Infotekmesin Vol. No. Juli 2025 p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 DOI: 10. 35970/infotekmesin. 2793, pp. Pengaruh Penambahan Konfirgurasi Foam Nine Cell Square Crash box terhadap Pola Deformasi dan Penyerapan Energi Prayogo Arie Bowo1*. Kholis Nur Faizin2 1,2Program Studi Teknologi Rekaysa Otomotif. Politeknik Negeri Madiun 1,2Jln. Ring Road Barat. Winongo. Kec. Manguharjo. Kota Madiun. Jawa Timur 63162. Indonesia E-mail: prayogo_arie@pnm. id1, kholis@pnm. Abstrak Info Naskah: Naskah masuk: 27 Mei 2025 Direvisi: 26 Juni 2025 Diterima: 11 Juli 2025 Crash box adalah komponen penting dalam struktur kendaraan yang dirancang untuk menyerap energi benturan. Rekayasa desain pada crash box telah dikembangkan untuk meningkatkan efektifitas penyerapan energi. Dalam penelitian ini, crash box persegi sembilan sel divariasikan dengan konfigurasi foam. Penambahan foam dipilih karena bobotnya yang ringan sebagai pengisi pada kotak peredam benturan. Simulasi komputer menggunakan perangkat lunak ANSYS digunakan sebagai metode Model crash box persegi sembilan sel terdiri dari tiga persegi dengan panjang masing-masing 30 mm, 50 mm, dan 65 mm dengan ketebalan rusuk penghubung sebesar 2 mm. Kinerja nine cell crash box dievaluasi dari pola deformasi dan penyerapan energi. Pemodelan beban frontal pada crash box dilakukan dengan kecepatan 12 m/s. Berdasarkan hasil simulasi, ditemukan bahwa konfigurasi foam pada nine cell crash box berpengaruh terhadap pola deformasi dan penyerapan energi. Model CF-CB 3 memberikan penyerapan energi sebesar 34% dibandingkan dengan crash box tanpa busa karena pola deformasi yang lebih seragam. Abstract Keywords: square crash box. foam configuration. energy absorption. deformation pattern. Crash box is a crucial component in a vehicle's structure, designed to absorb impact Crash box design has been developed to improve energy absorption capability. In this study, the square nine-cell crash box is varied with foam configuration. The addition of foam was chosen due to its lightweight as a filler for crash box. The research method used a computer simulation using ANSYS software. The nine-cell square crash box model consists of three squares, each with a length of 30 mm, 50 mm, and 65 mm, with a connecting rib thickness of 2 mm. Crash box performance is evaluated based on energy absorption and deformation patterns. Frontal load modeling on crash box was modeled with a speed of 12 m/s. Based on the simulation results, it can be found that the configuration of foam on the crash box affects the absorption energy and deformation patterns. The CF-CB 3 model provides energy absorption of 34% compared with no foam crash box due to a more uniform deformation pattern. *Penulis korespondensi: Prayogo Arie Bowo E-mail: prayogo_arie@pnm. p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Pendahuluan Di Indonesia jumlah kendaraan bermotor semakin meningkat setiap tahunnya. Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencatat jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 157 juta unit pada 2024, naik jika dibandingkan dengan tahun 2019 yaitu sekitar 133 juta unit . Kondisi tersebut menunjukkan laju peningkatan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sangat pesat. Peningkatan jumlah kendaraan akan berdampak terhadap potensi peningkatan kecelakaan lalu lintas. Telah tercatat dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah kecelakaan pada tahun 2022 258 jumlah kecelakaan dengan korban meninggal sebanyak 28. Permasalahan tersebut memunculkan solusi dengan menambahkan sistem keamanan pada kendaraan sehingga meningkatkan keselamatan pengemudi dan membuat dampak dari kecelakaan bisa dikurangi. Solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan pengembangan sistem keamanan terhadap kendaraan. Salah satu komponen sistem keamanan pasif . adalah crash box. Crash box merupakan komponen dari sistem yang crashworthy system yang mengurangi kerusakan fisik akibat tabrakan frontal pada mobil dan penumpangnya . Crash box ditempatkan diantara bagian rangka dan bamper kendaraan bagian depan seperti pada gambar 1. Untuk meningkatkan kemampuannya dalam menyerap energi tabrakan, crash box biasanya berupa konstruksi berdinding tipis yang dibuat untuk mengalami deformasi plastis terkontrol pada saat terjadi benturan . Deformasi ini memungkinkan crash box untuk menyerap sebagian besar energi tabrakan sebelum energi tersebut mencapai kompartemen penumpang. Gambar 1. Peletakan crash box pada rangka kendaraan . Perkembangan penelitian crash box telah banyak dilakukan untuk mendapatkan peneyerapan energi yang Pengembangan dari desain crash box single cell dengan penampang persegi, lingkaran dan hexagonal dengan pengujian quasi static dan dinamik telah dikembangkan . Terdapat performa luas penampang crash box dalam bentuk lingkaran paling baik dibandingkan segi enam dan persegi. Pada penelitian double cell crash box bentuk persegi, lingkaran dan hexagonal . mendapatkan hasil bahwa penyerapan energi model lingkaran terbaik dari persegi dan segi enam. Pendekatan alternatif untuk meningkatkan penyerapan energi crash box adalah dengan menciptakan crash box model multi cell. Keunggulan crash box model multi cell yaitu dapat membentuk suatu pola deformasi lebih seragam dan meningkatkan kapasitas penyerapan energi yang terjadi secara frontal akibat tabrakan . Penelitian sebelumnya tentang model nine cell crash box berpengaruh terhadap penyerapan energi dan pola deformasi . Didapat hasil yang memiliki rusuk lurus (NCS-CB . penyerapan energinya terbaik diantara semua model, seperti pada Gambar 2. Gambar 2. Model nine cell square crash box . Pembuatan desain crash box memiliki tujuan untuk meningkatkan kapasitasnya dalam penyerapan energi. Penambahan aluminium foam pada crash box membuat penyerapan energi meningkat dari tanpa foam . Menurut parameter teknologi yang digunakan, aluminium foam dapat mencapai kepadatan hingga sepuluh kali lebih rendah daripada material padat sambil mempertahankan potensi besar sebagai penyerap energi mekanik . Penambahan foam crash box mempunyai banyak keuntungan dengan berat yang ringan serta memiliki mekanisme deformasi yang stabil dibanding komposit, akan tetapi foam memiliki daya hancur rendah . Meskipun aluminium foam memiliki kemampuan menyerap energi, kapasitas penyerapan energinya per unit massa masih terbatas karena kekuatannya yang relatif rendah saat digunakan secara murni. Untuk mengatasi keterbatasan penyerapan energi aluminium foam murni, aluminium foam digunakan sebagai bahan pengisi ke dalam struktur crash . Sebuah mengoptimalkan penyerapan energi adalah dengan menganalisis dan menentukan konfigurasi aluminium foam terbaik di dalam crash box. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa penambahan foam pada crash box mampu meningkatkan kapasitas penyerapan energi . Namun, hal ini berdampak pada peningkatan massa crash box dan menurunkan nilai penyerapan energi spesifik . asio energi yang diserap per unit mass. Oleh karena itu, diperlukan optimasi konfigurasi busa untuk mendapatkan desain crash box dengan performa penyerapan energi yang optimal. Penelitian ini akan berfokus pada analisis pengaruh konfigurasi crash box persegi sembilan sel . ine-cel. yang dilengkapi dengan penambahan konfigurasi foam spesifik terhadap performa penyerapan energinya dan identifikasi pola deformasi. Konfigurasi foam tersebut dirancang secara p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 khusus untuk lebih meningkatkan kemampuan penyerapan energi tabrakan, yang pada akhirnya mengurangi kerusakan fisik pada kendaraan dan penumpang. Metode Penelitian terhadap nine cell crash box menggunakan rekayasa simulasi komputer dengan menggunakan bantuan software ANSYS ver. 2 dengan model pembebanan arah Jenis crash box yang digunakan merupakan berpenampang persegi dengan nine-cell crash box. Variabel bebas yang digunakan adalah nine- cell crash box dengan memvariasikan konfigurasi foam yaitu CF-CB 1 . onfigurasi crash box foam lua. CF-CB 2 . onfigurasi crash box foam dala. CF-CB 3 . onfigurasi crash box foam luar dala. , dan Non CF-CB . rash box tanpa foa. yang dapat dilihat pada Gambar 3. Material crash box yang penelitian adalah aluminium A6060 dengan mechanical properties pada Tabel 1. rendah bila digunakan sendiri. Untuk mengatasi keterbatasan, foam dibuat untuk menjadi bahan pengisi ke dalam struktur berdinding tipis yang ditunjukkan pada Dapat dilihat gambar 4 menunjukkan bentuk aluminium foam murni (Gambar 4 . , aluminium crash box (Gambar 4 . dan model crash box dengan penambahan foam (Gambar 4 . Pemodelan aluminium foam diasumsikan dengan model crushable foam dengan menggunakan data mechanical properties pada tabel 2 dan mechanical diagram aluminium foam pada gambar 5. Pemodelan material pada nine-cell square crash box sebagai bilinear isotropic hardening, sedangkan perancangan impactor menggunakan material structural steel yang dapat diasumsikan sebagai rigid body. Tabel 2. Mechanical properties aluminium foam Properties Density Units kg/mA Value Relative Density Young Modulus GPa Plateau Stress GPa Densification Strain Gambar 3. Model nine-cell crash box masing-masing variabel Tabel 1. Mechanical properties aluminium crash box Properties Units Value Density kg/mA PoissonAos Ratio Modulus Elastisitas GPa Yield Strength MPa Shear Modulus GPa Gambar 5. Mechanical diagram aluminium foam Metode uji tabrakan frontal digunakan dalam pemodelan pembebanan. Pemodelan ini mengasumsikan bahwa kecepatan impactor adalah 12 m/s, panjang deformasi 84 mm, dan percepatan gravitasi 9,8 yco/yc2. Berat massa impactor yaitu 500 kg ditunjukkan pada Gambar 4. Model aluminium dan aluminium foam Aluminium foam mempunyai banyak keuntungan dengan berat yang ringan serta memiliki pola deformasi yang stabil . Kapasitas penyerapan energi per unit aluminium foam terbatas karena kekuatan hancur yang Gambar 6. Boundary condition crash box p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Ukuran meshing komponen impactor diatur secara default dari perangkat lunak ANSYS, dan ukuran meshing crash box diatur ke 2. 0 mm. Diagram alir penelitian ditampilkan pada gambar 7 dan dimensi crash box ditampilkan pada Keterangan: O = Outer T 1 = 30 mm T 2 = 150 mm T 3 = 32,5 mm M = Middle T 4 = 32,5 mm L 1 = 200 mm L 2 = 70 mm I= Inner L 3 = 30 mm L 4 = 50 mm L 5 = 65 mm Hasil dan Pembahasan 1 Analisis Penyerapan Energi Perubahan bentuk crash box diakibatkan oleh energi tumbukan yang diubah menjadi energi regangan ketika crash box dan impactor bertabrakan. Hasil dari energi yang diserap oleh crash box ditampilkan pada gambar 9. Dari hasil dari pengujian menunjukkan CF-CB 3 memiliki penyerapan energi tertinggi dengan nilai 20,349 kJ dilanjut CF-CB 2 dengan nilai 18,790 kJ. CF-CB 2 dengan 18,154 kJ dan NON CF-CB 15,218 kJ. Dapat diketahui semakin banyak aluminium foam pada crash box maka kemampuan penyerapan energinya mengalami peningkatan. Kapasitas penyerapan energi per unit aluminium foam terbatas karena kekuatan hancur yang rendah, sehingga saat terjadi tumbukan dengan impactor. Aluminium foam cenderung hancur lebih awal daripada aluminium crash box . Mulai Identifikasi masalah Studi literatur Input parameter desain nine cell crash box Model CF-CB 1. CF-CB 2. CF-CB 3 dan NON CF-CB Perancangan desain nine cell crash box berdasarkan parameter Simulasi nine cell crash box Pengolahan Data Penyerapan Energi . J) Apakah simulasi berjalan sesuai parameter? Penyerapan energi Analisa Penyerapan energi Pola deformasi Gaya reaksi CF CB 1 CF CB 2 CF CB 3 NON CF CB Konfigurasi Crash box Gambar 9. Grafik hubungan penyerapan energi untuk semua model konfigurasi crash box Akhir Gambar 7. Diagram alir penelitian Untuk menunjukkan fenomena foam pada crash box dapat membantu penyerapan energi dapat dilihat pada gambar 10-11. Di awal ketika impactor bertumbukan dengan crash box CF-CB 3, aluminium foam yang mempunyai kapasitas hancur lebih rendah dibanding body crash box akan hancur terlebih dahulu. Kemudian setelah hancur akan memungkinkan aluminium foam membentuk serpihan-serpihan kecil dan sebagian masuk ke dalam lipatan-lipatan logam yang dapat membantu folding . ambar 10 . Aluminium foam membantu folding tanpa merusak dinding nine cell crash box. Fenomena foam yang hancur tanpa merusak dinding crash box dan membantu folding lebih baik membuat penyerapan energi yang terjadi semakin tinggi. Untuk karakteristik hancurnya foam dapat dilihat pada . ambar 10 . Pada saat folding CF-CB 3, aluminium foam mengikuti bentuk folding body nine cell crash box ditunjukkan lingakaran merah. Gambar 8. Dimensi nine cell crash box untuk bagian body crash box tanpa foam p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 . Gambar 11. Folding model CF-CB 3 dengan tampilan foam disembunyikan, . Folding model Non CF-CB . Gambar 10. Folding model CF-CB 3 . Folding pada model CFCB3 . ody nine cell dan foa. Folding foam dengan tampilan body nine cell crash box Kemudian CF-CB 3 dilakukan perbandingan dengan Non CF-CB yang folding dapat dilihat pada gambar 11. Untuk non CF-CB dikarenakan multi-cell crash box tanpa foam, folding yang terjadi lebih panjang lancip dari pada CF-CB 3 ditunjukkan oleh lingkaran kuning. Dikarenakan pada saat tumbukan dengan impactor Non CF-CB terdeformasi alami tanpa bantuan foam dan membentuk lipatan kurang seragam seperti ditunjukkan pada lingkaran Non CF-CB mempunyai penyerapan energi terendah dari semua model. Penambahan foam dapat membantu folding menjadi lebih seragam sehingga penyerapan energi yang terjadi lebih tinggi. Konfigurasi penambahan foam pada CF-CB 3 membuat penyerapan energi lebih baik dengan peningkatan persentase 34% . jika dibandingkan dengan model crash box tanpa foam . on CF-CB). Sedangkan pada crash box non CF-CB memiliki nilai penyerapan energi terkecil, hal ini disebabkan karena tidak adanya aluminium foam yang dapat membantu untuk penyerapan energi . Ini disebabkan oleh mekanisme deformasi khusus yang dimiliki oleh aluminium foam, yaitu sel-selnya yang kolaps secara progresif saat menerima beban, sehingga menyerap energi tumbukan secara efektif . Tabel 3. Hasil penyerapan eneri crash box keseluruhan Peningkatan Model EA . J) Persentase Non CF CB 15,218 CF CB 1 18,154 CF CB 2 18,790 CF CB 3 20,349 2 Penyerapan Energi Spesifik Jumlah energi yang diserap oleh crash box per satuan massa dinyatakan sebagai penyerapan energi spesifik. Tujuan menghitung penyerapan energi spesifik adalah untuk menilai seberapa baik model crash box yang disimulasikan telah bekerja. Rumus untuk menghitung energi spesifik ditampilkan pada persamaan . ycycyc= . m = massa . EA = energy absorption . J) SEA = specific energy absorption . J) p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 SAE . J/k. CF CB 1 CF CB 2 CF CB 3 NON CF CB Konfigurasi Crash Box Gambar 12. Grafik hubungan penyerapan energi spesifik crash box untuk semua model Gambar 12 menunjukkan grafik hubungan penyerapan energi spesifik crash box tiap model berbeda. Nilai penyerapan energi spesifik dapat dilihat pada tabel 4. Dapat dilihat bahwa seiring dengan penambahan foam membuat massa dari crash box semakin tinggi dan penyerapan energi spesifik semakin rendah. Kenaikan massa CF-CB 3 mecapai 58,91% jika dibandingkan dengan kenaikan penyerapan energi 34%, yang membuat penyerapan energi spesifik menjadi rendah. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak penambahan foam crash box maka akan kurang efektif pula dalam menyerap energi. Hal ini disebabkan oleh rasio kenaikan massa . ,91% pada CFCB . jauh lebih besar daripada kenaikan penyerapan energi . isalnya 34%), maka penyerapan energi spesifik . otal energi dibagi mass. akan menurun seperti terlihat pada tabel 4. Penambahan aluminium foam yang berlebih di luar titik optimal . emakin banya. dapat mengurangi efektivitas prnyerapan energi . Tabel 4. Hasil penyerapan energi spesifik crash box Kenaikan SEA Absorbed Massa Model Massa J/kg Energy . J) . (%) CF CB 18,15 4,359 27,27% 4,165 CF CB 18,79 4,510 31,67% 4,166 CF CB 20,35 5,443 3,739 non CF 15,22 3,425 4,443 3 Force Reaction Gaya yang digunakan crash box untuk menahan benturan dari beban impactor dikenal sebagai gaya reaksi. Pada grafik hubungan gaya reaksi deformasi dapat dianalisis berdasarkan luas daerah dibawah kurva masingmasing model crash box. Luas daerah di bawah kurva menunjukkan usaha yang dilakukan oleh impactor pada crash box. Energi regangan tercipta ketika gaya impactor diterapkan pada crash box. Gambar 13 menunjukkan grafik hubungan gaya reaksi deformasi untuk semua model. Pada . = Energi Regangan (J) = Gaya Reaksi (N) = Perpindahan . CF CB 1 CF CB 2 CF CB 3 NON CF CB Gaya Reaksi . N) SAE . J/k. saat impactor menghantam crash box dengan adanya penambahan foam membuat daya hancur dari crash box semakin tinggi. Membuat gaya reaksi puncak yang terjadi semakin tinggi. Pada crash box tanpa foam dengan 376,84 kN sedangkan pada model foam terbanyak CF-CB 3 dengan gaya reaksi puncak sebesar 397,87 kN dapat dilihat pada Dapat dianalisis pada deformasi ke 70 mm terdapat nilai gaya yang dapat diserap crash box cukup signifikan anatara CF-CB 3 dan non CF-CB. CF-CB 3 dengan gaya reaksi 315 kN berbanding non CF-CB dengan 185 kN. Dilakukan analisa pada deformasi 70 mm untuk mengetahui penyebabnya pada gambar 9-12. CF-CB 3 dengan penambahan foam terbanyak memiliki folding yang cukup baik karena bantuan foam yang terdeformasi sebagian masuk disela dinding crash box, sehingga penyerapan energi lebih tinggi dibandingkan non CF-CB. Penambahan pengisi foam membuat kecenderungan gaya reaksi semakin tinggi dibandingkan dengan tanpa Hal ini sesuai persamaan 2 energi regangan . Deformasi . Gambar 13. Grafik hubungan gaya reaksi dan deformasi semua Tabel 5. Data hasil simulasi semua model crash box F max MCF CFE Model N) . N) (%) CF CB 1 385,08 220,42 CF CB 2 391,38 225,80 CF CB 3 non CF 397,87 255,73 376,84 176,68 p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Gambar 13 juga menunjukkan mean crushing force (MCF) menggunakan persamaan 2 yang datanya terdapat pada tabel 5. Urutan MCF tertinggi sampai terendah yaitu CF-CB 3. CF-CB 2. CF-CB1 dan non CF-CB. Dengan nilai urutan MCF sesuai dengan penyerapan energi maka semakin deformasi seragam akan memberikan gaya reaksi yang tinggi sehingga energi regangannya semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan persamaan 1. Persamaan 1 menunjukkan bahwa energi dan beban berhubungan langsung, yang berarti bahwa semakin tinggi nilai beban, semakin tinggi pula nilai energi. Dari gambar 13 grafik hubungan gaya reaksi deformasi dapat dianalisis crushing force efficiency CFE dengan menggunakan persamaan 3. CFE digunakan untuk mengevaluasi efisiensi penyerapan energi pada crash box. Terdapat urutan CFE dari tertinggi keterendah yaitu CF-CB 3. CF-CB 2. CF-CB 1 dan non CF-CB dengan nilai dimpilkan pada tabel 5. Dengan penambahan foam crash box dapat membuat CFE juga semakin tinggi. Hal ini dikarenakan untuk model dengan penambahan crash box membuat nilai MCF semakin tinggi sehingga membuat efisien dalam penyerapan energi sesuai dengan persamaan 3 . Gambar 16. Pola deformasi CF-CB 3 Gambar 17. Pola deformasi non CF-CB = Efisiensi penyerapan energi pada crash box. = Gaya hancur rata rata crash box = Gaya maksimum yang ketika tumbukan awal Gambar 14. Pola deformasi CF-CB 1 Gambar 15. Pola deformasi CF-CB 2 Gambar 18. Pola deformasi tampak dalam semua model crash box 4 Pola Deformasi Pola deformasi dari crash box yang memiliki struktur . hin-walle. kemungkinan, yaitu concertina . , mixed mode . xisymmetric-diamon. dan diamond . on-axisymmetri. Penelitian memiliki pola deformasi dari masingmasing model crash box bisa dilihat pada gambar 14-17, dan pola deformasi tampak dalam untuk semua model terdapat pada gambar 18. Pola deformasi crash box dengan panjang 0 hingga 84 mm sesuai dengan nilai d 2/3 dari panjang keseluruhan crash box. Untuk pola deformasi masing masing model dibagi menjadi 5 bagian yaitu 0%, 25%, 50%, 75% dan 100% dari panjang total deformasi 84 Pada gambar 14-17 terdapat ligkaran kecil berwarna biru yang menunjukkan bahwa pola deformasi concertina dan warna lingkaran merah menunjukkan pola deformasi Pola lipatan concertina terjadi pada CF-CB 2 dan CFCB 3 sedangkan CF-CB1 dan non CF-CB mengalami pola Penambahan foam pada crash box menunjukkan deformasi simetris, sementara itu crash box kosong menunjukkan banyak ketidakstabilan yang mengakibatkan tekuk asimetris. Penambahan foam berkontribusi pada pola deformasi berupa penghancuran yang halus dan simetris sehingga dengan mudah dapat mengisi folding pada dinding luar body nine cell crash box . Ketika terjadi deformasi membuat foam hancur secara seragam ke membentur dinding crash box tanpa merusak, membuat crash box memiliki bentuk deformasi yang lebih seragam yaitu bentuk concertina pada CF-CB 2 dan CF-CB 3 seperti pada p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 gambar 15-16. Dinding luar crash box didesain dengan lipatan concertina dengan penambahan foam juga berkontribusi meningkatkan penyerapan energi . Penambahan foam ketika diisi pada konfigurasi dinding luar seperti CF-CB 1, memiliki dampak berbeda untuk pola Untuk non CF-CB dengan tidak adaya penambahan foam membuat pola lipatan cenderung diamond seperti yang ditunjukkan pada gambar 16. Untuk memperjelas gambar 18 ditampilkan sebagai tampak dalam dari semua model crash box. Kesimpulan Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi desain penambahan konfigurasi foam yang optimal untuk crash box kendaraan. Dalam penelitian ini, variasi penambahan aluminium foam crash box mempengaruhi penyerapan energi dan pola deformasi. Dengan penambahan aluminium foam pada CF-CB 3 memiliki persentase peningkatan penyerapan energi 34% dibandingkan dengan model crash box tanpa foam dan memiliki pola deformasi yang lebih seragam. Menganalisis material foam sangat penting di samping konfigurasi foam crash box. Dengan menggunakan foam berdensitas beragam, seperti aluminium foam, polimer foam, atau foam komposit, diharapkan bisa mendapatkan pemahaman mendalam tentang bagaimana karakteristik material memengaruhi kemampuan penyerapan energi dan pola Penelitian crash box di masa mendatang sebaiknya berfokus pada pembuatan model eksperimental yang didasarkan pada hasil simulasi. Model-model ini nantinya dapat diterapkan langsung pada kendaraan untuk mengoptimalkan penyerapan energi tabrakan, sehingga meningkatkan keselamatan pengguna. Ucapan Terimakasih