Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. No. Nov 2023: hlm 155-163 ISSN-L 2797-8230 (Versi Elektroni. Pengaruh Tingkat Kepuasan Work-Life Integration terhadap Burnout pada Profesi Dokter: A Systematic Review Without Meta-Analysis Kharisma Putri Anugerah1. Zamralita2. Meylisa Permata Sari3 Jurusan S1 Psikologi. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: kharisma. 705200116@stu. Fakultas Psikologi. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: zamralita@fpsi. Fakultas Psikologi. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: meylisa. sarii@fpsi. Masuk: 30-10-2023, revisi: 13-11-2023, diterima untuk diterbitkan: 30-11-2023 ABSTRAK Profesi medis, terutama dokter, harus menghadapi tantangan setiap harinya seperti jam kerja yang panjang, tuntutan emosional yang tinggi, dan cenderung memprioritaskan kebutuhan pasien dibandingkan kebutuhan diri sendiri. Oleh karena hal inilah, risiko burnout pada dokter semakin meningkat dan bahkan menjadi isu global sebelum pandemi COVID-19. Studi menunjukkan bahwa dokter yang mengalami burnout dapat menghadapi masalah serius seperti peningkatan risiko kesalahan medis, penurunan kualitas pelayanan, dan bahkan memberikan ancaman terhadap produktivitas sistem kesehatan. Faktor-faktor seperti beban kerja yang tinggi, tugas administratif, dan jam kerja yang panjang juga menjadi salah satu faktor terjadinya rasa burnout pada profesi dokter. Selain itu, penelitian mencatat bahwa work-life integration (WLI) memiliki peran signifikan dalam terjadinya burnout pada dokter. Adanya tantangan dalam mencapai kepuasan dalam work-life integration dapat meningkatkan risiko konflik, yang dapat berdampak negatif pada pekerjaan dan menyebabkan terjadinya burnout. Dengan adanya urgensi ini, penelitian yang menggunakan metode Systematic Review without META Analysis dilakukan untuk menyelidiki pengaruh tingkat kepuasan work-life integration terhadap burnout pada dokter. Hasil di dalam penelitian ini adalah untuk memberikan wawasan yang lebih mendalam, membantu mengembangkan strategi intervensi dan kebijakan yang lebih baik di dunia kedokteran dan juga menemukan adanya pengaruh tinggi rendahnya tingkat kepuasan work-life integration yang dimiliki seorang dokter terhadap burnout yang dialaminya. Kata Kunci: Integrasi Kehidupan Kerja. Kelelahan Bekerja. Dokter ABSTRACT The medical profession, especially doctors, have to face challenges every day such as long working hours, high emotional demands, and the need to prioritize patient necessity over their own needs. Because of this, the risk of burnout among doctors is increasing and even became a global issue before the COVID-19 pandemic. Studies show that doctors who experience burnout can face serious problems such as increased risk of medical errors, reduced quality of service, and even pose a threat to health system productivity. Factors such as high workloads, administrative tasks and long working hours are also factors that cause burnout in the medical profession. addition, research notes that work-life integration (WLI) has a significant role in the occurrence of burnout in The existence of challenges in achieving satisfaction in work-life integration can increase the risk of conflict, which can have a negative impact on work and cause burnout. Given this urgency, research using the Systematic Review without META Analysis method was conducted to investigate the influence of the level of work-life integration satisfaction on burnout in doctors. The results of this research provide deeper insight, help develop better intervention strategies and policies in the world of medicine and also find the influence of a doctor's high or low level of satisfaction with work-life integration on the burnout he experiences. Keywords: Work-Life Integration. Burnout. Physicians https://doi. org/10. 24912/jmmpk. Pengaruh Tingkat Kepuasan Work-Life Integration terhadap Burnout pada Profesi Dokter: A Systematic Review Without Meta-Analysis Kharisma Putri Anugerah, et al. PENDAHULUAN Latar Belakang Profesi medis modern ditandai dengan adanya jam kerja yang panjang, jadwal yang tidak fleksibel, situasi berat yang emosional, dan budaya memprioritaskan kebutuhan pasien dibandingkan kebutuhan pribadi. Salah satunya adalah dokter. Seorang dokter dilatih untuk mengutamakan kepentingan pasien dibandingkan kepentingan diri sendiri, kolega, dan juga institusi (Tawfik et al. , 2. Berdasarkan pengertian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dokter merupakan seseorang yang lulus dalam pendidikan kedokteran dan ahli dalam hal penyakit serta pengobatannya. Di dalam pekerjaannya sebagai seorang dokter, tentunya setiap hari harus melakukan banyak interaksi dengan individu lainnya. Menurut Carod-Artal dan Vyzquez-Cabrera . , pekerjaan yang mempunyai tuntutan dan interaksi yang intens secara terus menerus dengan orang lain yang mempunyai kebutuhan fisik dan emosional akan lebih sering mengalami burnout. Selain itu, berdasarkan Nurmayanti dan Margono . , dokter mempunyai risiko tinggi untuk mengalami burnout karena ada banyaknya tugas, kewajiban, dan risiko yang harus ditanggung saat menjalani The Lancet . menyatakan bahwa tingginya rasa burnout pada dokter telah menjadi epidemi global bahkan sebelum adanya pandemi COVID-19. Pengertian burnout sendiri menurut Maslach et al. adalah rasa lelah secara fisik, mental, dan emosional yang terjadi karena adanya rasa stres secara jangka panjang, di dalam situasi yang berkaitan dengan keterlibatan emosi yang tinggi. Burnout mempunyai tiga dimensi : . emotional exhaustion . elelahan emosiona. atau merasa terkuras oleh berbagai tuntutan pekerjaan yang menghabiskan sumber daya fisik dan emosional seseorang, . atau hilangnya rasa keterhubungan terhadap pekerjaan yang bermanifestasi pada sikap sinis ataupun negatif, dan . low personal accomplishment . apaian dir. yaitu mempunyai perasaan tidak efektif saat melakukan pekerjaan dan persepsi yang rendah mengenai pencapaian diri sendiri (Maslach dan Jackson, 1. Rasa burnout pada dokter ditandai dengan adanya perasaan lelah, tidak fokus, mudah gusar, dan seringkali mengalami adanya gangguan mood, depresi, dan bahkan pikiran bunuh diri (Patel et , 2. Saat menjalani pelayanan terhadap pasien pun, dokter yang merasa burnout dapat berhubungan dengan bertambahnya risiko peningkatan terjadinya kesalahan medis secara dua kali lipat, menurunnya kualitas pelayanan, dan menurunnya pula kepuasan pasien dua kali lipat (Panagioti et al. , 2. Selain itu, burnout pada dokter juga dapat mengancam sistem operasional kesehatan karena adanya hubungan dengan turunnya produktivitas sehingga meningkatnya keinginan dokter untuk keluar atau berhenti dari pekerjaannya (Dewa et al. , 2014. Willard-Grace et al. , 2. Berdasarkan Amoafo et al. dan Lo et al. , faktor-faktor antara pekerjaan dan karakteristik personal dapat meningkatkan risiko dokter untuk mengalami burnout. Beban kerja dokter bukan hanya untuk melayani pasien, namun juga merangkap tugas-tugas administratif seperti otorisasi, rekonsiliasi, dokumentasi, dan banyak hal lainnya (Rao et al. , 2. Tingginya beban kerja dokter yang berkaitan dengan lama jam kerja, total pasien yang harus ditangani per hari, jenis spesialisasi, dan tipe rumah sakit tempat dokter bekerja mempunyai hubungan dengan terjadinya burnout pada dokter (Lo et al. , 2. Beberapa studi terdahulu melaporkan bahwa tingkat burnout cenderung tinggi pada profesi kedokteran sebesar 19%-47% dibandingkan populasi pekerja profesional lainnya (Devalk dan https://doi. org/10. 24912/jmmpk. Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. No. Nov 2023: hlm 155-163 ISSN-L 2797-8230 (Versi Elektroni. Oostrom, 2. Pada tahun 2018, di Amerika Serikat, terdapat kasus burnout sebesar 42% dari 15000 dokter (Yates, 2. Sementara itu, di Asia, berdasarkan kajian sistematik penelitian yang dilakukan mengenai burnout pada profesi kedokteran dan ditemukan bahwa sebesar 66. 8% dokter di China mengalami burnout (Lo et al. , 2. Sedangkan di Indonesia sendiri, terdapat penelitian terhadap 89 dokter, ditemukan sebesar 44% partisipan mengalami burnout (Sutoyo et al. , 2. Selama bekerja di tempat praktik, jam istirahat untuk para dokter tidak ditemukan rentang Dokter hanya akan beristirahat apabila tidak terdapat pasien dan untuk beribadah saja (Nurjanah, 2. Secara rata-rata, dokter menghabiskan setengah dari hari kerja mereka dan tambahan 28 jam per bulan pada malam hari dan akhir pekan untuk menyelesaikan tugas (Arndt et al. , 2. Ditemukan di dalam sebuah studi bahwa salah satu faktor terjadinya burnout pada dokter adalah adanya kesulitan untuk melakukan work-life integration (WLI) dalam kehidupan sehari-hari (West et al. , 2. Ketidakpuasan terhadap WLI merupakan hal yang relatif umum diantara para dokter dan sangat berkaitan dengan terjadinya burnout. Pekerja medis mempunyai risiko yang tinggi untuk mempunyai konflik antara pekerjaan dan kebutuhan rumah tangga. Oleh karena itu, hal ini dapat berakibat buruk terhadap Work-Life Integration (WLI), dimana individu harus memilih kebutuhan apa yang harus diprioritaskan terlebih dahulu karena adanya waktu atau sumber daya yang terbatas (Tawfik et al. , 2. Pengertian work-life integration, menurut Rachmawati . , merupakan kemampuan seseorang untuk beradaptasi secara penuh dengan cara mengkombinasikan pekerjaan dan keluarga secara bersamaan. Selain itu, work-life integration juga mempunyai pengertian sebagai satu proses untuk mewujudkan hubungan yang harmonis diantara pekerjaan, keluarga, dan diri sendiri (Grady & McCarthy, 2. Salah satu contoh dari work-life integration adalah ketika seseorang mendengarkan meeting secara online sambil mengerjakan pekerjaan rumah atau seorang ibu membawa anaknya ke kantor ketika sekolah sedang libur. Walaupun work-life integration dan work-life balance keduanya membutuhkan skill time management dari seorang individu, namun work-life balance menekankan adanya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan sedangkan work-life integration menekankan betapa pentingnya agar kehidupan pribadi dan pekerjaan dapat berjalan berdampingan. Pengertian worklife balance menurut Parkes dan Langford . adalah kemampuan seseorang dalam menyeimbangkan kehidupan pekerjaan dan pribadinya, memenuhi komitmen, dapat bertanggung jawab dengan kegiatan lain di luar pekerjaannya. Prasad . mengutarakan bahwa keadaan work-life balance yang sempurna tidak akan pernah ada, melainkan peleburan antara urusan kehidupan pribadi dengan pekerjaan harus menjadi satu sebagai rutinitas kehidupan sehari-hari. Sudah cukup banyak penelitian yang telah melakukan studi antara burnout dan work-life integration terhadap dokter. Salah satunya dilakukan oleh Shanafelt et al. tentang perubahan burnout dan tingkat kepuasan work-life integration terhadap 7510 dokter di Amerika Serikat antara tahun 2011 dan 2020 yang menyatakan bahwa burnout dan tingkat kepuasan terhadap WLI meningkat antara tahun 2017 dan 2020. Namun, meskipun terdapat adanya peningkatan, dokter tetap berisiko tinggi untuk mengalami burnout dibandingkan dengan pekerja di bidang lain. Kemudian, terdapat penelitian lain yang dibuat oleh Shanafelt et al, . tentang perubahan burnout dan tingkat kepuasan work-life integration terhadap 2440 dokter di Amerika Serikat pada 2 tahun pertama Pandemic Covid-19 bahwa adanya peningkatan yang tinggi dalam https://doi. org/10. 24912/jmmpk. Pengaruh Tingkat Kepuasan Work-Life Integration terhadap Burnout pada Profesi Dokter: A Systematic Review Without Meta-Analysis Kharisma Putri Anugerah, et al. burnout dan penurunan tingkat kepuasan terhadap work-life integration antara tahun 2020 dan Adanya urgensi inilah yang membuat peneliti ingin melihat dan mencari tahu lebih lanjut terkait pengaruh tingkat kepuasan work-life integration terhadap burnout pada profesi dokter. Dalam hal ini, peneliti menggunakan metode Systematic Review without META Analysis untuk mendapatkan jawaban secara spesifik terhadap pertanyaan penelitian. Pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian Systematic Review without META Analysis ini adalah apa pengaruh tingkat kepuasan work-life integration terhadap burnout pada profesi dokter. Rumusan Masalah Rumusan masalah di dalam penelitian ini adalah apa pengaruh tingkat kepuasan work-life integration terhadap burnout pada profesi dokter. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode Systematic Review without Meta-Analysis. Metode ini digunakan dalam tinjauan sistematis untuk memeriksa efek kuantitatif dari intervensi untuk meta-analisis estimasi dampak mana yang tidak mungkin dilakukan atau tidak sesuai dan juga melaporkan fitur utama sintesis tentang bagaimana studi dikelompokkan, metode yang digunakan, penyajian data dan teks ringkasan, juga keterbatasan sistensis (Campbell et al. , 2. Eligibility Studies Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah penelitian yang membahas mengenai burnout dan work-life integration terhadap profesi dokter. Peneliti hanya akan mengambil artikel yang membahas burnout dan work-life integration serta pengaruhnya terhadap profesi dokter. Selain itu, sebagai salah satu tujuan peninjauan, artikel yang diambil hanya dalam bentuk artikel yang sudah diterbitkan menggunakan bahasa Inggris dan hanya artikel yang mempunyai kelengkapan penulisan mulai dari abstrak, kelengkapan teks, dan termasuk sebagai kriteria Q1. Q2. Q3 saja yang akan digunakan dalam penelitian ini. Kriteria artikel Q menjadi penilaian terhadap kualitas artikel internasional. Terkait hal ini. SCIMAGO Journal and Country Rank (SJR) digunakan sebagai penyedia layanan tingkat reputasi Alasan peneliti menggunakan artikel dengan kategori Q1. Q2, dan Q3 dikarenakan kategori ini termasuk dalam 100 artikel yang memiliki pengaruh cenderung besar. Kriteria eksklusi dalam artikel ini adalah penelitian yang tidak masuk ke dalam kategori Q1. Q2. Q3, dan tidak menggunakan artikel sebelum tahun 1995 . ikarenakan tahun ini merupakan awal komersialisasi internet untuk digunakan secara luas oleh banyak oran. Kriteria Pencarian Database Penelitian Database yang digunakan adalah ERIC. Sage Journal. ScienceDirect, dan Pubmed. Sedangkan kata kunci yang digunakan untuk mencari artikel adalah AuburnoutAy. Auwork-life integrationAy, dan AuphysicianAy. Penelitian sendiri berfokus kepada penelitian kuantitatif, kualitatif, dan juga Quality Assessment Di dalam quality assessment, peneliti melakukan appraisal tool yang berbeda untuk menilai kualitas sebuah artikel. Terdapat 3 artikel yang menggunakan cross-sectional studies sehingga https://doi. org/10. 24912/jmmpk. Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. No. Nov 2023: hlm 155-163 ISSN-L 2797-8230 (Versi Elektroni. appraisal tool yang digunakan adalah appraisal tool checklist yang dikembangkan oleh Downes et al. berupa Development of A Critical Appraisal Tool to Assess The Quality of Crosectional Studies (AXIS). Kemudian, 3 artikel sisanya berbentuk probability sample sehingga menggunakan appraisal tool dari Critical Appraisal Skills Programme (CASP). Langkah ini dilakukan untuk dapat melakukan kategorisasi resiko bias dengan menggunakan sistem perhitungan dari Cochrane. Menurut Cochrane sendiri terdapat empat kategori resiko bias yaitu . resiko bias sangat tinggi . -25%), . resiko bias tinggi . -50%), . resiko bias rendah . -75%), dan . resiko bias sangat rendah . -100%). Perhitungan dilakukan dengan cara membagikan jumlah yes dengan total pertanyaan, lalu hasilnya dikali 100 persen. Berdasarkan perhitungan tersebut, dari total 6 artikel yang digunakan di dalam penelitian, ditemukan bahwa terdapat 2 artikel berada di dalam angka 100%, 2 artikel berada di dalam angka 95%, dan 2 artikel berada di dalam angka 90%, sehingga dapat disimpulkan bahwa artikel yang digunakan di dalam penelitian berada di dalam kategori bias sangat rendah . -100%). Screening Studies Peneliti melakukan proses screening artikel dengan menggunakan pendekatan PRISMA-ScR (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysi. HASIL DAN PEMBAHASAN Di dalam penelitian ini, peneliti berhasil menemukan 1,621 artikel berdasarkan database ERIC . Sage Journal . ScienceDirect . , dan Pubmed . Kemudian, peneliti melakukan tahap screening duplikasi artikel menggunakan aplikasi Mendeley dan berhasil menemukan 1,556 artikel. Sebanyak 1,550 artikel tidak termasuk di dalam kriteria inklusi dan eksklusi sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tersisa 6 artikel yang menjadi subjek di dalam penelitian ini. Artikel yang digunakan merupakan artikel dengan publikasi antara tahun 2019 dan 2022. Total 6 artikel . %) yang digunakan merupakan artikel yang menggunakan metode kuantitatif. Berdasarkan tipe sampel yang digunakan, 5 artikel menggunakan sampel dokter secara umum . ,3%) dan 1 artikel menggunakan sampel dokter pelari wanita . ,7%). Seluruh artikel dipublikasi di dalam bidang kesehatan. Nama artikel ilmiah yang digunakan di dalam penelitian ini antara lain Mayo Clinic Proceedings . Academic Medicine . JAMA Netw Open . , dan BMJ Open Short and Exercise Medicine . Jika dilihat dalam segi penulisan, terdapat 3 artikel . %) dengan penulis utama dan topik yang sama tetapi penelitian dilakukan pada tahun yang berbeda. Dalam hal fokus regional, seluruh penelitian yang digunakan berasal dari Amerika Serikat dengan total 6 artikel . %). Di dalam penelitian ini, peneliti hanya akan berfokus terhadap nilai kepuasan work-life integration dan burnout pada profesi dokter. Maka dari itu, variabel lain yang tidak termasuk ke dalam topik penelitian tidak akan dibahas pada penelitian ini. Terdapat 6 artikel yang menganalisis tentang tingkat kepuasan work-life integration terhadap burnout pada profesi dokter. Berdasarkan hasil penelitian di dalam 3 artikel dengan penulis dan topik utama yang sama, dapat dikumpulkan angka burnout dan tingkat kepuasan work-life integration pada profesi dokter dalam jangka tahun 2011, 2014, 2017, 2020, dan 2021. Berikut hasil persentase dokter yang mempunyai 1 atau lebih gejala burnout di dalam penelitian tersebut: 45,5% . ,310 dari 7,. tahun 2011, 54,4% . ,680 dari 6,. tahun 2014, 43,9% . ,147 dari https://doi. org/10. 24912/jmmpk. Pengaruh Tingkat Kepuasan Work-Life Integration terhadap Burnout pada Profesi Dokter: A Systematic Review Without Meta-Analysis Kharisma Putri Anugerah, et al. tahun 2017, 38,2% tahun 2020, dan 62,8% tahun 2021. Sedangkan untuk seluruh angka tingkat kepuasan work-life integration pada profesi dokter yang didapatkan di dalam penelitian tersebut: 48,5% . , 40,9% . , 42,7% . , 46,1% . , dan 30,2% . Dari kumpulan data yang didapatkan, dapat dilihat bahwa terdapat kenaikan dan juga penurunan di dalam hal burnout dan tingkat kepuasan work-life integration pada profesi dokter. Walaupun demikian, penelitian tetap menyatakan bahwa berdasarkan analisis multivariat . sia, jenis kelamin, status hubungan, dan jam kerja per mingg. dokter tetap mempunyai risiko yang tinggi untuk mengalami burnout dan juga tingkat kepuasan work-life integration yang rendah dibanding pekerja dewasa Amerika Serikat di bidang lainnya. Dilanjutkan oleh artikel yang membahas tentang tingkat kepuasan work-life integration dan burnout dengan melihat faktor perbedaan gender dan practice setting . cademic practice dan private practic. bahwa dokter perempuan mempunyai prevalensi burnout yang lebih tinggi dan tingkat kepuasan work-life integration yang rendah dibandingkan dengan dokter laki-laki. Hasil ini dilihat dari adanya hubungan kompleks antar gender, lingkungan praktik, faktor pribadi, dan profesional dalam pengaruhnya terhadap burnout dan tingkat kepuasan work-life integration. Kemudian, terdapat 1 artikel yang melihat dalam segi faktor ras ataupun etnik. Ditemukan bahwa dokter Asia non-Hispanik, dokter Hispanik atau Latin, dan dokter kulit hitam non-Hispanik mempunyai angka burnout yang lebih rendah dibandingkan dokter kulit putih non-Hispanik. Selain itu, ditemukan juga bahwa dokter kulit hitam non-Hispanik kemungkinan mempunyai kepuasan dalam work-life integration dibandingkan dokter kulit putih non-Hispanik. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa dokter dari ras atau etnis minoritas kemungkinan lebih kecil untuk mengalami burnout dibandingkan dokter kulit putih non-Hispanik. Terakhir merupakan artikel yang melihat dari faktor keaktifan fisik yaitu menggunakan dokter pelari perempuan sebagai partisipannya. Di dalam artikel ini, ditemukan hubungan signifikan antara peningkatan burnout dengan jam kerja yang lebih banyak dan besarnya tanggung jawab atas rumah tangga. Artikel ini juga menyimpulkan bahwa dokter pelari perempuan tidak dapat mengendalikan rasa burnout dan tingkat kepuasan work-life integration yang rendah merupakan penyebab terjadinya burnout pada dokter wanita sehingga harus diberikan perhatian lebih. KESIMPULAN DAN SARAN Dapat dilihat 3 dari 6 artikel dengan rentang waktu 2011, 2014, 2017, 2020, dan 2021 menyatakan bahwa walaupun terdapat kenaikan dan penurunan di dalam burnout dan tingkat kepuasan worklife integration pada setiap tahun yang berbeda, dokter tetap menjadi profesi yang mempunyai risiko tinggi untuk mengalami burnout dikarenakan adanya angka kepuasan work-life integration yang rendah dibanding pekerja di bidang lainnya. Selain itu, gender dan practice setting, yang dikategorikan menjadi dua yaitu academic practice dan private practice, juga memberikan pengaruh terhadap tingkat kepuasan work-life integration dan burnout pada profesi dokter. Hasil penelitian menyatakan bahwa dokter perempuan mengalami burnout lebih tinggi dan work-life integration lebih rendah dibandingkan dokter lakilaki. Hal ini dikarenakan adanya hubungan kompleks antar gender ataupun faktor-faktor lainnya. Segi ras atau etnik juga menjadi salah satu faktor penentu. Di dalam 1 jurnal menyatakan bahwa dokter dari ras atau etnis minoritas kemungkinan lebih kecil untuk mengalami burnout dibandingkan dokter kulit putih non-Hispanik sehingga mempunyai rasa puas dalam work-life integration yang lebih tinggi. Kemudian, dalam segi keaktifan fisik, 1 jurnal menemukan hasil https://doi. org/10. 24912/jmmpk. Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. No. Nov 2023: hlm 155-163 ISSN-L 2797-8230 (Versi Elektroni. bahwa dokter pelari wanita, walaupun aktif secara fisik, tetap tidak dapat mengendalikan burnout dan mempunyai work-life integration yang rendah. Hal ini tentunya harus dijadikan perhatian lebih karena adanya tingkat kepuasan work-life integration yang rendah merupakan penyebab terjadinya burnout. Dari penjelasan diatas, penulis menarik kesimpulan bahwa bahwa tingkat kepuasan work-life integration memberikan pengaruh terhadap burnout pada profesi dokter. Data dari seluruh artikel penelitian menunjukkan semakin besar angka tingkat kepuasan work-life integration yang didapatkan maka akan semakin rendah angka burnout. Yang berarti bahwa semakin tinggi seseorang mempunyai rasa kepuasan dalam work-life integration maka akan semakin rendah seseorang akan mengalami burnout dan begitu pula sebaliknya. Ucapan Terima Kasih (Acknowledgemen. Peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Zamralita dan Ibu Meylisa Permata Sari selaku dosen pembimbing dari skripsi ini, yang dalam prosesnya telah sangat sabar, ikhlas, dan tulus membantu, meluangkan tenaga dan pikiran, memberikan arahan, motivasi, juga saran-saran yang sangat berharga dan bermanfaat kepada peneliti selama penyusunan skripsi ini. Peneliti juga ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada Bapak Tommy Y. Suyasa selaku dosen pembimbing akademik yang selalu setia untuk membantu, memberikan banyak dukungan, motivasi, serta saran akademik terhadap peneliti sejak awal perkuliahan sampai akhir semester. Selain itu, peneliti ucapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya terhadap seluruh dosen dan staff Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara yang telah memberikan dukungan serta membekali ilmu pengetahuan yang sangat membantu peneliti untuk menyelesaikan S1 psikologi dan skripsi REFERENSI