PROGRES PENDIDIKAN Vol. No. Januari 2026, pp. p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348. DOI: 10. 29303/prospek. PENERAPAN KARTU AKSI HAK DAN KEWAJIBAN (KAHK) BERBASIS CTL MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA KELAS VI SD PANCASILA Santi Yohana Simanjuntak. Susilo Tri Widodo. Diana Rawung Universitas Negeri Semarang. Indonesia Informasi Artikel ABSTRAK Riwayat Artikel: Pembelajaran hak dan kewajiban di Sekolah Dasar masih menghadapi berbagai kendala, terutama terkait kurangnya pemahaman siswa dalam membedakan kedua konsep tersebut serta rendahnya fokus belajar selama pembelajaran berlangsung. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan efektivitas penerapan Kartu Aksi Hak dan Kewajiban (KAHK) berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam meningkatkan pemahaman siswa kela VI SD Pancasila. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan melibatkan guru, dan siswa. Data analisis Melalui reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum penerapan KAHK, siswa sering mengalami kesulitan memahami materi karena kurangnya media konkret dan perbedaan kemampuan belajar didalam kelas. Guru juga menemui kendala seperti siswa kurang fokus, bermain saat pembelajaran, serta adanya beberapa siswa yang belum menangkap inti materi meskipun sudah berusaha mengikuti pembelajaran. Penerapan KAHK berbasis CTL membantu mengatasi kendala tersebut dengan menghadirkan situasi nyata, aktivitas klasifikasi, dan diskusi reflektif yang membuat siswa lebih fokus, aktif, dan antusias. Temuan ini menunjukkan bahwa KAHK berbasis CTL efektif meningkatkan pemahaman siswa mengenai hak dan kewajiban sekaligus memperbaiki motivasi dan keterlibatan mereka dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila. Diterima: 11-11-2025 Direvisi: 28-12-2025 Dipublikasikan: 31-01-2026 Kata-kata kunci: KAHK, Hak dan Kewajiban, media konkret. Pendidikan Pancasila. This is an open access article under the CC BY-SA license. Penulis Korespondensi: Santi Yohana Simanjuntak. Universitas Negeri Semarang. Indonesia Email: santiyohanasimanjuntak1@students. PENDAHULUAN Pembelajaran Pendidikan Pancasila di Sekolah Dasar memiliki peran penting dalam membentuk karakter, kedisiplinan, serta kesadaran siswa terhadap norma dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu materi mendasar dalam Pendidikan Pancasila adalah hak dan kewajiban yang menjadi landasan pembentukan sikap tanggung jawab dan kepatuhan siswa. Namun, dalam praktik pembelajaran, pemahaman siswa mengenai hak dan kewajiban masih tergolong rendah. Banyak siswa belum mampu membedakan kedua konsep tersebut, kurang fokus saat pembelajaran berlangsung, serta mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi contoh perilaku yang termasuk hak atau kewajiban. Kondisi ini menunjukkan perlunya media pembelajaran konkret yang mampu membantu siswa mengaitkan materi dengan pengalaman nyata. Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pembelajaran Pendidikan Pancasila di Sekolah Dasar masih menghadapi kendala, seperti rendahnya pemahaman konsep, dominasi metode ceramah, kurangnya Journal homepage: http://prospek. id/index. php/PROSPEK ye p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 penggunaan media konkret, serta minimnya keterlibatan aktif siswa (Pramudya & Paksi, 2. Temuan ini sejalan dengan penelitian Ramadhani Putri Nurvita . yang menyatakan bahwa pembelajaran Pendidikan Pancasila masih bersifat tekstual dan belum mengaitkan materi dengan konteks kehidupan siswa, sehingga pemahaman konsep belum optimal. Sementara itu. Surayanah et al. menegaskan bahwa pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) mampu meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila karena siswa diajak menghubungkan materi dengan pengalaman nyata. Hal serupa juga ditemukan oleh Manurung et . yang menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual efektif dalam menumbuhkan karakter siswa, khususnya sikap tanggung jawab dan kepatuhan terhadap aturan sekolah. Selain itu. Ilham et al. menekankan bahwa pendekatan kontekstual relevan untuk menanamkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Meskipun berbagai penelitian tersebut telah mengkaji efektivitas pendekatan CTL dan pentingnya penggunaan media konkret dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila, kajian yang ada masih cenderung berfokus pada peningkatan hasil belajar secara umum, penguatan karakter, atau implementasi CTL tanpa mengaitkannya secara spesifik dengan media pembelajaran tertentu. Di sisi lain, penelitian yang mengkaji media konkret pada pembelajaran hak dan kewajiban masih terbatas dan belum mengintegrasikan pendekatan CTL secara sistematis. Dengan demikian, terdapat celah penelitian . esearch ga. berupa belum adanya kajian yang secara khusus mengkaji penerapan Kartu Aksi Hak dan Kewajiban (KAHK) sebagai media pembelajaran berbasis CTL dalam meningkatkan pemahaman siswa Sekolah Dasar mengenai hak dan kewajiban. Berdasarkan celah penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan KAHK berbasis CTL dalam meningkatkan pemahaman hak dan kewajiban siswa kelas VI SD Pancasila. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian tentang pengembangan media pembelajaran konkret dalam Pendidikan Pancasila serta memberikan alternatif praktis bagi guru dalam menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, dan berorientasi pada pengalaman nyata siswa. METODE PENELITIAN 1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan memahami secara mendalam penerapan Kartu Aksi Hak dan Kewajiban (KAHK) berbasis Contextual Teaching Learning (CTL) dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai hak dan kewajiban. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti mengeksplorasi fenomena pembelajaran secara alamiah, termasuk respons siswa, dinamika kelas, serta kendala yang muncul sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian-penelitian sebelumnya tentang pembelajaran kontekstual dan media konkret (Ilham et al. , 2023. Pramudya & Paksi, 2024. Ramadhani Putri Nurvita, 2025. Surayanah et al. , 2. 2 Partisipan Partisipan dalam penelitian ini meliputi guru kelas VI, siswa kelas VI, dan kepala sekolah SD Pancasila. Pemilihan partisipan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan keterlibatan langsung dalam proses pembelajaran Pendidikan Pancasila, khususnya pada materi hak dan kewajiban. Peneliti berperan sebagai instrumen utama . uman instrumen. yang merancang dan melaksanakan pembelajaran, mulai dari penyusunan RPP sesuai Kurikulum Merdeka, pengembangan media KAHK, hingga implementasi pembelajaran di kelas. Guru kelas berperan sebagai observer yang mengamati jalannya pembelajaran serta menilai keterlibatan siswa dan kesesuaian penerapan KAHK dengan prinsip CTL. 3 Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara digunakan untuk menggali secara mendalam pandangan guru, peserta didik, dan kepala sekolah terkait kondisi pembelajaran, kendala yang dihadapi selama proses belajar mengajar, serta respons terhadap penerapan media KAHK berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL). Teknik wawancara dipilih karena mampu memberikan informasi yang komprehensif mengenai pengalaman dan persepsi subjek penelitian terhadap pembelajaran yang diterapkan (Balpi Rutika et al. , 2023. Lega et al. , 2. Observasi dilaksanakan secara langsung bersamaan dengan implementasi media KAHK dalam Melalui observasi, peneliti mengamati jalannya proses pembelajaran, keterlibatan siswa, serta aktivitas guru dan peneliti selama penerapan pendekatan CTL. Observasi ini bertujuan untuk memperoleh data faktual mengenai aktivitas belajar siswa dan efektivitas pembelajaran kontekstual yang mengaitkan materi dengan pengalaman nyata peserta didik (Kamarudin et al. , 2023. Maryanto et al. , 2. Dokumentasi digunakan sebagai data pendukung yang meliputi foto kegiatan pembelajaran, perangkat pembelajaran, serta hasil karya atau produk siswa. Data dokumentasi berfungsi untuk memperkuat dan memverifikasi temuan hasil wawancara dan observasi sehingga meningkatkan keabsahan data penelitian melalui triangulasi teknik (Balpi Rutika et al. , 2. 4 Analisis Data Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan sebagaimana dikemukakan oleh Miles dan Huberman. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2026: 71 - 77 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Ae73 dan teknik, yaitu membandingkan hasil wawancara, observasi guru, dan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan di SD Pancasila selama rangkaian pembelajaran materi hak dan kewajiban pada semester HASIL DAN PEMBAHASAN . PT) Hasil Data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang dilaksanakan di kelas VI SD Pancasila. Wawancara dilakukan dengan guru kelas, serta beberapa siswa sebagai narasumber utama untuk memperoleh informasi mengenai pelaksanaan pembelajaran dan respons siswa terhadap penerapan Kartu Aksi Hak dan Kewajiban (KAHK) berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) Selain itu, data observasi diperoleh saat peneliti melaksanakan pembelajaran menggunakan KAHK dan guru bertindak sebagai observer yang menilai proses pembelajaran, interaksi siswa, serta efektivitas media. Seluruh data dianalisis secara kualitatif untuk mengidentifikasi pola-pola yang muncul selama pembelajaran Bagian ini menyajikan hasil temuan lapangan secara objektif sebelum dikaitkan dengan teori pada bagian pembahasan. Narasumber Pengumpulan Data Informan 1 : Guru kelas VI SD Pancasila Tanggal Wawancara : 03 November 2025 Tempat Wawancara : Ruang Kepala Sekolah SD Pancasila Informan 2 Tanggal Wawancara Tempat Wawancara : Beberapa siswa kelas VI SD Pancasila : 06 November 2025 : Ruang Kelas VI SD Pancasila Hasil Wawancara Guru Kelas VI Apa kendala utama yang Bapak/Ibu hadapi dalam pembelajaran hak dan kewajiban? Jawaban: Masih ada siswa yang belum mengerti materi dan beberapa kurang fokus. Ada juga yang bermain ketika pembelajaran berlangsung. Apakah ada perbedaan kemampuan siswa dalam memahami materi? Jawaban: Ada, kemampuan mereka bervariasi. Beberapa cepat memahami, sebagian lain perlu contoh konkret dan penjelasan ulang. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang penerapan media KAHK berbasis CTL? Jawaban: Sangat membantu. Siswa jadi lebih mudah memahami karena situasinya mirip dengan kejadian sehari-hari mereka di sekolah. Hasil Wawancara dengan Beberapa Siswa kelas VI Apakah kamu merasa mudah memahami materi hak dan kewajiban saat menggunakan KAHK? Jawaban: Ya, karena contohnya sama dengan kejadian di kelas atau saat istirahat. Apakah KAHK membuat pembelajaran lebih menarik? Jawaban: Menarik sekali. Kami bisa membaca kartu, berdiskusi, dan menentukan apakah itu hak atau Apa yang membuat KAHK mudah dipahami? Jawaban: Karena gambarnya dan ceritanya seperti kejadian yang sering kami lihat. Jadi lebih paham. Apakah kamu menjadi lebih tahu hak dan kewajiban setelah menggunakan KAHK? Jawaban: Iya. Sekarang lebih tahu mana yang menjadi kewajiban kami dan mana hak kami sebagai siswa. Pembahasan Pembahasan ini menguraikan secara komprehensif temuan penelitian mengenai penerapan Kartu Aksi Hak dan Kewajiban (KAHK) berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas VI SD Pancasila. Analisis dilakukan dengan membandingkan temuan lapangan dengan teori pembelajaran kontekstual, prinsip media konkret, serta hasil-hasil penelitian relevan yang telah diidentifikasi dalam jurnal-jurnal sebelumnya. Secara umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman nyata memberikan dampak positif terhadap pemahaman, sikap, dan Simanjuntak et al. Penerapan Kartu Aksi . ye p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 motivasi belajar siswa dalam mempelajari konsep hak dan kewajiban. Pembahasan berikut disajikan berdasarkan tiga fokus utama penelitian: . penerapan KAHK berbasis CTL, . respons dan pemahaman siswa, dan . faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan. 1 Penerapan KAHK Berbasis CTL dalam Pembelajaran Proses penerapan Kartu Aksi Hak dan Kewajiban (KAHK) berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) yang berlangsung secara sistematis sejalan dengan karakteristik pembelajaran PKn di sekolah CTL menekankan keterkaitan antara materi pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata siswa, sehingga konsep abstrak seperti hak dan kewajiban menjadi lebih konkret dan bermakna. Pendekatan ini sangat relevan bagi siswa SD yang masih berada pada tahap operasional konkret, di mana pemahaman akan lebih optimal apabila didukung oleh pengalaman langsung dan visualisasi nyata (Yonanda et al. , 2. Tahap awal pembelajaran berupa pengenalan konsep dasar hak dan kewajiban serta penjelasan mekanisme penggunaan media KAHK merupakan bagian penting dalam CTL. Orientasi yang jelas membantu siswa membangun kesiapan kognitif dan afektif sebelum memasuki aktivitas inti pembelajaran. (Najib, 2. menegaskan bahwa pembelajaran PKn yang efektif di sekolah dasar memerlukan arahan awal yang konkret agar siswa mampu memahami peran dan tanggung jawabnya sebagai warga sekolah, sekaligus menghindari miskonsepsi sejak awal proses belajar. Selanjutnya, kegiatan mengamati kartu KAHK secara berkelompok mencerminkan penerapan komponen constructivism dalam CTL, di mana siswa membangun pengetahuan melalui interaksi langsung dengan objek belajar dan diskusi sosial. Media kartu yang memuat ilustrasi peristiwa sehari-hari terbukti efektif sebagai pemantik analisis, karena siswa dapat mengaitkan materi dengan pengalaman personal mereka. Hal ini sejalan dengan temuan (Ficha Aulia Nanda et al. , 2. yang menyatakan bahwa penggunaan media kontekstual dalam pembelajaran hak dan kewajiban anak mampu meningkatkan keterlibatan siswa serta mempermudah internalisasi nilai-nilai kewarganegaraan ke dalam perilaku sehari-hari. Respons spontan siswa seperti mengaitkan ilustrasi kartu dengan pengalaman piket atau kegiatan di perpustakaan menunjukkan bahwa pembelajaran telah berhasil mengaktifkan memori pengalaman nyata siswa. Aktivasi pengalaman personal ini merupakan indikator penting keberhasilan CTL, karena pembelajaran tidak hanya berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi juga mendorong siswa merefleksikan dan memaknai tindakan mereka dalam konteks kehidupan sosial. Penelitian sebelumnya menegaskan bahwa pembelajaran PKn yang mengaitkan materi dengan situasi nyata siswa mampu meningkatkan pemahaman konseptual sekaligus kesadaran moral dan tanggung jawab sosial siswa secara lebih mendalam (Nurlina Basri, 2. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Ramadhani Putri Nurvita, 2. yang menegaskan bahwa CTL pada Pendidikan Pancasila membuat proses pemahaman nilai lebih mudah ketika guru menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari siswa. Demikian pula penelitian (Surayanah et al. , 2. yang menekankan pentingnya konteks autentik sebagai dasar bagi siswa untuk memproses informasi secara bermakna. Dalam penelitian ini, konteks autentik tersebut tercermin melalui visualisasi konkret dalam KAHK. Pada tahap diskusi kelompok, siswa menunjukkan dinamika pembelajaran yang hidup. Mereka saling bertukar pandangan, menghubungkan isi kartu dengan pengalaman pribadi, dan memberikan alasan mengapa suatu tindakan termasuk hak atau kewajiban. Interaksi ini memperkuat komponen learning community pada CTL. Guru mencatat bahwa kartu yang memuat situasi sosial yang dekat dengan siswa membuat diskusi berjalan lebih natural dibandingkan pembelajaran biasanya. Siswa tidak hanya menjawab Auitu hakAy atau Auitu kewajiban,Ay tetapi juga memberikan argumentasi moral sederhana, misalnya Aukarena semua orang harus kebagian,Ay Ausupaya kelas bersih,Ay atau Aukalau tidak antre nanti berebut. Ay Pola kegiatan ini mendukung temuan (Pramudya & Paksi, 2. bahwa media konkret dapat mengembangkan kemampuan berpikir analitis siswa karena mereka dapat melihat, menafsirkan, dan menilai situasi nyata. (Manurung et al. , 2. juga sejalan dengan temuan ini, di mana pembelajaran kontekstual dalam Pendidikan Pancasila tidak hanya menanamkan konsep, tetapi juga mendorong internalisasi nilai. Refleksi akhir menunjukkan bahwa siswa mampu merumuskan sendiri pengertian hak dan kewajiban dengan bahasa mereka sehingga menunjukkan terjadinya proses meaning making. Dengan demikian, penerapan KAHK berbasis CTL terbukti berhasil mengubah pembelajaran hak dan kewajiban yang awalnya bersifat abstrak menjadi konkret, kontekstual, dan mudah dipahami. 2 Respons dan Pemahaman Siswa terhadap Penggunaan KAHK Respons siswa terhadap penggunaan KAHK menunjukkan hasil yang sangat positif dan berperan penting dalam keberhasilan pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, siswa menyatakan bahwa materi menjadi lebih mudah dipahami karena situasi yang disajikan dalam kartu KAHK berkaitan langsung dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari mereka. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Maryanto et al. , 2. yang menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual mampu membantu siswa PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2026: 71 - 77 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Ae75 memahami materi PKn dengan lebih baik karena mengaitkan konsep pembelajaran dengan realitas kehidupan Melalui penggunaan KAHK, siswa tidak hanya menerima penjelasan konseptual mengenai hak dan kewajiban, tetapi juga mengamati serta mendiskusikan contoh-contoh konkret yang mereka jumpai di lingkungan rumah dan sekolah. Hal ini selaras dengan pendapat (Lega et al. , 2. yang menegaskan bahwa pemahaman hak dan kewajiban akan lebih bermakna apabila siswa terlibat langsung dalam kegiatan belajar dan dihadapkan pada contoh nyata, bukan sekadar hafalan definisi. Selain itu, keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran berbasis konteks nyata juga berdampak pada meningkatnya kesadaran dan sikap tanggung jawab siswa sebagai warga negara sejak usia sekolah dasar (Balpi Rutika et al. , 2. Dengan demikian, penggunaan KAHK tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep . anah kogniti. , tetapi juga memperkuat sikap dan nilai kewarganegaraan siswa . anah afekti. Guru mencatat bahwa siswa yang biasanya sulit memberi perhatian saat guru menjelaskan secara lisan menjadi lebih aktif saat KAHK digunakan. Siswa tampak antusias melihat ilustrasi kartu, membaca situasi, dan memberikan pendapat. Salah satu siswa bahkan mengatakan bahwa Aubelajar jadi tidak membosankan karena seperti bermain kartu. Ay Temuan ini selaras dengan penelitian (Pramudya & Paksi, 2. yang menunjukkan bahwa media konkret mampu meningkatkan perhatian dan motivasi belajar siswa karena mengaktifkan aspek visual dan kinestetik. Selain itu, kegiatan analisis situasi dalam KAHK menuntut siswa menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti menginterpretasi tindakan, menghubungkan situasi dengan konsep, serta memberikan penjelasan dan pembenaran moral. Proses ini memperkuat pernyataan (Surayanah et al. , 2. bahwa CTL mendorong siswa melihat hubungan antara konsep dan kehidupan realitas mereka, sehingga pemahaman yang terbentuk lebih mendalam dan bertahan lama. Tidak hanya itu, pembelajaran menggunakan KAHK juga berpengaruh pada aspek sosial dan emosional siswa. Guru menyampaikan bahwa setelah pembelajaran, beberapa siswa menunjukkan perubahan perilaku seperti lebih disiplin menjalankan piket atau lebih peduli terhadap kebersihan kelas. Hal ini konsisten dengan temuan (Manurung et al. , 2. bahwa pembelajaran berbasis konteks dapat menumbuhkan kesadaran moral melalui pengalaman langsung. Penelitian (Ilham et al. , 2. turut memperkuat temuan ini dengan menyatakan bahwa pembelajaran yang memanfaatkan konteks nyata dapat mengembangkan karakter dan nilai kebangsaan secara efektif karena siswa memahami alasan di balik aturan dan kewajiban. Dengan demikian, respons siswa yang sangat positif dan peningkatan pemahaman yang signifikan menunjukkan bahwa KAHK berbasis CTL tidak hanya meningkatkan aspek kognitif siswa, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku yang lebih sesuai dengan nilai-nilai Pancasila di lingkungan sekolah. 3 Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan KAHK Berbasis CTL Penerapan KAHK berbasis CTL didukung oleh berbagai faktor yang secara kolektif memperkuat efektivitas pembelajaran. Faktor pendukung pertama adalah antusiasme dan keterlibatan siswa terhadap media yang digunakan. Siswa menunjukkan ketertarikan tinggi terhadap gambar-gambar dalam kartu, terutama karena ilustrasi tersebut menggambarkan situasi sekolah yang mereka kenal. Penelitian (Ramadhani Putri Nurvita, 2. menunjukkan bahwa media yang sesuai dengan kehidupan siswa dapat meningkatkan keterlibatan aktif dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila. Temuan lapangan dalam penelitian ini menggunakan teori tersebut. Faktor pendukung kedua adalah kemampuan guru dalam mengobservasi, mengelola kelas, dan memberikan penguatan saat diperlukan. Guru berperan penting dalam memastikan diskusi berjalan kondusif dan setiap siswa mendapat kesempatan untuk berpartisipasi. Komponen learning community dalam CTL dapat berjalan baik ketika guru memahami dinamika kelompok. Hal ini sejalan dengan temuan (Surayanah et al. yang menyebutkan bahwa peran guru sebagai fasilitator sangat menentukan keberhasilan pembelajaran Faktor pendukung ketiga adalah kesesuaian media dengan gaya belajar siswa SD yang cenderung visual dan kinestetik. Penelitian (Pramudya & Paksi, 2. juga menekankan bahwa media konkret mampu menjembatani kesenjangan antara konsep abstrak dan pengalaman konkret siswa. Dalam penelitian ini. KAHK memungkinkan siswa memanipulasi, membolak-balik, dan membahas kartu secara langsung sehingga pengalaman belajar menjadi lebih bermakna. Namun demikian, implementasi KAHK berbasis CTL juga memiliki beberapa hambatan. Hambatan utama yang ditemukan adalah kesulitan menjaga fokus siswa. Guru menyampaikan bahwa beberapa siswa mudah terdistraksi oleh stimulus kecil, sehingga perlu pendampingan tambahan. Kondisi ini juga ditemukan dalam penelitian (Pramudya & Paksi, 2. yang menyebutkan bahwa siswa SD memiliki rentang perhatian yang pendek sehingga media harus disiapkan secara bervariasi dan menarik. Hambatan kedua adalah perbedaan kemampuan awal siswa. Ketika berdiskusi, siswa yang memiliki pemahaman lebih cepat cenderung mendominasi, sementara siswa lainnya membutuhkan waktu dan bimbingan Simanjuntak et al. Penerapan Kartu Aksi . ye p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Temuan ini selaras dengan penelitian (Ilham et al. , 2. yang menyatakan bahwa diferensiasi instruksi sangat diperlukan dalam pembelajaran kontekstual untuk memastikan setiap siswa dapat memahami materi pada level yang sama. Hambatan ketiga adalah keterbatasan waktu. Guru menyatakan bahwa untuk menganalisis seluruh kartu diperlukan lebih dari satu pertemuan karena diskusi dan refleksi memakan waktu cukup lama. Hal ini juga dilaporkan dalam penelitian (Manurung et al. , 2. yang menyebutkan bahwa pembelajaran kontekstual membutuhkan waktu lebih panjang untuk memberikan ruang bagi siswa memahami konteks dan membuat hubungan antar konsep. Secara keseluruhan, hasil kajian menunjukkan bahwa faktor pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran KAHK berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) memiliki peran yang lebih dominan dibandingkan faktor penghambatnya. Pendekatan CTL menekankan keterkaitan materi pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata siswa sehingga mampu meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik (Kresnadi & Tampubolon PGSD, 2. Dukungan berupa pengelolaan kelas yang kondusif, penggunaan media pembelajaran yang relevan, serta pendampingan guru yang intensif terbukti mampu meminimalkan berbagai kendala pembelajaran di sekolah dasar. Hal ini sejalan dengan pendapat (Afifah & Mukhlis, 2. yang menyatakan bahwa keberhasilan pembelajaran PKn di SD sangat ditentukan oleh strategi pembelajaran yang kontekstual, kreatif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Oleh karena itu, pembelajaran KAHK berbasis CTL dapat diterapkan secara efektif dan berkelanjutan di SD Pancasila. SIMPULAN . PT) Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai penerapan Kartu Aksi Hak dan Kewajiban (KAHK) berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) pada siswa kelas VI SD Pancasila, dapat disimpulkan bahwa model dan media pembelajaran ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai konsep hak dan kewajiban. Pembelajaran yang mengaitkan materi dengan pengalaman nyata mampu mengatasi berbagai kendala yang sebelumnya muncul dalam proses belajar, seperti rendahnya fokus belajar, kesulitan membedakan hak dan kewajiban, serta perbedaan kemampuan siswa dalam memahami materi. Penerapan KAHK berbasis CTL memberikan pengalaman belajar yang konkret dan bermakna melalui kegiatan mengamati situasi nyata, mengelompokkan tindakan, berdiskusi, dan melakukan refleksi. Proses ini tidak hanya meningkatkan pemahaman kognitif siswa, tetapi juga mengembangkan sikap tanggung jawab, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap aturan sekolah. Temuan ini menegaskan bahwa media pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari berperan penting dalam Pendidikan Pancasila karena mampu memfasilitasi internalisasi nilai secara lebih mendalam. Respons siswa terhadap penggunaan KAHK menunjukkan hasil yang positif, ditandai dengan meningkatnya partisipasi, perhatian, dan antusiasme selama pembelajaran. Siswa mampu memberikan alasan logis dalam menentukan hak dan kewajiban serta menunjukkan perubahan perilaku setelah pembelajaran. Keberhasilan ini juga didukung oleh kesesuaian media dengan karakteristik belajar siswa serta kemampuan guru dalam mengelola kelas secara efektif. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Penelitian hanya dilaksanakan pada satu kelas dan dalam rentang waktu yang terbatas sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasikan secara luas. Selain itu, perbedaan kemampuan awal siswa dan keterbatasan waktu pembelajaran menjadi tantangan dalam pelaksanaan kegiatan secara optimal. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan subjek yang lebih beragam, durasi pembelajaran yang lebih panjang, serta mengombinasikan pendekatan kualitatif dengan kuantitatif guna memperoleh hasil yang lebih komprehensif. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa KAHK berbasis CTL dapat menjadi alternatif media konkret yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Pancasila, khususnya pada materi hak dan kewajiban, serta membuka peluang pengembangan model pembelajaran kontekstual dalam menanamkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila di Sekolah Dasar. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada Kepala Sekolah SD Pancasila yang telah memberikan izin serta fasilitas untuk melaksanakan penelitian ini sehingga seluruh proses pengumpulan data dapat berjalan dengan lancar. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada guru kelas VI yang telah bersedia meluangkan waktu untuk diwawancarai, memberikan penilaian terhadap pelaksanaan pembelajaran, serta mendampingi penulis selama proses implementasi media Kartu Aksi Hak dan Kewajiban (KAHK). Penghargaan yang sebesar-besarnya juga diberikan kepada seluruh siswa kelas VI SD Pancasila yang telah berpartisipasi aktif dan memberikan respons yang jujur selama penelitian berlangsung. Tidak lupa, penulis menyampaikan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Pengembangan Pembelajaran PKn SD yang telah memberikan arahan, dukungan akademik, dan masukan ilmiah yang sangat berarti dalam penyusunan penelitian ini. Dengan kontribusi semua pihak, penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2026: 71 - 77 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Ae77 DAFTAR PUSTAKA