ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 Potensi Penyuluh Pertanian dan Tantangan dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan di Kabupaten Kuantan Singingi The Potential Agriculture Extension Workers and Challenges in Realizing Food Security in Kuntan Singingi Regency Habibah Nurfaizah Azra*. Rosnita. Roza Yulida Jurusan Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Riau Kampus Bina Widya Km 12,5 Simpang Baru. Pekanbaru. Riau. Indonesia, 28293 *)Email korespondensi: habibah. nurfaizah1469@student. Diterima: 02-09-2024 Direvisi: 20-11-2024 Disetujui terbit: 29-11-2024 ABSTRACT Kuantan Singingi Regency is the fifth ranked district for the highest number of rice production in Riau Province, this can be a determining factor in achieving food security. Agricultural extension agents become agents of change that can make farmers better and increase their productivity in order to increase food security. Kuantan Singingi Regency consists of fifteen sub-districts and five of them have potential for lowland rice food crops, namely: Kuantan Mudik District. Hulu Kuantan District. Gunung Toar District. Kuantan Tengah District, and Sentajo Raya District. This study aims to . identify the characteristics of extension workers, . identify the potentials and challenges faced by extension workers in creating resilience. This study used a survey method, taking a census sample with a total sample of 29 people. The results showed that agricultural extension workers were dominated by men who were in their productive age with education levels up to tertiary education or undergraduate degrees and employment status dominated civil servants and pK. There are 13 . potential extension agents and 7 . challenges faced by extension agents in realizing food security in Kuantan Singingi Regency. Keywords: Agricultural Extension, potential, challenges ABSTRAK Kabupaten Kuantan Singingi merupakan kabupaten peringkat kelima jumlah produksi terbanyak tanaman padi di Provinsi Riau, hal ini dapat menjadi faktor penentu tercapainya ketahanan pangan. Penyuluh pertain menjadi agen perubahan yang dapat menjadikan petani lebih baik dan meningkatkan produktivitasnya guna meningkatkan ketahanan pangan. Kabupaten Kuantan Singingi terdiri dari lima belas kecamatan dan lima diantaranya memiliki potensi tanaman pangan padi sawah yaitu: Kecamatan Kuantan Mudik. Kecamatan Hulu Kuantan. Kecamatan Gunung Toar. Kecamatan Kuantan Tengah, dan Kecamatan Sentajo Raya. Penelitian ini bertujuan . mengidentifikasi karakteristik penyuluh, . mengidentifikasi potensi dan tantangan yang dihadapi oleh penyuluh dalam mewujudkan ketahanan. Penelitian ini menggunakan metode survei, pengambilan sampel secara sensus dengan jumlah sampel 29 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuluh pertanian didominasi laki-laki yang berada di umur produktif dengan tingkat pendidikan hingga perguruan tinggi atau sarjana dan status kepegawaian mendominasi PNS dan pK. Terdapat 13 . iga bela. potensi penyuluh dan 7 . tantangan yang dihadapi penyuluh dalam mewujudkan ketahanan pangan di Kabupaten Kuantan Singingi. Kata kunci: Penyuluh pertanian, potensi, tantangan Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 PENDAHULUAN Sektor pertanian merupakan sektor yang berperan penting dalam menunjang perekonomian di Indonesia. Kontribusi sektor pertanian di Indonesia terhadap PDB (Produk Domestik Brut. pada tahun 2021 yaitu Rp 1. 9 Miliar (BPS Indonesia, 2. Sektor pertanian ini kehutanan, peternakan, perikanan, dan Subsektor tanaman pangan menjadi salah satu subsektor pertanian Subsektor tanaman pangan di Provinsi Riau berkontribusi terhadap PDB (Produk Domestik Brut. pada tahun 2021 yaitu Rp 440,673,100,000. Komoditi tanaman pangan yang cukup potensial di Provinsi Riau adalah tanaman padi sawah (BPS Provinsi Riau, 2. Masyarakat Indonesia mengonsumsi beras sebagai makanan pokok dalam kehidupan seharihari. Oleh karena itu, kebutuhan beras akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk guna meningkatkan ketahanan pangan (Made Gama. Oktaviani dan Rifin, 2. Provinsi Riau memiliki luas panen komoditi padi seluas 55. 536,77 hektar dengan produktivitas 40,23 ton per hektar dan produksi sebesar 223. 399,47 ton per Terdapat tiga Kabupaten penghasil padi terbesar di Provinsi Riau salah satunya adalah Kabupaten Kuantan Singingi yang memiliki luas panen 8. 091,00 hektar dengan produktivitas 3,30 ton per hektar dan produksi sebesar 26. 707,40 ton per tahun. Kabupaten Kuantan Singingi terdiri dari lima belas kecamatan dan dua belas diantaranya memiliki potensi tanaman pangan padi sawah yaitu: Kecamatan Kuantan Mudik. Kecamatan Hulu Kuantan. Kecamatan Gunung Toar. Kecamatan Pucuk Rantau. Kecamatan Kuantan Tengah. Kecamatan Sentajo Raya. Kecamatan Benai. Kecamatan Kuantan Hilir. Kecamatan Pangean. Kecamatan Kuantan Hilir Sebrang. Kecamatan Cerenti dan Kecamatan Inuman. Potensi tanaman padi yang potensial ini tentu sangat berpengaruh dalam mewujudkan ketahanan pangan daerah, perlu adanya fasilitator bagi petani dalam merubah dan meningkatkan produktivitasnya dalam budidaya padi, salah satunya adalah penyuluh pertanian. Penyuluh pertanian sebagai agen perubahan yang membantu dan merubah perilaku para petani menjadi petani yang profesional dalam berusaha tani sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarganya. Penyuluh pertanian dalam melaksanakan fungsi dan perannya, perlu adanya peningkatan kompetensi penyuluh pertanian agar menjadi penyuluh profesional. Penyuluh profesional adalah seseorang yang memiliki kompetensi sesuai stdanar kompetensi kerja untuk menyelenggarakan kegiatan penyuluhan pertanian. Suatu pendidikan dapat mempengaruhi sikap, karakteristik dan pengetahuan petani sehingga dapat mengambil keputusan dalam berusahatani (Kabeakan, 2. Penyuluh pertanian di Kabupaten Kuantan Singingi terdiri dari lima belas kecamatan memiliki jumlah 117 penyuluh pertanian. Penyuluh pertanian dituntut untuk mampu memberdayakan petani dan memberikan informasi dalam keberlangsungan kegiatan pertanian yang dilakukan oleh petani guna mewujudkan ketahanan pangan. Ketahanan pangan merupakan salah satu faktor penentu dalam stabilitas suatu negara, baik di bidang ekonomi, keamanan, politik, dan sosial. Konsep ketahanan pangan tidak hanya dilihat melalui ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup, tetapi juga dilihat berdasarkan mutu dan gizi seimbang, aksesibilitas pangan serta kualitas dan keamanan Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 pangan (Fauzi. Kastaman dan Pujianto. Dalam rangka mengetahui tingkat ketahanan pangan suatu wilayah beserta faktor-faktor Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian mengembangkan sistem penilaian dalam bentuk Indeks Ketahanan Pangan (IKP) dengan terdapat sembilan indikator yang sangat berkaitan dengan tiga aspek ketahanan pangan. Oleh karena itu, peningkatan ketahanan pangan menjadi faktor penting dalam pembangunan membutuhkan keterlibatan dari penyuluh Potensi dan tantangan penyuluh pertanian dalam mewujudkan ketahanan karakteristik penyuluh, karakteristik petani, dan kompetensi penyuluh. Sebagai penyuluh, diharuskan memiliki informasi dan komunikasi yang sangat diperlukan oleh petani secara berkelanjutan, karena adanya keterkaitan potensi dan tantangan penyuluh pertanian dan petani terhadap peningkatan ketahanan pangan. Oleh karena itu, penulis mengangkat judul penelitian ini dengan harapan dapat mewujudkan dan meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Kuantan Singingi. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di lima Kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi yaitu Kecamatan Kecamatan Kuantan Mudik. Kecamatan Hulu Kuantan. Kecamatan Gunung Toar. Kecamatan Kuantan Tengah dan Kecamatan Sentajo Raya. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan atas pertimbangan karena lima kecamatan tersebut merupakan kecamatan yang potensial di Kabupaten Kuantan Singingi sebagai daerah yang berpotensi dalam pengembangan budidaya padi guna mewujudkan ketahanan pangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sensus dan metode survei. Pengambilan sampel penyuluh yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sensus, dengan jumlah sampel 29 HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi kompetensi berdasarkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku atau sikap yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai tenaga profesional yaitu penyuluh Penyuluh yang kompeten dapat meningkatkan minat belajar petani dan dalam meningkatkan pengetahuan serta keterampilan petani dapat mempengaruhi perilaku petani ke arah yang lebih positif sehingga dapat mengambil keputusan dalam berusahatani guna mewujudkan ketahanan pangan (Kabeakan, 2. Sedangkan permasalahan yang dapat menghambat penyuluh pertanian dalam pelaksanaan Karakteristik Penyuluh Responden penyuluh pertanian adalah penyuluh yang menjadi penyuluh yang melaksanakan penyuluhan pertanian di lima Kecamatan Kabupaten Kuantan Singingi. Karakteristik penyuluh pertanian di Kabupaten Kuantan Singingi meliputi jenis kelamin, umur, tingkat Pendidikan, pengalaman kerja, status kepegawaian, jumlah desa binaan jarak tempuh serta sarana dan prasarana penyuluh pertanian. karakteristik penyuluh dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 Tabel 1. Karakteristik Penyuluhan Pertanian di Kabupaten Kuantan Singingi Uraian Jumlah . Persentase (%) Jenis Kelamin Laki-Laki 58,62 Perempuan 41,38 Umur Produktif . -64 t. 100,00 Non Produktif (<15 th & >64 t. 0,00 Tingkat Pendidikan Rendah (SMK/ sederaja. 27,59 Sedang (D. 17,24 Tinggi (S1/ S. 55,17 Pengalaman Kerja Rendah . -10 tahu. 6,90 Sedang . -20 tahu. 93,10 Tinggi (>20 tahu. 0,00 Status Kepegawaian Rendah (Honor/ Lainny. 6,90 Sedang . K) 44,83 Tinggi (PNS) 48,28 Jumlah Desa Binaan Ideal . Des. 17,24 Tidak Ideal (>1 Des. 82,76 Jarak Tempuh Dekat (<10 K. 72,41 Sedang . -20 K. 27,59 Jauh (>20 K. 0,00 Sarana dan Prasarana Rendah (Tidak ad. 34,48 Sedang . -3 fasilita. 58,62 Tinggi (>3 fasilita. 6,90 Sumber: Data primer setelah diolah, 2023. Tabel 1 karakteristik penyuluh pertanian di Kecamatan Kuantan Mudik. Kecamatan Hulu Kuantan. Kecamatan Gunung Toar. Kecamatan Kuantan Tengah dan Kecamatan Sentajo Raya di atas menjelaskan bahwa sebanyak 17 orang penyuluh dengan persentase 58,62 persen berjenis kelamin laki-laki, dan 12 orang penyuluh dengan persentase 41,3 persen berjenis kelamin perempuan. Tabel 1 juga menjelaskan bahwa 29 orang penyuluh dengan persentase 100 persen berada pada usia produktif yaitu 1564 tahun. (Arum, 2. mengatakan bahwa usia produktif adalah 15-64 tahun. Hal ini menggambarkan bahwa penyuluh pertanian dengan umur produktif lebih mudah dalam mencari informasi dan menyerap informasi dari sumber lainnya. Hasil penelitian (Zulfikar. Amanah dan Asngari, 2. mengatakan bahwa umur berkaitan dengan daya serap dan melakukan usahatani. Selain itu, semakin cukup umur maka penyuluh akan bersemangat untuk menambah ilmu dan dilakukan akan lebih baik selain itu didukung dengan fisik yang lebih kuat, semangat yang lebih besar dan kreatif serta menguasai teknologi informasi. Tingkat Pendidikan responden didominasi memiliki tingkat pendidikan hingga Perguruan Tinggi baik D3. S1 dan S2 yaitu 21 orang penyuluh dengan persentase 72,41 persen. Hal ini berarti tingkat pendidikan di Kabupaten Kuantan Singingi tinggi. Tingkat pendidikan ini Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 terhadap daya pikir dan daya nalar (Widakdo. Holik dan Nur Iska, 2. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa tingkat pendidikan formal yang tergolong tinggi dapat membantu penyuluh dalam pengambilan keputusan dan mengadopsi teknologi dibidang pertanian menjadi lebih baik. Penelitian (Rahmawati. Baruwadi dan Bahua, 2. menjelaskan bahwa Pendidikan berpengaruh terhadap cara dan pola berpikir penyuluh pertanian, hal tersebut dikarenakan Pendidikan sudah dilaksanakan secara terencana untuk memperoleh perubahan dan peningkatan taraf hidup. Responden penyuluh pertanian menunjukkan bahwa sebanyak 27 orang penyuluh dengan persentase 93,10 persen memiliki pengalaman kerja sebagai penyuluh pertanian 11-20 tahun yang dapat dikategorikan tinggi. Hal tersebut sesuai dengan penelitian (Darmawan dan Mardikaningsih, 2. yang mengatakan bahwa pengalaman kerja berperan penting dalam membentuk kinerja seseorang, penyuluh sebagai pelaksana lapangan yang memiliki pengalaman berkualitas dan kematangan diri akan lebih baik dalam menyikapi pekerjaannya dibdaningkan yang belum atau masih rendahnya pengalaman kerja. Penelitian (Suprianto. Lamane Suprayitno, menjelaskan bahwa penyuluh pertanian yang memiliki masa kerja yang lama berarti lebih banyak berkomunikasi sehingga sudah sangat familiar dengan masalah yang dihadapi petani dan mudah menemukan solusinya. Responden penyuluh pertanian juga memiliki status kepegawaian yaitu PNS berjumlah 14 orang penyuluh dengan persentase 48,28 persen, yang memiliki status kepegawaian sebagai pK yaitu berjumlah 13 orang penyuluh dan sebagai honorer/ pegawai swasta berjumlah 2 orang penyuluh dengan persentase 6,90 Status kepegawaian sangat meningkatkan keterikatan kerja bagi penyuluh pertanian, keterikatan kerja (Putra. Darmawan Sinambela, 2. menyatakan bahwa keterikatan kerja maka akan mendapatkan meningkatkan produktivitas pekerjaannya. Desa binaan responden penyuluh dikategorikan tidak ideal dikarenakan 24 orang penyuluh dengan persentase 82,76 persen memiliki desa binaan lebih dari satu, dengan demikian beban kerja penyuluh akan bertambah. Jumlah desa binaan yang ideal menurut Permentan No 72 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian menyebutkan bahwa satu desa memiliki minimal satu penyuluh pertanian akan berhasil jika didukung oleh ketersediaan penyuluh pertanian yang (Nurhayati. Nurmayulis Salampessy, 2. Tabel 1 menunjukkan bahwa ketersediaan penyuluh pertanian masih sangat kurang atau tidak ideal, hal ini dipastikan rasio penyuluh dengan rasio desa binaan belum sebdaning. Kurangnya tenaga penyuluhan menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan penyuluhan Beban kerja yang tinggi karena desa binaan yang cukup banyak menyebabkan kinerja penyuluh menjadi kurang optimal (Pramono et al. , 2. Sejalan dengan penelitian (Rahmawati. Baruwadi dan Bahua, 2. menyatakan bahwa jumlah wilayah binaan akan memudahkan penyuluh pertanian dalam apabila dibutuhkan secara mendadak penyuluh tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke lokasi binaan sehingga tugas-tugas yang dilaksanakan menjadi lebih efektif dan berdampingan dengan kinerja yang baik. Jarak tempuh responden penyuluh pertanian didominasi oleh jarak tempuh yang dekat yaitu 21 orang penyuluh Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 dengan persentase 72,41 persen memiliki jarak tempuh yang dekat dari alamat tempat tinggalnya ke lokasi kerjanya yaitu kecil dari 10 kilometer. Hal tersebut menunjukkan bahwa jarak tempuh penyuluh ke lokasi wilayah kerja dapat ditempuh dengan jarak yang singkat dan tidak terlalu jauh. (Wibowo Sulistyorini, penelitiannya menyatakan bahwa jarak lokasi wilayah kerja jika terlalu jauh maka akan meningkatkan beban kerja Kompetensi Penyuluh Kompetensi penyuluh pertanian Kabupaten Kuantan Singingi merupakan kemampuan yang didasari oleh pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan pekerjaan. Penyuluh melaksanakan tugas dan fungsi sebagai diseminasi informasi harus memiliki informasi inovasi dari sumber informasi sehingga petani dapat meningkatkan kompetensinya melalui penghubung yaitu kompetensi penyuluh pertanian. Pengetahuan pada dasarnya merupakan hasil dari proses melihat, mendengar, merasakan dan berfikir yang menjadi dasar manusia dalam bersikap dan bertindak (Makhmudah. Tingkat pengetahuan penyuluh penentuan perilaku penyuluh, adanya pengetahuan yang baik tentang suatu perubahan perilaku pada diri individu, dimana pengetahuan tentang manfaat suatu hal akan menyebabkan seseorang bersikap positif terhadap hal tersebut. Keterampilan berasal dari kata terampil yang berarti cakap, mampu, dan Iverson keterampilan membutuhkan pelatihan dan kemampuan dasar yang dimiliki setiap orang dapat lebih membantu menghasikan sesuatu yang lebih bernilai dengan lebih cepat. Setiap seseorang yang menerima suatu pembaharuan (Kastaman et al. , 2. Sikap menghadapi objek, situasi atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap (Nurlaili dan Wahjuti, 2. Beberapa sikap kerja yang diperlukan penyuluh menurut Stdanar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Tahun 2013 ialah objektif dalam kerjasama, integritas diri, terbuka terhadap kritik, responsif terhadap (Ali. Tolinggi dan Saleh, 2. mengemukakan bahwa salah satu kinerja penyuluh ditentukan oleh sikap Potensi Potensi kompetensi penyuluh merupakan daya, kekuatan, atau kemampuan yang dimiliki penyuluh dalam bekerja. Semakin baiknya potensi penyuluh, maka akan semakin baik meningkatkan produktivitasnya guna Berikut tabel potensi kompetensi penyuluh pertanian di Kabupaten Kuantan Singingi yaitu Kecamatan Kuantan Mudik. Kecamatan Hulu Kuantan. Kecamatan Gunung Toar. Kecamatan Kuantan Tengah dan Kecamatan Sentajo Raya yang dapat diperhatikan pada Tabel 2 di bawah ini. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 No. Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 Tabel 2. Potensi Kompetensi Penyuluh di Kabupaten Kuantan Singingi Uraian Persentase (%) Parameter Pengetahuan Dalam Penentuan Jadwal Tanam Ou50% Dalam kegiatan budidaya tanaman 79,32 Ou50% Dalam Penguasaan Materi budidaya pada kegiatan 55,17 Ou50% Keterampilan Dalam Berkomunikasi dalam Ou50% kegiatan penyuluhan 79,32 Dalam Menggunakan Sumber Ou50% informasi saat penyuluhan 62,06 Dalam Menyusun programa Ou50% 51,73 Sikap Keyakinan penyuluh terhadap kemampuan petani menerapkan Ou50% inovasi atau Ide baru Respon penyuluh terhadap Inovasi Ou50% tanaman padi Kemampuan Penyuluh dalam menyelesaikan permasalahan Ou50% Inovasi yang dilakukan penyuluh Ou50% dalam budidaya tanaman padi Responsi penyuluh terhadap usulan program budidaya tanaman Ou50% padi oleh petani Kerjasama dalam melaksanakan 97,70 Ou50% budidaya tanaman padi Keyakinan penyuluh terhadap kemampuan petani menyerap 75,86 Ou50% Kriteria Potensi Potensi Potensi Potensi Potensi Potensi Potensi Potensi Potensi Potensi Potensi Potensi Potensi Sumber: Data primer setelah diolah, 2023. Tabel 2 memperlihatkan terdapat 13 . iga bela. potensi yang dimiliki penyuluh pertanian di Kabupaten Kuantan Singingi. Variabel keseluruhan menjadi potensi penyuluh pertanian dalam meningkatkan ketahanan Pengetahuan penyuluh terhadap penentuan jadwal tanam tanaman padi dikategorikan sebagai tantangan penyuluh, yaitu 100 persen penyuluh mengetahui penentuan jadwal tanam melalui 1-5 cara. Penyuluh yang mengetahui penentuan jadwal tanam dengan melihat kondisi iklim yaitu 79,31 persen, yang mengetahui penentuan jadwal tanam dengan melihat hari keagamaan yaitu 31,03 persen, yang mengetahui dengan melihat ketersediaan tenaga kerja yaitu 17,24 persen, yang mengetahui dengan melihat ketersediaan benih yaitu 3,45, dan yang mengetahui dengan melihat kondisi sarana irigasi yaitu 3,45 persen. Penyuluh rata-rata berpotensi mengetahui kegiatan budidaya tanaman padi yaitu dengan persentase 79,32 persen. Pengetahuan yang harus dikuasai penyuluh mengenai budidaya tanaman padi antara lain pemupukan. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, irigasi, panen dan pasca panen. Penyuluh pertanian rata-rata menjawab mengetahui 3 kegiatan budidaya tanaman padi yaitu pemupukan, pengendalian hama dan tanaman dan penyiangan. Penyuluh yang mengetahui pemupukan tanaman padi berjumlah 24 orang dengan 82,76 mengetahui pengendalian hama dan penyakit budidaya tanaman padi berjumlah 21 orang penyuluh dengan persentase 72,41 persen dan yang mengetahui penyiangan tanaman padi berjumlah 18 orang penyuluh dengan persentase 62,07 Materi yang penyuluh sampaikan dalam penyuluhan terkait budidaya padi pengendalian hama dan penyakit, panen dan pasca panen. Secara keseluruhan penyuluh berpotensi dalam mengetahui materi penyuluh dengan persentase 55,17 Rata-rata penyuluh mengetahui dan memberikan penyuluhan sebanyak 3 pemupukan dan materi pengendalian hama dan penyakit. Penyuluh mengetahui materi pemupukan berjumlah 26 orang penyuluh dengan persentase 89,65 persen, yang mengetahui penyiangan berjumlah 17 orang penyuluh dengan persentase 58,62, dan yang mengetahui materi pengendalian hama dan penyakit berjumlah 18 orang penyuluh dengan persentase 62,07 persen. Keterampilan penyuluh dalam berkomunikasi menyampaikan penyuluhan dikatakan potensi penyuluh, yaitu dengan persentase 79,32 persen. Secara keseluruhan penyuluh melakukan 3 komunikasi dalam penyampaian materi usahatani, komunikasi yang digunakan penyuluh yaitu komunikasi diskusi, ceramah dan komunikasi secara tulisan. Penyuluh yang menggunakan komunikasi diskusi berjumlah 28 orang dengan 96,55 berjumlah 17 orang dengan persentase 58,62 persen, dan yang menggunakan komunikasi secara tulisan berjumlah 14 orang dengan persentase 48,28 persen. Dengan kemampuan penyuluh dalam jumlah media yang digunakan dapat menjadikan penyuluh lebih baik dalam melakukan kegiatan penyuluhan. Keterampilan penyuluh dalam menggunakan sumber informasi dikatakan potensi yaitu dengan persentase 62,06 persen penyuluh terampil menggunakan sumber informasi dalam menyusun materi Secara keseluruhan rata-rata informasi yaitu sumber informasi dari pemerintah, penyuluh lain dan internet. Penyuluh yang mendapatkan informasi melalui pemerintah berjumlah 17 orang 58,62 penyuluh yang mendapatkan informasi melalui penyuluh lain berjumlah 14 orang dengan persentase 48,28 persen dan yang mendapatkan informasi melalui internet berjumlah 22 orang penyuluh dengan persentase 75,86 persen. Keterampilan penyuluh dalam menyusun program programa penyuluhan dikatakan potensi yaitu dengan persentase 51,73 persen penyuluh terampil. Secara keseluruhan penyuluh memperhatikan rata-rata 3 hal dalam menyusun program Penyuluh potensi SDA. Analisis situasi dan kondisi serta penetapan tujuan yang ingin dicapai. Penyuluh yang memperhatikan potensi SDA berjumlah 20 orang penyuluh dengan 68,97 memperhatikan analisis situasi dan kondisi berjumlah 17 orang dengan persentase 58,62 persen, dan yang memperhatikan penetapan tujuan yang ingin dicapai dalam penyuluhan berjumlah 23 orang penyuluh dengan persentase 79,31 persen. Tabel seluruh sikap dikategorikan potensi penyuluh, hal tersebut menjelaskan bahwa Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 penyuluh di Kabupaten Kuantan Singingi memiliki sikap untuk menerima hal-hal baru atau inovasi dan pengetahuan tentang pokoknya sehingga penyuluh dapat menyikapi dan menyelesaikan masalahmasalah melaksanakan tugasnya. Dongoran dalam (Banunaek. Suminah dan Karsidi, 2. menyatakan dalam penelitiannya bahwa sikap sering dikaitkan dengan perilaku atau perbuatan orang yang bersangkutan, dengan adanya sikap kerja yang baik, maka akan mendorong penyuluh untuk bekerja lebih baik. Pengelolaan yang baik dan tepat akan mengurangi tingkat kesalahan sehingga akan meningkatkan produktivitas kerja baik penyuluh pertanian dan petani (Savitri & Natariasari, 2. Keyakinan penyuluh terhadap kemampuan petani menerapkan inovasi atau Ide baru dikatakan sebagai potensi penyuluh yaitu dengan persentase 100 Penyuluh sangat yakin bahwa petani mampu menerapkan inovasi atau ide baru mengenai budidaya tanaman padi sehingga berhasil meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Penyuluh dengan memiliki kemampuan dalam mentransfer informasi dan inovasi dengan cara yang mudah dipahami oleh petani di setiap kegiatan penyuluhan pertanian akan dapat meningkatkan pengetahuan petani dengan inovasi (Saridewi, 2. Respon penyuluh terhadap Inovasi tanaman padi dikatakan potensi yaitu dengan persentase 100 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa penyuluh sangat tinggi dalam merespon petani dalam inovasi tanaman padi. Kemampuan Penyuluh permasalahan petani dikategorikan potensi dengan persentase 100 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa penyuluh mampu menyelesaikan permasalahan petani dalam budidaya tanaman padi. Inovasi yang dilakukan penyuluh dalam budidaya tanaman padi kepada petani dikatakan sebagai potensi penyuluh yaitu dengan persentase 100 persen. Penyuluh sudah sangat baik dalam memberikan dan mengajarkan inovasi terbaru kepada petani. Hal tersebut menunjukkan bahwa potensi yang dimiliki penyuluh dalam memberikan inovasi kepada petani dalam budidaya tanaman padi sangat menentukan pengetahuan petani dan peningkatan produktivitas ketahanan pangan. Responsi usulan program budidaya tanaman padi oleh petani dikatakan sebagai potensi penyuluh yaitu dengan persentase 100 Hal tersebut menunjukkan bahwa usaha penyuluh dalam mendapatkan inovasi budidaya tanaman padi sangat tinggi dan penyuluh merespon dan cepat tanggap dalam usulan program budidaya tanaman padi yang disampaikan oleh Untuk meningkatkan kemampuan dalam pengelolaan komunikasi inovasi melalui berbagai sumber informasi, memahami inovasi yang dibutuhkan petani, serta mengkomunikasikannya dengan bahasa yang mudah dipahami dan Petani memerlukan informasi baru yang relevan dengan usaha pertaniannya, dalam kegiatan penyuluhan model komunikasi dialogis lebih kondusif untuk meningkatkan kemdanirian petani (Yusneli & Tanjung. Kerjasama dalam melaksanakan budidaya tanaman padi dikatakan sebagai potensi yaitu dengan persentase 97,70 Penyuluh pertanian di Kabupaten Kuantan Singingi melakukan kerjasama dalam pelaksanaan program penyuluhan dengan bantuan dinas terkait. BPP, sesama penyuluh pertanian dan bersama Kerjasama penyuluh dilihat berdasarkan tiga kegiatan yaitu dalam pelaksanaan program penyuluhan Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 budidaya padi dengan persentase 100 persen, melakukan evaluasi terhadap denganpersentase 93,10 persen, dan dalam penyusunan usul pembiayaan program penyuluhan dengan 100 persen. Penyuluhan dalam peningkatan kualitas petani dapat dilakukan melalui kerjasama yang baik antara penyuluh, peningkatan kualitas petani dapat dilakukan melalui kerjasama yang baik antara penyuluh dengan kelompok tani (Mbeche et al. Keyakinan penyuluh terhadap kemampuan petani menyerap teknologi dikatakan sebagai potensi yaitu dengan persentase 75,86 persen. Penyuluh yakin bahwa petani mampu menyerap teknologi yang dibutuhkan budidaya tanaman padi. Petani sebagai pelaku utama dalam No. pengembangan inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas hasil yang Hal ini tentu saja bergantung terhadap kemampuan petani dalam menyerap inovasi teknologi secara cepat dan setuju. Tantangan Terdapat tantangan yang dihadapi penyuluh dalam menjalankan perannya mendampingi dan membina petani dalam budidaya tanaman padi. Berikut tabel tantangan kompetensi penyuluh pertanian di Kabupaten Kuantan Singingi yaitu Kecamatan Kuantan Mudik. Kecamatan Hulu Kuantan. Kecamatan Gunung Toar. Kecamatan Kuantan Tengah Kecamatan Sentajo Raya yang dapat diperhatikan pada Tabel 3 di bawah ini. Tabel 3. Tantangan Kompetensi Penyuluh di Kabupaten Kuantan Singingi Uraian Persentase (%) Parameter Kriteria Pengetahuan Subsistem agribisnis 48,28 <50% Tantangan Kelembagaan 27,59 <50% Tantangan Keterampilan Tantangan Metode penyuluhan yang digunakan saat kegiatan 48,28 <50% Tantangan Keterlibatan petani dalam <50% Tantangan menyusun program 41,38 Alat yang digunakan saat kegiatan 31,04 <50% Tantangan Faktor yang diperhatikan untuk membuat draft rencana kegiatan 20,69 <50% Tantangan dalam merencanakan kegiatan Media yang digunakan saat 11,34 <50% Tantangan Sumber: Data primer setelah diolah, 2023. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 Tabel 3 memperlihatkan 7 . tantangan yang dihadapi penyuluh. Penyuluh dikategorikan tantangan dalam mengetahui subsistem agribisnis, yaitu penyuluh yang mengetahui subsistem agribisnis masih sebesar 48,28 persen. Subsistem agribisnis terdiri dari 5 yaitu: . Input Produksi . arana dan prasaran. , . Usahatani/ budidaya, . Agroindustri, . Pemasaran Kelembagaan pendukung yang dibutuhkan dalam budidaya tanaman padi guna mendukung ketahanan pangan. Penyuluh rata-rata masih mengetahui 2 subsistem agribisnis yaitu subsistem input produksi/ sarana dan prasarana serta usahatani/ budidaya. Pengetahuan penyuluh terhadap kelembagaan agribisnis dapat dikatakan tantangan. Hal ini dikarenakan penyuluh yang mengetahui 3-5 kelembagaan hanya 27,59. Penyuluh masih mengetahui 2 kelembagaan agribisnis rata-rata yaitu kelembagaan jasa keuangan/ koperasi. Metode yang digunakan oleh penyuluh saat penyuluhan dapat berupa metode diskusi kelompok, ceramah, diskusi massal, demonstrasi, kunjungan lapang, maupun metode tidak langsung Keseluruhan penyuluh yang menggunakan kombinasi 3-5 metode hanya 48,28, 37,93 menggunakan metode diskusi kelompok, 62,07 persen metode ceramah, 13,80 persen metode demonstrasi, 3,45 persen metode tidak langsung yaitu media elektronik, dan 37,93 persen penyuluh yang menggunakan metode diskusi Kondisi yang ada ini menjadi tantangan, dimana penyuluh dituntut untuk menggunakan kombinasi berbagai metode karena masing-masing metode memiliki Kemampuan melibatkan petani dalam pelaksanaan penyuluhan budidaya tanaman padi dilihat dari jumlah petani yang terlibat, semakin banyak petani yang terlibat dalam tanaman padi tentunya adakan semakin Kemampuan penyuluh dalam melibatkan petani dikategorikan tantangan, hal ini dikarenakan penyuluh yang dapat melibatkan lebih dari 21 petani hanya 41,38 persen penyuluh. Jumlah peralatan atau sarana penyuluhan yang harus ada saat kegiatan penyuluhan berupa alat tulis . uku catatan, kertas,pen. , papan tulis dan spidol, alat komunikasi (HP), laptop, dan proyektor. Data Tabel 18 memperlihatkan 31,04 menggunakan 3-5 peralatan dalam pelaksanaan penyuluhan. Dari data tersebut umumnya 41,38 persen penyuluh hanya menggunakan alat tulis, 34,48 proyektor, 27,59 persen menggunakan alat komunikasi (HP). Tantangan yang dihadapi penyuluh terutama dalam menggunakan alat komunikasi (HP), laptop, dan Pada era digitalisasi saat ini menggunakan HP, laptop dan proyektor dalam mentransfer informasi sesuai dengan tuntutan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi. Dibutuhkan adanya pelatihan bagi penyuluh sehingga mampu mengatasi tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan keterampilan petani pada ketahanan pangan. Keterampilan penyuluh dalam melihat faktor yang diperhatikan untuk membuat draft rencana kegiatan dalam tergolong tantangan, hal ini dikarenakan penyuluh yang sudah memperhatikan faktor untuk membuat draft rencana kegiatan masih 20,69 persen. Rata-rata penyuluh masih mengetahui 2 faktor untuk membuat draft rencana kegiatan yaitu memperhatikan keadaan wilayah . uas Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 19 No. 2, 30 November 2024 lahan padi, jumlah produksi, produktivita. dan penetapan tujuan penyuluhan. Hal tersebut menunjukkan bahwa penyuluh permasalahan yang dihadapi petani dalam menyusun perencanaan kegiatan. Media yang digunakan oleh penyuluh saat penyuluhan adalah media cetak . oster dan brosu. , media audio . adio, percakapan melalui telepo. , media visual . lide PPT), media audio-visual . ideo, youtube dan sejenisny. dan media Keseluruhan penyuluh yang pelaksanaan penyuluhan hanya 11,34 Penyuluh memilikiketerbatasan dalam jumlah media penyuluhan, 62,07 persen penyuluh hanya menggunakan media audio visual dan 37,93 menggunakan media cetak. Masih terbatas penyuluh yang menggunakan media lainnya. Tantangan yang harus diatasi adalah dengan peningkatan menggunakan media audio visual dan media cetak dari berbagai sumber informasi yang ada. SIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari penelitian yang telah telah dilakukan adalah Karakteristik penyuluh didominasi oleh laki-laki yang berada pada umur produktif dengan pendidikan hingga perguruan tinggi yaitu sarjana dan berstatus kepegawaian sebagai PNS. Pengalaman kerja lebih dari sebelas tahun dengan luas wilayah kerja rata-rata seluas 57,65 hektar, jarak tempuh ke lokasi penyuluhan dekat dan memiliki jumlah desa binaan mendominasi lebih dari satu desa. Penyuluh pertanian di Kabupaten Kuantan Singingi memiliki potensi tertinggi terdiri penentuan jadwal tanam dan keyakinan penyuluh terhadap kemampuan petani menerapkan inovasi atau ide baru, respon penyuluh terhadap inovasi tanaman padi, kemampuan permasalahan petani, inovasi yang dilakukan penyuluh dalam budidaya tanaman padi, serta responsif penyuluh terhadap usulan program budidaya tanaman padi oleh petani. Penyuluh tantangan tantangan dalam keterampilan penyuluh dalam menggunakan metode saat pelaksanaan penyuluhan, dalam mengetahui lima subsistem agribisnis, dalam melibatkan petani dalam menyusun program penyuluhan, menggunakan alat saat pelaksanaan penyuluhan, mengetahui memperhatikan faktor untuk membuat draft menggunakan media saat penyuluhan. DAFTAR PUSTAKA