Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Vol. No. Februari 2024: 56-65 PENGGUNAAN FATIS DEULEU DALAM BUKU FIKSI BERBAHASA SUNDA Wahya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Email: Wahya@unpad. ABSTRAK. Penelitian penggunaan fatis deuleu dalam fiksi berbahasa Sunda ini bersifat deskriptif- kualitatif. Data disajikan menggunakan metode simak, yakni simak bebas libat cakap. Data dianalisis menggunakan metode padan referensial dengan pendekatan sosiolinguistik dan semantik. Sumber data sampel yang digunakan berjumlah sembilan buku fiksi berbahasa Sunda dengan pertimbangan terdapatnya sampel data yang diperlukan di dalamnya. Berdasarkan pengamatan atas sumber data tersebut, dipilihlah 28 data kalimat yang di dalamnya memuat fatis Dari semua data tersebut penggunaan fatis deuleu ditemukan hanya terdapat dalam tingkat tutur kode Selanjutnya, ditemukan empat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur dalam penggunaan fatis deuleu ini, yaitu . ketetanggaan, . kekerabatan, . pertemanan, dan . kenalan baru dengan jumlah data masing-masing 13, 8, 6, dan 1. Selanjutnya, jika diamati berdasarkan makna konteks kalimat, fatis deuleu yang terdapat dalam kalimat eksklamatif ini dalam penuturan memiliki sebelas jenis makna gramatikal, yaitu . menegaskan ketidaksetujuan,1 data, . menegaskan kemarahan, 9 data, . menegaskan sanggahan, 5 data, . menegaskan penjelasan, 6 data, kemudian . menegaskan kekagetan, . meminta tidak terburu-buru, . menegaskan perintah, . menegaskan alasan, . menegaskan ejekan, . menegaskan penyesalan, dan . menegaskan larangan, masing-masing ada 1 data. Dengan demikian, penggunaan fatis deuleu dalam buku fiksi berbahasa Sunda hanya digunakan dalam tingkat tutur kode akrab dengan hubungann sosial penutur dengan mitra tutur cenderung ketetanggaan serta dengan makna gramatikal kalimat penutur terhadap mitra tutur menegaskan Kata kunci: fatis deuleu, sosiolinguistik dan semantik, tingkat tutur kode akrab, hubungan sosial, makna THE USE OF DEULEU'S PHATHICS IN SUNDANESE FICTION BOOKS ABSTRACT. This research on the use of phatis deuleu in Sundanese language fiction is descriptive-qualitative in The data is presented using the listening method, namely listening without being involved in speaking. Data were analyzed using the referential equivalent method with a sociolinguistic and semantic approach. The sample data sources used were nine Sundanese language fiction books, taking into account the presence of the required data samples in them. Based on observations of the data source, 28 sentence data were selected which contained phatis deuleu. From all these data, the use of phatis deuleu was found to only occur at the familiar code speech level. Furthermore, four social relationships were found between speakers and speech partners in the use of phatis deuleu, namely . neighbourhood, . kinship, . friendship, and . new acquaintances with a total of 13, 8, 6 data respectively. , and 1. Furthermore, if observed based on the meaning of the sentence context, the phatis deuleu contained in this exclamative sentence in the narrative has eleven types of grammatical meaning, namely . emphasizes disagreement, 1 data, . emphasizes anger, 9 data, . ) confirms rebuttal, 5 data, . confirms explanation, 6 data, then . emphasizes surprise, . asks not to rush, . confirms order, . confirms reason, . emphasizes ridicule, . confirms regret, and . confirms prohibition, each has 1 data. Thus, the use of phatis deuleu in Sundanese fiction books is only used at the level of familiar coded speech with the speaker's social relationship with the interlocutor tending to be close and with the grammatical meaning of the speaker's sentences towards the interlocutor. confirmed anger. Keywords: deuleuAos phathics, sociolinguistics and semantics, familiar code speech level, social relations, grammatical meaning. PENDAHULUAN Bahasa Sunda merupakan salah datu bahasa yang terdapat di Indonesia dengan jumlah penutur kedua terbanyak setelah bahasa sekerabatnya, yaitu bahasa Jawa. Dilihat dari sisi sosiolinguistik bahasa Sunda merupakan salah bahasa yang mengenal tingkat tutur, dalam bahasa Sunda disebut undak usuk, sebagaimana bahasa Jawa. Bali, dan Madura. Secara historis, tingkat tutur dalam bahasa Sunda merupakan inovasi, yakni inovasi eksternal. Hal ini terjadi akibat adanya kontak intensif antara bahasa Sunda dengan bahasa Jawa yang mengenal tingkat tutur atau unggah-ungguh itu sekitar abad ke-17 (Tamsyah, 2015: . Tingkat tutur bermula dari adanya pembedaan kelompok sosial dalam masyarakat, yaitu pembedaan golongan sosial Penggunaan Fatis Deuleu Dalam Buku Fiksi Berbahasa Sunda (Wahy. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 tinggi dan golongan sosial rendah atau adanya kasta dalam masyarakat yang berlanjut pada perbedaan tata cara berbahasa. Tidak semua wilayah tutur bahasa Sunda terpengaruh oleh tingkat tutur ini, misalnya, bahasa Sunda di Banten, di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, di beberapa kecamatan di Indramayu. Tingkat tutur dalam bahasa Sunda mulanya berasal dari pusat budaya Priangan yang kemudian menyebar terutama melalui jalur Tampaknya tingkat tutur bahasa Sunda terjadi karena adanya difusi dalam kelompok sosial, yakni dari kelompok sosial tinggi ke kelompok sosial rendah. Sebagian masyarakat Jawa menganggap bahasa halus hanya digunakan terhadap raja. Munculnya penggunaan tingkat tutur dalam bahasa Sunda menyebabkan munculnya kata-kata baru, umumnya kata bersinonim, baik inovasi eksternal maupun inovasi internal untuk menyesuaikan dengan kode tingkat tutur yang ada, yang secara garis besar ada dua, yaitu tingkat tutur kode akrab dan tingkat tutur kode hormat. Banyak kata yang diserap dari bahasa Jawa untuk keperluan tingkat tutur ini. demikian pula dari bahasa lain, misalnya, bahasa Arab (Wahya dan Hazbini, 2020. Secara universal, bahasa di dunia memiliki kosakata yang disebut fatis atau kategori fatis untuk keperluan berkomunikasi. Kategori fatis ini dalam bahasa Sunda cukup banyak. Salah satu fatis yang terdapat dalam bahasa Sunda adalah Berdasarkan pengetahuan penulis, belum ada ahli bahasa Sunda yang menyebut istilah fatis yang mengacu pada kategori kata dalam buku tata Secara leksikografis, lema deuleu AomelihatAo berupa kata yang berkategori verba yang bersinonim dengan nenjo (Satjadibrata, 2008: 113. Danadibrata, 2009: . Menurut Panitia Kamus Lembaga Basa Jeung Sastra Sunda, 2007: . , lema deuleu AomelihatAo termasuk kata kasar sekali ( cohag dalam bahasa Sund. bersinonim dengan tenjo AomelihatAo. AomeninjauAo, juga sebagai kata pengantar untuk menandai rasa heran atau tidak setuju. Jadi, kata deuleu sebagai satuan kata yang berdiri sendiri secara semantis berarti melihat atau meninjau. samping deuleu sebagai kata utuh, deuleu juga sebagai fatis. Sebagai fatis, deuleu berdistribusi pada awal, tengah, dan akhir kalimat. Contoh: Deuleu, eta oray teh mani gede! AoWah, ular itu sangat besar!Ao Tong cicing di dinya, deuleu, bisi katabrak! AoJangan diam di sana, kalua-kalau tertabrak!Ao Dasar maneh mah jelema teu nyaho aturan. AoDasar kau manusia yang tahu aturan. Ao Secara semantik, fatis deuleu memiliki makna gramatikal sesuai dengan konteks kalimat. Pada contoh . fatis deuleu menyatakan menegaskan kekagetan. Pada contoh . fatis itu menyatakan menegaskan larangan. Adapun pada contoh . fatis deuleu menyatakan menegaskan kemarahan. Status fatis deuleu dalam kalimat bersifat mana suka, tidak wajib. Namun, jika terdapat dalam kalimat, fatis tersebut berpengaruh terhadap makna gramatikal kalimat dan hubungan penutur, yang berbicara, dengan mitra tutur, yang mendengarkan tuturan, secara sosial. Dalam percakapan sehari-hari, fatis deuleu ini, masih biasa dipakai walaupun tidak begitu tinggi pemakaiannya. Namun, jika membaca karya fiksi, fatis ini masih sering dipakai dalam tingkat tutur. Hubungan sosial antartokoh dapat diamati pada saat para tokoh berkomunikasi. Kalimat yang memuat fatis deuleu ini tergolong kalimat eksklamatif karena fatis ini tergolong interjeksi dalam bahasa Sunda. Tulisan ini mencoba mengamati penggunaan fatis deuleu ini yang digunakan para tokoh cerita rekaan atau fiksi, yakni penutur dan mitra tutur saat Dari kelompok sosial manakah mereka berasal? Apa makna granmatikal fatis Menurut Wahya, dkk. 9a: 2Ai3. 2019b: . , ungkapan fatis atau kategori fatis merupakan bagian dari kategori kata yang sarat dengan sentuhan pragmatik. Ungkapan fatis berperan penting dalam percakapan atau dialog yang melibatkan penutur dan mitra tutur dalam menciptakan keakraban . ihat pula Rahardi, 2005: . Fatis lebih sering muncul dalam bahasa ragam lisan daripada ragam tulis. Teks yang memuat fatis . da pula yang menyebut fati. disebut teks fatik (Zalmar dan Harahap, 2009: . Secara fenomenologi, kata fatis berkaitan dengan terminologi fungsi fatis dalam berkomunikasi, yang merupakan bagian dari lima fungsi komunikasi, yakni informasional, ekspresif, direktif, fatik, dan estetik (Leech, 2003: . Menurut Wahya, dkk. 9c: . Fungsi ini merupakan fungsi untuk menjaga agar jalur komunikasi tetap terbuka, dan untuk menjaga hubungan sosial secara baik, misalnya, dalam masyarakat Inggris berbicara tentang cuaca (Leech, 2003: . Fungsi fatik sejalan dengan fungsi interaksional dalam berkomunikasi yang dipertentangkan denga fungsi transaksional (Brown dan Yule, 1996: 3. Richard et al. , 1987: 214. Crystal,1989: Penggunaan Fatis Deuleu Dalam Buku Fiksi Berbahasa Sunda (Wahy. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Fungsi fatik terkait pula dengan fungsi sosial bahasa (Brown dan Yule, 1996: . Menurut Kridalaksana . 6 :. , kategori fatis . stilah lain untuk fati. adalah mempertahankan, atau mengukuhkan atau mengakhiri pembicaraan antara pembicara dan Selanjutnya. Kridalaksana . 6: 133. 2012: vi. , kategori fatis mempunyai wujud bentuk bebas dan bentuk Kategori fatis ini dapat berjenis satuan partikel, kata fatis, dan frasa fatis. Menurut Wahya, dkk. 9a: 8. 2019b : . , fatis dalam bahasa Sunda pun dapat berwujud partikel, kata, dan frasa. Fatis deuleu dalam bahasa Sunda yang dibahas dalam tulisan ini termasuk fatis berwujud kata. Menurut Wahya, dkk. 0a: . , dalam bahasa Sunda, masalah fatis ini telah mendapatkan perhatian dari linguis sebelumnya, namun dengan istilah lain, misalnya, kata seru (Ardiwinata, 1984: 22Ai24. Coolsma, 1985: 233Ai. dan interjeksi (Sudaryat, dkk. , 2013: METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak, yakni menyimak pengunaan fatis deuleu oleh para tokoh dalam beberapa buku fiksi berbahasa Sunda dengan teknik catat, yakni mencatat data langsung dari sumber data primer. Penganalisisan data menggunakan metode padan referensial dengan pendekatan semantik dan sosiolinguistik. Sumber data terdiri atas sembilan buku fiksi berbahasa Sunda, yaitu . Ki Merebot/KM . karya Ahmad Bakri, . Numbuk di Sue/NDS . karya Moh. Ambri, . Kasambet/K . karya Ahmad Bakri, . Kanyaah Kolot/KK . karya Karna Yudibrata , . Potret/P . karya Ahmad Bakri, . Budak Teuneung/BT . karya Samsoedi, . Babalik Pikir/BP . karya Samsoedi, . Si Bohim jeung Tukang Sulap/SBTS . karya Samsoedi, dan . Si Kabayan/SK karya Min Resmana. Data ditulis dengan aksara ortografis dengan ditulis dimiringkan, sedangkan objek penelitian ditulis dengan dimiringkan dan ditebalkan. Data diurutkan dan diberi nomor dengan angka Arab diserta identitas sumber data di sebelah kanan. Setiap data disertai terjemahan dalam bahasa Indonesia yang diletakkan di bawah data HASIL DAN PEMBAHASAN Fatis deuleu merupakan salah satu fatis bahasa Sunda yang secara morfologi berbentuk kata berfungsi sebagai penegas dalam tuturan yang diucapkan penutur kepada mitra tutur. Pemakaian fatis ini dalam fiksi atau cerita rekaan ditemukan saat seorang tokoh berbicara kepada tokoh lainnya dalam hubungan sosial tertentu saat menuturkan kalimat dengan makna tertentu. Dari sumber data penelitian dengan kriteria data yang ditentukan ditemukan penggunaan 28 data kalimat yang memuat fatis deuleu. Dari 29 kalimat tersebut, jika dilihat berdasarkan pemakaian tingkat tutur, semuanya merupakan tingkat tutur kode akrab. Selanjutnya, jika dilihat konteks hubungan sosial di antara penutur dan mitra tutur dalam penggunaan kalimat tersebut, ditemukan lima jenis hubungan sosial, yaitu . ketetanggaan 13 data, . pertemanan 8 data, . kekerabatan 6 data, . kenalan baru 1 data. Fatis Deuleu Hanya Terdapat dalam Penggunaan Tingkat Tutur Kode Akrab Bahasa Sunda sebagai bahasa yang mengenal tingkat tutur dalam penggunaannya mengenal dua kode tingkat tutur, yaitu tingkat tutur kode akrab dan tingkat tutur kode hormat. Secara tertulis perbedaan dua kode tingkat tutur tersebut ditengarai dengan perbedaan pilihan kata bersinomin, yakni kode akrab secara paradigmatik menggunakan kata yang termasuk dalam daftar kata kode akrab, ada linguis Sunda yang mengatakan kata kasar, sedangkan kode hormat menggunakan kata yang termasuk dalam daftar kode hormat, ada lingusi Sunda yang mengtakan kata halus. Secara hubungan sosial, antara penutur dan mitra tutur dapat diamati dari jabatan atau kedudukan sosial dan usia. Komunikasi yang terjadi dari individu yang berkedudukan sosial tinggi atau yang berusia tua kepada yang berkedudukan sosial lebih rendah atau yang berusia lebih muda lazimnya menggunakan tingkat tutur kode akrab. Namun jika sebaliknya, lazimnya menggunakan kode Penggunaan tingkat tutur kode akrab lazimnya dilakukan pula jika penutur dan mitra tuturnya berkedudukan sosial atau berusia sama. Jika dikaitkan dengan pihak ketiga yang digunakan kode akrab untuk mengata-ngatainya jika pihak ketiga tersebut berkedudukan sosial lebih rendah atau berusis lebih muda dari penutur atau mitra tutur. digunakan kode hormat jika Penggunaan menengarai tingkat tutur dengan kode tertentu Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 ketika terjadi komunikasi antara penutur dan mitra tutur. Dalam kaitan ini, penggunaan fatis deuleu oleh penutur kepada mitra tutur menengarai penggunaan tingkat tutur kode akrab. Oleh karena itu, hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur dapat ditelusuri. Penjelasn berikutnya akan menyangkut masalah ini. Identitas dan Hubungan Sosial Penutur dan Mitra Tutur dalam Penggunaan Fatis Deuleu Sebelumnya sudah dijelaskan mengenai penggunaan tingkat tutur kode akrab terkait dengan penggunaan fatis deuleu dan dapat ditelusurinya hubungan sosial penutur dan mitra tutur yang menggunakan tingkat tutur kode akrab Berdasarkan data dengan kriteria yang telah ditetapkan, penggunaan fatis deuleu ini dilakukan oleh penutur dan mitra tutur dalam Berdasarkan pengamatan atas hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur, fatis deuleu digunakan oleh penutur kepada mitra tutur pada percakapan cerita rekaan ini dalam empat hubungan sosial, yaitu hubungan sosial . , . pertemanan, . kekerabatan, dan . kenalan baru, yang masing-masing berjumlah 13 data, 8 data, 6 data, dan 1 data. Identitas Hubungan Sosial Ketetanggaan Hubungan sosial ketetanggaan berkaitan dengan hubungan sosial seseorang dengan orang lain yang sama-sama tinggal di suatu tempat. Penggunaan fatis deuleu oleh penutur dan mitra tutur dengan hubungan sosial ketetanggaan ini terdapat pada tiga belas data berikut. AuAKakara ge Asar ahir, deuleu!Ay (KM, 2016: AoAuA. Baru juga asar akhir!AyAo AuA. Lain gugueun, deuleu, nu kitu mah! A. (KM, 2016: . AoAyA Bukan untuk diturut yang begitu! AuPugugh wae, deuleu!Ay tembal Lebe nyereng. (KM, 2016: . AoAuBetul sekali. !AyAo AoDewek ge keur ngaderes, deuleu!Ay (KM, 2016: . AoAyAku juga sedang membaca Alquran!AyAo AuPatrol duaan, deuleu!Ay (KM, 2016: . AoAyPatroli dua orang!Ay Au Da Si Engko prikik ti heula, deuleu!Ay(KM, 2016:. AoAyKarena Si Engke kena peringatan lebih AyAo AuBatal, deuleu!Ay(KM, 2016: . AoAyBatal. lho!AyAo AuA Aya dalilna, deuleu! AAy (KM, 2016:73 ) AyAAda dalilnya!. AyAo AuBingung, deuleu, mikiran nu jalu!. Ay (KM, 2016: . AoAy Bingung, memikirkan yang jantan!. Ao AuHaram, deuleu, daging bayawak teh!Ay(KM, 2016: . AoAoHaram daging biawak itu!. AyAo AuA Teu benang dihakan, deuleu!Ay (KM, 2016: . AoAyTidak boleh dimakanAyAo AuHaram, deuleu, haram, haramAharam!. (KM, 2016: . AoAyHaram, haram, haram A haram! A. Ay AuHaram, deuleu, baumna ge!Ay (KM, 2016: AoAyHaram, baunya juga!AyAo Data . Ai. merupakan tuturan yang diucapkan seorang amil kepada tetangganya bernama Adma. Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang mandor kepada tetangganya bernama Nawawi. Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang tokoh bernama Ajum mengumandangkan azan di masjid. Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang tokoh bernama Amri kepada seorang tetangganya yang biasa menabuh beduk di masjid. Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang tokoh yang biasa menabuh beduk di masjid kepada tetangganya bernama Amri. Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang tokoh bernama Sanhuri kepada tetangganya bernama yOpyng. Data . merupakan tuturan yang diucapkan amil kepada seseorang tetangganya yang bernama Sanhuri. Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang amil kepada seorang kepala desa. Identitas dan Hubungan Sosial Pertemanan Hubungan sosial pertemanan merupakan hubungan seseorang dengan orang lain sebagai teman di suatu tempat. Penggunaan fatis deuleu oleh penutur dan mitra tutur dengan hubungan sosial pertemanan terdapat pada delapan data AuSing bener siah. Unang, boa salah, deuleu!Ay KM, 2016: . AoAyYang betul. Unang, kalau-kalau salah!Ay AoAySalat subuh!Ay AuMangke, deuleu poek!Ay (KM, 2016: . AoAyNanti dulu, gelap. Ay AuTah deuleu, janggot uing mimti renung,AyA(KM, 2016:. AuNih, janggutku mulai tumbuh,AyA. AuDeuleu etah, kumaha peupeujitanana? A. Ay (NDS, 2012: . Momo-temannya Penggunaan Fatis Deuleu Dalam Buku Fiksi Berbahasa Sunda (Wahy. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 AoAyWah, bagaimana bentuk ususya?. AyAo AyTakbir , deuleu, mapag Lebaran mah, lain susurakan cara keur lalajo mayn bal,AyA. (K, 2014: . Otyng-Si Ekom. AoAyTakbir, menyambut Lebaran itu, bukna bersorak-sorai sepertti waktu menonton sepak bola,AyA. AuDa uing mah teu puasa sotyh kabeurangn saur, deuleu!Ay (K, 2014: . Ekom-Oji! AuSaya tidak berpuasa karena kesiangan makan saur!AyAo AuSugan tyh alus, deuleuA! A. Ay (K, 2014: . Oji-MiAoan AoAySaya pikir bagusA. AyAo Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang tokoh lurah santri kepada seorang santri bernama Unang. Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang santri kepada santri lainnya. Data . merupakan tuturan yang diucapkan Sarip kepada temannya, yaitu Epeng. Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang tokoh bernama Momo kepada temannya. Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang tokoh bernama Oteng kepada temannya. Ekom. Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang tokoh bernama Ekom kepada temannya, yaitu Oji. Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang tokoh bernama Oji kepada temannya, yaitu MiAoan. Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang tokoh Ua kepada tetangganya bernama Edo. Identitas Hubungan Sosial Kekerabatan Penggunaan fatis deuleu oleh penutur dan mitra tutur dengan hubungan sosial kekerabatan terdapat pada enam data berikut. Au Deuleu ituh geus bayareun kolot deui bay! A. Ay (KK, 2014: . AoAyAduh, itu harus dibayar lagi orang taua! AAy AuNaon siah, iraha, deuleu?Ay (P, 2014: . AoAyApa kamu, kapan?AyAo AuyOta mah nulungan, deuleu!Ay (P, 2014: . Juju-adina AoAyItu menolong!AyAo 25 AuAUlah sakali-kali deui deuleu, isin! . (BT, 2018: . AuA. Jangan sekali-kali lagi, malu! A. AyAo AuA Geura engky bapa sia ngambek, deuleu!Ay (BP, 2018: . AoAyACoba anti bapak kamu marah!Ay AuIeuh ari nu gelut mah deuleu euweuh untungnaA. Ay (SBJTS, 2018: 13-. AoAyYang berhkelahi itu tidak ada untungnyaA. Ay Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang tokoh ibu kepada seorang anaknya yang bernama Oman. Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang kakak kepada Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang ibu bernama Ambu Warji kepada anaknya, yaitu Warji. Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang ibu kepada anaknya, yaitu Emed. Data . merupakan tuturan yang diucapkan seorang ayah kepada anaknya, yaitu Bohim. Dalam hubungan kekerabatan ini, tuturan penutur ditujukan kepada mitra tutur yang tidak setahap atau asimetris, yakni dari kelompok sosial yang lebih tinggi, yang harus dihormati, ke kelompok sosial yang lebih rendah, yang harus menghormati. Tingkat tutur yang digunakan meruapakan tingkat tutur kode akrab. Identitas dan Hubungan Sosial Kenalan Baru Penggunaan fatis deuleu oleh penutur dan mitra tutur dengan hubungan sosial kenalan baru terdapat pada satu data berikut. AuA. Tong ngahina deuleu da dewek ge boga duit mahA. Ay. (SK, 1991: . AoAyA. Jangan menghina, saya juga punya uang A. AyAo Data . merupakan tuturan yang diucapkan Si Kabayan kepada kernet kendaraan umum oplet. Identitas dan hubungan sosial penutur-mitra tutur dalam penggunaan fatis deuleu secara lebih jelas ditampilkan pada Tabel 1 berikut. Dari Tabel 1 dapat diamati bahwa hubungan sosial penuturmitra tutur yang memiliki empat jenis, yakni ketetanggaan, pertemanan, kekerabatan, dan kenalan baru, masing-masing memiliki jumlah data tuturan yang berbeda yang memuat fatis deuleu, yakni ketetanggaan menampilkan 13 data, pertemanan menampilkan 8 data, kekerabatan menampilkan 6 data, dan kenalan baru menampilkan 1 data. Dengan demikian, pada hubungan sosial ketetanggaan tuturan yang memuat fatis deuleu cenderung memiliki frekuensi data yang tinggi dibandingkan dengan jenis hubungan sosial lain. Hubungan sosial kenalan baru merupakan hubungan sosial yang memiliki data yang sangat terbatas. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Tabel 1 Identitas dan Hubungan Sosial Penutur-Mitra Tutur dalam Penggunaan Fatis Deuleu No. Data 1--3 4--5 7--8 10--11 15--16 23--24 Identitas Penutur-Mitra Tutur Leby-Adma Mandor-Nawawi Ajun -modin Amri-Merebot Merebot-Amri Sanhuri-yOpyng Leby - Sanhuri Leby -Lurah Lurah Santri-Unang Santri-Santri Sarip- yOpyng Momo-temannya Otyng-yOkom yOkom-Oji Oji-MiAoan Ma Ulis-Oman/ibu-anak Juju-adiknya Ambu Warji-Warji/ibu-anak Ibu Emed-Emed/ ibu-anak Bapak Bohim-Bohim/ ayah-anak Si Kabayan-kernet Makna Gramatikal Fatis Deuleu dalam Tuturan Bagian pembahasan ini mengamati makna gramatikal tuturan yang memuat fatis deuleu yang diucapkan penutur kepada mitra tutur dalam tingkat tutur kode akrab. Fatis deuleu sebagai fatis berbentuk kata dikaitkan Hubungan Sosial Penutur-Mitra Tutur Sifat Hubungan Sosial kenalan baru dengan bagian-bagian kalimat yang menyertainya memiliki makna gramatikal tertentu yang menunjukkan makna setiap ekspresi yang disampaikan penutur kepada mitra tuturnya. Makna gramatikal tuturan yang memuat fatis deuleu oleh penutur terhadap mitra tutur secara lebih jelas ditampilkan pada Tabel 2 berikut. Tabel 2 Rincian Makna Gramatikal Tuturan yang Memuat Fatis Deuleu dan Penjelasannya No. Data Tuturan Rincian Makna Gramatikal menegaskan kemarahan menegaskan kemarahan menegaskan sanggahan menegaskan penjelasan menegaskan sanggahan Penjelasan Tuturan yang Melibatkan Penutur dan Mitra Tutur Lebe tidak setuju Adma sudah merokok sebelum waktu buka puasa. Lebe marah karena Adma berdalil tidak benar. Lebe menegaskan kepada Adma merokok itu membatalkan puasa. Mandor menyanggah tuduhan seorang santri bahwa dia pun sama sedang mendalami sesuatu seperti mendalami Alquran. Lebe menjelaskan masih ada dua orang yang perlu diundang makan. Ajum menyanggah bahwa ia melakukan sesuatu kepada Engko karena Engko yang Penggunaan Fatis Deuleu Dalam Buku Fiksi Berbahasa Sunda (Wahy. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 menegaskan sanggahan menegaskan kemarahan menegaskan penjelasan menegaskan sanggahan mempertegas penjelasan menegaskan kemarahan menegaskan kemarahan mempertegas penjelasan mempertegas penjelasan meminta tidak terburuburu menegaskan penjelasan menegaskan kekagetan menegaskan perintah mengaskan alasan menegaskan ejekan menegaskan penyesalan menegaskan kemarahan menegaskan sanggahan menegaskan larangan menegaskan kemarahan menegaskan kemarahan menegaskan kemarahan Merebot menyanggah pernyataan yOyng bahwa merokok tidak membatalkan puasa. Merebot marah terhadap yOyng yang menganggap merokok tidak membatalkan Merebot kebingungan memikirkan kambing yang jantan. Sanhuri menyanggah pernyataan yOpyng bahwa menurutnya biyawak itu boleh dimakan. Sanhuri megaskan kepada yOpyng bahwa daging biyawak itu haram. Lebe marah terhadap terhadap Sanhuri karena dia telah memberikan masakan biyawak Lebe marah karena Lurah memuji-muji wanginya daging buaya yang dimasak Sanhuri. Mandor menjelaskan kepada Basir saat ia. membawa masakan untuk dimakan bersama. Seorang santri menegaskan bahwa mereka harus menunaikan salat subuh. Seorang santri menyuruh menyalakan lampu, namun yang disuruh meminta tidak terburuburu. Sarip menegaskan kepada santri yang lain bahwa ia pun memelihara janggut. Momo mengekspresikan kekagetaannya kepada teman-temannya ketika memikirkan keadaan usus badak dengan melihat Otym memerintahkan bertakbir Lebaran kepada yOkom. yOkom menegaskan alasannya bahwa ia tidak berpuasa karena terlambat makan sahur. Oji mengejek layang-layangan MiAoan yang Ma Ulis menyesalkan kelakuan anaknya. Oman, karena ia harus membayar utang anaknya kepada temannya. Juju marah kepada adiknya karena ia dituduh melakukan hal yang tidak sesononoh dengan seorang juragan lelaki bernama Se-A. Juju menyanggah pernyataan adiknya yang menganggap dirinya diperlakukan sesuatu oleh juragan Se-A. Ambu Warji melarang anaknya bermain-main di rumah lurah. Ibu Emed marah kepada anaknya. Emed, karena anaknya sudah mengambil dan memakan pisang milik ayahnya. Ayah Bohim memarahi anaknya karena anaknya sudah berkelahi. Si Kabayan marah kepada kernet oplet karena merasa dihina oleh kernet. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Dari 28 tuturan yang memuat fatis deuleu, jika dikelompokkan ada 11 macam makna gramatikal, yaitu . menegaskan ketidaksetujuan, . menegaskan kemarahan, . menegaskan sanggahan, . menegaskan penjelasan, . meminta tidak terburu-buru, . menegaskan kekagetan, . menegaskan perintah, . menegaskan alasan, . menegaskan ejekan, . menegaskan penyesalan, dan . menegaskan larangan. Dari 28 data yang memuat fatis deuleu, 9 data menegaskan kemarahan, 5 data tutuuran memuat makna gramatikal menegaskan sanggahan, dan 6 data tuturan memuat makna gramatikal menegaskan penjelasan. Sisanya delapan makna gramatikal lain masingmasing hanya terdapat pada 1 data. Dengan demikian, makna gramatikal menegaskan kemarahan cenderung lebih sering muncul. Untuk lebih memahami penjelasan ini ditampilkan Tabel 3 berikut. Tabel 3 Relasi Jenis Makna Gramatikal Tuturan dengan Jenis Hubungan Sosial Penutur-Mitra Tutur serta Persebarannya No. Data Makna Gramatikal meminta tidak terburu-buru Jumlah Hubungan Sosial Penutur-Mitra Tutur dan Nomor Data Ketetanggaan Pertemanan Kekerabatan Kenalan Jumlah Baru 1/. , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . Relasi Hubungan Sosial Penutur-Mitra Tutur dengan Makna Gramatikal Tuturan Hubungan sosial penutur-mitra tutur dengan makna gramatikal tuturan yang memuat fatis deuleu menunjukkan relasi tertentu. Artinya, ketika penutur menyampaikan tuturannya kepada mitra tutur dengan beragam makna gramatikal sesuai dengan gagasan yang disampaikan penutur terhadap mitra tutur berada dalam jenis hubungan sosial tertentu, namun semuanya terjadi dalam tingkat tutur kode akrab. Hubungan sosial tertentu antara penutur dan mitra tutur dapat menunjukkan keberagaman makna gramatikal tuturan tertentu. Dalam hubungan sosial penutur- kekerabatan, dan kenalan baru, jenis dan jumlah makna gramatikal beragam. Pada hubungan sosial ketetanggaan, tuturan yang memuat fatis deuleu memiliki empat macam makna gramatikal, yaitu menegaskan ketidaksetujuan, menegaskan kemarahan, menegaskan sanggahan, dan menegaskan penjelasan. Pada hubungan sosial pertemanan, tuturan memiliki enam makna gramatikal, yaitu menegaskan penjelasan, menegaskan kekagetan, meminta tidak terburuburu, menegaskan perintah, mengaskan alasan, dan menegaskan ejekan. Pada hubungan sosial Penggunaan Fatis Deuleu Dalam Buku Fiksi Berbahasa Sunda (Wahy. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 kekerabatan, tuturan memiliki dua makna gramatikal, yaitu menegaskan kemarahan dan menegaskan sanggahan. Pada hubungan sosial kenalan baru, tuturan hanya memiliki makna gramatikal menegaskan kemarahan. Makna gramatikal menegaskan kemarahan tersebar pada tiga hubungan sosial, yaitu ketetanggaan, pertemanan, dan kekerabatan. Makna gramatikal menegaskan sanggahan tersebar pada hubungan sosial ketetanggaan dan kekerabatan. Makna gramatikal menegaskan penjelasan tersebar pada hubungan sosial ketetanggaan dan kekerabatan. Delapan makna gramatikal lainnya masingmasing hanya terdapat pada satu hubungan sosial, yaitu ketetanggaan saja untuk makna pertemanan saja untuk makna gramatikal menegaskan kekagetan, meminta tidak terburuburu, menegaskan perintah, mengaskan alasan, dan menegaskan ejekan. kekerabatan saja untuk makna gramatikal menegaskan penyesalan dan menegaskan larangan. Untuk lebih memahami penjelasan di atas, dapat diamati Tabel 3 SIMPULAN Berdasarkan pengamatan atas sumber data yang ditentukan, yakni sembilan buku fiksi berbahasa Sunda sebagai sampel, dipilihlah 28 data kalimat yang di dalamnya memuat fatis Dari semua data tersebut penggunaan fatis deuleu ditemukan hanya terdapat dalam tingkat tutur kode akrab. tidak ditemukan dalam tingkat tutur kode hormat. Dengan demikian, penggunaan fatis deuleu hanya terdapat dalam tingkat tutur kode akrab. Dari temuan ini, ditelusuri hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur saat penutur menggunakan fatis berkomunikasi, yakni dalam percakapan atau Dari hasil penelusuran, ditemukan hubungan sosial penutur dan mitra tutur saat penutur menggunakan fatis deuleu terhadap mitra tutur. Ditemukan empat hubungan sosial terkait dengan hal di atas, yaitu . ketetanggaan, . kekerabatan, . pertemanan, dan . kenalan baru dengan jumlah data masing-masing berturut-turut 13, 8, 6, dan 1. Dengan demikian, ada kecenderungan penggunaan fatis deuleu oleh peuutur terhadap mitra tutur lebih sering terjadi dalam hubungan sosial ketetanggaan di antara penutur dan mitra tutur. Selanjutnya, jika diamati berdasarkan makna gramatikal atau makna kontekstual fatis deuleu dalam kalimat yang dituturkan penutur kepada mitra tutur ada sebelas makna gramatikal, yaitu . menegaskan ketidaksetujuan ada 1 data, . menegaskan kemarahan ada 9 data, . menegskan sanggahan ada 5 data, . menegaskan penjelasan ada 6 data, . menegaskan kekagetan ada 1 data, . meminta tidak terburu-buru ada 1 data, . menegaskan perintah ada 1 data, . menegaskan alasan ada 1 data, . menegaskan ejekan ada 1 data, . menegaskan penyesalam ada 1 data, dan . menegaskan larangan ada 1 data. Makna gramatikal menegaskan kemarahan terdapat dalam 10 data, yakni jumlah data yang paling Dengan demikian, penggunaan fatis deuleu cenderung lebih sering untuk menegaskan kemarahan dari penutur terhadap mitra tutur. DAFTAR PUSTAKA