JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 157-172 Perempuan sebagai Objek dalam Tren Medusa Trauma di TikTok Serly Oktavia Nur Bela*. Fardiah Oktariani Lubis. Ema. Khairul Arief Rahman Universitas Singaperbangsa Karawang. Karawang. Indonesia serlyoktavianurbela@gmail. Abstract The AuMedusa TraumaAy phenomenon on TikTok represents a new form of female suffering presented as an audiovisual trend. The term is used metaphorically to describe psychological trauma caused by betrayal or abuse by someone close, with the symbol of Medusa from Greek mythology originally a beautiful woman who was cursed into a monster after experiencing sexual violence representing defensive strength born from emotional wounds. This study applies Sara MillsAo model of Critical Discourse Analysis (CDA) to examine the subject and object positions within the Medusa Trauma narrative and how gendered power relations are constructed in digital The analysis is conducted on two levels: micro . extual, audio, and visual representations in TikTok conten. and macro . deological and structural context of patriarchy in digital cultur. Previous studies have rarely addressed the representation of women in viral digital trends and the potential commodification of trauma, leaving a research gap that this study aims to fill. The findings reveal that this trend serves not only as a space for emotional expression but also reproduces patriarchal discourse that positions women as passive symbols of The contribution of this research lies in providing a critical understanding of gender construction in digital culture and its implications for the representation of womenAos trauma. Keywords: Medusa Trauma. TikTok. Sara Mills. Critical Discourse. Patriarchy Abstrak Fenomena AuMedusa TraumaAy di TikTok merupakan bentuk baru representasi penderitaan perempuan yang dikemas sebagai tren audio-visual. Istilah ini digunakan secara metaforis untuk menggambarkan trauma psikologis akibat pengkhianatan atau pelecehan oleh orang terdekat, dengan simbol Medusa dari mitologi Yunani yang awalnya perempuan cantik namun dikutuk menjadi monster setelah mengalami kekerasan seksual melambangkan kekuatan defensif dari luka batin. Penelitian ini menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Sara Mills untuk mengkaji posisi subjek dan objek dalam narasi Medusa Trauma, serta bagaimana relasi kuasa gender terbentuk dalam budaya digital. Analisis dilakukan pada dua tingkat, mikro . epresentasi teks, audio, dan visual dalam konten TikTo. dan makro . onteks ideologis dan struktural patriarki dalam budaya Penelitian sebelumnya masih minim membahas representasi perempuan dalam tren digital yang viral dan potensi komodifikasi trauma, sehingga studi ini mengisi kekosongan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi emosional, tetapi juga mereproduksi wacana patriarkal yang memosisikan perempuan sebagai simbol penderitaan pasif. Kontribusi penelitian ini terletak pada pemahaman kritis tentang konstruksi gender dalam budaya digital dan implikasinya terhadap representasi trauma Kata Kunci: Medusa Trauma. TikTok. Sara Mills. Wacana Kritis. Patriarki PENDAHULUAN Media sosial telah menjadi ruang baru bagi perempuan untuk mengekspresikan pengalaman personal dan emosional mereka. Salah satu fenomena yang menonjol dalam beberapa tahun terakhir adalah tren AuMedusa TraumaAy di TikTok, di mana ribuan video menampilkan ekspresi kesedihan, patah hati, pengkhianatan, dan luka emosional yang dikemas secara estetis dengan simbol tokoh mitologi Medusa (Firmansyah, 2. Pengguna, terutama perempuan, sering menggunakan tagar seperti #medusa, #trauma, dan #traumamedusa dalam unggahan mereka, memperkuat citra Medusa sebagai simbol penderitaan sekaligus kekuatan. Beberapa perempuan juga menempelkan tato Medusa pada Submitted: November 2025. Accepted: March 2026. Published: March 2026 ISSN: 2614-8498 . DOI: https://doi. org/10. 32509/pustakom. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 157-172 tubuh mereka sebagai simbol visual permanen atas trauma dan perjuangan hidup yang dialami (Meilani et al. , 2. Medusa bukanlah tokoh netral. Dalam mitologi Yunani, terutama versi Ovid dalam Metamorphoses Book IV. Medusa adalah seorang perempuan cantik yang diperkosa Poseidon di kuil Athena (Malik et al. , 2. Alih-alih dilindungi, ia dihukum oleh Athena yang mengubah rambutnya menjadi ular dan menjadikannya monster. Kisah ini mencerminkan pola sistemik dalam budaya patriarki: korban disalahkan dan ruang mereka untuk bersuara ditutup. Oleh karena itu, ketika perempuan hari ini memilih Medusa sebagai simbol ekspresi trauma, mereka tidak hanya mengangkat tokoh mitologis, tetapi juga menyuarakan luka kolektif atas kekerasan simbolik dan struktural yang diwariskan secara historis (Society et al. , 2. Penelitian sebelumnya masih terbatas dalam membahas representasi perempuan dalam tren digital viral dan potensi komodifikasi trauma. Belum ada kajian yang secara kritis mengeksplorasi bagaimana posisi perempuan dikonstruksikan sebagai subjek atau objek dalam wacana digital, serta bagaimana relasi kuasa gender terbentuk dan dipertahankan (Nur & Riyadi, 2. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dirancang untuk menjawab pertanyaan berikut: bagaimana posisi perempuan dikonstruksikan dalam tren Medusa Trauma di TikTok, dan bagaimana relasi kuasa gender terbentuk melalui representasi visual dan simbolik perempuan dalam tren ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konstruksi posisi subjek dan objek perempuan, menelaah peran simbol Medusa dalam representasi trauma, serta mengevaluasi dampak estetika dan narasi tren digital terhadap persepsi publik mengenai penderitaan perempuan. (Malik et al. , 2. Analisis dilakukan melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Sara Mills pada dua Tingkat mikro menelaah elemen visual, audio, dan teks dalam konten TikTok, sedangkan tingkat makro mengeksplorasi konteks sosial, ideologis, dan struktur patriarki yang memengaruhi konstruksi wacana digital (Yani et al. , 2. Pendekatan ini memungkinkan penelitian untuk menyoroti bagaimana trauma perempuan direpresentasikan, diposisikan, dan dikonsumsi dalam ranah media digital, serta memberikan pemahaman kritis mengenai relasi kuasa gender yang bekerja di balik tren populer tersebut (Widiyaningrum & Wahid, 2. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan paradigma kritis dan konstruktivis. Paradigma ini dipilih karena menempatkan realitas sosial sebagai konstruksi makna yang terbentuk melalui praktik sosial dan wacana budaya digital. Pendekatan kritis memungkinkan peneliti menelaah kekuatan struktur sosial seperti patriarki yang bekerja dalam representasi konten digital, sedangkan konstruktivis memungkinkan pemaknaan subjektif pengguna terhadap tren Medusa Trauma dipahami sebagai konstruksi makna sosial yang saling berinteraksi dalam ruang digital. Paradigma ini sesuai dengan kajian wacana kritis dalam penelitian media sosial, yang menekankan relasi kuasa dan konstruksi makna melalui teks dan konteks sosialnya. Sebagai contoh, penelitian sebelumnya yang menerapkan model Analisis Wacana Kritis Sara Mills pada konten TikTok berhasil menunjukkan representasi gender serta relasi kuasa dalam wacana digital melalui pengamatan konten secara kualitatif, observasi konten, dan dokumentasi video sebagai sumber data utama (Rappang, 2. Data penelitian ini adalah konten video bertema Medusa Trauma di platform TikTok yang dipilih secara purposif berdasarkan kriteria relevansi tren . agar terkait trauma Medusa, jumlah interaksi, dan keterwakilan representasi perempua. Teknik pengumpulan data terdiri dari observasi konten TikTok secara langsung dan dokumentasi video sebagai bukti data primer. Observasi dilakukan dengan menyimak isi, visual, audio, dan interaksi komentar pada video, kemudian mencatat elemen yang relevan dengan fokus kajian posisi perempuan dan relasi kuasa gender. Dokumentasi video dilakukan dengan mengunduh atau mencatat ID unggahan, waktu publikasi, fitur visual dan audio, serta teks komentar yang mendukung analisis. Teknik ini mirip dengan teknik yang dipakai dalam penelitian wacana kritis pada konten TikTok lainnya di mana peneliti merekam video serta komentar sebagai data empiris (Sam et al. , 2. Perempuan sebagai Objek dalam Tren Medusa Trauma di TikTok (Serly Oktavia Nur Bela. Fardiah Oktariani Lubis. Ema. Khairul Arief Rahma. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 157-172 Analisis data dilakukan secara sistematis melalui empat tahapan operasional. Pertama, identifikasi teks, yaitu pengumpulan unit data berupa kutipan representasi visual dan verbal yang menampilkan perempuan dalam konteks tren Medusa Trauma. Kedua, klasifikasi simbol dilakukan dengan mengelompokkan simbol-simbol visual dan linguistik . isalnya motif Medusa, ekspresi wajah, audio lata. serta menandai bagaimana simbol tersebut digunakan dalam narasi video. Ketiga, analisis posisi subjek-objek dilakukan dengan menelaah struktur wacana yang menentukan bagaimana perempuan diposisikan sebagai aktor aktif . atau pasif . dalam unggahan dan komentar. Tahapan ini merujuk langsung pada konsep inti dalam model Sara Mills yang memetakan posisi aktor dalam wacana digital. Keempat, pada tahap interpretasi ideologi, peneliti menafsirkan temuan sebelumnya dalam konteks ideologi patriarki dan relasi kuasa gender yang lebih luas, dengan mempertimbangkan bagaimana tren digital mereproduksi atau menantang struktur sosial tersebut. Prosedur analisis ini tidak hanya menekankan keteraturan langkah tetapi juga keterkaitan antara data empiris dan kerangka teoritis, sehingga hasil penelitian memberikan gambaran yang komprehensif tentang konstruksi wacana perempuan dalam tren Medusa Trauma di TikTok serta implikasi kekuasaan gender yang terkandung di dalamnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Tren AuMedusa TraumaAy yang muncul dan berkembang di TikTok menarik perhatian karena menghadirkan representasi emosional perempuan yang dikemas dalam bentuk narasi visual dan Melalui kombinasi filter gelap, caption puitis, dan lagu-lagu mengekspresikan luka batin mereka secara terbuka namun tetap dalam batas estetika yang dapat diterima oleh media sosial. Di tengah maraknya konten ini, muncul pertanyaan kritis: bagaimana posisi perempuan dikonstruksikan dalam wacana tersebut apakah sebagai subjek yang berdaya atau justru sebagai objek yang diamati dan dikasihani? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, analisis dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Sara Mills, yang memfokuskan pada bagaimana posisi subjek dan objek dibentuk oleh ideologi tertentu. Pendekatan ini digunakan untuk membaca bagaimana wacana trauma dikonstruksi melalui teks dan konteks, serta bagaimana relasi kuasa gender bekerja dalam representasi visual dan naratif tersebut. Analisis dilakukan pada dua tingkat, yaitu mikro . isual, audio, tek. dan makro . truktur sosial serta budaya patriarki dalam media digita. , dengan titik fokus pada posisi objek, yaitu perempuan dalam tren Medusa Trauma. Lahirnya Istilah AuMedusa TraumaAy di Ruang Digital Istilah AuMedusa TraumaAy tidak muncul dari ranah akademik atau medis, melainkan dari dinamika diskursif di media sosial, khususnya TikTok. Istilah ini digunakan untuk menyatukan pengalaman emosional yang sulit dilukiskan secara langsung terutama pengalaman dikhianati, disakiti secara psikologis, atau menjadi korban kekerasan dalam relasi dekat. Medusa, sebagai sosok yang dalam mitologi dipenuhi simbol luka dan kutukan, dijadikan representasi bagi trauma yang membatu, trauma yang diam namun terus menyiksa. Dalam ruang digital, istilah ini berkembang menjadi bahasa bersama yang dapat dimengerti lintas pengguna, terutama oleh perempuan muda. Dalam Metamorphoses karya Ovid. Medusa diceritakan sebagai perempuan cantik yang diperkosa oleh Neptune (Poseido. di kuil Minerva (Athen. Namun alih-alih mendapatkan perlindungan, ia justru dihukum oleh Athena, yang mengubah rambut indah Medusa menjadi ular: AuShe was once most beautiful, and the jealous aspiration of many suitors. ] Neptune, lord of the seas, violated her in the temple of Minerva. JupiterAos daughter turned away, and hid her chaste eyes behind her aegis. So that it might not go unpunished, she changed the GorgonAos hair to foul Ay (Ovid. Metamorphoses. Book IV: 753Ae. Narasi ini mencerminkan bagaimana sistem patriarki telah sejak lama mengalihkan beban kesalahan kepada korban. Alih-alih memberi ruang untuk penyembuhan, masyarakat justru merespons dengan stigmatisasi dan transformasi simbolik yang menjadikan korban sebagai ancaman. Perempuan sebagai Objek dalam Tren Medusa Trauma di TikTok (Serly Oktavia Nur Bela. Fardiah Oktariani Lubis. Ema. Khairul Arief Rahma. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 157-172 Oleh karena itu, kebangkitan Medusa dalam wacana digital bukan sekadar bentuk estetika, melainkan sebuah aktualisasi simbolik atas trauma yang tak terartikulasikan. Lebih lanjut. Ovid menggambarkan bagaimana tatapan Medusa mengubah siapa pun menjadi batu: AuIn the fields and along the paths, here and there, he saw the shapes of men and animals changed from their natures to hard stone by MedusaAos gaze. Ay (Ovid. Metamorphoses. Book IV: 753Ae. Kekuatan ini dapat dibaca ulang secara simbolis: perempuan yang mengalami trauma kekerasan seksual sering kali mengalami AupembekuanAy dalam diri tak mampu bersuara, tak mampu bergerak, dan terjebak dalam luka psikologis yang mengendap. Tatapan mematikan Medusa bukanlah bentuk ancaman, melainkan representasi dari trauma mendalam yang tidak direspons secara adil oleh sistem Ovid juga menarasikan bagaimana Perseus berhasil membunuh Medusa tanpa harus menatapnya secara langsung, melainkan dengan menggunakan pantulan dari perisainya: AuNevertheless he had himself looked at the dread form of Medusa reflected in a circular shield of polished bronze that he carried on his left arm. And while a deep sleep held the snakes and herself, he struck her head from her neck. Ay (Ovid. Metamorphoses,Book IV: 753Ae. Tindakan ini bukan hanya menegaskan dominasi laki-laki terhadap tubuh perempuan, tetapi juga menggambarkan bagaimana narasi tentang perempuan dan trauma mereka kerap dikendalikan oleh pihak lain yang tidak pernah benar-benar "menatap" atau memahami mereka secara langsung. Namun dari penderitaan Medusa, dua makhluk mitologis justru lahir: Pegasus dan Chrysaor. AuAnd the swift winged horse Pegasus and his brother the warrior Chrysaor, were born from their motherAos blood. Ay (Ovid. Metamorphoses. Book IV: 753Ae. Simbol ini membuka ruang tafsir baru: bahwa dari luka terdalam, bisa lahir kekuatan baru. Dalam konteks digital. AuMedusa TraumaAy menjadi bentuk narasi kolektif di mana perempuan menyatukan luka-luka mereka menjadi kekuatan simbolik, membangun komunitas yang saling menguatkan, dan menegaskan eksistensi atas pengalaman yang selama ini dibungkam. Oleh karena itu, istilah AuMedusa TraumaAy merupakan contoh bagaimana mitos klasik mengalami resemantisasi dalam budaya digital. Ia bertransformasi dari dongeng tentang monster menjadi narasi perlawanan terhadap sistem yang membungkam korban. Medusa kini tidak lagi sekadar mitos, melainkan metafora bagi trauma yang disuarakan, dibagikan, dan dipulihkan bersama. Makna Simbolik Medusa dalam Konteks Kekerasan terhadap Perempuan Peralihan makna Medusa dari tokoh mitologi menjadi simbol trauma perempuan tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses pemaknaan ulang yang dipengaruhi oleh pengalaman kolektif dan narasi budaya. Dalam mitologi Yunani. Medusa bukan hanya digambarkan sebagai monster berambut ular yang menakutkan, tetapi juga sebagai perempuan yang mengalami kekerasan seksual oleh dewa dan kemudian dikutuk oleh dewi lainnya. Narasi ini mencerminkan struktur sosial yang menyalahkan korban dan menjadikan penderitaan perempuan sebagai konsekuensi yang harus ditanggung secara pribadi. Dalam konteks kontemporer, terutama di media sosial seperti TikTok. Medusa mengalami resemantisasi menjadi simbol perempuan yang terluka secara emosional akibat kekerasan, pengkhianatan, atau relasi yang tidak setara. Simbol ini digunakan sebagai medium untuk mengekspresikan trauma secara estetis namun tetap politis. Kemunculan kepala ular atau tatapan kosong Medusa dalam berbagai konten TikTok menjadi penanda visual dari rasa sakit yang tidak terucapkan secara langsung. Penggunaan simbol Medusa dalam tren AuMedusa TraumaAy menunjukkan upaya perempuan untuk mengartikulasikan luka batin yang selama ini dibungkam. Namun pada saat yang sama, representasi ini juga memperlihatkan bagaimana media digital lebih menerima trauma dalam bentuk simbolik dan estetis ketimbang narasi eksplisit tentang kekerasan. Dalam kerangka ideologi patriarki, representasi ini dapat dibaca sebagai bentuk kompromi perempuan terhadap batasan-batasan ruang publik digital di mana mereka bisa bersuara, tetapi tetap dalam bentuk yang AunyamanAy untuk ditonton. Simbol Medusa dalam Ungkapan Trauma Korban di TikTok Kemunculan simbol Medusa dalam konten-konten TikTok bertema trauma tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh sebagai respons kolektif dari para perempuan yang selama ini merasa terbungkam dalam mengungkap pengalaman Perempuan sebagai Objek dalam Tren Medusa Trauma di TikTok (Serly Oktavia Nur Bela. Fardiah Oktariani Lubis. Ema. Khairul Arief Rahma. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 157-172 kekerasan yang mereka alami. Tokoh Medusa dari mitologi Yunani yang awalnya merupakan seorang perempuan cantik yang mengalami kekerasan seksual oleh Poseidon dan kemudian dikutuk menjadi makhluk menyeramkan mengalami pergeseran makna dalam budaya digital. Dari sosok monster, ia diresemantisasi menjadi simbol luka yang defensif, bahkan perlawanan diam terhadap kekerasan yang Di TikTok, simbol Medusa dipakai oleh perempuan sebagai metafora visual untuk mewakili trauma yang selama ini tak terucapkan. Dalam berbagai konten, mereka menyematkan tagar seperti #medusa, #trauma, dan #traumamedusa sambil menampilkan narasi personal yang menggambarkan rasa sakit, pengkhianatan, dan kehilangan. Simbol ini hadir dalam bentuk visualisasi artistik, seperti filter gelap, ekspresi wajah terluka, atau efek slow motion yang memperkuat nuansa emosional dari cerita yang disampaikan. Medusa bukan lagi sekadar tokoh mitologi, melainkan wajah baru dari trauma kolektif perempuan di era digital. Simbol Medusa menjadi wadah bagi perempuan untuk menunjukkan bahwa luka yang mereka alami tidak hanya bersifat personal, melainkan juga politis dan struktural. Dalam konteks ini, penggunaan Medusa sebagai metafora di TikTok menandai munculnya bentuk baru dari artikulasi trauma, yang walau terselubung, tetap memiliki kekuatan representatif yang besar dalam mengganggu tatanan wacana dominan yang selama ini menormalisasi kekerasan terhadap perempuan. Strategi Pemilihan Konten dan Fokus Analisis Dalam penelitian ini, analisis difokuskan pada konten TikTok bertema AuMedusa TraumaAy yang merepresentasikan pengalaman traumatis perempuan melalui pendekatan simbolik dan estetis. Pemilihan data dilakukan secara purposif, berdasarkan keterkaitan substansi narasi dengan tujuan penelitian, yakni mengkaji bagaimana posisi objek perempuan dikonstruksikan dalam representasi digital menggunakan pendekatan Analisis Wacana Sara Mills. Rentang waktu yang ditetapkan adalah 20 Januari hingga 9 Juli 2024, yakni periode ketika tren AuMedusa TraumaAy menunjukkan aktivitas paling intensif dan mendapatkan resonansi luas di kalangan pengguna TikTok. Dalam rentang ini, berbagai unggahan yang menggunakan simbol Medusa disertai narasi trauma tersebar secara masif dan mencapai popularitas tinggi, ditandai dengan tingginya tingkat keterlibatan . Dari ratusan konten bertagar #trauma, #medusa, dan #traumamedusa, telah dipilih lima video yang menunjukkan engagement tertinggi, ditinjau dari jumlah suka . , komentar, simpan . , dan bagikan . Kelima video ini tidak hanya menonjol secara statistik, tetapi juga secara substansial menghadirkan narasi visual dan simbolik yang kuat, menampilkan representasi perempuan sebagai objek penderitaan yang emosional, diam, namun sekaligus sarat makna. Keberadaan simbol Medusa dalam setiap konten tersebut menjadi elemen konsisten yang memperkuat keterkaitannya dengan tema trauma dan kekerasan seksual. Kelima video terpilih dianalisis menggunakan metode Analisis Wacana Kritis (AWK) model Sara Mills, yang berfokus pada pemosisian subjek dan objek dalam struktur wacana. Dalam konteks ini, penekanan utama diberikan pada bagaimana objek . erempuan korba. direpresentasikan dalam ruang digital melalui simbol-simbol, bahasa, dan visualisasi tertentu yang sarat makna ideologis. Analisis dilakukan pada dua tingkat utama: mikro, yaitu analisis elemen visual, audio, dan teks dalam video, serta makro, yakni penelusuran ideologi dan relasi kuasa yang membentuk wacana dominan di balik konten tersebut. Posisi Objek Perempuan dalam Pendekatan Sara Mills Dalam pendekatan Analisis Wacana Kritis model Sara Mills, posisi objek dalam teks merupakan hasil konstruksi ideologis yang tidak pernah bebas Objek bukan sekadar elemen pasif yang hadir dalam narasi, melainkan representasi yang dibentuk oleh struktur sosial dan relasi kuasa yang melingkupinya. Pendekatan ini digunakan untuk membaca bagaimana perempuan, dalam konteks tren AuMedusa TraumaAy di TikTok, dikonstruksikan sebagai entitas yang diam dan terluka terutama dalam representasi visual dan simbolik. Perempuan dalam konten TikTok bertema AuMedusa TraumaAy ditampilkan sebagai objek penderitaan melalui kode visual yang kuat: raut wajah hampa, pencahayaan suram, musik melankolis, dan narasi diam yang menyiratkan trauma. Mereka tidak berbicara secara langsung, tetapi dibingkai Perempuan sebagai Objek dalam Tren Medusa Trauma di TikTok (Serly Oktavia Nur Bela. Fardiah Oktariani Lubis. Ema. Khairul Arief Rahma. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 157-172 untuk dirasakan oleh audiens. Pendekatan Sara Mills memungkinkan kita melihat bagaimana representasi semacam ini bukanlah pilihan artistik semata, melainkan cerminan dari struktur wacana yang dominan di mana perempuan seringkali tidak diberi ruang untuk menjadi agen atas pengalaman traumatisnya sendiri. Pendekatan ini juga menunjukkan bahwa objek perempuan dalam wacana digital tidak netral. Perempuan menjadi simbol visual dari luka, tetapi tanpa kendali atas narasi yang menyertainya. Estetisasi penderitaan melalui simbol Medusa menjadi bentuk komodifikasi trauma, di mana pengalaman kekerasan seksual direduksi menjadi konten emosional yang dikonsumsi secara massal. Dalam kerangka ini, posisi objek bukan hanya pasif, melainkan juga dibatasi dalam ruang representasi yang dikuasai oleh ideologi patriarkal. Dengan demikian, pendekatan Sara Mills membantu mengungkap bagaimana objek perempuan dalam tren ini tidak memiliki otoritas penuh atas pengalaman yang direpresentasikannya. Mereka tetap menjadi figur yang ditampilkan dan dikasihani, namun tidak memiliki ruang untuk mengartikulasikan trauma sebagai bentuk perlawanan atau kesadaran struktural. Inilah yang menjadikan posisi objek perempuan dalam tren AuMedusa TraumaAy sebagai salah satu bentuk pembungkaman simbolik dalam wacana digital kontemporer. Analisis Mikro: Representasi Teks dan Visual dalam Konten TikTok Bertema Medusa Trauma Pendekatan mikro dalam model analisis Sara Mills menekankan pada pembacaan detail terhadap unsur visual, audio, dan teks dalam wacana, termasuk bagaimana objek perempuan dikonstruksikan di dalamnya. Lima video TikTok yang dianalisis dipilih berdasarkan tingkat keterlibatan pengguna . ikes, komentar, simpan, dan bagika. , serta konsistensi dalam penggunaan tagar #medusa, #trauma, dan #traumamedusa. Tautan video masing-masing dapat diakses melalui nomor berikut: 1(@luka, 2. , 2(@mell, 2. , 3(@babymo??,2. , 4(@snvgel, 2. ,dan 5(@c. doug2001, 2. Analisis mikro ini berupaya membongkar bagaimana narasi trauma dimaknai dan dibingkai dalam elemen- elemen simbolik serta naratif di tiap konten. Konten 1: AuMedusa. Kenapa Harus Aku?Ay Gambar 1 Konten AuMedusa. Kenapa Harus Aku?Ay. Diakses 1 Juli 2025, pukul 20. 00 WIB Tanggal unggah: 12 Januari 2024 Konten pertama. AuMedusa. Kenapa Harus Aku?Ay, menampilkan wajah Medusa monokrom dengan tatapan kosong dan teks retoris Aumedusa, kenapaa harus aku?Ay yang sarat beban emosional (Gambar 1, @luka, 2024. diakses 1 Juli 2025, pukul 20. 00 WIB. tanggal unggah 12 Januari 2. Dalam konten ini, perempuan diposisikan sebagai objek pasif, di mana trauma mereka dikemas agar terlihat menyentuh, namun tidak memicu perubahan struktural. Visual, teks, dan audio membentuk Perempuan sebagai Objek dalam Tren Medusa Trauma di TikTok (Serly Oktavia Nur Bela. Fardiah Oktariani Lubis. Ema. Khairul Arief Rahma. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 157-172 narasi emosional yang dikonsumsi publik tanpa memberi perempuan ruang untuk mengartikulasikan pengalaman secara aktif. Video ini menampilkan ilustrasi wajah Medusa dengan rambut ular dan tatapan kosong khas dalam mitologi Yunani. Visual bergaya monokrom ini memperkuat kesan dingin, kelam, dan Tepat di bawah gambar, muncul teks besar berwarna merah mencolok yang berbunyi: Aumedusa, kenapaa harus aku?Ay sebuah pertanyaan retoris yang sarat dengan beban emosional dan Tren AuMedusa TraumaAy di TikTok menampilkan representasi perempuan yang mengalami trauma emosional, pengkhianatan, atau kekerasan simbolik, dikemas secara visual dan audio. Analisis dilakukan pada lima video yang memiliki keterlibatan . tinggi, menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Sara Mills pada tingkat mikro dan makro. Analisis mikro menyoroti elemen visual, audio, dan teks. analisis makro menelaah konteks ideologis dan struktur patriarki dalam budaya digital. Konten Konten AuMedusa. Kenapa Harus Aku?Ay Konten 2: AuWajah Luka MedusaAy Konten 3: Medusa Lagu AuLove the Way You LieAy Konten 4: Video Konten 5: Medusa Tabel 1. Ringkasan Analisis Mikro Posisi Makna Ideologis Perempuan Wajah Medusa Objek pasif. Trauma diposisikan sebagai tontonan tatapan diam publik diberi ruang empati kosong, teks retoris tanpa perubahan struktural Ilustrasi ekspresi datar. Objek pasif Trauma perempuan direpresentasikan garis air mata, audio secara estetis, menekankan penderitaan Dollhouse pribadi, bukan struktural Wajah Medusa hitam- Objek pasif Representasi putih, simbol bulan sabit, kekuatan perempuan tetap dibingkai oleh kutipan lirik narasi eksternal, suara korban tidak Perempuan muda Objek pasif Trauma seksual divisualisasikan, namun tidak membuka ruang advokasi. memperkuat posisi pasif Tato wajah Medusa di Objek Tato menjadi bentuk resistensi dan lengan, ekspresi sedih, aktif/terbatas reclaiming tubuh. simbol trauma dipakai audio AuLabourAy sebagai perlawanan estetis Representasi Tato Analisis menunjukkan bahwa sebagian besar konten menampilkan perempuan sebagai objek penderitaan yang estetik, dikonsumsi publik secara visual dan emosional, dan jarang memberikan ruang bagi perempuan untuk menjadi agen perubahan. Konten seperti tato Medusa menunjukkan adanya pemosisian perempuan yang lebih kompleks, di mana simbol trauma digunakan sebagai klaim terhadap tubuh sendiri dan bentuk perlawanan terhadap norma patriarki. Perbandingan dengan Penelitian Terdahulu Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Hidayati . mengenai commodifying sadness, yang menunjukkan bahwa ekspresi emosi perempuan di media sosial sering dijadikan konten yang dapat dikonsumsi, dibagikan, dan dimonetisasi. Studi lain dalam ranah digital feminism menekankan bagaimana platform digital dapat memperkuat relasi kuasa gender melalui representasi visual yang tampak netral namun secara ideologis menempatkan perempuan dalam posisi subordinat (Nurulaini et al. , 2. Penelitian ini juga mendukung temuan Ramadhani & Adiprabowo . yang menekankan bahwa representasi trauma perempuan dalam media digital sering kali estetis, viral, dan dikonsumsi tanpa menuntut perubahan struktural. Perempuan sebagai Objek dalam Tren Medusa Trauma di TikTok (Serly Oktavia Nur Bela. Fardiah Oktariani Lubis. Ema. Khairul Arief Rahma. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 157-172 Dengan demikian, tren Medusa Trauma di TikTok bukan hanya ruang ekspresi emosional, tetapi juga mereproduksi wacana patriarkal yang menempatkan perempuan sebagai simbol penderitaan pasif, sementara upaya resistensi terbatas pada bentuk estetika simbolik, seperti pada kasus tato Medusa. Sementara itu, caption unggahan TikTok berbunyi: AuFor those of you who have traumatic Medusa, cheer up!!Ay. Caption ini menyuarakan niat empatik, namun secara wacana justru menghadirkan bentuk minimisasi terhadap trauma. Frasa Aucheer upAy menunjukkan adanya tekanan implisit agar korban segera pulih atau menutup luka mereka tanpa benar-benar membuka ruang untuk artikulasi pengalaman. Dalam pendekatan mikro Sara Mills, ini memperlihatkan bahwa struktur wacana dalam konten ini tidak memberi agensi penuh kepada objek Perempuan sekalipun tampak seolah memberi dukungan. Dalam pendekatan mikro model Sara Mills, video ini membingkai perempuan sebagai objek penderitaan yang pasif dan sunyi. Tidak ada narasi verbal langsung dari si pembuat konten. ekspresi dibangun melalui simbol . ambar Medus. , warna . onokrom dan mera. , dan teks Perempuan hadir bukan sebagai subjek aktif yang menyuarakan trauma, melainkan sebagai figur yang diamati dan diratapi. Simbol Medusa sendiri dalam mitologi merupakan sosok yang dikutuk karena menjadi korban kekerasan seksual, namun kemudian dipersepsikan sebagai monster. Dalam konteks ini, penggunaan Medusa menjadi proyeksi luka perempuan kontemporer, yang seperti Medusa, dihukum secara simbolik atas trauma yang bukan kesalahannya. Lagu Love the Way You Lie dari Eminem dan Rihanna memperkuat nuansa emosional dalam video ini, merepresentasikan relasi abusif yang penuh luka dan keterikatan. Pilihan lagu ini membangun asosiasi antara trauma perempuan dan kekuasaan yang merusak. Namun, dalam kerangka Sara Mills, perempuan tetap direpresentasikan sebagai objek pasif tidak bersuara, tidak menyebut pelaku, dan tidak melawan. Trauma tampil sebagai kesedihan visual yang dikonsumsi, bukan sebagai bentuk perlawanan. Gambar 2. Konten Wajah Luka Medusa. Diakses 1 Juli 2025, pukul 20. 00 WIB Tanggal unggah: 16 Maret 2024 Konten kedua. AuWajah Luka MedusaAy, menampilkan ilustrasi Medusa dengan ekspresi datar dan garis air mata, diiringi musik Dollhouse karya Melanie Martinez (Gambar 2, @mell, 2024. diakses 1 Juli 2025, pukul 20. 00 WIB. tanggal unggah 16 Maret 2. Konten ini menekankan estetika penderitaan perempuan, tetap menempatkan perempuan dalam posisi objek pasif, dan memperlihatkan trauma Perempuan sebagai Objek dalam Tren Medusa Trauma di TikTok (Serly Oktavia Nur Bela. Fardiah Oktariani Lubis. Ema. Khairul Arief Rahma. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 157-172 emosional yang dikonsumsi secara visual oleh publik tanpa ruang bagi perempuan untuk menyuarakan pengalaman mereka secara aktif. Video ini menampilkan potret ilustratif Medusa dalam ekspresi datar dan suasana visual kelam. Warna dominan adalah hitam, abu-abu, dan merah tua, memperkuat kesan beban emosional yang Terdapat dua garis menyerupai air mata di wajah Medusa, menggambarkan kesedihan yang terpendam. Tidak ada narasi verbal yang diucapkan hanya lagu latar Dollhouse karya Melanie Martinez yang mengisi ruang suara, dengan lirik yang menyinggung luka tersembunyi dan tekanan dalam citra Aukeluarga sempurna. Ay Dalam kerangka analisis mikro Sara Mills, konten ini menunjukkan bagaimana perempuan sebagai objek direpresentasikan dalam posisi pasif dan hening. Medusa sebagai simbol digunakan bukan untuk mengancam kekuasaan seperti dalam versi mitologisnya, melainkan personifikasi kesedihan perempuan yang tidak bersuara. Ia hadir bukan sebagai subjek yang menyampaikan pengalaman, melainkan sebagai gambar yang dilihat dan dirasakan emosinya oleh Caption singkat AuMedusa trauma:(Ay memperjelas bahwa representasi trauma dalam konten ini disampaikan melalui simbol dan ekspresi emosional, bukan melalui narasi kritis terhadap kekerasan atau struktur sosial yang menyebabkannya. Sementara itu penggunaan tagar-tagar populer seperti #fyp dan #viral menunjukkan bahwa narasi ini diposisikan dalam arus konten viral, bukan sebagai bentuk advokasi atau kritik. Secara keseluruhan, konten ini merepresentasikan perempuan dalam bentuk yang terluka, indah secara visual, dan emosional, namun tetap tidak berbicara secara langsung. Dalam pendekatan Sara Mills, representasi semacam ini memperkuat posisi perempuan sebagai objek penderitaan yang dikemas dalam estetika digital, bukan sebagai agen wacana yang menyuarakan struktur penindasan yang melukai mereka. Gambar 3. Konten Medusa Trauma dengan Lagu AuLove the Way You LieAy. Diakses 1 Juli 2025, pukul 20. 00 WIB Konten ketiga, video Medusa Lagu AuLove the Way You LieAy, menampilkan wajah Medusa hitam-putih, simbol bulan sabit, dan kutipan lirik lagu AuI guess I donAot know my own strengthAy (Gambar 3, @babymo??, 2024. diakses 1 Juli 2025, pukul 20. 00 WIB. tanggal unggah 27 April 2. Dalam konten ini, perempuan tetap diposisikan sebagai objek pasif, di mana suara korban hadir melalui audio eksternal, bukan dari pengalaman personal mereka. Representasi trauma emosional tetap dikontrol oleh narasi konten, memperkuat posisi perempuan sebagai figur yang diam dan dikonsumsi secara Perempuan sebagai Objek dalam Tren Medusa Trauma di TikTok (Serly Oktavia Nur Bela. Fardiah Oktariani Lubis. Ema. Khairul Arief Rahma. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 157-172 Video ini menampilkan ilustrasi hitam- putih wajah Medusa dengan rambut dipenuhi ular serta simbol bulan sabit di dahi ikonografi yang merepresentasikan luka, kekuatan, dan misteri sekaligus. Sorotan utama dalam teks visual adalah kutipan lirik lagu: AuI guess I donAot know my own strength,Ay yang berasal dari lagu Love the Way You Lie. Lirik ini menggambarkan ambivalensi kekuatan yang muncul sebagai respons terhadap relasi abusif atau trauma emosional yang mendalam. Penggunaan lagu ini tidak hanya memperkuat suasana emosional video, tapi juga mengaitkan narasi trauma dengan dinamika kekerasan dalam hubungan, yang menjadi tema utama lagu tersebut. Rihanna sebagai pengisi vokal lagu mewakili suara perempuan yang terluka, namun dalam konteks konten ini, suara tersebut tetap hadir sebagai suara eksternal bukan berasal dari subjek dalam video. Dalam pendekatan mikro Sara Mills, ini menunjukkan bahwa perempuan tetap tidak menjadi subjek naratif penuh, suara mereka dipinjamkan dari orang lain, bukan berasal dari pengalaman personal yang diartikulasikan secara langsung. Caption video ini sangat minimalis: AuTruma. Ay . emungkinan besar maksudnya adalah AutraumaA. Penulisan yang tidak lengkap justru memperlihatkan spontanitas dan kepedihan yang tidak sempat diformulasikan utuh. Dalam kerangka Sara Mills, ini dapat dibaca sebagai bentuk ketidakmampuan wacana dominan untuk menyediakan ruang artikulatif bagi korban sehingga trauma hanya muncul sebagai serpihan kata, bukan narasi yang utuh dan sadar akan konteks sosialnya. Konten ini secara visual sangat kuat namun secara naratif tetap membungkam. Medusa sebagai figur perempuan yang pernah menjadi korban kekerasan seksual dalam mitologi, kembali dihadirkan sebagai simbol luka tanpa suara. Trauma disampaikan dalam bentuk simbolik dan estetis, bukan dalam bentuk artikulasi politis. Tidak ada pelaku, tidak ada struktur sosial yang disorot, dan tidak ada ajakan resistensi hanya perasaan dan luka yang direpresentasikan secara pasif. Dalam pendekatan mikro Sara Mills, video ini menegaskan pola yang umum dalam konten digital bertema trauma: perempuan sebagai objek visual dari penderitaan, yang dihadirkan untuk dirasakan dan dikasihani, namun tetap tidak memiliki ruang untuk bicara secara aktif. Medusa menjadi simbol kekuatan yang tidak pernah benar-benar diberdayakan, hanya diam dalam estetika yang menyentuh, namun membungkam. Gambar 4. Konten Medusa Trauma dengan Lagu AuLove the Way You LieAy. Diakses 1 Juli 2025, pukul 20. 00 WIB Tanggal unggah: 4 Juni 2024 Konten keempat, video animasi yang menggambarkan trauma kekerasan dan pelecehan, menampilkan perempuan muda terbaring dengan ekspresi kosong sambil memeluk boneka beruang (Gambar 4, @snvgel, 2024. diakses 1 Juli 2025, pukul 20. 00 WIB. tanggal unggah 4 Juni 2. Visual Perempuan sebagai Objek dalam Tren Medusa Trauma di TikTok (Serly Oktavia Nur Bela. Fardiah Oktariani Lubis. Ema. Khairul Arief Rahma. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 157-172 ini menegaskan posisi perempuan sebagai objek pasif, di mana trauma seksual divisualisasikan dalam bentuk estetis, namun tidak membuka ruang advokasi atau narasi kritis terhadap struktur patriarki. Video ini terdiri dari rangkaian gambar ilustratif bergaya animasi yang menggambarkan trauma kekerasan dan pelecehan yang terbungkam. Salah satu gambar yang menonjol dan terekam dalam tangkapan layer menampilkan seorang perempuan muda . enyerupai anak perempua. yang terbaring dengan ekspresi kosong sambil memeluk boneka beruang. Teks visual yang menyertai gambar tersebut, yaitu AuIAomma tie her to the bedAy, diambil dari lirik lagu Love the Way You Lie, memperkuat nuansa kekerasan seksual yang tidak hanya mengancam fisik, tetapi juga menghancurkan keutuhan psikologis korban. Berbeda dengan konten 3 yang hanya menampilkan satu gambar utama, konten ini menggunakan beberapa visual yang berkesinambungan untuk membangun atmosfer trauma secara lebih mendalam. Setiap potongan gambar memiliki nuansa kelam dan menyampaikan kesan terkurung, menunjukkan bagaimana trauma bekerja dalam ruang yang sunyi dan membeku. Gambar perempuan yang tampak seperti anak kecil memperkuat kesan bahwa kekerasan seksual bisa menyasar siapa saja bahkan mereka yang belum bisa membela dirinya sendiri. Melalui pendekatan mikro Sara Mills, konten ini menunjukkan bagaimana perempuan kembali direpresentasikan sebagai objek dalam struktur narasi digital. Ia hadir sebagai sosok yang terluka, pasif, dan tidak bersuara. Trauma ditampilkan sebagai penderitaan batin, bukan sebagai akibat dari sistem kekerasan patriarkal yang konkret. Lirik lagu yang menyertai menjadi pengikat emosi sekaligus penguat narasi kekerasan, tetapi tetap tidak membuka ruang bagi korban untuk bersuara atau menuntut Caption AuTraumatized. Ay hanya satu kata, namun menyiratkan trauma yang begitu dalam dan Kata ini berdiri sendiri tanpa konteks atau keterangan lebih lanjut, memperlihatkan trauma kekerasan seringkali tidak terartikulasikan sepenuhnya. Ia hanya ditunjukkan bukan diceritakan. Gambar 5. Konten Tato Medusa sebagai Tanda Perlawanan. Diakses 1 Juli 2025, pukul 20. 00 WIB Tanggal unggah: 9 Juli Konten kelima. Tato Medusa sebagai Tanda Perlawanan, memperlihatkan tato wajah Medusa di lengan seorang perempuan dengan ekspresi sedih, diiringi musik Labour dari Paris Paloma (Gambar 5, @c. doug2001, 2024. diakses 1 Juli 2025, pukul 20. 00 WIB. tanggal unggah 9 Juli 2. Berbeda dengan konten lain, tato ini menunjukkan bentuk resistensi, di mana simbol trauma dipakai untuk reclaiming tubuh dan mengekspresikan keberanian. Meskipun demikian, representasi ini masih terbatas dalam ruang estetika simbolik dan tidak sepenuhnya menantang struktur patriarki yang mendasari trauma. Perempuan sebagai Objek dalam Tren Medusa Trauma di TikTok (Serly Oktavia Nur Bela. Fardiah Oktariani Lubis. Ema. Khairul Arief Rahma. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 157-172 Video ini memperlihatkan tato wajah Medusa yang terukir di lengan seorang perempuan. Tatonya digambarkan dengan detail: wajah Medusa dengan mata kosong, ekspresi sedih, dan ular-ular yang menyatu dalam rambutnya. Teks pada video menuliskan AuBear or a man? A bear isnAot the reason I have this,Ay menyinggung pengalaman kekerasan seksual yang dilakukan oleh manusia, bukan binatang, sebagai alasan munculnya simbol ini di tubuhnya. Dalam pendekatan mikro ala Sara Mills, representasi ini menampilkan objek perempuan dalam posisi yang kompleks. Di satu sisi, perempuan tetap menjadi objek visual dalam narasi, namun tato itu sendiri merepresentasikan bentuk perlawanan dan pemaknaan ulang terhadap trauma. Tato Medusa di sini tidak hanya simbol luka, tapi juga menjadi claim atas tubuh yang sebelumnya terlukai, kini menandai ingatannya sebagai bentuk keberanian. Lagu AuLabourAy dari Paris Paloma mengiringi visual ini, menambah lapisan makna dengan nada marah, getir, dan penuh penolakan terhadap sistem patriarki yang melelahkan perempuan. Lagu ini dikenal sebagai lagu feminis kontemporer yang mengangkat ketidaksetaraan gender dalam relasi emosional dan domestik. Penggunaan lagu ini memperkuat pesan konten bahwa perempuan tidak lagi hanya menjadi korban pasif, melainkan subjek yang berani menyatakan keberadaan luka dan asalusulnya. Caption-nya yang retoris dan provokatif AuA bear isnAot the reason I have thisAy mengungkap secara implisit bahwa kekerasan yang dialami bukan dari makhluk buas alam, tetapi dari manusia sendiri. Ini memperlihatkan bagaimana narasi kekerasan seksual sering disembunyikan dan distigmatisasi, namun dalam konten ini, ditantang secara terang-terangan dan bahkan dipresentasikan sebagai bentuk ekspresi tubuh. Analisis Makro: Struktur Ideologi Patriarki dalam Budaya Digital Fenomena AuMedusa TraumaAy di TikTok memperlihatkan bagaimana media sosial, meskipun tampak sebagai ruang ekspresi bebas, sesungguhnya tetap bekerja dalam bingkai ideologi patriarki dan logika kapitalisme digital. Representasi trauma perempuan dalam tren ini tidak bergerak ke arah pembebasan struktural, melainkan diarahkan menjadi pengalaman emosional personal yang dikemas secara estetis dan layak dikonsumsi publik. Melalui pendekatan analisis wacana kritis, kita dapat melihat bahwa suara perempuan di media digital tetap dikontrol bukan dengan membungkam, tetapi dengan membingkainya dalam bentuk yang "diterima secara sosial. " Konten yang menampilkan kesedihan perempuan menjadi lebih viral jika dikemas dengan musik melankolis, visual redup, dan narasi puitis yang menyentuh. Konten semacam ini memperlihatkan bagaimana media digital memberi ruang bicara, tetapi dalam batasan yang tetap menjaga tatanan dominan. AuFeminist theory is intensely involved in questions over access to discourse, since it is clear that women frequently do not have the same access as men to speaking rights, as has been amply documented by various studiesAy (Mills, 1997, hlm. Mills menekankan bahwa teori feminis tidak hanya peduli pada isi atau tema dari suatu pembicaraan . , tetapi juga pada siapa yang punya akses untuk berbicara, didengar, dan dianggap sah di ruang publik. Dalam masyarakat patriarkal, laki-laki secara historis memiliki hak berbicara yang lebih besar dan diakui, sementara perempuan sering kali dianggap "berlebihan" ketika menyuarakan pendapatnya. Salah satu ciri penting dari logika ini adalah bagaimana media sosial mengubah ekspresi emosi menjadi bentuk komoditas. Kesedihan dan trauma bukan lagi semata- mata bentuk ekspresi personal, tetapi bagian dari logika ekonomi digital. AuExpressions of sadness are transformed into a form of content that can be consumed, shared, and monetizedAy (Hidayati, 2024, hlm. Emosi perempuan dijadikan materi konten yang bisa menghasilkan interaksi, perhatian, dan bahkan keuntungan, selama dikemas dalam bentuk yang sesuai dengan selera pasar algoritmik. Konten keenam. Komentar Konten 1, menampilkan interaksi antara pengguna dan pembuat konten, di mana seorang pengguna menulis Aumedusa, aku udah kotor dari kecil :)Ay dan mendapat balasan dari pembuat konten: Ausut noo, km suci smpe tuhan mnjemput mu, ini bkn slh mu cntikAy (Gambar 6, @luka, 2024. diakses 1 Juli 2025, pukul 20. 00 WIB). Interaksi ini menunjukkan bagaimana relasi digital antara penyintas dan penonton tidak bersifat satu arah. Meskipun terdapat Perempuan sebagai Objek dalam Tren Medusa Trauma di TikTok (Serly Oktavia Nur Bela. Fardiah Oktariani Lubis. Ema. Khairul Arief Rahma. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 157-172 solidaritas emosional, balasan tersebut tetap bekerja dalam bingkai narasi moralistik dan privat, memperkuat posisi perempuan sebagai objek pasif yang dikasihani, alih-alih mendorong advokasi atau perubahan struktural. Komentar ini juga menegaskan bagaimana platform digital membentuk interaksi emosional yang viral namun tetap mempertahankan logika patriarki dalam distribusi narasi trauma. Gambar 6. Komentar Konten 1. Diakses 1 Juli 2025, pukul 20. 00 WIB Dalam Konten 1, komentar dari seorang pengguna yang menulis: Aumedusa, aku udah kotor dari kecil :)Ay mendapat respons langsung dari pembuat kontennya sendiri: Ausut noo , km suci smpe tuhan mnjemput mu, ini bkn slh mu cntik. Ay Kehadiran pencipta konten dalam membalas komentar tersebut menunjukkan bagaimana relasi digital antara penyintas dan penonton tidak bersifat satu Namun alih-alih mendorong wacana struktural atau politis, interaksi ini menguatkan peran pembuat konten sebagai figur yang menenangkan dan memberi afirmasi moral. Relasi tersebut memperkuat logika emosional yang berputar dalam ranah personal, bukan politis, dan memperlihatkan bagaimana narasi trauma dimediasi oleh interaksi digital yang intens namun tetap jinak secara ideologis. Dukungan semacam ini penting dalam membangun rasa aman dan empati, tetapi juga menunjukkan bagaimana platform digital mendorong pertukaran emosi dalam kerangka keterlibatan Validasi emosional meskipun tulus tetap dibentuk dan diedarkan dalam format yang memperkuat performa konten di hadapan sistem platform. Komentar-komentar seperti ini memperlihatkan bahwa pengalaman trauma tidak ditransformasikan menjadi dorongan perubahan struktural, melainkan menjadi narasi yang bisa dikomentari, diberi hati, dan disebarluaskan. Tren AuMedusa TraumaAy di TikTok menunjukkan bahwa ekspresi dan dukungan yang muncul lebih sering menggambarkan perempuan sebagai sosok yang emosional, pasif, dan bisa dikasihani. Pengalaman trauma dijadikan cerita yang bisa dikomentari, diberi like, dan dibagikan, tapi tidak mendorong perubahan atas kekerasan yang jadi sumbernya. Bukannya menjadi seruan untuk melawan ketidakadilan, trauma justru tampil sebagai gambar menyentuh yang berputar di dalam algoritma dan mudah diterima karena tidak mengguncang struktur yang ada. Pembahasan Tren "Medusa Trauma" di TikTok menarik perhatian karena fenomena ini memberikan representasi emosional perempuan yang dikemas dalam narasi visual dan simbolik. Melalui kombinasi filter gelap, teks puitis, dan lagu-lagu melankolis, perempuan mengekspresikan luka batin mereka secara terbuka namun tetap dalam batas estetika yang dapat diterima oleh media sosial. Namun, penting untuk mengkritisi bagaimana posisi perempuan dikonstruksikan dalam wacana tersebut, apakah sebagai subjek yang berdaya atau justru sebagai objek yang diamati dan dikasihani. Perbandingan dengan Penelitian Terdahulu Sejumlah penelitian sebelumnya telah membahas representasi perempuan dalam budaya digital, namun sering kali terbatas pada analisis visual atau naratif tanpa menelusuri relasi kuasa yang Perempuan sebagai Objek dalam Tren Medusa Trauma di TikTok (Serly Oktavia Nur Bela. Fardiah Oktariani Lubis. Ema. Khairul Arief Rahma. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 157-172 Hidayati . dalam penelitiannya mengenai "commodifying sadness" menunjukkan bahwa ekspresi emosi perempuan di media sosial sering kali dijadikan konten yang dapat dikonsumsi, dibagikan, dan dimonetisasi. Temuan tersebut memperkuat argumentasi bahwa media sosial berperan dalam membentuk wacana publik tentang perempuan, dengan trauma mereka sering kali dikemas dalam bentuk estetis yang dapat dimanfaatkan sebagai produk budaya digital. Selain itu, penelitian dalam ranah digital feminism seperti yang dilakukan oleh Nurulaini et al. menekankan bahwa platform digital sering memperkuat relasi kuasa gender melalui representasi visual yang tampak netral, namun secara ideologis menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Temuan ini relevan dengan analisis tren "Medusa Trauma" di TikTok, yang menunjukkan bagaimana perempuan sering kali diposisikan sebagai objek penderitaan pasif, meskipun mereka mengungkapkan trauma secara terbuka. Dalam banyak kasus, simbol seperti Medusa digunakan sebagai sarana untuk menyuarakan pengalaman, tetapi justru memperkuat posisi perempuan sebagai objek yang hanya dapat diamati dan diberi empati, bukan sebagai subjek yang aktif mengatur narasi tentang pengalaman mereka. Penelitian lain oleh Ramadhani & Adiprabowo . menekankan bahwa representasi trauma perempuan dalam media digital sering kali estetis, viral, dan dikonsumsi tanpa menuntut perubahan struktural yang signifikan. Tren "Medusa Trauma" sejalan dengan temuan ini, di mana trauma yang ditampilkan bukan hanya berbentuk kesedihan emosional, tetapi juga dibingkai dalam estetika digital yang memperkuat posisi pasif perempuan. Dalam hal ini, perempuan bukan hanya menjadi korban yang disorot dalam narasi digital, tetapi juga terjebak dalam proses komodifikasi trauma yang dilihat, dikonsumsi, dan dikendalikan oleh struktur media sosial. Makna Simbolik Medusa dalam Tren "Medusa Trauma" Fenomena "Medusa Trauma" di TikTok tidak hanya mencerminkan ekspresi emosional perempuan, tetapi juga membuka ruang untuk menganalisis bagaimana simbol Medusa digunakan untuk membingkai trauma perempuan dalam bentuk yang dapat diterima dan dikonsumsi oleh publik. Medusa, dalam mitologi Yunani, adalah simbol dari penderitaan yang terkutuk, yang kemudian diubah menjadi monster setelah mengalami kekerasan seksual. Dalam konteks ini, penggunaan simbol Medusa dalam tren digital dapat dipahami sebagai bentuk resistensi terhadap kekerasan simbolik dan struktural terhadap perempuan. Namun, dalam kerangka teori wacana kritis Sara Mills, representasi ini juga menggambarkan bagaimana perempuan tetap diposisikan sebagai objek dalam narasi dominan yang dikendalikan oleh Seperti yang disoroti oleh penelitian digital feminism, meskipun ada upaya untuk mengartikulasikan trauma, media sosial sering kali mengemas trauma dalam bentuk yang estetis dan emosional, yang pada akhirnya tidak memicu perubahan struktural yang diperlukan untuk memerangi kekerasan terhadap perempuan. Dalam hal ini, "Medusa Trauma" tidak hanya menjadi ruang ekspresi emosional, tetapi juga reproduksi dari wacana patriarkal yang memperkuat posisi perempuan sebagai objek penderitaan pasif. Kritik terhadap Estetika Trauma dalam Tren Digital Sebagai bagian dari diskursus tentang representasi perempuan dalam budaya digital, tren "Medusa Trauma" menunjukkan bagaimana media sosial berfungsi sebagai ruang di mana trauma perempuan bisa dipamerkan dan dikonsumsi oleh publik. Namun, kritik utama dari tren ini adalah bagaimana trauma tersebut sering kali diposisikan dalam estetika yang tidak membuka ruang untuk penyembuhan atau perlawanan nyata terhadap struktur yang menyebabkan trauma tersebut. Estetika yang dihasilkan oleh simbol Medusa dan narasi visual yang dipakai dalam TikTok lebih banyak fokus pada ekspresi emosional yang dapat dikonsumsi, tanpa memberikan ruang bagi perempuan untuk mengartikulasikan pengalaman mereka dalam cara yang lebih konstruktif dan transformatif. Perempuan sebagai Objek dalam Tren Medusa Trauma di TikTok (Serly Oktavia Nur Bela. Fardiah Oktariani Lubis. Ema. Khairul Arief Rahma. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 157-172 SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa tren Medusa Trauma di TikTok menempatkan perempuan sebagai objek penderitaan pasif, di mana trauma mereka divisualisasikan, dikonsumsi, dan dikomentari oleh publik tanpa memberi ruang advokasi atau perubahan struktural. Analisis enam konten mengungkapkan bahwa sebagian besar representasi menekankan estetika penderitaan pribadi, sementara interaksi komentar mendukung solidaritas emosional tetapi tetap berada dalam kerangka moralistik dan privat. Hanya beberapa konten, seperti tato Medusa, menampilkan usaha reclaiming simbol trauma, namun ruang resistensi terbatas pada estetika simbolik. Temuan ini konsisten dengan literatur terkini tentang digital feminism dan trauma representation, yang menegaskan bahwa media sosial sering memperkuat relasi kuasa gender melalui representasi visual yang tampak netral tetapi ideologis menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Kontribusi penelitian ini terletak pada pemahaman kritis mengenai konstruksi gender dalam budaya digital dan implikasi estetika visual terhadap representasi trauma perempuan, sekaligus menyediakan dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai advokasi digital, kesadaran gender, dan praktik literasi digital yang dapat mendorong perubahan sosial lebih substansial. DAFTAR PUSTAKA