Pengaruh Penyemprotan Desinfeksi Ekstrak Mengkudu (Morinda Citrifolia L. ) Terhadap Stabilitas Dimensi Hasil Cetakan Alginat Kadek Sugianitri1. Kadek Ayu Wirayuni2. Ida Bagus Dwi Surya Nugraha Sidemen3 Departemen Prosthodonsia. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar ABSTRACT Background: At the time of printing the patient's jaw, the printing material will come into direct contact with blood and saliva, so that microorganisms will spread through the printing material and become a medium for cross-infection transmission. To prevent cross-infection, it is necessary to disinfect the alginate mold. The ideal disinfection technique used is the spraying technique. One natural ingredient that can be used as a disinfectant is noni extract. Purpose: The purpose of this study was to determine the effect of dimensional stability changes on alginate molds by using natural disinfectant ingredients of noni extract with concentrations of 50% and 75% with 5% sodium hypochlorite. Method: The research method used was laboratory experimental with a research design with a post-test only control group design. The study used 24 samples consisting of 4 treatment groups . egative control group, positive control group, treatment group I and treatment group II) and in each group consisting of 6 samples, dimensional stability measurement using calipers. Results: The results of dimensional stability measurements showed that there were dimensional changes in each group but within the tolerance limit (<0. 5%) in accordance with ADA rule no. The conclusion in this study is that the spraying technique using natural disinfectants, namely 50% and 75% noni extract, has no effect on alginate molds. Keyword: Alginate. Noni Extract. Dimensional Stability PENDAHULUAN Pencetakan rahang merupakan salah satu tahapan yang penting dalam kedokteran Proses pencetakan rahang biasanya digunakan pada pembuatan gigi tiruan, space maintainer, mengevaluasi perkembangan suatu perawatan orthodontik dan perawatan Pembuatan gigi tiruan dalam bidang prostodonsia dibutuhkan tahap pencetakan rahang terlebih dahulu dengan menggunakan bahan cetak. Bahan cetak dalam kedokteran gigi dibagi menjadi dua macam yaitu bahan cetak yang bersifat elastis dan non elastis. Salah satu bahan cetak elastis yang paling banyak digunakan adalah hidrokoloid ireversibel atau alginat (Prabowo dkk, 2. Alginat mengandung 85% air yang rentan terhadap distorsi (Santoso dkk, 2. Alginat merupakan bahan yang paling banyak digunakan karena memiliki kelebihan yaitu mudah dimanipulasi, tidak memerlukan banyak peralatan, harga relatif murah, dan memiliki aroma yang menyegarkan seperti permen karet sehingga nyaman untuk pasien dan mengurangi refleks muntah. Selain itu, alginat memiliki kekurangan yaitu masalah yang berhubungan dengan stabilitas dimensi dan hasil cetakan yang kurang detail (Prabowo dkk, 2. Bahan alginat pada dasarnya memiliki sifat sineresis dan imbibisi karena bahan ini berupa gel (Zeni dkk, 2. Sineresis adalah suatu keadaan dimana bahan cetak alginat, saat berbentuk gel akan mengalami kehilangan air karena proses penguapan. Sedangkan imbibisi adalah suatu keadaan dimana bahan cetak alginat, saat berbentuk gel dan direndam air akan terjadi pengembangan pada bahan cetak (Syam dkk, 2. Sifat ini dapat menyebabkan tidak akuratnya hasil cetakan positif yang akan digunakan oleh dokter gigi sebagai model studi atau model kerja (Zeni dkk, 2. Faktor yang harus diperhatikan saat menggunakan bahan cetak adalah kontrol infeksi silang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahan cetak merupakan salah satu agen penularan infeksi. Pada saat pencetakan rahang pasien, bahan cetak akan berkontak langsung dengan darah dan saliva, sehingga mikroorganisme akan menyebar melalui bahan cetak dan menjadi media penularan infeksi silang dari pasien ke dokter gigi atau petugas laboratorium. Mikroorganisme dari rongga mulut dapat bertahan pada permukaan bahan cetak dan menjadi agen penyebaran infeksi silang (Winata dkk. Oleh karena itu, perlu dilakukannya desinfeksi segera setelah cetakan dikeluarkan dari mulut. Terdapat dua metode desinfeksi yang disarankan oleh The American Dental Association dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yaitu dengan teknik perendaman dan penyemprotan. Pertimbangan yang harus diperhatikan dalam memilih teknik desinfeksi bahan cetak yang akan dilakukan adalah pengaruh larutan desinfektan terhadap stabilitas dimensi dan detail permukaan bahan cetak, kemudian diikuti efek Teknik penyemprotan diakui sebagai metode yang efektif untuk mengurangi resiko imbibisi pada cetakan dibandingkan dengan teknik perendaman. The American Dental Association (ADA) menyarankan penggunaan teknik penyemprotan dibanding teknik perendaman sebagai desinfeksi untuk bahan kedokteran gigi yang mengutamakan keakuratan dimensi (Winata dkk, 2. Bahan desinfektan kimiawi yang banyak digunakan dan mempunyai efektivitas desinfektan pada mikroorganisme patogen adalah sodium hipoklorit, klorheksidin dan hidrogen peroksida. Larutan sodium hipoklorit yang biasa digunakan dalam mendesinfeksi cetakan adalah larutan sodium hipoklorit 0,5%. Sodium hipoklorit mempunyai efek bakterisidal yang efektif terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Selain obat-obat kimiawi, saat ini di Indonesia sedang dikembangkan obat tradisional yang dapat digunakan sebagai alternatif dibidang kedokteran, karena bahan tradisional tersebut mampu menjadi obat dan mudah diperoleh, salah satunya adalah buah mengkudu (Morinda citriafoila Lii. (Talitha & Zulkarnain, 2. Mengkudu (Morinda citrifolia L. ) merupakan salah satu bahan desinfektan alami. Mengkudu dikenal memiliki efek anti bakteri, anti virus, dan anti jamur (Sumantri & Waldiatma, 2. Buah mengkudu mengandung scopoletin, glikosida, alizarin acubin, asperuloeside, dan flavonoid, yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan memanfaatkan kandungan aktif dalam buah mengkudu seperti flavonoid yang telah terbukti dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. saprophyticus (Talitha & Zulkarnain, 2. Pada penelitian Wirayuni & Juniawati . memberikan hasil bahwa pada ekstrak mengkudu (Morinda Citrifolia Lii. 50% terjadi perbedaan yang signifikan dengan ekstrak mengkudu (Morinda Citrifolia Lii. 12% dan 25% hal ini dikarenakan semakin sedikit konsentrasi larutan, maka larutan akan semakin encer, hal tersebut yang menyebabkan penyerapan yang lebih banyak pada cetakan alginat dan mengakibatkan perubahan dimensi yang lebih besar. Penelitian menyatakan bahwa lama perendaman 5 menit dengan mengkudu (Morinda Citrfolia Lii. 12% dapat menurunkan jumlah koloni mikroorganisme pada cetakan alginat. Berdasarkan penelitian Dharmawati dkk . perbandingan jumlah pertumbuhan Streptokokus antara ekstrak mengkudu 50% dengan 75% terdapat penurunan rerata jumlah pertumbuhan, tetapi tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna, hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak mengkudu 50% saja sudah memberikan daya hambat kuat, sehingga dengan peningkatan konsentrasi tidak terjadi penurunan jumlah Streptokokus yang lebih efektif (Winata dkk, 2. Berdasarkan Djuramang dkk . menyatakan bahwa ekstrak buah mengkudu memiliki senyawa-senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Dari hasil penelitian pada konsentrasi 5% sampai 50% bersifat resisten artinya bahwa ekstrak buah mengkudu dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus tetapi dalam kategori lemah, dilihat dari kemampuan adaptasi bakteri yang ditunjukkan oleh pembentukan zona hambat dengan diameter 14 mm. Berdasarkan The American Dental Association (ADA) mendesinfeksi bahan cetak selama 10 menit tidak menyebabkan perubahan yang bermakna pada stabilitas dimensi cetakan (Sumantri & Waldiatma, 2. Berdasarkan uraian diatas, peneliti ingin melakukan penelitian mengenai pengaruh ekstrak mengkudu (Morinda Citrifolia Lii. sebagai bahan desinfektan pada cetakan alginat terhadap stabilitas dimensi dengan konsentrasi ekstrak mengkudu 50% dan 75% dengan mengunakan teknik desinfeksi yaitu teknik penyemprotan. TUJUAN Untuk mengetahui pengaruh penggunaan bahan desinfeksi alami yaitu ekstrak mengkudu 50% dan 75% dengan bahan kimia sodium hipoklorit 0,5% terhadap stabilitas dimensi pada cetakan alginat menggunakan teknik desinfeksi yaitu teknik penyemprotan dan mengetahui teknik penyemprotan ekstrak mengkudu 50% dan 75% terhadap stabilitas dimensi pada cetakan alginat. METODE Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian post-test only control group design, dengan mengukur perbandingan stabilitas dimensi cetakan alginat setelah dilakukan teknik desinfeksi. Sampel penelitian menggunakan cetakan alginat. HASIL Pada penelitian ini jumlah sampel yang digunakan adalah sebanyak 24 sampel yang terdiri dari 4 bagian yaitu kelompok kontrol negatif . anpa perlakua. , kelompok kontrol positif . odium hipoklorit 0,5%), perlakuan I . kstrak mengkudu 50%), perlakuan II . kstrak mengkudu 75%) dilakukan pengulangan setiap kelompok perlakuan sebanyak 6 kali percobaan. Jarak yang diukur AB . arak vertikal diukur dari anterior yaitu dari mesial gigi insicivus satu kiri ke cusp mesiobukal gigi molar satu kir. dan BC . arak horizontal diukur dari posterior yaitu dari cusp mesiobukal gigi molar satu kanan ke cusp mesiobukal gigi molar satu kir. Hasil desinfikasi dengan teknik penyemprotan sodium hipoklorit 0,5% dan ekstrak mengkudu konsentrasi 50% dan 75% selengkapnya dapat ditunjukkan pada Tabel 1 sebagai berikut. Tabel 1 Stabilitas Dimensi Pada Model studi Cetakan Alginat Uji Normalitas Tabel 2 Uji Normalitas Data AB Tabel 3 Uji Normalitas Data BC Uji Homogenitas Tabel 4 Uji Homogenitas Stabilitas Dimensi Uji Kruskal Wallis Tabel 5 Uji Kruskal-Wallis Data AB Tabel 6 Uji Mann-Whitney Data AB Tabel 7 Uji Kruskal-Wallis Data BC Tabel 8 Uji Mann-Whitney Data BC Berdasarkan tabel 1, menunjukan bahwa rerata stabilitas pada dimensi panjang AB yang tertinggi ditunjukan pada kelompok P3 . arutan sodium hipoklori. sebesar 37,2 dan pada stabilitas dimensi panjang BC yang tertinggi ditunjukan pada kelompok P3 . arutan sodium hipoklori. Stabilitas dimensi oanjang AB yang terendah ditunjukan pada kelompok K sebesar 37,1 dan pada stabilitas dimensi panjang BC yang terendah ditunjukan pada kelompok K sebesar 53,7 Hasil uji normalitas pada tabel 2, menunjukkan bahwa terdapat satu kelompok yang tidak memenuhi uji asumsi normalitas data yaitu kelompok ekstrak mengkudu 50% karena memiliki harga pvalue lebih kecil daripada 0,05. Sedangkan untuk ketiga kelompok lainnya memenuhi uji asumsi normalitas data, karena harga p-value lebih besar daripada 0,05. Hasil uji normalitas pada tabel 3, menunjukkan bahwa terdapat satu kelompok yang tidak memenuhi uji asumsi normalitas data yaitu kelompok larutan sodium hipoklorit, karena memiliki harga p-value lebih kecil daripada 0,05. Sedangkan untuk ketiga kelompok lainnya memenuhi uji asumsi normalitas data, karena harga p-value lebih besar daripada 0,05. Berdasarkan hasil uji homogenitas data pada tabel 4, diketahui pertama harga pvalue untuk data AB sebesar 0,743, lebih besar dibandingkan 0,05. Ini artinya data AB antara masing-masing kelompok memiliki varians data yang homogen. Kedua, harga pvalue untuk data BC sebesar 0,004, lebih kecil dibandingkan 0,05. Ini artinya data BC antara masing-masing kelompok memiliki varians data yang tidak homogen. Berdasarkan tabel 5, diketahui harga p-value sebesar 0,190, lebih besar daripada 0,05. Ini artinya terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata hasil pengukuran AB pada masing-masing kelompok perlakuan. Selanjutnya, dilakukan uji Mann-Whitney diperoleh hasil sebagai berikut. Berdasarkan tabel 6, diketahui tidak ada satupun kelompok yang memiliki perbedaan yang signifikan satu sama lain, karena nilai pvalue semua kelompok lebih besar daripada 0,05. Berdasarkan tabel 7, diketahui harga p-value sebesar 0,392, lebih besar daripada 0,05. Ini artinya terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata hasil pengukuran BC pada masing-masing kelompok perlakuan. Selanjutnya, dilakukan uji Mann-Whitney diperoleh hasil sebagai berikut. Berdasarkan tabel 8, diketahui tidak ada satupun kelompok yang memiliki perbedaan yang signifikan satu sama lain, karena nilai pvalue semua kelompok lebih besar daripada 0,05. PEMBAHASAN Bahan cetak alginat (Hydrocolloid Irreversibl. sering digunakan oleh dokter gigi karena proses pembuatannya yang mudah, harganya yang terjangkau, dan keakuratan yang baik. Bahan cetak alginat bersifat imbibisi, yang mana bahan tersebut dapat menyerap sejumlah air apabila terdapat kontak dengan air, hal ini menyebabkan bahan cetak alginat memiliki kecenderungan untuk mengembang (Cervino dkk, 2. Menjaga kelembapan dari bahan cetak alginat penting dilakukan untuk menjaga stabilitas dimensi bahan cetak (Eva dkk, 2. Proses disinfeksi merupakan tahapan yang penting dalam pembuatan replika gigi tiruan. Mikroorganisme, saliva, darah, dapat menempel pada permukaan bahan cetak, yang mana dapat bertahan pada permukaan hasil replika gigi atau hasil cetakan. Pada penelitian ini proses disinfeksi dilakukan dengan cara penyemprotan cairan disinfektan ke bahan cetak. Sodium hipoklorit adalah sebuah larutan disinfektan yang memiliki efek antimikrobial spektrum luas, non iritan, dan dengan konsentrasi 0,5% sodium hipoklorit sudah mampu mendesinfeksi bahan cetak gigi (Eva dkk, 2. Salah satu bahan alami yang diketahui memiliki efek antimikrobial adalah buah mengkudu. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan ekstrak buah mengkudu dengan konsentrasi 50% dan 75% dam menggunakan sodium hipoklorit sebagai kontrol positif dari penelitian. Hasil penelitian pada tabel 1 menunjukan bahwa pada kelompok tanpa perlakuan memiliki perubahan ukuran stabilitas dimensi AB dan BC yang paling kecil dibandingkan dengan kelompok perlakuan 1,2, dan 3 yaitu sebesar 37,1 mm dan 53,7 mm secara berturut Ae turut. Hasil perubahan ukuran tertinggi terdapat pada perlakuan 3 yaitu larutan sodium hipoklorit 0,5%, dengan hasil pengukuran yaitu AB sebesar 37,2 mm dan BC 53,74 mm. Jarak yang diukur yaitu AB . arak vertikal diukur dari anterior yaitu dari mesial gigi insicivus satu kiri ke cusp mesiobukal gigi molar satu kir. dan BC . arak horizontal diukur dari posterior yaitu dari cusp mesiobukal gigi molar satu kanan ke cusp mesiobukal gigi molar satu kir. Hasil pengukuran ini menunjukan bahwa terdapat perubahan stabilitas pengukuran namun tidak lebih dari 0,5%. Hal ini sesuai dengan pedoman spesifikasi yang dikeluarkan ADA nomor 18 mengenai Alginate Impression Material, yang menyebutkan bahwa cetakan alginat tidak boleh mengalami perubahan lebih dari 0,5% dari ukuran awal atau ukuran master cast, karena perubahan ukuran akan dapat memengaruhi ukuran gigi tiruan maupun struktur detail lainnya di rongga mulut (Sumantri & Waldiatma, 2. Hasil penelitian ini menggunakan uji Kruskal Wallis dengan uji lanjut menggunakan uji Mann-Withney. Hasil uji Kruskal Wallis data AB menunjukan nilai-p sebesar 0,190 yang mana nilai-p bernilai lebih besar dari 0,05 yang merupakan batas nilai pengambilan keputusan. Hal ini menunjukan tidak terdapatnya perbedaan yang signifikan antara rata Ae rata hasil pengukuran AB pada masing Ae masing kelompok perlakuan. Hasil uji Mann-Whitney terhadap nilai AB menunjukan hasil nilai-p semua perlakuan lebih besar dari 0,05, hal ini menunjukan tidak ada satupun kelompok yang memiliki perbedaan yang signifikan satu sama lain. Hasil uji Kruskal-Wallis data BC menujukan nilai-p 0,392 atau nilai-p lebih besar dari 0,05, hal ini menunjukan tidak terdapatnya perbedaan yang signifikan rata-rata hasil pengukuran BC pada masing-masing kelompok perlakuan. Hasil uji Mann-Whitney terhadap nilai BC menunjukan hasil nilai-p semua perlakuan lebih besar dari 0,05, hal ini menunjukan tidak ada satupun kelompok yang memiliki perbedaan yang signifikan satu sama lain. Hasil uji hipotesis menunjukan adanya hasil yang tidak signifikan dari teknik penyemprotan ekstrak mengkudu 50% dan 75% terhadap stabilitas dimensi cetakan alginat sehingga hipotesis (H. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian oleh Sumantri dan Waldiatma . melakukan penelitian eksperimental untuk menilai stabilitas bahan cetak alginat dengan disinfektan berupa ekstrak buah mengkudu berkonsentrasi 12% dan 16%, serta sodium hipoklorit 0,5%. Proses disinfeksi dilakukan dengan membagi sampel menjadi 6 perlakuan dengan jumlah masing Ae masing perlakuan sebanyak 5 sampel. Perlakuan tersebut adalah membagi dua tindakan disinfektan dengan perendaman dan penyemprotan, serta membagi waktu tindakan selama 5 dan 10 menit. Penelitian ini menyimpulkan terdapat perubahan dimensi yang signifikan bahan cetak alginat yang dilakukan penyemprotan dengan natrium hipoklorit 0,5%, ekstrak mengkudu 12%, ektrak mengkudu 16% selama 5 dan 10 menit. Metode disinfektan berupa penyemprotan lebih baik dibandingkan perendaman, yang mana teknik penyemprotan menyebabkan terjadinya perubahan yang minimal pada stabilitas bahan ukur alginat. (Sumantri & Waldiatma, 2. Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi stabilitas bahan cetak alginat yaitu komposisi dan proses pembuatan dari bahan cetak alginat . asio serbuk dan air pencampur, suhu dan durasi pencapuran baha. , faktor manipulatif . aliva, dara. , faktor lingkungan . uhu, kelembapa. (Kulkarni dan Thombare, 2. Perbedaan konsentrasi ekstrak mengkudu disebutkan berhubungan dengan stabilitas bahan cetak alginat yang mana disebabkan karena semakin kecil konsentrasi sebuah larutan, maka kandungan air dalam larutan akan lebih tinggi yang menyebabkan penyerapan akan lebih banyak pada cetakan alginat dan menyebabkan ekspansi dimensi yang lebih besar. Selanjutnya, ekstrak mengkudu juga memiliki kandungan antibakteri . iantaranya adalah tannin, flavonoi. Flavonoid yang berikatan dengan bahan alginat akan menyebabkan reaksi esterifikasi, yang mana terjadinya pembentukan senyawa ester. Proses esterifikasi akan menghasilkan H2O atau senyawa air, yang mana selanjutnya alginat dapat melakukan penyerapan terhadap air melalui sifat imbibisi dari alginat (Sumantri & Waldiatma, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh teknik penyemprotan desinfektan ekstrak mengkudu (Morinda citrifolia L. ) 50% dan 75% terhadap stabilitas hasil cetakan alginat dapat disimpulkan sebagai berikut : Tidak terdapat pengaruh penyemprotan desinfeksi ekstrak mengkudu terhadap stabilitas dimensi hasil cetakan alginat. DAFTAR PUSTAKA