Received: 28 August 2025 Revised: 03 September 2025 Accepted: 07 November 2025 Available online: 12 November 2025 Wacana Equiliberium : Jurnal Pemikiran & Penelitian Ekonomi Vol. No. P-ISSN : 2339-2185. E-ISSN : 2654-3869 Analisis Peran Indikator Kesehatan terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia di Jawa Tengah Rahma Hugo Daniswara1. Didit Purnomo2 B300200302@student. id 1, dp274@ums. Universitas Muhammadiyah Surakarta 1. ABSTRACT The human development index is designed to measure the extent to which the quality of human life has improved, taking into account education, health, and real per capita income. It helps in comparing national and regional human development performance. This study aims to identify the factors that influence the human development index of Central Java Province in 2023. Classical assumption tests for decision making using cross-section data. As shown by the research results, the Human Development Index is positively influenced by per capita income. Meanwhile, teachers, schools, and medical personnel have not yet been statistically able to influence the Human Development Index in Central Java Province during the 2023 period. Furthermore, regional development planners need to integrate public service quality indicators into human development evaluations to ensure that interventions are more targeted and directly impact the improvement of the Human Development Index. Keywords: Human Development Index. Per Capita Income. Teachers. Schools. Medical Personnel PENDAHULUAN Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting dalam menilai kinerja perekonomian suatu negara atau daerah, sekaligus menjadi cerminan dari hasil pembangunan ekonomi yang telah dicapai. Namun demikian, pembangunan ekonomi tidak hanya sekadar peningkatan angka pertumbuhan, melainkan juga melibatkan perubahan mendasar dalam institusi nasional, struktur sosial, dan pola pikir masyarakat. Tujuan utama dari pembangunan ekonomi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketimpangan wilayah, penanggulangan kemiskinan, dan penurunan tingkat pengangguran (Todaro, 2. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan manusia secara komprehensif adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Menurut Herdiansyah dan Kurniati . IPM terdiri atas tiga dimensi utama, yaitu kesehatan, pengetahuan . , dan standar hidup layak. Ketiga dimensi ini saling berkaitan erat dengan kondisi ekonomi suatu wilayah. Stabilitas ekonomi memungkinkan pemerintah untuk memperkuat infrastruktur pendidikan dan kesehatan, yang pada gilirannya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2. menunjukkan bahwa IPM Provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan signifikan dari tahun 2019 hingga 2023, mencapai 73,39 persen. Peningkatan tersebut mencerminkan kemajuan pembangunan manusia di berbagai sektor, meskipun masih terdapat tantangan terkait ketimpangan dan keberlanjutan pembangunan. Meskipun demikian, pendekatan pengukuran IPM kerap dikritik karena terlalu menitikberatkan pada aspek ekonomi, khususnya pendapatan per kapita sebagai indikator kesejahteraan (Senewe et al. , 2. Dalam konteks regional Asia Wacana Equiliberium : Jurnal Pemikiran & Penelitian Ekonomi Vol. No. P-ISSN : 2339-2185. E-ISSN : 2654-3869 Tenggara, sistem kesehatan yang semakin terprivatisasi seperti di Indonesia. Malaysia, dan Filipina sering kali menyebabkan ketimpangan akses layanan publik. UNDP . menegaskan bahwa model IPM mencakup tiga komponen utama Ai angka harapan hidup, tingkat pendidikan, dan pendapatan per kapita Ai yang harus dianalisis secara terpadu agar dapat menggambarkan kondisi pembangunan manusia secara utuh. Pendidikan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan produktivitas ekonomi. Menurut Pesquera et al. , tingkat pendidikan yang lebih tinggi tidak hanya meningkatkan peluang kerja dan pendapatan, tetapi juga berkontribusi terhadap kesejahteraan subjektif individu. Pendidikan dan kesehatan saling berkaitan melalui peningkatan pengetahuan kesehatan, kualitas pekerjaan, dan faktor sosial-psikologis seperti kontrol diri dan status sosial. Mulyasa . menambahkan bahwa kompetensi profesional guru menjadi kunci keberhasilan pendidikan, sementara Arsyad . menegaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu indikator utama kesejahteraan masyarakat yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup dan kemajuan ekonomi daerah. Kesehatan masyarakat juga menjadi aspek fundamental dalam pembangunan ekonomi karena kualitas kesehatan yang baik meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan efisiensi ekonomi (Rustan, 2. Akses terhadap layanan kesehatan yang merata dan berkualitas merupakan bagian penting dari strategi pembangunan berkelanjutan, khususnya di wilayah berkembang. Menurut Anireon . alam Bustami, 2. , tenaga medis memiliki peran vital dalam menjamin mutu pelayanan kesehatan melalui penerapan kaidah profesional, etika, dan akuntabilitas. Pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif menjadi pilar penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas. Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya analisis keterkaitan antara indikator ekonomi, pendidikan, dan kesehatan terhadap peningkatan IPM di Provinsi Jawa Tengah. IPM tidak hanya mencerminkan kesejahteraan, tetapi juga menjadi dasar dalam menilai efektivitas kebijakan pembangunan manusia yang berkelanjutan (UNDP, 2. Ketimpangan pembangunan antarwilayah menunjukkan perlunya integrasi kebijakan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya meningkat tetapi juga inklusif (Hanushek & Woessmann, 2020. World Bank, 2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar empiris bagi perumusan kebijakan daerah yang menitikberatkan pada peningkatan IPM melalui penguatan sektor ekonomi, pendidikan, dan kesehatan secara simultan. Dengan demikian, pemahaman yang komprehensif mengenai hubungan antara kesehatan masyarakat dan pembangunan ekonomi dapat menjadi landasan strategis dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan dan METODE PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran indikator kesehatan terhadap pertumbuhan ekonomi dan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini didasarkan pada studi-studi empiris Wacana Equiliberium : Jurnal Pemikiran & Penelitian Ekonomi Vol. No. P-ISSN : 2339-2185. E-ISSN : 2654-3869 sebelumnya yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kesehatan, pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi terhadap IPM (Hidayat & Woyanti, 2021. Amrizal, 2. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2. , yang mencakup indikator sosial-ekonomi dan kesehatan dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah. Pendekatan ini sejalan dengan penelitian serupa yang dilakukan oleh Islamiatus Izzah dan Hendarti . , yang menegaskan bahwa variabel ekonomi seperti Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan indikator kesehatan berkontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pembangunan manusia di tingkat regional. Penelitian ini menggunakan data cross-section sebanyak 175 sampel yang mencakup beberapa kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Data tersebut kemudian diolah dan disajikan dalam format kuartalan selama 12 bulan pengamatan, menyesuaikan dengan studi ekonometrika regional yang dilakukan oleh Hanushek dan Woessmann . serta Pesquera et al. , yang menekankan keterkaitan antara pendidikan, kesehatan, dan ekonomi dalam pembangunan manusia. Metode analisis yang digunakan adalah Ordinary Least Square (OLS) dengan model regresi linier berganda sebagaimana banyak digunakan dalam penelitian pembangunan daerah (World Bank, 2020. Todaro & Smith, 2. Untuk menjamin keandalan hasil estimasi, dilakukan serangkaian uji asumsi klasik meliputi uji heteroskedastisitas, normalitas, multikolinearitas, dan autokorelasi guna memastikan validitas model (Becker, 2019. WHO, 2022. Dewi, 2. Model ekonometrika yang digunakan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai IPM yeOyei = ya ya logPDRByeOyei yaJGyeOyei ycJSyeOyei yeTMyeOyei yeIyeOyei Keterangan: : Koefisien intersep : Indeks Pembangunan Manusia (%) : Pendapatan per Kapita (Rupia. : Jumlah Guru (Jiw. : Jumlah Sekolah (Uni. : Tenaga Medis (Jiw. : Jumlah data : Periode . Kemajuan pembangunan suatu wilayah dapat dinilai melalui peningkatan Indeks Pembangunan Manusia. Pendapatan per kapita mencerminkan kemampuan ekonomi daerah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode tertentu. Jumlah guru dan jumlah sekolah menjadi indikator penting dalam menggambarkan kualitas serta ketersediaan fasilitas pendidikan di daerah, sementara jumlah tenaga medis berperan dalam menunjang aspek kesehatan masyarakat. Oleh karena itu. Wacana Equiliberium : Jurnal Pemikiran & Penelitian Ekonomi Vol. No. P-ISSN : 2339-2185. E-ISSN : 2654-3869 keempat variabel tersebut secara bersama-sama diharapkan dapat menjelaskan determinan utama yang memengaruhi IPM di Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan landasan teori dan hasil penelitian terdahulu, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (H. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berpengaruh positif dan signifikan terhadap IPM di Provinsi Jawa Tengah. (H. jumlah guru berpengaruh positif terhadap IPM di Provinsi Jawa Tengah. (H. jumlah sekolah berpengaruh positif terhadap IPM di Provinsi Jawa Tengah. dan (H. jumlah tenaga medis berpengaruh positif terhadap IPM di Provinsi Jawa Tengah. Beberapa teori yang mendasari penelitian ini memperkuat hubungan antara ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pembangunan manusia. Teori Pertumbuhan Ekonomi yang dikemukakan oleh Todaro dan Smith . menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya diukur dari peningkatan pendapatan nasional, melainkan juga dari peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan hanya dapat dicapai apabila terdapat kemajuan signifikan dalam sektor pendidikan dan kesehatan, karena kedua sektor tersebut merupakan prasyarat utama bagi terciptanya tenaga kerja yang sehat, terampil, dan Selanjutnya. Teori Modal Manusia (Human Capital Theor. yang diperkuat oleh Becker . dan Hanushek & Woessmann . menjelaskan bahwa investasi dalam pendidikan dan kesehatan merupakan bentuk investasi jangka panjang terhadap peningkatan produktivitas tenaga kerja. Individu yang memperoleh pendidikan memadai dan memiliki kondisi kesehatan yang baik akan bekerja lebih efisien serta mampu berinovasi, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan Masyarakat. Menurut Model Indeks Pembangunan Manusia yang dikembangkan oleh United Nations Development Programme (UNDP, 2. IPM merupakan ukuran komposit yang mencakup tiga dimensi utama pembangunan manusia, yaitu: . umur panjang dan sehat sebagai indikator kesehatan, . pengetahuan sebagai indikator pendidikan, dan . standar hidup layak sebagai indikator ekonomi yang diukur melalui pendapatan per kapita. Ketiga dimensi ini saling berhubungan dan memberikan gambaran menyeluruh mengenai kualitas hidup serta kemampuan masyarakat untuk berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi. Selain itu. Teori Kesehatan dan Produktivitas Ekonomi yang dikemukakan oleh World Bank . dan World Health Organization . menekankan bahwa kesehatan memiliki peran penting dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Kesehatan yang baik memungkinkan individu bekerja secara optimal dan mengurangi beban ekonomi akibat penyakit. Pemerataan layanan kesehatan dan peningkatan jumlah tenaga medis di daerah berperan signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta memperkuat daya saing ekonomi regional. Dengan demikian, penelitian ini berupaya untuk mengkaji keterkaitan antara indikator ekonomi, pendidikan, dan kesehatan terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Jawa Tengah. Analisis ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perumusan kebijakan pembangunan yang lebih efektif dan berkelanjutan, terutama dalam upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. Wacana Equiliberium : Jurnal Pemikiran & Penelitian Ekonomi Vol. No. P-ISSN : 2339-2185. E-ISSN : 2654-3869 HASIL DAN PEMBAHASAN Studi ini menggunakan uji asumsi klasik seperti multikolinearitas, heteroskedastisitas, normalitas, autokorelasi, dan uji lainnya. Tabel 1 menunjukkan Tabel 1. Hasil Estimasi Model Ekonometri IPMi = 50,77636 6,500906logPDRBi Ae 0,221157JGi 0,001389JSi 0,000340TMi . ,0. * . ,2. ,6. ,2. R2 = 0,721. DW-Stat = 1,5740. F-Stat = 19,42041. Sig. F-Stat = 0,0000 Uji Diagnosis . Uji Multikolinearitas (VIF) logPDRB = 1,3607. JG = 2,4980. JS = 1,8491. TM = 2,3959 Uji Normalitas (Jarque-Ber. JB. = 0,1567. Prob. JB. = 0,9245 Uji Autokorelasi (Breusch-Godfre. = 1,6000. Prob. = 0,4493 Uji Heteroskedastisitas (White with Cross Ter. yue 2 . = 25,7234. Prob. yue 2 . = 0,0281 Keterangan: *Signifikan pada = 0,05 Koefisien Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah 6,5009 dengan pola hubungan linear-logaritma, yang berarti kenaikan 1% PDRB dapat meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 0,065009%. Selain itu, koefisien jumlah guru adalah -0,2211 dengan pola hubungan linear-logaritma, yang berarti kenaikan jumlah guru sebesar 1 orang dapat menurunkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 0,2211%. Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui apakah ada masalah multikolinearitas pada estimasi model ekonometrik atau tidak. Jika nilai VIF tidak lebih dari 10, maka tidak ada masalah multikolinearitas yang signifikan dengan estimasi model ekonometrik. Sebaliknya, jika nilai VIF lebih dari 10, maka ada masalah multikolinearitas yang signifikan. Tidak ada masalah multikolinearitas yang signifikan dengan estimasi model ekonometrik, karena nilai VIF logPDRB adalah 1,3607. JG adalah 2,4980. JS adalah 1,8491, dan TM adalah 2,3959, menurut Uji Jarque-Bera digunakan untuk menentukan apakah data tersebut normal atau tidak. Jika Prob. JB lebih besar dari atau sama dengan . H0 tidak ditolak, yang berarti distribusi residual normal. sebaliknya, jika Prob. JB lebih kecil atau sama dengan . H0 ditolak, menunjukkan bahwa distribusi residual tidak Tabel 1 menunjukkan bahwa H0 ditolak jika Prob. JB lebih besar atau sama dengan . Ini menunjukkan bahwa distribusi data yang digunakan atau residual normal. Adanya masalah autokorelasi dalam estimasi model ekonometrik dapat diidentifikasi dengan menggunakan uji Breusch-Godfrey. H0 tidak ditolak jika Wacana Equiliberium : Jurnal Pemikiran & Penelitian Ekonomi Vol. No. P-ISSN : 2339-2185. E-ISSN : 2654-3869 probabilitas squared kurang dari 0,05, menunjukkan bahwa tidak ada masalah dengan autokorelasi dalam estimasi model ekonometrik. Namun, tidak ada masalah autokorelasi dalam estimasi model ekonometrik jika probabilitas squared lebih rendah dari 0,05. Tabel 1 menunjukkan bahwa H0 tidak ditolak, menunjukkan bahwa probabilitas squared 0,4493 lebih besar dari 0,05, yang menunjukkan bahwa tidak ada masalah autokorelasi dalam estimasi model ekonometrik. Untuk mengetahui apakah ada masalah heteroskedastisitas dalam estimasi model ekonometrik, uji White digunakan. Tidak ada masalah dengan heteroskedastisitas di estimasi model ekonometrik jika probabilitas squared lebih besar dari 0,05. Sebaliknya. H0 ditolak jika probabilitas squared kurang dari 0,05, menunjukkan bahwa ada masalah heteroskedastisitas dalam estimasi model Sebagai bukti, probabilitas squared kurang dari 0,05 dan H0 ditolak, yang menunjukkan bahwa estimasi model ekonometrik mengalami masalah Uji Eksistensi Model (F) dan Uji Koefisien Determinasi (R. merupakan bagian dari uji kebaikan model. Uji Koefisien Determinasi (R. mengevaluasi dampak total dari variabel independen dan variabel dependen, sementara Uji Eksistensi Model (Uji F) mengevaluasi dampak signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Secara keseluruhan, variabel dependen tidak terpengaruh oleh variabel independen jika nilai Prob. F-Stat lebih dari . Sebaliknya. H0 ditolak jika nilai Prob. F-Stat kurang dari . , menunjukkan bagaimana variabel dependen secara keseluruhan dipengaruhi oleh variabel Tabel 1 menunjukkan bahwa Prob. F-Stat 0,0000 < . H0 tidak ditolak, dan bahwa variasi PDRB, jumlah guru, jumlah sekolah, dan tenaga medis secara bersamaan berdampak pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Namun, variasi PDRB, jumlah guru, jumlah sekolah, dan tenaga medis menyumbang 72,1% variasi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), menurut koefesien determinasi 0,721. Tabel 2 menunjukkan hasil dari Uji Validitas Pengaruh (Uji T) yang digunakan untuk mengevaluasi pengaruh variabel independen terhadap variabel individu. Tabel 2. Hasil Uji T Variabel Koefisien Sig. Keterangan Kesimpulan logPDRB 6,5009 0,0000 = 0,05 A1 signifikan -0,2211 0,2348 = 0,05 A2 tidak signifikan 0,0013 0,6614 = 0,05 A3 tidak signifikan 0,0003 0,2480 = 0,05 A4 tidak signifikan Salah satu faktor yang memengaruhi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), menurut tabel 2, dan temuan ini sesuai dengan asumsi penelitian. Namun. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tidak dipengaruhi oleh jumlah guru, sekolah, atau tenaga medis. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya (Muliza et al. , 2. , yang menemukan bahwa PDRB memiliki dampak positif dan signifikan terhadap indeks pembangunan manusia, yang berarti bahwa jika PDRB meningkat. IPM juga akan meningkat Wacana Equiliberium : Jurnal Pemikiran & Penelitian Ekonomi Vol. No. P-ISSN : 2339-2185. E-ISSN : 2654-3869 (Hidayat & Woyanti, 2. , dan bahwa dampak PDRB per kapita memiliki dampak positif dan signifikan terhadap IPM (Islamiatus Izzah & Martha Hendarti, 2. Hasil uji F menunjukkan bahwa PDRB memiliki dampak positif dan signifikan. Jumlah guru tidak mempengaruhi hasil Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh (Nikmah, 2. , yang menemukan bahwa rasio siswa-guru (RST), fasilitas kesehatan (HF), persentase pengeluaran per kapita menurut kelompok pangan (PPF), dan pengeluaran per kapita daerah (PPE) sangat memengaruhi HDI dari tahun 2006 Studi lain (Augustpaosa Nariman, 2. menemukan bahwa variabel indeks pembangunan manusia (IPM) dipengaruhi secara signifikan dan positif oleh jumlah guru dan murid serta rasio guru per siswa. Selain itu, studi lain (Siti Nur Hidayati, 2. menemukan bahwa sanitasi, jumlah guru, jumlah siswa, dan pengeluaran per kapita untuk makanan dan bukan makanan memiliki dampak positif dan signifikan terhadap IPM. Karena jumlah sekolah memiliki hasil yang sebanding, tidak berdampak pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Hasil menentang temuan penelitian sebelumnya oleh Astsaqofi . , yang menemukan bahwa beberapa faktor penting adalah rasio sekolah dan murid, rasio guru dan murid, jumlah penduduk miskin, dan variabel interaksi antara jumlah sarana kesehatan dan jumlah penduduk Nur Aini dan Puspitawati . menyatakan bahwa Jumlah sekolah dasar. PDRB per kapita, dan kepadatan penduduk dengan IPM memiliki efek yang menguntungkan dan signifikan. Hasil analisis regresi menunjukkan hal ini. Lima variabel independen memengaruhi variabel Indeks Pembangunan Manusia (IPM), menurut Amrizal . , yaitu jumlah sekolah dasar sederajat. SLTP/SD, dan sekolah dasar. Tidak ada hubungan antara hasil Tenaga Medis dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di provinsi DI Yogyakarta, menurut penelitian yang dilakukan oleh Fitriani . dari tahun 2016 hingga 2020 tidak dipengaruhi oleh tenaga medis. Indeks kesehatan tidak mempengaruhi indeks pembangunan manusia Kabupaten Bojonegoro dari tahun 2010 hingga 2020, menurut penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Muljaningsih . Selain itu, menurut Siti Nur Hidayati . , indeks pembangunan manusia tidak dipengaruhi oleh jumlah tenaga kesehatan dan sarana kesehatan. Jumlah guru tidak mempengaruhi hasil Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh (Nikmah, 2. , yang menemukan bahwa rasio siswa-guru (RST), fasilitas kesehatan (HF), persentase pengeluaran per kapita menurut kelompok pangan (PPF), dan pengeluaran per kapita daerah (PPE) sangat memengaruhi HDI dari tahun 2006 Studi lain (Augustpaosa Nariman, 2. menemukan bahwa variabel indeks pembangunan manusia (IPM) dipengaruhi secara signifikan dan positif oleh jumlah guru dan murid serta rasio guru per siswa. Selain itu, studi lain (Siti Nur Hidayati, 2. menemukan bahwa sanitasi, jumlah guru, jumlah siswa, dan pengeluaran per kapita untuk makanan dan bukan makanan memiliki dampak positif dan signifikan terhadap IPM. Karena jumlah sekolah memiliki hasil yang sebanding, tidak berdampak pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Hasil menentang temuan penelitian Wacana Equiliberium : Jurnal Pemikiran & Penelitian Ekonomi Vol. No. P-ISSN : 2339-2185. E-ISSN : 2654-3869 sebelumnya oleh Astsaqofi . , yang menemukan bahwa beberapa faktor penting adalah rasio sekolah dan murid, rasio guru dan murid, jumlah penduduk miskin, dan variabel interaksi antara jumlah sarana kesehatan dan jumlah penduduk Nur Aini dan Puspitawati . menyatakan bahwa Jumlah sekolah dasar. PDRB per kapita, dan kepadatan penduduk dengan IPM memiliki efek yang menguntungkan dan signifikan. Hasil analisis regresi menunjukkan hal ini. Lima variabel independen memengaruhi variabel Indeks Pembangunan Manusia (IPM), menurut Amrizal . , yaitu jumlah sekolah dasar sederajat. SLTP/SD, dan sekolah dasar. Tidak ada hubungan antara hasil Tenaga Medis dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di provinsi DI Yogyakarta, menurut penelitian yang dilakukan oleh Fitriani . dari tahun 2016 hingga 2020 tidak dipengaruhi oleh tenaga medis. Indeks kesehatan tidak mempengaruhi indeks pembangunan manusia Kabupaten Bojonegoro dari tahun 2010 hingga 2020, menurut penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Muljaningsih . Selain itu, menurut Siti Nur Hidayati . , indeks pembangunan manusia tidak dipengaruhi oleh jumlah tenaga kesehatan dan sarana kesehatan. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari empat variabel independen yang diuji. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Provinsi Jawa Tengah Hal ini memperkuat teori Human Capital dan Grossman yang menyatakan bahwa peningkatan ekonomi berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan manusia melalui peningkatan akses terhadap pendidikan dan Namun, variabel jumlah guru, jumlah sekolah, dan tenaga medis tidak berpengaruh signifikan terhadap IPM. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kuantitas tenaga pendidik dan medis belum disertai dengan peningkatan kualitas pelayanan dan distribusi yang merata. Dengan demikian, kebijakan pembangunan di Jawa Tengah perlu difokuskan pada peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan, bukan hanya pada jumlahnya. Dari sisi ekonomi, hasil ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia dan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan timbal balik: peningkatan ekonomi mendorong kualitas hidup masyarakat, dan sebaliknya, peningkatan kualitas sumber daya manusia akan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di daerah. DAFTAR PUSTAKA