Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 MENTERTAWAKAN KERESAHAN: ANALISIS WACANA KRITIS REPRESENTASI KEMISKINAN DALAM STAND-UP COMEDY KANG DIDI Vidia Dwi YantiA*. Sugeng HariyantoA. Farid Pribadi3 A,2,3 Program Studi Sosiologi. FISH-Unesa 20009@mhs. Abstract Abstrak This research analyzes the representation of poverty in Stand Up Comedy Kompas Tv presented by Kang Didi. Poverty, as a problem rooted in social structures, has long been a source of dissatisfaction and unrest in society. Everyone obviously doesn't want to be poor. The impacts of poverty, ranging from social injustice to negative stereotypes, have placed a psychological burden on affected individuals and communities. In an effort to voice concerns related to this inequality, they have attempted to fight for their rights through various protests, one of which is through the art of stand-up comedy. This research uses a qualitative method with van Dijk's critical discourse analysis as a data analysis technique involving three main dimensions, namely text, social cognition, and context. The data collection techniques used in this research are documentation and literature study. The findings from this research indicate that in the text dimension, he conveys his worries about being a poor person using a satirical language style to encourage viewers to be more sensitive to the issue of In the social cognition dimension. Kang Didi is seen as giving voice to the poor who are often underestimated. Meanwhile, in the social context dimension. Kang Didi uses his power to raise critical awareness in society through standup comedy which combines satirical messages in a comedic frame, providing deep insight into social reality and encouraging awareness of the problem of poverty. Penelitian ini menganalisis representasi kemiskinan dalam Stand Up Comedy Kompas Tv yang dibawakan oleh Kang Didi. Kemiskinan, sebagai sebuah masalah yang mengakar dalam struktur sosial, telah lama menjadi sumber ketidakpuasan dan keresahan dalam masyarakat. Semua orang jelas tidak ingin menjadi miskin. Dampak kemiskinan, mulai dari ketidakadilan sosial hingga stereotipe negatif, telah memberikan beban psikologis bagi individu dan komunitas yang terkena dampak. Sebagai upaya untuk menyuarakan keresahan-keresahan terkait dengan ketidaksetaraan ini, mereka telah berupaya untuk memperjuangkan hak-hak mereka melalui berbagai aksi protes salah satunya melalui seni pertunjukan stand-up comedy. Penelitian ini menggunakan motede kualitatif dengan analisis wacana kritis van Dijk sebagai teknik analisis data yang melibatkan tiga dimensi utama, yakni teks, kognisi sosial, dan konteks. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi dan studi literatur. Temuan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa dalam dimensi teks, ia menyampaikan keresahannya sebagai masyarakat miskin dengan gaya bahasa satire untuk mengajak pemirsa lebih peka terhadap isu kemiskinan. Di dimensi kognisi sosial. Kang Didi dianggap sebagai menyuarakan masyarakat miskin yang sering dipandang sebelah mata. Sementara di dimensi konteks sosial. Kang Didi memanfaatkan kekuasaannya untuk membangkitkan kesadaran kritis masyarakat melalui stand-up comedy yang menggabungkan pesan satir dalam bingkai komedi, memberikan wawasan mendalam tentang realitas sosial dan mendorong kesadaran terhadap masalah kemiskinan. Keywords: Poverty. Stand-Up comedy. Critical Discourse Analysis Pendahuluan Dewasa ini kemiskinan masih menjadi masalah serius bagi dunia. Kemiskinan merupakan patologi sosial yang dari masa ke masa menjadi warisan dunia jika dilihat dari aspek genesisnya (Mandjarreki. Kemiskinan merupakan permasalahan multidimensi sebab tidak hanya meliputi aspek ekonomi. Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 namun juga meliputi aspek sosial, budaya, serta partisipasi Masyarakat (Rahman et al. , 2. Menurut Statistik, penduduk miskin di Indonesia pada September 2022 sebesar 9,57 persen atau mencapai 26,36 juta orang (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2. Dampak kemiskinan, mulai dari ketidakadilan sosial hingga stereotipe negatif, telah memberikan beban psikologis bagi individu dan komunitas yang terkena dampak. Sebagai upaya untuk mengungkapkan kritik sosial terkait dengan ketidaksetaraan ini, mereka telah berupaya untuk memperjuangkan hak-hak mereka melalui berbagai aksi protes. Kritik sosial membantu menjaga agar sistem sosial beroperasi sesuai dengan nilai-nilai, norma, dan tujuan yang diinginkan oleh masyarakat. Metode yang digunakan dalam penyampaian kritik sosial adalah melalui saluran konvensional seperti diskusi kelompok, pertemuan komunitas, dan demonstrasi di jalan. Namun, dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi sebagai dampak dari proses globalisasi, serta semakin berkembangnya pemikiran kreatif dalam masyarakat, selama beberapa dekade terakhir terdapat alternatif lain untuk orang-orang miskin menyampaikan protes mereka. Mereka menggunakan pendekatan baru yaitu pendekatan humor sebagai alat kritik sosial. Stand-up comedy adalah alat kritik sosial dimana seorang individu tampil sendirian dan menyampaikan monolog yang membicarakan berbagai masalah, realitas, atau kekhawatiran Materi yang dibicarakan biasanya berdasarkan pengamatan atau pengalaman pribadi sang komika, dan kemudian disampaikan dengan elemen humor. Di Indonesia, awalnya, perkembangan komedi lebih terfokus pada grup. Salah satu grup yang sukses dan menjadi legenda adalah Srimulat. Mereka menjadi paket pertunjukan seni yang sering tampil di berbagai kota di Pulau Jawa dan kemudian bertransformasi menjadi pertunjukan humor (Dari Srimulat. Warkop. Hingga AyStand Up ComedyAy Dan Konten Humor Medsos - Kompas. Id, n. Di dekade 2010-an, stand-up comedy mulai populer, terutama setelah dua stasiun televisi swasta menyiarkan acara stand-up comedy. Kompas TV juga turut mempopulerkan stand-up comedy dengan mengadakan kompetisi Stand-up Comedy Indonesia. Dalam upaya untuk memperkenalkan dimensi baru dalam dunia hiburan komedi di Indonesia. Kompas TV memutuskan untuk menciptakan sebuah program kompetisi yang dinamakan Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) pada tahun 2011. Program ini menampilkan seni komedi melalui berbicara di depan penonton dengan maksud membuat mereka tertawa dan menghadirkan humor (Pratama & Utomo, 2. Gambar 1. Chanel Youtube Stand-Up Comedy Indonesia Sumber: w. Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 Sejak bergabung ke platform youtube pada 15 Januari 2016. Stand Up Kompas TV dengan program Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) telah mendapatkan tingkat popularitas yang semakin meningkat. Channel youtube Stand Up Kompas TV telah memiliki 4 juta lebih subcriber dengan total 2,137,777,462 penonton. Bahkan saat tulisan ini dibuat. SUCI Kompas TV telah menyelesaikan musim Ke-10. Stand-up comedy bukan sekadar bentuk hiburan biasa. Ia adalah sebuah ruang publik yang memungkinkan para komika untuk mengangkat isu-isu sosial yang sensitif dan mendalam dengan sentuhan humor. Dengan berbagai jenis humor mulai dari satire hingga sarkasme, para komika berusaha membangkitkan kesadaran penonton dan membuat mereka tertawa sambil merenungkan realitas yang terkait dengan kemiskinan. Beberapa penelitian sebelumnya telah menganalisis humor, terutama dalam konteks stand-up comedy yang berperan sebagai medium untuk menyampaikan kritik sosial (Saptaningsih & Sari, 2. (Ashari & Mahadian, 2. (Putri et al. , 2. (Burhanuddin, 2. (Leonardo & Junaidi, 2. (Pratama et al. , 2. (Siswanto & Febriana, 2. Penelitian lain juga telah menganalisis keterkaitan humor dengan politik (Amarasingam, 2. (Sihombing & Saputra, (Octastefani & Kusuma, 2. (Aryawangsa et al. , 2. Kajian Pustaka 1 Representasi sebagai Bentuk Ekspresi atas Realitas Sosial Tulisan Hall yang berjudul REPRESENTATION: Cultural Representations and Signifying Practices, mengemukakan bahwa AuRepresentation is the production of the meaning of the concepts in our minds through language. It is the link between concepts and language which enables us to refer to either the 'real' world of objects, people or events, or indeed to imaginary worlds of fictional objects, people and events. Ay . Representasi adalah produksi makna konsep dalam pikiran kita melalui bahasa. Hubungan antara konsep dan bahasalah yang memungkinkan kita merujuk pada dunia 'nyata' yang berisi objek, orang, atau peristiwa, atau bahkan dunia imajiner yang berisi objek, orang, dan peristiwa fiksi. Maka dapat dikatakan bahwa, representasi merupakan daya untuk menyajikan atau merefleksikan. Representasi berperan sebagai simbol . atas sesuatu objek ataupun individu, suatu simbol yang meski berbeda dengan realitas yang direpresentasikan, tetapi terkait dan berasal dari realitas tersebut. Oleh karena itu, representasi memiliki dasar pada realitas yang dijadikan sebagai Lebih lanjut . mengungkapkan AuHow does the concept of representation connect meaning and language to culture? A. Here we will be drawing a distinction between three different accounts or theories: the reflective, the intentional and the constructionist approaches to representationAy. Ia memilah representasi menjadi tiga bentuk yaitu . Representasi reflektif. Representasi intensional. Representasi konstruksionis. Representasi reflektif merujuk pada bahasa atau berbagai simbol yang mencerminkan makna. Representasi intensional menggambarkan bagaimana bahasa atau simbol mencerminkan niat personal pembicara. Sementara itu, representasi konstruksionis menjelaskan bagaimana makna dibangun kembali 'dalam' dan 'melalui' bahasa. Representasi adalah cara kita memahami sesuatu dan memahami lingkungan sekitar kita. (Yulin et al. , 2. Dalam konteks representasi menyangkut realitas sosial yang disajikan melalui materi Stand Up Comedy, penggambaran dilakukan melalui simbol yang memiliki makna . yang tersembunyi di dalamnya. Pada pertunjukan Stand Up comedy di televisi, objek yang ditampilkan Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 dikemas dalam bentuk guyonan, meskipun sebenarnya objek tersebut hanyalah konstruksi yang dibuat oleh seorang komika, di mana penonton dapat dengan mudah menerapkan berbagai proses persepsi sosial terhadap acara televisi tersebut. Representasi kritik sosial yang disajikan oleh para komika tidak menggambarkan realitas dengan apa adanya, melainkan dengan perspektif baru. 2 Stand Up Comedy sebagai media kritik sosial Stand-up comedy adalah salah satu bentuk komedi di mana seorang individu tampil sendirian dan menyampaikan monolog yang membicarakan berbagai masalah, realitas, dan kekhawatiran Materi yang dibicarakan biasanya berdasarkan pengamatan atau pengalaman pribadi sang komika, yang kemudian dianalisis, diramu sedemikaian rupa untuk selanjutnya disampaikan dengan elemen humor. Bukan hanya sekedar untuk menghibur penonton, materi yang dibawakan komika juga menyadarkan penonton akan realitas yang ada. Maka dari itu komika membutuhkan kreativitas, kecerdasan, dan keberanian dalam merangkai dan mengemas keresahan untuk dapat membuat penonton tertawa. Selain itu penonton juga harus memiliki kepekaan sosial agar dapat memahami makna yang disampaikan oleh komika. Itulah sebabnya mengapa Stand Up comedy dianggap sebagai seni komedi yang cerdas. Stand-up Comedy adalah jenis komedi yang sebetulnya lebih mengandalkan pemahaman teori (Papana, 2. , tetapi terdapat beberapa unsur internal yang mendukungnya (Prakasa, dalam (Putra et al. , 2. Berbagai teknik digunakan oleh para komika dalam rangka deliver materi ke penonton agar tercapainya tujuan untuk menghibur sekaligus menggugah kesadaran penonton terhadap realitas yang terjadi. Stand Up comedy di Indonesia menjadi media di mana banyak komika menciptakan materi yang menyampaikan kritik, terutama kritik yang lebih fokus pada keresahan-keresahan masyarakat terutama isu kemiskinan di Indonesia. Kritik yang disampaikan dengan sentuhan humor memiliki kemampuan yang unik untuk membuat sasaran kritik lebih menerima isu-isu yang mungkin sensitif atau kontroversial (Pauziah et al. , 2. Stand Up Comedy, dengan cara ini menjadi sebuah alat yang kuat untuk membuka dialog dan mengeksplorasi topik-topik yang seringkali dihindari atau dianggap tabu. Sejalan dengan Stand Up Comedy yang dilakukan oleh Panji Pragiwaksono, yang bertujuan menggugah kesadaran masyarakat untuk melakukan evaluasi diri dengan cara yang humoris, sambil tetap bisa menertawakan diri sendiri (Pragiwaksono, 2. Stand Up Comedy Indonesia yang disiarkan oleh Kompas TV adalah sebuah media yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi atau mengontrol dominasi sosial. Secara keseluruhan, peran yang dapat dimainkan oleh media massa dapat dianggap sebagai suatu kekuatan raksasa yang memiliki dampak besar dan signifikan. Berbagai analisis terkait kehidupan sosial, ekonomi, dan politik sering menempatkan media sebagai sebuah institusi informasi, bahkan dapat dianggap sebagai faktor paling krusial dalam mempengaruhi proses-proses perubahan sosial, budaya, dan politik. Metode Penelitian Bagian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan model analisis wacana kritis van Dijk. Kualitatif memungkinkan pengumpulan gambaran yang komprehensif terkait dengan representasi kemiskinan dalam tayangan Stand Up Comedy. Penelitian kualitatif menitikberatkan pada interpretasi makna dari substansi penelitian dan bersifat induktif (Moleong, 2. , sehingga dapat Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 memberikan pemahaman yang mendalam terhadap fenomena yang diamati. Dalam Analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis/CDA), yang dimaksud wacana bukan hanyalah studi kebahasaan semata seperti pada pengertian ilmu linguistik tradisional, namun bahasa dianalisis dihubungkan dengan konteks. Analisis wacana kritis menurut Fairclough dan wodak bahwa bahasa dalam tuturan ataupun tulisan digunakan sebagai bentuk dari praktik sosial (Eriyanto, 2. Unit analisis dalam penelitian ini mencakup teks, gambar, dan klip video yang diproduksi oleh komika. Penelitian ini dilakukan secara daring melalui platform YouTube, menggunakan konten dari channel Stand Up Kompas TV. Konten Komika yang dicermati adalah AuDidi: Kuli Bangunan - SUCI 7Ay Ia adalah Didi Sunardi alias Kang Didi dimana merupakan kepala keluarga yang bekerja sebagai kuli bangunan . ttps://w. com/watch?v=Q3sbEl7YRy8&list=PLXxI0PdQnBog3ATyuUhl_umWZ2sji cXEm&index=. Teknik pengumpulan data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah observasi nonpartisipatif, yang juga dikenal sebagai metode dokumentasi. Pilihan metode observasi nonpartisipatif diambil karena peneliti berperan sebagai pengamat dan tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan program acara yang menjadi fokus observasi. Pendekatan observasi ini digunakan untuk secara teliti mengamati konten program Stand Up Comedy Indonesia di Kompas TV, dengan maksud mendapatkan data berupa wacana-wacana yang timbul selama siaran berlangsung. Data yang berhasil terhimpun dalam penelitian ini menjadi landasan untuk eksplorasi makna yang terkandung di Peneliti memeriksa kembali teks naratif yang telah dianalisis, mengeksplorasi dimensi makna, serta memetakan hubungan dan aspek-aspek relevan (Singarimbun. , et al, 2. Dalam penelitian ini, pendekatan analisis wacana yang digunakan adalah model Teun A Van Dijk. Hasil dan Pembahasan Dalam kerangka pandangan van Dijk, teks tidak hanya dianggap sebagai produk akhir dari praktik diskursus tetapi juga melibatkan proses produksi yang dapat diobservasi, yang disebut sebagai proses kognisi sosial. Proses kognisi ini terdiri dari dua elemen utama. Pertama, terdapat teks yang bersifat mikro, menjadi representasi konkret dari topik permasalahan yang diangkat dalam suatu Sedangkan elemen kedua adalah struktur sosial, yang mencerminkan pola hubungan dan hierarki di dalam masyarakat. Dalam perspektif van Dijk, wacana memiliki tiga dimensi atau bangunan, yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Dimensi teks mencakup analisis terhadap elemen mikro dari wacana, seperti pemilihan kata, gaya bahasa, dan struktur kalimat. Dimensi kognisi sosial menyoroti peran proses kognisi dalam membentuk wacana, termasuk cara pemikiran kolektif atau individual memengaruhi produksi dan interpretasi teks. Sementara itu, dimensi konteks sosial mempertimbangkan faktor-faktor latar belakang yang memengaruhi produksi dan penerimaan wacana, seperti kebijakan, ideologi, dan struktur kekuasaan dalam masyarakat (Umar, 2. Van Dijk mengkategorikan struktur teks ke dalam tiga tingkatan, yakni: struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro. Struktur makro merujuk pada makna global atau umum suatu teks, yang dapat dikenali melalui penekanan pada topik atau tema dalam percakapan. Superstruktur membahas struktur wacana yang terkait dengan kerangka atau skema suatu teks, mencakup bagaimana bagian-bagian teks tersusun dalam suatu percakapan secara menyeluruh. Sementara itu, struktur mikro merujuk pada makna wacana yang teramati dari elemen kecil dalam suatu teks, seperti kata, kalimat, atau parafrase. Kang Didi: Komika Kuli Bangunan Didi Sunardi, atau yang akrab disapa Kang Didi, lahir pada 26 Juli 1982. Ia merupakan seorang pelawak tunggal dengan karakteristik unik dalam industri Stand-Up Comedy Indonesia. Keunikan Kang Didi terletak pada latar belakangnya sebagai seorang kepala rumah tangga dengan tiga orang anak dan berprofesi sebagai kuli bangunan. Kuli bangunan merupakan sebuah profesi yang erat kaitannya dengan strata sosial ekonomi bawah. Pekerjaan ini sering kali dipandang sebelah mata oleh Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 masyarakat karena dianggap rendah dan menjadi pilihan terakhir bagi mereka yang tidak memiliki pendidikan tinggi atau keterampilan khusus. Dalam pandangan banyak orang, buruh atau kuli bangunan dianggap sebagai profesi yang kurang prestisius, dilihat dari sisi kerja keras fisik dan citra yang kotor. Kuli sering dianggap orang yang kasar, namun Kang Didi mampu menampilkan citra yang berbeda dengan membawakan stand-up comedy-nya tanpa merendahkan. Ia membawakan dengan khas masyarakat Sunda yang terkenal dengan sifat lembut, optimis, dan sopan dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, namun terkadang suaranya akan meninggi saat mengekspresikan kekesalannya. Kang Didi mampu menunjukkan bahwa humor bisa ditemukan di berbagai lapisan masyarakat tanpa harus menghina atau merendahkan. Panggilan akrab "Kang Didi" sendiri juga mengandung nuansa kultural, mengacu pada asal-usulnya dari Cianjur. Jawa Barat. Penggunaan "Kang" dalam bahasa Sunda bukan hanya sebagai bentuk panggilan informal, tetapi juga menandakan penghormatan dan kedewasaan, menciptakan atmosfer formal yang mencerminkan senioritas di lingkungan tertentu. Keberanian Kang Didi dalam mengekspresikan realitas kehidupan seorang kuli bangunan yang dihadapkan pada tantangan ekonomi melalui medium komedi menjadi nilai tambah ketika ia mengikuti audisi Stand Up Comedy Indonesia season 7 (SUCI . yang diselenggarakan oleh Kompas TV di Jakarta. Meskipun banyak yang meragukan kemampuannya di panggung komedi. Didi berhasil mencuri perhatian para juri dan penonton, meraih golden ticket, dan menjadi finalis di SUCI 7. Partisipasinya di SUCI 7 tidak hanya membawanya ke posisi finalis 5 besar, tetapi juga menciptakan dampak positif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi dan kecerdasan individu dari lapisan ekonomi bawah. Kang Didi tidak hanya muncul sebagai seorang komika, melainkan sebagai figur yang mampu mengubah perspektif masyarakat terhadap realitas keseharian masyarakat Kang Didi secara konsisten menyampaikan keresahannya mengenai kehidupannya sebagai individu dengan keterbatasan ekonomi melalui seni komedi. Sekitar 90% dari materi komedinya bersumber dari pengalaman pribadinya sebagai orang miskin. Ia dapat merepresentasikan kemiskinan secara rinci melalui bit dan ekspresinya. Kemampuan Kang Didi dalam mengamati dan menyajikan pandangan dari sudut pandang orang miskin menjadi daya tarik utama materi komedinya. mengambil inspirasi dari pengalaman hidupnya sebagai masyarakat dengan kondisi miskin struktural, suatu kondisi kemiskinan yang sulit diubah. Ia mampu mengubah kekurangan menjadi kelebihan. Penampilan Kang Didi di SUCI 7 tidak hanya memenangkan hati penonton melalui tawa, tetapi juga memberikan pandangan kritis terhadap realitas kehidupan orang miskin. Kemiskinan dalam Stand Up Comedy Kang Didi Kemiskinan yang menjadi latar belakang kehidupan Kang Didi membuat materi-materi yang dibawakanya menyoroti perihal kehidupan orang miskin. Dalam tayangan AuDidi: Kuli Bangunan SUCI 7Ay dibuka dengan memperkenalkan diri. AuAssalamualaikum Wr. Wb. Perkenalkan tementemen, nama saya Didi. Saya ini sudah berkeluarga dan pekerjaan saya kuli bangunan. bener ya kata MCAy. Bila mencermati teks tersebut. Kang Didi memperkenalkan diri sebagai seseorang yang bekerja kuli bangunan. Menurut (Gandhi, 2. , etimologi istilah "kuli" merujuk pada bahasa Tamil yang berarti upah, dan dalam dimensi sosial yang lebih luas, seringkali dikaitkan dengan golongan pekerja yang menerima imbalan atas pekerjaannya. Dalam konteks sejarah, istilah "kuli" cenderung lebih sering diasosiasikan dengan pekerja yang melibatkan tugas-tugas fisik, terutama di sektor konstruksi. Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 Seiring berjalannya waktu, makna negatif dari konsep "kuli" semakin menonjol, menggambarkan pekerja yang dianggap kurang memiliki keterampilan tertentu yang dapat diperdagangkan dengan imbalan upah yang memadai. Awalnya, istilah ini juga mengacu pada budak yang diambil dari wilayah jajahan untuk bekerja di berbagai koloni. Ada konteks yang melatarbelakangi Kang Didi mempernalkan pekerjaanya yaitu agar audiens mampu memahami perspektif yang Kang Didi secara sadar dan dengan sengaja mengungkapkan kehidupanya sebagai kuli bangunan dan masyarakat miskin. "Keahlian saya ini bikin rumah, tapi saya sendiri gak punya rumah gitu loh. Iya, saya itu kayak dosen yang ngajar banyak orang, tapi anaknya buta huruf". menggambarkan realitas umum yang sering dihadapi oleh pekerja kuli bangunan. Pernyataan ini juga menyoroti kontrast yang mencolok antara hasil kerja yang dihasilkan oleh pekerja kuli bangunan dengan kondisi pribadi mereka. Dalam konteks teori alienasi Marx, hubungan antara hasil kerja dan pekerja dijelaskan sebagai hubungan objektivikasi. Alienasi terjadi ketika pekerja mengalihkan hidupnya ke dalam suatu objek, seperti dalam proses menghasilkan produk kapitalis. Dalam situasi ini, kehidupan pekerja tidak lagi menjadi miliknya, melainkan menjadi milik objek tersebut. Semakin besar produksinya, hidup pekerja justru semakin Alienasi dari hasil produksi tidak hanya berarti pekerja menjadi objek, tetapi hasil produksi tersebut juga menjadi sesuatu yang terpisah dari diri pekerja. Seorang pekerja menciptakan sesuatu yang menarik bagi orang kaya yang mampu membeli, namun hasil kerja tersebut hanya menjadi sumber penderitaan bagi kehidupan pekerja itu sendiri (Hendrawan, 2. Seperti halnya Kang Didi yang merupakan seorang kuli bangunan dapat membangun banyak rumah, namun tidak dapat membangun tempat tinggal untuk dirinya sendiri. Kang Didi juga menyampaikan keresahanya atas stigma negatif yang selama ini melekat pada masyarakat miskin. Ia merasakan bahwa AuJadi orang miskin jadi kuli bangunan saya merasa apa-apa tuh salah, pandangan orang tuh selalu jelek. Saya ngajak anak-anak saya ngajak anak-anak saya jalan ke mall tetangga bilang apa "huh paling cuma pingin naik eskalator" padahal saya pingin naik lift. Istri saya beli daging ayam ngomong bilang apa? "nekat juga tuh orang, besok pasti gak masak". Bahkan temen-temen, istri saya hamil yang ketiga sekarang, dicela juga. Iya "ngehamilin istri aja nih pinter giliran bayar utang susah". Jadi orang miskin ngehamilin istri aja harus bayar utang duluAy. Hal-hal sederhana yang dilakukan oleh masyarakat kelas menengah, jika dilakukan oleh masyarakat miskin dianggap hal yang melenceng, sekedar bermain ke Mall ataupun membeli daging ayam akan menimbulkan gunjinga oleh masyarakat sekitar. Bahkan masyarakat miskin yang memiliki banyak anak juga dipandang negatif oleh masyarakat. Dalam perspektif sosiologis, narasi tentang kemiskinan seringkali dihasilkan oleh kelompok dominan yang memiliki keterbatasan dalam berinteraksi secara langsung dengan realitas kemiskinan. Keterbatasan ini dapat berpotensi menyebabkan pemahaman yang kurang tepat terhadap kondisi kelompok miskin, seringkali menggambarkan mereka sebagai individu malas dan kurang peduli terhadap masa depan. Pandangan negatif semacam ini dapat menjadi hambatan bagi terciptanya inklusi sosial yang seharusnya diupayakan. Selain itu, dampak stigma negatif terhadap kelompok miskin juga dapat mengurangi rasa menghargai diri mereka sendiri, membatasi kesempatan hidup, dan mempersempit ruang bersosialisasi. Fenomena ini menciptakan apa yang disebut sebagai "Golem effect," di mana ekspektasi rendah yang diberikan oleh orang lain maupun diri sendiri dapat merugikan perkembangan individu tersebut. Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 Kesimpulan Berdasarkan rumusan masalah penelitian yang menelusuri bagaimana Kang Didi merepresentasikan kemiskinan dalam Stand Up Comedy Kompas Tv, maka dapat disimpulkan bahwa Pada dimensi teks. Kang Didi mengungkapkan berbagai keresahan yang dialaminya sebagai seorang masyarakat miskin sambil mengajak masyarakat agar lebih peka terhadap isu kemiskinan. Materi standup comedy yang disampaikannya, mulai dari awal hingga penutup, sering kali diungkapkan dengan menggunakan bahasa satire. Kang Didi berusaha menyampaikan pesan-pesan kritis mengenai kondisi masyarakat miskin melalui gaya bahasa satirnya. Sementara itu, pada dimensi kognisi sosial. Kang Didi digambarkan sebagai individu miskin yang memiliki kecerdasan dan membawa dirinya dengan sikap kalem. Dalam penampilannya. Kang Didi mendapatkan apresiasi dari netizen dan rekan seprofesinya karena dianggap sebagai suara yang mewakili pandangan masyarakat miskin yang seringkali diabaikan. Dimensi kognisi sosial ini menunjukkan bahwa materi stand-up comedy Kang Didi memberikan pemaknaan bahwa keresahan yang disampaikan merupakan media untuk menggambarkan ketidaksetaraan yang terjadi di Di sisi lain, pada dimensi konteks sosial. Kang Didi memiliki kekuasaan untuk menggugah kesadaran kritis masyarakat. Hal ini terlihat dari cara Kang Didi menyampaikan keresahannya melalui stand-up comedy dengan pesan-pesan satir yang dikemas dalam bingkai komedi. Materi stand-up comedy Kang Didi tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan pemahaman yang mendalam tentang realitas sosial, menciptakan konteks sosial yang memotivasi penonton untuk lebih sadar terhadap kemiskinan dalam masyarakat. Daftar Pustaka