Jurnal Ilmiah Sosio Agribis (JISA) Volume 25. Nomor 2 : 275-282 ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . ANALISIS ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN DI KECAMATAN CANDI KABUPATEN SIDOARJO Analysis of Agricultural Land Conversion in Candi District. Sidoarjo Regency Firizky Ramadhani1. Teguh Soedarto2*. Nuriah Yuliati3 1, 2*, 3 Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur *Correspondence Author: Teguh Soedarto Email: teguh_soedarto@upnjatim. ABSTRACT Agricultural land conversion is a major issue facing Indonesia's agricultural sector. This study aims to analyze agricultural land conversion in Candi District. Sidoarjo RegencyAia peri-urban area facing development pressures and high population growth. The research objectives were to: . examine land conversion trends, . analyze the factors influencing them, and . identify the socio-economic impacts on farmers whose land has been converted. A quantitative survey approach was applied to 30 farmer respondents from four villages, selected using snowball sampling based on the criteria of having sold their rice fields. Data were analyzed using exponential trend analysis, multiple linear regression, and descriptive The results revealed that land conversion in Candi District has occurred significantly, marked by a continuous decline in rice field area. Factors significantly influencing land conversion include farmer education level, farming capital, farming income, and urgent need for money. Meanwhile, variables such as farmer age, inheritance system, and number of dependents were not shown to have a significant impact. The socio-economic impacts experienced by farmers include decreased income from the agricultural sector and a shift to the informal sector. Keywords: Land Conversion. Farmers. Sosio-economic impact. ABSTRAK Konversi lahan pertanian merupakan isu utama yang dihadapi sektor pertanian Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis konversi lahan pertanian di Kecamatan Candi. Kabupaten SidoarjoAisebuah wilayah peri-urban yang menghadapi tekanan pembangunan dan pertumbuhan penduduk yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk: . mengkaji tren konversi lahan, . menganalisis faktor-faktor yang memengaruhinya, dan . mengidentifikasi dampak sosial-ekonomi terhadap petani yang lahannya telah dikonversi. Pendekatan survei kuantitatif diterapkan pada 30 responden petani dari empat desa, yang dipilih secara snowball sampling berdasarkan kriteria telah menjual sawah mereka. Data dianalisis menggunakan analisis tren eksponensial, regresi linier berganda, dan statistik Hasil penelitian menunjukkan bahwa konversi lahan di Kecamatan Candi telah terjadi secara signifikan, ditandai dengan penurunan luas lahan sawah yang terus menerus. Faktor-faktor yang secara signifikan memengaruhi konversi lahan meliputi tingkat pendidikan petani, modal usaha tani, pendapatan usaha tani, dan kebutuhan mendesak akan Sementara itu, variabel seperti usia petani, sistem pewarisan, dan jumlah tanggungan tidak terbukti berdampak signifikan. Dampak sosial-ekonomi yang dialami petani meliputi penurunan pendapatan dari sektor pertanian dan peralihan ke sektor informal. Kata kunci: Konversi Lahan. Petani. Dampak Sosial Ekonomi. Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 275-282 PENDAHULUAN Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Secara umum, pertanian di Indonesia dibedakan menjadi dua kelompok utama, yaitu pertanian lahan basah dan lahan kering (Sulferi, 2. Lahan merupakan salah satu sumber daya alam dan sangat penting bagi petani. Dalam sektor pertanian, lahan merupakan sumber daya yang sangat penting, baik bagi petani maupun bagi pembangunan pertanian. Oleh karena itu jika lahan pertanian ini dialih fungsikan secara terus menerus maka akan menimbukan masalah. Alih fungsi lahan pertanian merupakan salah satu permasalahan yang sedang dihadapi dalam bidang pertanian di Indonesia. Salah satu hal yang terjadi akibat alih fungsi lahan adalah dampak yang ditimbulkan akibat alih fungsi lahan tersebut. Bagi sektor pertanian, lahan merupakan faktor produksi utama dan tak tergantikan (Maleha & Susanto, 2. Jawa Timur merupakan salah satu provinsi penyumbang produksi padi dan beras utama di Indonesia. Produksi padi pada tahun 2019 mecapai 9. 933,88 ton sedangkan produksi beras 725,94 ton membawa Jawa Timur menjadi provinsi kedua produksi padi dan beras tertinggi di Indoneisa. Penyebab tingginya angka produksi tersebut salah satunya didukung dengan ketersediaan lahan pertanian yang masih cukup luas. Berikut merupakan tabel luas lahan sawah provinsi Jawa Timur pada tahun 2015-2019. Tabel 1. Luas Lahan Sawah Provinsi Jawa Timur Tahun 2015-2019 . Tahun Luas Lahan Sawah . Sumber: Statistik Lahan Pertanian, 2015-2020 Berdasarkan Tabel 1. menampilkan data kondisi luas lahan sawah provinsi Jawa Timur pada tahun 2015 saimpai 2019 mengalami penurunan dan kenaikan. Pada tahun 2016 luas lahan mengalami penurunan sebesar 4. 734 ha. Pada tahun 2017 luas lahan sawah kembali mengalami penurunan sebesar 5. 145 ha. Namun pada tahun 2018 mengalami lonjakan yang cukup drastis 483 ha, dan pada tahun 2019 kembali mengalami penurunan sebesar 72. 447 ha. Kondisi turunnya luas lahan sawah dapat dipengaruhi oleh faktor meningkatnya jumlah penduduk dan pembukaan lahan pertanian baru yang menyebabkan naiknya luas lahan sawah. Kabupaten Sidoarjo merupakan salah satu kabupaten yang berada di Jawa Timur dengan luas wilayah 634,4 km2 yang tidak begitu jauh ketaknya dari ibu kota Jawa Timur. Pada tahun 2017 luas panen bersih padi di Kabupaten Sidoarjo 32. 731,00 ha, dengan rata-rata produksi padi 62,9 kw/ha, dan produksi padi sebesar 2. 900,00 ton. Namun angka tersebut mengalami penurunan pada tahun 2018 sebesar 0,68% dengan luas panen bersih padi menjadi 29. 968,00 ha, rata-rata produksi padi 68,2 kw/ha, dan produksi padi sebesar 2. 800,00 ton. Penurunan terjadi dapat dikarenakan adanya faktor lingkungan seperti faktor cuaca dan hama, ataupun dampak dari alih fungsi lahan pertanian yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Luas lahan pertanian di Kabupaten Sidoarjo terus mengalami penurunan dari tahun 2015-2018. Berikut merupakan tabel luas lahan sawah menurut jenis pengairan di Kabupaten Sidoarjo tahun 2015-2018. Tabel 2. Luas Lahan Sawah Menurut Jenis Pengairan di Kabupaten Sidoarjo Tahun 2015-2018 Tahun Luas Lahan Sawah . 205,00 852,00 690,00 227,00 Sumber: Badan Pusat Statistik Sidoarjo, 2015-2018 JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Firizky Ramadhani, dkk Ae Analisis Alih Fungsi Lahan Pertanian di Kecamatan Candi Kabupaten . Berdasarkan Tabel 2 menampilkan luas lahan sawah menurut jenis pengairan di Kabupaten Sidoarjo tahun 2015-2018. Luas lahan sawah di Kabupaten Sidoarjo konsisten mengalami penurunan sejak tahun 2015-2018. Pada tahun 2016 mengalami penurunan sebesar 398 ha dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2017 penurunan kembali terjadi sebesar 162 ha, dan tahun 2018 juga mengalami kenaikan penurunan lahan sebesar 463 ha. Penurunan luas lahan sawah dapat dipengaruhi faktor pendorong berupa pertumbuhan penduduk, pembangunan insfratruktur, perumahan, maupun pengembangan kawasan industri yang tinggi permintaannya mengingat jarak Kabupaten Sidoarjo begitu dekat dengan ibu kota Provinsi Jawa Timur. Kelengkapan & perbaikan insfratruktur seperti jalan raya tersebut membuat menyebabkan pertumbuhan yang sangat cepat dibeberapa sektor ekonomi salah satunya di bidang industri. Menurut (Mustopa, 2. menyatakan bahwa pertumbuhan tersebut juga membutuhkan lahan yang lebih luas sehingga terjadi peningkatan kebutuhan lahan untuk pembangunan di berbagai sektor khususnya sektor industri. Kecamatan Candi merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Sidoarjo yang termasuk dalam wilayah peri-urban. Wilayah peri-urban adalah wilayah pinggiran kota yang berada di antara wilayah perkotaan dan pedesaan, yang mengalami perubahan dan berkembang seiring dengan pengaruh kegiatan perkotaan. Berdasarkan hasil penelitian (Hapsari & Ulfa, 2. menyatakan bahwa wilayah peri urban Sidoarjo yang menunjukkan karakteristik kekotaan lebih besar pada zona bingkai kota salah satunya adalah Kecamatan Candi. Zona bingkai kota merupakan wilayah peri urban dengan karakteristik tingkat kekotaan dominan. Hal ini ditunjukkan dari penggunaan lahan maupun mata pencaharian non pertanian lebih besar dibandingkan pertanian, kepadatan bangunan tergolong tinggi, serta kepadatan penduduk dan laju pertumbuhan penduduk yang tergolong tinggi. Berikut merupakan data mengenai perkembangan penduduk Kecamatan Candi tahun 2016-2020 (Silvian et al. , 2024a. Sumawardhani et al. , 2023. Tabel 3. Jumlah Penduduk Kecamatan Candi Tahun 2016-2020 Tahun Jumlah Penduduk (Jiw. Sumber : Kecamatan Candi dalam angka 2016-2020 Berdasarkan Tabel 3 tersebut terjadi lonjakan pertambahan jumlah penduduk sebesar 855 jiwa dalam kurun waktu 5 tahun telakhir dari tahun 2016-2020. Semakin tinggi kepadatan penduduk suatu wilayah dapat mencirikan karakteristik kekotaan. Begitu pula dengan laju pertumbuhan penduduk, dimana laju pertumbuhan penduduk yang tinggi mencirikan sifat Hal ini dikarenakan kota merupakan tarikan bagi penduduk desa sehingga kepadatan dan pertumbuhan penduduknya lebih tinggi dibandingkan desa. Tingginya laju penduduk tersebut dapat menyebabkan alih fungsi lahan pertanian. Kegiatan alih fungsi lahan pertanian khususnya lahan persawahan akan memunculkan berbagais dampak terhadap kondisi sosial dan ekonomi petani di Kecamatan Candi. Dampak tersebut bisa bersifat positif ataupun negatif bagi kehidupan sosial ekonomi para petani. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perkembangan alih fungsi lahan pertanian di kecamatan Candi, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan pertanian di Kecamatan Candi, mengetahui dampak sosial ekonomi petani yang lahan pertaniannya beralih fungsi menjadi lahan non pertanian di Kecamatan Candi (Rondhi et al. , 2. METODE PENELITIAN Penentuan lokasi penelitian ini ditetntukan secara sengaja . yaitu di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo. Lokasi yang digunakan di Kecamatan Candi adalah desa Kedungkendo. Sidodadi. Jambangan dan Karangtanjung yang petaninya menjual lahan sawahnya. Keempat desa tersebut dipilih karena penjualan lahan pertanian dilakukan selama 10 tahun JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 275-282 Waktu penelitian yang dilakaukan adalah 01 Juni 2025 Ae 31 Juni 2025. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Penentuan reponden dalam penelitian ini ditentukan secara snowball sampling karena sesuai dengan prinsip snowball sampling yaitu berguna ketika populasi sangat sulit untuk didapatkan. Pengambilan sampel yang akan diteliti dilakukan kepada 30 orang petani yang memenuhi persyaratan, yaitu petani yang mengalihfungsikan lahan pertaniannya. Metode analisis dalam penelitian ini yaitu dengan analisis trend eksponensial, regresi linier berganda menggunakan SPSS ver 23, dan analisis secara HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan alih fungsi lahan pertanian di Kecamatan Candi selama 10 tahun telakhir terus mengalami penurunan dan terjadi kenaikan pada tahun 2023 sebanyak 1 hektar. Luas lahan pertanian tersebut berpotensi mengalami penurunan. Berdasarkan 4 desa yang menajdi tempat penelitian di Kecamatan Candi alih fungsi yang dilakukan adalah dengan merubah sawah menajdi area perumahan. Berdasarkan rumus trend eksponensial : Yts =Y0s ert atau ln yts = ln Y0s rt, diperoleh bentuk eksponensial Yts = 1052. 0205t dengan nilai R2 sebesar 0,9311. Tabel 4. Hasil Analisis Tren Perkembanagan Alih Fungsi Lahan Sawah di Kecamatan Candi Tahun Prediksi Luas Lahan (H. Alih Fungsi (H. Alih fungsi (%) Sumber : Data primer diolah, 2025 Tabel 4 Menunjukkan hasil peramalan menggunakan model tren eksponensial, diproyeksikan bahwa luas lahan pertanian akan terus menurun hingga 10 tahun kedepan atau Penurunan ini diperkirakan terjadi secara eksponensial dengan rata-rata alih fungsi sekitar 2% per tahun. Dimulai dari 853,75 hektar pada tahun 2025 luas lahan akan turun menjadi 711,09 hektar pada tahun 2034. Hal ini menunjukkan pentingnya upaya mitigasi terhadap alih fungsi lahan agar keberlanjutan pertanian tetap terjaga. Faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan pertanian di Kecamatan Candi dalam penelitian ini terdapat variabel dependen yaitu luas lahan pertanian yang dialihfungsikan . , dan variabel dependen yaitu umur petani (X. , pendidikan petani (X. , modal usahatani (X. , pendapatan usahatani (X. , sistem warisan (X. , jumlah tanggungan keluarga (X. dan kebutuhan mendesak (X. Berdasarkan hasil regresi linier berganda menggunakan SPSS ver 23 diperoleh sebagai berikut : Koefisien Determinasi (R. Tabel 5. Hasil Koefisien Determinasi (R. Model RSquare Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Berdasarkan tabel 5 diatas diperoleh nilai R Square sebesar 0,988 maka berkesimpulan bahwa sumbangan pengaruh variabel variabel independen umur, pendidikan, modal, pendapatan, sistem waris, jumlah tanggungan dan kebutuhan mendesak secara simultan sebesar 98,5% sisanya 1,5% yang dipengaruhi oleh variabel lain tidak dimasukkan dalam model. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Firizky Ramadhani, dkk Ae Analisis Alih Fungsi Lahan Pertanian di Kecamatan Candi Kabupaten . Uji Statistik F Tabel 6. Hasil Statistik Uji F Model Regression Residual Total Sum of Squares df Mean Square Sig Berdasarkan tabel diatas dapat diperoleh bahwa nilai signifikansi kurang dari 0,005 . ,000 < 0,. atau dengan F hitung 269. 015 > F tabel 2,46. Sehingga variabel independen umur (X. , pendidikan (X. , modal (X. , pendapatan (X. , sistem waris (X. , jumlah tanggungan (X. , dan kebutuhan mendesak (X. berpengaruh signifikan secara simultan . ersama-sam. terhadap luas lahan pertanian (Y). Uji Statistik T Tabel 3. Hasil Statistik Uji T Model Unstandardized Coefficients 1 (Constan. Umur Pendidikan Modal 817E-11 Pendapatan 310E-11 Sistem Waris Jumlah Tanggungan Kebutuhan Mendesak Dependent Variable: Luas lahan Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. Berdasarkan hasil uji T tersebut diperoleh hasil. Umur (X. Umur dapat mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan (Gusti et al. , 2. Hasil uji menunjukkan nilai signifikasi variabel umur (X. sebesar 0,723. Karena nilai Sig. 0,422 > 0,05 bahwa umur petani tidak berpengaruh signifikan terhadap alih fungsi lahan. Meskipun mayoritas petani berusia di atas 50 tahun, keputusan alih fungsi lahan lebih banyak dipengaruhi oleh tekanan ekonomi dan keputusan keluarga. Hal ini didukung oleh penelitian Irmawati et al. yang juga menemukan bahwa umur bukan faktor signifikan dalam alih fungsi lahan. Pendidikan (X. Pendidikan Berdasarkan gambar diketahui nilai signifikasi variabel pendidikan (X. sebesar 0,045. Karena nilai Sig. 0,045 > 0,05 maka pendidikan berpengaruh signifikan terhadap alih fungsi lahan. Hal ini menunjukkan petani berpendidikan tinggi cenderung mempertahankan lahannya karena memahami pentingnya keberlanjutan pertanian. Hasil ini sejalan dengan penelitian Sumawardhani et al. namun dalam penelitian tersebut petani dengan pendidikan rendah cenderung mengalihfungsikan lahannya. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh konteks geografis dan akses pendidikan yang lebih baik di lokasi penelitian. Modal (X. Nilai signifikasi variabel modal (X. Karena nilai Sig. 0,000 < 0,05 maka modal memiliki pengaruh signifikan. Petani dengan modal besar cenderung memiliki lahan lebih luas dan kapasitas pengelolaan yang lebih tinggi. Namun, tekanan biaya pada petani berlahan sempit menyebabkan potensi alih fungsi. Modal bukan hanya mendukung keberlangsungan usahatani tetapi juga secara langsung berkaitan dengan kapasitas pengelolaan (Mundung et al. , 2. Pendapatan (X. Nilai signifikasi variabel pendapatan (X. sebesar 0,000. Karena nilai Sig. 0,000 < 0,05 maka pendapatan berpengaruh signifikan terhadap alih fungsi lahan. Petani dengan pendapatan tinggi cenderung tetap bertani, namun alih fungsi dilakukan sebagai strategi ekonomi untuk memperoleh keuntungan lebih besar di tempat lain. Hal ini menunjukkan bahwa alih fungsi tidak selalu dilandasi oleh tekanan ekonomi. Ade Fadillah . menemukan bahwa luas lahan berpengaruh positif terhadap pendapatan petani. Artinya semakin luas lahan yang dikelola oleh JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 275-282 petani dan semakin besar modal yang digunakan, maka semakin tinggi pula pendapatan yang diperoleh dari kegiatan usahatani. Sistem Waris (X. Sistem waris nilai signifikasi variabel sistem waris (X. sebesar 0,873. Karena nilai Sig. 0,873 > 0,05 maka sistem waris tidak berpengaruh secara signifikan. Meskipun sebagian lahan berasal dari warisan, luasnya sering kali kecil dan kurang ekonomis. (Martunisa & Noor, 2. lahan hasil warisan yang sempit dan tidak menguntungkan secara ekonomi dan banyak diwariskan bukan dalam bentuk lahan melainkan rumah atau uang hasil penjualan lahan. Jumlah Tanggungan (X. Nilai signifikasi variabel jumlah tanggungan (X. sebesar 0,448. Karena nilai Sig. 0,448 > 0,05 maka tidak ditemukan pengaruh signifikan antara jumlah tanggungan dengan alih fungsi lahan Kebutuhan ekonomi rumah tangga tidak secara langsung memengaruhi keputusan menjual lahan. Penelitian Silvian et al. jumlah tanggungan tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan petani dalam melakukan alih fungsi lahan dari padi ke kelapa sawit. Kebutuhan Mendesak (X. Kebutuhan mendesak berpengaruh signifikan terhadap alih fungsi lahan karena nilai signifikasi variabel kebutuhan mendesak (X. sebesar 0,036. Karena nilai Sig. 0,036 < 0,05. Faktor ini menjadi pendorong kuat bagi petani untuk menjual lahannya, terutama untuk memenuhi kebutuhan penting seperti pengobatan, pendidikan, atau keperluan Pratiwi MK. Andi Nuddin. Iradhatullah Rahim . menjelaskan bahwa hasil usahatani tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga menjual lahan menjadi solusi cepat untuk memperoleh dana tunai. Alih fungsi lahan pertanian di Kecamatan Candi. Kabupaten Sidoarjo, memberikan dampak yang signifikan terhadap kondisi sosial ekonomi rumah tangga petani. Dampak sosial yang terjadi adalah munculnya mata pencaharian baru, yang memberikan dampak positif akibat alih fungsi lahan pertanian. Banyak masyarakat mendapatkan pekerjaan seperti menjadi buruh pabrik dan banyak yang berwirausaha di bidang non pertanian. Dengan berlaihfungsinya lahan pertanian menjadi perumahan secara otomatis meningkatkan jumlah penduduk sehingga kegiatan non pertanian seperti berdagang dan jasa semakin berkembang. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara petani hubungan dengan keluarga sebelum dan sesudah alih fungsi lahan masih berjalan dengan baik. Hal ini dikarenakan rata-rata kepemilikan lahan merupakan lahan warisan dari orang tua, sehingga petani perlu berdiskusi dengan keluarga untuk mengalihfungsikan Proses ini rawan terjadi konflik dengan anggota keluarga yang tidak setuju dengan menjual lahan sawah. Dampak ekonomi yang terjadi adalah menurunnya produksi pangan utama, terjadi akibat alih fungsi lahan pertanian maka secara otomatis akan kehilangan produksi pangan utama yaitu Karena lahan yang seharusnya ditanami berubah menajdi lahan non pertanian, contoh perumahan atau pemukiman, industri maupun infrastruktur yang lain. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Chofyan . menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara laju alih fungsi lahan dengan laju penurunan produksi padi. Selain itu, meningkatnya peluang usaha. Akibat alih fungsi lahan pertanian meningkatkan sebagaian masyarakat untuk dijadikan sebagai peluang berusaha, banyak investor yang masuk dan berusaha membuat kawasan Kesempatan memperoleh tambahan dari pendapatan non pertanian, akibat banyaknya alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan maupun industri banyak petani memperoleh pendapatan tamabahn dari sektor non industri. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan Hasil analisis tren eksponensial menunjukkan bahwa luas lahan pertanian di Kecamatan Candi mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan alih fungsi lahan secara terus-menerus seiring dengan pertumbuhan wilayah dan meningkatnya tekanan pembangunan. Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda, ditemukan bahwa variabel yang berpengaruh signifikan terhadap alih fungsi lahan pertanian adalah tingkat pendidikan, pendapatan, modal dan kebutuhan mendesak. Sementara itu, variabel umur, jumlah JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Firizky Ramadhani, dkk Ae Analisis Alih Fungsi Lahan Pertanian di Kecamatan Candi Kabupaten . tanggungan, dan sistem waris tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap alih fungsi lahan dalam penelitian ini. Dampak sosial ekonomi dari alih fungsi lahan menunjukkan bahwa meskipun terdapat peningkatan pendapatan jangka pendek dari hasil penjualan lahan, namun dalam jangka panjang petani mengalami kerentanan ekonomi akibat hilangnya sumber penghidupan Saran Pemerintah Kabupaten Sidoarjo perlu melakukan pengendalian ketat terhadap alih fungsi lahan pertanian, khususnya di kawasan yang telah ditetapkan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dalam dokumen RTRW Kabupaten Sidoarjo. Perlu dilakukan edukasi dan peningkatan literasi tata ruang bagi masyarakat khususnya petani, agar mereka memahami status dan fungsi lahan yang dimilikinya dalam konteks perencanaan ruang. DAFTAR PUSTAKA