JURNAL AWILARAS ISSN: 2407-6627 E-ISSN 2988-4098 | Beranda Jurnal: https://jurnal. id/index. php/awilaras/index Juni 2024 Volume 11 Nomor 1 Sisingaan dalam Upacara Khitanan: Tradisi dan Nilai Kultural Masyarakat Sunda Ghildan Syarif Ayatullah Program Studi Informatika. Fakultas Ilmu Komputer. Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur Jl. Rungkut Madya No. Gn. Anyar. Kec. Gn. Anyar. Surabaya. Jawa Timur 60294 E-mail: ghildansa@gmail. ABSTRAK Tradisi Sisingaan dari budaya Sunda di Jawa Barat merupakan kesenian yang berfungsi sebagai hiburan dan media penyampaian nilai moral serta agama. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi peran dan makna Sisingaan dalam acara khitanan anak laki-laki Sunda serta bagaimana tradisi ini beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan esensi budayanya. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur, dengan pencarian sumber dari database akademik seperti Google Scholar, menggunakan kata kunci "Sisingaan Sunda" dan "Sisingaan dan khitanan". Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sisingaan adalah bagian integral dari acara khitanan, di mana anak yang akan dikhitan diarak dengan tandu berbentuk singa, diiringi musik tradisional Sunda dan Tradisi ini mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, keberanian, dan keteguhan iman yang diajarkan dalam Islam. Selain itu, praktik ziarah kubur dalam prosesi ini menunjukkan penghormatan terhadap leluhur, selaras dengan ajaran Islam mengenai pentingnya doa bagi yang telah meninggal. Kesimpulan dari penelitian ini menekankan pentingnya mempertahankan tradisi Sisingaan sebagai bagian dari identitas budaya dan keagamaan masyarakat Sunda. Keberlanjutan tradisi ini menunjukkan betapa pentingnya Sisingaan dalam menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi, serta perlunya adaptasi agar tetap relevan dan bermakna bagi generasi Kata kunci: Sisingaan. Khitanan. Budaya Sunda. Tradisi. Islam ABSTRACT The Sisingaan tradition of Sundanese culture in West Java is an art form that functions as entertainment and a medium for conveying moral and religious values. This research aims to explore the role and meaning of Sisingaan in the circumcision of Sundanese boys and how this tradition has adapted to changing times without losing its cultural essence. The method used is a literature review, with sources searched from academic databases such as Google Scholar, using the keywords AuSisingaan SundaAy and AuSisingaan and circumcisionAy. The results showed that Sisingaan is an integral part of the circumcision event, where the child to be circumcised is paraded on a lion-shaped stretcher, accompanied by traditional Sundanese music and dance. This tradition reflects the values of togetherness, courage and firmness of faith taught in Islam. In addition, the Jurnal Awilaras | 52 practice of grave pilgrimage in this procession shows respect for ancestors, in line with Islamic teachings on the importance of prayers for the dead. The conclusion of this study emphasizes the importance of maintaining the Sisingaan tradition as part of the cultural and religious identity of the Sundanese community. The continuation of this tradition shows how important Sisingaan is in maintaining cultural identity in the midst of modernization, and the need for adaptation to remain relevant and meaningful for future generations. Keywords: Sisingaan, circumcision. Sundanese culture, tradition. Islam PENDAHULUAN Indonesia, sebagai negara kepulauan yang kaya dengan budaya, memiliki kekayaan tradisi yang beragam dan unik. Salah satu tradisi yang menarik untuk ditelusuri adalah Sisingaan dari budaya suku Sunda, sebuah tradisi arak-arakan dan tarian tradisional yang berasal dari Jawa Barat khususnya daerah Subang. Bahkan. Sisingaan dianggap sebagai salah satu kesenian yang paling khas dan bahkan menjadi simbol kabupaten Subang. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya patung manusia berwarna hitam yang sedang mengusung Sisingaan yang terletak di pusat kota yaitu di taman dekat perempatan lampu merah tepatnya di depan Wisma Karya Subang yang beralamat di Jl. Ade Irma Suryani Nasution No. Di kabupaten Subang (Gumelar & Rojibillah. Ditinjau dari pertunjukannya. Sisingaan tidak hanya memukau dengan gerakannya yang energik dan kostumnya yang meriah, tetapi juga menyimpan nilai-nilai budaya Sunda yang mendalam dan erat kaitannya dengan agama Islam. Sisingaan, juga dikenal sebagai Gotong Singa, melibatkan sekelompok pria yang mengusung tandu berbentuk singa yang dihiasi dengan ornamen warna-warni, sementara anak-anak yang akan dikhitan duduk di atasnya. Tradisi ini umumnya dilakukan pada acara khitanan, sebuah ritual penting bagi anak laki-laki dalam agama Islam. Khitanan atau sunat merupakan kewajiban bagi laki-laki Muslim, menandakan masuknya anak ke dalam fase baru kehidupan yang lebih religius. Pengaruh agama Islam sangat kental dalam tradisi Sisingaan. Khitanan, sebagai syarat wajib dalam Islam, menjadi momen sakral yang dirayakan dengan penuh sukacita melalui prosesi Sisingaan. Arak-arakan ini diiringi oleh doa-doa dan zikir, menciptakan suasana religius yang Selain itu, kostum dan atribut yang digunakan sering kali mencerminkan nilai-nilai Islami, dengan penggunaan warna-warna yang memiliki makna spiritual dan motif-motif yang mengandung pesan moral. Tradisi Sisingaan dalam konteks khitanan tidak hanya berfungsi sebagai Jurnal Awilaras | 53 hiburan dan bentuk perayaan, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai keagamaan. Prosesi ini mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, keberanian, dan keteguhan iman yang diajarkan dalam Islam. Anak-anak yang menjalani khitanan didorong untuk memahami pentingnya ritual ini dalam kehidupan mereka sebagai seorang Muslim. Dengan demikian. Sisingaan bukan hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga sebuah warisan budaya yang mencerminkan identitas dan nilai-nilai masyarakat Sunda yang Islami. Keberlanjutan tradisi ini hingga saat ini menunjukkan betapa pentingnya Sisingaan sebagai bagian dari kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Sunda, serta sebagai simbol kebanggaan akan kekayaan budaya Indonesia. Hal itulah yang juga mendukung keberadaan dan eksistensi kesenian Sisingaan di masa kini. Sebab, seperti yang kita ketahui suatu jenis kesenian akan punah jika tak lagi memenuhi fungsi dalam masyarakatnya (Mulya dkk, 2. Penelitian ini akan mengeksplorasi lebih dalam tentang peran dan makna Sisingaan dalam konteks khitanan anak laki-laki di masyarakat Sunda, serta bagaimana tradisi ini beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan esensi budayanya. Selain itu, penelitian ini juga akan mengkaji bagaimana pengaruh Islam terintegrasi dalam Sisingaan dan dampaknya terhadap pemeliharaan identitas budaya Sunda. METODE Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur . iteratur revie. untuk mengumpulkan dan menganalisis literatur terkait pelaksanaan budaya yang akan diteliti dan apa keterlibatanya dengan agama islam. Metode ini dipilih karena memungkinkan kami untuk menyelidiki dan mensintesis penelitian terkini dalam topik tersebut. Penelitian ini melakukan pencarian literatur menggunakan database akademik seperti Google Scholar. Kata kunci yang digunakan termasuk "Sisingaan Sunda" dan "Sisingaan dan khitanan". Pencarian dilakukan untuk artikel yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir dan tersedia dalam Indonesia. Analisis literatur ini kemudian digunakan untuk menyusun hasil-hasil utama dari tinjauan literatur ini, yang akan dibahas lebih lanjut dalam bagian hasil dan diskusi. Pendekatan metode literatur review memungkinkan kami untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang topik penelitian ini dengan mengintegrasikan temuan-temuan dari berbagai sumber literatur yang relevan. Jurnal Awilaras | 54 C. HASIL DAN PEMBAHASAN Kesenian Sisingaan Sisingan merupakan sebuah budaya kesenian dari masyarakat Sunda di Jawa Barat yang pelaksanaanya ada pada acara-acara tertentu seperti khitanan anak laki-laki. Pengambilan nama Sisingaan diambil dari kata Singa yang diberi awalan si- dan akhiran -an yang jika digali apa maksud dari penambahan awalan dan akhiran pada kata singa adalah menyerupai singa. Dalam bahasa Sunda jika suatu kata mendapat sebuah pengulangan dari awal kata dasar tersebut dan penambahan akhiran -an maka kata tersebut memiliki arti AumenyerupaiAy dalam konteks benda mati, seperti halnya kata Aumo-mobil-anAy. Auma-manuk-anAy, dan sebagainya. Ada banyak bentuk penyajian pada kesenian Sisingaan yang berkaitan dengan kebiasaan setiap daerah yang berbeda. Selain itu. Faktor lain yang menyebabkan beragamnya bentuk pertunjukan Sisingaan di berbagai daerah di Sunda juga berkaitan dengan adanya modernisasi pada beberapa aspek seperti alat musik (Buana Perjuangan Karawang et al. , 2. Pada awal kemunculannya. Sisingaan disebut-sebut diciptakan oleh para seniman sebagai bentuk pemberontakan dan perlawanan terhadap para penjajah di masa lampau. Adapun menurut (Sumarno dkk, 2. , tujuan para seniman membuat Sisingaan adalah sebagai bentuk harapan terhadap generasi muda agar bisa bangkit dan mampu mengusir penjajah dari tanah air dan dapat hidup lebih baik dan sejahtera. Menurut hasil penelitian Sumarno, dkk . disebutkan bahwa Penjajah khususnya Belanda dan Inggris memahami bahwa Sisingaan merupakan karya seni yang diciptakan secara spontan oleh penduduk pribumi untuk menghibur anak sunat. Namun di balik penciptaannya, rakyat Subang justru menyimpan pesan dan makna yang ditunjukkan melalui lambang kedua penjajah (Belanda dan Inggri. dalam bentuk kesenian Sisingaan untuk menunjukkan kebencian dan perlawanan terhadap kaum penjajah. Bentuk Penyajian Kesenian Sisingaan pada Khitanan Kesenian Sisingaan menjadi bagian dari rangkaian acara khitanan itu sendiri, prosesi Sisingaan baisanya dilaksanakan satu hari sebelum prosesi pemotongan bagian alat kelamin pada anak laki-laki yang akan dikhitan, dimulai dengan sekelompok pria yang mengusung tandu berbentuk singa yang dihiasi dengan ornamen warna-warni. Anak yang akan dikhitan duduk di atas tandu singa tersebut. Dalam prosesi ini si anak akan diposisikan seperti seorang raja, kemudian Jurnal Awilaras | 55 diarak keliling desa atau lingkungan tempat tinggalnya dengan tujuan utama yaitu makam para leluhurnya untuk berziarah. Mendoakan para leluhurnya sebagai simbol menghormati leluhurnya yang telah mendahuluinya. Umumnya yang mengarak adalah anggota keluarga, kerabat, dan warga-warga sekitar. Iringan musik tradisional Sunda, seperti kendang, gong, dan seruling, menciptakan suasana meriah dan penuh semangat. Selain musik, tarian energik dan atraksi akrobatik seringkali menambah kemeriahan prosesi ini (Buana Perjuangan Karawang et al. , 2. Gambaran pertunjukan kesenian Sisingaan dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 1. Anak khitan pada pertunjukan Sisingaan Sumber: subang. Berdasarkan literatur yang ditinjau, bentuk penyajian kesenian Sisingaan dalam acara khitanan anak laki-laki memiliki beberapa elemen utama yang konsisten. Penelitian (Lestaluhu et , 2. menunjukkan bahwa prosesi dimulai dengan sekelompok pria yang mengusung tandu berbentuk singa, dihiasi dengan ornamen warna-warni yang mencolok. Anak yang akan dikhitan duduk di atas tandu singa tersebut, diarak keliling desa atau lingkungan tempat tinggalnya. Iringan musik tradisional Sunda yang dinamis mengiringi prosesi ini, dengan alat musik seperti kendang, gong, dan seruling yang menciptakan suasana meriah dan penuh semangat. Kendati demikian di berbagai daerah ditemukan pula penyajian musik pengiring Sisingaan yang sudah mengalami transformasi, baik dari penggunaan instrumen maupun repertoar lagu yang Jika diamati dalam beberapa tahun terakhir, ditemukan adanya penambahan Jurnal Awilaras | 56 instrumen musik modern seperti dalam musik Barat yakni gitar elektrik atau keyboard atau organ. Hal tersebut terjadi mengingat repertoar lagu yang dimainkan dalam pertunjukan Sisingaan juga mengalami pergeseran tak hanya memainkan lagu-lagu tradisi Sunda lama namun juga memainkan lagu dangdut dan lagu-lagu Sunda populer masa kini lengkap dengan alat penjunjang seperti sound system. Selanjutnya jika ditinjau dari gerakannya, studi (Buana Perjuangan Karawang et al. , 2. menjelaskan bahwa pertunjukan Sisingaan pada prosesi khitanan juga melibatkan berbagai atraksi tarian dan seni pertunjukan lainnya, yang menampilkan gerakan-gerakan energik dan akrobatik yang diadopsi dari berbagai gerakan tarian Sunda khususnya pencak silat. Sebagai pendukung pertunjukan, para penari Sisingaan seringkali mengenakan kostum yang meriah dengan warnawarna cerah, mencerminkan suasana perayaan yang penuh sukacita dan kegembiraan. Di antara kekayaan budaya Sunda yang beragam dan mempesona, tradisi Sisingaan menonjol dengan ciri khasnya yang unik yang menunjang eksistensinya di masyarakat hingga saat Berbeda dengan tradisi masyakarat Sunda lain yang umumnya hanya dipertunjukkan pada acara khusus. Sisingaan justru hadir sebagai bagian pendukung, pelengkap dan pemanis dalam berbagai momen penting, seperti khitanan, pernikahan, atau berbagai kegiatan politik dan diplomatis seperti berbagai acara peresmian . Dibandingkan dengan tradisi Sunda lainnya. Sisingaan memiliki ciri khas tersendiri dalam praktik pelaksanaannya. Ia hadir sebagai bagian dari acara lain, bukan menjadi acara utama. Tujuan dan maknanya pun lebih spesifik, dalam konteks tradisi khitanan masyarakat suku Sunda Sisingaan berkaitan dengan transisi anak laki-laki menuju Bentuk pertunjukannya yang unik dengan boneka singa dan iringan musik tradisional menjadi daya tarik tersendiri, membedakannya dari tradisi lainnya. Lebih dari sekadar hiburan. Sisingaan juga sarat makna dan simbolisme. Boneka singa yang diarak keliling kampung melambangkan keberanian, mengantarkan anak laki-laki menuju kedewasaan dan membuang sifat-sifat negatif. Iringan musik tradisional Sunda yang ceria dan gerakan menarik para penari dan pemain musik semakin memeriahkan pertunjukan, membangkitkan semangat dan kegembiraan para penonton. Keterlibatan aktif masyarakat menjadi elemen penting dalam tradisi Sisingaan. Tak hanya sebagai penonton, mereka pun turut berpartisipasi sebagai penari, pemain musik, atau pengarak boneka singa. Semangat gotong royong dan kebersamaan terpancar dalam setiap langkah dan gerakan, mempererat rasa persaudaraan dan kekeluargaan antar masyarakat. Kehadirannya tak Jurnal Awilaras | 57 hanya menghibur, tetapi juga memperkaya nilai-nilai budaya dan memperkuat rasa persatuan di antara masyarakat Sunda. Nilai Islami Pada Sisingaan dalam Konteks Tradisi Khitanan Seperti yang sudah dibahas bahwasanya kesenian Sisingaan ini adalah sebuah perayaan yang biasanya hadir diacara khitanan. Khitan atau sunat sendiri merupakan salah satu ibadah dalam agama islam yang wajib dilakukan bagi laki-laki muslim. Yaitu proses pelepasan kulit pada ujung kemaluan laki-laki yang memiliki makna pensucian diri dan kepatuhan pada perintah agama. Umumnya masyarakat Sunda melakukan khitan atau sunat saat anak laki-laki masih berusia dini, berkisar antara usia 6 sampai 12 tahun. Pada awalnya dalam melakukan khitan atau sunat, masyarakat Sunda menggunakan jasa juru sunat atau sering disebut dengan mantri atau Dalam melakukannya mantri atau bengkong menggunakan alat bantu yang terbuat dari sebilah bambu untuk mencapit dan memotong ujung kemaluan anak yang disunat. Namun saat ini masyarakat lebih banyak memilih menggunakan jasa dokter dengan menggunakan alat yang lebih modern, seperti gunting atau laser. Selain khitanan, nilai agama yang terkandung pada kesenian Sisingaan juga ada pada ziarah kubur yang mana tujuan dari ziarah kubur ini untuk mendoakan serta menghormati sesepuh pihak keluarga yang akan di sunat, dalam islam sendiri terdapat hadist yang berbunyi AuApabila manusia telah wafat, maka amalnya terputus, kecuali sebab tiga hal: sodaqoh jariyah, ilmu bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya. Ay (HR. Ahmad. Muslim. Abu Daud, dan Maka dari itu nilai agama yang terkandung pada kesenian Sisingaan sangat kental terutama pada agama islam. Pengaruh Globalisasi dan Modernisasi terhadap Sisingaan Globalisasi dan modernisasi membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk budaya tradisional. Sisingaan, sebagai salah satu tradisi Sunda yang erat kaitannya dengan identitas dan nilai-nilai budaya serta agama, tak luput dari pengaruh globalisasi dan modernisasi. Perubahan yang terjadi akibat modernisasi terhadap Sisingaan dapat menjadi hal yang positif dan juga negatif, modernisasi membuka gerbang peluang baru bagi pelestarian dan pengembangan tradisi Sisingaan. Di sisi lain, modernisasi juga menghadirkan tantangan yang tak kalah kompleks, mengancam eksistensi dan makna luhur Sisingaan itu sendiri. Secara lebih rinci Jurnal Awilaras | 58 uraian tentang hubungan pengaruh modernisasi pada kesenian Sisingaan diuraikan sebagai Dampak Positif Kemudahan akses informasi dan komunikasi pada era globalisasi membantu memperluas jangkauan Sisingaan khalayak yang lebih luas. Penggunaan media sosial dan platform online lainnya memungkinkan masyarakat luas untuk mengenal dan mempelajari Sisingaan, bahkan dari luar daerah Sunda. Globalisasi membuka peluang kolaborasi dan pertukaran budaya antar daerah, mendorong upaya pelestarian Sisingaan. Penelitian dan dokumentasi budaya Sisingaan semakin marak dilakukan, menghasilkan publikasi dan materi edukasi yang mudah diakses. Modernisasi membuka ruang bagi inovasi dan kreativitas dalam pertunjukan Sisingaan. Munculnya variasi bentuk dan gaya pertunjukan Sisingaan modern, menggabungkan unsur tradisional dengan sentuhan kontemporer, menarik minat generasi muda dan meningkatkan daya tarik Sisingaan. Dampak Negatif Pengaruh budaya Barat yang cukup kuat dapat menggeser nilai-nilai dan tradisi lokal yang terkandung dalam Sisingaan. Hal ini dikhawatirkan dapat memicu perubahan makna dan fungsi Sisingaan, menjauhkannya dari esensi budaya Sunda. Sisi bisnis dan komersialisasi dalam pertunjukan Sisingaan berpotensi menggerus nilai-nilai budaya aslinya. Fokus pada keuntungan ekonomi dapat mendorong eksploitasi budaya Sisingaan, mengabaikan makna dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Penggunaan teknologi yang berlebihan dalam hiburan Sisingaan dapat memicu ketergantungan dan mengurangi nilai autentiknya. Penggunaan efek visual dan sound system yang terlalu berpotensi menggeser fokus dari nilai budaya dan makna yang terkandung dalam hiburan Jurnal Awilaras | 59 Globalisasi dan modernisasi membawa pengaruh yang kompleks pada tradisi Sisingaan. Adapun pengaruhnya pada tradisi Sisingaan tidak hanya pada pelestariannya, tetapi juga dapat berpengaruh langsung pada praktiknya itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan untuk menjaga nilai-nilai budaya Sisingaan di tengah arus globalisasi dan modernisasi, dengan tetap adaptif dan terbuka terhadap perubahan tanpa menghilangkan esensi KESIMPULAN Tradisi Sisingaan dalam budaya Sunda merupakan salah satu bentuk kesenian yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan dan perayaan, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai keagamaan. Prosesi Sisingaan yang sering dilakukan dalam rangkaian acara khitanan anak laki-laki di masyarakat Sunda mencerminkan perpaduan harmonis antara budaya lokal dan nilai-nilai Islam yang mendalam. Dibandingkan dengan tradisi lain yang ada di tanah Sunda, tradisi Sisingaan adalah salah satu kekayaan budaya Sunda yang unik dan penuh makna, terutama pada prosesinya yang dilakukan sebagai pelengkap dan pemanis dalam berbagai acara penting, bukan menjadi acara Penelitian ini sendiri menyoroti prosesi Sisingaan yang hadir sebagai pelengkap dan pemanis dalam rangkaian acara khitanan anak laki-laki di tanah Sunda. Khitanan, sebagai ritual penting dalam agama Islam, diiringi dengan prosesi Sisingaan yang meriah, di mana anak yang akan dikhitan diperlakukan seperti raja dan diarak keliling desa. Prosesi ini diiringi oleh musik tradisional Sunda, tarian energik, dan atraksi akrobatik yang menambah kemeriahan suasana. Tradisi ini tidak hanya menonjolkan aspek estetika, tetapi juga mengandung nilai-nilai kebersamaan, keberanian, dan keteguhan iman yang diajarkan dalam Islam. Selain itu, nilai agama dalam Sisingaan juga tercermin dalam praktik ziarah kubur yang dilakukan selama prosesi, menunjukkan penghormatan terhadap leluhur dan mengingatkan pentingnya doa bagi yang telah meninggal, sebagaimana diajarkan dalam Islam. Dengan demikian. Sisingaan bukan hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga sebuah warisan budaya yang mencerminkan identitas dan nilai-nilai masyarakat Sunda yang Islami. Penelitian ini menyoroti pentingnya memahami dan mempertahankan tradisi Sisingaan sebagai bagian integral dari kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Sunda. Keberlanjutan tradisi ini menunjukkan betapa pentingnya Sisingaan dalam menjaga identitas budaya dan keagamaan di Jurnal Awilaras | 60 tengah arus modernisasi. Studi ini juga menekankan perlunya adaptasi tradisi tanpa kehilangan esensi budayanya, sehingga dapat terus relevan dan bermakna bagi generasi mendatang. DAFTAR PUSTAKA: