya stunting, penyebab stunting, alternatif cara mencegah stunting, kandungan zat gizi dari labu kuning dan cara pengolahan puding berbahan dasar labu kuning. Gambar 2. Dokumentasi Pengukuran Stunting dan Edukasi Stunting Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran video demo cara memasak puding olahan dari labu Adapun bahan pembuatan puding yang berbahan dasar labu kuning meliputi : Labu kuning 400 gr, air 300 ml, susu cair 250 ml. Gula . esuai seler. Kental manis/santan . esuai seler. 50 gr, agar-agar plain 1 bungkus, telur 3 butir, nutrijell 10 gr, sirup leci 100 ml dan biji selasi. Dan cara memasaknya : Labu kuning dikupas, cuci, blender dengan 250 ml air sampai lembut. Campur semua bahan jadi satu . asukan susu cair, agar-agar, gula, kental manis/santan, 3 butir kuning telur sambil diaduk-aduk lalu masukkan labu kuning yang telah diblender aduk rat. Masak dengan api sedang sambil terus diaduk sampai mendidih. Biarkan sebentar sampai uap panas hilang sambil diaduk-aduk. Cetak pada cup puding. Biarkan padat di suhu ruangan/kulkas. Kemudian di adonan lain buat topping ikan koi dengan mencampurkan bahan jadi satu . utrijel 10 gr, agar-agar plain 10 gr, sirup leci 100 ml, air 100 ml kemudian masak sambil diaduk-aduk lalu masukkan kental manis 30 gr diaduk sampai Cetakan pada cup ikan koi. Biarkan padat di suhu ruangan selama 10 menit. Kemudian tata ikan koi di atas puding labu. beri hiasan biji selasih agar terlihat menarik. Arniawan. Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia. Vol. 5 No. : 230-236 Gambar 3. Pengolahan labu kuning menjadi puding Kegiatan terakhir yaitu pengisian kuesioner post-test dengan pertanyaan yang sama seperti pre-test. Adapun indikator keberhasilan yang dicapai dalam kegiatan ini adalah terjadinya peningkatan pengetahuan peserta dalam pemberian makanan tambahan bergizi dengan memanfaatkan pangan lokal labu kuning. Rata-rata nilai pre-test sebesar 64 meningkat menjadi 89 pada post-test dengan nilai minimal dan maksimal dari 40-85 pada pre-test menjadi 82-100 pada post-test, data ini menunjukkan bahwa peserta berhasil mencapai tingkat pengetahuan yang sangat baik. Selain itu, hasil tersebut menegaskan bahwa edukasi dengan metode ceramah tanya jawab dan video demonstrasi dapat meningkatkan pengetahuan dan perilaku ibu secara menyeluruh. Edukasi ini memberikan pemahaman tentang pembuatan makanan tambahan bergizi dengan memanfaatkan labu kuning sebagai bahan pangan lokal yang diolah menjadi puding yang lezat dan menarik, sekaligus mendorong perubahan perilaku dalam pemberian makanan tambahan bergizi pada balita. Sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh (Fanisyach, 2. bahwa pengolahan atau demo memasak dapat secara mudah dipahami dan meningkatkan keahlian serta sebagai awal mula motivasi para ibu balita untuk berinovasi dalam memanfaatkan pangan lokal menjadi olahan yang enak dan menarik sehingga dapat meningkatkan asupan gizi balita sehingga terhindar dari stunting. Hal serupa dikemukakan oleh (Abbas et al. , 2. yang mengatakan bahwa kegiatan program edukasi gizi dengan memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai salah satu upaya untuk mendorong perubahan perilaku dan membekali ibu yang memiliki balita stunting berupa modifikasi atau merancang masakan sebagai makanan tambahan padat gizi. Serta (Khaira et al. , 2. juga mengungkapkan bahwa terdapat peningkatan keterampilan para ibu balita dalam mengolah pangan lokal dapat meningkatkan konsumsi gizi balita yang dapat mencegah terjadinya stunting pada balita. Gambar 4. Foto Bersama Arniawan. Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia. Vol. 5 No. : 230-236 KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Desa Ogomoli. Kecamatan Galang. Kabupaten Tolitoli. Kegiatan ini diikuti 21 orang ibu balita, ibu hamil dan ibu menyusui, termasuk 6 ibu yang memiliki anak balita dengan kondisi stunting. Dan dilakukan edukasi pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal labu kuning pada balita sebagai makanan tambahan berbahan pangan lokal yang merupakan tanaman tropis yang mudah didapatkan dan mengandung gizi yang baik, sehingga cocok digunakan sebagai makanan tambahan untuk meningkatkan status gizi balita. Hasil dari terlaksananya kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan masyarakat setelah dilakukan edukasi pemberian makanan tambahan gizi dengan memanfaatkan bahan pangan lokal labu kuning menjadi puding yang enak dan menarik, serta mendorong perubahan perilaku dalam pemberian makanan tambahan yang bergizi pada balita. Diharapkan kepada kepala UPT. Puskesmas Galang. Kepala Desa Ogomoli. Kader Posyandu dan tenaga pelaksana Gizi dalam rangka monitoring dan evaluasi terkait pemberian makanan tambahan bergizi pada balita sehingga terhindar dari stunting. PENDANAAN Pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan dana mandiri. UCAPAN TERIMA KASIH